Samar-samar
cahaya putih menyorot mataku. Perlahan ku buka mataku. Terlihat cahaya putih
dan ruangan serba putih di pandanganku. Ku kedip-kedipkan mataku beberapa kali.
Terlihat juga selang infus di tangan kananku dan seorang pria sedang memegang
tangan kiriku. Ku kedipkan mataku seakan aku sedang bermimpi. Pria itu terkejut
dan berkata
“Meiy?kamu
udah siuman?”
“E..ee…ee…..aku
dimana?”
“Kamu
lagi ada di rumah sakit. Semalam pingsan dan baru siuman siang ini. Aku
panggilin dokter dulu ya?”
“E…eee…….kamu
ngapain disini?”
Pria
itu pergi meninggalkanku. Pria yang bersamaku itu adalah Fafa. Aku masih belum
sadar akan ingatanku. Aku berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi. Namun
kepalaku terasa sangat berat. Ku gerakkan sedikit badanku. Rasanya kaku dan
agak sedikit rimpi. Saat aku mencari posisi yang nyaman,tiba-tiba dokter
datang…
“Eh
jangan banyak gerak dulu. Kamu kan baru siuman.” Perintah Fafa
Sambil
dokter memeriksa ,aku memandangi ibu jari kaki sebelah kananku yang diperban.
Rasanya cukup aneh. Aku mulai mengingatnya. Malam minggu itu aku terjatuh dari
motor dan pingsan seusai melihat karnaval. Namun aku bingung. Jadi sebenarnya
aku jatuh dengan gaya bagaimana? Rasanya-rasanya semua badanku terasa
kaku,terkilir,encok,dan saking anehnya hanya ibu jari yang diperban. Apa mungkin
karena terinjak-injak malam kemarin itu ataukah karena memang jatuh dan terluka?
Dokter mendiagnosa kesehatanku mulai membaik. Setelah dokter pergi meninggalkan
ruangan,Fafa mendekat ke sisi kiri ranjangku. Dia memandangku dengan tatapan
sumringah kali ini
“Syukurlah
kalau kamu udah sadar. Aku kira kamu mau bunuh diri gara-gara batal foto sama
aku”
“Apaan
sih?gila kali aku mau bunuh diri dengan alasan konyol kayak gitu”
“Hahahah…..jangan
ngambek terus ah!Oh iya,kamu gimana ceritanya sih bisa jatuh gini?”
“Seharusnya
yang tanya kan aku. Kenapa aku bisa ada disini?Kenapa badanku sakit semua? Dan
kenapa mbak Nia nggak ada? Hah? Mbak Nia? Mbak Nia dimana Fa?”
“Mbak
Nia? Siapa? Bukannya kakakmu itu cuma mas Rizal ya?”
“Aduh!Aku
nonton karnaval kan sama mbak Nia,mbak Nia yang boncengin aku. Dia sekarang
dimana?Jangan bilang………….”Pikiranku mulai kacau. Aku takut tak melihat mbak Nia
lagi selamanya
“Mbak
Nia masih hidup kan Fa?Mbak Nia baik ba….”
“Eh
eh eh Ssssssstttt(jari telunjuknya mendekat di bibirku)kamu nggak usah panik
gini deh. Mbak Nia udah pulang kok. Dia baik baik aja. Dia udah kesini tadi
baru aja pulang sebelum kamu siuman. Kamu pulihin kesehatan kamu dulu. Kalau kamu udah pulih,aku janji deh bakal nraktir kamu makan. Tau nggak?Saat aku
denger kabar kamu kecelakaan,aku takut dan langsung ngehubungin kamu.
Tanya-tanya orang lain sampai kaya orang gila. Aku takut nggak bisa ketemu kamu
lagi. Aku takut nggak bisa nraktir kamu lagi. Dan aku takut kehilangan kamu…..”
Tatapannya
tajam menyorot kedua bola mataku. Dari tatapannya aku merasa bahwa apa yang dia
katakan begitu tulus sekali. Tapi biarpun begitu,aku berusaha untuk
menghalaunya. Aku masih kesal dengannya karena ia tak mau berfoto bersamaku
malam itu.
“Huh.
Paling juga yang ada kamu bakal seneng kalau aku udah nggak ada kan nantinya
nggak yang ngrepotin kamu lagi,iya kan?”
“Heh
nggak baik lho su’udzon sama orang. Aku sama sekali nggak berpikiran seperti
itu,Meiy. Ya udah deh kalau kamu nggak percaya sama perkataanku”Dia melepas
genggaman tangannya
“HAHA!
Gitu aja ngambek?huh..oh iya,hpku dimana?kok kamu yang ada disini?kenapa
ibu…ayah…mas Rizal nggak kesini ya?”
“Kamu
nanya apa ngusir?Baru juga siuman udah belagu. Mereka aku larang buat jenguk
kamu!”
“Eh
!kamu kok nyolot gitu sih?kamu emang siapanya aku?Cepet ambilin hpku!”
Pandangan
matanya kali ini berbeda. Perkataanku tadi seakan membuatnya tertegun sejenak
memikirkan sesuatu yang tak pasti. Dia mengalihkan pandangannya dariku. Ku coba
menanyakannya lagi untuk mencairkan suasana
“Fa?Kamu
nggak apa-apa kan?”
“Huh”Dia
melihat sejenak lalu berpaling kesal layaknya orang lagi ngambek
“Heh,nggak
usah sok ngambek gitu deh. Seharusnya kan aku yang ngambek. Buruan gih ambilin
hpku!”
“Nggak
mau!”
“Duh
ya ini anak keras kepala banget. Fa,aku butuh hpku buat ngehubungin keluargaku.
Udahlah nggak usah kelamaan gini”
“Ada
syaratnya…”
“Ahelah
pake syarat segala. Apaan sih?ih udah deh. Aku serius…”
“Kalau butuh dan itu penting ya diusahain dapet dong!”
“Yaudah
yaudah,karena cuma kamu yang bisa aku mintain tolong,yaudah syaratnya apa?”
“Besok
jumat harus ikut aku”
“Kemana?”
“Ya
harus ikut aku intinya. Ga boleh nolak. Aku cuma mau ngajak makan kok. Sebagai
permintaan maafku telah mengecewakanmu”
“Hahaha
yah elah,oke oke. Mana hpku?”Diapun menyerahkan hpku.
***
Hari
Senin ku jalani dengan penuh rasa syukur. Alhamdulillah aku masih diberi
kesempatan untuk bangun,untuk bersekolah,dan untuk menikmati teriknya matahari
saat upacara seperti ini. Huh…sepanas apapun harus tetap disyukuri. Coba aja
matahari seharian nggak bersinar,nggak bisa bayangin dunia gelapnya kaya apa
kan? Mungkin lebih hitam lagi dari si doi. Yah meskipun dia hitam,aku tetap
menyukainya. Dia hitam kan bukan karena keturunan tapi karena mengemban tugas
Negara seperti yang aku lihat ini. Seorang paskib yang sedang mengerek bendera
pusaka merah putih. Tiap kali upacara aku hanya ingin menikmati detik-detik
saat seperti ini. Coba aja yang ngerek bendera itu Fafa,pasti seusai
mengibarkan bendera pasti aku akan ngebet minta foto sama dia. Tapi apalah
daya. Sudah dua kali aku kehilangan momen berharga dengan mereka yang pernah
singgah di hatiku. Gagal foto sama Raka saat Raka memakai baju kebanggaan paskibnya,gagal
foto juga sama Fafa saat ia memakai kostum karsival kemarin. Ah tak apa.
Mungkin belum waktunya foto bareng sekarang,siapa tau foto barengnya besok kalo
udah di pelaminan. Hahaha. Oke khayalannya nggak lucu.
Senin
ngebosenin. Selasa menyiksa. Rabu menggebu-gebu. Kamis manis. Dan kini tiba
hari jumat. Kini janji harus tepat. Aku harus cepat-cepat. Janji bertemu Fafa
pukul setengah dua lebih seperempat. Ku kira cuma berdua ternyata berempat.
Riani dan Coco ikut merapat. Meski hati tak enak namun harus tetap semangat.
Dia tak berkhianat. Hanya gugup sesaat. Daripada bingung keparat,yuk kita
lanjut ceritanya at…
Aku
rela meninggalkan rapat mini organisasiku demi bertemu dengannya. Aku sudah
menunggu si ketua datang dalam rapat selama hampir 30 menit lebih namun dia tak kunjung datang. Ku
berjalan menuju gerbang sekolah sembari menunggu Fafa dan Coco bersama Riani.
Tak sampai lima menit aku menunggu mereka akhirnya datang. Kami langsung tancap
gas. Kali ini tumben sekali Fafa mengawali perjalanan. Biasanya ia hanya
ngikut. Mungkin karena janji,ya harus ditepati. Kami berhenti di salah satu
mini kafe di perumahan lumayan jauh dari sekolahan. Namanya Mimo. View di kafe
ini cukup menarik dan unik untuk dijadikan spot foto. Aku belum pernah mampir
ke kafe ini. Ku rasa Fafa sudah pernah ke kafe ini. Paling juga sama incarannya
itu. Oke mengkhayal lagi. Rasanya aku belum siuman benar.
Kami
memasuki kafe dan memesan makanan. Menu yang ditawarkan agak lumayan mahal.
Sebelum mampir kesini,aku sebenarnya sudah makan siang tadi. Tapi demi bertemu
si doi aku pura-pura belum makan. Dan ujung-ujungnya pesan porsi makanan yang
paling sedikit. Karena takut tak habis,aku memesan pancake sepiring berdua
bersama Riani. Aku canggung jika harus sepiring berdua bersama Fafa. Lagi pula
dia malah menyuruhku untuk memesan satu piring untuk satu orang. Pesanan cukup
lama sekali kami tunggu.
Di
sela-sela menunggu,aku berfoto selfi bersama Riani. Coco jadi ikut ikutan dan
Fafa juga. Kami berfoto berempat layaknya dua sepasang kekasih yang sedang
doubledate. Tapi sekarang aku belum dan bukan kekasihnya Fafa. Lagian aku kan
bukan incarannya. Hanya sebatas teman curhat. Tapi mengapa waktu aku berfoto di
bawah tulisan dinding bertuliskan MiMo ,aku dan Fafa berpose seolah 2 orang
yang serasi. 2 orang yang sedang menjalin kedekatan semacam tuan rumah dan
tamunya.
Aku tau. Aku hanya tamu. Aku bukan keluarganya. Aku bukan kerabat
ataupun saudaranya. Aku hanya orang asing. Aku hanyalah seseorang bak musafir
yang sedang menumpang istirahat di rumah orang. Aku hanyalah tamu yang tak tau
terima kasih kepada majikan rumah atas penyambutan dan penerimaan dengan ketulusan
persinggahanku ini. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku hanya bisa
menjadikan momentum foto bareng di kafe mini Mimo ini adalah suatu moment
terpenting dalam hidupku.
Biarpun
aku bukan siapa-siapanya tapi aku menghargai akan kedekatanku dengannya. Mulai
sekarang aku jadi tau rasanya ‘diimbu’agar menjadi matang. Diimbu itu
membutuhkan proses agar kelak buahnya menjadi matang dengan sempurna. ‘Kalo
matang kan semua orang suka….’Kata-kata Fafa yang selalu jadi motivasiku. Kiasan
matang sesungguhnya bagiku adalah mampu bertanggung jawab dengan sepenuh
hati,sikap yang dewasa,dan selalu was-was dalam bertindak. Dari perkataan itu
aku mulai belajar banyak dari Fafa. Fafa yang mengajariku banyak hal. Aku yakin
perkenalanku ini akan sangat menyenangkan. Ya aku menyadarinya sekarang. Aku
sangat senang bisa berkenalan dengannya bahkan kenal dekat dengannya dan keluargaku juga sudah mempercayainya.
Buktinya
ketika aku terbaring kaku di rumah sakit kemarin,Fafa yang menjagaku. Walaupun
begitu aku tak ingin memaksanya untuk mengungkapkan yang ia sembunyikan selama
ini. Yang terpenting,selama aku masih bisa bertemu,bercengkrama,dan masih
mengenalnya aku akan berusaha baik padanya. Memaksanya untuk mengungkapkan
perasaannya kepadaku hanya akan membuat semuanya bertambah keruh. Bisa-bisa
nanti dia malah menjauh dan tak ingin menjadikanku tempat curahan hatinya lagi.
Meskipun ia sudah punya incaran tapi jauh di lubuk hati aku menyimpan rasa yang
besar untuknya. Aku tau,nantinya aku akan sakit hati,terluka,dan kecewa. Aku
tau nantinya tuan rumahku akan mengusirku,meninggalkanku,dan memintaku untuk
pergi dari rumah singgah karena adanya orang baru. Tetapi biarlah. Aku rela
bila harus terluka karenanya. Karena dalam lubuk hatiku,tersimpan ketulusan
untuk mencintainya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar