Selasa, 01 November 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Pesan Berisyarat

'Mbu....Maafin aku...Aku tau aku salah.Aku tau aku gak seharusnya ngelakuin seperti itu tadi.Sekali lagi maafin aku.Kamu tau,betapa tersiksanya aku ketika kamu nyuekin aku.Sungguh aku menyesal telah terlambat menjemputmu.Semalam aku berusaha untuk tidur lebih awal namun sepertinya rasa kantuk datang terlambat juga.Meskipun begitu kamu pasti gak percaya dengan apa yang aku katakan.Tapi andaikan kamu tau apa yang aku rasain saat kamu mengabaikanku seharian ini.Aku berusaha membuatmu tersenyum kembali.Maaf aku berlebihan.Aku sadar.Aku bukan siapa-siapamu.Tapi aku ingin membuatmu bahagia.Aku ingin membuatmu tersenyum walau terkadang caraku salah.Aku hanya ingin melihat kerutan lucu di wajah manismu.Dari situ kamu layak untuk ku panggil pipi jambu.Pipi yang manis layaknya buah jambu.Namun ku harap buah jambu yang ini belum dimiliki oleh siapapun.Biar aku saja yang mengimbunya agar kelak matang dengan sempurna.Jangan lupa belajar ya mbu,berikan yang terbaik untuk besok.Tunjukkan kalau kamu layak untuk matang :D"
Aku terkejut dengan pesan tiga halaman yang baru saja ku baca. Apa mungkin dia sedang memberitahuku sesuatu yang ia pendam saat ini? Apa ia sedang mengutarakan perasaannya padaku? Apa dia telah menggodaku? Ah entahlah. Pria seperti dia memang pandai sekali menggoda wanita. Kalau saja dia bukan alumni paskib pasti dia tak bersikap seperti ini. Rasanya aku masih tak percaya dengan pesan yang baru saja aku baca. Jadi selama ini sebenarnya apa yang terjadi?apa yang telah ku lalui bersamanya seakan membuatku yakin bahwa ada sesuatu yang sebenarnya ia pendam padaku. Aku jadi menduga-duga bahwa dia punya rasa untukku. Tapi bagaimana dengan incarannya? Apakah aku menjadi pengganggu dalam pengincarannya? 
Aku takut menjadi sumber masalah di dalam kehidupannya. Aku merasa bahwa aku berulang kali merusak agendanya dan membuatnya kerepotan. Dari awal pertemuan aku sudah menunda-nunda kegiatannya,sudah membuatnya terlambat dalam agenda rapat,sudah membuatnya terlalu banyak menraktirku,menjemputku,dan banyak lagi rasa bersalahku padanya. Oh Tuhan?Haruskah aku meminta maaf padanya? Dengan apa aku menebus kesalahanku padanya? Atau…..haruskah aku pergi menjauh darinya? Hanya hati dan pikiran yang tau akan kondisi ketenangan jiwaku saat ini. Mulai besok,mungkin aku akan ijin pergi dari persinggahanku sementara waktu ini. Aku harus pergi dan mencari tempat singgah yang lainnya. Aku akan meminta ijin pada tuan rumahnya.
                             ***
Sore ini,aku berniat mengajak Fafa untuk pergi makan siang sekaligus menyampaikan sesuatu padanya. Aku tau,aku lancang. Aku cupu. Aku cemen. Aku tak berguna. Aku pembuat masalah. Aku pengrusak segalanya. Aaaararrrrgggghhh…….. kenapa takdir harus mempertemukanku padanya? Kalau pada akhirnya aku menjadi merasa nyaman dekat dengannya? Aku tau. Tak seharusnya aku singgah secepat ini. Tak seharusnya aku menyimpan perasaan sesingkat ini. Tak seharusnya aku memendam semuanya selama ini. Ingin ku ungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan,tapi apakah ini terlalu cepat?bagaimana jika ia kaget dan justru malah menjauh dariku? 
Jujur,aku mulai takut kehilangannya semenjak aku mulai nyaman dekat dengannya. Tapi aku juga sadar kalau pada akhirnya juga dia akan meninggalkanku dan ia akan pergi bersama incarannya. Ini tak lebih menyakitkan dari sekedar patah hati. Merasakan ia pergi meninggalkanku sementara ia telah berhasil menggapai incarannya. Sedangkanku? Mencari persinggahan tak semudah mencari incaran. Apapun nanti responnya akan perkataanku,aku harus siap. Aku harus memperjelas akan perasaanku ini. Aku tak ingin menjadi pengrusak hubungan orang.
Tepat pukul tiga sore,Fafa sudah parkir di dekat gerbang sekolah. Aku menghampirinya. Sebelum aku naik diboncengannya,aku memandang wajahnya sambil memakai helm. Dia selalu tersenyum dengan tatapan itu. Ku sudahi pandanganku sembari bertanya
“Kamu hari ini memang nggak ada agenda kan?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku nanya serius. Aku nggak mau kamu terlambat ikut kegiatan gara-gara aku.”
“Tenang,aku baru aja selesai kegiatan kok. Kita bisa makan sepuasnya nanti”
“Beneran nih?”
“Iya,sa…”
“Sa? Sa siapa?”
“Eh nggak apa apa kok. Udah yuk naik.”
Di sepanjang perjalanan aku masih terngiang-ngiang dengan ucapan yang baru saja ku dengar. Satu suku kata ‘Sa’. ‘Sa’ itu siapa? Apakah itu nama incarannya? Kalo iya kenapa ia menyebutnya bersamaan dengan namaku? Ah aku tak mengerti sekarang. Sesampainya di rumah makan, kami memesan makanan. Aku duduk berhadapan dengan Fafa yang sedari tadi memandangku dengan tatapan itu lagi. Aku jadi salah tingkah dilihat dia dengan seperti ini. Ku dengar ia berkata
“Kamu kenapa? Tumben ngajak aku makan siang? Semudah ini kamu kangen sama aku?”
“Kamu nggak bisa ya sesekali nggak usah kePDan gitu? Aku cuma pengen nraktir kamu”
“Nggak usah berlagak punya uang banyak deh. Anak ipa kan irit,perhitungan banget kan ya?hahahah”
“Nggak usah ngeledek kamu,belum tentu juga kan kamu bisa sepinter anak ipa. Anak jurusan teknik emang kebanyakan gaya ya?kebanyakan teknik teknik teknik makanya kePDan dan keGRan terus…Haahahahah….”
“Eh awas yah kamu!”Dia menyerobot hpku
“Eh kembaliin hpku!”Dia menjulurkan lidahnya.
Pesanan pun datang. Aku menyusun kata-kata yang akan ku tanyakan padanya sedangkan dia sibuk membuka aplikasi yang ada di hpku.
“Fa?”
“Iya Mbu?”
“Aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?”Dia menghentikan kesibukannya bermain hpku dan menatapku dengan serius namun dengan senyuman yang membuatku salah tingkat lagi untuk yang keberapa kali.
“Apa sih yang nggak buat kamu mbu?”
“Aku serius Fa. Tolong jawab dengan jujur. Kamu sebenernya udah ada incaran kan?”
“Bukannya kamu udah tau? Emangnya kenapa?”
“Ya……kamu dulu kan pernah bilang ke aku kalo kita sepakat sharing ini itu soal ya……. Bisa dibilang gebetan kita gitu lah. Tapi kayaknya kamu jarang curhat deh soal incaran kamu itu. Makanya aku meragukan itu”
“Oh gitu?Ya nggak apa-apa sih. Aku baik-baik aja kok sama incaran aku. Dia kayaknya udah ngrespon apa yang aku lakuin ke dia. Tapi aku belum nanya soal perasaan dia ke aku.”
“Oh ya udah deh. Ada peningkatan kalo gitu. Emmm…oh iya incaran kamu nggak marah atau ngambek kan kalo kamu deket sama aku?”
“Aku nggak pernah cerita soal kamu ke dia kok. Jadi tenang aja.”
Aku masih memikirkan caraku untuk mengintrogasinya soal pesan yang baru saja ia kirimkan kemarin. Sembari ia memakan makanannya,aku bertanya lagi
“Fa,menurut kamu aku lancang nggak sih kalo aku nanya perasaan duluan ke cowok?”
“Kamu udah punya gebetan?”
“Ya bukan masalah udah punya atau belum cuma aku nanya itu aja. Menurut kamu gimana?”
“Ya nggak apa-apa sih. Aku justru malah salut soalnya kebanyakan cowok nggak akan tau kemauan cewek itu apa kalau cewek nggak bilang dulu. Biasanya kalau cewek nanya gitu pasti udah nyaman sama si cowoknya”
“Kok kamu tau kalo udah nyaman?”
“Kan anak teknik lebih berpengalaman. Nggak cuma urusan pekerjaan yang pengalaman soal urusan cinta juga berpengalaman dong”
“Kalau gitu,aku nanya deh. Jujur,aku bingung sama sms kamu yang kemarin sepulang pesta panggang kamu kirimin ke aku. Sebenernya maksudnya apa sih?” ku beranikan diriku untuk menanyakan hal ini. Dia berhenti melahap makanannya
“Kan udah aku jelasin. Ya intinya aku nggak pengen ngelihat kamu murung. Aku seneng kalau ngelihat kamu senyum.”
“Tapi aku sebenernya bingung dan ngerasa nggak enak hati,Fa. Aku ngerasa aku udah jadi pengrusak hubungan kamu sama incaranmu. Jujur,aku udah nyaman sama kamu tapi aku minta maaf kalau selama ini aku ngerepotin kamu terus,ngerusak agendamu terus,dan ngerugiin kamu terus lah. Kamu ngerti kan apa yang aku maksud?”
“Lho!bukannya aku yang seharusnya nggak enak hati karena udah jadi pengrusak hubungan kamu sama Raka?”
Deg. Jawaban yang baru saja ia lontarkan membuatku tak berkutik apa-apa. Aku menunduk sembari memikirkan apa reaksiku selanjutnya.
“Emmmhhh… sebenernya aku udah nggak deket sama Raka bukan karena ada kamu tapi emang karena aku bener-bener pengen pindah dari hati dia. Aku capek kalau harus bolak-balik nunggu kejelasan hubungan aku sama dia. Dan juga itu sama kaya yang aku rasain sekarang sama kamu.”
“Hah?Maksudnya?”
“Jadi gini,sebenernya yang mau aku tanyain adalah perasaan kamu ke aku gimana?aku nanya gini soalnya dari semua yang aku rasain dan jalanin bareng kamu itu yang bikin aku mulai nyaman deket sama kamu. Maaf kalo aku lancang karena udah nanya gini sama kamu.”Ku tundukkan pandanganku sembari mempersiapkan mental apa yang akan ia respon.
“Hahaha…kamu kenapa sih mbu?nggak usah malu gitu deh. Justru aku seneng kalau kita terbuka kaya gini. Ya nggak apa-apa kok. Bagiku itu nggak lancang. Emmmhhh…..biar ku jelasin. Kita awal kenal gara-gara dikenalin sama Riani kan?terus dari situ aku dapet pin kamu terus juga kita BBMan dan terus-meneruslah dan akhirnya kita deket. Jujur,aku juga….udah mulai nyaman sama kamu. Ya…..intinya ….aku udah nganggep kamu lebih dari seorang temen tapi ya…..dijalanin dulu lah mbu.”
“Kamu nganggep aku lebih dari seorang temen? Kesambet apa kamu ngomong gitu? Hahah…. Aku tuh nggak ada apa-apanya dibanding incaran kamu. Kamu bercanda kan?”
Dia mendekatkan wajahnya ke arahku. Jaraknya berkisar 15 cm. Aku jadi gugup
“Iya aku emang bercanda. Hahaha……..(sambil mencubit pipiku)”
Aku jadi kesal sekarang. Lagi serius malah dibercandain. Sebenernya apa sih yang dia mau?
“Ihh!Kamu nyebelin banget sih!”
“Yeeeeee hahahahaha……!”
“Ketawa aja terus!”
“Jiahahahhaha…udah lah kita jalanin aja dulu. Kita nggak tau kan ke depannya kaya gimana. Oh iya, kamu sebentar lagi ulangan tengah semester kan?”
“Emang kenapa?”
“Yaelah cuek banget. Jangan ngambek dong! Kali ini aku serius deh. Aku pengen kita lost contact dulu sampe kamu udah selesai ulangan. Aku pengen kamu fokus sama ulangan kamu. Kamu harus bisa matang.”
“Kamu pikir aku gorengan apa bisa matang? Paling juga kamu yang nggak kuat buat lost contact sama aku”
“Bukannya gitu. Aku cuma pengen ngejadiin kedekatan hubungan kita buat pemacu belajar kita biar kita bisa berkembang lebih dewasa. Kamu kan jambu. Jambu kalau matang kan enak,banyak orang yang suka. Kamu juga gitu. Kalo kamu pinter,rajin,dan murah senyum pasti banyak yang suka. Kaya aku,yang suka sama senyum kamu. Makanya kamu ku panggil pipi jambu. Ahahahahah…..”
“Auk ah gelap! Ngaco deh kamu. Aku nggak ngerti apa yang barusan kamu bilang”
“Hahahaha…..pura-pura nggak tau aja terus. Udah ah!Intinya gitu. Aku pengen kita lost contact biar kamu bisa fokus belajarnya. Kamu nggak keberatan kan?”
“Nggak kok. Aku justru malah seneng kalo kamu pengen lost contact sama aku. Jadinya kan nggak ada yang ganggu aku nantinya. Wkwkkwkwk…”
“Oh jadi selama ini aku pengganggu ya? Oke fine.”
“Eh bukan gitu maksudnya….”Aku mengejarnya hingga sampai di kasir. Kami membayar bill bersama dan pergi meninggalkan tempat itu. Dan hari ini aku merasa benar-benar tak ingin pindah dari hati Fafa. Aku membatalkan keputusan untuk pindah selain di hati Fafa. Aku sudah terlanjur nyaman dengan persinggahanku. Namun aku masih bertanya-tanya akan perasaannya untukku. Apakah tadi dia memang sedang bercanda padaku? Huft. Ku rasa seorang paskibraka memang punya tabiat yang misterius. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja?Entahlah…

                                 ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar