Dari
segala penjuru
Kami datang ‘tuk bersatu
Sama-sama merasakan
Suka duka di paskibraka
Owaiyeiyeiye Owaiyoiyoiyo Owaiye Owaiyo2x
Selamat tinggallah kasihku
Aku pergi tak ‘kan lama
Hanya satu bulan saja
‘Tuk berlatih di paskibraka…..
Owaiyeiyeiye Owaiyoiyoiyo Owaiye Owaiyo2x
Kami datang ‘tuk bersatu
Sama-sama merasakan
Suka duka di paskibraka
Owaiyeiyeiye Owaiyoiyoiyo Owaiye Owaiyo2x
Selamat tinggallah kasihku
Aku pergi tak ‘kan lama
Hanya satu bulan saja
‘Tuk berlatih di paskibraka…..
Owaiyeiyeiye Owaiyoiyoiyo Owaiye Owaiyo2x
Voicenote
yang ku dengar semalam membawaku menuju mimpi yang indah. Suara dari seorang pria
yang kemarin sempat mengantarkanku pulang kini begitu terngiang-ngiang di
kepalaku. Aku tidur nyenyak sekali semalam. Hingga terbangun keesokannya,aku
ingin kembali tidur lagi. Aku belum sepenuhnya ingin bangun. Ku paksa untuk
membuka mataku dan ku lihat reminder yang sedari jam empat pagi sudah berdering
namun ku abaikan. Terlihat ‘Car Free Day With Fafa,Riani,Coco’. Aku hampir lupa
untuk bangun pagi. Bergegas ku bangun dari lelapnya tidurku dan bersegera untuk
mandi dan sholat shubuh. Dinginnya air shower membuat pori –pori tubuhku
terlihat melebar. Seusai mandi ku ganti pakaian dan ku tunaikan sholat shubuh.
Setelah itu ku buka ponsel dan ku kirim pesan
singkat untuk Fafa. Semalam ia berjanji akan menjemputku pagi ini bersama Coco
dan Riani. Aku menyuruhnya untuk menjemputku di depan gang rumahku. 3 pesan telah
terkirim. Biasanya satu menit sudah ku terima balasan darinya. Namun kali ini
tidak. Ah mungkin ia baru bersiap-siap. Selain ku kirim pesan untuk Fafa,aku
juga mengirim pesan pada Riani. Ku terima pesan balasan darinya bahwa Coco
sudah sampai di rumahnya. Ku pinta mereka untuk menungguku dan Fafa di rumah
Riani. Ku pakai sepatu sambil terus mengirim pesan untuk Fafa. Fafa tak kunjung
membalas pesanku. Ku tunggu kehadirannya di teras rumah. Ku lihat gang rumahku
masih nampak sepi. Sambil menunggu balasan,ku lakukan peregangan otot di halaman
rumahku. Lima belas menit berlalu. Terdengar klakson berbunyi di ujung gang
rumahku. Terlihat Coco dan Riani memberiku isyarat untuk menghampiri mereka. Ku
berlari menuju mereka.
“Kalian
ngapain ke rumahku?Bukannya aku nyuruh kalian buat nunggu aku sama Fafa di
rumahnya Riani?”
“Ah!Kamu
ditungguin juga nggak dateng-dateng. Mana si Fafa?”Tanya Riani
“Aku
juga nggak tau. Dia dari tadi aku SMS nggak dibales nih. Jangan-jangan dia
bangun kesiangan lagi?”
“Kenapa
nggak kamu ingetin sih,Meiy? Kalau pagi ini kita CFD minimal kamu ngabarin dia gitu
malemnya biar besok dia bangun pagi.”
“Tumben
tuh anak kesiangan?Biasanya paling pagi dia kalo soal bangun gini. Dari tadi juga
BBMku nggak dibales sama dia”tambah Coco
“Aku
juga bingung nih! Padahal dia sendiri lho semalem yang bilang kalo dia bakal
bangun pagi tapi ya kenapa paginya jadi seperti ini aku juga nggak tau”
“Coba
deh kamu telpon?”saran Riani
Ku
coba menelpon Fafa. Tidak ada jawaban darinya. Pukul enam pagi terlintas di jam
tanganku,namun dia tak kunjung mengangkat telponku. Ku ulangi hingga tiga kali dan
yang ketiga saluran telpon telah tersambung. Tak sampai lima detik dia
mematikan telponku. Aku jadi semakin kesal. Tak lama kemudian pesan singkat ku
terima.
‘Iya
mbu. Bentar,aku OTW’
“Nih
udah dibales dia. Dia katanya mau OTW.”
“Alahhh
OTW dari Hongkong? Ini sih udah fix bangun kesiangan dia. Harus nunggu berapa
lama lagi sih?Tuh anak ya emang dari dulu ngeselin!”cela Coco
“Haduh!gimana
nih?mana ada CFD setengah tujuh pagi?yang ada kita kepanasan tau. Gimana kalo
aku sama Coco duluan ke alun-alun entar kamu nyusul sama Fafa?aku tunggu di
parkiran deket pendopo kabupaten yah?Oke?”
“Eeh
eh eh jangan gitu dong!plis temenin aku nunggu disini dong. Kalian tega ya mau
ninggalin aku disini sendirian?Tungguin dong plissss…”
“Mau
nunggu berapa jam lagi sih Meiy???Yang ada keringatku udah kering gara-gara
nunggu Fafa”
“Sebentar
lagi dia juga sampe kok. Percaya deh sama aku“
Detik
demi detik terus berjalan. Namun Fafa tak kunjung datang. Aku semakin cemas
menunggu kedatangannya. Apakah dia memang sedang dalam perjalanan?Atau dia
memang sengaja membatalkan CFD kali ini tanpa memberitahu kami?Atau mungkin apa
terjadi sesuatu dengannya di jalan?Fikiranku jadi kemana-mana. Setengah jam
kemudian,dari ufuk barat terlihat pengendara sepeda motor dan motornya sedang
menuju ke arah kami dengan cepat. Fafa datang. Ku pasang mimik wajah acuh
padanya. Aku sungguh kesal dengannya.
“Wwooooyyyy!!!Kemana
aja lo???”Teriak Coco sambil memukul helm Fafa
“Hai
guys!!!hweheheh….eh….sorry ya agak telat. Baru bangun soalnya. Semalem aku
lihat pengajian sampe jam 2 malem jadi yaa…..gini deh!hehehhe…”
“Gak
usah minta maaf sama gue lo. Noh minta maaf sama jambumu. Hampir aja dia busuk
gara-gara nungguin kamu. Kamu sadar gak sih ini jam berapa???”bentak Riani
“Yeee….ya
maap deh. Kan nggak ada manusia yang sempurna. Manusia pasti pernah khilaf
kan?”
“Khilap
sih khilap tapi juga nggak kebangetan kayak gini kali. Dah yok berangkat.
Sayang,kita tinggalin aja mereka!”sahut Coco
“eh
jangan gitu dong!tungguin gih.”ujar Fafa
Coco
memutar balik motor dan meninggalkan aku dan Fafa. Perlahan Fafa menuju ke
arahku. Ku palingkan wajahku dan ku silangkan kedua tanganku seolah-olah marah
padanya. Ya,aku memang marah padanya tetapi aku berusaha memendamnya.
“Mbuuuu….maafin
aku yah?Aku bangun kesiangan jadi ya baru daten….”
“Muter
balik sana!”bentakku
“Hah?muter
balik?kamu nyuruh aku pulang?kita nggak jad…”
“Maksud
aku,kamu muter balik biar aku boncengnya gampang. Kita mau CFD kesana
kan?gimana sih?”
“eh
iya iya”
***
Dengan
gelagapan dia memutar balikkan motor yang ia kendarai. Kami berempat mulai
menuju alun-alun pukul setengah tujuh pagi. Selama perjalanan,Fafa terus melihatku
dengan jeda. Dia sepertinya sungkan untuk mengajakku bicara karena mimik
wajahku yang seakan membuatnya takut. Sesampainya di parkiran pendopo,kami
bergegas menuju alun-alun untuk jogging. Aku berusaha menghindar dari Fafa yang
berusaha berjalan beriringan denganku. Ku percepat langkahku namun Fafa
mengejar dan menepuk pundakku.
“Mbu!”
“Apa?”
“Maafin
aku. Dengerin penjelasan aku dulu”
“Udah
ku maafin”
“Kalau
udah dimaafin kenapa masih cemberut?”
“Aku
lagi badmood”
“Ya
maafin aku kalo caraku minta maaf buat kamu badmood aku nggak sengaj..”
“Rin,tunggu
aku.”ku kejar Riani dan mengalihkan pembicaraanku pada Fafa. Aku benar-benar
sebal padanya. Kekesalanku semakin menjadi-jadi tatkala Riani memberitahuku
bahwa di sudut alun-alun terlihat seorang gadis berambut panjang dan memakai training
pendek sedang melihat Fafa dan seolah memanggil Fafa.
“Meiy!Lihat
deh! Itu kayaknya mantannya Fafa bukan sih?”
“Hah?yang
mana?”
“Itu
yang duduk sambil ngelihatin dan manggil Fafa”
“Hah?masa
sih?aku nggak percaya”
“Ya….emang
dia itu mantannya. Aku jadi risih deh sama cewek itu. Udah jadi mantan juga
masih belagu. Sok-sokan manggil-manggil Fafa lah. Tapi tenang Meiy. Kamu nggak
usah minder deket sama Fafa. Aku yakin,kamu jauh lebih mending ketimbang
mantannya Fafa. Tapi aku heran deh,kenapa dulu Fafa mau ya sama cewek kaya dia?”
“Eh
udah deh! Aku nggak suka dibanding-bandingin. Ya gak tau lah. Mungkin karena
dia cantik kali?”
“What???Kamu
bilang cewek kaya gitu cantik?bedaknya tebel kaya dempul gitu kamu bilang
cantik?iywh…”
“Ya
gitu deh. Udah ah. Gak usah ngomongin orang.”
“Yeee……..ehm…ehm…..kamu
cemburu ya Meiy?”
“Yaelah
siapa juga yang cemburu?”
“Udah
jujur aja deh…..ahahhahahh”goda Riani
“Apaan
sih?udah yuk ah. Aku laper nih belum sarapan. Nyari makan yuk!”
“Yuk
yuk yuk!”
Riani
memanggil Coco. Dia menyarankan untuk mencari tempat makan yang enak untuk
sarapan. Coco mengusulkan untuk pergi ke tempat makan lentog tanjung
langganannya. Aku hanya mengiyakan. Sebelum kami mengakhiri jogging pagi
ini,tiba-tiba kami berpapasan dengan salah satu senior Purna Paskibraka. Pria
berkacamata yang tengah menyapa Fafa bernama Mas Adi.
“Wah….
wah… wah…jogging bareng nih ceritanya?”Tanya mas Adi sambil menyalami
Fafa,Coco,dan Riani
“Enggak
kok mas,tadi nggak sengaja ketemu.”jawab Fafa
“Oh
gitu….?Lah terus siapa itu?kok nggak dikenalin?”Arah mata Mas Adi menuju ke
arahku
“Oh….ini?Kenalin
mas. Ini Meiy. Eh Meiy,kenalin ini Mas Adi. Senior di paskib”
“(Sambil
menjabat tanganku)Hai Meiy! Maaf ya tadi nggak nyapa. Aku kira siapa,Salam
kenal ya?”
“Eh,hai
juga Mas. Iya salam kenal juga”jawabku pada mas Adi
“Wah
Fafa nih…..!Habis jadi paskib udah berani ngajak pacar jogging….”
“Hah?Pacar?”tanyaku
kaget
“Eh
mas. Nggak kok. Kita cuma temenan aja kok. Heheheh….Aduh mas Adi ini sukanya
berlebihan”
“Hahaha…..nggak
apa-apa kali. Meiy juga manis kok Fa,tuh kelihatan dari senyumnya. Udahlah
nggak usah kelamaan…”
***
Aku
tersipu malu dengan perkataan Mas Adi. Tapi aku hanya tersenyum menanggapinya.
Mereka berempat tampak berbincang sangat asyik. Hanya aku yang tak mengerti apa
yang sedang mereka bicarakan. Aku hanya bisa bermain ponsel sembari menunggu
mereka selesai berbincang. Fafa nampak canggung dan merasa tak enak hati
melihatku sibuk bermain ponsel tanpa ikut nimbrung dengan mereka. Yah,kacang
memang mahal. Setelah mereka selesai berbincang,kami menuju parkiran pendopo.
Kami berempat menuju tempat makan lentog tanjung usulan Coco. Sesampainya di
sana kami memesan makanan. Fafa yang duduk di sebelahku,terus melihatku dengan
tatapan yang berbeda. Aku hanya mengalihkan pandanganku ke ibu penjual lentog.
Aku masih sebal dengannya. Kenapa sih pagi-pagi begini mood ku udah
berantakan gara-gara dia? Sedangkan dia sepertinya tidak menyadari kalau aku
ngambek padanya. Saat pesanan datang pun ,Fafa masih terus menatapku. Aku jadi
risih sekarang. Saat aku menoleh ke arahnya,dia berpaling.
“Kamu
kenapa sih ngelihatin aku terus?”sambil memandangnya
“Nggak
apa apa kok.”dia menjawab tanpa memandangku
Aku
menikmati santapanku. Hanya beberapa detik,wajahnya mendekat ke arahku dengan
cepat. Nyaris 5cm menempel pipiku. Aku terkejut dan menatapnya dengan kedipan
beberapa kali.
“Kalau
kamu masih ngambek sama aku,aku bakal suapin kamu”ucap Fafa padaku sambil
menawarkan suapan sesendok lentog tanjung. Jantungku berdegup kencang. Aku tau
ini jebakan tapi aku hadapi dengan santai.
“Nggak.
Aku nggak ngambek kok.” Aku mengalihkan pandanganku. Dia melahap sesendok
suapan yang ia tawarkan. Sepertinya dia gagal melakukan trik modus padaku. Aku
pun melanjutkan makan. Seusai kami sarapan dan membayar,kami beristirahat
sejenak. Riani berencana mengajak Fafa,Coco,dan aku main ke rumah Dhede. Dia
ingin membuat kejutan. Pukul sembilan pagi kami menuju rumah Dhede. Sesampainya
di rumah Dhede,kami memanggilnya berulang kali. Dhede keluar dari pintu kamar dengan
rambut acak-acakan. Aku rasa dia baru bangun tidur. Dia kaget dengan kedatangan
kami berempat. Riani bilang pada Dhede bahwa kami hanya ingin main ke rumah
Dhede. Namun Dhede malah mengusulkan untuk membuat rencana pesta panggang di
rumah Riani.
Akhir-akhir ini nuansa hari qurban memang masih terasa. Kami
akhirnya menyetujui usulan Dhede. Kami membagi tugas. Aku dan Riani berboncengan
untuk mengambil daging qurban yang masih tersisa di rumahku dan mencari
bahan-bahan dengan menggunakan motor milik Fafa. Dhede dan Fafa mencari arang
dan perlengkapan lainnya dengan menggunakan motor milik Dhede. Coco izin pulang
ke rumahnya sebentar karena ibunya menelponnya dan meminta untuk
mengantarkannya ke pasar sejenak. Kami beranjak dan melakukan tugas kami
masing-masing.
***
Sesampainya
di rumah Riani,perlengkapan untuk pesta panggang sudah tersedia. Dhede berniat
mengajak Titian dan Marjo untuk ikut serta dalam pesta panggang kali ini. Aku
dan Fafa sibuk menata dan membawa barang yang akan digunakan untuk pesta
panggang. Rupanya pesta panggang kali ini tidak di rumah Riani. Riani
mengalihkan untuk berpesta panggang di rumah neneknya yang tak jauh dari
rumahnya karena halaman rumahnya yang sempit. Saat kami bersiap untuk membawa
barang menuju rumah nenek Riani,Coco datang bersama Titian dan Marjo. Kami
bertujuh menuju rumah nenek Riani.
Sesampainya
disana,kami menyiapkan alat dan memanggang daging kerbau serta bakso yang ku
bawa dari rumah. Fafa,Coco,Dhede,dan Marjo bergantian memanggang. Aku,Titian
dan Riani meracik bumbu. Tepat pukul dua belas siang,sate kerbau dan sate bakso
matang dengan aroma yang sedap. Kami berebut mengambilnya. Meskipun hati sempat
panas,cuaca pun juga ikut panas,tapi suasana kali ini cukup meredakan kegerahan
hatiku.
Bercanda,bersuka
ria,bersenang-senang bersama mereka berenam membuatku lupa akan kekesalan yang
sedari pagi menghancurkan mood ku. Sepertinya aku memiliki keluarga baru
sekarang. Semakin akrab saja aku dengan keluarga di (tempat) yang ku singgahi
sejenak ini. Semoga ini tak berlangsung sementara. Aku ingin singgah disini
seterusnya. Tapi apakah tuan rumahnya mengijinkanku untuk menyinggahi rumahnya?
Ku rasa ada harapan untuk tinggal. Bagaimana tidak berharap jika tuan rumah
sering memberiku jamuan dan penawaran yang terkesan tak pernah kuduga
sebelumnya?
Seperti yang ku rasakan saat ini. Fafa menawarkanku suapan untukku
berupa sepotong bakso yang baru saja matang kepadaku. Dia mengarahkannya ke
arah mulutku. Ku lahap suapan yang ia berikan. Saat aku memakannya,dia
menginginkan aku untuk membalas suapannya. Sambil menutupi rasa maluku yang
sedari tadi terekam oleh teman-teman selain aku dan Fafa,aku menyuapkannya
sepotong bakso juga. Dia tersenyum kearahku. Aku pun membalas senyumnya. Dhede
dan Riani terus mengompori Fafa agar segera menembakku. Aku hanya terdiam dan
tersenyum tipis pada mereka. Bagaimana aku merespon jikalau aku tak tau perasaan
Fafa yang sebenarnya padaku? Aku dan Fafa sebenarnya sudah tiga bulan berteman
dekat namun kami tak pernah membahas soal hati. Entahlah. Rasanya aku terlalu
agresif bila harus menanyakan soal perasaan padanya. Aku hanya menjalankan apa
yang harus terjadi. Membiarkannya mengalir apa adanya.
Hingga
ketika kami usai berpesta panggang,Fafa terus menggodaku. Dia mengantarkanku pulang
lebih awal karena pukul dua siang dia ada kegiatan di sekolahnya. Sesampainya
di rumahku,Fafa berpamitan padaku dan menyuruhku untuk belajar karena besok aku
ulangan. Ku lihat dia berlalu meninggalkanku. Aku pun meletakkan sepatu dan
mengambil wudlu untuk sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur,ku dengar ponselku
bergetar. Satu pesan mengejutkan dari Fafa yang membuat jantungku berdegup
kencang. Oh Tuhan?Apakah ini mimpi???
***