Selasa, 08 November 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : [MO]mentum Cinta Mi[MO]

Samar-samar cahaya putih menyorot mataku. Perlahan ku buka mataku. Terlihat cahaya putih dan ruangan serba putih di pandanganku. Ku kedip-kedipkan mataku beberapa kali. Terlihat juga selang infus di tangan kananku dan seorang pria sedang memegang tangan kiriku. Ku kedipkan mataku seakan aku sedang bermimpi. Pria itu terkejut dan berkata
“Meiy?kamu udah siuman?”
“E..ee…ee…..aku dimana?”
“Kamu lagi ada di rumah sakit. Semalam pingsan dan baru siuman siang ini. Aku panggilin dokter dulu ya?”
“E…eee…….kamu ngapain disini?”
Pria itu pergi meninggalkanku. Pria yang bersamaku itu adalah Fafa. Aku masih belum sadar akan ingatanku. Aku berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi. Namun kepalaku terasa sangat berat. Ku gerakkan sedikit badanku. Rasanya kaku dan agak sedikit rimpi. Saat aku mencari posisi yang nyaman,tiba-tiba dokter datang…
“Eh jangan banyak gerak dulu. Kamu kan baru siuman.” Perintah Fafa
Sambil dokter memeriksa ,aku memandangi ibu jari kaki sebelah kananku yang diperban. Rasanya cukup aneh. Aku mulai mengingatnya. Malam minggu itu aku terjatuh dari motor dan pingsan seusai melihat karnaval. Namun aku bingung. Jadi sebenarnya aku jatuh dengan gaya bagaimana? Rasanya-rasanya semua badanku terasa kaku,terkilir,encok,dan saking anehnya hanya ibu jari yang diperban. Apa mungkin karena terinjak-injak malam kemarin itu ataukah karena memang jatuh dan terluka? Dokter mendiagnosa kesehatanku mulai membaik. Setelah dokter pergi meninggalkan ruangan,Fafa mendekat ke sisi kiri ranjangku. Dia memandangku dengan tatapan sumringah kali ini
“Syukurlah kalau kamu udah sadar. Aku kira kamu mau bunuh diri gara-gara batal foto sama aku”
“Apaan sih?gila kali aku mau bunuh diri dengan alasan konyol kayak gitu”
“Hahahah…..jangan ngambek terus ah!Oh iya,kamu gimana ceritanya sih bisa jatuh gini?”
“Seharusnya yang tanya kan aku. Kenapa aku bisa ada disini?Kenapa badanku sakit semua? Dan kenapa mbak Nia nggak ada? Hah? Mbak Nia? Mbak Nia dimana Fa?”
“Mbak Nia? Siapa? Bukannya kakakmu itu cuma mas Rizal ya?”
“Aduh!Aku nonton karnaval kan sama mbak Nia,mbak Nia yang boncengin aku. Dia sekarang dimana?Jangan bilang………….”Pikiranku mulai kacau. Aku takut tak melihat mbak Nia lagi selamanya
“Mbak Nia masih hidup kan Fa?Mbak Nia baik ba….”
“Eh eh eh Ssssssstttt(jari telunjuknya mendekat di bibirku)kamu nggak usah panik gini deh. Mbak Nia udah pulang kok. Dia baik baik aja. Dia udah kesini tadi baru aja pulang sebelum kamu siuman. Kamu pulihin kesehatan kamu dulu. Kalau kamu udah pulih,aku janji deh bakal nraktir kamu makan. Tau nggak?Saat aku denger kabar kamu kecelakaan,aku takut dan langsung ngehubungin kamu. Tanya-tanya orang lain sampai kaya orang gila. Aku takut nggak bisa ketemu kamu lagi. Aku takut nggak bisa nraktir kamu lagi. Dan aku takut kehilangan kamu…..”
Tatapannya tajam menyorot kedua bola mataku. Dari tatapannya aku merasa bahwa apa yang dia katakan begitu tulus sekali. Tapi biarpun begitu,aku berusaha untuk menghalaunya. Aku masih kesal dengannya karena ia tak mau berfoto bersamaku malam itu.
“Huh. Paling juga yang ada kamu bakal seneng kalau aku udah nggak ada kan nantinya nggak yang ngrepotin kamu lagi,iya kan?”
“Heh nggak baik lho su’udzon sama orang. Aku sama sekali nggak berpikiran seperti itu,Meiy. Ya udah deh kalau kamu nggak percaya sama perkataanku”Dia melepas genggaman tangannya
“HAHA! Gitu aja ngambek?huh..oh iya,hpku dimana?kok kamu yang ada disini?kenapa ibu…ayah…mas Rizal nggak kesini ya?”
“Kamu nanya apa ngusir?Baru juga siuman udah belagu. Mereka aku larang buat jenguk kamu!”
“Eh !kamu kok nyolot gitu sih?kamu emang siapanya aku?Cepet ambilin hpku!”
Pandangan matanya kali ini berbeda. Perkataanku tadi seakan membuatnya tertegun sejenak memikirkan sesuatu yang tak pasti. Dia mengalihkan pandangannya dariku. Ku coba menanyakannya lagi untuk mencairkan suasana
“Fa?Kamu nggak apa-apa kan?”
“Huh”Dia melihat sejenak lalu berpaling kesal layaknya orang lagi ngambek
“Heh,nggak usah sok ngambek gitu deh. Seharusnya kan aku yang ngambek. Buruan gih ambilin hpku!”
“Nggak mau!”
“Duh ya ini anak keras kepala banget. Fa,aku butuh hpku buat ngehubungin keluargaku. Udahlah nggak usah kelamaan gini”
“Ada syaratnya…”
“Ahelah pake syarat segala. Apaan sih?ih udah deh. Aku serius…”
“Kalau butuh dan itu penting ya diusahain dapet dong!”
“Yaudah yaudah,karena cuma kamu yang bisa aku mintain tolong,yaudah syaratnya apa?”
“Besok jumat harus ikut aku”
“Kemana?”
“Ya harus ikut aku intinya. Ga boleh nolak. Aku cuma mau ngajak makan kok. Sebagai permintaan maafku telah mengecewakanmu”
“Hahaha yah elah,oke oke. Mana hpku?”Diapun menyerahkan hpku.
                             ***
Hari Senin ku jalani dengan penuh rasa syukur. Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan untuk bangun,untuk bersekolah,dan untuk menikmati teriknya matahari saat upacara seperti ini. Huh…sepanas apapun harus tetap disyukuri. Coba aja matahari seharian nggak bersinar,nggak bisa bayangin dunia gelapnya kaya apa kan? Mungkin lebih hitam lagi dari si doi. Yah meskipun dia hitam,aku tetap menyukainya. Dia hitam kan bukan karena keturunan tapi karena mengemban tugas Negara seperti yang aku lihat ini. Seorang paskib yang sedang mengerek bendera pusaka merah putih. Tiap kali upacara aku hanya ingin menikmati detik-detik saat seperti ini. Coba aja yang ngerek bendera itu Fafa,pasti seusai mengibarkan bendera pasti aku akan ngebet minta foto sama dia. Tapi apalah daya. Sudah dua kali aku kehilangan momen berharga dengan mereka yang pernah singgah di hatiku. Gagal foto sama Raka saat Raka memakai baju kebanggaan paskibnya,gagal foto juga sama Fafa saat ia memakai kostum karsival kemarin. Ah tak apa. Mungkin belum waktunya foto bareng sekarang,siapa tau foto barengnya besok kalo udah di pelaminan. Hahaha. Oke khayalannya nggak lucu.
Senin ngebosenin. Selasa menyiksa. Rabu menggebu-gebu. Kamis manis. Dan kini tiba hari jumat. Kini janji harus tepat. Aku harus cepat-cepat. Janji bertemu Fafa pukul setengah dua lebih seperempat. Ku kira cuma berdua ternyata berempat. Riani dan Coco ikut merapat. Meski hati tak enak namun harus tetap semangat. Dia tak berkhianat. Hanya gugup sesaat. Daripada bingung keparat,yuk kita lanjut ceritanya at…
Aku rela meninggalkan rapat mini organisasiku demi bertemu dengannya. Aku sudah menunggu si ketua datang dalam rapat selama hampir 30 menit  lebih namun dia tak kunjung datang. Ku berjalan menuju gerbang sekolah sembari menunggu Fafa dan Coco bersama Riani. Tak sampai lima menit aku menunggu mereka akhirnya datang. Kami langsung tancap gas. Kali ini tumben sekali Fafa mengawali perjalanan. Biasanya ia hanya ngikut. Mungkin karena janji,ya harus ditepati. Kami berhenti di salah satu mini kafe di perumahan lumayan jauh dari sekolahan. Namanya Mimo. View di kafe ini cukup menarik dan unik untuk dijadikan spot foto. Aku belum pernah mampir ke kafe ini. Ku rasa Fafa sudah pernah ke kafe ini. Paling juga sama incarannya itu. Oke mengkhayal lagi. Rasanya aku belum siuman benar.
Kami memasuki kafe dan memesan makanan. Menu yang ditawarkan agak lumayan mahal. Sebelum mampir kesini,aku sebenarnya sudah makan siang tadi. Tapi demi bertemu si doi aku pura-pura belum makan. Dan ujung-ujungnya pesan porsi makanan yang paling sedikit. Karena takut tak habis,aku memesan pancake sepiring berdua bersama Riani. Aku canggung jika harus sepiring berdua bersama Fafa. Lagi pula dia malah menyuruhku untuk memesan satu piring untuk satu orang. Pesanan cukup lama sekali kami tunggu.
Di sela-sela menunggu,aku berfoto selfi bersama Riani. Coco jadi ikut ikutan dan Fafa juga. Kami berfoto berempat layaknya dua sepasang kekasih yang sedang doubledate. Tapi sekarang aku belum dan bukan kekasihnya Fafa. Lagian aku kan bukan incarannya. Hanya sebatas teman curhat. Tapi mengapa waktu aku berfoto di bawah tulisan dinding bertuliskan MiMo ,aku dan Fafa berpose seolah 2 orang yang serasi. 2 orang yang sedang menjalin kedekatan semacam tuan rumah dan tamunya. 
Aku tau. Aku hanya tamu. Aku bukan keluarganya. Aku bukan kerabat ataupun saudaranya. Aku hanya orang asing. Aku hanyalah seseorang bak musafir yang sedang menumpang istirahat di rumah orang. Aku hanyalah tamu yang tak tau terima kasih kepada majikan rumah atas penyambutan dan penerimaan dengan ketulusan persinggahanku ini. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku hanya bisa menjadikan momentum foto bareng di kafe mini Mimo ini adalah suatu moment terpenting dalam hidupku.
Biarpun aku bukan siapa-siapanya tapi aku menghargai akan kedekatanku dengannya. Mulai sekarang aku jadi tau rasanya ‘diimbu’agar menjadi matang. Diimbu itu membutuhkan proses agar kelak buahnya menjadi matang dengan sempurna. ‘Kalo matang kan semua orang suka….’Kata-kata Fafa yang selalu jadi motivasiku. Kiasan matang sesungguhnya bagiku adalah mampu bertanggung jawab dengan sepenuh hati,sikap yang dewasa,dan selalu was-was dalam bertindak. Dari perkataan itu aku mulai belajar banyak dari Fafa. Fafa yang mengajariku banyak hal. Aku yakin perkenalanku ini akan sangat menyenangkan. Ya aku menyadarinya sekarang. Aku sangat senang bisa berkenalan dengannya bahkan kenal dekat dengannya dan  keluargaku juga sudah mempercayainya.
Buktinya ketika aku terbaring kaku di rumah sakit kemarin,Fafa yang menjagaku. Walaupun begitu aku tak ingin memaksanya untuk mengungkapkan yang ia sembunyikan selama ini. Yang terpenting,selama aku masih bisa bertemu,bercengkrama,dan masih mengenalnya aku akan berusaha baik padanya. Memaksanya untuk mengungkapkan perasaannya kepadaku hanya akan membuat semuanya bertambah keruh. Bisa-bisa nanti dia malah menjauh dan tak ingin menjadikanku tempat curahan hatinya lagi. 
Meskipun ia sudah punya incaran tapi jauh di lubuk hati aku menyimpan rasa yang besar untuknya. Aku tau,nantinya aku akan sakit hati,terluka,dan kecewa. Aku tau nantinya tuan rumahku akan mengusirku,meninggalkanku,dan memintaku untuk pergi dari rumah singgah karena adanya orang baru. Tetapi biarlah. Aku rela bila harus terluka karenanya. Karena dalam lubuk hatiku,tersimpan ketulusan untuk mencintainya.

                             ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar