Hari-hari berikutnya aku mulai memikirkannya lagi. Sekarang aku
sudah bebas dari tugas negara dan bersiap mengembara untuk pergi kemanapun aku
mau. Meski aku purna paskibraka tapi aku tidak ada niat untuk bergabung dalam
organisasi PPI. Aku tau aku akan merasa tak nyaman bersamanya lagi. Aku sudah
diusir dari rumah lamaku. Sudah saatnya untuk pindah. Sudah saatnya untuk
mencari tempat singgah. Tapi aku masih belum rela. Masih ingin tinggal. Masih
ingin menetap. Menetap di terasnya sejenak. Melepas lelah sesaat. Tuan rumahku
sudah tak ingin membukakan pintu untukku. Entahlah. Mungkin ada tamu yang baru.
Yang jauh lebih cantik. Yang jauh lebih baik. Yang jauh lebih sempurna. Yang
jauh lebih membuatnya nyaman untuk menemaninya tinggal. Tria atau siapapun
itu,sebetulnya aku tak rela. Ingin mencemburuinya. Rasa sedikit masih ada. Hati
sudah terlanjur cinta. Hendak bagaimana?Apa harus memaksakan meski
menyakitkan?tentu jangan. Hatiku nanti kasihan. Kesakitan. Mungkin lebih baik
aku mencari ketenangan. Dengan cara seperti ini…
Pasti di antara kamu
pernah punya rasa ingin jalan-jalan terus ketika memiliki motor baru.
Jalan-jalan tak tentu arah tujuan asal naik motor baru. Ya,inilah yang ku
rasakan ketika aku menaiki motor baruku. Biasanya sepulang sekolah tak langsung
pulang ke rumah. Ingin melepas penat sejenak dengan motorku. Ya kemana saja
semauku. Tak takut kena razia karena aku sudah cukup umur,punya KTP dan juga SIM
aku jadi tenang saja kalau hendak pergi kemana-kemana. Dan yang paling sering, sepulang
sekolah aku menyempatkan waktu untuk melintasi jalan sekolah Fafa. Setiap
pulang sekolah ataupun pulang dan berangkat les aku tak pernah absen untuk
selalu menyambangi sekolah Fafa. Juga Andromeda.
Mungkin mereka berbeda secara
fisik namun mereka memiliki beberapa kesamaan. Mereka semua bersekolah di sekolah
yang sama. Meninggalkanku dengan alasan yang sama. Dan juga meninggalkan ku
dengan kenangan yang sama-sama tak bisa ku lupakan sampai sekarang. Itulah
mengapa aku selalu lewat jalan depan sekolahnya. Hanya ingin melihat bayangnya.
Hanya ingin memastikan bahwa mereka semua baik-baik saja. Mungkin bagi kamu
yang punya mantan,ini hal yang nggak penting,norak atau bahkan tak berguna.
Tapi semua perkataan itu aku tak memperdulikannya. Aku hanya ingin mengenang
mereka yang pernah singgah di hatiku walau tak begitu lama.
Sampai suatu ketika aku
pernah berpapasan dengan Fafa saat sepulang sekolah. Tak hanya sekali tapi tiga
kali. Yang pertama adalah yang paling terkesan ketika aku sepulang les.
Sebenarnya kala itu aku sudah ingin berhenti untuk menghabiskan bensin dengan hal
yang sia-sia semacam ini. Mungkin kau akan berpikir bahwa aku bodoh dan hanya
menyia-nyiakan waktuku untuk lewat sana dan berharap bertemu atau berpapasan
dengannya. Sejujurnya aku tidak pernah berharap seperti itu. Sudah ku katakan
di awal,aku hanya ingin melihatnya baik-baik saja. Di sisi lain juga aku ingin
membalas budi jasanya. Dulu dia selalu menjemputku,menghampiriku,dan menungguku
di dekat sekolah. Mungkin sudah puluhan kali dia melewati sekolahku. Dan kini
giliranku. Aku yang akan melewati sekolahnya.
***
Ku lanjutkan ceritaku tadi,aku sempat biasa
saja waktu sepulang les. Tak ada firasat bahwa nanti aku akan bertemu
dengannya. Ketika aku hampir sampai agak jauh dari gerbang sekolahnya,tiba-tiba
keluar motor beat berlapis biru putih yang hendak menyeberang jalan menuju ke
arah barat,searah denganku. Jaket jamnas,helm ink abu-abu dan juga motor
itu,aku langsung tau bahwa itu adalah Fafa. Pukul empat sore gini dia baru
pulang sekolah. Pasti dia baru saja selesai kegiatan. Aku hendak menyusulnya.
Ini siasatku agar dia kaget atau bahkan tak percaya bila pipi jambunya yang
dulu pernah ia sayang-sayang menyalipnya sekarang. Sudah bisa naik motor sendiri
sekarang. Sudah mandiri sekarang. Aku menyalipnya dan aku dan dia nyaris
berjejeran. Dia curiga dan membuka helmnya. Terlihat jelas di spion kiriku. Aku
tetap mendahuluinya dan tak sedikitpun menoleh ke arahnya. Ketika sampai di
traffic light,dia sempat memandangku seolah memastikan apakah aku,pipi jambu
yang dulu pernah ia sayang kini menyalipnya.
Saat lampu hijau mulai menyala,aku langsung
tancap gas tanpa memperhatikannya sedikitpun. Ku percepat kecepatanku dengan
hati-hati dan di balik spion aku masih mengawasinya. Dia berusaha mengejarku.
Namun ketika sampai di alun-alun aku tak lagi melihatnya. Yang ku pikirkan saat
itu adalah aku berhasil selangkah maju di depannya. Ibarat ikut berlaga di
lintasan sirkuit balap motoGP aku lah yang menang. Mungkin ini konyol bagimu
yang tak pernah kejar-kejaran dengan mantan tapi biarkan aku senang karena
merasa dikejar lagi olehnya.
Setelah kejar-kejaran tadi aku berniat
bernostalgia dengan melewati jalan-jalan kenangan yang biasa ku lewati bersama
dia semasa dulu sering pulang dari rumah makan. Jalan itu kini tak seramai dulu
lagi. Rasanyapun ketika ku lewati jalan itu berbeda. Tak seindah dulu lagi. Tak
senyaman dulu lagi. Tak seromantis dulu lagi. Tak terasa air mataku menetes di
pipi. Aku baper karenanya lagi.
Tak hanya melewati jalan kenangan,aku juga
sempat ikut menontonnya ketika Carsival Malam yang diadakan pemkab untuk
memperingati HUT kotaku. Aku melihat Carsival Night malam bersama Riani,Cahya(adiknya
Riani),Putri dan juga Inka. Kami menunggunya di pinggir jalan bersama para
penonton yang lainnya. Fafa ada di barisan depan pembawa banner bertuliskan
nama sekolahnya. Riani memanggilnya,aku tak berniat menolehkan wajahku ke
arahnya. Karena setiap kali aku melihatnya,hatiku seakan tercabik-cabik. Aku
jadi teringat lagi ketika dulu aku bersusah payah ingin melihatnya ketika dia
sedang berjalan menuju finish. Rasanya sungguh menyakitkan ketika itu terulang
kembali. Dan itu ku alami ketika melihat penampilannya setahun kini. Dia selalu
tersenyum kepada para penonton yang melihatnya. Aku terharu melihatnya tersenyum
sebahagia itu dari kejauhan. Karena bagiku level tertinggi mencintai seseorang
adalah ketika kamu senang melihatnya bahagia walau kebahagiaan itu bukan
karenamu dan mendoakan segala kebaikan untuknya.
***
Selain itu,aku juga pernah sengaja meminta
tolong kepadanya tentang permasalahanku. Jadi ceritanya aku dan Riani sepulang
sekolah mampir di warung es kelapa muda di dekat sekolahnya. Ya sekalian
bernostalgia. Dulu juga aku pernah kesini sama Riani,Coco dan juga Fafa. Namun
sekali lagi kini semuanya sudah berbeda. Penjual esnya pun ikut berubah. Tak
seramah dulu lagi. Sambil menikmati es kelapa muda,kami juga melihat-lihat
sekolah mereka. Barang kali waktu kami sedang menikmati es kelapa muda,mereka
sedang pulang sekolah. Dan menunggunya lagi seakan sudah sia-sia sekarang. Aku
pun beranjak dari warung itu dan bergegas pulang bersama Riani.
Ketika sampai di alun-alun tiba-tiba aku merasa
motorku ada yang tidak beres. Benar saja. Ban belakang motor yang ku kendarai
bocor tertusuk 3 steples dan tulang ikan. Bisa kau bayangkan betapa paniknya
aku ketika ban bocor di alun-alun yang dilewati orang seramai itu? Aku bingung,Riani
juga bingung. Riani hendak pergi mencari bengkel terdekat. Namun aku
melarangnya. Saking kehabisan akalnya,Riani berniat sesuatu…
“Eh aku ide nih,Meiy?”
“Apa,Rin?”
“Gimana kalau kita minta bantuan aja sama
Fafa?kayaknya dia belum pulang deh,ini kan baru jam tiga?”
“Aduuuuhhhh,ngapain sih pake minta maaf sama
mantan segala?Udah deh ya….mending aku nungguin ayahku pulang kerja lewat sini
aja daripada minta bantuan sama dia. Lagian juga dia gak bakal mau bantuin aku”
“Eh jangan salah Meiy,kamu nggak lihat apa di
bio Instagramnya Fafa ada tulisan ‘Kalau misal butuh bantuan tinggal DM aja’
gitu kan?Ya kita kan emang lagi butuh bantuan gini…”
“Ah nggak mau ah…”
“Udah deh sini (Riani mengambil ponsel dari
tanganku)
Aku pasrah saja dengan usulan Riani. Paling dia
juga nggak bakal mau ngebantuin aku. Yang ada dia bakal merasa risih sama
aku,dan ngira kalau aku ini masih ngarepin dia,masih butuh dia,masih apalah
segala macem sama dia. Lagian juga kenapa harus di alun-alun sih? Dua minggu
kemarin aku juga sempat kena tilang polisi di alun-alun hanya gara-gara waktu
lampu merah aku menerobos belok padahal di rambu lalin tak ada tanda ‘Belok
Kiri Ikuti Lampu’. Kena tilang di alun-alun,Kebocoran di alun-alun,kayaknya aku
bakal ketemu jodoh juga dialun-alun nih?hahaha..
Setelah beberapa menit menunggu bantuan di
pinggir jalan,tak kusangka ternyata teman SMPku yang bernama Fahreza yang sedang
berada di dekat alun-alun datang menolongku. Rupanya ia sedang main ke rumah
temannya yang kebetulan dekat alun-alun. Dia menyuruhku untuk memboncengkan
Riani dengan motornya dan kemudian menuntun motorku menuju ke bengkel di
belakang masjid alun-alun. Sambil menunggu motorku diperbaiki,aku berbincang
dengannya
“Yaa ampunnn Fa eh Za kamu datang dari mana
sih?Kok kamu bisa tau kalau aku disini?”
“Ya pm kamu tadi di alun-alun gitu,makanya aku
keluar terus tak samperin deh….”
“Btw makasih ya udah nolongin aku. Aku nggak
tau harus gimana lagi kalau nggak ada kamu,Fa eh Za duhhh(tepok mulut)”
“Hahaha….nggak apa-apa kali,Meiy…Kaya baru
kenal aja….Oh iya kenapa sih kamu kaya bingung manggil aku gitu?Panggil Fafa
aja”
“Nggak kok nggak,dulu waktu SMP aku kan sering
manggil kamu ‘Za’ ya mungkin lupa lah,kan udah lama kita nggak ketemu..”
“Ah nggak mungkin…pasti ini ada sangkut pautnya
sama seseorang kan?”
“Ih enggak kok,gak usah sotoy kamu”
“Oh iya aku inget,kamu pacarnya Fafa anak
otomotif itu kan?”
“Hah?siapa tuh?”
“Udah deh nggak usah sok nggak kenal gitu…..Kaya
nggak tau aja aku sekolah dimana”
“Ihhh udah deh nggak usah bahas dia. Aku nggak
punya pacar,fZaa…”
“Udah panggil Fafa aja,anggep aja aku ini
Fafa…kan sama-sama item tapi gantengan gue…wkwkwkw”
“Udahlah Za,aku udah putus dari dia. Nggak usah
bahas mantan deh…malesss”
“Iyyaiyaa…eh itu yang di samping kamu siapa kok
nggak dikenalin?”
“Oh iya Za sampe lupa,kenalin ini Riani…
temenku”
“Haiii…aku
Fafa tapi bukan mantannya Meiy ya?Aku Fahreza kalau mantannya Meiy itu Fahrezi
beda di huruf belakang sih…tapi tetep gantengan aku kok…” sambil Eza mengajak
Riani bersalaman dengannya
“Haiii…Riani”
“Udah deh Za biasa aja,nggak usah sok ganteng…”
“Yeee emang gue lebih ganteng kok dari Fafamu
itu,lagian kenapa sih elu mau sama yang kaya dia gitu kalau pada akhirnya elu
diputusin juga?”
“Yaaaa gimana ya Za?aku juga nggak tau dulu
kenapa bisa jadian sama dia padahal aku sama sekali nggak bilang iya waktu
dianya nembak aku…”
“Nah kalau nggak bilang iya kenapa bisa
jadian?”
“Yaaaa….aku cuma bilang ‘nggak nolak’…”
“Sama aja kali Meiy,elu masuk sekolah unggulan masak
nggak bisa bedain arti nggak nolak sama nggak mau sih?”
“Yaaaaa yang namanya lagi jatuh cinta kan Za,mana
aku tahu kalau pada akhirnya jadian…”
“Terus elu nyesel nerima dia kalau pada
akhirnya elu diputusin juga?Dia kenapa mutusin elu?”
“Yaaaa bukannya nyesel sih cuma lebih tepatnya
kecewa aja…diputusin ya gitu deh Za…”
“Gitu gimana?”
“Aku nggak mau bahas. Alesannya nggak jelas Za”
“Haa? nggak jelas?Biasanya yang nggak jelas kan
cewek?”
“Eh mana ada cewek nggak jelas?yang ada tuh
cowok yang nggak jelas,ninggalin cewek alesannya nggak jelas,’Kamu terlalu baik
buat aku’,’Kamu nyari yang lain aja yang lebih bahagiain kamu’,’Aku udah nggak
ada waktu…’Aaaaaahhhh makan tuh nggak jelas. Basi tau nggak alesan elu!”
“Bhaakakkkk..Hahhaha….Elu ngapain jadi marah ke
gue gini?”
“Abis gue sebel sih,kenapa sih cowok semuanya
sama aja?nggak jelas semuanya!”
“Ehhh sembarangan lu kalau ngomong ye?gini-gini
gue selalu ngasih kejelasan ke cewek tapi cewek tuh yang kadang-kadang nggak bersyukur…minta
cowok yang peka mulu. Lu pikir kita para cowok tuh laurier yang slogannya
‘selalu ngertiin cewek’?Lagian ya cowok nggak akan tau maunya cewek itu apa
kalau dia nggak bilang ke kita duluan. Elu pikir para cowok barcode kemasan apa
pake kode-kodean segala?”
“Serah deh Za….semuanya nggak ada yang bener.
Yang bener cuma Tuhan”
“Nah ini nih?ujung-ujungnya kalau udah nyerah
bilangnya TERSERAH. Skak matt!!”
Setelah usai dari bengkel,aku berpamitan kepada
Eza. Dia yang mengganti semua biaya tambal ban. Aku jadi merasa tidak enak hati
padanya. Tapi aku sudah berjanji padanya kalau lain kali aku akan menggantinya.
Sesudah mengantarkan Riani,aku pulang ke rumahku. Dengan sangat hati-hati aku
mengendarai motorku. Sesampainya di rumah,ku buka ponselku. Ada notif pesan
Instagram. Dari Fafa. Agak kaget namun aku berusaha biasa saja. Dia membalas
pesan yang tadi Riani iseng mengirimkannya. Dia menanyakan posisiku dimana
sekarang. Aku bingung harus menjawab bagaimana. Aku tak tau bila dia ternyata
mau menolongku. Ku bilang saja aku sudah sampai rumah dan meminta maaf karena
telah merepotkannya. Diapun membalas ‘tak apa-apa’. Aku agak sedikit lega namun
juga kecewa. Kenapa aku tak menunggunya saja tadi ketika banku bocor?Ah nasi
sudah menjadi bubur.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar