Sudah
tiga bulan ini aku hampir singgah. Namun aku tak pernah merasa digantung
ataupun menunggu kepastian dari si tuan rumah. Karena aku tau. Tuan rumah tak
pernah memberi waktu untukku menunggu atau pun memberiku harapan bahwa aku akan
menjadi kekasihnya atau apapun tidak. Sama sekali tidak. Tapi terkadang aku
nyaris baper kepadanya. Setiap kali dia menjemputku untuk mengajakku makan
berdua. Setiap kali dia menghubungiku di waktu senggang. Setiap kali dia memberi
perhatian untukku. Seperti pesan disertai gambar yang ku terima darinya.
Pesan
itu bertuliskan GWS(Get Well Soon) ‘Pipi Jambu’ disertai foto Fafa menunjukkan
kertas bertuliskan pesan tadi bersama Dhede,Coco,Marjo dan salah seorang wanita
di dalam foto itu entah siapa aku tak mengenalinya. Mereka berpose dengan ekspresif
dan ceria dalam fotonya. Aku merasa senang sekali. Aku seperti sudah dianggap
keluarga sendiri olehnya. Aku senang mereka menerima keberadaanku di dalam geng
mereka dan mendukung kedekatanku dengan Fafa. Tapi meskipun aku dan Fafa
dekat,aku menyadari bahwa aku dan Fafa tak mungkin bersama. Fafa sudah punya
incaran. Tapi bukan berarti aku adalah tempat pelampiasan ketika dia bosan. Dia
tak pernah memperlakukanku seenaknya sendiri. Itu sih menurutku. Tapi bagaimana
pun seorang cowok pasti punya 1001 cara untuk berlari dari keadaan yang
membosankan.
Hanya
lelaki tangguh dan tulen yang mampu bertahan di segala situasi dan kondisi
sejenuh apapun ketika mengincar incarannya. Ah aku tak taulah apa yang ada di pikiran
Fafa saat ini. Yang pasti aku harus meredam keinginanku untuk berharap lebih
padanya. Aku takut rasaku ini menjadi semakin besar,semakin tinggi,semakin
memuncak,dan semakin dalam. Tapi lebih takutnya lagi,aku melihatnya tak bahagia
walau bersamaku. Biarlah dia bahagia bersama incarannya. Biarkan ku
terluka,asalkan ia bahagia.
Sebagai
bukti nyata,Fafa mengirimkanku pesan kalau nanti sore dia ingin mengajakku
makan. Dan parahnya lagi,dia tak hanya mengajakku,dia mengajak incarannya juga.
Ini hal gila macam apa?aku sih sebenarnya juga kepo gimana wajah,perawakan,dan
penampilan incarannya. Seperti apa sih incaran Fafa? Fafa sama sekali tak
pernah memberitahuku incarannya itu siapa. Namanya aja aku nggak dikasih tau
apalagi fotonya. Dia bahkan sama sekali tak pernah curhat incarannya itu siapa.
Apa dia benar-benar berbohong padaku? Kalau iya kenapa aku terus-terusan
mempercayainya? Huh entahlah. Dia memang makhluk paling misterius kedua setelah
Raka. Oh Raka? Gimana kabarmu saat ini? Dan kenapa aku merindukannya? Mungkin
karena hal ini.
***
Pagi
ini aku berangkat sekolah cukup awal. Aku berjalan menuju kelas dengan santai.
Ku dengar bunyi injakan sepatu PDH berjalan menuju ke arahku. Aku menoleh ke
belakang. Raka. Berjalan menuju ke arahku dengan tatapan hampa. Aku melihatnya
dan menghentikan langkahku.
“Raka?”
“Ada
apa?”
“Tumben
berangkat pagi?”
“Bukan
urusanmu”
“Kok
kamu cuek gini sih?”aku berusaha berjalan beriringan dengannya
“Ya
aku cuma berusaha ngelakuin apa yang kamu lakuin ke aku”
Ku
hentikan langkahku. “Maksud kamu apa?”
“Aku
nggak pernah ada niat jahat buat kamu. Aku berusaha mengikuti apa maumu. Kalau
kamu nggak suka,ku harap kamu nggak menyesal dengan apa yang aku lakukan ”
Dia
pergi mendahuluiku. Aku mencari jalan lain untuk sampai ke kelas. Sungguh tadi
itu kejadian yang tak terduga. Aku sama sekali nggak pernah ada niatan buat
berangkat sekolah bareng sama Raka. Berangkat bareng sama Fafa aja nggak pernah
apalagi sama Raka. Aku berusaha menata pikiran dan perasaan sesampainya di
kelas. Aku tak ingin kekukuhanku pergi dari hati Raka terusik dan teroyak
gara-gara kejadian tadi pagi. Ya,aku ini orangnya memang baperan. Tapi aku
berusaha mengontrolnya kok. Yang pasti aku harus tetap fokus pada perasaanku ke
Fafa. Aku sudah pindah. Sudah hampir singgah. Bahkan tuan rumah menyambutnya
dengan senang hati. Tapi aku ragu untuk tetap tinggal kali ini. Pasalnya tuan
rumah akan punya teman baru untuk menemaninya tinggal disana. Apakah aku akan
benar-benar diusir kali ini? Biarkan pertemuan yang menjawab.
Siang
begitu cepat terlintas. Pukul setengah tiga aku ada jadwal les. Fafa
menjemputku seusai pulang les. Dia rela menunggu kepulanganku asalkan aku
menemaninya menemui incarannya. Les kali ini waktunya agak lama karena
pengajarnya datang terlambat. Aku jadi merasa nggak enak sama Fafa. Dia terlalu
lama menungguku. Aku berusaha menghubunginya. Justru dia malah bilang nggak
apa-apa nunggu lama asalkan aku tetap mau menemaninya. Dia bahkan bersedia
mengantarkanku pulang. Kalau begitu,berarti incarannya naik motor sendiri dong?
Hah nggak pentinglah. Intinya aku berusaha berbuat baik padanya.
Seusai les,aku
membonceng temanku untuk sampai di depan sekolah. Sesampainya di depan sekolah
tak kulihat keberadaan Fafa. Ku cari dari ujung pagar sekolah bagian barat dan
timur tak kutemui dirinya. Tiba-tiba dari tengah jalan,pengendara motor biru
putih menepi menuju ke arahku. Fafa datang. Setelah aku diboncengnya,Fafa
langsung tancap gas. Dia menuju rumah makan yang biasa kami kunjungi.
Sesampainya disana kami memesan makanan.
***
“Fa?”
“Iya,Meiy?”
“Incaranmu
udah kamu kasih tau belum kalo kita makan disini?”
“Iya
udah.”
“Dia
kesini sendirian?”
“Sama
aku kan?”
“Maksudnya?”
“Dia
kesini sama aku.”
“Kan
kamu kesini sama aku. Dia yang kamu maksud incaran kamu kan?”
“Ah
udahlah,nanti aja ngobrolnya. Kita makan dulu. Aku kelaperan gara-gara nunggu
kamu”
Aku
jadi merasa bersalah padanya. Harusnya aku menolak untuk menemaninya. Aku tak
selera makan sore itu. Untung saja aku memesan menu dengan porsi yang sedikit karena
aku sudah terbiasa untuk makan siang di sekolah. Mubadzir kan kalo aku harus
menyisakan makanan dengan suasana tak selera makan. Setengah jam kami menikmati
makanan tanpa berbicara sama sekali. Aku rasa Fafa memang sedang kelaparan.
Hahaha lucu juga kalo dia lagi makan. Tiap kali dia melahap makanannya aku diam-diam
mencuri pandang padanya. Tapi ketika aku ketahuan memandangnya,dia memandangku
seolah memergokiku bahwa aku telah memandangnya cukup lama. Menit demi menit ku
nanti incarannya bersama Fafa. Aku menjadi bosan sekarang. Aku mulai ragu akan
incarannya.
“Mana
sih Fa?kok incaranmu nggak dateng-dateng?”
“Dia
dateng kok”
“Iya
mana orangnya?kita udah nunggu sejam lho disini. Hari udah mulai sore gini. Kamu
juga nggak mesenin makanan buat dia”
“Dia
udah mesen makanan kok”
“Lah
mana?kok aku ragu ya sama incaran kamu? Kayaknya dia nggak bakal dateng deh.
Coba hubungi dia lagi”
“Nggak
usah. Dia udah disini kok?”
“Apa?
Maksud kamu gimana sih? Jangan bilang incaran kamu makhluk jadi-jadian? Duh,Fa!
Udah deh nggak usah nakut-nakutin aku gini.”
“Aku
nggak nakut-nakutin kamu. Aku serius.”
“Terus
maksudnya gimana?Dari tadi kamu bilang ada disini tapi mana?”
“Udah
ada disini. Di depan aku.”
Aku
bingung dan tidak ngerti apa yang dia bicarakan
“Maksudnya?”
“Jadian
yuk?”
“Kamu
lagi ngomong sama siapa?”
“Jadian
yuk?”
“Fa?”ku
lambai-lambaikan tanganku ke depan wajah Fafa namun dia malah memegang
tanganku.
“Jadian
yuk?”
“Kamu
ngomong sama siapa si?”
“Jangan
pura-pura bego deh. Aku tuh lagi ngomong sama kamu.”
“Yaaaa…kamu
barusan ngomong apa?”
“Hari
ini kita jadian.”
“Hah?ih
kamu ngaco deh! Kamu lagi acting kan?biar nggak nervous kalo ketemu sama
incaran kamu. Hahahah… kaya mau akad nikah aja pake nervous segala”
“Emang
aku kelihatan nervous di depan kamu?”
“Ya
enggak juga sih. Tapi udah berani kok. Actingnya menjiwai sekali.”
“Aku
emang lagi serius,Meiy!”
“Maksud
kamu serius acting kan?”
“Hari
ini kita jadian. Incaranku udah datang. Incaranku udah mesen makanan. Incaranku
udah di depan mataku. Incaranku sekarang lagi ngobrol sama aku. Incaranku yang
sekarang ku pegang tangannya. Incaranku yang lahirnya sebelum diriku lahir. Incaranku
itu kamu. Pipi Jambu.”
Sontak
aku kaget dengan apa yang baru saja Fafa katakan. Aku masih tak percaya dengan
apa yang ia katakan.
“Hah?Hahaha.
Kamu bercanda kali. Serius deh. Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud.”
“Aku
serius Meiy. Aku nggak lagi bercanda. Maaf ya kalo selama ini aku berbohong
sama kamu. Aku sengaja nggak ngasih tau kamu incaranku itu siapa. Aku pengen
bikin surprise kamu dan aku cuma pengen tau reaksimu setelah ku dekati. Aku
tau,kamu juga punya perasaan yang sama seperti apa yang ku rasa. Dan sekarang
aku bersedia untuk menjadi rumahmu. Rumah yang bukan hanya tempatmu singgah
melainkan tempatmu kembali. Tak peduli sejauh apapun kamu pergi. Tak peduli selama
apapun kamu mencari. Aku ingin kamu tinggal bersamaku disini.”
Fafa
menunjuk jari telunjuknya ke arah hatinya. Aku tak berkutik apa-apa. Aku bahkan
masih tidak paham dengan apa yang dia katakan. Rasanya dia terlalu bodoh untuk
memilih tamu seperti diriku. Untuk menjadikanku pacarnya. Aku ini makhluk Tuhan
yang tak sempurna bodinya,yang tak cantik wajahnya,yang belum tentu baik perangainya,yang
tak patut untuk ditiru bahkan diidamkan,yang tak pantas menjadi pacar seorang paskibraka.
Aku ini wanita yang lemah,wanita yang kasar,wanita yang galak,wanita yang tak
sabaran,wanita yang baperan,dan wanita yang ahhhh…..aku ngerasa aku nggak
pantas buat Fafa. Aku entah kenapa berpikiran bahwa aku harus menolak
permintaannya untuk jadian di sore itu juga. Dia masih terus saja memegang
tanganku dan memandangku seolah ingin menunggu jawabanku.
***
Tiba-tiba
ponselku berdering. Satu pesan dari bunda. Dia menanyakan dimana aku sekarang.
Aku balas saja aku sedang perjalanan pulang. Aku melepaskan tanganku dari
genggaman Fafa dan memintanya untuk segera mengantarkanku pulang karena bundaku
sudah sms. Fafa melihatku dengan tatapan yang sepertinya tatapan kecewa
bercampur kesal. Dia bergegas membayar bill dan pergi menuju parkiran dengan langkah
cepat. Aku nyaris memintanya untuk tidak usah mengantarkanku pulang karena
situasi hati Fafa ku rasa sedang kecewa dan marah besar padaku. Aku jadi
bingung gimana harus bersikap.
Akhirnya
aku pulang dibonceng Fafa dan agak sedikit canggung. Perasaan ketika pertama
kali bertemu dengannya pun seolah terulang kembali. Aku takut memulai
pembicaraan. Di tengah perjalanan aku memikirkan apakah aku harus menerimanya
atau menolaknya. Kalau misal aku menerimanya,apa aku kuat ditinggal dia terus
sedangkan dia sibuk kegiatan ini itu?Apa aku siap jadi bahan perbincangan
temen-temannya?Apa aku siap menerima kekurangannya? Apa aku siap dengan resiko
yang akan ku terima nantinya?
Sejujurnya aku sangat senang tuan rumahku juga
punya perasaan yang sama seperti tamunya,tetapi aku takut dia tak bahagia
ketika bersamaku. Aku takut dia tak menerima kekuranganku nantinya. Aku takut
dia akan pergi meninggalkanku dan tanpa memberiku kepastian ketika suatu saat
dia bertugas sangat jauh dan lama. Aku takut kalau sewaktu-waktu Fafa akan
melakukan hal yang sama seperti yang Raka lakukan kepadaku. Namun kalau misal
aku menolaknya,apa ia akan kecewa?apa ia akan marah kepadaku?apa ia masih
menganggapku sebagai teman dekatnya?lalu bagaimana dengan reaksi
teman-temannya?apa mereka akan memusuhiku karena aku menolaknya?atau bahkan ia
akan membenciku?menjauhiku?dan tak kan pernah mau bertemu dan mengenalku lagi?
Aku sungguh tak tau harus menjawab apa.
Senja
menemani perjalanan pulangku diantar Fafa. Sepanjang jalan,Fafa terdiam membisu
tanpa melirik kaca spion sekalipun seperti yang biasa ia lakukan padaku. Aku
jadi merasa bersalah karena seakan telah menggantung dan mengabaikan permintaannya
tadi. Aku bingung harus memulai pembicaraan darimana. Aku berharap dia
mengajakku bicara. Jalan yang kami lewati berbeda dari biasanya. Fafa memilih
jalan yang agak sepi. Kami melintasi jalan raya kecil di antara persawahan
dekat sekolahannya. Memang kalau lewat jalan itu pula akan lebih dekat untuk
sampai ke rumahku. Di jalan itu Fafa mulai mengajakku bicara dan melambatkan kecepatan
motornya menjadi 20 km/jam.
“Meiy?”
“Iya?”
“Hari
ini kita jadian ya?”
“Eehh…kamu
serius ngajak jadian?”
“Iya
Meiy. Aku serius. Aku mencintaimu sejak aku bilang aku udah ada incaran. Dan
kamu juga punya rasa yang sama kan kaya aku?”
“Kamu
darimana tau kalo aku juga punya rasa sama kamu?”
“Ooh
jadi…?enggak ya?”
“Eemmmm…bukan.
Bukan gitu maksudnya. Gini,jujur ya Fa. Aku nggak tau siapa yang suka duluan.
Aku atau kamu. Tapi…Aku ngerasa aku nggak cocok sama kamu. Aku nggak pantes
buat kamu. Aku ini banyak kekurangan. Apa kamu udah bersedia nerima apapun
kekuranganku?kejelekanku?dan kelemahanku?”
“Aku
mencintaimu dengan sewajarnya. Aku nggak nuntut kamu untuk berubah demi aku.”
“Hah?Kamu
mencintaiku?Aku heran deh sama kamu. Terus kamu kenapa sih nggak bilang dari
awal kalau kamu ngincer aku?”
“Maafin
aku Meiy. Aku nggak bermaksud bohong sama kamu tapi perasaan hati manusia nggak
ada yang tau kan? Kalau saja diawal pertemuan aku tau kamu mau denganku,kita
pasti udah jadian semenjak kita pertama kali bertemu. Intinya,aku ingin
‘memetikmu’. Karena aku tau,jambu yang matang itu mencerminkan yang merawat.
Kalau bener-bener ‘ngimbu’ dan merawat dengan serius,pasti jambu akan matang
dengan sempurna. Dan ku kira kamu sekarang udah matang gara-gara ku imbu. Aku
takut jambuku diambil orang. Makanya aku memetiknya hari ini.”
“Tapi
kan jambu yang kelamaan diimbu bisa aja busuk kan? Begitu juga manusia,cepat
atau lambat orang akan berubah seiring berjalannya waktu. Kamu nggak takut
kalau misal suatu saat aku bakal berubah?”
“Aku
nggak takut kamu berubah. Aku pasti ingetin kalau kamu berubah nggak baik. Seberubahnya
orang,dia nggak akan pernah pergi kalau dalam hatinya bener-bener tulus
mencintai pasangannya. Kamu pernah bilang,nggak suka disamain sama jambu. Lalu
kenapa tadi membanding-bandingkan dirimu dengan jambu?”
“Ya
tadi katanya kamu bilang mau merawat aku kayak pohon jambu kan? Ah udahlah. Aku
tau kamu juga nanti bakal bosen,berubah,dan ninggalin aku”
“Aku
nggak akan bosen sama kamu. Aku nggak takut akan perubahan. Aku ini orang yang
berpendirian kuat. Kalau aku suka sama seseorang ya akan aku kejar sampai tau
responnya keaku kaya gimana. Aku nggak akan ninggalin kamu kecuali ada urusan
penting dan aku harus cabut.”
Aku
mulai ragu-ragu untuk menerimanya tetapi
…..
“Aku
juga sibuk kegiatan. Jadi kemungkinan mustahil untukku mencari selingkuhan. Dan
kemungkinan pasti aku akan sering meninggalkanmu demi kegiatan.
Tapi,percayalah. Aku tak pernah jatuh cinta sedalam ini sesungguhnya. Aku rela
meninggalkan rapat demi menjemputmu. Aku rela terlambat latihan demi bertemu
denganmu. Aku rela menunda jam praktik ku demi makan siang bersamamu. Aku
nyaman bersamamu. Aku senang bersamamu. Aku bahagia bersamamu. Aku bakal
membuktikan kalau sesibuk apapun seorang paskibraka dia mampu menjaga ketulusan
dan kesetiaan cinta dari seseorang yang dikasihinya setelah mencintai kebangsaannya.
Jadi…..?”
Tak
terasa kami sampai di gang rumahku. Aku turun dari motor dan berkata
“Makasih
ya buat sore hari ini. Hati-hati pulangnya. Udah maghrib nih. Aku mau mandi.
Aku belum keramas.”
Setelah
itu,Fafa menggaet tanganku sebelum aku melangkah agak jauh darinya
“Jadi
gimana Meiy?Aku masih nunggu jawaban kamu loh. Hargai perasaan seseorang yang
rela merelakan segala hal demi dirimu,kamu nggak tau kan konsekuensi yang ku
terima dulu kaya gimana”
Aku
diam sejenak. Memikirkan apa jawaban yang akan ku katakan…
“Nggak…”sambil
berbalik dan memandangnya sebentar. Tangannya lemas menggenggam tanganku. Dia
sepertinya kecewa. Harapan yang ia impikan seakan pupus.
“Nggak
nolak maksudnya… Udah ah. Kamu cepet pulang gih. Aku mau mandi. Whleeekk”sambil
ku julurkan lidahku dan melepas genggaman tangannya. Aku berjalan
meninggalkannya. Fafa memajukan kendaraannya agar terlihat dari ujung teras
rumahku.
“Beneran
Meiy?”
“Iyahhhh…….udah
sana!!!”
Fafa
tersenyum sumringah dan mengadahkan kedua tangan seolah dia berdoa. Dia
melihatku dengan senyuman manis melebihi manisnya senja kala itu. Dia
melambaikan tangan untuk pulang. Ku dengar dia menancap gas sangat cepat seolah
dia sedang melampiaskan kebahagiaannya.
Senja
selalu hangat sama seperti senyumnya….
Namun
senja hanya sekejap sama seperti kehadirannya…..
Rindu
selalu membuat senja menjadi sendu.…
Membuatku
menyalahkan waktu yang begitu cepat melaju…..
Melihat
kepergiannya bersama sang senja…..
Yang
diliputi syahdunya rasa cinta dan sayang yang membara…..
Untukmu,Paskibraka
yang ku damba dan ku puja…..
Semoga
kita bahagia…..
Bersama…..
Selamanya…..
***