Kamis, 17 November 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Berita di Ujung Senja

Sudah tiga bulan ini aku hampir singgah. Namun aku tak pernah merasa digantung ataupun menunggu kepastian dari si tuan rumah. Karena aku tau. Tuan rumah tak pernah memberi waktu untukku menunggu atau pun memberiku harapan bahwa aku akan menjadi kekasihnya atau apapun tidak. Sama sekali tidak. Tapi terkadang aku nyaris baper kepadanya. Setiap kali dia menjemputku untuk mengajakku makan berdua. Setiap kali dia menghubungiku di waktu senggang. Setiap kali dia memberi perhatian untukku. Seperti pesan disertai gambar yang ku terima darinya.
Pesan itu bertuliskan GWS(Get Well Soon) ‘Pipi Jambu’ disertai foto Fafa menunjukkan kertas bertuliskan pesan tadi bersama Dhede,Coco,Marjo dan salah seorang wanita di dalam foto itu entah siapa aku tak mengenalinya. Mereka berpose dengan ekspresif dan ceria dalam fotonya. Aku merasa senang sekali. Aku seperti sudah dianggap keluarga sendiri olehnya. Aku senang mereka menerima keberadaanku di dalam geng mereka dan mendukung kedekatanku dengan Fafa. Tapi meskipun aku dan Fafa dekat,aku menyadari bahwa aku dan Fafa tak mungkin bersama. Fafa sudah punya incaran. Tapi bukan berarti aku adalah tempat pelampiasan ketika dia bosan. Dia tak pernah memperlakukanku seenaknya sendiri. Itu sih menurutku. Tapi bagaimana pun seorang cowok pasti punya 1001 cara untuk berlari dari keadaan yang membosankan.
Hanya lelaki tangguh dan tulen yang mampu bertahan di segala situasi dan kondisi sejenuh apapun ketika mengincar incarannya. Ah aku tak taulah apa yang ada di pikiran Fafa saat ini. Yang pasti aku harus meredam keinginanku untuk berharap lebih padanya. Aku takut rasaku ini menjadi semakin besar,semakin tinggi,semakin memuncak,dan semakin dalam. Tapi lebih takutnya lagi,aku melihatnya tak bahagia walau bersamaku. Biarlah dia bahagia bersama incarannya. Biarkan ku terluka,asalkan ia bahagia.
Sebagai bukti nyata,Fafa mengirimkanku pesan kalau nanti sore dia ingin mengajakku makan. Dan parahnya lagi,dia tak hanya mengajakku,dia mengajak incarannya juga. Ini hal gila macam apa?aku sih sebenarnya juga kepo gimana wajah,perawakan,dan penampilan incarannya. Seperti apa sih incaran Fafa? Fafa sama sekali tak pernah memberitahuku incarannya itu siapa. Namanya aja aku nggak dikasih tau apalagi fotonya. Dia bahkan sama sekali tak pernah curhat incarannya itu siapa. Apa dia benar-benar berbohong padaku? Kalau iya kenapa aku terus-terusan mempercayainya? Huh entahlah. Dia memang makhluk paling misterius kedua setelah Raka. Oh Raka? Gimana kabarmu saat ini? Dan kenapa aku merindukannya? Mungkin karena hal ini.
                             ***
Pagi ini aku berangkat sekolah cukup awal. Aku berjalan menuju kelas dengan santai. Ku dengar bunyi injakan sepatu PDH berjalan menuju ke arahku. Aku menoleh ke belakang. Raka. Berjalan menuju ke arahku dengan tatapan hampa. Aku melihatnya dan menghentikan langkahku.
“Raka?”
“Ada apa?”
“Tumben berangkat pagi?”
“Bukan urusanmu”
“Kok kamu cuek gini sih?”aku berusaha berjalan beriringan dengannya
“Ya aku cuma berusaha ngelakuin apa yang kamu lakuin ke aku”
Ku hentikan langkahku. “Maksud kamu apa?”
“Aku nggak pernah ada niat jahat buat kamu. Aku berusaha mengikuti apa maumu. Kalau kamu nggak suka,ku harap kamu nggak menyesal dengan apa yang aku lakukan ”
Dia pergi mendahuluiku. Aku mencari jalan lain untuk sampai ke kelas. Sungguh tadi itu kejadian yang tak terduga. Aku sama sekali nggak pernah ada niatan buat berangkat sekolah bareng sama Raka. Berangkat bareng sama Fafa aja nggak pernah apalagi sama Raka. Aku berusaha menata pikiran dan perasaan sesampainya di kelas. Aku tak ingin kekukuhanku pergi dari hati Raka terusik dan teroyak gara-gara kejadian tadi pagi. Ya,aku ini orangnya memang baperan. Tapi aku berusaha mengontrolnya kok. Yang pasti aku harus tetap fokus pada perasaanku ke Fafa. Aku sudah pindah. Sudah hampir singgah. Bahkan tuan rumah menyambutnya dengan senang hati. Tapi aku ragu untuk tetap tinggal kali ini. Pasalnya tuan rumah akan punya teman baru untuk menemaninya tinggal disana. Apakah aku akan benar-benar diusir kali ini? Biarkan pertemuan yang menjawab.
Siang begitu cepat terlintas. Pukul setengah tiga aku ada jadwal les. Fafa menjemputku seusai pulang les. Dia rela menunggu kepulanganku asalkan aku menemaninya menemui incarannya. Les kali ini waktunya agak lama karena pengajarnya datang terlambat. Aku jadi merasa nggak enak sama Fafa. Dia terlalu lama menungguku. Aku berusaha menghubunginya. Justru dia malah bilang nggak apa-apa nunggu lama asalkan aku tetap mau menemaninya. Dia bahkan bersedia mengantarkanku pulang. Kalau begitu,berarti incarannya naik motor sendiri dong? Hah nggak pentinglah. Intinya aku berusaha berbuat baik padanya. 
Seusai les,aku membonceng temanku untuk sampai di depan sekolah. Sesampainya di depan sekolah tak kulihat keberadaan Fafa. Ku cari dari ujung pagar sekolah bagian barat dan timur tak kutemui dirinya. Tiba-tiba dari tengah jalan,pengendara motor biru putih menepi menuju ke arahku. Fafa datang. Setelah aku diboncengnya,Fafa langsung tancap gas. Dia menuju rumah makan yang biasa kami kunjungi. Sesampainya disana kami memesan makanan.
                             ***
“Fa?”
“Iya,Meiy?”
“Incaranmu udah kamu kasih tau belum kalo kita makan disini?”
“Iya udah.”
“Dia kesini sendirian?”
“Sama aku kan?”
“Maksudnya?”
“Dia kesini sama aku.”
“Kan kamu kesini sama aku. Dia yang kamu maksud incaran kamu kan?”
“Ah udahlah,nanti aja ngobrolnya. Kita makan dulu. Aku kelaperan gara-gara nunggu kamu”
Aku jadi merasa bersalah padanya. Harusnya aku menolak untuk menemaninya. Aku tak selera makan sore itu. Untung saja aku memesan menu dengan porsi yang sedikit karena aku sudah terbiasa untuk makan siang di sekolah. Mubadzir kan kalo aku harus menyisakan makanan dengan suasana tak selera makan. Setengah jam kami menikmati makanan tanpa berbicara sama sekali. Aku rasa Fafa memang sedang kelaparan. Hahaha lucu juga kalo dia lagi makan. Tiap kali dia melahap makanannya aku diam-diam mencuri pandang padanya. Tapi ketika aku ketahuan memandangnya,dia memandangku seolah memergokiku bahwa aku telah memandangnya cukup lama. Menit demi menit ku nanti incarannya bersama Fafa. Aku menjadi bosan sekarang. Aku mulai ragu akan incarannya.
“Mana sih Fa?kok incaranmu nggak dateng-dateng?”
“Dia dateng kok”
“Iya mana orangnya?kita udah nunggu sejam lho disini. Hari udah mulai sore gini. Kamu juga nggak mesenin makanan buat dia”
“Dia udah mesen makanan kok”
“Lah mana?kok aku ragu ya sama incaran kamu? Kayaknya dia nggak bakal dateng deh. Coba hubungi dia lagi”
“Nggak usah. Dia udah disini kok?”
“Apa? Maksud kamu gimana sih? Jangan bilang incaran kamu makhluk jadi-jadian? Duh,Fa! Udah deh nggak usah nakut-nakutin aku gini.”
“Aku nggak nakut-nakutin kamu. Aku serius.”
“Terus maksudnya gimana?Dari tadi kamu bilang ada disini tapi mana?”
“Udah ada disini. Di depan aku.”
Aku bingung dan tidak ngerti apa yang dia bicarakan
“Maksudnya?”
“Jadian yuk?”
“Kamu lagi ngomong sama siapa?”
“Jadian yuk?”
“Fa?”ku lambai-lambaikan tanganku ke depan wajah Fafa namun dia malah memegang tanganku.
“Jadian yuk?”
“Kamu ngomong sama siapa si?”
“Jangan pura-pura bego deh. Aku tuh lagi ngomong sama kamu.”
“Yaaaa…kamu barusan ngomong apa?”
“Hari ini kita jadian.”
“Hah?ih kamu ngaco deh! Kamu lagi acting kan?biar nggak nervous kalo ketemu sama incaran kamu. Hahahah… kaya mau akad nikah aja pake nervous segala”
“Emang aku kelihatan nervous di depan kamu?”
“Ya enggak juga sih. Tapi udah berani kok. Actingnya menjiwai sekali.”
“Aku emang lagi serius,Meiy!”
“Maksud kamu serius acting kan?”
“Hari ini kita jadian. Incaranku udah datang. Incaranku udah mesen makanan. Incaranku udah di depan mataku. Incaranku sekarang lagi ngobrol sama aku. Incaranku yang sekarang ku pegang tangannya. Incaranku yang lahirnya sebelum diriku lahir. Incaranku itu kamu. Pipi Jambu.”
Sontak aku kaget dengan apa yang baru saja Fafa katakan. Aku masih tak percaya dengan apa yang ia katakan.
“Hah?Hahaha. Kamu bercanda kali. Serius deh. Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud.”
“Aku serius Meiy. Aku nggak lagi bercanda. Maaf ya kalo selama ini aku berbohong sama kamu. Aku sengaja nggak ngasih tau kamu incaranku itu siapa. Aku pengen bikin surprise kamu dan aku cuma pengen tau reaksimu setelah ku dekati. Aku tau,kamu juga punya perasaan yang sama seperti apa yang ku rasa. Dan sekarang aku bersedia untuk menjadi rumahmu. Rumah yang bukan hanya tempatmu singgah melainkan tempatmu kembali. Tak peduli sejauh apapun kamu pergi. Tak peduli selama apapun kamu mencari. Aku ingin kamu tinggal bersamaku disini.”
Fafa menunjuk jari telunjuknya ke arah hatinya. Aku tak berkutik apa-apa. Aku bahkan masih tidak paham dengan apa yang dia katakan. Rasanya dia terlalu bodoh untuk memilih tamu seperti diriku. Untuk menjadikanku pacarnya. Aku ini makhluk Tuhan yang tak sempurna bodinya,yang tak cantik wajahnya,yang belum tentu baik perangainya,yang tak patut untuk ditiru bahkan diidamkan,yang tak pantas menjadi pacar seorang paskibraka. Aku ini wanita yang lemah,wanita yang kasar,wanita yang galak,wanita yang tak sabaran,wanita yang baperan,dan wanita yang ahhhh…..aku ngerasa aku nggak pantas buat Fafa. Aku entah kenapa berpikiran bahwa aku harus menolak permintaannya untuk jadian di sore itu juga. Dia masih terus saja memegang tanganku dan memandangku seolah ingin menunggu jawabanku.
                             ***
Tiba-tiba ponselku berdering. Satu pesan dari bunda. Dia menanyakan dimana aku sekarang. Aku balas saja aku sedang perjalanan pulang. Aku melepaskan tanganku dari genggaman Fafa dan memintanya untuk segera mengantarkanku pulang karena bundaku sudah sms. Fafa melihatku dengan tatapan yang sepertinya tatapan kecewa bercampur kesal. Dia bergegas membayar bill dan pergi menuju parkiran dengan langkah cepat. Aku nyaris memintanya untuk tidak usah mengantarkanku pulang karena situasi hati Fafa ku rasa sedang kecewa dan marah besar padaku. Aku jadi bingung gimana harus bersikap.
Akhirnya aku pulang dibonceng Fafa dan agak sedikit canggung. Perasaan ketika pertama kali bertemu dengannya pun seolah terulang kembali. Aku takut memulai pembicaraan. Di tengah perjalanan aku memikirkan apakah aku harus menerimanya atau menolaknya. Kalau misal aku menerimanya,apa aku kuat ditinggal dia terus sedangkan dia sibuk kegiatan ini itu?Apa aku siap jadi bahan perbincangan temen-temannya?Apa aku siap menerima kekurangannya? Apa aku siap dengan resiko yang akan ku terima nantinya?
Sejujurnya aku sangat senang tuan rumahku juga punya perasaan yang sama seperti tamunya,tetapi aku takut dia tak bahagia ketika bersamaku. Aku takut dia tak menerima kekuranganku nantinya. Aku takut dia akan pergi meninggalkanku dan tanpa memberiku kepastian ketika suatu saat dia bertugas sangat jauh dan lama. Aku takut kalau sewaktu-waktu Fafa akan melakukan hal yang sama seperti yang Raka lakukan kepadaku. Namun kalau misal aku menolaknya,apa ia akan kecewa?apa ia akan marah kepadaku?apa ia masih menganggapku sebagai teman dekatnya?lalu bagaimana dengan reaksi teman-temannya?apa mereka akan memusuhiku karena aku menolaknya?atau bahkan ia akan membenciku?menjauhiku?dan tak kan pernah mau bertemu dan mengenalku lagi? Aku sungguh tak tau harus menjawab apa.
Senja menemani perjalanan pulangku diantar Fafa. Sepanjang jalan,Fafa terdiam membisu tanpa melirik kaca spion sekalipun seperti yang biasa ia lakukan padaku. Aku jadi merasa bersalah karena seakan telah menggantung dan mengabaikan permintaannya tadi. Aku bingung harus memulai pembicaraan darimana. Aku berharap dia mengajakku bicara. Jalan yang kami lewati berbeda dari biasanya. Fafa memilih jalan yang agak sepi. Kami melintasi jalan raya kecil di antara persawahan dekat sekolahannya. Memang kalau lewat jalan itu pula akan lebih dekat untuk sampai ke rumahku. Di jalan itu Fafa mulai mengajakku bicara dan melambatkan kecepatan motornya menjadi 20 km/jam.
“Meiy?”
“Iya?”
“Hari ini kita jadian ya?”
“Eehh…kamu serius ngajak jadian?”
“Iya Meiy. Aku serius. Aku mencintaimu sejak aku bilang aku udah ada incaran. Dan kamu juga punya rasa yang sama kan kaya aku?”
“Kamu darimana tau kalo aku juga punya rasa sama kamu?”
“Ooh jadi…?enggak ya?”
“Eemmmm…bukan. Bukan gitu maksudnya. Gini,jujur ya Fa. Aku nggak tau siapa yang suka duluan. Aku atau kamu. Tapi…Aku ngerasa aku nggak cocok sama kamu. Aku nggak pantes buat kamu. Aku ini banyak kekurangan. Apa kamu udah bersedia nerima apapun kekuranganku?kejelekanku?dan kelemahanku?”
“Aku mencintaimu dengan sewajarnya. Aku nggak nuntut kamu untuk berubah demi aku.”
“Hah?Kamu mencintaiku?Aku heran deh sama kamu. Terus kamu kenapa sih nggak bilang dari awal kalau kamu ngincer aku?”
“Maafin aku Meiy. Aku nggak bermaksud bohong sama kamu tapi perasaan hati manusia nggak ada yang tau kan? Kalau saja diawal pertemuan aku tau kamu mau denganku,kita pasti udah jadian semenjak kita pertama kali bertemu. Intinya,aku ingin ‘memetikmu’. Karena aku tau,jambu yang matang itu mencerminkan yang merawat. Kalau bener-bener ‘ngimbu’ dan merawat dengan serius,pasti jambu akan matang dengan sempurna. Dan ku kira kamu sekarang udah matang gara-gara ku imbu. Aku takut jambuku diambil orang. Makanya aku memetiknya hari ini.”
“Tapi kan jambu yang kelamaan diimbu bisa aja busuk kan? Begitu juga manusia,cepat atau lambat orang akan berubah seiring berjalannya waktu. Kamu nggak takut kalau misal suatu saat aku bakal berubah?”
“Aku nggak takut kamu berubah. Aku pasti ingetin kalau kamu berubah nggak baik. Seberubahnya orang,dia nggak akan pernah pergi kalau dalam hatinya bener-bener tulus mencintai pasangannya. Kamu pernah bilang,nggak suka disamain sama jambu. Lalu kenapa tadi membanding-bandingkan dirimu dengan jambu?”
“Ya tadi katanya kamu bilang mau merawat aku kayak pohon jambu kan? Ah udahlah. Aku tau kamu juga nanti bakal bosen,berubah,dan ninggalin aku”
“Aku nggak akan bosen sama kamu. Aku nggak takut akan perubahan. Aku ini orang yang berpendirian kuat. Kalau aku suka sama seseorang ya akan aku kejar sampai tau responnya keaku kaya gimana. Aku nggak akan ninggalin kamu kecuali ada urusan penting dan aku harus cabut.”
Aku mulai ragu-ragu untuk menerimanya tetapi  …..
“Aku juga sibuk kegiatan. Jadi kemungkinan mustahil untukku mencari selingkuhan. Dan kemungkinan pasti aku akan sering meninggalkanmu demi kegiatan. Tapi,percayalah. Aku tak pernah jatuh cinta sedalam ini sesungguhnya. Aku rela meninggalkan rapat demi menjemputmu. Aku rela terlambat latihan demi bertemu denganmu. Aku rela menunda jam praktik ku demi makan siang bersamamu. Aku nyaman bersamamu. Aku senang bersamamu. Aku bahagia bersamamu. Aku bakal membuktikan kalau sesibuk apapun seorang paskibraka dia mampu menjaga ketulusan dan kesetiaan cinta dari seseorang yang dikasihinya setelah mencintai kebangsaannya. Jadi…..?”
Tak terasa kami sampai di gang rumahku. Aku turun dari motor dan berkata
“Makasih ya buat sore hari ini. Hati-hati pulangnya. Udah maghrib nih. Aku mau mandi. Aku belum keramas.”
Setelah itu,Fafa menggaet tanganku sebelum aku melangkah agak jauh darinya
“Jadi gimana Meiy?Aku masih nunggu jawaban kamu loh. Hargai perasaan seseorang yang rela merelakan segala hal demi dirimu,kamu nggak tau kan konsekuensi yang ku terima dulu kaya gimana”
Aku diam sejenak. Memikirkan apa jawaban yang akan ku katakan…
“Nggak…”sambil berbalik dan memandangnya sebentar. Tangannya lemas menggenggam tanganku. Dia sepertinya kecewa. Harapan yang ia impikan seakan pupus.
“Nggak nolak maksudnya… Udah ah. Kamu cepet pulang gih. Aku mau mandi. Whleeekk”sambil ku julurkan lidahku dan melepas genggaman tangannya. Aku berjalan meninggalkannya. Fafa memajukan kendaraannya agar terlihat dari ujung teras rumahku.
“Beneran Meiy?”
“Iyahhhh…….udah sana!!!”
Fafa tersenyum sumringah dan mengadahkan kedua tangan seolah dia berdoa. Dia melihatku dengan senyuman manis melebihi manisnya senja kala itu. Dia melambaikan tangan untuk pulang. Ku dengar dia menancap gas sangat cepat seolah dia sedang melampiaskan kebahagiaannya.
Senja selalu hangat sama seperti senyumnya….
Namun senja hanya sekejap sama seperti kehadirannya…..
Rindu selalu membuat senja menjadi sendu.…
Membuatku menyalahkan waktu yang begitu cepat melaju…..
Melihat kepergiannya bersama sang senja…..
Yang diliputi syahdunya rasa cinta dan sayang yang membara…..
Untukmu,Paskibraka yang ku damba dan ku puja…..
Semoga kita bahagia…..
Bersama….. Selamanya…..

                             ***

Selasa, 08 November 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : [MO]mentum Cinta Mi[MO]

Samar-samar cahaya putih menyorot mataku. Perlahan ku buka mataku. Terlihat cahaya putih dan ruangan serba putih di pandanganku. Ku kedip-kedipkan mataku beberapa kali. Terlihat juga selang infus di tangan kananku dan seorang pria sedang memegang tangan kiriku. Ku kedipkan mataku seakan aku sedang bermimpi. Pria itu terkejut dan berkata
“Meiy?kamu udah siuman?”
“E..ee…ee…..aku dimana?”
“Kamu lagi ada di rumah sakit. Semalam pingsan dan baru siuman siang ini. Aku panggilin dokter dulu ya?”
“E…eee…….kamu ngapain disini?”
Pria itu pergi meninggalkanku. Pria yang bersamaku itu adalah Fafa. Aku masih belum sadar akan ingatanku. Aku berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi. Namun kepalaku terasa sangat berat. Ku gerakkan sedikit badanku. Rasanya kaku dan agak sedikit rimpi. Saat aku mencari posisi yang nyaman,tiba-tiba dokter datang…
“Eh jangan banyak gerak dulu. Kamu kan baru siuman.” Perintah Fafa
Sambil dokter memeriksa ,aku memandangi ibu jari kaki sebelah kananku yang diperban. Rasanya cukup aneh. Aku mulai mengingatnya. Malam minggu itu aku terjatuh dari motor dan pingsan seusai melihat karnaval. Namun aku bingung. Jadi sebenarnya aku jatuh dengan gaya bagaimana? Rasanya-rasanya semua badanku terasa kaku,terkilir,encok,dan saking anehnya hanya ibu jari yang diperban. Apa mungkin karena terinjak-injak malam kemarin itu ataukah karena memang jatuh dan terluka? Dokter mendiagnosa kesehatanku mulai membaik. Setelah dokter pergi meninggalkan ruangan,Fafa mendekat ke sisi kiri ranjangku. Dia memandangku dengan tatapan sumringah kali ini
“Syukurlah kalau kamu udah sadar. Aku kira kamu mau bunuh diri gara-gara batal foto sama aku”
“Apaan sih?gila kali aku mau bunuh diri dengan alasan konyol kayak gitu”
“Hahahah…..jangan ngambek terus ah!Oh iya,kamu gimana ceritanya sih bisa jatuh gini?”
“Seharusnya yang tanya kan aku. Kenapa aku bisa ada disini?Kenapa badanku sakit semua? Dan kenapa mbak Nia nggak ada? Hah? Mbak Nia? Mbak Nia dimana Fa?”
“Mbak Nia? Siapa? Bukannya kakakmu itu cuma mas Rizal ya?”
“Aduh!Aku nonton karnaval kan sama mbak Nia,mbak Nia yang boncengin aku. Dia sekarang dimana?Jangan bilang………….”Pikiranku mulai kacau. Aku takut tak melihat mbak Nia lagi selamanya
“Mbak Nia masih hidup kan Fa?Mbak Nia baik ba….”
“Eh eh eh Ssssssstttt(jari telunjuknya mendekat di bibirku)kamu nggak usah panik gini deh. Mbak Nia udah pulang kok. Dia baik baik aja. Dia udah kesini tadi baru aja pulang sebelum kamu siuman. Kamu pulihin kesehatan kamu dulu. Kalau kamu udah pulih,aku janji deh bakal nraktir kamu makan. Tau nggak?Saat aku denger kabar kamu kecelakaan,aku takut dan langsung ngehubungin kamu. Tanya-tanya orang lain sampai kaya orang gila. Aku takut nggak bisa ketemu kamu lagi. Aku takut nggak bisa nraktir kamu lagi. Dan aku takut kehilangan kamu…..”
Tatapannya tajam menyorot kedua bola mataku. Dari tatapannya aku merasa bahwa apa yang dia katakan begitu tulus sekali. Tapi biarpun begitu,aku berusaha untuk menghalaunya. Aku masih kesal dengannya karena ia tak mau berfoto bersamaku malam itu.
“Huh. Paling juga yang ada kamu bakal seneng kalau aku udah nggak ada kan nantinya nggak yang ngrepotin kamu lagi,iya kan?”
“Heh nggak baik lho su’udzon sama orang. Aku sama sekali nggak berpikiran seperti itu,Meiy. Ya udah deh kalau kamu nggak percaya sama perkataanku”Dia melepas genggaman tangannya
“HAHA! Gitu aja ngambek?huh..oh iya,hpku dimana?kok kamu yang ada disini?kenapa ibu…ayah…mas Rizal nggak kesini ya?”
“Kamu nanya apa ngusir?Baru juga siuman udah belagu. Mereka aku larang buat jenguk kamu!”
“Eh !kamu kok nyolot gitu sih?kamu emang siapanya aku?Cepet ambilin hpku!”
Pandangan matanya kali ini berbeda. Perkataanku tadi seakan membuatnya tertegun sejenak memikirkan sesuatu yang tak pasti. Dia mengalihkan pandangannya dariku. Ku coba menanyakannya lagi untuk mencairkan suasana
“Fa?Kamu nggak apa-apa kan?”
“Huh”Dia melihat sejenak lalu berpaling kesal layaknya orang lagi ngambek
“Heh,nggak usah sok ngambek gitu deh. Seharusnya kan aku yang ngambek. Buruan gih ambilin hpku!”
“Nggak mau!”
“Duh ya ini anak keras kepala banget. Fa,aku butuh hpku buat ngehubungin keluargaku. Udahlah nggak usah kelamaan gini”
“Ada syaratnya…”
“Ahelah pake syarat segala. Apaan sih?ih udah deh. Aku serius…”
“Kalau butuh dan itu penting ya diusahain dapet dong!”
“Yaudah yaudah,karena cuma kamu yang bisa aku mintain tolong,yaudah syaratnya apa?”
“Besok jumat harus ikut aku”
“Kemana?”
“Ya harus ikut aku intinya. Ga boleh nolak. Aku cuma mau ngajak makan kok. Sebagai permintaan maafku telah mengecewakanmu”
“Hahaha yah elah,oke oke. Mana hpku?”Diapun menyerahkan hpku.
                             ***
Hari Senin ku jalani dengan penuh rasa syukur. Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan untuk bangun,untuk bersekolah,dan untuk menikmati teriknya matahari saat upacara seperti ini. Huh…sepanas apapun harus tetap disyukuri. Coba aja matahari seharian nggak bersinar,nggak bisa bayangin dunia gelapnya kaya apa kan? Mungkin lebih hitam lagi dari si doi. Yah meskipun dia hitam,aku tetap menyukainya. Dia hitam kan bukan karena keturunan tapi karena mengemban tugas Negara seperti yang aku lihat ini. Seorang paskib yang sedang mengerek bendera pusaka merah putih. Tiap kali upacara aku hanya ingin menikmati detik-detik saat seperti ini. Coba aja yang ngerek bendera itu Fafa,pasti seusai mengibarkan bendera pasti aku akan ngebet minta foto sama dia. Tapi apalah daya. Sudah dua kali aku kehilangan momen berharga dengan mereka yang pernah singgah di hatiku. Gagal foto sama Raka saat Raka memakai baju kebanggaan paskibnya,gagal foto juga sama Fafa saat ia memakai kostum karsival kemarin. Ah tak apa. Mungkin belum waktunya foto bareng sekarang,siapa tau foto barengnya besok kalo udah di pelaminan. Hahaha. Oke khayalannya nggak lucu.
Senin ngebosenin. Selasa menyiksa. Rabu menggebu-gebu. Kamis manis. Dan kini tiba hari jumat. Kini janji harus tepat. Aku harus cepat-cepat. Janji bertemu Fafa pukul setengah dua lebih seperempat. Ku kira cuma berdua ternyata berempat. Riani dan Coco ikut merapat. Meski hati tak enak namun harus tetap semangat. Dia tak berkhianat. Hanya gugup sesaat. Daripada bingung keparat,yuk kita lanjut ceritanya at…
Aku rela meninggalkan rapat mini organisasiku demi bertemu dengannya. Aku sudah menunggu si ketua datang dalam rapat selama hampir 30 menit  lebih namun dia tak kunjung datang. Ku berjalan menuju gerbang sekolah sembari menunggu Fafa dan Coco bersama Riani. Tak sampai lima menit aku menunggu mereka akhirnya datang. Kami langsung tancap gas. Kali ini tumben sekali Fafa mengawali perjalanan. Biasanya ia hanya ngikut. Mungkin karena janji,ya harus ditepati. Kami berhenti di salah satu mini kafe di perumahan lumayan jauh dari sekolahan. Namanya Mimo. View di kafe ini cukup menarik dan unik untuk dijadikan spot foto. Aku belum pernah mampir ke kafe ini. Ku rasa Fafa sudah pernah ke kafe ini. Paling juga sama incarannya itu. Oke mengkhayal lagi. Rasanya aku belum siuman benar.
Kami memasuki kafe dan memesan makanan. Menu yang ditawarkan agak lumayan mahal. Sebelum mampir kesini,aku sebenarnya sudah makan siang tadi. Tapi demi bertemu si doi aku pura-pura belum makan. Dan ujung-ujungnya pesan porsi makanan yang paling sedikit. Karena takut tak habis,aku memesan pancake sepiring berdua bersama Riani. Aku canggung jika harus sepiring berdua bersama Fafa. Lagi pula dia malah menyuruhku untuk memesan satu piring untuk satu orang. Pesanan cukup lama sekali kami tunggu.
Di sela-sela menunggu,aku berfoto selfi bersama Riani. Coco jadi ikut ikutan dan Fafa juga. Kami berfoto berempat layaknya dua sepasang kekasih yang sedang doubledate. Tapi sekarang aku belum dan bukan kekasihnya Fafa. Lagian aku kan bukan incarannya. Hanya sebatas teman curhat. Tapi mengapa waktu aku berfoto di bawah tulisan dinding bertuliskan MiMo ,aku dan Fafa berpose seolah 2 orang yang serasi. 2 orang yang sedang menjalin kedekatan semacam tuan rumah dan tamunya. 
Aku tau. Aku hanya tamu. Aku bukan keluarganya. Aku bukan kerabat ataupun saudaranya. Aku hanya orang asing. Aku hanyalah seseorang bak musafir yang sedang menumpang istirahat di rumah orang. Aku hanyalah tamu yang tak tau terima kasih kepada majikan rumah atas penyambutan dan penerimaan dengan ketulusan persinggahanku ini. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku hanya bisa menjadikan momentum foto bareng di kafe mini Mimo ini adalah suatu moment terpenting dalam hidupku.
Biarpun aku bukan siapa-siapanya tapi aku menghargai akan kedekatanku dengannya. Mulai sekarang aku jadi tau rasanya ‘diimbu’agar menjadi matang. Diimbu itu membutuhkan proses agar kelak buahnya menjadi matang dengan sempurna. ‘Kalo matang kan semua orang suka….’Kata-kata Fafa yang selalu jadi motivasiku. Kiasan matang sesungguhnya bagiku adalah mampu bertanggung jawab dengan sepenuh hati,sikap yang dewasa,dan selalu was-was dalam bertindak. Dari perkataan itu aku mulai belajar banyak dari Fafa. Fafa yang mengajariku banyak hal. Aku yakin perkenalanku ini akan sangat menyenangkan. Ya aku menyadarinya sekarang. Aku sangat senang bisa berkenalan dengannya bahkan kenal dekat dengannya dan  keluargaku juga sudah mempercayainya.
Buktinya ketika aku terbaring kaku di rumah sakit kemarin,Fafa yang menjagaku. Walaupun begitu aku tak ingin memaksanya untuk mengungkapkan yang ia sembunyikan selama ini. Yang terpenting,selama aku masih bisa bertemu,bercengkrama,dan masih mengenalnya aku akan berusaha baik padanya. Memaksanya untuk mengungkapkan perasaannya kepadaku hanya akan membuat semuanya bertambah keruh. Bisa-bisa nanti dia malah menjauh dan tak ingin menjadikanku tempat curahan hatinya lagi. 
Meskipun ia sudah punya incaran tapi jauh di lubuk hati aku menyimpan rasa yang besar untuknya. Aku tau,nantinya aku akan sakit hati,terluka,dan kecewa. Aku tau nantinya tuan rumahku akan mengusirku,meninggalkanku,dan memintaku untuk pergi dari rumah singgah karena adanya orang baru. Tetapi biarlah. Aku rela bila harus terluka karenanya. Karena dalam lubuk hatiku,tersimpan ketulusan untuk mencintainya.

                             ***

Jumat, 04 November 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Surprise at Carsival Night

Ulangan Tengah Semester kini telah dilaksanakan. Aku sibuk mempersiapkannya dan sibuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum ku lengkapi. Rasanya terlalu cepat sekali untuk bertarung. Padahal baru saja kemarin aku naik kelas. Tapi tak apalah. Kalau kata Fafa,hidup itu sesingkat mengadzankan bayi yang baru lahir hingga mengiqomahkan orang meninggal yang berada dalam liang lahat. Berjalan begitu cepat sekali. Di samping itu,semenjak aku dekat dengan Fafa pengetahuan tentang agamaku juga bertambah. Dia seperti guru spiritualku. Aku sempat mengira bahwa dia adalah anak seorang ulama atau kyai. Aku sempat minder dekat dengannya. Tapi suatu ketika aku menanyakannya dia tak mengakuinya. Ah entahlah. 
Aku tak peduli dengan itu. Intinya aku harus bisa melewati ujian dengan sungguh-sungguh. Berikhtiar,berdoa,dan bertawakal. Kalau kata Fafa sih gitu. Ah Fafa lagi Fafa lagi. Sebenarnya ada apa dengan diriku ini? Bayang-bayang tatapan dan senyuman Fafa akhir-akhir ini sering mengusik fikiranku. Sulit sekali aku menghilangkannya. Terlebih disaat aku berusaha menghilangkannya justru malah semakin aku mengingatnya. Oh Tuhan?Apakah aku benar-benar memiliki rasa itu? Rasa yang membuat orang dimabuk asmara?Entahlah…Aku harus bisa mengendalikan rasa ini dan memfokuskan fikiranku pada apa yang ku lakukan.
Delapan hari penuh ketegangan. Namun aku selalu semangat untuk mengawalinya. Karena setiap sebelum berangkat menuju sekolahan ku buka ponsel dengan wallpaper bertuliskan ‘Selamat Pagi,Pipi Jambuku. Semangat!!!’ Rasanya moodku baik terus tiap ku baca kalimat itu. Siapa sih yang senengnya nggak ketulungan ketika si doi nyemangatin kita? Ups! Doi? Yah…..Fafa ku anggap doiku. Kali ini aku benar-benar mengakuinya. Aku percaya diri untuk mengakuinya. Lagi pula kemarin dia bilang kepadaku kalau dia juga nyaman dekat denganku. Aku rasa dia memang benar-benar punya rasa untukku. 
Kalau nyaman karena dekat,mustahil tak menyimpan rasa walau sesaat. Aku benar-benar yakin. Dia pasti menyembunyikan itu. Aku tak peduli dengan incarannya. Yang terpenting adalah bagaimana cara dia agar tetap nyaman dekat denganku meskipun aku telah memiliki rasa untuknya namun tak ingin berharap lebih hanya karena takut dirinya akan berubah menjauh dariku. Aku ingin dia nyaman dekat denganku. Aku ingin tuan rumahku senang disinggahi tamu sepertiku. Aku ingin tuan rumahku nyaman tinggal di rumahnya bersamaku.
                             ***
Hari Sabtu yang akan datang,di Kotaku akan diadakan festival dan karsival dalam rangka memperingati hari jadi kota yang ke berapa entahlah aku lupa. Sudah lama intinya. Biasanya karnaval diadakan dengan cara mengikutsertakan tiap sekolah mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti lomba seperti pawai dalam karnaval yang diadakan tepatnya pada malam hari. Baru kali ini pemerintah daerah mengadakan karnaval pada malam hari. Tahun lalu karnaval diadakan pada siang hari dan itu rasanya panas sekali seperti membakar kulit. Tapi beda tahun beda kebijakan. Karena lebih mementingkan pesertanya,makanya karnaval diadakan pada malam hari.
Sekolahku juga ikut mengirimkan perwakilannya dengan mempersembahkan Marching Band yang sudah cukup tenar waktu itu. Tentunya Aulin pasti ikut. Dan sekarang dia memintaku untuk melihatnya ketika karnaval. Tapi disisi lain sekolah milik Fafa juga ikut serta dalam lomba itu dan Fafa adalah salah satu pesertanya. Delapan hari lost contact aku sama sekali tak mencemaskannya. Karena aku yakin dia pasti baik-baik saja. Tapi buat pembaca setia kisah ini pasti bertanya-tanya. Darimana aku tahu kalau dia ikut karnaval? Dhede yang sengaja memberitahuku. Dia layaknya wartawan yang selalu mengirimkan kabar tentang Fafa kepadaku. Bukan aku yang memintanya untuk memata-matai Fafa. Dia berinisiatif sendiri. Menurutnya sih,aku dan Fafa adalah pasangan yang cocok. Dia memiliki persepsi itu karena saat kami berdelapan pergi ke Semarang hanya aku dan Fafa yang selamat dari operasi polisi dan insiden lainnya. Entahlah. Mungkin ini berkah dari lantunan nasyid yang sepanjang jalan ku lantunkan bersama-sama dengan Fafa. Oke Fafa lagi Fafa terus.
Tepat hari sabtu,Ulangan telah selesai dilaksanakan. Aku ingin segera refreshing dan membersihkan sampah yang menumpuk di pikiranku. Tapi tidak untuk membersihkan kenangan yang telah diberikan oleh beberapa orang yang pernah singgah dalam hatiku. Aku sangat menghargai orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku. Setiap kenangan yang mereka berikan masih tersimpan rapi di memori ingatanku. Aku tak pernah sekalipun melupakan itu semua karena dari kenangan kita dapat mengambil hikmah dan pengakuan bahwa ‘oh iya aku dulu pernah gini sama si doi… oh iya dulu doi pernah ngasih itu ke aku…’ dan ujung-ujungnya flashback terus baper deh. Dan kali ini aku benar-benar baper dengan Fafa.
Seusai ulangan,aku berkumpul di musholla untuk membahas program kerja organisasi yang ku ikuti. Saat perjalanan menuju musholla,Fafa mengirimkanku voicenote yang berisi rekaman suaranya yang menyanyikan lagu berjudul ‘Diantara Bintang’. Siapa sih yang gak meleleh dikirimin doi ginian setelah seminggu lebih lost contact? Aku dan Fafa mulai berkomunikasi seperti biasa. Dia sempat menanyakanku tentang karnaval yang nanti malam akan diadakan. Dia berharap aku datang untuk menontonnya namun aku menolak karena tak ada yang menjemputku. Dia sepertinya kecewa tapi walau begitu dia tak marah kepadaku. Syukurlah…
Hari semakin sore. Sore ini ada latihan rebana mendadak karena grup kami diundang dalam acara sertijab organisasi yang seminggu lagi akan diadakan. Mbak Nia menghampiriku dan menyuruhku untuk menemaninya hingga latihan usai. Meskipun aku penat dan ingin pulang,tapi aku pakewuh untuk meninggalkan mbak Nia sendirian di musholla karena dialah koordinator ekskul rebana. Lagi pula dia juga akan senang hati untuk mengantarkanku pulang sore hari ini. Setelah latihan usai,aku membantu mbak Nia mengembalikan alat-alat rebana ke tempat semula. Sembari membawa alat,kami berbincang
“Mbak Nia,nanti malem mbak lihat karnaval nggak?”
“Aku pengen lihat dek. Soalnya adekku ikut karnaval tapi nggak ada temen”
“Kalau tak temenin mbak Nia mau nggak?tapi aku takut kalo mbak Nia kerepotan nantinya”
“Aaaaaaah!Boleh-boleh…kamu ini bener-bener the best sister,the best friend deh. Udah nggak apa-apa. Nanti malem tak jemput plus tak anterin pulang. Nggak kerepotan kok. Justru aku seneng soalnya ada yang mau nemenin. Ntar habis maghrib aku otw rumahmu”
Betapa senangnya aku mendapat tawaran dari mbak Nia untuk menemaninya melihat karnaval. Aku ingin membuat kejutan pada Fafa akan kedatanganku. Pasti Fafa akan terkejut dan senang melihatku. Atau bahkan dia akan menghindar dan bersembunyi karena takut dandanannya yang menor ku ejek?Hahaha… aku tak sabar melihatnya. Aku pulang bersama mbak Nia sore itu.
Sesampainya di rumah aku segera mandi,menunaikan ibadah sholat maghrib,mengaji sebentar,berdandan,memakai wewangian,mempersiapkan perlengkapan yang ku bawa,duh pokoknya ribet lah mau ketemu si doi. Aku menunggu mbak Nia di ruang tamu. Sepuluh menit ku menunggu akhirnya mbak Nia datang. Kami berpamitan kepada ibuku dan berangkat menuju alun-alun.
Kami memarkirkan kendaraan cukup jauh dari alun-alun karena sudah banyak orang yang ingin melihat karnaval malam ini. Semakin malam orang-orang semakin banyak yang memadati alun-alun. Aku dan mbak Nia berjalan berdesak-desakan dengan banyak orang menuju alun-alun. Diantara lalu lalang ribuan orang,mbak Nia bertemu ayahnya dan salah satu adeknya yang ikut melihat karnaval juga. Namun mbak Nia lebih memilih melihat karnaval bersamaku daripada dengan ayahnya karena ayahnya tak menonton karnaval hingga larut malam. Karnaval kali ini memang akan berlangsung hingga larut malam. Aku dan mbak Nia sudah standby di dekat panggung pendopo selama satu jam. Baru satu jam saja sudah sesak begini bagaimana nantinya.
Sembari menunggu peserta karnaval lewat aku berniat membeli kartu perdana kuota untuk ponselku yang kebetulan hari ini habis. Aku mencari konter yang dekat dengan alun-alun. Setelah beberapa menit mencari akhirnya ketemu juga. Saat pemilik konter mengganti kartu dari ponselku,terdengar dentuman marching band sedang melintasi alun-alun. Acara karnaval sepertinya telah dimulai. Aku sempat mengira itu adalah marching band sekolahku namun ternyata alunan musik yang dimainkan ternyata berbeda dengan alunan marching band sekolahku.
Seusai mengganti kartu,aku dan mbak Nia bergegas menuju alun-alun. Alun-alun penuh sesak. Aku tak dapat melihat karnaval secara jelas karena terhalang oleh ribuan orang-orang bertubuh tinggi yang menghalangi pandanganku. Saat aku memfokuskan pandanganku,tanpa sengaja mataku tersorot dan tertuju pada sosok peserta karsival yang sedang berjalan menuju finish. Seorang pria berbadan tegap,berbaju beskap berwarna merah glitter,memakai blangkon dengan polesan make up yang membuatku nyaris samar untuk mengenali wajahnya. Tapi dari senyum dan pesona yang ia tebarkan kepada semua orang yang melihatnya,aku mengenalinya. 
Dialah Fafa,si doi yang ku nantikan. Dia berjalan perlahan menuju finish sembari menyapa para penonton yang melihatnya. Aku mengajak mbak Nia untuk membuntutinya dari belakang hingga garis finish. Berpuluh-puluh orang berdesakan ku terjang dengan penuh semangat untuk mengejarnya agar aku bisa menemuinya. Walaupun sudah ketiga kali ini kakiku lecet akibat terinjak-injak oleh kaki orang yang berebut melihat karsival,tapi tak menyurutkan semangatku untuk segera menemuinya.
Keringat begitu mengalir perlahan demi perlahan di dahiku. Sesampainya di tempat finish aku kehilangan jejaknya. Mbak Nia sibuk mencari adik dan menunggu kedatangan tim dari sekolah adiknya. Sedangkanku sibuk mencari Fafa yang sedari tadi hilang dari pandanganku. Aku berusaha mengirimkannya pesan singkat dan menelponnya namun tak satupun yang ia respon. Aku jadi semakin cemas. Apakah dia sudah pergi? Ku harap belum terjadi.
                             ***
Setelah beberapa menit mencarinya,ku lihat segerombalan pria yang memakai kostum sama seperti yang Fafa kenakan sedang bercengkrama di tengah area peristirahatan. Disana juga terlihat seorang gadis yang sepertinya aku mengenalinya. Ternyata itu adalah Riani. Kalau Riani ada disini berarti dia juga sedang melihat karsival. Dan kalau dia ikut nimbrung kesana itu berarti dia bersama pacarnya. Dan dimana ada pacarnya Riani,pasti ada Fafa. Dan Coco pasti bersama Fafa. Aku yakin disana pasti ada Fafa. Ku minta ijin mbak Nia untuk pergi menghampiri Fafa. Perlahan dengan yang langkah tak pasti ku hampiri gadis yang bercengkrama dengan seornag pria. Saat jarak satu meter,dia menoleh ke arahku dan berteriak.
“Meeeieiiiiiiiiyyyyyyyy!!!”
“Rianiiiii!”Riani menyambutku dengan pelukan hangat dan erat
“Duhhh!!!kamu tuh ya tumben banget keluar malem sendirian gini. Mau lihat si doi ya?”
“Hahahaha….nggak kok,Rin. Aku kesini sama mbak Nia. Tapi mbak Nia lagi nunggu di luar nunggu adiknya yang juga ikut karsival. Nah kamu kok bisa kesini juga?”
“Yeee…..aku kan emang sengaja mau lihat pacarku karsival. Oh iya kamu kesini mau lihat Fafa kan?”Ku lihat segerombolan pria di sekelilingnya melihat kehebohanku dengan Riani.
“Eh itu Fafa,Meiy. Eh Fa!!!! Sini, disamperin doimu nih!Wah Fafa menang banyak deh,Meiy so sweet juga yah?hahahahhah…”
Ku lihat pria yang sama persis ku lihat pertama kali di antara ribuan orang yang melihatnya di dekat alun-alun itu. Pria gagah yang menghampiriku itu adalah Fafa. Namun dia menggaet tanganku dan mengajakku pergi jauh dari tempat aku datang tadi. Bersama Riani dan Coco yang membuntuti aku dan Fafa,kami berbincang
“Kamu kenapa ngajak aku kesini?”tanyaku pada Fafa
“Aku nggak pengen adek juniorku tahu tentang kamu. Ini adat. Seorang senior nggak boleh nunjukin teman spesialnya di hadapan juniornya”jelas Fafa
“Oh gitu?”
“Kamu tumben kesini?Sengaja ngasih surprise biar ketemu aku ya?ahahaha…”
“Kalo iya emang kenapa?Nggak boleh?Yaudah aku mau pergi”kesalku
“(sambil memegang pergelangan tanganku) eh eh jangan pergi dong. Sini temenin aku dulu”rayu Fafa kepadaku
Riani dan Coco yang sedari tadi mengompori kami berniat meninggalkan kami berdua. ‘Udah Fa. Langsung aja ungkapin malem ini juga. Pasti diterima kok’teriak Coco. Aku jadi tak mengerti dengan perkataan yang baru saja diucapkan oleh Coco. Apakah Fafa malam ini akan menyatakan perasaannya kepadaku?Atau bahkan Fafa ingin menembakku?Entahlah aku jadi deg-degan tiap kali ditatap mata olehnya. Aku dan dia jadi saling memandang tanpa mengucap sepatah katapun. Dia melihatku dengan senyuman dan tatapan itu. Tatapan yang selalu membayang-bayangiku akhir-akhir ini. Senyum yang selalu ku rindukan akhir-akhir ini. Suasana syahdu yang seperti ini. Dia menggenggam tanganku.
Saat ia ingin mengatakan sesuatu,tiba-tiba Riani datang dan menawarkanku untuk foto bersama Fafa. Ku ambil ponsel dari tasku,namun satu notif terlintas di layar hpku. Pesan dari mbak Nia yang isinya memintaku untuk segera menemuinya karena adiknya sudah lewat dan memintaku untuk segera pulang. Aku jadi cemas sekarang. Pesan mbak Nia seakan membuatku tergesa-gesa akan pertemuan ini. Lalu ku minta Fafa untuk segera berpose dan merapikan beskapnya. Tiap kali akan memotret,dia selalu memalingkan badannya seolah tak ingin di potret karena dia malu wajahnya yang penuh polesan make up dilihat olehku. Aku jadi semakin kesal. Karena tak ada satu pun hasil jepretan yang berhasil,ku ambil ponsel dari tangan Riani dan bergegas meninggalkan mereka bertiga. Fafa mengejarku”Kamu mau kemana?” tanyanya namun tak ku perdulikan. Aku sedikit kecewa dengannya yang tak mau berfoto denganku.
Aku berlari menghampiri mbak Nia. Setelah menemui mbak Nia,aku dan mbak Nia memutuskan untuk pulang karena hari sudah larut malam dan langit nampak gerimis. Aku dan mbak Nia bergegas menuju parkiran. Banyak orang berlalu lalang meninggalkan tempat mereka menonton karsival. Jalan penuh sesak dengan kendaraan bermotor. Mbak Nia berusaha mencari jalan pintas. Saat ia ingin menyeberang menuju sisi kanan,tiba-tiba motor mbak Nia tersenggol oleh motor lain. Mbak Nia terjatuh dan aku merasakan di sekitarku perlahan semakin gelap sembari ku lihat samar-samar orang menghampiriku.

                             *** 

Selasa, 01 November 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Pesan Berisyarat

'Mbu....Maafin aku...Aku tau aku salah.Aku tau aku gak seharusnya ngelakuin seperti itu tadi.Sekali lagi maafin aku.Kamu tau,betapa tersiksanya aku ketika kamu nyuekin aku.Sungguh aku menyesal telah terlambat menjemputmu.Semalam aku berusaha untuk tidur lebih awal namun sepertinya rasa kantuk datang terlambat juga.Meskipun begitu kamu pasti gak percaya dengan apa yang aku katakan.Tapi andaikan kamu tau apa yang aku rasain saat kamu mengabaikanku seharian ini.Aku berusaha membuatmu tersenyum kembali.Maaf aku berlebihan.Aku sadar.Aku bukan siapa-siapamu.Tapi aku ingin membuatmu bahagia.Aku ingin membuatmu tersenyum walau terkadang caraku salah.Aku hanya ingin melihat kerutan lucu di wajah manismu.Dari situ kamu layak untuk ku panggil pipi jambu.Pipi yang manis layaknya buah jambu.Namun ku harap buah jambu yang ini belum dimiliki oleh siapapun.Biar aku saja yang mengimbunya agar kelak matang dengan sempurna.Jangan lupa belajar ya mbu,berikan yang terbaik untuk besok.Tunjukkan kalau kamu layak untuk matang :D"
Aku terkejut dengan pesan tiga halaman yang baru saja ku baca. Apa mungkin dia sedang memberitahuku sesuatu yang ia pendam saat ini? Apa ia sedang mengutarakan perasaannya padaku? Apa dia telah menggodaku? Ah entahlah. Pria seperti dia memang pandai sekali menggoda wanita. Kalau saja dia bukan alumni paskib pasti dia tak bersikap seperti ini. Rasanya aku masih tak percaya dengan pesan yang baru saja aku baca. Jadi selama ini sebenarnya apa yang terjadi?apa yang telah ku lalui bersamanya seakan membuatku yakin bahwa ada sesuatu yang sebenarnya ia pendam padaku. Aku jadi menduga-duga bahwa dia punya rasa untukku. Tapi bagaimana dengan incarannya? Apakah aku menjadi pengganggu dalam pengincarannya? 
Aku takut menjadi sumber masalah di dalam kehidupannya. Aku merasa bahwa aku berulang kali merusak agendanya dan membuatnya kerepotan. Dari awal pertemuan aku sudah menunda-nunda kegiatannya,sudah membuatnya terlambat dalam agenda rapat,sudah membuatnya terlalu banyak menraktirku,menjemputku,dan banyak lagi rasa bersalahku padanya. Oh Tuhan?Haruskah aku meminta maaf padanya? Dengan apa aku menebus kesalahanku padanya? Atau…..haruskah aku pergi menjauh darinya? Hanya hati dan pikiran yang tau akan kondisi ketenangan jiwaku saat ini. Mulai besok,mungkin aku akan ijin pergi dari persinggahanku sementara waktu ini. Aku harus pergi dan mencari tempat singgah yang lainnya. Aku akan meminta ijin pada tuan rumahnya.
                             ***
Sore ini,aku berniat mengajak Fafa untuk pergi makan siang sekaligus menyampaikan sesuatu padanya. Aku tau,aku lancang. Aku cupu. Aku cemen. Aku tak berguna. Aku pembuat masalah. Aku pengrusak segalanya. Aaaararrrrgggghhh…….. kenapa takdir harus mempertemukanku padanya? Kalau pada akhirnya aku menjadi merasa nyaman dekat dengannya? Aku tau. Tak seharusnya aku singgah secepat ini. Tak seharusnya aku menyimpan perasaan sesingkat ini. Tak seharusnya aku memendam semuanya selama ini. Ingin ku ungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan,tapi apakah ini terlalu cepat?bagaimana jika ia kaget dan justru malah menjauh dariku? 
Jujur,aku mulai takut kehilangannya semenjak aku mulai nyaman dekat dengannya. Tapi aku juga sadar kalau pada akhirnya juga dia akan meninggalkanku dan ia akan pergi bersama incarannya. Ini tak lebih menyakitkan dari sekedar patah hati. Merasakan ia pergi meninggalkanku sementara ia telah berhasil menggapai incarannya. Sedangkanku? Mencari persinggahan tak semudah mencari incaran. Apapun nanti responnya akan perkataanku,aku harus siap. Aku harus memperjelas akan perasaanku ini. Aku tak ingin menjadi pengrusak hubungan orang.
Tepat pukul tiga sore,Fafa sudah parkir di dekat gerbang sekolah. Aku menghampirinya. Sebelum aku naik diboncengannya,aku memandang wajahnya sambil memakai helm. Dia selalu tersenyum dengan tatapan itu. Ku sudahi pandanganku sembari bertanya
“Kamu hari ini memang nggak ada agenda kan?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku nanya serius. Aku nggak mau kamu terlambat ikut kegiatan gara-gara aku.”
“Tenang,aku baru aja selesai kegiatan kok. Kita bisa makan sepuasnya nanti”
“Beneran nih?”
“Iya,sa…”
“Sa? Sa siapa?”
“Eh nggak apa apa kok. Udah yuk naik.”
Di sepanjang perjalanan aku masih terngiang-ngiang dengan ucapan yang baru saja ku dengar. Satu suku kata ‘Sa’. ‘Sa’ itu siapa? Apakah itu nama incarannya? Kalo iya kenapa ia menyebutnya bersamaan dengan namaku? Ah aku tak mengerti sekarang. Sesampainya di rumah makan, kami memesan makanan. Aku duduk berhadapan dengan Fafa yang sedari tadi memandangku dengan tatapan itu lagi. Aku jadi salah tingkah dilihat dia dengan seperti ini. Ku dengar ia berkata
“Kamu kenapa? Tumben ngajak aku makan siang? Semudah ini kamu kangen sama aku?”
“Kamu nggak bisa ya sesekali nggak usah kePDan gitu? Aku cuma pengen nraktir kamu”
“Nggak usah berlagak punya uang banyak deh. Anak ipa kan irit,perhitungan banget kan ya?hahahah”
“Nggak usah ngeledek kamu,belum tentu juga kan kamu bisa sepinter anak ipa. Anak jurusan teknik emang kebanyakan gaya ya?kebanyakan teknik teknik teknik makanya kePDan dan keGRan terus…Haahahahah….”
“Eh awas yah kamu!”Dia menyerobot hpku
“Eh kembaliin hpku!”Dia menjulurkan lidahnya.
Pesanan pun datang. Aku menyusun kata-kata yang akan ku tanyakan padanya sedangkan dia sibuk membuka aplikasi yang ada di hpku.
“Fa?”
“Iya Mbu?”
“Aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?”Dia menghentikan kesibukannya bermain hpku dan menatapku dengan serius namun dengan senyuman yang membuatku salah tingkat lagi untuk yang keberapa kali.
“Apa sih yang nggak buat kamu mbu?”
“Aku serius Fa. Tolong jawab dengan jujur. Kamu sebenernya udah ada incaran kan?”
“Bukannya kamu udah tau? Emangnya kenapa?”
“Ya……kamu dulu kan pernah bilang ke aku kalo kita sepakat sharing ini itu soal ya……. Bisa dibilang gebetan kita gitu lah. Tapi kayaknya kamu jarang curhat deh soal incaran kamu itu. Makanya aku meragukan itu”
“Oh gitu?Ya nggak apa-apa sih. Aku baik-baik aja kok sama incaran aku. Dia kayaknya udah ngrespon apa yang aku lakuin ke dia. Tapi aku belum nanya soal perasaan dia ke aku.”
“Oh ya udah deh. Ada peningkatan kalo gitu. Emmm…oh iya incaran kamu nggak marah atau ngambek kan kalo kamu deket sama aku?”
“Aku nggak pernah cerita soal kamu ke dia kok. Jadi tenang aja.”
Aku masih memikirkan caraku untuk mengintrogasinya soal pesan yang baru saja ia kirimkan kemarin. Sembari ia memakan makanannya,aku bertanya lagi
“Fa,menurut kamu aku lancang nggak sih kalo aku nanya perasaan duluan ke cowok?”
“Kamu udah punya gebetan?”
“Ya bukan masalah udah punya atau belum cuma aku nanya itu aja. Menurut kamu gimana?”
“Ya nggak apa-apa sih. Aku justru malah salut soalnya kebanyakan cowok nggak akan tau kemauan cewek itu apa kalau cewek nggak bilang dulu. Biasanya kalau cewek nanya gitu pasti udah nyaman sama si cowoknya”
“Kok kamu tau kalo udah nyaman?”
“Kan anak teknik lebih berpengalaman. Nggak cuma urusan pekerjaan yang pengalaman soal urusan cinta juga berpengalaman dong”
“Kalau gitu,aku nanya deh. Jujur,aku bingung sama sms kamu yang kemarin sepulang pesta panggang kamu kirimin ke aku. Sebenernya maksudnya apa sih?” ku beranikan diriku untuk menanyakan hal ini. Dia berhenti melahap makanannya
“Kan udah aku jelasin. Ya intinya aku nggak pengen ngelihat kamu murung. Aku seneng kalau ngelihat kamu senyum.”
“Tapi aku sebenernya bingung dan ngerasa nggak enak hati,Fa. Aku ngerasa aku udah jadi pengrusak hubungan kamu sama incaranmu. Jujur,aku udah nyaman sama kamu tapi aku minta maaf kalau selama ini aku ngerepotin kamu terus,ngerusak agendamu terus,dan ngerugiin kamu terus lah. Kamu ngerti kan apa yang aku maksud?”
“Lho!bukannya aku yang seharusnya nggak enak hati karena udah jadi pengrusak hubungan kamu sama Raka?”
Deg. Jawaban yang baru saja ia lontarkan membuatku tak berkutik apa-apa. Aku menunduk sembari memikirkan apa reaksiku selanjutnya.
“Emmmhhh… sebenernya aku udah nggak deket sama Raka bukan karena ada kamu tapi emang karena aku bener-bener pengen pindah dari hati dia. Aku capek kalau harus bolak-balik nunggu kejelasan hubungan aku sama dia. Dan juga itu sama kaya yang aku rasain sekarang sama kamu.”
“Hah?Maksudnya?”
“Jadi gini,sebenernya yang mau aku tanyain adalah perasaan kamu ke aku gimana?aku nanya gini soalnya dari semua yang aku rasain dan jalanin bareng kamu itu yang bikin aku mulai nyaman deket sama kamu. Maaf kalo aku lancang karena udah nanya gini sama kamu.”Ku tundukkan pandanganku sembari mempersiapkan mental apa yang akan ia respon.
“Hahaha…kamu kenapa sih mbu?nggak usah malu gitu deh. Justru aku seneng kalau kita terbuka kaya gini. Ya nggak apa-apa kok. Bagiku itu nggak lancang. Emmmhhh…..biar ku jelasin. Kita awal kenal gara-gara dikenalin sama Riani kan?terus dari situ aku dapet pin kamu terus juga kita BBMan dan terus-meneruslah dan akhirnya kita deket. Jujur,aku juga….udah mulai nyaman sama kamu. Ya…..intinya ….aku udah nganggep kamu lebih dari seorang temen tapi ya…..dijalanin dulu lah mbu.”
“Kamu nganggep aku lebih dari seorang temen? Kesambet apa kamu ngomong gitu? Hahah…. Aku tuh nggak ada apa-apanya dibanding incaran kamu. Kamu bercanda kan?”
Dia mendekatkan wajahnya ke arahku. Jaraknya berkisar 15 cm. Aku jadi gugup
“Iya aku emang bercanda. Hahaha……..(sambil mencubit pipiku)”
Aku jadi kesal sekarang. Lagi serius malah dibercandain. Sebenernya apa sih yang dia mau?
“Ihh!Kamu nyebelin banget sih!”
“Yeeeeee hahahahaha……!”
“Ketawa aja terus!”
“Jiahahahhaha…udah lah kita jalanin aja dulu. Kita nggak tau kan ke depannya kaya gimana. Oh iya, kamu sebentar lagi ulangan tengah semester kan?”
“Emang kenapa?”
“Yaelah cuek banget. Jangan ngambek dong! Kali ini aku serius deh. Aku pengen kita lost contact dulu sampe kamu udah selesai ulangan. Aku pengen kamu fokus sama ulangan kamu. Kamu harus bisa matang.”
“Kamu pikir aku gorengan apa bisa matang? Paling juga kamu yang nggak kuat buat lost contact sama aku”
“Bukannya gitu. Aku cuma pengen ngejadiin kedekatan hubungan kita buat pemacu belajar kita biar kita bisa berkembang lebih dewasa. Kamu kan jambu. Jambu kalau matang kan enak,banyak orang yang suka. Kamu juga gitu. Kalo kamu pinter,rajin,dan murah senyum pasti banyak yang suka. Kaya aku,yang suka sama senyum kamu. Makanya kamu ku panggil pipi jambu. Ahahahahah…..”
“Auk ah gelap! Ngaco deh kamu. Aku nggak ngerti apa yang barusan kamu bilang”
“Hahahaha…..pura-pura nggak tau aja terus. Udah ah!Intinya gitu. Aku pengen kita lost contact biar kamu bisa fokus belajarnya. Kamu nggak keberatan kan?”
“Nggak kok. Aku justru malah seneng kalo kamu pengen lost contact sama aku. Jadinya kan nggak ada yang ganggu aku nantinya. Wkwkkwkwk…”
“Oh jadi selama ini aku pengganggu ya? Oke fine.”
“Eh bukan gitu maksudnya….”Aku mengejarnya hingga sampai di kasir. Kami membayar bill bersama dan pergi meninggalkan tempat itu. Dan hari ini aku merasa benar-benar tak ingin pindah dari hati Fafa. Aku membatalkan keputusan untuk pindah selain di hati Fafa. Aku sudah terlanjur nyaman dengan persinggahanku. Namun aku masih bertanya-tanya akan perasaannya untukku. Apakah tadi dia memang sedang bercanda padaku? Huft. Ku rasa seorang paskibraka memang punya tabiat yang misterius. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja?Entahlah…

                                 ***