Kamis, 27 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Balada Car Free Day

Dari segala penjuru
Kami datang ‘tuk bersatu
Sama-sama merasakan
Suka duka di paskibraka
Owaiyeiyeiye Owaiyoiyoiyo Owaiye Owaiyo2x
Selamat tinggallah kasihku
Aku pergi tak ‘kan lama
Hanya satu bulan saja
‘Tuk berlatih di paskibraka…..
Owaiyeiyeiye Owaiyoiyoiyo Owaiye Owaiyo2x
Voicenote yang ku dengar semalam membawaku menuju mimpi yang indah. Suara dari seorang pria yang kemarin sempat mengantarkanku pulang kini begitu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tidur nyenyak sekali semalam. Hingga terbangun keesokannya,aku ingin kembali tidur lagi. Aku belum sepenuhnya ingin bangun. Ku paksa untuk membuka mataku dan ku lihat reminder yang sedari jam empat pagi sudah berdering namun ku abaikan. Terlihat ‘Car Free Day With Fafa,Riani,Coco’. Aku hampir lupa untuk bangun pagi. Bergegas ku bangun dari lelapnya tidurku dan bersegera untuk mandi dan sholat shubuh. Dinginnya air shower membuat pori –pori tubuhku terlihat melebar. Seusai mandi ku ganti pakaian dan ku tunaikan sholat shubuh.
 Setelah itu ku buka ponsel dan ku kirim pesan singkat untuk Fafa. Semalam ia berjanji akan menjemputku pagi ini bersama Coco dan Riani. Aku menyuruhnya untuk menjemputku di depan gang rumahku. 3 pesan telah terkirim. Biasanya satu menit sudah ku terima balasan darinya. Namun kali ini tidak. Ah mungkin ia baru bersiap-siap. Selain ku kirim pesan untuk Fafa,aku juga mengirim pesan pada Riani. Ku terima pesan balasan darinya bahwa Coco sudah sampai di rumahnya. Ku pinta mereka untuk menungguku dan Fafa di rumah Riani. Ku pakai sepatu sambil terus mengirim pesan untuk Fafa. Fafa tak kunjung membalas pesanku. Ku tunggu kehadirannya di teras rumah. Ku lihat gang rumahku masih nampak sepi. Sambil menunggu balasan,ku lakukan peregangan otot di halaman rumahku. Lima belas menit berlalu. Terdengar klakson berbunyi di ujung gang rumahku. Terlihat Coco dan Riani memberiku isyarat untuk menghampiri mereka. Ku berlari menuju mereka.
“Kalian ngapain ke rumahku?Bukannya aku nyuruh kalian buat nunggu aku sama Fafa di rumahnya Riani?”
“Ah!Kamu ditungguin juga nggak dateng-dateng. Mana si Fafa?”Tanya Riani
“Aku juga nggak tau. Dia dari tadi aku SMS nggak dibales nih. Jangan-jangan dia bangun kesiangan lagi?”
“Kenapa nggak kamu ingetin sih,Meiy? Kalau pagi ini kita CFD minimal kamu ngabarin dia gitu malemnya biar besok dia bangun pagi.”
“Tumben tuh anak kesiangan?Biasanya paling pagi dia kalo soal bangun gini. Dari tadi juga BBMku nggak dibales sama dia”tambah Coco
“Aku juga bingung nih! Padahal dia sendiri lho semalem yang bilang kalo dia bakal bangun pagi tapi ya kenapa paginya jadi seperti ini aku juga nggak tau”
“Coba deh kamu telpon?”saran Riani
Ku coba menelpon Fafa. Tidak ada jawaban darinya. Pukul enam pagi terlintas di jam tanganku,namun dia tak kunjung mengangkat telponku. Ku ulangi hingga tiga kali dan yang ketiga saluran telpon telah tersambung. Tak sampai lima detik dia mematikan telponku. Aku jadi semakin kesal. Tak lama kemudian pesan singkat ku terima.
‘Iya mbu. Bentar,aku OTW’
“Nih udah dibales dia. Dia katanya mau OTW.”
“Alahhh OTW dari Hongkong? Ini sih udah fix bangun kesiangan dia. Harus nunggu berapa lama lagi sih?Tuh anak ya emang dari dulu ngeselin!”cela Coco
“Haduh!gimana nih?mana ada CFD setengah tujuh pagi?yang ada kita kepanasan tau. Gimana kalo aku sama Coco duluan ke alun-alun entar kamu nyusul sama Fafa?aku tunggu di parkiran deket pendopo kabupaten yah?Oke?”
“Eeh eh eh jangan gitu dong!plis temenin aku nunggu disini dong. Kalian tega ya mau ninggalin aku disini sendirian?Tungguin dong plissss…”
“Mau nunggu berapa jam lagi sih Meiy???Yang ada keringatku udah kering gara-gara nunggu Fafa”
“Sebentar lagi dia juga sampe kok. Percaya deh sama aku“
Detik demi detik terus berjalan. Namun Fafa tak kunjung datang. Aku semakin cemas menunggu kedatangannya. Apakah dia memang sedang dalam perjalanan?Atau dia memang sengaja membatalkan CFD kali ini tanpa memberitahu kami?Atau mungkin apa terjadi sesuatu dengannya di jalan?Fikiranku jadi kemana-mana. Setengah jam kemudian,dari ufuk barat terlihat pengendara sepeda motor dan motornya sedang menuju ke arah kami dengan cepat. Fafa datang. Ku pasang mimik wajah acuh padanya. Aku sungguh kesal dengannya.
“Wwooooyyyy!!!Kemana aja lo???”Teriak Coco sambil memukul helm Fafa
“Hai guys!!!hweheheh….eh….sorry ya agak telat. Baru bangun soalnya. Semalem aku lihat pengajian sampe jam 2 malem jadi yaa…..gini deh!hehehhe…”
“Gak usah minta maaf sama gue lo. Noh minta maaf sama jambumu. Hampir aja dia busuk gara-gara nungguin kamu. Kamu sadar gak sih ini jam berapa???”bentak Riani
“Yeee….ya maap deh. Kan nggak ada manusia yang sempurna. Manusia pasti pernah khilaf kan?”
“Khilap sih khilap tapi juga nggak kebangetan kayak gini kali. Dah yok berangkat. Sayang,kita tinggalin aja mereka!”sahut Coco
“eh jangan gitu dong!tungguin gih.”ujar Fafa
Coco memutar balik motor dan meninggalkan aku dan Fafa. Perlahan Fafa menuju ke arahku. Ku palingkan wajahku dan ku silangkan kedua tanganku seolah-olah marah padanya. Ya,aku memang marah padanya tetapi aku berusaha memendamnya.
“Mbuuuu….maafin aku yah?Aku bangun kesiangan jadi ya baru daten….”
“Muter balik sana!”bentakku
“Hah?muter balik?kamu nyuruh aku pulang?kita nggak jad…”
“Maksud aku,kamu muter balik biar aku boncengnya gampang. Kita mau CFD kesana kan?gimana sih?”
“eh iya iya”
                                       ***
Dengan gelagapan dia memutar balikkan motor yang ia kendarai. Kami berempat mulai menuju alun-alun pukul setengah tujuh pagi. Selama perjalanan,Fafa terus melihatku dengan jeda. Dia sepertinya sungkan untuk mengajakku bicara karena mimik wajahku yang seakan membuatnya takut. Sesampainya di parkiran pendopo,kami bergegas menuju alun-alun untuk jogging. Aku berusaha menghindar dari Fafa yang berusaha berjalan beriringan denganku. Ku percepat langkahku namun Fafa mengejar dan menepuk pundakku.
“Mbu!”
“Apa?”
“Maafin aku. Dengerin penjelasan aku dulu”
“Udah ku maafin”
“Kalau udah dimaafin kenapa masih cemberut?”
“Aku lagi badmood”
“Ya maafin aku kalo caraku minta maaf buat kamu badmood aku nggak sengaj..”
“Rin,tunggu aku.”ku kejar Riani dan mengalihkan pembicaraanku pada Fafa. Aku benar-benar sebal padanya. Kekesalanku semakin menjadi-jadi tatkala Riani memberitahuku bahwa di sudut alun-alun terlihat seorang gadis berambut panjang dan memakai training pendek sedang melihat Fafa dan seolah memanggil Fafa.
“Meiy!Lihat deh! Itu kayaknya mantannya Fafa bukan sih?”
“Hah?yang mana?”
“Itu yang duduk sambil ngelihatin dan manggil Fafa”
“Hah?masa sih?aku nggak percaya”
“Ya….emang dia itu mantannya. Aku jadi risih deh sama cewek itu. Udah jadi mantan juga masih belagu. Sok-sokan manggil-manggil Fafa lah. Tapi tenang Meiy. Kamu nggak usah minder deket sama Fafa. Aku yakin,kamu jauh lebih mending ketimbang mantannya Fafa. Tapi aku heran deh,kenapa dulu Fafa mau ya sama cewek kaya dia?”
“Eh udah deh! Aku nggak suka dibanding-bandingin. Ya gak tau lah. Mungkin karena dia cantik kali?”
“What???Kamu bilang cewek kaya gitu cantik?bedaknya tebel kaya dempul gitu kamu bilang cantik?iywh…”
“Ya gitu deh. Udah ah. Gak usah ngomongin orang.”
“Yeee……..ehm…ehm…..kamu cemburu ya Meiy?”
“Yaelah siapa juga yang cemburu?”
“Udah jujur aja deh…..ahahhahahh”goda Riani
“Apaan sih?udah yuk ah. Aku laper nih belum sarapan. Nyari makan yuk!”
“Yuk yuk yuk!”
Riani memanggil Coco. Dia menyarankan untuk mencari tempat makan yang enak untuk sarapan. Coco mengusulkan untuk pergi ke tempat makan lentog tanjung langganannya. Aku hanya mengiyakan. Sebelum kami mengakhiri jogging pagi ini,tiba-tiba kami berpapasan dengan salah satu senior Purna Paskibraka. Pria berkacamata yang tengah menyapa Fafa bernama Mas Adi.
“Wah…. wah… wah…jogging bareng nih ceritanya?”Tanya mas Adi sambil menyalami Fafa,Coco,dan Riani
“Enggak kok mas,tadi nggak sengaja ketemu.”jawab Fafa
“Oh gitu….?Lah terus siapa itu?kok nggak dikenalin?”Arah mata Mas Adi menuju ke arahku
“Oh….ini?Kenalin mas. Ini Meiy. Eh Meiy,kenalin ini Mas Adi. Senior di paskib”
“(Sambil menjabat tanganku)Hai Meiy! Maaf ya tadi nggak nyapa. Aku kira siapa,Salam kenal ya?”
“Eh,hai juga Mas. Iya salam kenal juga”jawabku pada mas Adi
“Wah Fafa nih…..!Habis jadi paskib udah berani ngajak pacar jogging….”
“Hah?Pacar?”tanyaku kaget
“Eh mas. Nggak kok. Kita cuma temenan aja kok. Heheheh….Aduh mas Adi ini sukanya berlebihan”
“Hahaha…..nggak apa-apa kali. Meiy juga manis kok Fa,tuh kelihatan dari senyumnya. Udahlah nggak usah kelamaan…”
                                       ***
Aku tersipu malu dengan perkataan Mas Adi. Tapi aku hanya tersenyum menanggapinya. Mereka berempat tampak berbincang sangat asyik. Hanya aku yang tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Aku hanya bisa bermain ponsel sembari menunggu mereka selesai berbincang. Fafa nampak canggung dan merasa tak enak hati melihatku sibuk bermain ponsel tanpa ikut nimbrung dengan mereka. Yah,kacang memang mahal. Setelah mereka selesai berbincang,kami menuju parkiran pendopo. Kami berempat menuju tempat makan lentog tanjung usulan Coco. Sesampainya di sana kami memesan makanan. Fafa yang duduk di sebelahku,terus melihatku dengan tatapan yang berbeda. Aku hanya mengalihkan pandanganku ke ibu penjual lentog. Aku masih sebal dengannya. Kenapa sih pagi-pagi begini mood ku udah berantakan gara-gara dia? Sedangkan dia sepertinya tidak menyadari kalau aku ngambek padanya. Saat pesanan datang pun ,Fafa masih terus menatapku. Aku jadi risih sekarang. Saat aku menoleh ke arahnya,dia berpaling.
“Kamu kenapa sih ngelihatin aku terus?”sambil memandangnya
“Nggak apa apa kok.”dia menjawab tanpa memandangku
Aku menikmati santapanku. Hanya beberapa detik,wajahnya mendekat ke arahku dengan cepat. Nyaris 5cm menempel pipiku. Aku terkejut dan menatapnya dengan kedipan beberapa kali.
“Kalau kamu masih ngambek sama aku,aku bakal suapin kamu”ucap Fafa padaku sambil menawarkan suapan sesendok lentog tanjung. Jantungku berdegup kencang. Aku tau ini jebakan tapi aku hadapi dengan santai.
“Nggak. Aku nggak ngambek kok.” Aku mengalihkan pandanganku. Dia melahap sesendok suapan yang ia tawarkan. Sepertinya dia gagal melakukan trik modus padaku. Aku pun melanjutkan makan. Seusai kami sarapan dan membayar,kami beristirahat sejenak. Riani berencana mengajak Fafa,Coco,dan aku main ke rumah Dhede. Dia ingin membuat kejutan. Pukul sembilan pagi kami menuju rumah Dhede. Sesampainya di rumah Dhede,kami memanggilnya berulang kali. Dhede keluar dari pintu kamar dengan rambut acak-acakan. Aku rasa dia baru bangun tidur. Dia kaget dengan kedatangan kami berempat. Riani bilang pada Dhede bahwa kami hanya ingin main ke rumah Dhede. Namun Dhede malah mengusulkan untuk membuat rencana pesta panggang di rumah Riani. 
Akhir-akhir ini nuansa hari qurban memang masih terasa. Kami akhirnya menyetujui usulan Dhede. Kami membagi tugas. Aku dan Riani berboncengan untuk mengambil daging qurban yang masih tersisa di rumahku dan mencari bahan-bahan dengan menggunakan motor milik Fafa. Dhede dan Fafa mencari arang dan perlengkapan lainnya dengan menggunakan motor milik Dhede. Coco izin pulang ke rumahnya sebentar karena ibunya menelponnya dan meminta untuk mengantarkannya ke pasar sejenak. Kami beranjak dan melakukan tugas kami masing-masing.
                             ***
Sesampainya di rumah Riani,perlengkapan untuk pesta panggang sudah tersedia. Dhede berniat mengajak Titian dan Marjo untuk ikut serta dalam pesta panggang kali ini. Aku dan Fafa sibuk menata dan membawa barang yang akan digunakan untuk pesta panggang. Rupanya pesta panggang kali ini tidak di rumah Riani. Riani mengalihkan untuk berpesta panggang di rumah neneknya yang tak jauh dari rumahnya karena halaman rumahnya yang sempit. Saat kami bersiap untuk membawa barang menuju rumah nenek Riani,Coco datang bersama Titian dan Marjo. Kami bertujuh menuju rumah nenek Riani.
Sesampainya disana,kami menyiapkan alat dan memanggang daging kerbau serta bakso yang ku bawa dari rumah. Fafa,Coco,Dhede,dan Marjo bergantian memanggang. Aku,Titian dan Riani meracik bumbu. Tepat pukul dua belas siang,sate kerbau dan sate bakso matang dengan aroma yang sedap. Kami berebut mengambilnya. Meskipun hati sempat panas,cuaca pun juga ikut panas,tapi suasana kali ini cukup meredakan kegerahan hatiku.
Bercanda,bersuka ria,bersenang-senang bersama mereka berenam membuatku lupa akan kekesalan yang sedari pagi menghancurkan mood ku. Sepertinya aku memiliki keluarga baru sekarang. Semakin akrab saja aku dengan keluarga di (tempat) yang ku singgahi sejenak ini. Semoga ini tak berlangsung sementara. Aku ingin singgah disini seterusnya. Tapi apakah tuan rumahnya mengijinkanku untuk menyinggahi rumahnya? Ku rasa ada harapan untuk tinggal. Bagaimana tidak berharap jika tuan rumah sering memberiku jamuan dan penawaran yang terkesan tak pernah kuduga sebelumnya? 
Seperti yang ku rasakan saat ini. Fafa menawarkanku suapan untukku berupa sepotong bakso yang baru saja matang kepadaku. Dia mengarahkannya ke arah mulutku. Ku lahap suapan yang ia berikan. Saat aku memakannya,dia menginginkan aku untuk membalas suapannya. Sambil menutupi rasa maluku yang sedari tadi terekam oleh teman-teman selain aku dan Fafa,aku menyuapkannya sepotong bakso juga. Dia tersenyum kearahku. Aku pun membalas senyumnya. Dhede dan Riani terus mengompori Fafa agar segera menembakku. Aku hanya terdiam dan tersenyum tipis pada mereka. Bagaimana aku merespon jikalau aku tak tau perasaan Fafa yang sebenarnya padaku? Aku dan Fafa sebenarnya sudah tiga bulan berteman dekat namun kami tak pernah membahas soal hati. Entahlah. Rasanya aku terlalu agresif bila harus menanyakan soal perasaan padanya. Aku hanya menjalankan apa yang harus terjadi. Membiarkannya mengalir apa adanya.
Hingga ketika kami usai berpesta panggang,Fafa terus menggodaku. Dia mengantarkanku pulang lebih awal karena pukul dua siang dia ada kegiatan di sekolahnya. Sesampainya di rumahku,Fafa berpamitan padaku dan menyuruhku untuk belajar karena besok aku ulangan. Ku lihat dia berlalu meninggalkanku. Aku pun meletakkan sepatu dan mengambil wudlu untuk sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur,ku dengar ponselku bergetar. Satu pesan mengejutkan dari Fafa yang membuat jantungku berdegup kencang. Oh Tuhan?Apakah ini mimpi???
                             ***

Sabtu, 22 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Sanjungan dari Tuan Rumah

Di perjalanan pulang aku hampir mengantuk. Aku takut tertidur di atas kendaraan dan terjatuh atau bahkan hingga Fafa tak menyadari kalau aku nyaris jatuh. Ku coba menahan rasa kantuk sembari bernyanyi agak lirih sesuka mood yang ku rasa. Sesekali Fafa melihatku melalui spion seolah-olah ia mengawasiku apakah aku tertidur atau melakukan hal lain seperti bernyanyi dengan lirih. Padahal sudah ku kira-kira volume suaraku agar Fafa tak begitu mendengarnya
“Kamu jangan ngantuk ya?Kita habis ini udah mau sampai. Kamu laper gak?”
“Tau ajah kalau laper. Nyari makan dulu yuk. Mampir kemana gitu?”
“Ayok! Rencana mau makan dimana?”
“Terserah kamu deh. Kamu kan yang biasanya tau rumah makan yang menunya enak.”
Fafa nampaknya sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya dia sedang memikirkan rumah makan yang akan kami tuju. Tak berapa lama ia berpikir,akhirnya dia berbelok ke sebuah rumah makan yang ngakunya belum pernah ia kunjungi. Kami pun memarkir kendaraan,menaruh helm dan memasuki rumah makan. Sampai di dalam,kami memesan menu makanan. Setelah memesan aku merebahkan kedua tanganku di atas meja makan sembari menyandarkan kepalaku diatas tanganku. Hari ini sungguh melelahkan. Ingin sekali ku terlelap sejenak..
“Meiy,aku boleh pinjam hpmu nggak?Aku mau lihat hasil foto-foto tadi”Tanya Fafa
Aku menyerahkan ponselku dan kembali terlelap sejenak. Pesanan sudah datang. Aku langsung seketika membuka mataku dan segera melahap pesananku. Baru 2-3 santapan,tiba-tiba Fafa menghadapkan ponsel ke arahku
“Ayah kamu nelfon nih?gimana?”
Hampir saja aku memuntahkan apa yang ku lahap. Ku ambil ponsel dari tangan Fafa dan ku telan dengan paksa makanan yang ada dalam mulutku. Ku jawab telpon dari ayahku. Dia menanyakan keberadaanku dan dengan siapa aku sekarang. Ku jawab saja aku bersama dengan temanku. Namun sorot mata Fafa sepertinya menyangkal perkataanku tadi. Seusai menanyakan hal itu ayahku berpesan untuk segera pulang karena aku belum menyetrika seragam sekolahku untuk besok pagi. Setelah itu ayah menutup telpon. Aku agak sedikit lega karena ayah tak memarahi aku kali ini. Padahal aku pergi sedari jam enam pagi hingga pukul lima sore tanpa meminta izin ataupun memberitahu orang tua kalau aku pergi. Syukurlah. Ku lanjutkan makanku. Sambil mengunyah makanan,Fafa berbicara…
“Kakkkamu habis ….”
“Kalau makan nggak usah ngobrol. Ntar keselek siapa yang mau nolongin?”
Fafa menelan makanan “Ya kamu lah. Kan cuma kamu yang ada disini.”
“Idiiihhh…….Mana mau aku nolongin kamu?”
“Ya udah kalo nggak mau nolongin nggak aku anterin pulang ah!”
“Yahhhh…..jangan gitu dong Fa?Kamu kan baik,rajin,dan suka menabung  ya….pokoknya baik banget deh. Anterin aku pulang yah?Sampe gang aja nggak apa-apa kok!Yah? Pliiisssss” mohonku pada Fafa
“Nggak ah. Aku nggak mau.”
“Hah?kok kamu nggak mau?”
“Aku maunya nganterin kamu sampe depan rumah.”
“Ya….gimana ya?Aduh!!!jangan deh!mendingan sampe gang aja nggak apa-apa. Aku nggak mau ngrepotin orang lain.”
“Emang kenapa sih?Lagian juga nggak sopan kan kalau aku nganterin kamu cuma sampe gang doang?Ntar tetanggamu ngiranya aku nelantarin anak orang”
“Nggak kok. Dari gang ke rumahku nggak terlalu jauh. Kan ini aku yang minta. Sopir kan harus manut sama penumpangnya. Bener kan?”
“Iya deh iya.”
                       ***
Setelah makanan habisku santap bersamanya,kamipun membayar bill . Kali ini aku yang duluan mengeluarkan uang dari dompetku. Dia sepertinya merasa malu pada mbak-mbak kasir karena mungkin merasa kurang gentle dibayarkan oleh seorang wanita. Setelah ku ambil kembaliannya,tiba-tiba Fafa memasukkan uang ke dalam tasku dan menghindariku seolah uangnya tak ingin ku kembalikan. Aku mengejar langkahnya. Namun aku ragu untuk mengembalikan uangnya bila nanti ia mengancam tak mengantarkanku pulang.
Akhirnya aku naik diboncengan Fafa dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sepanjang jalan aku masih memikirkan bagaimana cara mengembalikan uang milik Fafa. Tak terasa di perjalanan kami akhirnya memasuki gang utama desaku. Banyak gang-gang kecil yang membingungkan kata Fafa. Ku beri dia petunjuk jalan menuju rumahku. Dan akhirnya hampir sampai di dua gang yang sama menuju rumahku. Ku suruh ia untuk berhenti di depan gang yang pertama,akan tetapi dia malah kebablasan mengantarkanku tepat sampai di depan rumahku. Saat aku turun dari boncenganku,ayahku keluar dan mengetahui kalau aku baru saja berboncengan dengan laki-laki yang tak pernah sama sekali datang ke rumahku. Ku beranikan diriku untuk menjabat dan mencium hormat tangan ayahku diikuti dengan Fafa.
“Wah baru aja ayah omongin,ternyata udah di depan rumah!”
“Ehhh…Hehehe…Yah,kenalin. Ini Fafa temenku.”
“Eeee….Selamat sore,Om! Saya Fafa.”
“Hahahah…iya iya. Selamat sore juga. Om ini ayahnya Meiy. Ehhh…makasih ya?udah nganterin anak saya pulang.”
“Ehh…iya Om,sama-sama Om. Kalau gitu,saya langsung pamit dulu ya om. Udah sore Om”
“Oh iya-iya,sekali lagi makasih ya?kapan-kapan main kesini nggak apa-apa. Ya udah hati-hati ya mas!”
“Eh…iya Om. Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam” Fafa berlalu meninggalkan aku dan ayah. Saat aku ingin masuk ke dalam rumah,ayah masih terus melihat Fafa dan berkata…
“Tadi itu temenmu,ndhuk?”panggil ayah padaku
“Iiiyyya yah. Kenapa?”
“Dia itu paskibraka ya?”
“Iiyya yah. Kok ayah tau?”
“Lhah,kamu bukannya dulu di SMP ikut paskib?kok sekarang SMA nggak ikut?Kalau ikut kan kamu dapet jaket kayak yang temenmu pake tadi itu?”
“Kan dia paskib kabupaten yah. Aku kan nggak ikut seleksi dan nggak ikut paskibraka.”
“Oh jadi dia itu paskibraka kabupaten toh?Bagus lah,kamu pinter milih temen yang hebat kayak temenmu itu. Siapa tau kehebatannya nular ke kamu.”
“aamiiin…..”
“Seandainya kamu tau,ndhuk. Ayah dulu kepingin banget anaknya bisa jadi anggota paskibraka. Keinginan ayah waktu itu hampir terwujud waktu kakakmu dinyatakan lolos seleksi paskib. ”
“Lalu…..,kalau ayah mendukung kakak untuk jadi paskibraka kenapa kakak mengundurkan diri?”
“Yah……….karena waktu itu ibumu takut kalau suatu saat dia tak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah hanya karena keseringan latihan. Ibumu takut prestasi kakakmu akan menurun. Orang tua selalu ingin memberikan hal yang terbaik untuk anaknya. Tapi terkadang keinginannya itu tak sejalan dengan apa yang anak inginkan. Ayah cuma berpesan,jadilah anak yang berbakti pada orang tua sekalipun larangannya membuatmu kecewa. ”
“Iya yah. Meiy akan berbakti pada ayah dan ibu kok. Meiy masuk ke dalam dulu ya?”
                       ***
Hari yang cerah untuk jiwa yang bergairah. Hari ini jadwal praktikum biologi di laboratorium. Aku suka sekali mengutak-utik alat-alat di lab dan melakukan percobaan. Itulah mengapa aku bisa masuk di jurusan ipa karena aku tertarik dengan percobaan yang membuatku terkagum-kagum dan terheran-heran karena rasa ingin tahuku. Seperti gelembung yang tiba-tiba muntah dari dalam tabung reaksi. Seperti warna yang merubah zat dari suatu senyawa dalam gelas kimia. Atau bahkan seperti rasa yang merubah segalanya menjadi indah. Entahlah… Akhir-akhir ini mood ku sering sekali berubah-ubah. Terkadang senang terkadang badmood sendiri. Itupun pemicunya tak lain dan tak bukan gara-gara teddy bear kematengan itu. Dia memang menjadi moodbosterku sekarang tapi tak jarang dia juga yang beralih menjadi moodbreakerku. Aku sendiri kadang gemas,kesal,dan sebal padanya. Selagi dia masih ada dalam batas normal sikap seorang paskib sewajarnya aku masih memakluminya. SebenArnya aku tak ingin terlalu jauh sampai menjadikannya moodbosterku. Ingin ku batasi perkenalan ini. Namun semakin hari rasa ini semakin tidak terdefinisikan. Aku takut mengingkari  janji yang telah ku sepakati dengannya. Apakah aku melampaui batas janjiku?Apakah aku telah jatuh cinta dengannya? Lihat saja siapa pemicunya.
Sore ini ada latihan renang. Aku,Aulin,Shasha,Tyas,dan Nida berangkat menuju kolam renang yang lumayan jauh dari sekolah kami. Kami berlima berangkat kesana sekitar pukul 3 sore. Sesampainya di parkiran kolam renang,banyak sekali motor pengunjung memarkirkan kendaraannya. Kelihatannya di dalam sudah banyak pengunjung yang berenang. Biasanya pengunjungnya adalah para siswa dari berbagai sekolah yang aturan pembelajarannya mengharuskan muridnya untuk bisa berenang. Aku jadi minder kalo banyak orang seperti ini. Kami menuju tempat pembayaran karcis. Benar saja,banyak daftar siswa dari sekolah lain yang telah terdata. Rasanya aku enggan dan risih untuk berenang ke dalam kolam renang yang banyak pengunjungnya. Airnya berubah jadi hangat,tempatnya sempit,dan hal lain yang menghambat latihan renangku. Walaupun begitu,aku tak peduli. Aku kesini karena ingin bisa. Aku tak takut mereka meledekku atau melihat gerakanku yang amburadul. Selagi aku masih punya semangat belajar,aku pasti akan berusaha agar aku bisa.
                                       ***
Satu jam terasa begitu cepat berjalan. Kami mengakhiri latihan renang pada sore hari ini dengan melihat pemandangan senja matahari terbenam di sebelah barat. Indah sekali. Senja mengiringi langkahku menuju tempat parkiran. Biasanya kalo aku pulang dari latihan renang,aku pasti akan menghubungi mas Rizal untuk menjemputku. Namun kali ini mas Rizal berhalangan untuk menjemputku. Lalu aku meminta Aulin untuk mengantarkanku pulang. Dia sepertinya keberatan dengan permintaanku karena jika dia mengantarkanku pulang larut sore ibunya pasti akan memarahinya. Aku pun berniat mencari cara agar ada yang bisa menjemputku. Kegelisahanku ini ku curahkan pada Fafa yang sedari tadi berbalas BBM denganku. Aku tak berharap dia akan datang menjemputku. Aku hanya pasrah duduk diboncengan Aulin menuju sekolahan. Sesampainya di sekolahan,aku berniat pulang dengan naik mobil pribadi berwarna hijau agar sampai di gang utama desaku. Agar aku tak kecewa aku akan menunggu angkutan hijau di tepi sekolah. Sesampainya di sekolahan,ku sampaikan rasa terima kasihku pada Aulin. Dia berpamitan padaku. Sebelum dia pergi,dia memandang ke arah barat dan berkata…
“Meiy!itu siapa yang pake helm abu-abu,motor putih,dan berjaket….kayak punya Raka?”
“Hah?Mana?”
“Itu yang berhenti di bawah pohon….”
“Ya Ampun,Lin! Itu Fafa!”
“Fafa?Yang paskib itu?”
“Iyaaaa….dia ngapain disitu?kamu tunggu disini sebentar ya?”
Ku hampiri dia yang berhenti di tepi sana dengan langkah cepat. Ku perhatikan perawakannya. Aku yakin itu adalah Fafa. Ketika sudah dekat,dia melihatku dan berkata…
“Kamu udah pulang dari latihan renang kan?”
“Iiiyya,kamu kenapa bisa ada disini?”Dia menggaet tasku
“Aku mau nganterin kamu pulang. Kamu nggak ada yang nganterin pulang kan?”
“Emang nggak ada sih,tapi….bukannya kamu ada rapat OSIS?”
“Itu urusanku. Yok,cepat naik”
Dengan mimik wajah kebingungan,aku naik diboncengan Fafa. Dari kejauhan aku berpamitan pada Aulin. Dia sepertinya kebingungan juga dengan kejadian ini. Mengapa Fafa menjemputku padahal aku tak menyuruhnya untuk menjemputku?Mengapa Fafa datang dengan tiba-tiba tanpa mengabariku? Apa dia punya radar yang mengetahui segala aktivitasku?Apa dia punya mata-mata untuk mengikuti? Sepanjang perjalanan menuju rumahku,aku terdiam dan memikirkan apa yang Fafa lakukan padaku. Sesampainya di depan gang rumahku,dia berpamitan. Dia tak sempat bicara banyak padaku. Lalu dia pergi meninggalkanku di depan gang kecil dekat rumahku. Saat aku melangkah menuju rumahku,ku lihat ayah sedang mengeluarkan motor dari garasi. Aku berlari dan menghampirinya….
“Lho! Padahal mau ayah jemput. Kok udah sampe rumah duluan?”kata ayah
“Iya yah. Tadi temenku yang nganterin pulang”
“Siapa?kok gak mampir dulu?”
“Fafa yah,dia buru-buru karena ada rapat OSIS.”
“Oh gitu?Duh…..!baiknya itu anak. Sampaikan salam dan makasih ayah buat dia ya yang udah nganterin pulang kamu. Besok kamu masih ketemu dia kan?”
Aku hanya memandang ayah dan tak menjawab apapun. Aku masih bingung dengan kejadian tadi. Aku masuk ke dalam rumah mengikuti langkah ayahku.

                             ***

Selasa, 18 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Memori di Penjuru Kota Atlas

Menunggu itu memang membosankan. Tapi entah mengapa aku selalu mau sabar menunggu meski membosankan. Aku berpikir bahwa ketika kita sabar menunggu  sesuatu saat kita akan mendapatkan hasil apa yang telah kita tunggu dengan sabar. Dan hasilnya pasti memuaskan. Namun menunggu kali ini memang paling membosankan. Sudah satu jam Riani,Coco,Fafa dan aku menunggu. Menunggu Marjo,Titian,dan Dhede di pinggir jalan sembari ditemani Fafa yang sedari tadi memperhatikanku. Ku lihat banyak motor dan mobil berlalu lalang di jalan raya. Ditambah lagi mentari bersinar sepinggal naik. Karena kebosananku ini,aku berniat mengajaknya bicara.
“Kamu bosen nggak sih nunggu disini? Mereka kapan balik lagi kesini?”
“Yahhh…. Sabar dong! Mereka paling juga lagi perjalanan kok. Bentar lagi juga sampe.”
“Kelamaan tau,udah panas kaya gini lagi”
“Kaya gini panas?Kamu seharusnya bersyukur nggak kepanggang selama 1 bulan”
“Hahaha…..siapa suruh jadi paskib?Eh iya,kamu gimana ceritanya bisa jadi anggota paskib?”
“Jadi gini,jadi anggota paskib itu dulu yang nugasin dari sekolah buat perwakilan ke kabupaten. Tiap sekolah di seluruh penjuru kota diharuskan mewakili beberapa muridnya untuk menjadi anggota paskibraka. Dan dari berbagai macam seleksi yang ketat,Alhamdulillah aku terpilih dan jadi purna paskibraka sekarang. Jadi paskib itu enak lho. Dapet seragam gratis,makan gratis,pengalaman gratis,piagam gratis,dan mendadak hits secara gratis juga.”
“Tapi kan perjuangannya berat banget. Cuma beberapa orang kan yang bisa lolos masuk seleksi? Udah gitu seleksinya harus lari lah,push up lah,panas-panasan terus,baris berbaris terus apa iya nggak capek tuh kaki sama tangan?”
“Ya…semua kelelahan dan kecapekan itu akan terbayar ketika hari H pengibaran bendera. Kamu pasti bakal ngerasain gimana jadi seorang yang bener-bener kaya pahlawan gitu. Merjuangin segala kegiatan dan aktivitas sekolah demi terlaksananya upacara HUT RI dan berkibarnya Sang Saka Merah Putih. Pengalaman paling berkesan deh pokoknya. Makanya kamu jadi cewek jangan pendek-pendek biar bisa jadi paskib kaya aku”
“Gak ah. Aku gak mau item kaya kamu!”
“Eh!jangan salah lho! Justru orang yang item itu banyak yang naksir. Wkwkwk”
“Gak usah kePDan kamu. Emang bener ya?anak paskib itu nggak jauh dari sok keren,sok hits dan juga sok arogan gini”
“Hanya orang-orang yang belum pernah jadi paskib yang bicara seperti itu. Anak paskib ramah-ramah kok. Selain ramah dia juga setia. Dan hanya orang-orang yang merugi yang nyia-nyiain anak paskib”
Aku merasa tersindir olehnya. Kenapa setiap kata-kata yang ia lontarkan selalu membuatku kesal akhir-akhir ini?Apakah dia sedang menggodaku?Ku alihkan pandanganku menuju ke barat. Terlihat Marjo berboncengan dengan Dhede dan Titian berboncengan dengan perempuan yang tak aku kenali. Sepertinya dia temennya Dhede atau bahkan pacarnya?
“Eeeee ciyeeeee…..Dhede ngajakin Momon touring….!!!” Teriak Coco
“Lho,Dhed?Mau saingan ini ceritanya?”Tambah Fafa
“Hahhah….udahlah. Kalian diem aja. Yuk cap cus!!!”ajak Dhede
“Kita mau kemana?”tanyaku pada Fafa
“Ngikutin alurnya aja. Udah siap?”
Aku naik diboncengan Fafa. Kami berdelapan mulai berangkat menuju perjalanan panjang yang sangat terik dan penuh dengan kemacetan. Jujur,baru kali ini aku berpergian dengan seorang pria yang baru dua minggu akrab dengannya. Aku mulai agak terbiasa dengannya. Sudah tak ada rasa canggung lagi dengannya. Sembari menikmati perjalanan…..
“Kamu udah berapa kali boncengin cewek?”tanyaku pada Fafa
“Aku belum pernah sama sekali boncengin cewek selain ibuku,adikku,dan kamu.”
“Berarti kamu belum pernah jalan sama cewek atau punya pacar gitu sampe sekarang?”
“Aku udah punya satu mantan pacar. Dan itu pun dulu kalo pergi-pergi gak pernah satu kendaraan atau berboncengan. Dulu pakai motor sendiri-sendiri. Dulu juga jarang banget ketemu.”
“Oooohhh…..gitu? Teruss….kenapa dulu bisa putus?”
“Yah…..dulu aku sering banget ngikutin kegiatan. Sibuk ngurus ini itu dan karena sibuknya aku,aku jadi jarang ngehubungin dia. Aku pikir dia bakal nunggu aku selesai kegiatan atau perhatian sama aku disaat aku lagi kecapekan atau selesai kegiatan ngehubungin aku gitu. Eh ternyata diem-diem dia selingkuh dari aku. Ya udah karena ketahuan selingkuh,aku putusin deh. Aku paling gak suka sama orang yang nyia-nyiain kesetiaan dan kepercayaan sama orang lain.”
“Jadi dulu kamu korban selingkuhan? dulu bertahan sampe berapa bulan? Kok kamu mau sih diduain?”
“Ya nggak elah. Mana ada sih manusia yang mau diduain? Karena udah 4 bulan itu dia udah ketahuan tiga kali selingkuh diem-diem disaat aku lagi sibuk kegiatan ya udah aku putusin“
“Kamu nyesel gak sih ninggalin dia?”
“Ngapain juga nyesel ninggalin pengkhianat kaya dia? Biarkan perusak bersama dengan perusak. Tapi walau begitu aku masih menganggapnya teman kok. Aku gak suka balas dendam.”
“Dih………!Udah nggak usah kesel gitu. Lagian juga itu udah berlalu kok. Yang dulu biarlah berlalu.”
“Kalo kamu sendiri gimana?Belum pernah pacaran?”
“Aku udah punya alumni hati sih. Aku sama mantanku putus udah lama sih tapi sekarang masih akrab kok. Aku sama dia bahkan masih saling sapa satu sama lain. Soalnya dulu kita sepakat untuk tetap bersahabat meskipun udah putus”
“Dulu kamu kenapa bisa putus sama dia?”
“Aku lupa alasan pastinya. Intinya dia over protektif dan terlalu posesif sama aku. Aku dikira selingkuh sama dia. Padahal aku nggak selingkuh sama sekali. Cuma gara-gara temenku dan aku dulu ngobrol lama di parkiran sekolah cuma bahas tugas kelompok. Saking asyiknya ngobrol bahas tugas eh dikira selingkuh. Padahal bahas tugas doang. Dan dengan alasan itu dia mutusin aku.”
“Intinya kamu sama dia putus gara-gara salah paham kan?Kenapa nggak kamu jelasin aja apa yang sebenernya terjadi?”
“Aku udah jelasin ke dia tapi dia nggak percaya sama aku. Karena dia ngelihat dengan mata kepalanya sendiri. Tapi seminggu kemudian dia ngajak balikan sama aku. Aku nolak. Karena aku punya prinsip. Gak bakal mau balikan sama mantan. Kamu tahu kan rasanya punya gelas yang dipecahin terus abis itu disatuin lagi? Rasanya nggak akan utuh dan rapi lagi kaya sebelum dipecahin. Terus juga balikan sama mantan kaya baca buku dua kali. Pasti endingnya sama”
“Iya juga ya?Wah! dia kayaknya rugi deh udah ninggalin kamu gitu aja. Enak ya dia nggak diselingkuhin secara fakta sedangkan aku dengan fakta. Itu lebih nyakitin tau gak,Meiy. Dan karena itu pula aku ingin mencari incaran. Aku nggak ingin trauma gara-gara dikhianatin.”
“mmm….bagus deh kalo gitu.”
                        ***
Ku lihat sekelilingku. Jalan nampak sepi namun debu-debu berterbangan. Keringnya tenggorokan mulai terasa. Saat sampai di suatu lampu traffic light,ku minum air putih yang ku beli tadi waktu kuliah pagi. Dahaga sedikit terobati. Namun perjalanan masih tetap dilalui. Ku dengar lagu yang mengalun lumayan keras di seberang jalan. Aku mengenali lirik lagu itu. Itu adalah lantunan nasyid yang sering dilantunkan saat latihan rebana. Fafa menoleh ke kiri dan mengajakku bernyanyi apa yang baru saja dia dengar. Ternyata tak hanya diriku yang tau akan nasyid itu. Kami berdua pun bernyanyi bersama di sepanjang perjalanan. Indah terasa perjalanan ini ku nikmati hingga rasa bosan dan kepanasan mulai terlupakan.
Tepat pukul dua belas siang,kami akhirnya sampai di suatu Masjid pusat kota Semarang. Kami beristirahat sejenak dan melaksanakan sholat. Perjalanan dari parkiran menuju masjid amat sangat panas. Karena pelataran masjid harus suci,alas kaki setiap pengunjung yang ingin ke masjid harus dilepas. Aku melepas sandalku sembari mencari tempat teduh. Rasanya seperti berjalan di area kawah gunung berapi. Sampai-sampai Dhede berlari terbirit-birit menuju tempat teduh. Dhede memang paling sering bertingkah konyol diantara kami berdelapan.
Sesampainya kami di teras masjid, laki-laki dan perempuan terpisah. Aku,Titian,dan Momon mengikuti Riani mencari jalan untuk sampai ke tempat wudlu. Kami berwudlu secara bergantian dan dari tempat wudlu itulah aku dan Momon mulai berkenalan. Dia bahkan mengingatkanku untuk tak perlu canggung dengan mereka,karena diantara kami berdelapan hanya aku yang bukan tergolong anak pramuka dan anak kegiatan. Yah meskipun begitu aku tetap senang disambut akrab dengan mereka. Mereka seperti sudah menganggapku sebagai keluarga mereka. Seusai sholat bersama para lelaki itu,kami melanjutkan perjalanan menuju area pelataran masjid. Di sepanjang langkah menuju pelataran,Fafa terus menjadi paparazzi. Dia sering memotretku diam-diam. Karena kesal,aku tak mengajaknya bicara kali ini. Kami pun berfoto ria,bersama,membuat cerita,berbagi canda tawa,hingga lelah tak terasa.
                       ***
Sesampainya di pelataran masjid,kami berfoto selfie bersama pasangan masing-masing pembonceng. Riani dan Coco. Marjo dan Titian. Dhede dan Momon. Aku dan Fafa. Aku semula menolak untuk berfoto dengannya,namun dia mengancam tak kan memboncengkanku ketika pulang nanti. Karena matahari sudah semakin terik,kami pun mulai melanjutkan perjalanan menuju ke tempat wisata selanjutnya. Kurang lebih tiga puluh menit kami lalui perjalanan menuju ke obyek wisata Lawang Sewu. Rasanya aku tak asing dengan tempat ini. Aku sering mendengarnya namun tak pernah sama sekali aku mengunjunginya. Kami masuk melalui pintu utama. Sebelum menjelajah ke dalam,kami berfoto di latar halaman Lawang Sewu. Kami berdampingan bersama pasangan masing-masing. Meski tak ada ikatan apa-apa antara aku dan Fafa,namun mereka berenam sering menganggap kami adalah sepasang kekasih baru. Aku hanya tersenyum mendengar anggapan seperti itu. Pasalnya harapku padanya telah pupus kemarin. Tapi apakah Fafa memberi anggapan yang berbeda tentang itu?Aku tak tau pasti. Yang kutahu dia hanya khawatir soal kepulanganku nanti. Dia terus mempertanyakannya seusai kami mengelilingi Lawang Sewu.
“Mbu,nanti kamu pulang jam berapa?”panggilnya padaku
“Bisa nggak sih nggak usah panggil aku ‘mbu’?kamu pikir aku lembu apa?”
“hehe…jangan ngambek dong mbu eh Meiy cuma keingetan ‘pipi jambu’ aja. Aku nganterin kamu pulang jam berapa nanti?”
“Aku nggak boleh pulang larut sore. Kira-kira jam lima harus udah sampai di rumah.”
“Oh…. Ya udah. Habis ini kita pulang kan,Dhed?”Tanya Fafa pada Dhede
“Iya habis ini kita pulang. Gaes,yuk kita gasss!!!”Teriak Dhede sambil mengajak kami untuk pulang.
Kami memulai perjalanan pulang sekitar pukul dua siang. Sepanjang perjalanan,Marjo sebagai penunjuk jalan kebingungan mencari jalan pintas untuk menembus ke perbatasan kota. Hingga kami memutar balik kendaraan sebanyak lima kali. Aku menjadi pusing dan ngantuk dibuatnya. Sesampainya di daerah Sayung,kami berpencar karena banyak kendaraan yang melintasi daerah itu. Kurang lebih perjalanan lima belas kilometer seusai kami berpencar,kami dipertemukan disaat ada operasi penjaringan dari polisi daerah tersebut. Dhede dan Momon yang berada di jalur paling kiri terpaksa terjaring dan dihentikan oleh polisi. Sedangkan Fafa tiba-tiba tancap gas dengan sangat cepat dan menyalip kendaraan di depannya dengan cekatan.
Rupanya aku dan Fafa terlalu jauh untuk kabur dari operasi polisi. Sepertinya Dhede dan Momon berhasil ditilang oleh polisi. Lalu,bagaimana dengan Coco,Riani,Marjo dan Titian? Apakah mereka selamat dari operasi polisi ataukah mereka telah sampai dulu mendahului aku dan Fafa?Aku dan Fafa berhenti di tepi jalan sembari kebingungan apa yang harus kami lakukan. Ingin kembali namun Fafa takut terjaring operasi bukan karena tak memiliki surat kelengkapan berkendara melainkan karena dia membawa seseorang yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengantarkannya pulang. Ingin melanjutkan perjalanan namun hati rasanya tak tega untuk meninggalkan mereka berenam terjaring operasi. Bagaimana mereka nantinya?
Pikiranku semakin kacau ketika Riani tak mengangkat telfonku dan tak membalas pesanku. Ditambah lagi disana jaringan sinyal sulit sekali ditemukan. Akhirnya Fafa mengajakku untuk melanjutkan perjalanan meski hati sepertinya tak ingin meninggalkan mereka. Dia lebih memilih menyelamatkan diri dari jaring daripada harus melibatkanku dengan kejadian seperti itu. Aku jadi merasa bersalah dengan mereka berenam. Andai saja waktu dapat ku putar,aku lebih baik kembali ke sekolah dan tak menanggapi isyaratnya daripada harus merasa bersalah lagi seperti ini. Aku dan Fafa melanjutkan perjalanan pulang sendirian menuju kota tercinta.

                       ***

Minggu, 16 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Kesepakatan Diantara Kita

“Bisa nggak sih kamu nggak usah natap mataku kaya gini?Aku tuh nggak biasa ditatap mata sama cewek”
Aku pun menunduk dan berusaha mengalihkan pandanganku ke arah sekelilingku. Aku merasa serba salah. Lalu Fafa melanjutkan perkataannya.….
“Gak usah GR kamu. Nama Mei kan ada banyak. Meisya,Mellinda,Meme Comic Indonesia. Nggak cuma kamu doang”celotehnya yang membuat diriku menjadi salah tingkah.
“Yeeeee……….. nama ku kan juga Meiy. Kirain aku. Hehehe….Eh? eee… Tapi kamu kenapa bisa tau kalo incaranmu itu nggak ngincar kamu balik?”
“Ya…..taulah dia sempet dideketin juga sama temen seperjuanganku paskib tapi entah kenapa dia nggak cuma deket sama temenku itu,dia juga deket sama aku. Ya meragukan gitu deh. Makanya sampe sekarang aku belum yakin sama dia.”
“Oh jadi gitu,ya kamu kode gitu ke dia biar dia peka. Cewek mah biasanya gitu,minta dikode tapi kadang kalo dikodein gak peka juga.”
“Hahahha…..kamu bisa aja. Oh iya kalo kamu sendiri gimana? Apa udah ada incaran?”
“Mmmm…..aku nggak ada incaran sih. Aku lagi perjalanan pindah ke hati orang lain. Tapi nggak tau mau pindah ke siapa.”
“Kamu mau nggak kalo kita sepakat?”
“Sepakat untuk apa?”
“Aku nemenin kamu buat pindah dan kamu nemenin aku buat deketin incaranku. Jadi kan kita enak kalo sharing soal tambatan hati kita. Ya semacam teman curhatku lah”
Rasanya harapanku untuk pindah ke hati Fafa seakan pupus di tengah jalan. Rupanya dia hanya tempat singgah sementara. Ibaratnya seperti tuan rumah yang sudah memiliki teman untuk tinggal di dalamnya dan aku hanya seorang tamu yang tak tau kemana aku akan pergi singgah setelah ini.
“hemmmm….. boleh-boleh aja sih. Tapi kamu juga harus janji sama aku. Suatu saat ketika kamu udah yakin dan nggak ragu sama incaranmu,kamu harus ngasih tau ke aku incaranmu itu siapa. Gimana?”
“Okeee…. Aku akan ngasih tau. Tanda sepakat?”Fafa menunjukkan jari kelingkingnya agar aku menyepakati kesepakatan ini. Meskipun harapku baru saja dia patahkan,namun aku tetap berpikir positif kalo dia hanya ingin menyediakan tempat singgah sementara untukku.
Sore itu kami kembali dengan perasaan agak was-was. Karena salah satu dari anggota bantara pramuka sekolahku mengetahui kalo Riani bertemu dengan pacarnya yang almamaternya berbeda dengan kami. Jelas ini merupakan suatu pelanggaran karena menurut kesepakatan yang ada “Sesama anggota bantara tidak boleh ada yang berikatan(berpacaran)”. Cukup sulit Riani memperjuangkan cintanya pada Coco. Makanya mereka selalu tak pernah absen untuk tetap berkomunikasi setiap saat. Akhirnya kami sampai di sekolah bersamaan. Aku senang melihat Fafa mulai terbuka kepadaku dengan menganggapku sebagai tangan kanannya. Yah,walau agak sedikit terkejut tadi tetapi aku akan terus mengingat kesepakatan yang aku setujui. Aku tidak akan mengingkarinya selagi aku dapat melupakan harapku yang telah pupus padanya.
                             ***
Hari Ahad adalah jadwal kuliah pagi yang harus aku ikuti. Jadwal kuliah pagi hari ini adalah jadwal kelasku. Aku datang lebih awal dan menunggu kedatangan teman-temanku. Setelah beberapa menit menunggu,kuliah pagi dimulai. Banyak teman-temanku yang berangkat kesiangan kali ini. Namun tak kulihat tanda keberadaan Riani. Tiba-tiba ponselku bergetar
“Meiy! Tunggu aku di luar. Aku nggak ikut kuliah pagi. Aku udah terlanjur telat setengah jam”
Riani memang agak bandel soal urusan yang seperti ini. Kalo soal ketemuan dengan pacar dia pasti akan berangkat lebih awal. Kalo soal kuliah pagi seperti ini,boro-boro banget berangkat awal. Bisa-bisa kuliah pagi udah selesai,dia baru berangkat. Seperti sekarang ini. Aku pun bergegas menghampirinya seusai kuliah pagi. Dia menungguku di pos satpam sekolah. Sesampainya di pos satpam,aku terkejut melihat dia memakai pakaian yang tak biasa.
“Kamu mau kemana,Rin?Tumben pagi-pagi udah dandan rapi gini?”
“Lho kamu gak tau?Fafa nggak ngabarin kamu semalem?”
“Emang ngabarin apa?Dia nggak bilang apa-apa ke aku?”
“Kan kita mau jalan-jalan hari ini?Gimana sih?Jadi kamu emang bener-bener nggak tau kalo kita pergi hari ini?”
“Hah?mau pergi kemana?Aku belum pake baju yang…….”
“Ah udah deh,Udah cantik gini juga. Entar kira-kira jam setengah delapan Fafa sama Coco udah otw kesini. Jadi kamu siap-siap aja.”
“Kita mau pergi kemana?berempat doang?”
“Iya urusan tempatnya nanti deh gampang yang penting kita siap-siap aja. Buruan gih ambil helm kamu. Kita nunggu di luar gerbang sekolah aja biar nggak ada yang tau.”
“Tapi……”
“Udahhh…..ayok buruan….”
Aku tak mengerti kenapa semuanya mendadak seperti ini. Semalam Fafa tak memberitahuku bahwa hari ini kita akan pergi jalan-jalan. Apakah ini surprise yang sengaja Fafa buat untukku?Apakah Fafa ingin menculikku?Apakah aku akan bersenang-senang hari ini bersamanya? Khayalku terlalu berlebihan kali ini. Ku turuti keinginan Riani dan kami menunggu di pinggir jalan dekat sekolah layaknya orang yang sedang menunggu jemputan. Tiga puluh menit kemudian,Fafa datang. Dia datang memakai jaket almamater paskibnya. Aku dan Riani menghampirinya
“Kamu kok nggak bilang ke aku sih kalo kita mau pergi?”tanyaku pada Fafa
“Lho,yang ngajakin kan nggak aku. Ini sebenernya adalah hukuman. Karena semalem aku kalah taruhan sama Riani.”
“Ini kenapa jadi gini sih?Aku nggak ngerti deh,terus kalau kamu kalah kenapa?ngajak pergi gak ngasih tau. Kalau tau kan aku bisa siap-siap”tanyaku pada Fafa lagi
“Rin,kok Coco belum dateng sih?”Dia mencoba mengalihkan pembicaraanku. Dia hanya merespon pertanyaanku dengan senyuman. Aku semakin kesal dengannya.
“Tau deh Fa. Dari tadi gak dibales. Mungkin dia lagi mandi kali.”jawab Riani
“Kamu dengerin aku ngomong nggak sih?”bentakku pada Fafa
Dia mengabaikanku dan sibuk membuka ponselnya. Sebenarnya dia itu kenapa sih. Aku pun berniat kembali ke sekolah
“Eh…eh… mau kemana kamu,Meiy???”Tanya Riani
“Ya mau ke sekolah lah,ngapain aku kesini kalo pada akhirnya aku dicuekin?”
“Eh….jangan ngambek gitu dong?Kamu gimana sih Fa?kamu nga…..”
Aku pun berlari menuju gerbang sekolah. Aku kesal sekali dengannya. Begitu mudahnya dia mengabaikanku tadi. Sesampainya di pos satpam,bunyi klakson terdengar dari luar sekolah. Coco,Riani dan Fafa memberiku isyarat untuk menghampiri mereka. Aku pun kembali ke luar gerbang sekolah dengan langkah ngotot.
“Kamu kenapa balik ke sekolah lagi?Kamu yakin nggak mau ikut? Yuk buruan naik”Kata Fafa yang seakan menghapus rasa kesalku padanya. Aku pun duduk di belakangnya. Kami berempat berangkat menuju rumah Titian. Rupanya mereka tak hanya mengajakku pergi namun mereka juga mengajak beberapa teman mereka. Titian,Marjo dan juga Dhede. Aku semula tak mengenali mereka. Namun akhirnya Fafa yang mengenalkanku pada mereka saat berhenti di dekat jembatan perbatasan kota.
“Wah……..Fafa udah mulai berani nih ngajak ceweknya jeng-jeng” celoteh Marjo pada Fafa
“Oooohhh…jadi ini yang namanya ‘Meiy’ itu? Fafa andik juga ya soal nyari gebetan gini?”impas Dhede
“Apaan sih kalian? Oohh iya ,Meiy ini kenalin. Yang ini namanya Dhede. Yang itu namanya Marjo. Dan yang bonceng Marjo namanya Titian.”
“Oh…..eeehhh….haiii…. salam kenal semuanya”
“Eh! Bentar –bentar. Kalo kalian pada ada boncengannya,Aku masa iya harus sendirian gini? Kalian tega ya sama aku” ujar Dhede agak kecewa karena dari kami yang ada disana hanya dia yang berkendara sendiri.
“Gini deh. Kalian berempat tunggu disini sebentar. Aku sama Titian nganterin Dhede buat nyari boncengan. Gimana?”usul Marjo. Dia meminta Fafa,Coco,Riani dan aku untuk menunggunya kembali sembari dia mengantarkan Dhede mencari boncengan. Mereka bertiga tancap gas dan berlalu meninggalkan kami berempat.

                                 ***