Kamis, 13 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Biarkan Tuan Rumah yang Bicara

Dua gelas es kelapa muda telah ada di depan mata. Ku minum perlahan sembari menikmati bulir kelapa mudanya. Rasanya tenggorokanku mulai sedikit terobati. Di depan mataku juga terlihat seorang pria yang menatapku sambil meminum minuman yang ia pesan. Ku palingkan wajahku ke arah ponselku yang hampir 15% baterainya menipis.
“Kamu ngapain ngapelin aku siang-siang gini?”tanya Fafa
“Eh!gak usah gr kamu. Aku cuma nemenin Riani nyari bahan buat tugas kok. Dia yang sekalian ngapelin pacarnya. Aku mau ngapelin siapa?kan aku nggak punya pacar.”
“Oh jadi gitu?emmm…..oh iya kayaknya akhir-akhir ini aku jarang pegang handphone deh. Maaf ya kalo gak sempet balas chatmu”
“Ya itu sih terserah kamu. Kamu fokus aja sama kegiatan kamu. Aku nggak ada sedikit pun niatan buat ganggu kesibukan kamu”
“Aku juga nggak mau ganggu kesibukanmu. Aku juga pengen bilang,kalo misal kamu lagi belajar waktu kita chatting bilang ya?Atau kalo nggak sebelum belajar kamu ijin dulu ke aku. Biar aku nggak ganggu kamu”
“Oh gitu? Jadi harus lapor ya? Siap komandan!!!Hahaha…”kekehku
“Ya nggak harus lapor terus juga sih,aku takut ganggu kamu aja. Tugasmu numpuk kan akhir-akhir ini?Kenapa malah pergi larut sore gini?”
“Ya nggak apa-apa kali,kan aku nugasnya nanti malem. Nanti malem pasti aku kerjain kok. Aku kan rajin orangnya.”
“Masa sih?aku nggak percaya”
“Yah terserah deh,Eh Rin,kita pulang jam berapa?”ku coba hentikan perlahan pembicaraan ini. Sedari aku bicara tadi dia tak sedikit pun memandangku. Dia terus melihat ponselku. Namun ketika aku tak melihatnya,dia gantian yang melihatku.
“Aduh!entar 5 menit lagi deh,ya?kamu ngobrol dulu aja sama Fafa. Biar lebih kenal”
Ku pandang Riani dengan tatapan kesal. Lalu ku minta ijin pada Fafa untuk pergi keluar sebentar karena aku ingin membalas hutangnya kemarin. Tanpa sepengetahuan Fafa,aku membayar semua pesanan yang kami pesan,termasuk pesanan Riani dan Coco. Sekalian biar tak ada yang tersisa. Setelah aku membayarnya,tiba-tiba Riani dan Coco keluar bersamaan dengan Fafa. Aku duduk dipinggir parkir motor sembari pura-pura merapikan seragamku.
“Berapa,bu?”Tanya Fafa
 “Oh sudah dibayar sama mbaknya mas”jawab si penjual. Fafa,Coco,dan Riani melihatku bersamaan. Aku pun tersenyum manis ke arah mereka. Fafa yang agak sedikit kesal dengan perbuatanku ini berusaha menjahiliku dengan menarik seragamku. “huuuuuu kamu tuh ya?Ada kembaliannya nggak?sini aku ganti” Aku beranjak dari tempat dudukku dan tak merespon apa yang baru saja ia katakan padaku. Fafa mengikutiku ke parkiran motor. Aku tak tau apa yang akan dilakukannya kali ini. Sesampainya di parkiran motor…
“Meiy!!! Fotoin aku dong sama Coco. Mau ya?”Celoteh Riani
“Yaudah sini aku fotoin.” Setelah beberapa jepretan…
“Eh kayaknya agak geser ke kiri sedikit deh. Itu kalian nggak lagi endorse ‘tambal ban’ kan?”tanyaku sambil tertawa kecil pada mereka yang berpose di dekat tulisan ‘Tambal Ban’. Beberapa pose berhasil ku potret. Mereka tampak romantis.
“Udah yuk gantian. Sini aku fotoin kamu sama Fafa”tawar Riani
Aku ingin pindah dari tempatku berdiri. Namun Fafa seolah melarangku untuk pindah. Dan pada akhirnya kami foto bersama. Satu hal yang tak ku bayangkan. Kenapa aku mau-mau saja berfoto dengannya? Entahlah. Dia juga sepertinya malu untuk mengakui bahwa ia mau berfoto denganku. Akhirnya dia menutupi rasa malunya dengan berpura-pura mengambil makanan ringan yang sedari siang berada di jok depan motor yang Riani kendarai. Setelah itu aku dan Riani menaiki motor dan pamit kepada Fafa dan Coco. Kami perlahan pergi dan melambaikan tangan pada mereka. Fafa melihatku dengan senyum merona dan aku pun membalasnya dengan senyuman mempesona. Sore ini terasa melelahkan tetapi juga menyenangkan.
                             ***
Pagi yang cukup cerah untuk berolahraga hari ini. Sabtu ini adalah jadwal olahraga kelasku. Udara segar terhirup sejuk menyebar ke seluruh tubuhku. Pemanasan pagi ini terasa menyenangkan karena pembina olahraga datang agak terlambat. Meskipun begitu,kelasku tetap berolahraga dengan semangat. Olahraga yang lama waktunya tiga jam terasa singkat sekali rasanya. Karena kami menjalaninya dengan bersemangat dan senang hati. Seusai olahraga aku pun bergegas ganti pakaian dan pergi ke kantin untuk mengisi tenaga. 
Bel istirahat mulai berbunyi. Aku kembali ke kelas dan mempersiapkan bahan untuk presentasi pembelajaran pada pagi hari ini. Ku lihat jam di tangan. Masih ada waktu lima belas menit untuk mempersiapkannya. Aku duduk di kursi paling belakang sendirian. Sambil ku hidupkan laptopku,ku dengarkan musik via earphone dan ku balas pesan dari Fafa. Hampir setiap saat kami selalu berbalas BBM. Meskipun tak ada hubungan apa-apa,tapi kami saling respect dan support satu sama lain. Saking asyiknya mendengarkan musik dan mengedit presentasi,aku sampai tak tau kalau guru pembimbing ternyata sudah duduk di depan dan siap untuk mengajar. Dan juga seorang pria sedang duduk di sampingku. Aku kaget. Pria itu ternyata adalah Raka.
“Kkkaa…. kkamu ngapain disini?”tanyaku heran
“Seharusnya aku yang tanya. Kamu ngapain di tempat dudukku?”
“Eeee….aku emang sedari tadi udah duduk disini. Memangnya kenapa? Gak boleh? Ya udah aku mau pindah”
“Sensi amat jadi cewek?Emangnya siapa yang nyuruh kamu pindah?”
“Terus mau apa kamu?”
“Aku ingin bicara sama kamu”jawab Raka dengan nada serius
“Bicara apa?” Ku tanya padanya sambil memandangi laptop. Aku tak berani menatap wajahnya. Aku berpura-pura sibuk mengedit bahan presentasiku. Tapi aku masih mendengar dengan seksama apa yang ia katakan padaku.
“Apa kamu….. masih tetap ingin tinggal disini?”pertanyaannya membuatku berpikir dua kali. Sebenarnya dia menanyakan posisi tempat dudukku atau yang lain?
“Apa maksudmu?”jawabku santai.
“Kamu dengar aku kan?Lihat aku….. apa kamu masih tetap ingin berada disini?”tanyanya sambil menyenggol siku kiriku. Dia menunjuk sisi badan kanan bawah dadanya. Aku berusaha mengendalikan logika dan perasaanku. Kenapa dia harus mempertanyakan hal ini?
“Aku jadi kehilangan fokus. Kamu mempertanyakan posisi tempat dudukku atau posisiku disitu?(sambil melihat apa yang dia tunjuk)” Jauh dilubuk hatiku aku ingin sekali pindah dari tempat dudukku namun Raka menahanku dan berkata
“Sungguh,aku gak percaya. Kamu berubah secepat ini semenjak aku pergi meninggalkanmu 3 bulan yang lalu. Semudah inikah kamu berubah?”tanyanya yang membuatku berhenti mengedit bahan presentasi.
“Kenapa kamu mempertanyakan ini? Bukankah semuanya udah beda sekarang?”jawabku datar
“Aku tau aku salah. Tak memberimu kabar selama aku di karantina. Tapi sejujurnya aku tak pernah sedikitpun mencoba untuk tidak memikirkanmu setiap aku ingin mengejar mapel yang telah tertinggal. Aku rindu belajar bersamamu.” Jawabnya dengan rasa bersalah
“Lalu apa maumu?Bukankah kamu sudah hebat sekarang?Aku senang kamu juga udah berubah. Aku rasa kamu gak pantas berteman sama cewek culun kayak aku. Di luar sana masih banyak yang ingin berteman denganmu. Kita udah beda sekarang.”
“Dulu kamu pernah bilang ‘Kalau kita meninggalkan seseorang sekalipun tanpa alasan yang jelas pasti cepat atau lambat orang yang kamu tinggalkan akan tau sendiri apa alasan kamu meninggalkannya. Kelak dia akan mendoakanmu dan suatu saat ketika doanya terkabulkan,kamu akan menyesal telah meninggalkannya’. Nyatanya sekarang aku yang menyesal tak memberimu kabar selama aku pergi. Dan aku masih disini dengan hal yang sama. Kenapa kamu tak ingin kembali ke rumahmu lagi? Ada tuan rumah yang menginginkan tamunya untuk tetap tinggal bersamanya”
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Satu notif dari Fafa. Raka pun melihat nama Fafa terpampang di ponselku
“Maaf. Tamunya udah mau pindah semenjak kamu meninggalkannya sendirian di rumahmu.” Jawabku dengan tatapan sayu.
“Oh kalau begitu baiklah. Jika kamu ingin tetap pindah,pindahlah segera. Aku tau. Akan sia-sia jika tuan rumahmu memintamu untuk kembali ke rumahmu yang lama dan akan percuma saja bila kamu sudah terlanjur pergi ke tempat yang baru. Semoga kamu selamat sampai tujuan. Dan semoga tempat yang akan kamu singgahi nanti membuatmu nyaman dan aku harap,kamu akan betah tinggal disana. Meskipun begitu aku tak kan lupa dengan taruhan kita dua minggu yang lalu. Kamu berhasil lolos kali ini. Dan tuan rumahmu juga sudah menyelesaikan hukuman yang kita sepakati. Terima kasih sudah pernah singgah di hatiku.”Jelasnya yang membuatku teringat akan taruhanku dengannya kemarin. 
Dua minggu yang lalu ada ulangan biologi. Itu adalah hari dimana Raka usai purna paskibraka. Dia sudah berangkat sekolah seperti biasa waktu itu. Dan waktu itu juga,dia mengajakku taruhan. Barang siapa yang nilai ulangannya paling jelek (antara aku dan Raka),maka ia harus berlari mengitari lapangan sebanyak nilai yang didapatkan. Aku hanya menyetujuinya karena aku percaya diri bahwa aku bisa mengalahkannya. Terlebih dia sudah lama tidak menduduki kursi kelas karena harus di karantina untuk menjadi paskibraka. Dan ternyata dia yang kalah. Dia sudah menjalankan hukuman yang didapat. Aku salut akan sikapnya namun tidak dengan perasaanku kali ini.
Aku pergi meninggalkan tempat dudukku. Dan di hari itu juga aku pergi meninggalkan rumah lamaku dan kali ini dengan ijin tuan rumahnya. Meski si tuan rumah berat hati menerima keputusan perpindahanku,namun aku tetap bersikukuh untuk mencari tempat yang baru. Sepertinya kali ini aku akan menemukan tempat singgahku yang baru. Aku tak menyesal telah meninggalkan rumah lamaku. Aku percaya bahwa tak selamanya perpindahan itu menyesalkan. Tak selamanya perpindahan itu menyedihkan. Terkadang kita diharuskan untuk mencari tempat singgah yang baru walaupun rasanya diri belum siap untuk pindah. Tapi jika perpindahan tidak terjadi,bagaimana kita ingin  berkembang lebih baik? Percayalah, meski sulit untuk pindah,kelak kita akan menemukan tempat yang baru yang lebih baik untuk kita singgahi. Di tempat yang baru akan ada satu hal yang membuat kita nyaman untuk menempatinya. Tajamnya luka dan badai nestapa akan sembuh dan berlalu. Harapan dan impian akan tumbuh seiring berjalannya waktu.

                       ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar