'Mbu....Maafin
aku...Aku tau aku salah.Aku tau aku gak seharusnya ngelakuin seperti itu
tadi.Sekali lagi maafin aku.Kamu tau,betapa tersiksanya aku ketika kamu nyuekin
aku.Sungguh aku menyesal telah terlambat menjemputmu.Semalam aku berusaha untuk
tidur lebih awal namun sepertinya rasa kantuk datang terlambat juga.Meskipun
begitu kamu pasti gak percaya dengan apa yang aku katakan.Tapi andaikan kamu
tau apa yang aku rasain saat kamu mengabaikanku seharian ini.Aku berusaha
membuatmu tersenyum kembali.Maaf aku berlebihan.Aku sadar.Aku bukan
siapa-siapamu.Tapi aku ingin membuatmu bahagia.Aku ingin membuatmu tersenyum
walau terkadang caraku salah.Aku hanya ingin melihat kerutan lucu di wajah manismu.Dari
situ kamu layak untuk ku panggil pipi jambu.Pipi yang manis layaknya buah
jambu.Namun ku harap buah jambu yang ini belum dimiliki oleh siapapun.Biar aku
saja yang mengimbunya agar kelak matang dengan sempurna.Jangan lupa belajar ya
mbu,berikan yang terbaik untuk besok.Tunjukkan kalau kamu layak untuk matang
:D"
Aku terkejut dengan pesan
tiga halaman yang baru saja ku baca. Apa mungkin dia sedang memberitahuku
sesuatu yang ia pendam saat ini? Apa ia sedang mengutarakan perasaannya padaku?
Apa dia telah menggodaku? Ah entahlah. Pria seperti dia memang pandai sekali
menggoda wanita. Kalau saja dia bukan alumni paskib pasti dia tak bersikap
seperti ini. Rasanya aku masih tak percaya dengan pesan yang baru saja aku
baca. Jadi selama ini sebenarnya apa yang terjadi?apa yang telah ku lalui
bersamanya seakan membuatku yakin bahwa ada sesuatu yang sebenarnya ia pendam
padaku. Aku jadi menduga-duga bahwa dia punya rasa untukku. Tapi bagaimana
dengan incarannya? Apakah aku menjadi pengganggu dalam pengincarannya?
Aku
takut menjadi sumber masalah di dalam kehidupannya. Aku merasa bahwa aku
berulang kali merusak agendanya dan membuatnya kerepotan. Dari awal pertemuan
aku sudah menunda-nunda kegiatannya,sudah membuatnya terlambat dalam agenda
rapat,sudah membuatnya terlalu banyak menraktirku,menjemputku,dan banyak lagi
rasa bersalahku padanya. Oh Tuhan?Haruskah aku meminta maaf padanya? Dengan apa
aku menebus kesalahanku padanya? Atau…..haruskah aku pergi menjauh darinya?
Hanya hati dan pikiran yang tau akan kondisi ketenangan jiwaku saat ini. Mulai
besok,mungkin aku akan ijin pergi dari persinggahanku sementara waktu ini. Aku
harus pergi dan mencari tempat singgah yang lainnya. Aku akan meminta ijin pada
tuan rumahnya.
***
Sore ini,aku berniat
mengajak Fafa untuk pergi makan siang sekaligus menyampaikan sesuatu padanya.
Aku tau,aku lancang. Aku cupu. Aku cemen. Aku tak berguna. Aku pembuat masalah.
Aku pengrusak segalanya. Aaaararrrrgggghhh…….. kenapa takdir harus
mempertemukanku padanya? Kalau pada akhirnya aku menjadi merasa nyaman dekat
dengannya? Aku tau. Tak seharusnya aku singgah secepat ini. Tak seharusnya aku
menyimpan perasaan sesingkat ini. Tak seharusnya aku memendam semuanya selama
ini. Ingin ku ungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan,tapi apakah ini terlalu
cepat?bagaimana jika ia kaget dan justru malah menjauh dariku?
Jujur,aku mulai
takut kehilangannya semenjak aku mulai nyaman dekat dengannya. Tapi aku juga
sadar kalau pada akhirnya juga dia akan meninggalkanku dan ia akan pergi
bersama incarannya. Ini tak lebih menyakitkan dari sekedar patah hati.
Merasakan ia pergi meninggalkanku sementara ia telah berhasil menggapai
incarannya. Sedangkanku? Mencari persinggahan tak semudah mencari incaran.
Apapun nanti responnya akan perkataanku,aku harus siap. Aku harus memperjelas
akan perasaanku ini. Aku tak ingin menjadi pengrusak hubungan orang.
Tepat pukul tiga sore,Fafa
sudah parkir di dekat gerbang sekolah. Aku menghampirinya. Sebelum aku naik
diboncengannya,aku memandang wajahnya sambil memakai helm. Dia selalu tersenyum
dengan tatapan itu. Ku sudahi pandanganku sembari bertanya
“Kamu hari ini memang nggak ada agenda kan?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku nanya serius. Aku nggak mau kamu terlambat ikut
kegiatan gara-gara aku.”
“Tenang,aku baru aja selesai kegiatan kok. Kita bisa
makan sepuasnya nanti”
“Beneran nih?”
“Iya,sa…”
“Sa? Sa siapa?”
“Eh nggak apa apa kok. Udah yuk naik.”
Di sepanjang perjalanan aku
masih terngiang-ngiang dengan ucapan yang baru saja ku dengar. Satu suku kata
‘Sa’. ‘Sa’ itu siapa? Apakah itu nama incarannya? Kalo iya kenapa ia
menyebutnya bersamaan dengan namaku? Ah aku tak mengerti sekarang. Sesampainya
di rumah makan, kami memesan makanan. Aku duduk berhadapan dengan Fafa yang
sedari tadi memandangku dengan tatapan itu lagi. Aku jadi salah tingkah dilihat
dia dengan seperti ini. Ku dengar ia berkata
“Kamu kenapa? Tumben ngajak aku makan siang? Semudah ini
kamu kangen sama aku?”
“Kamu nggak bisa ya sesekali nggak usah kePDan gitu?
Aku cuma pengen nraktir kamu”
“Nggak usah berlagak punya uang banyak deh. Anak ipa
kan irit,perhitungan banget kan ya?hahahah”
“Nggak usah ngeledek kamu,belum tentu juga kan kamu
bisa sepinter anak ipa. Anak jurusan teknik emang kebanyakan gaya ya?kebanyakan
teknik teknik teknik makanya kePDan dan keGRan terus…Haahahahah….”
“Eh awas yah kamu!”Dia menyerobot hpku
“Eh kembaliin hpku!”Dia menjulurkan lidahnya.
Pesanan pun datang. Aku menyusun kata-kata yang akan
ku tanyakan padanya sedangkan dia sibuk membuka aplikasi yang ada di hpku.
“Fa?”
“Iya Mbu?”
“Aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?”Dia
menghentikan kesibukannya bermain hpku dan menatapku dengan serius namun dengan
senyuman yang membuatku salah tingkat lagi untuk yang keberapa kali.
“Apa sih yang nggak buat kamu mbu?”
“Aku serius Fa. Tolong jawab dengan jujur. Kamu
sebenernya udah ada incaran kan?”
“Bukannya kamu udah tau? Emangnya kenapa?”
“Ya……kamu dulu kan pernah bilang ke aku kalo kita
sepakat sharing ini itu soal ya……. Bisa dibilang gebetan kita gitu lah. Tapi
kayaknya kamu jarang curhat deh soal incaran kamu itu. Makanya aku meragukan
itu”
“Oh gitu?Ya nggak apa-apa sih. Aku baik-baik aja kok
sama incaran aku. Dia kayaknya udah ngrespon apa yang aku lakuin ke dia. Tapi
aku belum nanya soal perasaan dia ke aku.”
“Oh ya udah deh. Ada peningkatan kalo gitu. Emmm…oh
iya incaran kamu nggak marah atau ngambek kan kalo kamu deket sama aku?”
“Aku nggak pernah cerita soal kamu ke dia kok. Jadi
tenang aja.”
Aku masih memikirkan caraku untuk mengintrogasinya
soal pesan yang baru saja ia kirimkan kemarin. Sembari ia memakan
makanannya,aku bertanya lagi
“Fa,menurut kamu aku lancang nggak sih kalo aku nanya
perasaan duluan ke cowok?”
“Kamu udah punya gebetan?”
“Ya bukan masalah udah punya atau belum cuma aku nanya
itu aja. Menurut kamu gimana?”
“Ya nggak apa-apa sih. Aku justru malah salut soalnya
kebanyakan cowok nggak akan tau kemauan cewek itu apa kalau cewek nggak bilang
dulu. Biasanya kalau cewek nanya gitu pasti udah nyaman sama si cowoknya”
“Kok kamu tau kalo udah nyaman?”
“Kan anak teknik lebih berpengalaman. Nggak cuma
urusan pekerjaan yang pengalaman soal urusan cinta juga berpengalaman dong”
“Kalau gitu,aku nanya deh. Jujur,aku bingung sama sms
kamu yang kemarin sepulang pesta panggang kamu kirimin ke aku. Sebenernya
maksudnya apa sih?” ku beranikan diriku untuk menanyakan hal ini. Dia berhenti
melahap makanannya
“Kan udah aku jelasin. Ya intinya aku nggak pengen
ngelihat kamu murung. Aku seneng kalau ngelihat kamu senyum.”
“Tapi aku sebenernya bingung dan ngerasa nggak enak
hati,Fa. Aku ngerasa aku udah jadi pengrusak hubungan kamu sama incaranmu.
Jujur,aku udah nyaman sama kamu tapi aku minta maaf kalau selama ini aku
ngerepotin kamu terus,ngerusak agendamu terus,dan ngerugiin kamu terus lah.
Kamu ngerti kan apa yang aku maksud?”
“Lho!bukannya aku yang seharusnya nggak enak hati
karena udah jadi pengrusak hubungan kamu sama Raka?”
Deg. Jawaban yang baru saja ia lontarkan membuatku tak
berkutik apa-apa. Aku menunduk sembari memikirkan apa reaksiku selanjutnya.
“Emmmhhh… sebenernya aku udah nggak deket sama Raka
bukan karena ada kamu tapi emang karena aku bener-bener pengen pindah dari hati
dia. Aku capek kalau harus bolak-balik nunggu kejelasan hubungan aku sama dia.
Dan juga itu sama kaya yang aku rasain sekarang sama kamu.”
“Hah?Maksudnya?”
“Jadi gini,sebenernya yang mau aku tanyain adalah
perasaan kamu ke aku gimana?aku nanya gini soalnya dari semua yang aku rasain
dan jalanin bareng kamu itu yang bikin aku mulai nyaman deket sama kamu. Maaf
kalo aku lancang karena udah nanya gini sama kamu.”Ku tundukkan pandanganku
sembari mempersiapkan mental apa yang akan ia respon.
“Hahaha…kamu kenapa sih mbu?nggak usah malu gitu deh.
Justru aku seneng kalau kita terbuka kaya gini. Ya nggak apa-apa kok. Bagiku
itu nggak lancang. Emmmhhh…..biar ku jelasin. Kita awal kenal gara-gara
dikenalin sama Riani kan?terus dari situ aku dapet pin kamu terus juga kita
BBMan dan terus-meneruslah dan akhirnya kita deket. Jujur,aku juga….udah mulai
nyaman sama kamu. Ya…..intinya ….aku udah nganggep kamu lebih dari seorang
temen tapi ya…..dijalanin dulu lah mbu.”
“Kamu nganggep aku lebih dari seorang temen? Kesambet
apa kamu ngomong gitu? Hahah…. Aku tuh nggak ada apa-apanya dibanding incaran
kamu. Kamu bercanda kan?”
Dia mendekatkan wajahnya ke arahku. Jaraknya berkisar
15 cm. Aku jadi gugup
“Iya aku emang bercanda. Hahaha……..(sambil mencubit
pipiku)”
Aku jadi kesal sekarang. Lagi serius malah
dibercandain. Sebenernya apa sih yang dia mau?
“Ihh!Kamu nyebelin banget sih!”
“Yeeeeee hahahahaha……!”
“Ketawa aja terus!”
“Jiahahahhaha…udah lah kita jalanin aja dulu. Kita
nggak tau kan ke depannya kaya gimana. Oh iya, kamu sebentar lagi ulangan
tengah semester kan?”
“Emang kenapa?”
“Yaelah cuek banget. Jangan ngambek dong! Kali ini aku
serius deh. Aku pengen kita lost contact dulu sampe kamu udah selesai ulangan.
Aku pengen kamu fokus sama ulangan kamu. Kamu harus bisa matang.”
“Kamu pikir aku gorengan apa bisa matang? Paling juga
kamu yang nggak kuat buat lost contact sama aku”
“Bukannya gitu. Aku cuma pengen ngejadiin kedekatan
hubungan kita buat pemacu belajar kita biar kita bisa berkembang lebih dewasa.
Kamu kan jambu. Jambu kalau matang kan enak,banyak orang yang suka. Kamu juga
gitu. Kalo kamu pinter,rajin,dan murah senyum pasti banyak yang suka. Kaya
aku,yang suka sama senyum kamu. Makanya kamu ku panggil pipi jambu.
Ahahahahah…..”
“Auk ah gelap! Ngaco deh kamu. Aku nggak ngerti apa
yang barusan kamu bilang”
“Hahahaha…..pura-pura nggak tau aja terus. Udah
ah!Intinya gitu. Aku pengen kita lost contact biar kamu bisa fokus belajarnya.
Kamu nggak keberatan kan?”
“Nggak kok. Aku justru malah seneng kalo kamu pengen
lost contact sama aku. Jadinya kan nggak ada yang ganggu aku nantinya.
Wkwkkwkwk…”
“Oh jadi selama ini aku pengganggu ya? Oke fine.”
“Eh bukan gitu maksudnya….”Aku mengejarnya hingga
sampai di kasir. Kami membayar bill bersama dan pergi meninggalkan tempat itu.
Dan hari ini aku merasa benar-benar tak ingin pindah dari hati Fafa. Aku
membatalkan keputusan untuk pindah selain di hati Fafa. Aku sudah terlanjur
nyaman dengan persinggahanku. Namun aku masih bertanya-tanya akan perasaannya
untukku. Apakah tadi dia memang sedang bercanda padaku? Huft. Ku rasa seorang
paskibraka memang punya tabiat yang misterius. Atau mungkin ini hanya
perasaanku saja?Entahlah…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar