Kamis, 29 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Akhir yang Syahdu

       Latihan demi latihan ku lalui dengan keseriusan. Aku tau. Ini tak mudah. Ini tak ringan. Ini membosankan. Ini mengasah keberanian. Ini mengundang amarah. Ini menguras seluruh energi dan kekuatanku. Ku perjuangkan semuanya. Ku luapkan seluruhnya. Ku hempaskan segalanya. Ku habiskan tenaga dan kerja kerasku untuk latihan. Aku sedang mengemban tanggung jawab yang berat. Aku sedang menopang amanah yang besar. Aku sedang berjuang untuk negara. Aku sedang berusaha keras untuk tidak menyerah pada keadaan. Mereka membutuhkanku. Mereka menginginkanku. Mereka mengharapkanku. Mereka tau aku bisa. Mereka tau aku dapat melakukannya. Pasti. Akan aku wujudkan mimpi mereka.
        Semasa gencar-gencarnya latihan,biasanya seusai pulang sekolah Raka sering mampir ke rumahku. Aku tak bisa baper dengan permintaannya. Karena sejujurnya aku belum bisa move on dari Fafa. Tapi aku mengalihkan fikiranku pada latihan yang setiap hari ku lalui. Raka jarang sekali ikut melatih capaska. Dia hanya sesekali meminta surat ijin untuk melatih capaska. Dia main ke rumahku karena ada maunya. Mau mengajariku apa yang tadi pagi diajarkan di sekolah. Ya ini balas budi katanya. Aku hanya mengiyakannya saja. Seusai belajar bersama kami berbincang di teras rumah. Berbincang soal paskibraka tentunya. Aku masih enggan menceritakan retaknya hubunganku dengan Fafa pada Raka. Untuk pembaca setia tau kan kenapa? Intinya ada kaitannya dengan Raka dan aku ngerasa nggak enak hati sama dia. Selain mengajariku,dia juga melatihku baris-berbaris yang benar. Gerakan tiap gerakan selalu diajarkannya dengan detail. Dengan sabar ia melatihku untuk tidak menyerah dan selalu memperbaiki kesalahan.
     Hari berganti hari latihan tak terasa dilalui oleh para peserta calon paskibraka. Panasnya terik matahari,bercucurannya keringat yang membasahi,lelahnya tangan dan kaki seolah menjadi makanan keseharian para capaska. Mereka menikmatinya dengan senyuman,canda tawa,dan keriuhan mengobarkan semangat dalam yel-yel dengan serempak. Tapi keriuhan itu tak terdengar lagi di dekat stadion sepak bola. Kini latihan sudah dialihkan menuju ke alun-alun pusat kota. Sebelum latihan kami diberi topi khusus agar tidak kepanasan. Aku sering menyebutnya ‘topi yang ada kipasnya’ Karena bentuk dari topi itu di bagian belakangnya ada sehelai kain yang menutupi leher. Jadi kalau kita berjalan kain yang ada  belakangnya itu akan tertiup angin dan rasanya seperti berhembus angin dari belakang layaknya kipas angin.  Atau bisa juga dibilang ‘topi superman’ karena bisa saja kainnya itu seperti sayap belakang superman. Oke ini nggak penting tapi aku masih mau mau saja membahasnya.
       Di hari pertama latihan di alun-alun,ada pembagian tim untuk para paskibraka. Dari seluruh 64 anggota calon paskibraka,dibagi menjadi 3 pasukan. Keempat pasukan dinamai sesuai tanggal ulang tahun Republik Indonesia. Ada pasukan 17 yang berada di bagian depan,pasukan 8 khusus pembawa baki dan pengibar bendera,dan pasukan 45 yang ada di bagian belakang. Pembagian anggota pasukan ini disesuaikan berdasarkan tinggi badan. Meskipun semua peserta lolos seleksi,ketelitian tinggi badan mereka tetap berbeda-beda. Hari ini panitia juga mengadakan seleksi untuk calon pembawa baki dan pengibar bendera. Panitia akan memilih siapa yang pantas menjadi pembawa baki dan pengibar bendera di barisan pleton satu dan di barisan pleton 2. Dan alangkah terkejutnya aku ketika aku dicalonkan bersama Tria untuk masuk di barisan pasukan 8. Aku sebenarnya ingin menjadi pasukan belakang saja karena ada satu hal yang membuatku menjadi canggung untuk bekerja sama bersama Tria.
Oh iya,kamu harus tau. Semenjak aku putus dengan Fafa,Tria jadi menjauhiku. Entah karena apa dia tidak pernah berkumpul bersama denganku lagi. Dulu dia juga pernah bilang kalau Fafa adalah pacar idaman. Mungin karena tubuhnya yang gagah atau bagaimana,aku tak mengerti. Dan aku jadi curiga karenanya. Setiap kali seusai latihan,Tria selalu menunggu seseorang di parkiran. Dan suatu ketika aku menunggunya di tempat tersembunyi,ternyata dia menunggu Fafa. Seruni,temanku yang satu barisan denganku juga pernah tau kalau Tria pernah dilatih privat oleh Fafa diujung GOR. Kau tau kan perasaanku seperti apa begitu Seruni bercerita demikian? Aku rasa Tria suka pada Fafa dan mungkin Fafa juga merespon hal yang sama. Atau gara-gara dia,Fafa jadi memutuskanku?Ah aku tak boleh berprasangka buruk. Mungkin kita satu keluarga tapi kita bersaing satu sama lain.   
        Begitu panitia memutuskan aku yang akan menjadi pembawa baki ketika pengibaran bendera,Tria agak sedikit tidak terima. Dia memasang wajah kecewa dengan keputusan panitia. Dia ingin menjadi pembawa baki saat pengibaran bendera. Namun ini keputusan dari panitia dan tidak dapat diganggu gugat. Aku sempat ingin mengundurkan diri dan hendak memilih barisan belakang,ku urungkan niatku karena melihat Tria dibentak dan ditegur tegas oleh pelatih. Aku pun menerima dengan lapang dada.
                                      ***
     Latihan setiap hari ku lalui dengan agak sedikit tekanan. Karena pembawa baki berjalan tidak menggunakan gerakan tangan. Membawa baki berlapis kain tebal berwarna kuning yang di atasnya terdapat bendera sakral Sang Saka Merah Putih. Aku masih tidak percaya kalau aku yang akan membawanya nanti. Ketidak percayaanku ini seolah membuatku berasumsi bahwa akulah yang mengemban tugas paling berat. Kakak PPI terus memberiku semangat agar nantinya aku bisa menjalankan tugasku dengan sempurna. Di lain waktu latihan,pasukan delapan dilatih secara intensif dan privasi.  Yang bertugas menjadi pengibar bendera adalah Hendra,Mandala dan juga Reza. Mereka semua adalah teman-teman seperjuangan,satu keluarga dan satu angkatan calon paskibraka.
      Tak terasa H-7 upacara akan segera dilaksanakan. Latihan semakin digencar dan dimaksimalkan. Tak kenal lelah. Tak kenal menyerah. Terus memupuk jerih payah. Terus bekerja keras dan berusaha untuk menampilkan yang terbaik. Sempurna. Dan akan terkenang sepanjang masa. Hari ini panitia membagikan kendit khas paskibraka yang berwarna hijau yang nantinya digunakan untuk acara pengukuhan paskibra tiga hari sebelum upacara dilaksanakan. Dan di hari ini juga seragam resmi khas paskibraka beserta atributnya diberikan. Itu berarti nantinya para peserta akan resmi menjadi paskibraka kabupaten tahun ini. Aku jadi semakin tertekan dan tak percaya saja. 
     Setelah pembagian seragam,para capaska melaksanakan gladi kotor pengukuhan. Selanjutnya datanglah pihak dinas pemuda dan olahraga datang memberikan wejangan,saran,dan juga semangat agar para capaska tak mudah menyerah meski latihan membuat mereka kelelahan. Tapi seperti kata Fafa semua kelelahan dan kecapekan itu akan terbayar ketika hari H pengibaran bendera’ Nah baper lagi…
     Hari Pengukuhan kini telah tiba. Aku bersiap menuju kesana diantar oleh ayah dan ibuku. Di dalam mobil ayah sempat bilang bahwa dia tak percaya kalau anaknya yang manja akan menjadi paskibraka. Begitu aku turun dari mobil,mereka ikut mengantarkanku sampai di gerbang kabupaten. Mereka memelukku,ku cium kedua tangan mereka,dan ku ucap salam sembari meminta doa restu kepada mereka. Ku lambaikan tangan kepada mereka dan bergegas menuju ke pelataran pendopo kabupaten. Semua peserta telah berbaris memanjang tiga saf. Nama tiap peserta tercantum di bawah mereka berdiri. Mereka semua bersiap.
Tak berapa lama datanglah Pak Bupati dan para stafnya. Beliau yang nantinya akan memimpin pengukuhan dan mengukuhkan 64 calon paskibraka. Pengukuhan dilaksanakan. Situasi pengukuhanpun begitu sakral dan khidmat. Satu persatu peserta maju ke depan menghadap bendera Sang Saka Merah Putih yang telah dibawa dan ditopang tegak oleh Fafa. Iya Fafa. Dia yang memegang tiang bendera Sang Saka. Suasana hening dan penuh keharuan menyelimuti para calon anggota paskibraka begitu mereka maju ke depan. Terutama diriku. Antara tangis haru mencium dan menghormati bendera Sang Saka Merah Putih dan tangis pilu menghadap Sang pemegang tiang Saka Merah Putih. 
Sungguh,ini momen yang begitu mengharukan begitu aku mencium bendera Sang Merah Putih. Rasa Nasionalisme,Patriotisme dan kecintaan terhadap kebangsaanku seakan begitu memuncak dan muncul dengan sejuta gelora kebanggaan menjadi warga negara Indonesia yang nantinya akan membawa bendera pusaka. Namun ku tahan air mata ini sekuat tenaga agar rasa ini tak merusak suasana khidmat pengukuhan. Begitu pengukuhan selesai Bapak bupati menyalami para anggota resmi paskibraka tahun ini dan berfoto bersama mereka. Pak Bupati seakan mempercayakan amanah dan tanggung jawab negara kepada para paskibraka untuk mengibarkan bendera di kemudian hari.
                             ***
Hari ini,tepat Indonesia berulang tahun yang ketujuh puluh satu. Aku berangkat menuju pendopo diantar oleh ayahku. Para paskibraka diwajibkan untuk datang ke sana pukul enam pagi untuk persiapan seperti make up,pemakaian atribut,dsb. Setelah sampai disana para perias siap merias para paskibraka di ruang persiapan. Baik putra maupun putri semuanya dirias agar tampil cantik dan gagah ketika bertugas. Setelah semuanya selesai di make up dan memakai atribut,ada sarapan pagi special untuk hari ini. Ekstrak pudding kali ini tidak seperti biasanya,jauh lebih enak dan mengenyangkan. Seusai sarapan,para paskibraka bersiap di halaman pendopo untuk berfoto selfie atau sekedar mempersiapkan semuanya yang ada. Aku yang dari tadi masih di ruang persiapan walau sudah ikut sarapan,berusaha menghangatkan tangan yang rasanya dingin sekali. Sarung tanganku nyaris basah oleh keringatku sendiri sampai-sampai ku lepas sebelum acara dimulai mengingat ini momen langka dan terpenting di hidupku. Jantungku juga berdetak begitu kencang hingga aku tak sanggup untuk mengontrolnya.
Upacara dilaksanakan pukul sepuluh pagi. Semua jalan yang menuju alun-alun pusat kota ditutup dan dialihkan ke jalan lainnya. Semua paskibraka bersiap di jalan yang terletak sudut belakang masjid pusat kota. Tak lupa mereka semua meneriakkan yel-yel kebanggaan dan berdoa dengan khusyuk agar diberi kelancaran. Banyak batalyon perwira TNI,tenaga pengajar,para pelajar,tim paduan suara,hingga tim Marching Band sekolahku mengikuti upacara HUT RI dan berkumpul di lapangan alun-alun simpang tujuh. Setelah para pemimpin barisan selesai menyiapkan barisannya,upacara dimulai. Tahap demi tahap tata upacara bendera dilaksanakan hingga tibalah saatnya pengibaran bendera Sang Merah Putih. 
Kami semua bersiap.  Pasukan delapan yang berada di tengah diiringi oleh tim paskibraka dari TNI yang berada di samping kanan dan kiri pembawa baki. Semua mata tertuju pada kami. Tim pasukan pengibar bendera tahun ini. Begitu serentak derap langkah hentakan kaki. Rumput hijau dan terik mentari seolah menjadi saksi bisu perwujudan tugas ini. Langkah tiap langkah ku lalui dengan hati-hati. Menyerahkan bendera pusaka merah putih kepada sang bupati. Tim pasukan pengibar bendera siap beraksi. Mengibarkan bendera Sang Merah Putih di langit yang tinggi. Kelak akan menjadi saksi perjalanan hidup di hari tua nanti.
Alunan lagu kebangsaan mengiringi pengibaran Sang Saka Merah Putih. Rasa hormat penuh keharuan menyelimuti para tim paskibraka. Semua perjuangan,pengorbanan,dan pengabdian selama di karantina seolah terbayar lunas pagi ini. Tetes keringat dan air mata begitu membasahi para pasukan tim paskibraka seusai upacara dilaksanakan. Seruan yel-yel begitu semangat dikumandangkan oleh para paskibraka. Amanah dan tanggung jawab kini terselesaikan secara perlahan mengingat nanti sore pukul lima akan diadakan upacara penurunan bendera. Aku jadi teringat pada mereka yang pernah singgah di hatiku. Jadi begini rasanya jadi paskibraka? Berat tapi menyenangkan. Setelah upacara selesai,para paskibraka beristirahat dan pulang ke rumah masing-masing pukul 12 siang.
                                   ***
Pukul dua siang aku kembali ke pendopo lagi untuk persiapan penurunan bendera. Kali ini aku tidak serepot tadi pagi karena yang membawa baki adalah Tria. Dia sudah cukup menerima dengan lapang dada kali ini. Tapi satu hal yang mengejutkan. Dia bilang padaku kalau dia ternyata sedang dekat dengan Fafa. Tapi dia tidak ingin berpacaran dengannya karena katanya seorang senior dilarang menjalin hubungan dengan juniornya. Aku jadi teringat,apa mungkin Fafa memutuskanku hanya gara-gara alasan ini? Entahlah. Aku cuti untuk memikirkannya kali ini. Kalau tidak,semuanya akan kacau.
Pukul empat sore upacara penurunan bendera dilaksanakan. Semua terlaksana dengan lancar seperti tadi pagi. Tapi tak sekhidmat tadi pagi karena banyak kendaraan yang melintas di sekeliling jalan yang bertanda palang ditutup. Ditambah lagi banyak para penonton yang ingin melihat upacara penurunan bendera. Setelah upacara penurunan bendera selesai,kami beristirahat dan menunaikan sholat maghrib. Seusai melaksanakan sholat maghrib,kami mempersiapkan diri untuk acara resepsi kenegaraan. Aku jadi teringat akan pertama kalinya aku mengenal Fafa. Dulu aku melihatnya via instagram di dalam foto yang Riani upload yang menandai Fafa. Saat itu Fafa sedang ada dalam acara resepsi kenegaraan seperti sekarang.
Aku berjalan keluar pendopo dan mengeluarkan ponselku. Sedari siang sahabat-sahabatku berjanji akan menyambangi pendopo untuk berfoto bersamaku. Aku jadi teringat lagi. Dulu Riani berfoto bersama pacarnya dan Marjo,juga Fafa. Sekarang aku sudah jadi paskib,apa mereka (Raka dan Fafa) tak berniat untuk foto bersamaku malam ini?Sekedar menemuiku pun tak ada niatkah? Aku pun tertegun pada fikiranku sendiri. Berjuang melawan kepedihan patah hati di medan lapangan. Belajar melawan perasaan dari kenyataan yang tidak sejalan. Hingga aku menyadari bahwa sahabatku sudah datang kemari. Mereka langsung berteriak dan memelukku. Dan tak lupa mereka berfoto selfie bersamaku. Aku merasa terhibur sekarang…
“Meeeeeieiiiiiyyyyy kamu jadi cewek gak usah sok tinggi gini deh!High hellsmu trepes nanti…wkwkwkkw”
“Ah kamu Lin…..emangnya ada highhells trepes?”
“Hahaha….”
“Eh,Meiy?kok nggak ada Raka ataupun Fafa sih?Mereka PPI kan?”
“Entah….aku nggak ketemu mereka dari tadi pagi….”
“Kenapa ya?atau jangan-jangan mereka gak mau rebutan kali buat foto bareng sama kamu…eeeaaaaa…eeeeaaaaaa..”
“Apaan sih Lin?garing ah”
“Ciyeeee gitu sekarang cuek sama mantan”
Resepsi kenegaraan pun dimulai. Banyak para pria dan wanita paruh baya yang bekerja di instansi pemerintahan kota menghadiri undangan. Acara diisi dengan mengumandangkan lagu kebangsaan dan pidato dari bapak bupati dan juga acara yang lainnya yang tak perlu ku jelaskan disini. Di akhir acara para paskibraka bernyanyi bersama mendendangkan lagu ‘kemesraan ini’. Duh rasanya aku tak ingin berpisah dengan mereka. Banyak kenangan yang terukir dalam memori,banyak kisah suka duka yang tertanam dalam sanubari,dan semuanya tercipta dalam satu keluarga yang kompak dan harmoni. 
Pukul 12 malam acara resepsi kenegaraan selesai. Kau tau kan betapa lelahnya aku seharian ini? Aku pulang dijemput oleh orang tuaku. Semua terbayar sudah sekarang. Waktunya untuk pulang. Pulang ke rumah. Rumahnya siapa? Ya rumahku. Tapi di perjalanan cintaku,apa aku harus pulang ke rumah lamaku juga? Entahlah….

                             ***

Rabu, 28 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Puncak Perjuangan Cinta

       Liburan ku jalani dengan penuh kesabaran dan kerlingan air mata. Aku tau,tak mudah menahan rasa sedih ketika berpuasa. Tak mudah mengelola perasaan ketika menahan nafsu dunia. Tak mudah tak memikirkannya walau hanya sehari saja. Bayang-bayangnya masih terlintas di layar ponselku meski sebenarnya tak ada. Namun aku selalu berharap dan merasa ada notif dari dia. Riani pernah bilang kalau kita baru saja putus hubungan dengan pacar,jangan sampai ada yang namanya dendam. Jangan sampai ada insiden menghapus kontak mantan,memutus tali silaturahmi,atau bahkan menghindarinya seolah kamu phobia dengannya. Mungkin ada yang sebagian kecil orang phobia dengan masa lalunya,tapi pastikan bukan kamu orangnya. Dia juga pernah bilang kalau kita melakukan hal itu,berarti kita kurang dewasa dalam bertindak. Masih kekanak-kanakan. Bukankah setelah putus justru kita akan merasa lebih bebas,lebih dewasa dalam bersikap,dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat? Tapi aku sudah terlanjur melakukan apa larangannya.
      Libur puasa ku isi dengan berkumpul bersama sahabat-sahabatku. Berkat mereka lukaku jadi agak sedikit terobati. Mereka menghiburku dengan segala tingkah kekonyolan mereka. Mereka mengajakku belanja,melihat pameran,dan jalan-jalan ke suatu tempat. Mereka juga selalu menanyakan apa alasan Fafa memutuskanku. Ku jawab saja memang sudah waktunya putus. Aku tak ingin membahas tentangnya lagi. Riani juga sempat menyuruhku untuk segera menemuinya lalu memintanya untuk menjelaskan apa alasan dia memutuskanku. Tapi ku pikir aku akan semakin menderita bila mengulik-ngulik tentangnya lagi. Suatu saat jika aku kuat,aku akan mencoba menemuinya dan memintanya untuk menjelaskanku. Tapi entah kapan itu terjadi.
      Libur lebaran ku luangkan waktuku untuk menonton film bersama Riani. Hanya berdua. Iya dia yang minta. Setelah selesai dari acara halal bihalal ambalan,Riani langsung menjemputku. Kami mampir ke rumahnya dulu dan langsung menuju ke tkp. Bioskop nampak ramai. Meski jadwal film yang akan kami tonton sudah mulai, kami tetap memesan tiket saat itu juga. Riani memesan nomer kursi yang sama ketika dulu aku nonton bersama Fafa. Karena yang belum terisi hanya dua kursi itu. Kami memasuki bioskop dan menonton film. 
       Film yang ditayangkan mengisahkan tentang perjuangan melawan pahitnya patah hati seorang pemuda yang sangat sayang pada kekasihnya yang baru saja meninggalkannya. Pemuda itu dibantu oleh sahabatnya yaitu seorang perempuan yang mengalami hal yang sama seperti pemuda itu namun dia patah hati bukan karena diputuskan pacarnya melainkan pacarnya meninggal dunia. Mereka menikmati tahap demi tahap mengobati patah hati mereka dan menemukan hikmah serta pelajaran dari kepahitan patah hati mereka. Hingga akhirnya mereka menikah dengan pasangan mereka masing-masing di tanggal dan bulan yang sama namun di tahun yang berbeda.  
Meskipun film ini bergenre komedi,tapi terselip kisah romantis di dalamnya. Saking menghayati film itu,aku jadi baper dan menangis bombay kalau kata Riani. Aku berharap akan bahagia layaknya perempuan di film itu tapi aku tak ingin ditinggalkan dengan alasan kekasihku meninggal dunia. Ku ulangi sekali lagi,dia tidak mati. Cintanya yang mati. Tapi aku merasa aku dan Riani memiliki nasib yang sama seperti film yang ditayangkan. Terutama soal kisah cinta. Kami ditinggalkan oleh kekasih kami ketika kami sedang sayang-sayangnya kepada mereka. Coco dan juga Fafa. Dua pria yang terlahir dari dua orangtua yang berbeda namun mereka memiliki sifat yang sama. Meninggalkan tanpa alasan yang jelas. Entah karena hal itu disengaja atau tidak,aku tak ingin memperdalamnya.
Seusai menonton film aku dan Riani menuju ke kafe dekat bioskop. Saat makanpun,kami tertegun pada pikiran masing-masing. Mungkin tentang film tadi. Atau mungkin mengenai alasan mereka yang meninggalkan kami tanpa alasan yang pasti. Walaupun Riani sudah memiliki pengganti namun aku merasa dia belum bisa move on dari mantannya. Dan mungkin cara dia menjalani hubungan dengan pacarnya yang sekarang tak sebahagia dulu ketika dengan Coco. Rasanya pasti berbeda,karena dia menjalaninya dengan orang yang berbeda dan kisah yang berbeda pula. Ah ku pikir ini hanya pelampiasan Riani semata. Tapi biarlah. Aku tak ingin mengurusinya.
                                      ***
      Tepat libur lebaran pada hari kelima,latihan perdana calon paskibraka dimulai. Aku berangkat sendiri kesana menggunakan hadiah dari ayahku. Aku sangat bersemangat sekali. Ya walau patah hati masih terasa disini(nunjuk hati..) Pukul enam pagi aku sudah bersiap menuju ke tempat latihan. Area halaman GOR tempat latihannya. Sebelum berangkat kesana tak lupa ku cium tangan kedua orangtuaku dan memohon doa restu agar dilancarkan segalanya. Lalu aku menghidupkan motorku dan bergegas pergi kesana. Sebelum kesana,aku sudah berjanji pada Esta untuk menghampirinya. Dia sudah bersiap di gang kecil dekat rumahnya. Kami pun berangkat menuju kesana.
       Sesampainya di tempat latihan,aku memarkirkan motorku dan menaruh tasku di tempat yang disediakan. Sudah banyak yang menunggu. Kami hampir terlambat. Penertiban barisan dipimpin oleh kakak dari PPI. Yang jelas bukan Fafa. Dia tak mungkin memimpin apel seperti ini. Oke jangan bahas Fafa. Aku sedang berusaha untuk tidak memikirkannya namun tetap saja teringat terus. Setelah apel,ada perkenalan dari para kakak PPI. Aku sudah sangat bersyukur tak melihat tanda keberadaan Fafa. Lalu,kakak dari PPI meminta para peserta calon paskibraka untuk memperkenalkan diri di depan para peserta satu-persatu. Banyak yang grogi dan banyak juga yang terlalu serius sampai-sampai digoda oleh kakak PPI. Kini giliranku untuk memperkenalkan diri. Sama seperti saat tes keterampilan,salah satu kakak PPI berusaha mengomporiku tentang hubungan lamaku dengan Fafa. Aku hanya tersenyum kaku ke arahnya. Kau tau kan ini senyuman apa? Antara malu,sakit,dan juga terpaksa. Setelah memperkenalkan diri,aku kembali duduk ke dalam barisan.
      Setelah selesai perkenalan,seorang perwira TNI datang. Namanya Pak Gito. Beliau yang nantinya akan melatih kami. Tak hanya seorang,beliau juga dibantu oleh kedua temannya yang bernama Pak Ical dan Pak Jalu. Mereka sama-sama terlihat garang namun dibalik kegarangan mereka tersimpan sikap konyol dan jenaka. Setelah beliau memperkenalkan diri,latihan dimulai. Ada push up,sit up,jongkok berdiri,dll. Latihan sangat intensif dan repetisi. Seusai latihan,para peserta beristirahat dan menikmati makanan yang disediakan oleh kakak PPI. Peserta duduk sejajar dalam dua saf dan berhadap-hadapan. Aku duduk berhadapan dengan seorang pemuda berkulit putih dan berkumis tipis. Dari tampangnya aku menerka bahwa dia almamater sekolah berbasis agamis. Dan ternyata benar. Di sela-sela menikmati makanan,aku berkenalan dengannya. Namanya Mandala. Tak hanya depanku,aku juga berkenalan dengan samping kanan dan kiriku. Yang kiri namanya Seruni dan yang kanan namanya Hendra.
Seusai menyantap,tiba pembagian seragam dan fasilitas untuk latihan oleh Kakak PPI. Banyak kakak-kakak PPI yang baru datang membawa tumpukan kardus yang isinya sepatu dan seragam olahraga beserta training untuk latihan. Dan diantara kakak-kakak itu aku melihat Fafa dan juga Raka. Aku berharap Fafa akan melihatku namun ternyata tidak sama sekali. Ketika pembagianpun,dia tak membagikan seragam padaku padahal jarak antara aku dan dia lumayan dekat. Justru yang memberikan seragam untukku adalah Raka. Aku tersenyum dan berterima kasih pada Raka. Kak Adi,salah satu dari sekian kakak PPI yang mengatur dan mengurus segalanya menghimbau agar mewajibkan seragam dan fasilitas yang sudah dibagikan untuk dipakai selama latihan. Setelah pembagian seragam,barisan dibubarkan dan latihan selesai pukul setengah dua belas siang.
     Hari berikutnya adalah latihan yang sesungguhnya. Aku berangkat agak pagi karena seperti biasa aku menghampiri Esta. Setelah sampai,ku pinta Esta untuk duluan ke tempat latihan karena aku akan mengambil atributku yang ada di jok motor. Dan entah kebetulan atau tidak,saat aku hendak membuka jok motorku aku tersadar bahwa motorku bersebelahan dengan motor yang tak asing aku mengenalinya. Motor berbalut stiker warna putih yang biasa ku boncengi dulu bersama Fafa. Aku lihat plat nomornya. Firasatku sepertinya benar. Ini pasti motor Fafa. Terlihat jaket paskib tahun lalu terlampir di atas spionnya. Aku berniat menunggunya di atas motorku,siapa tau ia akan mengambil jaketnya. Benar saja. Si pemilik motor datang setelah aku selesai mengambil atributku dari balik jok motor. Saat langkahnya mulai mendekat,ku beranikan diriku untuk memandangnya. Tetapi dia sama sekali tak melihatku. Ku tunggu dia hingga ia selesai mengambil apa yang dia perlukan dari jok motornya. Setelah selesai mengambil dan hendak pergi,ku panggil dia…
          “Fa…..!!!”
          Dia menghentikan langkahnya,aku berdiri dari tempat dudukku…
          “Kamu nggak lihat aku disini?”
          Dia melanjutkan langkahnya…
          “Fafa!!!”
          Dia berhenti lagi tanpa sedikitpun menoleh ke arahku….
          “Aku lagi ngomong sama kamu…”
          “Aku kan udah bilang,aku nggak bakal punya waktu lagi buat kamu….”
          “Tapi aku masih punya banyak waktu buat kamu untuk ngejelasin se…”
          “Cukup. Bukannya semuanya sudah jelas? Kamu nggak ngelakuin kesalahan apa-apa sama aku. Aku hanya ingin kamu bahagia dan terlepas dari keegoisanku untuk tetap memilikimu….”
          “Tapi kalau sama kamu aja aku udah bahagia,untuk apa kamu maksa aku buat nyari orang lain???”
          Dia tak menjawab. Dia melanjutkan langkahnya lagi…
          “Fa!!! Fafa……!!!!”
     Suaraku tertahan oleh air mataku yang tanpa sengaja mengalir di pipiku begitu melihatnya pergi. Aku masih tak menyangka dia akan mengatakan hal demikian kepadaku. Sedingin itukah dia bersikap kepadaku?Secuek itukah hingga ia tak memandangku?Ku usap air mataku dan bergegas memakai atributku. Aku tersadar. Aku terlambat ikut latihan. Aku berlari menuju tempat latihan. Latihan sudah dimulai. Pak Gito sudah memberikan instruksi kepada para peserta. Aku berjalan perlahan ke arah beliau. Dan bentakan tegas seolah menyambar telingaku…
          “Heh!Kamu!!!! Dari mana saja?Kenapa kamu terlambat???”
          “Maaf,Pak….saya tadi...bangun kesiangan. Ibu saya lupa membangunkan saya. Dan juga atribut saya ketinggalan di jok motor pak..”
          “Seharusnya kamu sudah mandiri. Bangun tidur aja minta dibangunin. Udah nggak usah banyak alasan kamu. Sebagai hukumannya,push up 25 kali disini. Cepat!!!”
          “Siap,Pak!!!”
      Aku push up sebanyak 25 kali dan ditambah hukuman lari putar lapangan lima kali. Rasanya aku mau pingsan saja. Tak hanya latihan fisik,kami juga diajarkan yel-yel yang bertujuan agar para peserta tetap kompak,solid,dan semangat. Yel-yel pada tiap angkatan tentu berbeda. Semarak para peserta begitu bersemangat meneriakkannya. Salah satu dari peserta disuruh pelatih untuk maju menjadi pemimpin pesorak yel-yel. Mandala. Dia yang sepertinya akan menjadi tim inti yang mana akan berbaris bersama sang pembawa baki bendera. Karena terlalu kecapekan dan tertekan,aku tak bersemangat menyemarakkan yel-yel. Pak Gito kembali menegurku dan menyuruhku ke depan barisan. Beliau memintaku untuk menyuarakan yel-yel sendirian. Aku seperti digojlok sekarang. Kau tau betapa malunya aku ketika aku seolah dikerjain oleh pelatih di depan para peserta dan kakak PPI? Ya ini memalukan. 
      Walau begitu aku tetap menjalankan intruksi dengan sikap layaknya seorang paskibraka yang bertanggung jawab dan terlatih untuk disiplin. Aku ingin menunjukkan pada Fafa bahwa dia bukan sumber dari ketakutanku dan kelemahanku. Aku berusaha untuk melupakan rasa sakit di hatiku namun tiap kali aku berusaha dia seolah selalu menjadi penghalang bagiku. Lagi-lagi aku lemah. Lagi-lagi aku takut. Terutama mendapat hukuman dan dibentak oleh pelatih gara-gara aku kurang fokus dan konsentrasi. Aku nyaris putus asa. Ingin menghindar darinya namun dia selalu ikut mengamati jalannya latihan. Bahkan aku ingin mundur dari paskibraka. Aku tak bisa berhenti untuk memikirkannya. Aku tidak bisa berhenti untuk terbawa perasaan padanya.
Sampai pernah suatu ketika aku tidak kuat mengikuti latihan,aku pingsan. Kakak PPI panik dan membopong tubuhku menuju ke pos kesehatan. Setelah siuman aku menangis dan sempat ingin kabur karena saking tak kuatnya mengikuti latihan yang bagiku begitu berat mengingat aku baru saja patah hati dari teddy bear kematengan yang membuat fikiranku menjadi tak karuan. Namun,keinginanku tertahan oleh Raka yang saat itu sedang menjagaku. Dia memberiku ekstrak pudding dan juga susu. Aku tak selera untuk memakannya. Ku keluhkan semuanya kepada Raka…
“Aku udah nggak kuat,Ka…. Aku mau mundur aja…..”
“Hei,Meiy!Kamu nggak boleh bilang gitu. Kalau kamu mundur,nanti yang ngisi kekosongan posisi kamu siapa?”
“Kakak PPI juga banyak kan yang masih bisa?Udahlah….aku emang nggak pantes buat jadi paskibraka….Aku…Aaakkkuuu….nggak bisa Ka…”
 “Jangan sedih…Aku tau kamu bisa. Kamu harus berjuang. Buktikan kalau kamu bisa. Buktikan kalau kamu memang terlalu baik dan terbaik. Tapi bukan buat dia. Buat seluruh peserta,PPI,orangtuamu,kakakmu,hingga bupati sekalipun. Jangan nyerah,Meiyy! Kamu harus Semangat!!! Yuk kita kesana!”
      Lalu aku kembali ke barisan. Para peserta melihatku. Ku tampilkan wajah baik-baik saja namun aku tak bisa menutupinya. Setelah pelatih selesai memberi pengarahan dan wejangan,latihan usai. Sebelum pulang,aku dipanggil oleh kak Cici salah satu kakak PPI yang bersama Kak Adi. Dia menghampiriku….
          “Dek???”
          “Iya kak?”
          “Kamu udah sehat?”
          “Udah Kak.”
          “Kakak cuma mau bilang. Kamu nggak boleh nyerah. Kalau kamu nyerah,kamu akan kalah…Kakak tau,kenapa kamu bisa kaya gini. Kakak cuma ingin kamu fokus latihannya. Jadi paskibra itu nggak sembarang orang lho bisa ikut. Ini seperti kesempatan yang berharga dalam hidupmu kelak. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Buktikan kalau kamu bisa. Buktikan kalau kamu pantas jadi paskibraka. Jangan fikirin soal mantan,Buang seluruh rasa sakitmu dalam hentakan kaki. Luapkan kekesalanmu dalam ayunan tangan. Fokuskan pandanganmu ke arah mereka yang menyaksikan. Selamat berjuang,adekkk”
      Panjang. Lebar. Luas. Tapi mengena di fikiran dan perasaan. Itulah yang kurasakan ketika Kak Cici memberiku wejangan. Dan sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan.

                                      ***

Selasa, 27 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Dimana Ada Luka Disitu Ada Raka

        Ulangan Akhir Semester genap telah dimulai. Seperti biasa aku break dengan Fafa. Kami sama sekali tak berkomunikasi baik via bbm ataupun sms. Sama-sama saling menahan rindu untuk bertemu. Ku lalui dan jalani UAS kali ini dengan sungguh-sungguh. Aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku dan orang-orang yang telah mendoakanku kemarin. Dan selama delapan hari itu juga aku menahan cemas akan prediksi dari Shasha. Apakah benar mitos itu akan menjadi kenyataan? Ku singkirkan prediksi itu jauh-jauh dari fikiranku dan kembali fokus untuk belajar.
     Saat hari ketujuh UAS,tepat aku dan Fafa anniversary jadian yang ketujuh. Aku berharap besar ingin diucapkan happy anniversary olehnya. Namun selama seharian aku online,tak ada tanda-tanda bahwa harapanku terwujud. Aku sudah memancingnya lewat status yang ku pajang di profil BBMku. Apakah dia sengaja lupa atau ada hal lain yang akan dia lakukan untukku? Semacam surprise seperti ultah kemarin mungkin?Ah biarlah. UAS masih satu hari lagi. Aku harus tetap fokus menyelesaikannya dulu.
      Esok harinya,UAS terakhir. Mapel yang diujikan hanya satu dan soal yang diujikan itu mayoritas berasal dari buku lks yang ku pelajari semalam. Belum sempat bel tanda selesai berbunyi,aku keluar dari ruangan. Aku melihat sudah banyak teman-teman di kelas lain yang keluar karena begitu mudahnya soal yang diujikan. Setelah selesai mengerjakan,Aulin mengajakku untuk quality time di kedai yang biasa kami datangi. Disana aku curhat banyak soal Fafa padanya. 
        Kau tau?Siapa yang dulunya tidak setuju bila aku berpacaran dengan Fafa adalah Aulin. Bahkan dia sempat pernah bergumam kalau aku lebih cocok dengan Raka daripada dengan Fafa. Tapi bukan dia yang memberitahu anak IPS itu. Mungkin saja ada orang lain yang memang benci pada hubunganku dengan Fafa,karena sebelum kenal dekat denganku Fafa pernah memiliki hubungan dekat dengan anggota bantara almamater sekolahku. Aku tak cemburu padanya karena sudah nyata sekarang. Dia hanya didekati Fafa sedangkan aku sudah dijadikan sebagai kekasih oleh Fafa. Menang telak.
    Setelah selesai bercengkrama,Aulin mengantarkanku pulang. Sesampainya di rumah,tepat pukul dua belas siang aku menerima telfon dari nomor tak dikenal. Ku angkat telfon sembari naik ke atas balkon rumah…
          “Hallo??Assalamualaikum…???”
          “Hallo Waalaikumsalam….???Meiy….???”
          “Iya ini saya sendiri. Ini dengan siapa ya???”
          “Ini aku Fafa…..”
          “Eh kamuuu yang seminggu gak ada kabarnya???kamu ganti nomer ya???”
          “Hahaha….enggak kok…ini cuma nomer di hp yang satunya. Oh iyaa.... kamu lagi apa?”
          “Aku lagi nyantai aja,habis pulang sekolah…Kamu???”
          “Aku masih di sekolah,oh iyaa….aaku bisa ngomong sesuatu nggak sama kamu?”
          Aku mulai deg-degan. Jangan-jangan dia mau ngasih surprise ke aku…
          “Oh iya bisa kok bisa. Mau ngomong apa???”
          “Bisa enggak,emmm kalau hari ini kita…….. mulai temenan?”
          “Hah???Temenan???Maksudnya???”
          “Yaaaaaaa, kita jadi teman mulai hari ini….gimana???”
          “Ehmmm,…..bentar-bentar aku nggak ngerti deh sama perkataan kamu…Maksud kamu temenan apa???”
          “Yaaaaaa kita temenan….”
          “Putuskah???”
          “Enggak….bukan …..ehmmm…. gini intinya kamu dan aku jadi teman….”
          “Fa!maksud kamu apa sih?kamu kenapa minta aku jadi teman kamu?”
          “Eemmmmm…. Tolong dengerin dulu penjelasanku…..aku…”
          “Apa salahku,Fa?kamu kenapa sih seminggu ngilang terus jadi gini?udah bosen sama aku???”
          “Enggak Meiy…aku enggak bosen sama kamu….”
          “Terus kenapa?udah nggak sayang lagi sama aku?udah ada yang lain?yang lebih dari aku??”
        “Aku masih sayang sama kamu. Kamu terlalu baik buat aku….Tolong kamu nggak usah mikir yang macem-macem…aku pengen kita temenan bukan karena itu semua….”
       “Terus karena apa???karena aku terlalu baik buat kamu?terus kamu mau nyari yang lain yang justru lebih buruk daripada aku? Kamu sadar gak sih kalau kemarin kita annive???dan kamu nggak inget itu kan?terus sekarang kamu mau mutusin aku dengan alasan yang kaya gini????(perlahan suaraku hilang karena tertahan oleh air mataku)”
        “Maafin aku Meiy…..aku tau ini berat,kamu nggak salah apa-apa sama aku, aaaku aku masih inget kalau kita kemarin annivee……tapiiiii…..”
       “Tapi apaaa?!kamu tega Fa!!!!Tega!!!!!!! Aku nggak nyangka kamu bilang gitu ke aku… Aku nggak ngerti apa alesan kamu mutusin aku..aku…aku…. Akkku….masih sayang sama kamuu…..(air mataku mulai membasahi pipiku) daaannn….aku nggak mau temenan sama kamuuu…..aaaku belum siap kalau kamu pergiii…..”
        “Iyyyaaa….aku juga masih sayang sama kamuuu…..tapi setelah ku fikir-fikir lebih baik kita udahan sampe disini aja……Aku nggak bakal punya waktu buat kamu….Kamu terlalu baik buat aku….Daaaan aku pikir kamu bisa nyari yang lain yang lebih bahagiain kamu daripada aku…..Kita temenan aja ya???”
          “Aku nggak percaya kamu ngelakuin ini…”
          “Bismillah….kita putusss”
          “Jangan nyesel!!!”
          “Meiy…aakku”
      Ku tutup telfon dari Fafa. Seketika air mataku mengalir begitu deras membasahi pipiku. Aku tak pernah membayangkan hal ini terjadi. Mitos itu kini benar-benar terbukti. Fafa memutuskanku dengan alasan yang tak jelas seperti ini. Aku sudah terlanjur emosi. Aku sudah terlanjur kalut dan hancur dengan perasaanku sendiri…. Apa salahku Tuhannnn??? Haruskah aku bunuh diri?gantung diri?atau mati?agar dia tau seberapa besar rasa cinta dan sayangku untuknya???Harus ku tunjukkan apa lagi agar dia tau kalau aku benar-benar tulus mencintainya?Aku masih sayang padanya Tuhannn….Aku belum siap kehilangan dia…Aku belum siap kalau dia pergi….Aku belum siap kalau hubunganku berakhir….Aku belum siap untuk patah hati…..Bahkan sebentar lagi aku akan menyandang sebagai calon paskibraka,sama seperti dia. Dan nantinya dia yang akan melatihku…..
        Tuhaaaannnn……kenapa ini semua terjadi?Bagaimana nantinya perjuanganku untuk menjadi calon paskibraka?Apa salahku sampai Fafa memutuskanku???Apa yang membuat Fafa tega memutuskanku Tuhann…..???Tak sadarkah dia bahwa selama ini aku mati-matian mempertahankan hubunganku dengannya??? Tak sadarkah dia selama ini bahwa aku selalu merindukannya di setiap waktuku,mendekapnya dalam doaku,memeluknya dalam mimpiku?Tak sadarkah dia selama ini bahwa aku selalu menunggunya pulang ketika usai kegiatan???Tak sadarkah ia selama ini bahwa aku lah yang rela tersakiti bila teman-temanku selalu menyuruhku untuk putus dengannya hanya gara-gara aku lebih cocok dengan Raka??? Tak sadarkah dia selama ini bahwa dia yang membiarkanku menunggunya terlalu lama dan membuatku berharap besar bahwa akan ada kejutan surprise darinya untukku?
        Tak sadarkah dia bahwa dia baru saja menyakitiku?Melukai perasaanku?Mematahkan hatiku?Menghapus harapanku? Menghentikan mimpiku?Memaksaku untuk berteman dengannya? Menyuruhku mencari yang lain?Yang lebih membahagiakan?Yang lebih pantas menurutnya?Bukan keinginanku semata… Sungguh aku tidak bisa… Aku benar-benar belum siap untuk kehilangannya… Aku belum siap untuk ditinggalkan olehnya…… Melihatnya pergi…..Meninggalkanku sendiri disini….. Merasakan dia tak bersamaku lagi…Tak disisiku lagi…. Ini seperti tuan rumah yang menyuruhku untuk pulang… Untuk berhenti singgah…Untuk mengusirku agar segera pindah….. Aku harus pindah kemana lagi setelah ini???Air mataku mengalir tak henti-henti seharian,hingga semalaman. Aku tak tau sampai kapan air mataku akan berhenti mengalir hingga aku tertidur di atas bantal yang basah akibat derasnya air mata yang tumpah.
                                         ***
      Tangisku belum reda. Aku masih merasakan betapa pahitnya kejadian kemarin siang itu. Nafsu makanku hilang. Tubuhku lemas tak berdaya. Tak hanya sakit fisik,sakit hati juga kurasa mungkin selanjutnya sakit jiwa. Ku tegarkan diriku dan ku tenangkan diriku sembari bersiap untuk pergi menemuinya,di GOR nanti. Hari ini adalah hari terakhir pertemuan antara calon anggota paskibraka sebelum latihan dimulai. Panitia memberikan pengarahan kepada para peserta dan menghimbau agar tetap menjaga kondisi kesehatan selama liburan yang kebetulan liburan kali ini cukup lama karena bersamaan dengan libur kenaikan kelas,libur puasa Ramadan dan juga libur lebaran. 
        Aku tak tau hal apa yang nantinya ku lakukan selama liburan. Meratapi tangisanku?Patah hatiku?Pahitnya kisah cintaku?Dan terkubur dalam kesedihan yang tak tau sampai kapan akan berakhir. Dan kali ini berakhir. Pertemuannya yang ku maksud. Aku pulang dengan langkah lesu. Ingin aku menemuinya namun kehendak hati apa dikata? Tak ingin menambah duka lara ketika melihatnya. Tak ingin menambah sakit hati ketika memandangnya. Tak ingin terlihat menangis ketika dihadapannya. Tak ingin terlihat sedih ketika menatapnya. Dan aku tak ingin menemuinya. Aku rapuh. Aku layu. Aku redup. Aku seperti kehilangan harapan hidupku. Aku seperti kehilangan semangat hidupku. Aku belum bisa menerima segala sesuatu yang telah terjadi padaku. Aku terkulai lesu,lemah dan tak berdaya di jalan pulangku.
       Libur sekolah masih seminggu. Para siswa dihimbau untuk tetap berangkat sekolah sekalipun di sekolah tak ada kegiatan yang berarti. Aku tidak berangkat sekolah hari ini. Bedrest selama tiga hari semenjak kepergian Fafa dari hidupku. Dia tidak mati,hanya cintanya yang mati. Aku bahkan masih merindukannya ketika aku lagi sakit seperti ini. Aku juga masih berharap dia akan memberiku perhatian ketika keadaanku begini. Tapi semua hanya mimpi.. Aku tak bisa berhenti menyukainya,berhenti untuk mencintainya bahkan melupakannya pun aku tak bisa. Apalagi dipaksa. Pahitnya melebihi kepahitan kisah cintaku ketika bersama Andromeda. Lebih besar. Lebih dalam. Lebih menyakitkan.
       Selama aku putus dengan Fafa,aku belum bercerita sama sekali kepada sahabatku atau orang terdekatku. Bahkan orang tuaku pun tak tau kalau aku sakit karena patah hati. Sakit hati yang menyebabkanku sakit fisik. Semenjak putus,aku langsung menghapus semua hal yang berhubungan dengan Fafa. Kontak bbmnya,nomor telponnya,akun line,wa,kecuali instagram. Karena aku masih menandai akunnya di salah satu foto yang pernah aku upload. Aku tak ingin membencinya karena aku tak bisa membencinya. Setelah lima hari bedrest,hari jumat aku mulai berangkat ke sekolah. Mukaku sulit tersenyum sekarang kalau kata mas Rizal. Dia curiga,jangan-jangan aku sakit gara-gara kebanyakan mikirin Fafa. Iya mas Iya. Kepikiran orang yang baru saja membuat semangat hidupku menghilang dan tubuhku tumbang.
       Sesampainya di kelas,para sahabatku sudah menungguku. Mereka khawatir akan keadaanku. Belum sempat mereka bertanya,aku sudah menangis tersedu-sedu…
          “Meeeeiiiyyyyy….kamu kenapa?”
          “Kamu kenapa,Meeiy?kok pagi-pagi udah nangis,digodain om-om kamu?”
          “Eh…Lin!dia lagi nangis bukannya ditanyain baik-baik malah dibercandain…”
          “Kan,aku mau ngehibur dia,Rin….”
          “Meiiiyyy,kamu kenapa?cerita dong sama kita???”
          “Iya Meiiiiyyy,siapa tau kita bisa bantu ngasih solusi???”
         “Lagian juga kamu lagi puasa kan,kalau kamu nangis puasamu bisa batal lho,Meiy?”
          “Aku lagi pms…”
          “Ohhhh lagi pms,toh?kenapa sampe nangis gini?sakit ya emang?”
          “Ih Aulin lama-lama ngeselin ya?Meiy tuh jawab pertanyaan kamu yang nanyain soal puasa…gimana sih?”
          “Meeeiiiyyy cerita gih sama kita….kita ikutan sedih kalau kamu nangis gini….”
          Ku tenangkan diriku dan ku ambil tisu yang Riani beri…..
          “Kamu kenapa,Meiy???”
          “Mitosnya terbukti,Sha….”
          “Hah?maksudnya mitos???”
        “Ya Allah,Meiy…..maaf bukannya aku nakut-nakutin kamu waktu itu,cuma emang di internet juga udah banyak artikel yang bilang kayak gitu… Beneran deh aku nggak ada maksud buat ngedoain kamu biar cepat putus…”
          “Lho???Kamu putus sama Fafa???”
          Aku mengangguk dan mengatur sesaknya jalan nafasku…
       “Aduuuhhhh Meiiiiiyyy……aku jadi ikutin sedih nih?”Aulin memelukku,diikuti Arin,Shasha,dan juga Riani… Air mataku mengalir lagi….
          “Kok bisa putus gimana ceritanya,Meiy?Kok Fafa  nggak cerita ya ke aku?padahal kemarin ahad sebelum puasa,aku,dia dan Dhede sempet ketemu dan CFDan bareng lho….”
          “Aku nggak tau,Rin. Dia tiba-tiba hari sabtu kemarin nelfon aku dan bilang mau temenan… Sumpahh aku nggak kuat ini…”
      “Sabar….Meiy….kamu kuat kok. Masih ada kita disini,kamu nggak usah khawatir,Meiy….kita selalu ada buat kamu…”
          “Mau temenan?Hah maksudnya temenan?putus gitu?”
          “Dia nggak bilang putus secara langsung……”
          “Terus alasan dia mutusin kamu kenapa?”
        “Aku nggak tau alesannya kenapa…..alesannya tuh nggak jelas,intinya…dia nggak bakal punya waktu buat aku lagi….huhuhu…..”
        “Kok aneh ya?kamu nggak nanya gitu atau nginterogasi dia biar dia mau ngejelasin alasan mutusin kamu???”
         “Aku nggak tau,Rin…..aku bener-bener down,semenjak dia mutusin, aku udah nggak kontakan lagi sama dia. Dia tuh kayak udah kukuh gitu buat mutusin aku….aku pasrah,semuanya sekarang udah hancurrrr…..”
       “Udahlah Meiy….kamu tenangin diri kamu dulu….Kamu kan lagi sakit,kamu istirahat aja….jangan terlalu mikirin dia yang udah ninggalin kamu…aku percaya kok dia pasti nyesel udah mutusin kamu…..Senyum dong (rayu Shasha sambil mengusap air mataku)”
                                        ***
        Hari-hariku begitu berat sekarang. Semua tak seperti dulu lagi. Semuanya berubah sekarang. Semuanya sudah berbeda. Mau ngapa-ngapain pun rasanya aku setengah hati melakukannya. Gairah untuk hidup seakan lenyap begitu dia pergi meninggalkanku. Oke ini lebay. Tapi memang kenyataannya seperti ini. Ini aku yang merasakan. Ini aku yang mengalami. Kau tak tau kan bagaimana rasanya ditinggalkan seseorang ketika kau sedang sayang-sayangnya kepada dia? Kau tak tau kan rasanya mendapat luka usai mendapat kejutan? Kau tak tau kan rasanya diputus setelah anniversary jadian? Percayalah ini lebih sakit daripada ditolak saat ingin jadian.
        Kurang lebih setelah seminggu berpuasa,kelasku mengadakan buka bersama. Aulin mengajak Shasha dan juga aku untuk menjadi koordinator atau panitia yang memesankan makanan untuk buka bersama. Aku sebenarnya masih malas untuk keluar rumah. Tapi dengan ajakan Aulin yang begitu antusias sekali,aku jadi mau walau sedikit terpaksa. Kami memesan tempat dan makanan dua hari sebelum hari H. Aulin memutuskan untuk memilih tempat di daerah dimana aku biasanya pergi makan siang bersama Fafa. Aku tak ingin melihat tempat itu karena perasaanku masih sensitif. Sesampainya kami di rumah makan,kami memesan makanan dan satu meja berjajar panjang untuk 25 orang. Jumlah siswa di kelasku ada 32 orang. 7 orang tidak ikut dengan alasan yang tak jelas,sama seperti Fafa (Baper…) Setelah sepakat,kami pulang dan berniat untuk membeli kurma sebagai manisan untuk berbuka.
        Hari H,aku berangkat kesana dijemput oleh Aulin. Sebenarnya selama puasa aku punya banyak jadwal buka bersama dengan banyak orang,organisasi atau alumni sekolahku dulu selain bukber kelas kali ini. Semuanya akan ku datangi. Meskipun aku belum sembuh dari luka patah hati. Namun setidaknya bertemu kawan-kawan dan orang lama akan membuat patah hatiku sedikit terobati. Aku dan Aulin berangkat menuju TKP disusul Shasha. Sesampainya disana,teman-temanku masih menunggu yang lainnya. Aku hanya diam sambil merenungi rumah makan di samping rumah makan yang aku tempati sekarang. Begitu banyak kenangan,impian,canda tawa,keluh kesah,dan memori yang indah yang pernah tercipta disana. Sampai seseorang membuyarkan lamunanku tentang dirinya…
          “Oey!jangan ngalamun,ntar kesambet lho!”
          “Ih…Raka apaan sih?”
          “Hehehe….lagian kenapa sih?bulan puasa nggak boleh ngalamun,entar kesambet setan…”
          “Bulan puasa bukannya nggak ada setan ya?”
          “Yaaaaa setannya muncul kalau kita ngalamun. Ngelamunin apa sih?sampe mata kamu besar gitu?”
          “Ooohhh nggak,ini cuma kurang tidur kok…”
          “Masak kurang tidur???Kok malah kayak orang habis nangis gitu ya?”
          “Udah deh,Ka…. Jangan ngehalangin lamunanku gini…..”
          “Daripada ngelamun mending gitaran sama aku yuk….?kita nyanyi sambil nunggu adzan maghrib…”
          “Ogah ah!”
        Aku pindah tempat dan pergi menghindar dari Raka. Semenjak putus,aku jadi sensitif dengan laki-laki. Aku pikir semua laki-laki itu sama saja. Kalau sudah bosen ya sudah. Senjata khususnya putus dan menghilang. Gampang tinggal nyari yang lain lagi. Aku muak dengan yang namanya laki-laki. Untuk sekarang sih,tidak tau kalau besok.
      Adzan maghrib mulai berkumandang. Kami pun mulai berbuka puasa. Ada yang gantian untuk sholat dan ada juga yang berbuka agar nanti pulangnya tidak kemalaman. Setelah semuanya selesai berbuka dan menunaikan sholat maghrib,kami berfoto selfie bersama. Aku membayar bill. Setelah usai,kami pulang ke rumah masing-masing. Saat di parkiran,Raka memanggilku dan hendak mengantarkanku pulang. Sejujurnya aku masih sensitif,tetapi karena aku dulu pernah bilang kalau dia boleh mengantarkanku kapan saja ketika sempat jadi aku menyetujuinya. 
      Di sepanjang perjalanan pulang dibonceng Raka,aku kembali baper tentang kenanganku dengan Fafa. Dulu selesai makan siang aku sering diantar pulang seperti ini. Saat hujan-hujan,saat selesai les renang,saat pulang dari les,dan saat Raka akan menawarkanku boncengan. Berulang kali dibonceng olehnya aku selalu menyandarkan kepalaku dibahunya. Dan tanpa sadar air mataku menetes di pipiku hingga Raka sudah di depan rumahku. Ku usap air mataku dan ku ucap terima kasih pada Raka. Saat aku berbalik,dia menepuk pundakku…
          “Lho,kamu kenapa Meiy?kok nangis?”
          Aku hanya menggelengkan kepalaku….
          “Tadi aku boncengnya ngebut ya?terus mata kamu perih gitu?”
     Aku menggelengkan kepalaku lagi. Raka mulai memarkirkan motornya dan membawa serta gitarnya. Kami duduk di teras rumah sambil memandang langit malam penuh bintang. Namun bagiku langit yang ku lihat hampa sekarang,seperti perasaanku saat ini. Dia duduk di sampingku dan mengulangi pertanyaannya lagi…
          “Jadi,kamu kenapa sih sebenernya?ada masalah apa sampai kamu jadi kayak gini…?”
          Ku gelengkan kepalaku yang ketiga kalinya
          “Yasudah kalau kamu nggak mau cerita sama aku,Tapi aku boleh kan gitaran disini? Aku nggak minta recehan kok. Aku cuma baru belajar aransemen lagu baru. Mau denger nggak?”
          Aku hanya mengangguk. Kemudian dia bernyanyi…..
Jreng Jreng Jreng
‘Engkau yang sedang patah hati…
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan…
Betapa pedih hati yang tersakiti….
Racun yang membunuhmu secara perlahan….
Engkau yang saat ini pilu…..
Betapa menanggung beban kepedihan….
Tumpahkan sedih itu dalam tangismu…..
Yang menusuk relung hati yang paling dalam….
Hanya diri sendiri….
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti…..
Disini ku temani kau dalam tangismu…..
Bila air mata dapat cairkan hati……
Kan ku cabut duri perih dalam hatimu…..
Agar ku lihat senyum ditidurmu malam nanti…..
Anggap lah semua ini…..
Satu langkah dewasakan diri….
Dan tak terpungkiri juga bagi…’
      Tangisku pecah begitu dia melantunkan lagu untukku. Pundaknya basah oleh tangisku malam itu. Ketika tangisku tak terbendung lagi,dia menghentikan gitarannya dan merangkul pundakku. Dia juga mengusap air mata di pipiku dan membelai lembut kepalaku. Aku merasa nyaman disisinya. Seolah patah hatiku perlahan diobati karenanya. Sambil bersandar,aku berbisik dalam hati…
          ‘Aku pulang,Ka…..
          ‘Aku lemah…
          ‘Aku ingin pindah….
          ‘Aku mau singgah…
          ‘Di rumahmu… Bersamamu…
          ‘Bolehkah???’

                                      ***