Kamis, 27 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Balada Car Free Day

Dari segala penjuru
Kami datang ‘tuk bersatu
Sama-sama merasakan
Suka duka di paskibraka
Owaiyeiyeiye Owaiyoiyoiyo Owaiye Owaiyo2x
Selamat tinggallah kasihku
Aku pergi tak ‘kan lama
Hanya satu bulan saja
‘Tuk berlatih di paskibraka…..
Owaiyeiyeiye Owaiyoiyoiyo Owaiye Owaiyo2x
Voicenote yang ku dengar semalam membawaku menuju mimpi yang indah. Suara dari seorang pria yang kemarin sempat mengantarkanku pulang kini begitu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tidur nyenyak sekali semalam. Hingga terbangun keesokannya,aku ingin kembali tidur lagi. Aku belum sepenuhnya ingin bangun. Ku paksa untuk membuka mataku dan ku lihat reminder yang sedari jam empat pagi sudah berdering namun ku abaikan. Terlihat ‘Car Free Day With Fafa,Riani,Coco’. Aku hampir lupa untuk bangun pagi. Bergegas ku bangun dari lelapnya tidurku dan bersegera untuk mandi dan sholat shubuh. Dinginnya air shower membuat pori –pori tubuhku terlihat melebar. Seusai mandi ku ganti pakaian dan ku tunaikan sholat shubuh.
 Setelah itu ku buka ponsel dan ku kirim pesan singkat untuk Fafa. Semalam ia berjanji akan menjemputku pagi ini bersama Coco dan Riani. Aku menyuruhnya untuk menjemputku di depan gang rumahku. 3 pesan telah terkirim. Biasanya satu menit sudah ku terima balasan darinya. Namun kali ini tidak. Ah mungkin ia baru bersiap-siap. Selain ku kirim pesan untuk Fafa,aku juga mengirim pesan pada Riani. Ku terima pesan balasan darinya bahwa Coco sudah sampai di rumahnya. Ku pinta mereka untuk menungguku dan Fafa di rumah Riani. Ku pakai sepatu sambil terus mengirim pesan untuk Fafa. Fafa tak kunjung membalas pesanku. Ku tunggu kehadirannya di teras rumah. Ku lihat gang rumahku masih nampak sepi. Sambil menunggu balasan,ku lakukan peregangan otot di halaman rumahku. Lima belas menit berlalu. Terdengar klakson berbunyi di ujung gang rumahku. Terlihat Coco dan Riani memberiku isyarat untuk menghampiri mereka. Ku berlari menuju mereka.
“Kalian ngapain ke rumahku?Bukannya aku nyuruh kalian buat nunggu aku sama Fafa di rumahnya Riani?”
“Ah!Kamu ditungguin juga nggak dateng-dateng. Mana si Fafa?”Tanya Riani
“Aku juga nggak tau. Dia dari tadi aku SMS nggak dibales nih. Jangan-jangan dia bangun kesiangan lagi?”
“Kenapa nggak kamu ingetin sih,Meiy? Kalau pagi ini kita CFD minimal kamu ngabarin dia gitu malemnya biar besok dia bangun pagi.”
“Tumben tuh anak kesiangan?Biasanya paling pagi dia kalo soal bangun gini. Dari tadi juga BBMku nggak dibales sama dia”tambah Coco
“Aku juga bingung nih! Padahal dia sendiri lho semalem yang bilang kalo dia bakal bangun pagi tapi ya kenapa paginya jadi seperti ini aku juga nggak tau”
“Coba deh kamu telpon?”saran Riani
Ku coba menelpon Fafa. Tidak ada jawaban darinya. Pukul enam pagi terlintas di jam tanganku,namun dia tak kunjung mengangkat telponku. Ku ulangi hingga tiga kali dan yang ketiga saluran telpon telah tersambung. Tak sampai lima detik dia mematikan telponku. Aku jadi semakin kesal. Tak lama kemudian pesan singkat ku terima.
‘Iya mbu. Bentar,aku OTW’
“Nih udah dibales dia. Dia katanya mau OTW.”
“Alahhh OTW dari Hongkong? Ini sih udah fix bangun kesiangan dia. Harus nunggu berapa lama lagi sih?Tuh anak ya emang dari dulu ngeselin!”cela Coco
“Haduh!gimana nih?mana ada CFD setengah tujuh pagi?yang ada kita kepanasan tau. Gimana kalo aku sama Coco duluan ke alun-alun entar kamu nyusul sama Fafa?aku tunggu di parkiran deket pendopo kabupaten yah?Oke?”
“Eeh eh eh jangan gitu dong!plis temenin aku nunggu disini dong. Kalian tega ya mau ninggalin aku disini sendirian?Tungguin dong plissss…”
“Mau nunggu berapa jam lagi sih Meiy???Yang ada keringatku udah kering gara-gara nunggu Fafa”
“Sebentar lagi dia juga sampe kok. Percaya deh sama aku“
Detik demi detik terus berjalan. Namun Fafa tak kunjung datang. Aku semakin cemas menunggu kedatangannya. Apakah dia memang sedang dalam perjalanan?Atau dia memang sengaja membatalkan CFD kali ini tanpa memberitahu kami?Atau mungkin apa terjadi sesuatu dengannya di jalan?Fikiranku jadi kemana-mana. Setengah jam kemudian,dari ufuk barat terlihat pengendara sepeda motor dan motornya sedang menuju ke arah kami dengan cepat. Fafa datang. Ku pasang mimik wajah acuh padanya. Aku sungguh kesal dengannya.
“Wwooooyyyy!!!Kemana aja lo???”Teriak Coco sambil memukul helm Fafa
“Hai guys!!!hweheheh….eh….sorry ya agak telat. Baru bangun soalnya. Semalem aku lihat pengajian sampe jam 2 malem jadi yaa…..gini deh!hehehhe…”
“Gak usah minta maaf sama gue lo. Noh minta maaf sama jambumu. Hampir aja dia busuk gara-gara nungguin kamu. Kamu sadar gak sih ini jam berapa???”bentak Riani
“Yeee….ya maap deh. Kan nggak ada manusia yang sempurna. Manusia pasti pernah khilaf kan?”
“Khilap sih khilap tapi juga nggak kebangetan kayak gini kali. Dah yok berangkat. Sayang,kita tinggalin aja mereka!”sahut Coco
“eh jangan gitu dong!tungguin gih.”ujar Fafa
Coco memutar balik motor dan meninggalkan aku dan Fafa. Perlahan Fafa menuju ke arahku. Ku palingkan wajahku dan ku silangkan kedua tanganku seolah-olah marah padanya. Ya,aku memang marah padanya tetapi aku berusaha memendamnya.
“Mbuuuu….maafin aku yah?Aku bangun kesiangan jadi ya baru daten….”
“Muter balik sana!”bentakku
“Hah?muter balik?kamu nyuruh aku pulang?kita nggak jad…”
“Maksud aku,kamu muter balik biar aku boncengnya gampang. Kita mau CFD kesana kan?gimana sih?”
“eh iya iya”
                                       ***
Dengan gelagapan dia memutar balikkan motor yang ia kendarai. Kami berempat mulai menuju alun-alun pukul setengah tujuh pagi. Selama perjalanan,Fafa terus melihatku dengan jeda. Dia sepertinya sungkan untuk mengajakku bicara karena mimik wajahku yang seakan membuatnya takut. Sesampainya di parkiran pendopo,kami bergegas menuju alun-alun untuk jogging. Aku berusaha menghindar dari Fafa yang berusaha berjalan beriringan denganku. Ku percepat langkahku namun Fafa mengejar dan menepuk pundakku.
“Mbu!”
“Apa?”
“Maafin aku. Dengerin penjelasan aku dulu”
“Udah ku maafin”
“Kalau udah dimaafin kenapa masih cemberut?”
“Aku lagi badmood”
“Ya maafin aku kalo caraku minta maaf buat kamu badmood aku nggak sengaj..”
“Rin,tunggu aku.”ku kejar Riani dan mengalihkan pembicaraanku pada Fafa. Aku benar-benar sebal padanya. Kekesalanku semakin menjadi-jadi tatkala Riani memberitahuku bahwa di sudut alun-alun terlihat seorang gadis berambut panjang dan memakai training pendek sedang melihat Fafa dan seolah memanggil Fafa.
“Meiy!Lihat deh! Itu kayaknya mantannya Fafa bukan sih?”
“Hah?yang mana?”
“Itu yang duduk sambil ngelihatin dan manggil Fafa”
“Hah?masa sih?aku nggak percaya”
“Ya….emang dia itu mantannya. Aku jadi risih deh sama cewek itu. Udah jadi mantan juga masih belagu. Sok-sokan manggil-manggil Fafa lah. Tapi tenang Meiy. Kamu nggak usah minder deket sama Fafa. Aku yakin,kamu jauh lebih mending ketimbang mantannya Fafa. Tapi aku heran deh,kenapa dulu Fafa mau ya sama cewek kaya dia?”
“Eh udah deh! Aku nggak suka dibanding-bandingin. Ya gak tau lah. Mungkin karena dia cantik kali?”
“What???Kamu bilang cewek kaya gitu cantik?bedaknya tebel kaya dempul gitu kamu bilang cantik?iywh…”
“Ya gitu deh. Udah ah. Gak usah ngomongin orang.”
“Yeee……..ehm…ehm…..kamu cemburu ya Meiy?”
“Yaelah siapa juga yang cemburu?”
“Udah jujur aja deh…..ahahhahahh”goda Riani
“Apaan sih?udah yuk ah. Aku laper nih belum sarapan. Nyari makan yuk!”
“Yuk yuk yuk!”
Riani memanggil Coco. Dia menyarankan untuk mencari tempat makan yang enak untuk sarapan. Coco mengusulkan untuk pergi ke tempat makan lentog tanjung langganannya. Aku hanya mengiyakan. Sebelum kami mengakhiri jogging pagi ini,tiba-tiba kami berpapasan dengan salah satu senior Purna Paskibraka. Pria berkacamata yang tengah menyapa Fafa bernama Mas Adi.
“Wah…. wah… wah…jogging bareng nih ceritanya?”Tanya mas Adi sambil menyalami Fafa,Coco,dan Riani
“Enggak kok mas,tadi nggak sengaja ketemu.”jawab Fafa
“Oh gitu….?Lah terus siapa itu?kok nggak dikenalin?”Arah mata Mas Adi menuju ke arahku
“Oh….ini?Kenalin mas. Ini Meiy. Eh Meiy,kenalin ini Mas Adi. Senior di paskib”
“(Sambil menjabat tanganku)Hai Meiy! Maaf ya tadi nggak nyapa. Aku kira siapa,Salam kenal ya?”
“Eh,hai juga Mas. Iya salam kenal juga”jawabku pada mas Adi
“Wah Fafa nih…..!Habis jadi paskib udah berani ngajak pacar jogging….”
“Hah?Pacar?”tanyaku kaget
“Eh mas. Nggak kok. Kita cuma temenan aja kok. Heheheh….Aduh mas Adi ini sukanya berlebihan”
“Hahaha…..nggak apa-apa kali. Meiy juga manis kok Fa,tuh kelihatan dari senyumnya. Udahlah nggak usah kelamaan…”
                                       ***
Aku tersipu malu dengan perkataan Mas Adi. Tapi aku hanya tersenyum menanggapinya. Mereka berempat tampak berbincang sangat asyik. Hanya aku yang tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Aku hanya bisa bermain ponsel sembari menunggu mereka selesai berbincang. Fafa nampak canggung dan merasa tak enak hati melihatku sibuk bermain ponsel tanpa ikut nimbrung dengan mereka. Yah,kacang memang mahal. Setelah mereka selesai berbincang,kami menuju parkiran pendopo. Kami berempat menuju tempat makan lentog tanjung usulan Coco. Sesampainya di sana kami memesan makanan. Fafa yang duduk di sebelahku,terus melihatku dengan tatapan yang berbeda. Aku hanya mengalihkan pandanganku ke ibu penjual lentog. Aku masih sebal dengannya. Kenapa sih pagi-pagi begini mood ku udah berantakan gara-gara dia? Sedangkan dia sepertinya tidak menyadari kalau aku ngambek padanya. Saat pesanan datang pun ,Fafa masih terus menatapku. Aku jadi risih sekarang. Saat aku menoleh ke arahnya,dia berpaling.
“Kamu kenapa sih ngelihatin aku terus?”sambil memandangnya
“Nggak apa apa kok.”dia menjawab tanpa memandangku
Aku menikmati santapanku. Hanya beberapa detik,wajahnya mendekat ke arahku dengan cepat. Nyaris 5cm menempel pipiku. Aku terkejut dan menatapnya dengan kedipan beberapa kali.
“Kalau kamu masih ngambek sama aku,aku bakal suapin kamu”ucap Fafa padaku sambil menawarkan suapan sesendok lentog tanjung. Jantungku berdegup kencang. Aku tau ini jebakan tapi aku hadapi dengan santai.
“Nggak. Aku nggak ngambek kok.” Aku mengalihkan pandanganku. Dia melahap sesendok suapan yang ia tawarkan. Sepertinya dia gagal melakukan trik modus padaku. Aku pun melanjutkan makan. Seusai kami sarapan dan membayar,kami beristirahat sejenak. Riani berencana mengajak Fafa,Coco,dan aku main ke rumah Dhede. Dia ingin membuat kejutan. Pukul sembilan pagi kami menuju rumah Dhede. Sesampainya di rumah Dhede,kami memanggilnya berulang kali. Dhede keluar dari pintu kamar dengan rambut acak-acakan. Aku rasa dia baru bangun tidur. Dia kaget dengan kedatangan kami berempat. Riani bilang pada Dhede bahwa kami hanya ingin main ke rumah Dhede. Namun Dhede malah mengusulkan untuk membuat rencana pesta panggang di rumah Riani. 
Akhir-akhir ini nuansa hari qurban memang masih terasa. Kami akhirnya menyetujui usulan Dhede. Kami membagi tugas. Aku dan Riani berboncengan untuk mengambil daging qurban yang masih tersisa di rumahku dan mencari bahan-bahan dengan menggunakan motor milik Fafa. Dhede dan Fafa mencari arang dan perlengkapan lainnya dengan menggunakan motor milik Dhede. Coco izin pulang ke rumahnya sebentar karena ibunya menelponnya dan meminta untuk mengantarkannya ke pasar sejenak. Kami beranjak dan melakukan tugas kami masing-masing.
                             ***
Sesampainya di rumah Riani,perlengkapan untuk pesta panggang sudah tersedia. Dhede berniat mengajak Titian dan Marjo untuk ikut serta dalam pesta panggang kali ini. Aku dan Fafa sibuk menata dan membawa barang yang akan digunakan untuk pesta panggang. Rupanya pesta panggang kali ini tidak di rumah Riani. Riani mengalihkan untuk berpesta panggang di rumah neneknya yang tak jauh dari rumahnya karena halaman rumahnya yang sempit. Saat kami bersiap untuk membawa barang menuju rumah nenek Riani,Coco datang bersama Titian dan Marjo. Kami bertujuh menuju rumah nenek Riani.
Sesampainya disana,kami menyiapkan alat dan memanggang daging kerbau serta bakso yang ku bawa dari rumah. Fafa,Coco,Dhede,dan Marjo bergantian memanggang. Aku,Titian dan Riani meracik bumbu. Tepat pukul dua belas siang,sate kerbau dan sate bakso matang dengan aroma yang sedap. Kami berebut mengambilnya. Meskipun hati sempat panas,cuaca pun juga ikut panas,tapi suasana kali ini cukup meredakan kegerahan hatiku.
Bercanda,bersuka ria,bersenang-senang bersama mereka berenam membuatku lupa akan kekesalan yang sedari pagi menghancurkan mood ku. Sepertinya aku memiliki keluarga baru sekarang. Semakin akrab saja aku dengan keluarga di (tempat) yang ku singgahi sejenak ini. Semoga ini tak berlangsung sementara. Aku ingin singgah disini seterusnya. Tapi apakah tuan rumahnya mengijinkanku untuk menyinggahi rumahnya? Ku rasa ada harapan untuk tinggal. Bagaimana tidak berharap jika tuan rumah sering memberiku jamuan dan penawaran yang terkesan tak pernah kuduga sebelumnya? 
Seperti yang ku rasakan saat ini. Fafa menawarkanku suapan untukku berupa sepotong bakso yang baru saja matang kepadaku. Dia mengarahkannya ke arah mulutku. Ku lahap suapan yang ia berikan. Saat aku memakannya,dia menginginkan aku untuk membalas suapannya. Sambil menutupi rasa maluku yang sedari tadi terekam oleh teman-teman selain aku dan Fafa,aku menyuapkannya sepotong bakso juga. Dia tersenyum kearahku. Aku pun membalas senyumnya. Dhede dan Riani terus mengompori Fafa agar segera menembakku. Aku hanya terdiam dan tersenyum tipis pada mereka. Bagaimana aku merespon jikalau aku tak tau perasaan Fafa yang sebenarnya padaku? Aku dan Fafa sebenarnya sudah tiga bulan berteman dekat namun kami tak pernah membahas soal hati. Entahlah. Rasanya aku terlalu agresif bila harus menanyakan soal perasaan padanya. Aku hanya menjalankan apa yang harus terjadi. Membiarkannya mengalir apa adanya.
Hingga ketika kami usai berpesta panggang,Fafa terus menggodaku. Dia mengantarkanku pulang lebih awal karena pukul dua siang dia ada kegiatan di sekolahnya. Sesampainya di rumahku,Fafa berpamitan padaku dan menyuruhku untuk belajar karena besok aku ulangan. Ku lihat dia berlalu meninggalkanku. Aku pun meletakkan sepatu dan mengambil wudlu untuk sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur,ku dengar ponselku bergetar. Satu pesan mengejutkan dari Fafa yang membuat jantungku berdegup kencang. Oh Tuhan?Apakah ini mimpi???
                             ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar