Jumat, 04 November 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Surprise at Carsival Night

Ulangan Tengah Semester kini telah dilaksanakan. Aku sibuk mempersiapkannya dan sibuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum ku lengkapi. Rasanya terlalu cepat sekali untuk bertarung. Padahal baru saja kemarin aku naik kelas. Tapi tak apalah. Kalau kata Fafa,hidup itu sesingkat mengadzankan bayi yang baru lahir hingga mengiqomahkan orang meninggal yang berada dalam liang lahat. Berjalan begitu cepat sekali. Di samping itu,semenjak aku dekat dengan Fafa pengetahuan tentang agamaku juga bertambah. Dia seperti guru spiritualku. Aku sempat mengira bahwa dia adalah anak seorang ulama atau kyai. Aku sempat minder dekat dengannya. Tapi suatu ketika aku menanyakannya dia tak mengakuinya. Ah entahlah. 
Aku tak peduli dengan itu. Intinya aku harus bisa melewati ujian dengan sungguh-sungguh. Berikhtiar,berdoa,dan bertawakal. Kalau kata Fafa sih gitu. Ah Fafa lagi Fafa lagi. Sebenarnya ada apa dengan diriku ini? Bayang-bayang tatapan dan senyuman Fafa akhir-akhir ini sering mengusik fikiranku. Sulit sekali aku menghilangkannya. Terlebih disaat aku berusaha menghilangkannya justru malah semakin aku mengingatnya. Oh Tuhan?Apakah aku benar-benar memiliki rasa itu? Rasa yang membuat orang dimabuk asmara?Entahlah…Aku harus bisa mengendalikan rasa ini dan memfokuskan fikiranku pada apa yang ku lakukan.
Delapan hari penuh ketegangan. Namun aku selalu semangat untuk mengawalinya. Karena setiap sebelum berangkat menuju sekolahan ku buka ponsel dengan wallpaper bertuliskan ‘Selamat Pagi,Pipi Jambuku. Semangat!!!’ Rasanya moodku baik terus tiap ku baca kalimat itu. Siapa sih yang senengnya nggak ketulungan ketika si doi nyemangatin kita? Ups! Doi? Yah…..Fafa ku anggap doiku. Kali ini aku benar-benar mengakuinya. Aku percaya diri untuk mengakuinya. Lagi pula kemarin dia bilang kepadaku kalau dia juga nyaman dekat denganku. Aku rasa dia memang benar-benar punya rasa untukku. 
Kalau nyaman karena dekat,mustahil tak menyimpan rasa walau sesaat. Aku benar-benar yakin. Dia pasti menyembunyikan itu. Aku tak peduli dengan incarannya. Yang terpenting adalah bagaimana cara dia agar tetap nyaman dekat denganku meskipun aku telah memiliki rasa untuknya namun tak ingin berharap lebih hanya karena takut dirinya akan berubah menjauh dariku. Aku ingin dia nyaman dekat denganku. Aku ingin tuan rumahku senang disinggahi tamu sepertiku. Aku ingin tuan rumahku nyaman tinggal di rumahnya bersamaku.
                             ***
Hari Sabtu yang akan datang,di Kotaku akan diadakan festival dan karsival dalam rangka memperingati hari jadi kota yang ke berapa entahlah aku lupa. Sudah lama intinya. Biasanya karnaval diadakan dengan cara mengikutsertakan tiap sekolah mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti lomba seperti pawai dalam karnaval yang diadakan tepatnya pada malam hari. Baru kali ini pemerintah daerah mengadakan karnaval pada malam hari. Tahun lalu karnaval diadakan pada siang hari dan itu rasanya panas sekali seperti membakar kulit. Tapi beda tahun beda kebijakan. Karena lebih mementingkan pesertanya,makanya karnaval diadakan pada malam hari.
Sekolahku juga ikut mengirimkan perwakilannya dengan mempersembahkan Marching Band yang sudah cukup tenar waktu itu. Tentunya Aulin pasti ikut. Dan sekarang dia memintaku untuk melihatnya ketika karnaval. Tapi disisi lain sekolah milik Fafa juga ikut serta dalam lomba itu dan Fafa adalah salah satu pesertanya. Delapan hari lost contact aku sama sekali tak mencemaskannya. Karena aku yakin dia pasti baik-baik saja. Tapi buat pembaca setia kisah ini pasti bertanya-tanya. Darimana aku tahu kalau dia ikut karnaval? Dhede yang sengaja memberitahuku. Dia layaknya wartawan yang selalu mengirimkan kabar tentang Fafa kepadaku. Bukan aku yang memintanya untuk memata-matai Fafa. Dia berinisiatif sendiri. Menurutnya sih,aku dan Fafa adalah pasangan yang cocok. Dia memiliki persepsi itu karena saat kami berdelapan pergi ke Semarang hanya aku dan Fafa yang selamat dari operasi polisi dan insiden lainnya. Entahlah. Mungkin ini berkah dari lantunan nasyid yang sepanjang jalan ku lantunkan bersama-sama dengan Fafa. Oke Fafa lagi Fafa terus.
Tepat hari sabtu,Ulangan telah selesai dilaksanakan. Aku ingin segera refreshing dan membersihkan sampah yang menumpuk di pikiranku. Tapi tidak untuk membersihkan kenangan yang telah diberikan oleh beberapa orang yang pernah singgah dalam hatiku. Aku sangat menghargai orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku. Setiap kenangan yang mereka berikan masih tersimpan rapi di memori ingatanku. Aku tak pernah sekalipun melupakan itu semua karena dari kenangan kita dapat mengambil hikmah dan pengakuan bahwa ‘oh iya aku dulu pernah gini sama si doi… oh iya dulu doi pernah ngasih itu ke aku…’ dan ujung-ujungnya flashback terus baper deh. Dan kali ini aku benar-benar baper dengan Fafa.
Seusai ulangan,aku berkumpul di musholla untuk membahas program kerja organisasi yang ku ikuti. Saat perjalanan menuju musholla,Fafa mengirimkanku voicenote yang berisi rekaman suaranya yang menyanyikan lagu berjudul ‘Diantara Bintang’. Siapa sih yang gak meleleh dikirimin doi ginian setelah seminggu lebih lost contact? Aku dan Fafa mulai berkomunikasi seperti biasa. Dia sempat menanyakanku tentang karnaval yang nanti malam akan diadakan. Dia berharap aku datang untuk menontonnya namun aku menolak karena tak ada yang menjemputku. Dia sepertinya kecewa tapi walau begitu dia tak marah kepadaku. Syukurlah…
Hari semakin sore. Sore ini ada latihan rebana mendadak karena grup kami diundang dalam acara sertijab organisasi yang seminggu lagi akan diadakan. Mbak Nia menghampiriku dan menyuruhku untuk menemaninya hingga latihan usai. Meskipun aku penat dan ingin pulang,tapi aku pakewuh untuk meninggalkan mbak Nia sendirian di musholla karena dialah koordinator ekskul rebana. Lagi pula dia juga akan senang hati untuk mengantarkanku pulang sore hari ini. Setelah latihan usai,aku membantu mbak Nia mengembalikan alat-alat rebana ke tempat semula. Sembari membawa alat,kami berbincang
“Mbak Nia,nanti malem mbak lihat karnaval nggak?”
“Aku pengen lihat dek. Soalnya adekku ikut karnaval tapi nggak ada temen”
“Kalau tak temenin mbak Nia mau nggak?tapi aku takut kalo mbak Nia kerepotan nantinya”
“Aaaaaaah!Boleh-boleh…kamu ini bener-bener the best sister,the best friend deh. Udah nggak apa-apa. Nanti malem tak jemput plus tak anterin pulang. Nggak kerepotan kok. Justru aku seneng soalnya ada yang mau nemenin. Ntar habis maghrib aku otw rumahmu”
Betapa senangnya aku mendapat tawaran dari mbak Nia untuk menemaninya melihat karnaval. Aku ingin membuat kejutan pada Fafa akan kedatanganku. Pasti Fafa akan terkejut dan senang melihatku. Atau bahkan dia akan menghindar dan bersembunyi karena takut dandanannya yang menor ku ejek?Hahaha… aku tak sabar melihatnya. Aku pulang bersama mbak Nia sore itu.
Sesampainya di rumah aku segera mandi,menunaikan ibadah sholat maghrib,mengaji sebentar,berdandan,memakai wewangian,mempersiapkan perlengkapan yang ku bawa,duh pokoknya ribet lah mau ketemu si doi. Aku menunggu mbak Nia di ruang tamu. Sepuluh menit ku menunggu akhirnya mbak Nia datang. Kami berpamitan kepada ibuku dan berangkat menuju alun-alun.
Kami memarkirkan kendaraan cukup jauh dari alun-alun karena sudah banyak orang yang ingin melihat karnaval malam ini. Semakin malam orang-orang semakin banyak yang memadati alun-alun. Aku dan mbak Nia berjalan berdesak-desakan dengan banyak orang menuju alun-alun. Diantara lalu lalang ribuan orang,mbak Nia bertemu ayahnya dan salah satu adeknya yang ikut melihat karnaval juga. Namun mbak Nia lebih memilih melihat karnaval bersamaku daripada dengan ayahnya karena ayahnya tak menonton karnaval hingga larut malam. Karnaval kali ini memang akan berlangsung hingga larut malam. Aku dan mbak Nia sudah standby di dekat panggung pendopo selama satu jam. Baru satu jam saja sudah sesak begini bagaimana nantinya.
Sembari menunggu peserta karnaval lewat aku berniat membeli kartu perdana kuota untuk ponselku yang kebetulan hari ini habis. Aku mencari konter yang dekat dengan alun-alun. Setelah beberapa menit mencari akhirnya ketemu juga. Saat pemilik konter mengganti kartu dari ponselku,terdengar dentuman marching band sedang melintasi alun-alun. Acara karnaval sepertinya telah dimulai. Aku sempat mengira itu adalah marching band sekolahku namun ternyata alunan musik yang dimainkan ternyata berbeda dengan alunan marching band sekolahku.
Seusai mengganti kartu,aku dan mbak Nia bergegas menuju alun-alun. Alun-alun penuh sesak. Aku tak dapat melihat karnaval secara jelas karena terhalang oleh ribuan orang-orang bertubuh tinggi yang menghalangi pandanganku. Saat aku memfokuskan pandanganku,tanpa sengaja mataku tersorot dan tertuju pada sosok peserta karsival yang sedang berjalan menuju finish. Seorang pria berbadan tegap,berbaju beskap berwarna merah glitter,memakai blangkon dengan polesan make up yang membuatku nyaris samar untuk mengenali wajahnya. Tapi dari senyum dan pesona yang ia tebarkan kepada semua orang yang melihatnya,aku mengenalinya. 
Dialah Fafa,si doi yang ku nantikan. Dia berjalan perlahan menuju finish sembari menyapa para penonton yang melihatnya. Aku mengajak mbak Nia untuk membuntutinya dari belakang hingga garis finish. Berpuluh-puluh orang berdesakan ku terjang dengan penuh semangat untuk mengejarnya agar aku bisa menemuinya. Walaupun sudah ketiga kali ini kakiku lecet akibat terinjak-injak oleh kaki orang yang berebut melihat karsival,tapi tak menyurutkan semangatku untuk segera menemuinya.
Keringat begitu mengalir perlahan demi perlahan di dahiku. Sesampainya di tempat finish aku kehilangan jejaknya. Mbak Nia sibuk mencari adik dan menunggu kedatangan tim dari sekolah adiknya. Sedangkanku sibuk mencari Fafa yang sedari tadi hilang dari pandanganku. Aku berusaha mengirimkannya pesan singkat dan menelponnya namun tak satupun yang ia respon. Aku jadi semakin cemas. Apakah dia sudah pergi? Ku harap belum terjadi.
                             ***
Setelah beberapa menit mencarinya,ku lihat segerombalan pria yang memakai kostum sama seperti yang Fafa kenakan sedang bercengkrama di tengah area peristirahatan. Disana juga terlihat seorang gadis yang sepertinya aku mengenalinya. Ternyata itu adalah Riani. Kalau Riani ada disini berarti dia juga sedang melihat karsival. Dan kalau dia ikut nimbrung kesana itu berarti dia bersama pacarnya. Dan dimana ada pacarnya Riani,pasti ada Fafa. Dan Coco pasti bersama Fafa. Aku yakin disana pasti ada Fafa. Ku minta ijin mbak Nia untuk pergi menghampiri Fafa. Perlahan dengan yang langkah tak pasti ku hampiri gadis yang bercengkrama dengan seornag pria. Saat jarak satu meter,dia menoleh ke arahku dan berteriak.
“Meeeieiiiiiiiiyyyyyyyy!!!”
“Rianiiiii!”Riani menyambutku dengan pelukan hangat dan erat
“Duhhh!!!kamu tuh ya tumben banget keluar malem sendirian gini. Mau lihat si doi ya?”
“Hahahaha….nggak kok,Rin. Aku kesini sama mbak Nia. Tapi mbak Nia lagi nunggu di luar nunggu adiknya yang juga ikut karsival. Nah kamu kok bisa kesini juga?”
“Yeee…..aku kan emang sengaja mau lihat pacarku karsival. Oh iya kamu kesini mau lihat Fafa kan?”Ku lihat segerombolan pria di sekelilingnya melihat kehebohanku dengan Riani.
“Eh itu Fafa,Meiy. Eh Fa!!!! Sini, disamperin doimu nih!Wah Fafa menang banyak deh,Meiy so sweet juga yah?hahahahhah…”
Ku lihat pria yang sama persis ku lihat pertama kali di antara ribuan orang yang melihatnya di dekat alun-alun itu. Pria gagah yang menghampiriku itu adalah Fafa. Namun dia menggaet tanganku dan mengajakku pergi jauh dari tempat aku datang tadi. Bersama Riani dan Coco yang membuntuti aku dan Fafa,kami berbincang
“Kamu kenapa ngajak aku kesini?”tanyaku pada Fafa
“Aku nggak pengen adek juniorku tahu tentang kamu. Ini adat. Seorang senior nggak boleh nunjukin teman spesialnya di hadapan juniornya”jelas Fafa
“Oh gitu?”
“Kamu tumben kesini?Sengaja ngasih surprise biar ketemu aku ya?ahahaha…”
“Kalo iya emang kenapa?Nggak boleh?Yaudah aku mau pergi”kesalku
“(sambil memegang pergelangan tanganku) eh eh jangan pergi dong. Sini temenin aku dulu”rayu Fafa kepadaku
Riani dan Coco yang sedari tadi mengompori kami berniat meninggalkan kami berdua. ‘Udah Fa. Langsung aja ungkapin malem ini juga. Pasti diterima kok’teriak Coco. Aku jadi tak mengerti dengan perkataan yang baru saja diucapkan oleh Coco. Apakah Fafa malam ini akan menyatakan perasaannya kepadaku?Atau bahkan Fafa ingin menembakku?Entahlah aku jadi deg-degan tiap kali ditatap mata olehnya. Aku dan dia jadi saling memandang tanpa mengucap sepatah katapun. Dia melihatku dengan senyuman dan tatapan itu. Tatapan yang selalu membayang-bayangiku akhir-akhir ini. Senyum yang selalu ku rindukan akhir-akhir ini. Suasana syahdu yang seperti ini. Dia menggenggam tanganku.
Saat ia ingin mengatakan sesuatu,tiba-tiba Riani datang dan menawarkanku untuk foto bersama Fafa. Ku ambil ponsel dari tasku,namun satu notif terlintas di layar hpku. Pesan dari mbak Nia yang isinya memintaku untuk segera menemuinya karena adiknya sudah lewat dan memintaku untuk segera pulang. Aku jadi cemas sekarang. Pesan mbak Nia seakan membuatku tergesa-gesa akan pertemuan ini. Lalu ku minta Fafa untuk segera berpose dan merapikan beskapnya. Tiap kali akan memotret,dia selalu memalingkan badannya seolah tak ingin di potret karena dia malu wajahnya yang penuh polesan make up dilihat olehku. Aku jadi semakin kesal. Karena tak ada satu pun hasil jepretan yang berhasil,ku ambil ponsel dari tangan Riani dan bergegas meninggalkan mereka bertiga. Fafa mengejarku”Kamu mau kemana?” tanyanya namun tak ku perdulikan. Aku sedikit kecewa dengannya yang tak mau berfoto denganku.
Aku berlari menghampiri mbak Nia. Setelah menemui mbak Nia,aku dan mbak Nia memutuskan untuk pulang karena hari sudah larut malam dan langit nampak gerimis. Aku dan mbak Nia bergegas menuju parkiran. Banyak orang berlalu lalang meninggalkan tempat mereka menonton karsival. Jalan penuh sesak dengan kendaraan bermotor. Mbak Nia berusaha mencari jalan pintas. Saat ia ingin menyeberang menuju sisi kanan,tiba-tiba motor mbak Nia tersenggol oleh motor lain. Mbak Nia terjatuh dan aku merasakan di sekitarku perlahan semakin gelap sembari ku lihat samar-samar orang menghampiriku.

                             *** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar