Latihan demi latihan ku lalui dengan keseriusan. Aku tau. Ini tak
mudah. Ini tak ringan. Ini membosankan. Ini mengasah keberanian. Ini mengundang
amarah. Ini menguras seluruh energi dan kekuatanku. Ku perjuangkan semuanya. Ku
luapkan seluruhnya. Ku hempaskan segalanya. Ku habiskan tenaga dan kerja
kerasku untuk latihan. Aku sedang mengemban tanggung jawab yang berat. Aku
sedang menopang amanah yang besar. Aku sedang berjuang untuk negara. Aku sedang
berusaha keras untuk tidak menyerah pada keadaan. Mereka membutuhkanku. Mereka
menginginkanku. Mereka mengharapkanku. Mereka tau aku bisa. Mereka tau aku
dapat melakukannya. Pasti. Akan aku wujudkan mimpi mereka.
Semasa
gencar-gencarnya latihan,biasanya seusai pulang sekolah Raka sering mampir ke
rumahku. Aku tak bisa baper dengan permintaannya. Karena sejujurnya aku belum
bisa move on dari Fafa. Tapi aku mengalihkan fikiranku pada latihan yang setiap
hari ku lalui. Raka jarang sekali ikut melatih capaska. Dia hanya sesekali
meminta surat ijin untuk melatih capaska. Dia main ke rumahku karena ada
maunya. Mau mengajariku apa yang tadi pagi diajarkan di sekolah. Ya ini balas
budi katanya. Aku hanya mengiyakannya saja. Seusai belajar bersama kami berbincang
di teras rumah. Berbincang soal paskibraka tentunya. Aku masih enggan
menceritakan retaknya hubunganku dengan Fafa pada Raka. Untuk pembaca setia tau
kan kenapa? Intinya ada kaitannya dengan Raka dan aku ngerasa nggak enak hati
sama dia. Selain mengajariku,dia juga melatihku baris-berbaris yang benar. Gerakan
tiap gerakan selalu diajarkannya dengan detail. Dengan sabar ia melatihku untuk
tidak menyerah dan selalu memperbaiki kesalahan.
Hari berganti hari latihan
tak terasa dilalui oleh para peserta calon paskibraka. Panasnya terik
matahari,bercucurannya keringat yang membasahi,lelahnya tangan dan kaki seolah
menjadi makanan keseharian para capaska. Mereka menikmatinya dengan
senyuman,canda tawa,dan keriuhan mengobarkan semangat dalam yel-yel dengan serempak.
Tapi keriuhan itu tak terdengar lagi di dekat stadion sepak bola. Kini latihan
sudah dialihkan menuju ke alun-alun pusat kota. Sebelum latihan kami diberi
topi khusus agar tidak kepanasan. Aku sering menyebutnya ‘topi yang ada
kipasnya’ Karena bentuk dari topi itu di bagian belakangnya ada sehelai kain
yang menutupi leher. Jadi kalau kita berjalan kain yang ada belakangnya itu akan tertiup angin dan rasanya
seperti berhembus angin dari belakang layaknya kipas angin. Atau bisa juga dibilang ‘topi superman’
karena bisa saja kainnya itu seperti sayap belakang superman. Oke ini nggak
penting tapi aku masih mau mau saja membahasnya.
Di hari pertama
latihan di alun-alun,ada pembagian tim untuk para paskibraka. Dari seluruh 64
anggota calon paskibraka,dibagi menjadi 3 pasukan. Keempat pasukan dinamai
sesuai tanggal ulang tahun Republik Indonesia. Ada pasukan 17 yang berada di
bagian depan,pasukan 8 khusus pembawa baki dan pengibar bendera,dan pasukan 45 yang
ada di bagian belakang. Pembagian anggota pasukan ini disesuaikan berdasarkan
tinggi badan. Meskipun semua peserta lolos seleksi,ketelitian tinggi badan mereka
tetap berbeda-beda. Hari ini panitia juga mengadakan seleksi untuk calon
pembawa baki dan pengibar bendera. Panitia akan memilih siapa yang pantas
menjadi pembawa baki dan pengibar bendera di barisan pleton satu dan di barisan
pleton 2. Dan alangkah terkejutnya aku ketika aku dicalonkan bersama Tria untuk
masuk di barisan pasukan 8. Aku sebenarnya ingin menjadi pasukan belakang saja
karena ada satu hal yang membuatku menjadi canggung untuk bekerja sama bersama
Tria.
Oh iya,kamu harus tau. Semenjak aku putus
dengan Fafa,Tria jadi menjauhiku. Entah karena apa dia tidak pernah berkumpul
bersama denganku lagi. Dulu dia juga pernah bilang kalau Fafa adalah pacar
idaman. Mungin karena tubuhnya yang gagah atau bagaimana,aku tak mengerti. Dan
aku jadi curiga karenanya. Setiap kali seusai latihan,Tria selalu menunggu
seseorang di parkiran. Dan suatu ketika aku menunggunya di tempat
tersembunyi,ternyata dia menunggu Fafa. Seruni,temanku yang satu barisan
denganku juga pernah tau kalau Tria pernah dilatih privat oleh Fafa diujung
GOR. Kau tau kan perasaanku seperti apa begitu Seruni bercerita demikian? Aku
rasa Tria suka pada Fafa dan mungkin Fafa juga merespon hal yang sama. Atau
gara-gara dia,Fafa jadi memutuskanku?Ah aku tak boleh berprasangka buruk.
Mungkin kita satu keluarga tapi kita bersaing satu sama lain.
Begitu panitia
memutuskan aku yang akan menjadi pembawa baki ketika pengibaran bendera,Tria
agak sedikit tidak terima. Dia memasang wajah kecewa dengan keputusan panitia.
Dia ingin menjadi pembawa baki saat pengibaran bendera. Namun ini keputusan
dari panitia dan tidak dapat diganggu gugat. Aku sempat ingin mengundurkan diri
dan hendak memilih barisan belakang,ku urungkan niatku karena melihat Tria
dibentak dan ditegur tegas oleh pelatih. Aku pun menerima dengan lapang dada.
***
Latihan setiap hari
ku lalui dengan agak sedikit tekanan. Karena pembawa baki berjalan tidak
menggunakan gerakan tangan. Membawa baki berlapis kain tebal berwarna kuning
yang di atasnya terdapat bendera sakral Sang Saka Merah Putih. Aku masih tidak
percaya kalau aku yang akan membawanya nanti. Ketidak percayaanku ini seolah
membuatku berasumsi bahwa akulah yang mengemban tugas paling berat. Kakak PPI
terus memberiku semangat agar nantinya aku bisa menjalankan tugasku dengan
sempurna. Di lain waktu latihan,pasukan delapan dilatih secara intensif dan
privasi. Yang bertugas menjadi pengibar
bendera adalah Hendra,Mandala dan juga Reza. Mereka semua adalah teman-teman
seperjuangan,satu keluarga dan satu angkatan calon paskibraka.
Tak terasa H-7
upacara akan segera dilaksanakan. Latihan semakin digencar dan dimaksimalkan.
Tak kenal lelah. Tak kenal menyerah. Terus memupuk jerih payah. Terus bekerja
keras dan berusaha untuk menampilkan yang terbaik. Sempurna. Dan akan terkenang
sepanjang masa. Hari ini panitia membagikan kendit khas paskibraka yang
berwarna hijau yang nantinya digunakan untuk acara pengukuhan paskibra tiga
hari sebelum upacara dilaksanakan. Dan di hari ini juga seragam resmi khas
paskibraka beserta atributnya diberikan. Itu berarti nantinya para peserta akan
resmi menjadi paskibraka kabupaten tahun ini. Aku jadi semakin tertekan dan tak
percaya saja.
Setelah pembagian seragam,para capaska melaksanakan gladi kotor
pengukuhan. Selanjutnya datanglah pihak dinas pemuda dan olahraga datang
memberikan wejangan,saran,dan juga semangat agar para capaska tak mudah
menyerah meski latihan membuat mereka kelelahan. Tapi seperti kata Fafa ‘semua
kelelahan dan kecapekan itu akan terbayar ketika hari H pengibaran bendera’ Nah
baper lagi…
Hari Pengukuhan kini telah tiba. Aku bersiap menuju kesana
diantar oleh ayah dan ibuku. Di dalam mobil ayah sempat bilang bahwa dia tak
percaya kalau anaknya yang manja akan menjadi paskibraka. Begitu aku turun dari
mobil,mereka ikut mengantarkanku sampai di gerbang kabupaten. Mereka
memelukku,ku cium kedua tangan mereka,dan ku ucap salam sembari meminta doa
restu kepada mereka. Ku lambaikan tangan kepada mereka dan bergegas menuju ke
pelataran pendopo kabupaten. Semua peserta telah berbaris memanjang tiga saf.
Nama tiap peserta tercantum di bawah mereka berdiri. Mereka semua bersiap.
Tak
berapa lama datanglah Pak Bupati dan para stafnya. Beliau yang nantinya akan
memimpin pengukuhan dan mengukuhkan 64 calon paskibraka. Pengukuhan
dilaksanakan. Situasi pengukuhanpun begitu sakral dan khidmat. Satu persatu
peserta maju ke depan menghadap bendera Sang Saka Merah Putih yang telah dibawa
dan ditopang tegak oleh Fafa. Iya Fafa. Dia yang memegang tiang bendera Sang Saka.
Suasana hening dan penuh keharuan menyelimuti para calon anggota paskibraka
begitu mereka maju ke depan. Terutama diriku. Antara tangis haru mencium dan
menghormati bendera Sang Saka Merah Putih dan tangis pilu menghadap Sang
pemegang tiang Saka Merah Putih.
Sungguh,ini momen yang begitu mengharukan
begitu aku mencium bendera Sang Merah Putih. Rasa Nasionalisme,Patriotisme dan
kecintaan terhadap kebangsaanku seakan begitu memuncak dan muncul dengan sejuta
gelora kebanggaan menjadi warga negara Indonesia yang nantinya akan membawa
bendera pusaka. Namun ku tahan air mata ini sekuat tenaga agar rasa ini tak
merusak suasana khidmat pengukuhan. Begitu pengukuhan selesai Bapak bupati
menyalami para anggota resmi paskibraka tahun ini dan berfoto bersama mereka. Pak
Bupati seakan mempercayakan amanah dan tanggung jawab negara kepada para paskibraka
untuk mengibarkan bendera di kemudian hari.
***
Hari
ini,tepat Indonesia berulang tahun yang ketujuh puluh satu. Aku berangkat
menuju pendopo diantar oleh ayahku. Para paskibraka diwajibkan untuk datang ke
sana pukul enam pagi untuk persiapan seperti make up,pemakaian atribut,dsb.
Setelah sampai disana para perias siap merias para paskibraka di ruang
persiapan. Baik putra maupun putri semuanya dirias agar tampil cantik dan gagah
ketika bertugas. Setelah semuanya selesai di make up dan memakai atribut,ada
sarapan pagi special untuk hari ini. Ekstrak pudding kali ini tidak seperti
biasanya,jauh lebih enak dan mengenyangkan. Seusai sarapan,para paskibraka
bersiap di halaman pendopo untuk berfoto selfie atau sekedar mempersiapkan
semuanya yang ada. Aku yang dari tadi masih di ruang persiapan walau sudah ikut
sarapan,berusaha menghangatkan tangan yang rasanya dingin sekali. Sarung
tanganku nyaris basah oleh keringatku sendiri sampai-sampai ku lepas sebelum
acara dimulai mengingat ini momen langka dan terpenting di hidupku. Jantungku
juga berdetak begitu kencang hingga aku tak sanggup untuk mengontrolnya.
Upacara
dilaksanakan pukul sepuluh pagi. Semua jalan yang menuju alun-alun pusat kota
ditutup dan dialihkan ke jalan lainnya. Semua paskibraka bersiap di jalan yang
terletak sudut belakang masjid pusat kota. Tak lupa mereka semua meneriakkan
yel-yel kebanggaan dan berdoa dengan khusyuk agar diberi kelancaran. Banyak
batalyon perwira TNI,tenaga pengajar,para pelajar,tim paduan suara,hingga tim
Marching Band sekolahku mengikuti upacara HUT RI dan berkumpul di lapangan
alun-alun simpang tujuh. Setelah para pemimpin barisan selesai menyiapkan
barisannya,upacara dimulai. Tahap demi tahap tata upacara bendera dilaksanakan
hingga tibalah saatnya pengibaran bendera Sang Merah Putih.
Kami semua
bersiap. Pasukan delapan yang berada di
tengah diiringi oleh tim paskibraka dari TNI yang berada di samping kanan dan
kiri pembawa baki. Semua mata tertuju pada kami. Tim pasukan pengibar bendera
tahun ini. Begitu serentak derap langkah hentakan kaki. Rumput hijau dan terik
mentari seolah menjadi saksi bisu perwujudan tugas ini. Langkah tiap langkah ku
lalui dengan hati-hati. Menyerahkan bendera pusaka merah putih kepada sang
bupati. Tim pasukan pengibar bendera siap beraksi. Mengibarkan bendera Sang
Merah Putih di langit yang tinggi. Kelak akan menjadi saksi perjalanan hidup di
hari tua nanti.
Alunan
lagu kebangsaan mengiringi pengibaran Sang Saka Merah Putih. Rasa hormat penuh
keharuan menyelimuti para tim paskibraka. Semua perjuangan,pengorbanan,dan
pengabdian selama di karantina seolah terbayar lunas pagi ini. Tetes keringat
dan air mata begitu membasahi para pasukan tim paskibraka seusai upacara
dilaksanakan. Seruan yel-yel begitu semangat dikumandangkan oleh para
paskibraka. Amanah dan tanggung jawab kini terselesaikan secara perlahan
mengingat nanti sore pukul lima akan diadakan upacara penurunan bendera. Aku
jadi teringat pada mereka yang pernah singgah di hatiku. Jadi begini rasanya jadi
paskibraka? Berat tapi menyenangkan. Setelah upacara selesai,para paskibraka
beristirahat dan pulang ke rumah masing-masing pukul 12 siang.
***
Pukul
dua siang aku kembali ke pendopo lagi untuk persiapan penurunan bendera. Kali
ini aku tidak serepot tadi pagi karena yang membawa baki adalah Tria. Dia sudah
cukup menerima dengan lapang dada kali ini. Tapi satu hal yang mengejutkan. Dia
bilang padaku kalau dia ternyata sedang dekat dengan Fafa. Tapi dia tidak ingin
berpacaran dengannya karena katanya seorang senior dilarang menjalin hubungan
dengan juniornya. Aku jadi teringat,apa mungkin Fafa memutuskanku hanya
gara-gara alasan ini? Entahlah. Aku cuti untuk memikirkannya kali ini. Kalau
tidak,semuanya akan kacau.
Pukul
empat sore upacara penurunan bendera dilaksanakan. Semua terlaksana dengan lancar
seperti tadi pagi. Tapi tak sekhidmat tadi pagi karena banyak kendaraan yang
melintas di sekeliling jalan yang bertanda palang ditutup. Ditambah lagi banyak
para penonton yang ingin melihat upacara penurunan bendera. Setelah upacara
penurunan bendera selesai,kami beristirahat dan menunaikan sholat maghrib.
Seusai melaksanakan sholat maghrib,kami mempersiapkan diri untuk acara resepsi kenegaraan.
Aku jadi teringat akan pertama kalinya aku mengenal Fafa. Dulu aku melihatnya
via instagram di dalam foto yang Riani upload yang menandai Fafa. Saat itu Fafa
sedang ada dalam acara resepsi kenegaraan seperti sekarang.
Aku berjalan keluar pendopo dan
mengeluarkan ponselku. Sedari siang sahabat-sahabatku berjanji akan menyambangi
pendopo untuk berfoto bersamaku. Aku jadi teringat lagi. Dulu Riani berfoto
bersama pacarnya dan Marjo,juga Fafa. Sekarang aku sudah jadi paskib,apa mereka
(Raka dan Fafa) tak berniat untuk foto bersamaku malam ini?Sekedar menemuiku
pun tak ada niatkah? Aku pun tertegun pada fikiranku sendiri. Berjuang melawan kepedihan
patah hati di medan lapangan. Belajar melawan perasaan dari kenyataan yang
tidak sejalan. Hingga aku menyadari bahwa sahabatku sudah datang kemari. Mereka
langsung berteriak dan memelukku. Dan tak lupa mereka berfoto selfie bersamaku.
Aku merasa terhibur sekarang…
“Meeeeeieiiiiiyyyyy
kamu jadi cewek gak usah sok tinggi gini deh!High hellsmu trepes
nanti…wkwkwkkw”
“Ah
kamu Lin…..emangnya ada highhells trepes?”
“Hahaha….”
“Eh,Meiy?kok
nggak ada Raka ataupun Fafa sih?Mereka PPI kan?”
“Entah….aku
nggak ketemu mereka dari tadi pagi….”
“Kenapa
ya?atau jangan-jangan mereka gak mau rebutan kali buat foto bareng sama
kamu…eeeaaaaa…eeeeaaaaaa..”
“Apaan
sih Lin?garing ah”
“Ciyeeee
gitu sekarang cuek sama mantan”
Resepsi
kenegaraan pun dimulai. Banyak para pria dan wanita paruh baya yang bekerja di
instansi pemerintahan kota menghadiri undangan. Acara diisi dengan
mengumandangkan lagu kebangsaan dan pidato dari bapak bupati dan juga acara
yang lainnya yang tak perlu ku jelaskan disini. Di akhir acara para paskibraka
bernyanyi bersama mendendangkan lagu ‘kemesraan ini’. Duh rasanya aku tak ingin
berpisah dengan mereka. Banyak kenangan yang terukir dalam memori,banyak kisah
suka duka yang tertanam dalam sanubari,dan semuanya tercipta dalam satu
keluarga yang kompak dan harmoni.
Pukul 12 malam acara resepsi kenegaraan
selesai. Kau tau kan betapa lelahnya aku seharian ini? Aku pulang dijemput oleh
orang tuaku. Semua terbayar sudah sekarang. Waktunya untuk pulang. Pulang ke
rumah. Rumahnya siapa? Ya rumahku. Tapi di perjalanan cintaku,apa aku harus
pulang ke rumah lamaku juga? Entahlah….
***