Kamis, 29 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Akhir yang Syahdu

       Latihan demi latihan ku lalui dengan keseriusan. Aku tau. Ini tak mudah. Ini tak ringan. Ini membosankan. Ini mengasah keberanian. Ini mengundang amarah. Ini menguras seluruh energi dan kekuatanku. Ku perjuangkan semuanya. Ku luapkan seluruhnya. Ku hempaskan segalanya. Ku habiskan tenaga dan kerja kerasku untuk latihan. Aku sedang mengemban tanggung jawab yang berat. Aku sedang menopang amanah yang besar. Aku sedang berjuang untuk negara. Aku sedang berusaha keras untuk tidak menyerah pada keadaan. Mereka membutuhkanku. Mereka menginginkanku. Mereka mengharapkanku. Mereka tau aku bisa. Mereka tau aku dapat melakukannya. Pasti. Akan aku wujudkan mimpi mereka.
        Semasa gencar-gencarnya latihan,biasanya seusai pulang sekolah Raka sering mampir ke rumahku. Aku tak bisa baper dengan permintaannya. Karena sejujurnya aku belum bisa move on dari Fafa. Tapi aku mengalihkan fikiranku pada latihan yang setiap hari ku lalui. Raka jarang sekali ikut melatih capaska. Dia hanya sesekali meminta surat ijin untuk melatih capaska. Dia main ke rumahku karena ada maunya. Mau mengajariku apa yang tadi pagi diajarkan di sekolah. Ya ini balas budi katanya. Aku hanya mengiyakannya saja. Seusai belajar bersama kami berbincang di teras rumah. Berbincang soal paskibraka tentunya. Aku masih enggan menceritakan retaknya hubunganku dengan Fafa pada Raka. Untuk pembaca setia tau kan kenapa? Intinya ada kaitannya dengan Raka dan aku ngerasa nggak enak hati sama dia. Selain mengajariku,dia juga melatihku baris-berbaris yang benar. Gerakan tiap gerakan selalu diajarkannya dengan detail. Dengan sabar ia melatihku untuk tidak menyerah dan selalu memperbaiki kesalahan.
     Hari berganti hari latihan tak terasa dilalui oleh para peserta calon paskibraka. Panasnya terik matahari,bercucurannya keringat yang membasahi,lelahnya tangan dan kaki seolah menjadi makanan keseharian para capaska. Mereka menikmatinya dengan senyuman,canda tawa,dan keriuhan mengobarkan semangat dalam yel-yel dengan serempak. Tapi keriuhan itu tak terdengar lagi di dekat stadion sepak bola. Kini latihan sudah dialihkan menuju ke alun-alun pusat kota. Sebelum latihan kami diberi topi khusus agar tidak kepanasan. Aku sering menyebutnya ‘topi yang ada kipasnya’ Karena bentuk dari topi itu di bagian belakangnya ada sehelai kain yang menutupi leher. Jadi kalau kita berjalan kain yang ada  belakangnya itu akan tertiup angin dan rasanya seperti berhembus angin dari belakang layaknya kipas angin.  Atau bisa juga dibilang ‘topi superman’ karena bisa saja kainnya itu seperti sayap belakang superman. Oke ini nggak penting tapi aku masih mau mau saja membahasnya.
       Di hari pertama latihan di alun-alun,ada pembagian tim untuk para paskibraka. Dari seluruh 64 anggota calon paskibraka,dibagi menjadi 3 pasukan. Keempat pasukan dinamai sesuai tanggal ulang tahun Republik Indonesia. Ada pasukan 17 yang berada di bagian depan,pasukan 8 khusus pembawa baki dan pengibar bendera,dan pasukan 45 yang ada di bagian belakang. Pembagian anggota pasukan ini disesuaikan berdasarkan tinggi badan. Meskipun semua peserta lolos seleksi,ketelitian tinggi badan mereka tetap berbeda-beda. Hari ini panitia juga mengadakan seleksi untuk calon pembawa baki dan pengibar bendera. Panitia akan memilih siapa yang pantas menjadi pembawa baki dan pengibar bendera di barisan pleton satu dan di barisan pleton 2. Dan alangkah terkejutnya aku ketika aku dicalonkan bersama Tria untuk masuk di barisan pasukan 8. Aku sebenarnya ingin menjadi pasukan belakang saja karena ada satu hal yang membuatku menjadi canggung untuk bekerja sama bersama Tria.
Oh iya,kamu harus tau. Semenjak aku putus dengan Fafa,Tria jadi menjauhiku. Entah karena apa dia tidak pernah berkumpul bersama denganku lagi. Dulu dia juga pernah bilang kalau Fafa adalah pacar idaman. Mungin karena tubuhnya yang gagah atau bagaimana,aku tak mengerti. Dan aku jadi curiga karenanya. Setiap kali seusai latihan,Tria selalu menunggu seseorang di parkiran. Dan suatu ketika aku menunggunya di tempat tersembunyi,ternyata dia menunggu Fafa. Seruni,temanku yang satu barisan denganku juga pernah tau kalau Tria pernah dilatih privat oleh Fafa diujung GOR. Kau tau kan perasaanku seperti apa begitu Seruni bercerita demikian? Aku rasa Tria suka pada Fafa dan mungkin Fafa juga merespon hal yang sama. Atau gara-gara dia,Fafa jadi memutuskanku?Ah aku tak boleh berprasangka buruk. Mungkin kita satu keluarga tapi kita bersaing satu sama lain.   
        Begitu panitia memutuskan aku yang akan menjadi pembawa baki ketika pengibaran bendera,Tria agak sedikit tidak terima. Dia memasang wajah kecewa dengan keputusan panitia. Dia ingin menjadi pembawa baki saat pengibaran bendera. Namun ini keputusan dari panitia dan tidak dapat diganggu gugat. Aku sempat ingin mengundurkan diri dan hendak memilih barisan belakang,ku urungkan niatku karena melihat Tria dibentak dan ditegur tegas oleh pelatih. Aku pun menerima dengan lapang dada.
                                      ***
     Latihan setiap hari ku lalui dengan agak sedikit tekanan. Karena pembawa baki berjalan tidak menggunakan gerakan tangan. Membawa baki berlapis kain tebal berwarna kuning yang di atasnya terdapat bendera sakral Sang Saka Merah Putih. Aku masih tidak percaya kalau aku yang akan membawanya nanti. Ketidak percayaanku ini seolah membuatku berasumsi bahwa akulah yang mengemban tugas paling berat. Kakak PPI terus memberiku semangat agar nantinya aku bisa menjalankan tugasku dengan sempurna. Di lain waktu latihan,pasukan delapan dilatih secara intensif dan privasi.  Yang bertugas menjadi pengibar bendera adalah Hendra,Mandala dan juga Reza. Mereka semua adalah teman-teman seperjuangan,satu keluarga dan satu angkatan calon paskibraka.
      Tak terasa H-7 upacara akan segera dilaksanakan. Latihan semakin digencar dan dimaksimalkan. Tak kenal lelah. Tak kenal menyerah. Terus memupuk jerih payah. Terus bekerja keras dan berusaha untuk menampilkan yang terbaik. Sempurna. Dan akan terkenang sepanjang masa. Hari ini panitia membagikan kendit khas paskibraka yang berwarna hijau yang nantinya digunakan untuk acara pengukuhan paskibra tiga hari sebelum upacara dilaksanakan. Dan di hari ini juga seragam resmi khas paskibraka beserta atributnya diberikan. Itu berarti nantinya para peserta akan resmi menjadi paskibraka kabupaten tahun ini. Aku jadi semakin tertekan dan tak percaya saja. 
     Setelah pembagian seragam,para capaska melaksanakan gladi kotor pengukuhan. Selanjutnya datanglah pihak dinas pemuda dan olahraga datang memberikan wejangan,saran,dan juga semangat agar para capaska tak mudah menyerah meski latihan membuat mereka kelelahan. Tapi seperti kata Fafa semua kelelahan dan kecapekan itu akan terbayar ketika hari H pengibaran bendera’ Nah baper lagi…
     Hari Pengukuhan kini telah tiba. Aku bersiap menuju kesana diantar oleh ayah dan ibuku. Di dalam mobil ayah sempat bilang bahwa dia tak percaya kalau anaknya yang manja akan menjadi paskibraka. Begitu aku turun dari mobil,mereka ikut mengantarkanku sampai di gerbang kabupaten. Mereka memelukku,ku cium kedua tangan mereka,dan ku ucap salam sembari meminta doa restu kepada mereka. Ku lambaikan tangan kepada mereka dan bergegas menuju ke pelataran pendopo kabupaten. Semua peserta telah berbaris memanjang tiga saf. Nama tiap peserta tercantum di bawah mereka berdiri. Mereka semua bersiap.
Tak berapa lama datanglah Pak Bupati dan para stafnya. Beliau yang nantinya akan memimpin pengukuhan dan mengukuhkan 64 calon paskibraka. Pengukuhan dilaksanakan. Situasi pengukuhanpun begitu sakral dan khidmat. Satu persatu peserta maju ke depan menghadap bendera Sang Saka Merah Putih yang telah dibawa dan ditopang tegak oleh Fafa. Iya Fafa. Dia yang memegang tiang bendera Sang Saka. Suasana hening dan penuh keharuan menyelimuti para calon anggota paskibraka begitu mereka maju ke depan. Terutama diriku. Antara tangis haru mencium dan menghormati bendera Sang Saka Merah Putih dan tangis pilu menghadap Sang pemegang tiang Saka Merah Putih. 
Sungguh,ini momen yang begitu mengharukan begitu aku mencium bendera Sang Merah Putih. Rasa Nasionalisme,Patriotisme dan kecintaan terhadap kebangsaanku seakan begitu memuncak dan muncul dengan sejuta gelora kebanggaan menjadi warga negara Indonesia yang nantinya akan membawa bendera pusaka. Namun ku tahan air mata ini sekuat tenaga agar rasa ini tak merusak suasana khidmat pengukuhan. Begitu pengukuhan selesai Bapak bupati menyalami para anggota resmi paskibraka tahun ini dan berfoto bersama mereka. Pak Bupati seakan mempercayakan amanah dan tanggung jawab negara kepada para paskibraka untuk mengibarkan bendera di kemudian hari.
                             ***
Hari ini,tepat Indonesia berulang tahun yang ketujuh puluh satu. Aku berangkat menuju pendopo diantar oleh ayahku. Para paskibraka diwajibkan untuk datang ke sana pukul enam pagi untuk persiapan seperti make up,pemakaian atribut,dsb. Setelah sampai disana para perias siap merias para paskibraka di ruang persiapan. Baik putra maupun putri semuanya dirias agar tampil cantik dan gagah ketika bertugas. Setelah semuanya selesai di make up dan memakai atribut,ada sarapan pagi special untuk hari ini. Ekstrak pudding kali ini tidak seperti biasanya,jauh lebih enak dan mengenyangkan. Seusai sarapan,para paskibraka bersiap di halaman pendopo untuk berfoto selfie atau sekedar mempersiapkan semuanya yang ada. Aku yang dari tadi masih di ruang persiapan walau sudah ikut sarapan,berusaha menghangatkan tangan yang rasanya dingin sekali. Sarung tanganku nyaris basah oleh keringatku sendiri sampai-sampai ku lepas sebelum acara dimulai mengingat ini momen langka dan terpenting di hidupku. Jantungku juga berdetak begitu kencang hingga aku tak sanggup untuk mengontrolnya.
Upacara dilaksanakan pukul sepuluh pagi. Semua jalan yang menuju alun-alun pusat kota ditutup dan dialihkan ke jalan lainnya. Semua paskibraka bersiap di jalan yang terletak sudut belakang masjid pusat kota. Tak lupa mereka semua meneriakkan yel-yel kebanggaan dan berdoa dengan khusyuk agar diberi kelancaran. Banyak batalyon perwira TNI,tenaga pengajar,para pelajar,tim paduan suara,hingga tim Marching Band sekolahku mengikuti upacara HUT RI dan berkumpul di lapangan alun-alun simpang tujuh. Setelah para pemimpin barisan selesai menyiapkan barisannya,upacara dimulai. Tahap demi tahap tata upacara bendera dilaksanakan hingga tibalah saatnya pengibaran bendera Sang Merah Putih. 
Kami semua bersiap.  Pasukan delapan yang berada di tengah diiringi oleh tim paskibraka dari TNI yang berada di samping kanan dan kiri pembawa baki. Semua mata tertuju pada kami. Tim pasukan pengibar bendera tahun ini. Begitu serentak derap langkah hentakan kaki. Rumput hijau dan terik mentari seolah menjadi saksi bisu perwujudan tugas ini. Langkah tiap langkah ku lalui dengan hati-hati. Menyerahkan bendera pusaka merah putih kepada sang bupati. Tim pasukan pengibar bendera siap beraksi. Mengibarkan bendera Sang Merah Putih di langit yang tinggi. Kelak akan menjadi saksi perjalanan hidup di hari tua nanti.
Alunan lagu kebangsaan mengiringi pengibaran Sang Saka Merah Putih. Rasa hormat penuh keharuan menyelimuti para tim paskibraka. Semua perjuangan,pengorbanan,dan pengabdian selama di karantina seolah terbayar lunas pagi ini. Tetes keringat dan air mata begitu membasahi para pasukan tim paskibraka seusai upacara dilaksanakan. Seruan yel-yel begitu semangat dikumandangkan oleh para paskibraka. Amanah dan tanggung jawab kini terselesaikan secara perlahan mengingat nanti sore pukul lima akan diadakan upacara penurunan bendera. Aku jadi teringat pada mereka yang pernah singgah di hatiku. Jadi begini rasanya jadi paskibraka? Berat tapi menyenangkan. Setelah upacara selesai,para paskibraka beristirahat dan pulang ke rumah masing-masing pukul 12 siang.
                                   ***
Pukul dua siang aku kembali ke pendopo lagi untuk persiapan penurunan bendera. Kali ini aku tidak serepot tadi pagi karena yang membawa baki adalah Tria. Dia sudah cukup menerima dengan lapang dada kali ini. Tapi satu hal yang mengejutkan. Dia bilang padaku kalau dia ternyata sedang dekat dengan Fafa. Tapi dia tidak ingin berpacaran dengannya karena katanya seorang senior dilarang menjalin hubungan dengan juniornya. Aku jadi teringat,apa mungkin Fafa memutuskanku hanya gara-gara alasan ini? Entahlah. Aku cuti untuk memikirkannya kali ini. Kalau tidak,semuanya akan kacau.
Pukul empat sore upacara penurunan bendera dilaksanakan. Semua terlaksana dengan lancar seperti tadi pagi. Tapi tak sekhidmat tadi pagi karena banyak kendaraan yang melintas di sekeliling jalan yang bertanda palang ditutup. Ditambah lagi banyak para penonton yang ingin melihat upacara penurunan bendera. Setelah upacara penurunan bendera selesai,kami beristirahat dan menunaikan sholat maghrib. Seusai melaksanakan sholat maghrib,kami mempersiapkan diri untuk acara resepsi kenegaraan. Aku jadi teringat akan pertama kalinya aku mengenal Fafa. Dulu aku melihatnya via instagram di dalam foto yang Riani upload yang menandai Fafa. Saat itu Fafa sedang ada dalam acara resepsi kenegaraan seperti sekarang.
Aku berjalan keluar pendopo dan mengeluarkan ponselku. Sedari siang sahabat-sahabatku berjanji akan menyambangi pendopo untuk berfoto bersamaku. Aku jadi teringat lagi. Dulu Riani berfoto bersama pacarnya dan Marjo,juga Fafa. Sekarang aku sudah jadi paskib,apa mereka (Raka dan Fafa) tak berniat untuk foto bersamaku malam ini?Sekedar menemuiku pun tak ada niatkah? Aku pun tertegun pada fikiranku sendiri. Berjuang melawan kepedihan patah hati di medan lapangan. Belajar melawan perasaan dari kenyataan yang tidak sejalan. Hingga aku menyadari bahwa sahabatku sudah datang kemari. Mereka langsung berteriak dan memelukku. Dan tak lupa mereka berfoto selfie bersamaku. Aku merasa terhibur sekarang…
“Meeeeeieiiiiiyyyyy kamu jadi cewek gak usah sok tinggi gini deh!High hellsmu trepes nanti…wkwkwkkw”
“Ah kamu Lin…..emangnya ada highhells trepes?”
“Hahaha….”
“Eh,Meiy?kok nggak ada Raka ataupun Fafa sih?Mereka PPI kan?”
“Entah….aku nggak ketemu mereka dari tadi pagi….”
“Kenapa ya?atau jangan-jangan mereka gak mau rebutan kali buat foto bareng sama kamu…eeeaaaaa…eeeeaaaaaa..”
“Apaan sih Lin?garing ah”
“Ciyeeee gitu sekarang cuek sama mantan”
Resepsi kenegaraan pun dimulai. Banyak para pria dan wanita paruh baya yang bekerja di instansi pemerintahan kota menghadiri undangan. Acara diisi dengan mengumandangkan lagu kebangsaan dan pidato dari bapak bupati dan juga acara yang lainnya yang tak perlu ku jelaskan disini. Di akhir acara para paskibraka bernyanyi bersama mendendangkan lagu ‘kemesraan ini’. Duh rasanya aku tak ingin berpisah dengan mereka. Banyak kenangan yang terukir dalam memori,banyak kisah suka duka yang tertanam dalam sanubari,dan semuanya tercipta dalam satu keluarga yang kompak dan harmoni. 
Pukul 12 malam acara resepsi kenegaraan selesai. Kau tau kan betapa lelahnya aku seharian ini? Aku pulang dijemput oleh orang tuaku. Semua terbayar sudah sekarang. Waktunya untuk pulang. Pulang ke rumah. Rumahnya siapa? Ya rumahku. Tapi di perjalanan cintaku,apa aku harus pulang ke rumah lamaku juga? Entahlah….

                             ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar