Kamis, 17 November 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Berita di Ujung Senja

Sudah tiga bulan ini aku hampir singgah. Namun aku tak pernah merasa digantung ataupun menunggu kepastian dari si tuan rumah. Karena aku tau. Tuan rumah tak pernah memberi waktu untukku menunggu atau pun memberiku harapan bahwa aku akan menjadi kekasihnya atau apapun tidak. Sama sekali tidak. Tapi terkadang aku nyaris baper kepadanya. Setiap kali dia menjemputku untuk mengajakku makan berdua. Setiap kali dia menghubungiku di waktu senggang. Setiap kali dia memberi perhatian untukku. Seperti pesan disertai gambar yang ku terima darinya.
Pesan itu bertuliskan GWS(Get Well Soon) ‘Pipi Jambu’ disertai foto Fafa menunjukkan kertas bertuliskan pesan tadi bersama Dhede,Coco,Marjo dan salah seorang wanita di dalam foto itu entah siapa aku tak mengenalinya. Mereka berpose dengan ekspresif dan ceria dalam fotonya. Aku merasa senang sekali. Aku seperti sudah dianggap keluarga sendiri olehnya. Aku senang mereka menerima keberadaanku di dalam geng mereka dan mendukung kedekatanku dengan Fafa. Tapi meskipun aku dan Fafa dekat,aku menyadari bahwa aku dan Fafa tak mungkin bersama. Fafa sudah punya incaran. Tapi bukan berarti aku adalah tempat pelampiasan ketika dia bosan. Dia tak pernah memperlakukanku seenaknya sendiri. Itu sih menurutku. Tapi bagaimana pun seorang cowok pasti punya 1001 cara untuk berlari dari keadaan yang membosankan.
Hanya lelaki tangguh dan tulen yang mampu bertahan di segala situasi dan kondisi sejenuh apapun ketika mengincar incarannya. Ah aku tak taulah apa yang ada di pikiran Fafa saat ini. Yang pasti aku harus meredam keinginanku untuk berharap lebih padanya. Aku takut rasaku ini menjadi semakin besar,semakin tinggi,semakin memuncak,dan semakin dalam. Tapi lebih takutnya lagi,aku melihatnya tak bahagia walau bersamaku. Biarlah dia bahagia bersama incarannya. Biarkan ku terluka,asalkan ia bahagia.
Sebagai bukti nyata,Fafa mengirimkanku pesan kalau nanti sore dia ingin mengajakku makan. Dan parahnya lagi,dia tak hanya mengajakku,dia mengajak incarannya juga. Ini hal gila macam apa?aku sih sebenarnya juga kepo gimana wajah,perawakan,dan penampilan incarannya. Seperti apa sih incaran Fafa? Fafa sama sekali tak pernah memberitahuku incarannya itu siapa. Namanya aja aku nggak dikasih tau apalagi fotonya. Dia bahkan sama sekali tak pernah curhat incarannya itu siapa. Apa dia benar-benar berbohong padaku? Kalau iya kenapa aku terus-terusan mempercayainya? Huh entahlah. Dia memang makhluk paling misterius kedua setelah Raka. Oh Raka? Gimana kabarmu saat ini? Dan kenapa aku merindukannya? Mungkin karena hal ini.
                             ***
Pagi ini aku berangkat sekolah cukup awal. Aku berjalan menuju kelas dengan santai. Ku dengar bunyi injakan sepatu PDH berjalan menuju ke arahku. Aku menoleh ke belakang. Raka. Berjalan menuju ke arahku dengan tatapan hampa. Aku melihatnya dan menghentikan langkahku.
“Raka?”
“Ada apa?”
“Tumben berangkat pagi?”
“Bukan urusanmu”
“Kok kamu cuek gini sih?”aku berusaha berjalan beriringan dengannya
“Ya aku cuma berusaha ngelakuin apa yang kamu lakuin ke aku”
Ku hentikan langkahku. “Maksud kamu apa?”
“Aku nggak pernah ada niat jahat buat kamu. Aku berusaha mengikuti apa maumu. Kalau kamu nggak suka,ku harap kamu nggak menyesal dengan apa yang aku lakukan ”
Dia pergi mendahuluiku. Aku mencari jalan lain untuk sampai ke kelas. Sungguh tadi itu kejadian yang tak terduga. Aku sama sekali nggak pernah ada niatan buat berangkat sekolah bareng sama Raka. Berangkat bareng sama Fafa aja nggak pernah apalagi sama Raka. Aku berusaha menata pikiran dan perasaan sesampainya di kelas. Aku tak ingin kekukuhanku pergi dari hati Raka terusik dan teroyak gara-gara kejadian tadi pagi. Ya,aku ini orangnya memang baperan. Tapi aku berusaha mengontrolnya kok. Yang pasti aku harus tetap fokus pada perasaanku ke Fafa. Aku sudah pindah. Sudah hampir singgah. Bahkan tuan rumah menyambutnya dengan senang hati. Tapi aku ragu untuk tetap tinggal kali ini. Pasalnya tuan rumah akan punya teman baru untuk menemaninya tinggal disana. Apakah aku akan benar-benar diusir kali ini? Biarkan pertemuan yang menjawab.
Siang begitu cepat terlintas. Pukul setengah tiga aku ada jadwal les. Fafa menjemputku seusai pulang les. Dia rela menunggu kepulanganku asalkan aku menemaninya menemui incarannya. Les kali ini waktunya agak lama karena pengajarnya datang terlambat. Aku jadi merasa nggak enak sama Fafa. Dia terlalu lama menungguku. Aku berusaha menghubunginya. Justru dia malah bilang nggak apa-apa nunggu lama asalkan aku tetap mau menemaninya. Dia bahkan bersedia mengantarkanku pulang. Kalau begitu,berarti incarannya naik motor sendiri dong? Hah nggak pentinglah. Intinya aku berusaha berbuat baik padanya. 
Seusai les,aku membonceng temanku untuk sampai di depan sekolah. Sesampainya di depan sekolah tak kulihat keberadaan Fafa. Ku cari dari ujung pagar sekolah bagian barat dan timur tak kutemui dirinya. Tiba-tiba dari tengah jalan,pengendara motor biru putih menepi menuju ke arahku. Fafa datang. Setelah aku diboncengnya,Fafa langsung tancap gas. Dia menuju rumah makan yang biasa kami kunjungi. Sesampainya disana kami memesan makanan.
                             ***
“Fa?”
“Iya,Meiy?”
“Incaranmu udah kamu kasih tau belum kalo kita makan disini?”
“Iya udah.”
“Dia kesini sendirian?”
“Sama aku kan?”
“Maksudnya?”
“Dia kesini sama aku.”
“Kan kamu kesini sama aku. Dia yang kamu maksud incaran kamu kan?”
“Ah udahlah,nanti aja ngobrolnya. Kita makan dulu. Aku kelaperan gara-gara nunggu kamu”
Aku jadi merasa bersalah padanya. Harusnya aku menolak untuk menemaninya. Aku tak selera makan sore itu. Untung saja aku memesan menu dengan porsi yang sedikit karena aku sudah terbiasa untuk makan siang di sekolah. Mubadzir kan kalo aku harus menyisakan makanan dengan suasana tak selera makan. Setengah jam kami menikmati makanan tanpa berbicara sama sekali. Aku rasa Fafa memang sedang kelaparan. Hahaha lucu juga kalo dia lagi makan. Tiap kali dia melahap makanannya aku diam-diam mencuri pandang padanya. Tapi ketika aku ketahuan memandangnya,dia memandangku seolah memergokiku bahwa aku telah memandangnya cukup lama. Menit demi menit ku nanti incarannya bersama Fafa. Aku menjadi bosan sekarang. Aku mulai ragu akan incarannya.
“Mana sih Fa?kok incaranmu nggak dateng-dateng?”
“Dia dateng kok”
“Iya mana orangnya?kita udah nunggu sejam lho disini. Hari udah mulai sore gini. Kamu juga nggak mesenin makanan buat dia”
“Dia udah mesen makanan kok”
“Lah mana?kok aku ragu ya sama incaran kamu? Kayaknya dia nggak bakal dateng deh. Coba hubungi dia lagi”
“Nggak usah. Dia udah disini kok?”
“Apa? Maksud kamu gimana sih? Jangan bilang incaran kamu makhluk jadi-jadian? Duh,Fa! Udah deh nggak usah nakut-nakutin aku gini.”
“Aku nggak nakut-nakutin kamu. Aku serius.”
“Terus maksudnya gimana?Dari tadi kamu bilang ada disini tapi mana?”
“Udah ada disini. Di depan aku.”
Aku bingung dan tidak ngerti apa yang dia bicarakan
“Maksudnya?”
“Jadian yuk?”
“Kamu lagi ngomong sama siapa?”
“Jadian yuk?”
“Fa?”ku lambai-lambaikan tanganku ke depan wajah Fafa namun dia malah memegang tanganku.
“Jadian yuk?”
“Kamu ngomong sama siapa si?”
“Jangan pura-pura bego deh. Aku tuh lagi ngomong sama kamu.”
“Yaaaa…kamu barusan ngomong apa?”
“Hari ini kita jadian.”
“Hah?ih kamu ngaco deh! Kamu lagi acting kan?biar nggak nervous kalo ketemu sama incaran kamu. Hahahah… kaya mau akad nikah aja pake nervous segala”
“Emang aku kelihatan nervous di depan kamu?”
“Ya enggak juga sih. Tapi udah berani kok. Actingnya menjiwai sekali.”
“Aku emang lagi serius,Meiy!”
“Maksud kamu serius acting kan?”
“Hari ini kita jadian. Incaranku udah datang. Incaranku udah mesen makanan. Incaranku udah di depan mataku. Incaranku sekarang lagi ngobrol sama aku. Incaranku yang sekarang ku pegang tangannya. Incaranku yang lahirnya sebelum diriku lahir. Incaranku itu kamu. Pipi Jambu.”
Sontak aku kaget dengan apa yang baru saja Fafa katakan. Aku masih tak percaya dengan apa yang ia katakan.
“Hah?Hahaha. Kamu bercanda kali. Serius deh. Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud.”
“Aku serius Meiy. Aku nggak lagi bercanda. Maaf ya kalo selama ini aku berbohong sama kamu. Aku sengaja nggak ngasih tau kamu incaranku itu siapa. Aku pengen bikin surprise kamu dan aku cuma pengen tau reaksimu setelah ku dekati. Aku tau,kamu juga punya perasaan yang sama seperti apa yang ku rasa. Dan sekarang aku bersedia untuk menjadi rumahmu. Rumah yang bukan hanya tempatmu singgah melainkan tempatmu kembali. Tak peduli sejauh apapun kamu pergi. Tak peduli selama apapun kamu mencari. Aku ingin kamu tinggal bersamaku disini.”
Fafa menunjuk jari telunjuknya ke arah hatinya. Aku tak berkutik apa-apa. Aku bahkan masih tidak paham dengan apa yang dia katakan. Rasanya dia terlalu bodoh untuk memilih tamu seperti diriku. Untuk menjadikanku pacarnya. Aku ini makhluk Tuhan yang tak sempurna bodinya,yang tak cantik wajahnya,yang belum tentu baik perangainya,yang tak patut untuk ditiru bahkan diidamkan,yang tak pantas menjadi pacar seorang paskibraka. Aku ini wanita yang lemah,wanita yang kasar,wanita yang galak,wanita yang tak sabaran,wanita yang baperan,dan wanita yang ahhhh…..aku ngerasa aku nggak pantas buat Fafa. Aku entah kenapa berpikiran bahwa aku harus menolak permintaannya untuk jadian di sore itu juga. Dia masih terus saja memegang tanganku dan memandangku seolah ingin menunggu jawabanku.
                             ***
Tiba-tiba ponselku berdering. Satu pesan dari bunda. Dia menanyakan dimana aku sekarang. Aku balas saja aku sedang perjalanan pulang. Aku melepaskan tanganku dari genggaman Fafa dan memintanya untuk segera mengantarkanku pulang karena bundaku sudah sms. Fafa melihatku dengan tatapan yang sepertinya tatapan kecewa bercampur kesal. Dia bergegas membayar bill dan pergi menuju parkiran dengan langkah cepat. Aku nyaris memintanya untuk tidak usah mengantarkanku pulang karena situasi hati Fafa ku rasa sedang kecewa dan marah besar padaku. Aku jadi bingung gimana harus bersikap.
Akhirnya aku pulang dibonceng Fafa dan agak sedikit canggung. Perasaan ketika pertama kali bertemu dengannya pun seolah terulang kembali. Aku takut memulai pembicaraan. Di tengah perjalanan aku memikirkan apakah aku harus menerimanya atau menolaknya. Kalau misal aku menerimanya,apa aku kuat ditinggal dia terus sedangkan dia sibuk kegiatan ini itu?Apa aku siap jadi bahan perbincangan temen-temannya?Apa aku siap menerima kekurangannya? Apa aku siap dengan resiko yang akan ku terima nantinya?
Sejujurnya aku sangat senang tuan rumahku juga punya perasaan yang sama seperti tamunya,tetapi aku takut dia tak bahagia ketika bersamaku. Aku takut dia tak menerima kekuranganku nantinya. Aku takut dia akan pergi meninggalkanku dan tanpa memberiku kepastian ketika suatu saat dia bertugas sangat jauh dan lama. Aku takut kalau sewaktu-waktu Fafa akan melakukan hal yang sama seperti yang Raka lakukan kepadaku. Namun kalau misal aku menolaknya,apa ia akan kecewa?apa ia akan marah kepadaku?apa ia masih menganggapku sebagai teman dekatnya?lalu bagaimana dengan reaksi teman-temannya?apa mereka akan memusuhiku karena aku menolaknya?atau bahkan ia akan membenciku?menjauhiku?dan tak kan pernah mau bertemu dan mengenalku lagi? Aku sungguh tak tau harus menjawab apa.
Senja menemani perjalanan pulangku diantar Fafa. Sepanjang jalan,Fafa terdiam membisu tanpa melirik kaca spion sekalipun seperti yang biasa ia lakukan padaku. Aku jadi merasa bersalah karena seakan telah menggantung dan mengabaikan permintaannya tadi. Aku bingung harus memulai pembicaraan darimana. Aku berharap dia mengajakku bicara. Jalan yang kami lewati berbeda dari biasanya. Fafa memilih jalan yang agak sepi. Kami melintasi jalan raya kecil di antara persawahan dekat sekolahannya. Memang kalau lewat jalan itu pula akan lebih dekat untuk sampai ke rumahku. Di jalan itu Fafa mulai mengajakku bicara dan melambatkan kecepatan motornya menjadi 20 km/jam.
“Meiy?”
“Iya?”
“Hari ini kita jadian ya?”
“Eehh…kamu serius ngajak jadian?”
“Iya Meiy. Aku serius. Aku mencintaimu sejak aku bilang aku udah ada incaran. Dan kamu juga punya rasa yang sama kan kaya aku?”
“Kamu darimana tau kalo aku juga punya rasa sama kamu?”
“Ooh jadi…?enggak ya?”
“Eemmmm…bukan. Bukan gitu maksudnya. Gini,jujur ya Fa. Aku nggak tau siapa yang suka duluan. Aku atau kamu. Tapi…Aku ngerasa aku nggak cocok sama kamu. Aku nggak pantes buat kamu. Aku ini banyak kekurangan. Apa kamu udah bersedia nerima apapun kekuranganku?kejelekanku?dan kelemahanku?”
“Aku mencintaimu dengan sewajarnya. Aku nggak nuntut kamu untuk berubah demi aku.”
“Hah?Kamu mencintaiku?Aku heran deh sama kamu. Terus kamu kenapa sih nggak bilang dari awal kalau kamu ngincer aku?”
“Maafin aku Meiy. Aku nggak bermaksud bohong sama kamu tapi perasaan hati manusia nggak ada yang tau kan? Kalau saja diawal pertemuan aku tau kamu mau denganku,kita pasti udah jadian semenjak kita pertama kali bertemu. Intinya,aku ingin ‘memetikmu’. Karena aku tau,jambu yang matang itu mencerminkan yang merawat. Kalau bener-bener ‘ngimbu’ dan merawat dengan serius,pasti jambu akan matang dengan sempurna. Dan ku kira kamu sekarang udah matang gara-gara ku imbu. Aku takut jambuku diambil orang. Makanya aku memetiknya hari ini.”
“Tapi kan jambu yang kelamaan diimbu bisa aja busuk kan? Begitu juga manusia,cepat atau lambat orang akan berubah seiring berjalannya waktu. Kamu nggak takut kalau misal suatu saat aku bakal berubah?”
“Aku nggak takut kamu berubah. Aku pasti ingetin kalau kamu berubah nggak baik. Seberubahnya orang,dia nggak akan pernah pergi kalau dalam hatinya bener-bener tulus mencintai pasangannya. Kamu pernah bilang,nggak suka disamain sama jambu. Lalu kenapa tadi membanding-bandingkan dirimu dengan jambu?”
“Ya tadi katanya kamu bilang mau merawat aku kayak pohon jambu kan? Ah udahlah. Aku tau kamu juga nanti bakal bosen,berubah,dan ninggalin aku”
“Aku nggak akan bosen sama kamu. Aku nggak takut akan perubahan. Aku ini orang yang berpendirian kuat. Kalau aku suka sama seseorang ya akan aku kejar sampai tau responnya keaku kaya gimana. Aku nggak akan ninggalin kamu kecuali ada urusan penting dan aku harus cabut.”
Aku mulai ragu-ragu untuk menerimanya tetapi  …..
“Aku juga sibuk kegiatan. Jadi kemungkinan mustahil untukku mencari selingkuhan. Dan kemungkinan pasti aku akan sering meninggalkanmu demi kegiatan. Tapi,percayalah. Aku tak pernah jatuh cinta sedalam ini sesungguhnya. Aku rela meninggalkan rapat demi menjemputmu. Aku rela terlambat latihan demi bertemu denganmu. Aku rela menunda jam praktik ku demi makan siang bersamamu. Aku nyaman bersamamu. Aku senang bersamamu. Aku bahagia bersamamu. Aku bakal membuktikan kalau sesibuk apapun seorang paskibraka dia mampu menjaga ketulusan dan kesetiaan cinta dari seseorang yang dikasihinya setelah mencintai kebangsaannya. Jadi…..?”
Tak terasa kami sampai di gang rumahku. Aku turun dari motor dan berkata
“Makasih ya buat sore hari ini. Hati-hati pulangnya. Udah maghrib nih. Aku mau mandi. Aku belum keramas.”
Setelah itu,Fafa menggaet tanganku sebelum aku melangkah agak jauh darinya
“Jadi gimana Meiy?Aku masih nunggu jawaban kamu loh. Hargai perasaan seseorang yang rela merelakan segala hal demi dirimu,kamu nggak tau kan konsekuensi yang ku terima dulu kaya gimana”
Aku diam sejenak. Memikirkan apa jawaban yang akan ku katakan…
“Nggak…”sambil berbalik dan memandangnya sebentar. Tangannya lemas menggenggam tanganku. Dia sepertinya kecewa. Harapan yang ia impikan seakan pupus.
“Nggak nolak maksudnya… Udah ah. Kamu cepet pulang gih. Aku mau mandi. Whleeekk”sambil ku julurkan lidahku dan melepas genggaman tangannya. Aku berjalan meninggalkannya. Fafa memajukan kendaraannya agar terlihat dari ujung teras rumahku.
“Beneran Meiy?”
“Iyahhhh…….udah sana!!!”
Fafa tersenyum sumringah dan mengadahkan kedua tangan seolah dia berdoa. Dia melihatku dengan senyuman manis melebihi manisnya senja kala itu. Dia melambaikan tangan untuk pulang. Ku dengar dia menancap gas sangat cepat seolah dia sedang melampiaskan kebahagiaannya.
Senja selalu hangat sama seperti senyumnya….
Namun senja hanya sekejap sama seperti kehadirannya…..
Rindu selalu membuat senja menjadi sendu.…
Membuatku menyalahkan waktu yang begitu cepat melaju…..
Melihat kepergiannya bersama sang senja…..
Yang diliputi syahdunya rasa cinta dan sayang yang membara…..
Untukmu,Paskibraka yang ku damba dan ku puja…..
Semoga kita bahagia…..
Bersama….. Selamanya…..

                             ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar