Ulangan
Tengah Semester kini telah dilaksanakan. Aku sibuk mempersiapkannya dan sibuk menyelesaikan
tugas-tugas yang belum ku lengkapi. Rasanya terlalu cepat sekali untuk
bertarung. Padahal baru saja kemarin aku naik kelas. Tapi tak apalah. Kalau
kata Fafa,hidup itu sesingkat mengadzankan bayi yang baru lahir hingga
mengiqomahkan orang meninggal yang berada dalam liang lahat. Berjalan begitu
cepat sekali. Di samping itu,semenjak aku dekat dengan Fafa pengetahuan tentang
agamaku juga bertambah. Dia seperti guru spiritualku. Aku sempat mengira bahwa
dia adalah anak seorang ulama atau kyai. Aku sempat minder dekat dengannya. Tapi
suatu ketika aku menanyakannya dia tak mengakuinya. Ah entahlah.
Aku tak peduli
dengan itu. Intinya aku harus bisa melewati ujian dengan sungguh-sungguh.
Berikhtiar,berdoa,dan bertawakal. Kalau kata Fafa sih gitu. Ah Fafa lagi Fafa
lagi. Sebenarnya ada apa dengan diriku ini? Bayang-bayang tatapan dan senyuman
Fafa akhir-akhir ini sering mengusik fikiranku. Sulit sekali aku
menghilangkannya. Terlebih disaat aku berusaha menghilangkannya justru malah
semakin aku mengingatnya. Oh Tuhan?Apakah aku benar-benar memiliki rasa itu?
Rasa yang membuat orang dimabuk asmara?Entahlah…Aku harus bisa mengendalikan
rasa ini dan memfokuskan fikiranku pada apa yang ku lakukan.
Delapan
hari penuh ketegangan. Namun aku selalu semangat untuk mengawalinya. Karena
setiap sebelum berangkat menuju sekolahan ku buka ponsel dengan wallpaper
bertuliskan ‘Selamat Pagi,Pipi Jambuku. Semangat!!!’ Rasanya moodku baik terus
tiap ku baca kalimat itu. Siapa sih yang senengnya nggak ketulungan ketika si
doi nyemangatin kita? Ups! Doi? Yah…..Fafa ku anggap doiku. Kali ini aku
benar-benar mengakuinya. Aku percaya diri untuk mengakuinya. Lagi pula kemarin
dia bilang kepadaku kalau dia juga nyaman dekat denganku. Aku rasa dia memang
benar-benar punya rasa untukku.
Kalau nyaman karena dekat,mustahil tak
menyimpan rasa walau sesaat. Aku benar-benar yakin. Dia pasti menyembunyikan
itu. Aku tak peduli dengan incarannya. Yang terpenting adalah bagaimana cara
dia agar tetap nyaman dekat denganku meskipun aku telah memiliki rasa untuknya
namun tak ingin berharap lebih hanya karena takut dirinya akan berubah menjauh
dariku. Aku ingin dia nyaman dekat denganku. Aku ingin tuan rumahku senang
disinggahi tamu sepertiku. Aku ingin tuan rumahku nyaman tinggal di rumahnya
bersamaku.
***
Hari
Sabtu yang akan datang,di Kotaku akan diadakan festival dan karsival dalam
rangka memperingati hari jadi kota yang ke berapa entahlah aku lupa. Sudah lama
intinya. Biasanya karnaval diadakan dengan cara mengikutsertakan tiap sekolah
mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti lomba seperti pawai dalam karnaval
yang diadakan tepatnya pada malam hari. Baru kali ini pemerintah daerah
mengadakan karnaval pada malam hari. Tahun lalu karnaval diadakan pada siang
hari dan itu rasanya panas sekali seperti membakar kulit. Tapi beda tahun beda
kebijakan. Karena lebih mementingkan pesertanya,makanya karnaval diadakan pada
malam hari.
Sekolahku
juga ikut mengirimkan perwakilannya dengan mempersembahkan Marching Band yang
sudah cukup tenar waktu itu. Tentunya Aulin pasti ikut. Dan sekarang dia
memintaku untuk melihatnya ketika karnaval. Tapi disisi lain sekolah milik Fafa
juga ikut serta dalam lomba itu dan Fafa adalah salah satu pesertanya. Delapan
hari lost contact aku sama sekali tak mencemaskannya. Karena aku yakin dia
pasti baik-baik saja. Tapi buat pembaca setia kisah ini pasti bertanya-tanya.
Darimana aku tahu kalau dia ikut karnaval? Dhede yang sengaja memberitahuku.
Dia layaknya wartawan yang selalu mengirimkan kabar tentang Fafa kepadaku.
Bukan aku yang memintanya untuk memata-matai Fafa. Dia berinisiatif sendiri.
Menurutnya sih,aku dan Fafa adalah pasangan yang cocok. Dia memiliki persepsi
itu karena saat kami berdelapan pergi ke Semarang hanya aku dan Fafa yang
selamat dari operasi polisi dan insiden lainnya. Entahlah. Mungkin ini berkah
dari lantunan nasyid yang sepanjang jalan ku lantunkan bersama-sama dengan
Fafa. Oke Fafa lagi Fafa terus.
Tepat
hari sabtu,Ulangan telah selesai dilaksanakan. Aku ingin segera refreshing dan
membersihkan sampah yang menumpuk di pikiranku. Tapi tidak untuk membersihkan
kenangan yang telah diberikan oleh beberapa orang yang pernah singgah dalam
hatiku. Aku sangat menghargai orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku.
Setiap kenangan yang mereka berikan masih tersimpan rapi di memori ingatanku.
Aku tak pernah sekalipun melupakan itu semua karena dari kenangan kita dapat
mengambil hikmah dan pengakuan bahwa ‘oh iya aku dulu pernah gini sama si doi…
oh iya dulu doi pernah ngasih itu ke aku…’ dan ujung-ujungnya flashback terus
baper deh. Dan kali ini aku benar-benar baper dengan Fafa.
Seusai
ulangan,aku berkumpul di musholla untuk membahas program kerja organisasi yang
ku ikuti. Saat perjalanan menuju musholla,Fafa mengirimkanku voicenote yang
berisi rekaman suaranya yang menyanyikan lagu berjudul ‘Diantara Bintang’.
Siapa sih yang gak meleleh dikirimin doi ginian setelah seminggu lebih lost
contact? Aku dan Fafa mulai berkomunikasi seperti biasa. Dia sempat
menanyakanku tentang karnaval yang nanti malam akan diadakan. Dia berharap aku
datang untuk menontonnya namun aku menolak karena tak ada yang menjemputku. Dia
sepertinya kecewa tapi walau begitu dia tak marah kepadaku. Syukurlah…
Hari
semakin sore. Sore ini ada latihan rebana mendadak karena grup kami diundang
dalam acara sertijab organisasi yang seminggu lagi akan diadakan. Mbak Nia menghampiriku
dan menyuruhku untuk menemaninya hingga latihan usai. Meskipun aku penat dan
ingin pulang,tapi aku pakewuh untuk meninggalkan mbak Nia sendirian di musholla
karena dialah koordinator ekskul rebana. Lagi pula dia juga akan senang hati
untuk mengantarkanku pulang sore hari ini. Setelah latihan usai,aku membantu
mbak Nia mengembalikan alat-alat rebana ke tempat semula. Sembari membawa
alat,kami berbincang
“Mbak
Nia,nanti malem mbak lihat karnaval nggak?”
“Aku
pengen lihat dek. Soalnya adekku ikut karnaval tapi nggak ada temen”
“Kalau
tak temenin mbak Nia mau nggak?tapi aku takut kalo mbak Nia kerepotan nantinya”
“Aaaaaaah!Boleh-boleh…kamu
ini bener-bener the best sister,the best friend deh. Udah nggak apa-apa. Nanti
malem tak jemput plus tak anterin pulang. Nggak kerepotan kok. Justru aku
seneng soalnya ada yang mau nemenin. Ntar habis maghrib aku otw rumahmu”
Betapa
senangnya aku mendapat tawaran dari mbak Nia untuk menemaninya melihat
karnaval. Aku ingin membuat kejutan pada Fafa akan kedatanganku. Pasti Fafa
akan terkejut dan senang melihatku. Atau bahkan dia akan menghindar dan
bersembunyi karena takut dandanannya yang menor ku ejek?Hahaha… aku tak sabar
melihatnya. Aku pulang bersama mbak Nia sore itu.
Sesampainya
di rumah aku segera mandi,menunaikan ibadah sholat maghrib,mengaji
sebentar,berdandan,memakai wewangian,mempersiapkan perlengkapan yang ku
bawa,duh pokoknya ribet lah mau ketemu si doi. Aku menunggu mbak Nia di ruang
tamu. Sepuluh menit ku menunggu akhirnya mbak Nia datang. Kami berpamitan
kepada ibuku dan berangkat menuju alun-alun.
Kami
memarkirkan kendaraan cukup jauh dari alun-alun karena sudah banyak orang yang
ingin melihat karnaval malam ini. Semakin malam orang-orang semakin banyak yang
memadati alun-alun. Aku dan mbak Nia berjalan berdesak-desakan dengan banyak
orang menuju alun-alun. Diantara lalu lalang ribuan orang,mbak Nia bertemu
ayahnya dan salah satu adeknya yang ikut melihat karnaval juga. Namun mbak Nia
lebih memilih melihat karnaval bersamaku daripada dengan ayahnya karena ayahnya
tak menonton karnaval hingga larut malam. Karnaval kali ini memang akan
berlangsung hingga larut malam. Aku dan mbak Nia sudah standby di dekat panggung
pendopo selama satu jam. Baru satu jam saja sudah sesak begini bagaimana
nantinya.
Sembari
menunggu peserta karnaval lewat aku berniat membeli kartu perdana kuota untuk
ponselku yang kebetulan hari ini habis. Aku mencari konter yang dekat dengan
alun-alun. Setelah beberapa menit mencari akhirnya ketemu juga. Saat pemilik
konter mengganti kartu dari ponselku,terdengar dentuman marching band sedang
melintasi alun-alun. Acara karnaval sepertinya telah dimulai. Aku sempat
mengira itu adalah marching band sekolahku namun ternyata alunan musik yang dimainkan
ternyata berbeda dengan alunan marching band sekolahku.
Seusai
mengganti kartu,aku dan mbak Nia bergegas menuju alun-alun. Alun-alun penuh
sesak. Aku tak dapat melihat karnaval secara jelas karena terhalang oleh ribuan
orang-orang bertubuh tinggi yang menghalangi pandanganku. Saat aku memfokuskan
pandanganku,tanpa sengaja mataku tersorot dan tertuju pada sosok peserta
karsival yang sedang berjalan menuju finish. Seorang pria berbadan
tegap,berbaju beskap berwarna merah glitter,memakai blangkon dengan polesan
make up yang membuatku nyaris samar untuk mengenali wajahnya. Tapi dari senyum
dan pesona yang ia tebarkan kepada semua orang yang melihatnya,aku mengenalinya.
Dialah Fafa,si doi yang ku nantikan. Dia berjalan perlahan menuju finish
sembari menyapa para penonton yang melihatnya. Aku mengajak mbak Nia untuk
membuntutinya dari belakang hingga garis finish. Berpuluh-puluh orang
berdesakan ku terjang dengan penuh semangat untuk mengejarnya agar aku bisa
menemuinya. Walaupun sudah ketiga kali ini kakiku lecet akibat terinjak-injak
oleh kaki orang yang berebut melihat karsival,tapi tak menyurutkan semangatku
untuk segera menemuinya.
Keringat
begitu mengalir perlahan demi perlahan di dahiku. Sesampainya di tempat finish
aku kehilangan jejaknya. Mbak Nia sibuk mencari adik dan menunggu kedatangan
tim dari sekolah adiknya. Sedangkanku sibuk mencari Fafa yang sedari tadi
hilang dari pandanganku. Aku berusaha mengirimkannya pesan singkat dan
menelponnya namun tak satupun yang ia respon. Aku jadi semakin cemas. Apakah
dia sudah pergi? Ku harap belum terjadi.
***
Setelah
beberapa menit mencarinya,ku lihat segerombalan pria yang memakai kostum sama
seperti yang Fafa kenakan sedang bercengkrama di tengah area peristirahatan.
Disana juga terlihat seorang gadis yang sepertinya aku mengenalinya. Ternyata
itu adalah Riani. Kalau Riani ada disini berarti dia juga sedang melihat
karsival. Dan kalau dia ikut nimbrung kesana itu berarti dia bersama pacarnya. Dan
dimana ada pacarnya Riani,pasti ada Fafa. Dan Coco pasti bersama Fafa. Aku
yakin disana pasti ada Fafa. Ku minta ijin mbak Nia untuk pergi menghampiri
Fafa. Perlahan dengan yang langkah tak pasti ku hampiri gadis yang bercengkrama
dengan seornag pria. Saat jarak satu meter,dia menoleh ke arahku dan berteriak.
“Meeeieiiiiiiiiyyyyyyyy!!!”
“Rianiiiii!”Riani
menyambutku dengan pelukan hangat dan erat
“Duhhh!!!kamu
tuh ya tumben banget keluar malem sendirian gini. Mau lihat si doi ya?”
“Hahahaha….nggak
kok,Rin. Aku kesini sama mbak Nia. Tapi mbak Nia lagi nunggu di luar nunggu
adiknya yang juga ikut karsival. Nah kamu kok bisa kesini juga?”
“Yeee…..aku
kan emang sengaja mau lihat pacarku karsival. Oh iya kamu kesini mau lihat Fafa
kan?”Ku lihat segerombolan pria di sekelilingnya melihat kehebohanku dengan
Riani.
“Eh
itu Fafa,Meiy. Eh Fa!!!! Sini, disamperin doimu nih!Wah Fafa menang banyak
deh,Meiy so sweet juga yah?hahahahhah…”
Ku
lihat pria yang sama persis ku lihat pertama kali di antara ribuan orang yang
melihatnya di dekat alun-alun itu. Pria gagah yang menghampiriku itu adalah
Fafa. Namun dia menggaet tanganku dan mengajakku pergi jauh dari tempat aku datang
tadi. Bersama Riani dan Coco yang membuntuti aku dan Fafa,kami berbincang
“Kamu
kenapa ngajak aku kesini?”tanyaku pada Fafa
“Aku
nggak pengen adek juniorku tahu tentang kamu. Ini adat. Seorang senior nggak
boleh nunjukin teman spesialnya di hadapan juniornya”jelas Fafa
“Oh
gitu?”
“Kamu
tumben kesini?Sengaja ngasih surprise biar ketemu aku ya?ahahaha…”
“Kalo
iya emang kenapa?Nggak boleh?Yaudah aku mau pergi”kesalku
“(sambil
memegang pergelangan tanganku) eh eh jangan pergi dong. Sini temenin aku
dulu”rayu Fafa kepadaku
Riani
dan Coco yang sedari tadi mengompori kami berniat meninggalkan kami berdua. ‘Udah
Fa. Langsung aja ungkapin malem ini juga. Pasti diterima kok’teriak Coco. Aku
jadi tak mengerti dengan perkataan yang baru saja diucapkan oleh Coco. Apakah
Fafa malam ini akan menyatakan perasaannya kepadaku?Atau bahkan Fafa ingin
menembakku?Entahlah aku jadi deg-degan tiap kali ditatap mata olehnya. Aku dan
dia jadi saling memandang tanpa mengucap sepatah katapun. Dia melihatku dengan
senyuman dan tatapan itu. Tatapan yang selalu membayang-bayangiku akhir-akhir
ini. Senyum yang selalu ku rindukan akhir-akhir ini. Suasana syahdu yang
seperti ini. Dia menggenggam tanganku.
Saat
ia ingin mengatakan sesuatu,tiba-tiba Riani datang dan menawarkanku untuk foto
bersama Fafa. Ku ambil ponsel dari tasku,namun satu notif terlintas di layar
hpku. Pesan dari mbak Nia yang isinya memintaku untuk segera menemuinya karena
adiknya sudah lewat dan memintaku untuk segera pulang. Aku jadi cemas sekarang.
Pesan mbak Nia seakan membuatku tergesa-gesa akan pertemuan ini. Lalu ku minta
Fafa untuk segera berpose dan merapikan beskapnya. Tiap kali akan memotret,dia
selalu memalingkan badannya seolah tak ingin di potret karena dia malu wajahnya
yang penuh polesan make up dilihat olehku. Aku jadi semakin kesal. Karena tak ada
satu pun hasil jepretan yang berhasil,ku ambil ponsel dari tangan Riani dan
bergegas meninggalkan mereka bertiga. Fafa mengejarku”Kamu mau kemana?” tanyanya
namun tak ku perdulikan. Aku sedikit kecewa dengannya yang tak mau berfoto
denganku.
Aku
berlari menghampiri mbak Nia. Setelah menemui mbak Nia,aku dan mbak Nia
memutuskan untuk pulang karena hari sudah larut malam dan langit nampak gerimis.
Aku dan mbak Nia bergegas menuju parkiran. Banyak orang berlalu lalang
meninggalkan tempat mereka menonton karsival. Jalan penuh sesak dengan
kendaraan bermotor. Mbak Nia berusaha mencari jalan pintas. Saat ia ingin
menyeberang menuju sisi kanan,tiba-tiba motor mbak Nia tersenggol oleh motor
lain. Mbak Nia terjatuh dan aku merasakan di sekitarku perlahan semakin gelap
sembari ku lihat samar-samar orang menghampiriku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar