Minggu, 01 Januari 2017

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Mengenang Jasa Para Mantan

       Hari-hari berikutnya aku mulai memikirkannya lagi. Sekarang aku sudah bebas dari tugas negara dan bersiap mengembara untuk pergi kemanapun aku mau. Meski aku purna paskibraka tapi aku tidak ada niat untuk bergabung dalam organisasi PPI. Aku tau aku akan merasa tak nyaman bersamanya lagi. Aku sudah diusir dari rumah lamaku. Sudah saatnya untuk pindah. Sudah saatnya untuk mencari tempat singgah. Tapi aku masih belum rela. Masih ingin tinggal. Masih ingin menetap. Menetap di terasnya sejenak. Melepas lelah sesaat. Tuan rumahku sudah tak ingin membukakan pintu untukku. Entahlah. Mungkin ada tamu yang baru. Yang jauh lebih cantik. Yang jauh lebih baik. Yang jauh lebih sempurna. Yang jauh lebih membuatnya nyaman untuk menemaninya tinggal. Tria atau siapapun itu,sebetulnya aku tak rela. Ingin mencemburuinya. Rasa sedikit masih ada. Hati sudah terlanjur cinta. Hendak bagaimana?Apa harus memaksakan meski menyakitkan?tentu jangan. Hatiku nanti kasihan. Kesakitan. Mungkin lebih baik aku mencari ketenangan. Dengan cara seperti ini…
        Pasti di antara kamu pernah punya rasa ingin jalan-jalan terus ketika memiliki motor baru. Jalan-jalan tak tentu arah tujuan asal naik motor baru. Ya,inilah yang ku rasakan ketika aku menaiki motor baruku. Biasanya sepulang sekolah tak langsung pulang ke rumah. Ingin melepas penat sejenak dengan motorku. Ya kemana saja semauku. Tak takut kena razia karena aku sudah cukup umur,punya KTP dan juga SIM aku jadi tenang saja kalau hendak pergi kemana-kemana. Dan yang paling sering, sepulang sekolah aku menyempatkan waktu untuk melintasi jalan sekolah Fafa. Setiap pulang sekolah ataupun pulang dan berangkat les aku tak pernah absen untuk selalu menyambangi sekolah Fafa. Juga Andromeda. 
       Mungkin mereka berbeda secara fisik namun mereka memiliki beberapa kesamaan. Mereka semua bersekolah di sekolah yang sama. Meninggalkanku dengan alasan yang sama. Dan juga meninggalkan ku dengan kenangan yang sama-sama tak bisa ku lupakan sampai sekarang. Itulah mengapa aku selalu lewat jalan depan sekolahnya. Hanya ingin melihat bayangnya. Hanya ingin memastikan bahwa mereka semua baik-baik saja. Mungkin bagi kamu yang punya mantan,ini hal yang nggak penting,norak atau bahkan tak berguna. Tapi semua perkataan itu aku tak memperdulikannya. Aku hanya ingin mengenang mereka yang pernah singgah di hatiku walau tak begitu lama.
       Sampai suatu ketika aku pernah berpapasan dengan Fafa saat sepulang sekolah. Tak hanya sekali tapi tiga kali. Yang pertama adalah yang paling terkesan ketika aku sepulang les. Sebenarnya kala itu aku sudah ingin berhenti untuk menghabiskan bensin dengan hal yang sia-sia semacam ini. Mungkin kau akan berpikir bahwa aku bodoh dan hanya menyia-nyiakan waktuku untuk lewat sana dan berharap bertemu atau berpapasan dengannya. Sejujurnya aku tidak pernah berharap seperti itu. Sudah ku katakan di awal,aku hanya ingin melihatnya baik-baik saja. Di sisi lain juga aku ingin membalas budi jasanya. Dulu dia selalu menjemputku,menghampiriku,dan menungguku di dekat sekolah. Mungkin sudah puluhan kali dia melewati sekolahku. Dan kini giliranku. Aku yang akan melewati sekolahnya.
                                               ***
Ku lanjutkan ceritaku tadi,aku sempat biasa saja waktu sepulang les. Tak ada firasat bahwa nanti aku akan bertemu dengannya. Ketika aku hampir sampai agak jauh dari gerbang sekolahnya,tiba-tiba keluar motor beat berlapis biru putih yang hendak menyeberang jalan menuju ke arah barat,searah denganku. Jaket jamnas,helm ink abu-abu dan juga motor itu,aku langsung tau bahwa itu adalah Fafa. Pukul empat sore gini dia baru pulang sekolah. Pasti dia baru saja selesai kegiatan. Aku hendak menyusulnya. Ini siasatku agar dia kaget atau bahkan tak percaya bila pipi jambunya yang dulu pernah ia sayang-sayang menyalipnya sekarang. Sudah bisa naik motor sendiri sekarang. Sudah mandiri sekarang. Aku menyalipnya dan aku dan dia nyaris berjejeran. Dia curiga dan membuka helmnya. Terlihat jelas di spion kiriku. Aku tetap mendahuluinya dan tak sedikitpun menoleh ke arahnya. Ketika sampai di traffic light,dia sempat memandangku seolah memastikan apakah aku,pipi jambu yang dulu pernah ia sayang kini menyalipnya.
Saat lampu hijau mulai menyala,aku langsung tancap gas tanpa memperhatikannya sedikitpun. Ku percepat kecepatanku dengan hati-hati dan di balik spion aku masih mengawasinya. Dia berusaha mengejarku. Namun ketika sampai di alun-alun aku tak lagi melihatnya. Yang ku pikirkan saat itu adalah aku berhasil selangkah maju di depannya. Ibarat ikut berlaga di lintasan sirkuit balap motoGP aku lah yang menang. Mungkin ini konyol bagimu yang tak pernah kejar-kejaran dengan mantan tapi biarkan aku senang karena merasa dikejar lagi olehnya.
Setelah kejar-kejaran tadi aku berniat bernostalgia dengan melewati jalan-jalan kenangan yang biasa ku lewati bersama dia semasa dulu sering pulang dari rumah makan. Jalan itu kini tak seramai dulu lagi. Rasanyapun ketika ku lewati jalan itu berbeda. Tak seindah dulu lagi. Tak senyaman dulu lagi. Tak seromantis dulu lagi. Tak terasa air mataku menetes di pipi. Aku baper karenanya lagi.
Tak hanya melewati jalan kenangan,aku juga sempat ikut menontonnya ketika Carsival Malam yang diadakan pemkab untuk memperingati HUT kotaku. Aku melihat Carsival Night malam bersama Riani,Cahya(adiknya Riani),Putri dan juga Inka. Kami menunggunya di pinggir jalan bersama para penonton yang lainnya. Fafa ada di barisan depan pembawa banner bertuliskan nama sekolahnya. Riani memanggilnya,aku tak berniat menolehkan wajahku ke arahnya. Karena setiap kali aku melihatnya,hatiku seakan tercabik-cabik. Aku jadi teringat lagi ketika dulu aku bersusah payah ingin melihatnya ketika dia sedang berjalan menuju finish. Rasanya sungguh menyakitkan ketika itu terulang kembali. Dan itu ku alami ketika melihat penampilannya setahun kini. Dia selalu tersenyum kepada para penonton yang melihatnya. Aku terharu melihatnya tersenyum sebahagia itu dari kejauhan. Karena bagiku level tertinggi mencintai seseorang adalah ketika kamu senang melihatnya bahagia walau kebahagiaan itu bukan karenamu dan mendoakan segala kebaikan untuknya.
                                      ***
Selain itu,aku juga pernah sengaja meminta tolong kepadanya tentang permasalahanku. Jadi ceritanya aku dan Riani sepulang sekolah mampir di warung es kelapa muda di dekat sekolahnya. Ya sekalian bernostalgia. Dulu juga aku pernah kesini sama Riani,Coco dan juga Fafa. Namun sekali lagi kini semuanya sudah berbeda. Penjual esnya pun ikut berubah. Tak seramah dulu lagi. Sambil menikmati es kelapa muda,kami juga melihat-lihat sekolah mereka. Barang kali waktu kami sedang menikmati es kelapa muda,mereka sedang pulang sekolah. Dan menunggunya lagi seakan sudah sia-sia sekarang. Aku pun beranjak dari warung itu dan bergegas pulang bersama Riani.
Ketika sampai di alun-alun tiba-tiba aku merasa motorku ada yang tidak beres. Benar saja. Ban belakang motor yang ku kendarai bocor tertusuk 3 steples dan tulang ikan. Bisa kau bayangkan betapa paniknya aku ketika ban bocor di alun-alun yang dilewati orang seramai itu? Aku bingung,Riani juga bingung. Riani hendak pergi mencari bengkel terdekat. Namun aku melarangnya. Saking kehabisan akalnya,Riani berniat sesuatu…
“Eh aku ide nih,Meiy?”
“Apa,Rin?”
“Gimana kalau kita minta bantuan aja sama Fafa?kayaknya dia belum pulang deh,ini kan baru jam tiga?”
“Aduuuuhhhh,ngapain sih pake minta maaf sama mantan segala?Udah deh ya….mending aku nungguin ayahku pulang kerja lewat sini aja daripada minta bantuan sama dia. Lagian juga dia gak bakal mau bantuin aku”
“Eh jangan salah Meiy,kamu nggak lihat apa di bio Instagramnya Fafa ada tulisan ‘Kalau misal butuh bantuan tinggal DM aja’ gitu kan?Ya kita kan emang lagi butuh bantuan gini…”
“Ah nggak mau ah…”
“Udah deh sini (Riani mengambil ponsel dari tanganku)
Aku pasrah saja dengan usulan Riani. Paling dia juga nggak bakal mau ngebantuin aku. Yang ada dia bakal merasa risih sama aku,dan ngira kalau aku ini masih ngarepin dia,masih butuh dia,masih apalah segala macem sama dia. Lagian juga kenapa harus di alun-alun sih? Dua minggu kemarin aku juga sempat kena tilang polisi di alun-alun hanya gara-gara waktu lampu merah aku menerobos belok padahal di rambu lalin tak ada tanda ‘Belok Kiri Ikuti Lampu’. Kena tilang di alun-alun,Kebocoran di alun-alun,kayaknya aku bakal ketemu jodoh juga dialun-alun nih?hahaha..
Setelah beberapa menit menunggu bantuan di pinggir jalan,tak kusangka ternyata teman SMPku yang bernama Fahreza yang sedang berada di dekat alun-alun datang menolongku. Rupanya ia sedang main ke rumah temannya yang kebetulan dekat alun-alun. Dia menyuruhku untuk memboncengkan Riani dengan motornya dan kemudian menuntun motorku menuju ke bengkel di belakang masjid alun-alun. Sambil menunggu motorku diperbaiki,aku berbincang dengannya
“Yaa ampunnn Fa eh Za kamu datang dari mana sih?Kok kamu bisa tau kalau aku disini?”
“Ya pm kamu tadi di alun-alun gitu,makanya aku keluar terus tak samperin deh….”
“Btw makasih ya udah nolongin aku. Aku nggak tau harus gimana lagi kalau nggak ada kamu,Fa eh Za duhhh(tepok mulut)”
“Hahaha….nggak apa-apa kali,Meiy…Kaya baru kenal aja….Oh iya kenapa sih kamu kaya bingung manggil aku gitu?Panggil Fafa aja”
“Nggak kok nggak,dulu waktu SMP aku kan sering manggil kamu ‘Za’ ya mungkin lupa lah,kan udah lama kita nggak ketemu..”
“Ah nggak mungkin…pasti ini ada sangkut pautnya sama seseorang kan?”
“Ih enggak kok,gak usah sotoy kamu”
“Oh iya aku inget,kamu pacarnya Fafa anak otomotif itu kan?”
“Hah?siapa tuh?”
“Udah deh nggak usah sok nggak kenal gitu…..Kaya nggak tau aja aku sekolah dimana”
“Ihhh udah deh nggak usah bahas dia. Aku nggak punya pacar,fZaa…”
“Udah panggil Fafa aja,anggep aja aku ini Fafa…kan sama-sama item tapi gantengan gue…wkwkwkw”
“Udahlah Za,aku udah putus dari dia. Nggak usah bahas mantan deh…malesss”
“Iyyaiyaa…eh itu yang di samping kamu siapa kok nggak dikenalin?”
“Oh iya Za sampe lupa,kenalin ini Riani… temenku”
 “Haiii…aku Fafa tapi bukan mantannya Meiy ya?Aku Fahreza kalau mantannya Meiy itu Fahrezi beda di huruf belakang sih…tapi tetep gantengan aku kok…” sambil Eza mengajak Riani bersalaman dengannya
“Haiii…Riani”
“Udah deh Za biasa aja,nggak usah sok ganteng…”
“Yeee emang gue lebih ganteng kok dari Fafamu itu,lagian kenapa sih elu mau sama yang kaya dia gitu kalau pada akhirnya elu diputusin juga?”
“Yaaaa gimana ya Za?aku juga nggak tau dulu kenapa bisa jadian sama dia padahal aku sama sekali nggak bilang iya waktu dianya nembak aku…”
“Nah kalau nggak bilang iya kenapa bisa jadian?”
“Yaaaa….aku cuma bilang ‘nggak nolak’…”
“Sama aja kali Meiy,elu masuk sekolah unggulan masak nggak bisa bedain arti nggak nolak sama nggak mau sih?”
“Yaaaaa yang namanya lagi jatuh cinta kan Za,mana aku tahu kalau pada akhirnya jadian…”
“Terus elu nyesel nerima dia kalau pada akhirnya elu diputusin juga?Dia kenapa mutusin elu?”
“Yaaaa bukannya nyesel sih cuma lebih tepatnya kecewa aja…diputusin ya gitu deh Za…”
“Gitu gimana?”
“Aku nggak mau bahas. Alesannya nggak jelas Za”
“Haa? nggak jelas?Biasanya yang nggak jelas kan cewek?”
“Eh mana ada cewek nggak jelas?yang ada tuh cowok yang nggak jelas,ninggalin cewek alesannya nggak jelas,’Kamu terlalu baik buat aku’,’Kamu nyari yang lain aja yang lebih bahagiain kamu’,’Aku udah nggak ada waktu…’Aaaaaahhhh makan tuh nggak jelas. Basi tau nggak alesan elu!”
“Bhaakakkkk..Hahhaha….Elu ngapain jadi marah ke gue gini?”
“Abis gue sebel sih,kenapa sih cowok semuanya sama aja?nggak jelas semuanya!”
“Ehhh sembarangan lu kalau ngomong ye?gini-gini gue selalu ngasih kejelasan ke cewek tapi cewek tuh yang kadang-kadang nggak bersyukur…minta cowok yang peka mulu. Lu pikir kita para cowok tuh laurier yang slogannya ‘selalu ngertiin cewek’?Lagian ya cowok nggak akan tau maunya cewek itu apa kalau dia nggak bilang ke kita duluan. Elu pikir para cowok barcode kemasan apa pake kode-kodean segala?”
“Serah deh Za….semuanya nggak ada yang bener. Yang bener cuma Tuhan”
“Nah ini nih?ujung-ujungnya kalau udah nyerah bilangnya TERSERAH. Skak matt!!”
Setelah usai dari bengkel,aku berpamitan kepada Eza. Dia yang mengganti semua biaya tambal ban. Aku jadi merasa tidak enak hati padanya. Tapi aku sudah berjanji padanya kalau lain kali aku akan menggantinya. Sesudah mengantarkan Riani,aku pulang ke rumahku. Dengan sangat hati-hati aku mengendarai motorku. Sesampainya di rumah,ku buka ponselku. Ada notif pesan Instagram. Dari Fafa. Agak kaget namun aku berusaha biasa saja. Dia membalas pesan yang tadi Riani iseng mengirimkannya. Dia menanyakan posisiku dimana sekarang. Aku bingung harus menjawab bagaimana. Aku tak tau bila dia ternyata mau menolongku. Ku bilang saja aku sudah sampai rumah dan meminta maaf karena telah merepotkannya. Diapun membalas ‘tak apa-apa’. Aku agak sedikit lega namun juga kecewa. Kenapa aku tak menunggunya saja tadi ketika banku bocor?Ah nasi sudah menjadi bubur.
                             ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar