Dua
gelas es kelapa muda telah ada di depan mata. Ku minum perlahan sembari
menikmati bulir kelapa mudanya. Rasanya tenggorokanku mulai sedikit terobati.
Di depan mataku juga terlihat seorang pria yang menatapku sambil meminum minuman
yang ia pesan. Ku palingkan wajahku ke arah ponselku yang hampir 15% baterainya
menipis.
“Kamu
ngapain ngapelin aku siang-siang gini?”tanya Fafa
“Eh!gak
usah gr kamu. Aku cuma nemenin Riani nyari bahan buat tugas kok. Dia
yang sekalian ngapelin pacarnya. Aku mau ngapelin siapa?kan aku nggak punya
pacar.”
“Oh
jadi gitu?emmm…..oh iya kayaknya akhir-akhir ini aku jarang pegang handphone
deh. Maaf ya kalo gak sempet balas chatmu”
“Ya
itu sih terserah kamu. Kamu fokus aja sama kegiatan kamu. Aku nggak ada sedikit
pun niatan buat ganggu kesibukan kamu”
“Aku
juga nggak mau ganggu kesibukanmu. Aku juga pengen bilang,kalo misal kamu lagi
belajar waktu kita chatting bilang ya?Atau kalo nggak sebelum belajar
kamu ijin dulu ke aku. Biar aku nggak ganggu kamu”
“Oh
gitu? Jadi harus lapor ya? Siap komandan!!!Hahaha…”kekehku
“Ya
nggak harus lapor terus juga sih,aku takut ganggu kamu aja. Tugasmu numpuk kan
akhir-akhir ini?Kenapa malah pergi larut sore gini?”
“Ya
nggak apa-apa kali,kan aku nugasnya nanti malem. Nanti malem pasti aku kerjain
kok. Aku kan rajin orangnya.”
“Masa
sih?aku nggak percaya”
“Yah
terserah deh,Eh Rin,kita pulang jam berapa?”ku coba hentikan perlahan
pembicaraan ini. Sedari aku bicara tadi dia tak sedikit pun memandangku. Dia
terus melihat ponselku. Namun ketika aku tak melihatnya,dia gantian yang
melihatku.
“Aduh!entar
5 menit lagi deh,ya?kamu ngobrol dulu aja sama Fafa. Biar lebih kenal”
Ku
pandang Riani dengan tatapan kesal. Lalu ku minta ijin pada Fafa untuk pergi
keluar sebentar karena aku ingin membalas hutangnya kemarin. Tanpa
sepengetahuan Fafa,aku membayar semua pesanan yang kami pesan,termasuk pesanan Riani
dan Coco. Sekalian biar tak ada yang tersisa. Setelah aku membayarnya,tiba-tiba
Riani dan Coco keluar bersamaan dengan Fafa. Aku duduk dipinggir parkir motor
sembari pura-pura merapikan seragamku.
“Berapa,bu?”Tanya
Fafa
“Oh sudah dibayar sama mbaknya mas”jawab si
penjual. Fafa,Coco,dan Riani melihatku bersamaan. Aku pun tersenyum manis ke
arah mereka. Fafa yang agak sedikit kesal dengan perbuatanku ini berusaha menjahiliku
dengan menarik seragamku. “huuuuuu kamu tuh ya?Ada kembaliannya nggak?sini aku
ganti” Aku beranjak dari tempat dudukku dan tak merespon apa yang baru saja ia
katakan padaku. Fafa mengikutiku ke parkiran motor. Aku tak tau apa yang akan
dilakukannya kali ini. Sesampainya di parkiran motor…
“Meiy!!!
Fotoin aku dong sama Coco. Mau ya?”Celoteh Riani
“Yaudah
sini aku fotoin.” Setelah beberapa jepretan…
“Eh
kayaknya agak geser ke kiri sedikit deh. Itu kalian nggak lagi endorse ‘tambal
ban’ kan?”tanyaku sambil tertawa kecil pada mereka yang berpose di dekat
tulisan ‘Tambal Ban’. Beberapa pose berhasil ku potret. Mereka tampak romantis.
“Udah
yuk gantian. Sini aku fotoin kamu sama Fafa”tawar Riani
Aku
ingin pindah dari tempatku berdiri. Namun Fafa seolah melarangku untuk pindah.
Dan pada akhirnya kami foto bersama. Satu hal yang tak ku bayangkan. Kenapa aku
mau-mau saja berfoto dengannya? Entahlah. Dia juga sepertinya malu untuk
mengakui bahwa ia mau berfoto denganku. Akhirnya dia menutupi rasa malunya
dengan berpura-pura mengambil makanan ringan yang sedari siang berada di jok
depan motor yang Riani kendarai. Setelah itu aku dan Riani menaiki motor dan
pamit kepada Fafa dan Coco. Kami perlahan pergi dan melambaikan tangan pada
mereka. Fafa melihatku dengan senyum merona dan aku pun membalasnya dengan
senyuman mempesona. Sore ini terasa melelahkan tetapi juga menyenangkan.
***
Pagi
yang cukup cerah untuk berolahraga hari ini. Sabtu ini adalah jadwal olahraga
kelasku. Udara segar terhirup sejuk menyebar ke seluruh tubuhku. Pemanasan pagi
ini terasa menyenangkan karena pembina olahraga datang agak terlambat. Meskipun
begitu,kelasku tetap berolahraga dengan semangat. Olahraga yang lama waktunya
tiga jam terasa singkat sekali rasanya. Karena kami menjalaninya dengan bersemangat
dan senang hati. Seusai olahraga aku pun bergegas ganti pakaian dan pergi ke
kantin untuk mengisi tenaga.
Bel istirahat mulai berbunyi. Aku kembali ke kelas
dan mempersiapkan bahan untuk presentasi pembelajaran pada pagi hari ini. Ku
lihat jam di tangan. Masih ada waktu lima belas menit untuk mempersiapkannya.
Aku duduk di kursi paling belakang sendirian. Sambil ku hidupkan laptopku,ku
dengarkan musik via earphone dan ku balas pesan dari Fafa. Hampir setiap saat
kami selalu berbalas BBM. Meskipun tak ada hubungan apa-apa,tapi kami saling respect
dan support satu sama lain. Saking asyiknya mendengarkan musik dan
mengedit presentasi,aku sampai tak tau kalau guru pembimbing ternyata sudah
duduk di depan dan siap untuk mengajar. Dan juga seorang pria sedang duduk di
sampingku. Aku kaget. Pria itu ternyata adalah Raka.
“Kkkaa….
kkamu ngapain disini?”tanyaku heran
“Seharusnya
aku yang tanya. Kamu ngapain di tempat dudukku?”
“Eeee….aku
emang sedari tadi udah duduk disini. Memangnya kenapa? Gak boleh? Ya udah aku mau
pindah”
“Sensi
amat jadi cewek?Emangnya siapa yang nyuruh kamu pindah?”
“Terus
mau apa kamu?”
“Aku
ingin bicara sama kamu”jawab Raka dengan nada serius
“Bicara
apa?” Ku tanya padanya sambil memandangi laptop. Aku tak berani menatap
wajahnya. Aku berpura-pura sibuk mengedit bahan presentasiku. Tapi aku masih
mendengar dengan seksama apa yang ia katakan padaku.
“Apa
kamu….. masih tetap ingin tinggal disini?”pertanyaannya membuatku berpikir dua
kali. Sebenarnya dia menanyakan posisi tempat dudukku atau yang lain?
“Apa
maksudmu?”jawabku santai.
“Kamu
dengar aku kan?Lihat aku….. apa kamu masih tetap ingin berada disini?”tanyanya
sambil menyenggol siku kiriku. Dia menunjuk sisi badan kanan bawah dadanya. Aku
berusaha mengendalikan logika dan perasaanku. Kenapa dia harus mempertanyakan hal
ini?
“Aku
jadi kehilangan fokus. Kamu mempertanyakan posisi tempat dudukku atau posisiku
disitu?(sambil melihat apa yang dia tunjuk)” Jauh dilubuk hatiku aku ingin sekali
pindah dari tempat dudukku namun Raka menahanku dan berkata
“Sungguh,aku
gak percaya. Kamu berubah secepat ini semenjak aku pergi meninggalkanmu 3 bulan
yang lalu. Semudah inikah kamu berubah?”tanyanya yang membuatku berhenti mengedit
bahan presentasi.
“Kenapa
kamu mempertanyakan ini? Bukankah semuanya udah beda sekarang?”jawabku datar
“Aku
tau aku salah. Tak memberimu kabar selama aku di karantina. Tapi sejujurnya aku
tak pernah sedikitpun mencoba untuk tidak memikirkanmu setiap aku ingin
mengejar mapel yang telah tertinggal. Aku rindu belajar bersamamu.” Jawabnya
dengan rasa bersalah
“Lalu
apa maumu?Bukankah kamu sudah hebat sekarang?Aku senang kamu juga udah berubah.
Aku rasa kamu gak pantas berteman sama cewek culun kayak aku. Di luar sana
masih banyak yang ingin berteman denganmu. Kita udah beda sekarang.”
“Dulu
kamu pernah bilang ‘Kalau kita meninggalkan seseorang sekalipun tanpa alasan
yang jelas pasti cepat atau lambat orang yang kamu tinggalkan akan tau sendiri
apa alasan kamu meninggalkannya. Kelak dia akan mendoakanmu dan suatu saat
ketika doanya terkabulkan,kamu akan menyesal telah meninggalkannya’. Nyatanya
sekarang aku yang menyesal tak memberimu kabar selama aku pergi. Dan aku masih
disini dengan hal yang sama. Kenapa kamu tak ingin kembali ke rumahmu lagi? Ada
tuan rumah yang menginginkan tamunya untuk tetap tinggal bersamanya”
Tiba-tiba
ponselku berbunyi. Satu notif dari Fafa. Raka pun melihat nama Fafa terpampang
di ponselku
“Maaf.
Tamunya udah mau pindah semenjak kamu meninggalkannya sendirian di rumahmu.”
Jawabku dengan tatapan sayu.
“Oh
kalau begitu baiklah. Jika kamu ingin tetap pindah,pindahlah segera. Aku tau.
Akan sia-sia jika tuan rumahmu memintamu untuk kembali ke rumahmu yang lama dan
akan percuma saja bila kamu sudah terlanjur pergi ke tempat yang baru. Semoga
kamu selamat sampai tujuan. Dan semoga tempat yang akan kamu singgahi nanti
membuatmu nyaman dan aku harap,kamu akan betah tinggal disana. Meskipun begitu
aku tak kan lupa dengan taruhan kita dua minggu yang lalu. Kamu berhasil lolos
kali ini. Dan tuan rumahmu juga sudah menyelesaikan hukuman yang kita sepakati.
Terima kasih sudah pernah singgah di hatiku.”Jelasnya yang membuatku teringat
akan taruhanku dengannya kemarin.
Dua minggu yang lalu ada ulangan biologi. Itu
adalah hari dimana Raka usai purna paskibraka. Dia sudah berangkat sekolah
seperti biasa waktu itu. Dan waktu itu juga,dia mengajakku taruhan. Barang
siapa yang nilai ulangannya paling jelek (antara aku dan Raka),maka ia harus
berlari mengitari lapangan sebanyak nilai yang didapatkan. Aku hanya menyetujuinya
karena aku percaya diri bahwa aku bisa mengalahkannya. Terlebih dia sudah lama
tidak menduduki kursi kelas karena harus di karantina untuk menjadi paskibraka.
Dan ternyata dia yang kalah. Dia sudah menjalankan hukuman yang didapat. Aku
salut akan sikapnya namun tidak dengan perasaanku kali ini.
Aku
pergi meninggalkan tempat dudukku. Dan di hari itu juga aku pergi meninggalkan
rumah lamaku dan kali ini dengan ijin tuan rumahnya. Meski si tuan rumah berat
hati menerima keputusan perpindahanku,namun aku tetap bersikukuh untuk mencari
tempat yang baru. Sepertinya kali ini aku akan menemukan tempat singgahku yang
baru. Aku tak menyesal telah meninggalkan rumah lamaku. Aku percaya bahwa tak
selamanya perpindahan itu menyesalkan. Tak selamanya perpindahan itu menyedihkan.
Terkadang kita diharuskan untuk mencari tempat singgah yang baru walaupun
rasanya diri belum siap untuk pindah. Tapi jika perpindahan tidak
terjadi,bagaimana kita ingin berkembang
lebih baik? Percayalah, meski sulit untuk pindah,kelak kita akan menemukan tempat
yang baru yang lebih baik untuk kita singgahi. Di tempat yang baru akan ada
satu hal yang membuat kita nyaman untuk menempatinya. Tajamnya luka dan badai
nestapa akan sembuh dan berlalu. Harapan dan impian akan tumbuh seiring
berjalannya waktu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar