“Meiiiiyyyyy!!!!”
Teriak Aulin membuyarkan lamunanku
“Kamu
nggak dengerin aku ngomong apa tadi?Kamu kenapa sih?”
“Eeee
maafin aku ya lin….,aku bukannya nggak dengerin kamu tapi…akhir-akhir ini aku
sering memikirkan yang….. haahhh! aku bingung harus gimana”jawabku kesal
“Okee,mungkin
ini terakhir kali aku ngalah sama kamu. Sebenernya apa sih yang kamu fikirkan
akhir-akhir ini?heh?sampe dengerin curhatanku aja kamu nggak mau?”
“Aku
bukannya gak mau lin,tapi….”
“Sudahlah,aku
gak mau debat sama kamu….Sekarang,kamu harus cerita sama aku. Aku bakal seneng
ngedengerin curhatanmu. Siapa tau aku bisa bantu ngasih solusi…”
“Aku
mau pindah,lin….”
“APA???Pindah???
Pindah kemana?baru aja naik kelas,ujian juga belum kamu udah mau pindah? Kamu
ngapain pindah Meiy?kamu tega ninggalin aku?”
“Nggak,lin…
Ini bukan soal pindah sekolah. Aku mau pindah ke hati orang lain”
“Huffffftttt,aku
kira kamu mau pindah kemana. Kamu tuh ya sukanya bikin kepo,bikin panik,bikin
baper juga. Emangnya kamu mau pindah ke hati siapa?Bukannya kamu masih nyimpen
rasa sama Raka?”
“Sebenernya
aku udah mikir-mikir ini sejak lama. Aku kemarin bilang ke Raka kalo aku udah
nggak ada rasa lagi sama dia. Menurutmu aku salah gak sih bilang gitu ke Raka?”
“Kamu
kenapa bilang begitu sama dia? Kamu kok jadi tega gini sih Meiy?”
“Aku
harus gimana lagi,Lin? Aku capek nunggu dia terus, Aku capek didiemin dia
terus, Aku capek dicuekin dia terus,dan Aku juga capek nyimpen rasa ini sendiri
Lin. Entah kenapa saat aku gagal menyusulnya kemarin,aku mulai patah arang buat
merjuangin perasaanku ini. Aku rasa sudah saatnya aku pindah dari hatinya….”
“Kamu
terlalu gegabah,Meiy! Seharusnya kamu ngasih kesempatan Raka buat memperbaiki
semuanya. Aku yakin,Raka nggak bakal semudah itu ngelepasin kamu,nyuekin
kamu,ngebiarin kamu memendam sendirian perasaanmu. Buktinya kemarin dia masih
mempertanyakan perasaanmu padanya. Berarti dia selama ini masih setia sama
kamu. Lagian kenapa sih kamu pindah ke hati orang lain segala? Kenapa nggak kamu
bilang aja kalo kamu masih nyimpen rasa sama dia? Atau…. Jangan-jangan kamu udah
jatuh cinta sama si paskib sok keren itu?”
“Ya
enggak lah,dia itu kan cuma temen aku. Mana mungkin aku jatuh cinta sama dia,
move on juga belum….”
“Nah
kalo belum move on,kenapa gak balik aja ke Raka? Kesempatan gak akan dateng dua
kali,Meiy. Kalo kamu gak beneran jatuh cinta sama dia,lalu kenapa sedari tadi
aku lihat kamu balas chat dia terus? Kamu udah nyaman kan sama si
dia?Jujur aja deh”
“Entahlah…
aku nggak pengen bahas soal Fafa. Kali ini aku serius,Lin. Aku berhenti
menyukai Raka,aku berhenti menyimpan rasa buat dia,aku berhenti bertahan dan
berjuang buat dia. Aku mau pindah ke hati orang lain tapi aku nggak tau harus
pindah kemana”
“Ngaku
aja deh kalo kamu udah mulai nyaman sama si Fafa fafa itu. Gak mungkin kamu chat
dia terus kalo nggak ada rasa. Ternyata kamu lebih jahat ya Meiy? Kamu udah
matahin harapan seseorang buat merjuangin kamu lagi. Dan kamu juga nyari
pelampiasan buat move on dari Raka. Aku jadi kasihan sama Raka. Kalo
menurutku,kamu salah meninggalkan Raka dengan cara seperti ini dan aku lebih
mendukung kamu untuk tetap bertahan sama Raka daripada sama yang lain. Apa kamu
nggak pernah mikir saat kamu sama dia taruhan,dia rela lari cuma karena dia
kalah. Dan dari situ,kesetiaan dia terbukti. Cuma buat kamu. Tapi aku ngerasa
kamu nggak ngehargain kesetiaannya selama ini”
“Tapi
kalo hatiku emang udah nggak nyaman sama dia,apa harus dipaksain? Enggak juga
kan? Aku juga gak mau jatuh pada lubang yang sama. Lebih baik aku pindah
daripada terus berjuang tak tentu arah tujuan.”
“Meiy!
Semua tujuannya tuh udah jelas sekarang. Raka masih punya rasa sama kamu. Dia
bahkan masih setia sama kamu. Tapi kamu dengan cerobohnya ninggalin dia,dan
malah lebih milih orang lain yang belum tentu mau sama kamu. Okee kalau itu memang
keputusanmu. Aku gak maksa kok kamu mau berpihak ke siapa,yang jelas aku lebih
setuju kalo kamu bertahan sama Raka. Aku nggak ngerti ya,apa hanya karena Fafa
lebih hits dari Raka terus kamu jadi lebih milih Fafa? Atau karena hal lain
yang membuatmu berubah pikiran untuk lebih memilih Fafa daripada Raka?yang
pasti kamu jangan sampe nyesel karena udah ngelepas Raka nantinya…”
Bulir
es krim durian terasa membekukan pikiranku yang sedang kacau. Rasanya aku terpendam
dalam jurang es antartika. Aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Baru
saja kemarin aku memutuskan untuk benar-benar pindah namun seakan ada saja
penghalang yang membuatku ingin kembali lagi ke rumah lamaku. Apakah aku masih
ragu? Tidak. Apakah aku masih berharap?tentu tidak. Apakah aku masih punya rasa
untuknya?tidak juga. Aku sudah bersusah payah membunuh perasaanku sendiri
akhir-akhir ini. Aku tak ingin kembali. Aku tak ingin jatuh ke lubang yang
sama. Aku yakin,aku pasti akan menemukan tempat singgah yang baru.
Tepat
pukul dua belas siang,Aku dan Aulin sampai di rumahku. Sedari pagi kami mencari
bahan untuk membuat topeng. Semua yang aku butuhkan telah ada di depan mata.
Dan kini saatnya aku membuat itu. Topeng yang menutupi segala bentuk raut muka.
Namun tak menutupi semua kebohongan yang telah terjadi di depan mata. Aku tau
ini tak mudah. Masih banyak tantangan yang harus aku hadapi akan perpindahanku
ini. Masih banyak lika-liku yang harus aku lalui. Demi tujuan kemana
tertambatnya hati ini.
***
Waktu
berjalan begitu cepat. Tak terasa lika-liku yang ku lalui begitu cepat berlalu.
Aku percaya,tak ada hal yang sia-sia selama aku masih terus melangkah maju
untuk mencari tempat singgah yang tepat untukku. Sepertinya seseorang baru saja
mempersilahkan tempat singgahnya untukku berhenti sejenak. Dia yang semalam
memintaku untuk tetap terjaga ketika kegiatan baru saja menguras waktunya untuk
membalas pesanku. Dia yang kini sibuk dengan segala organisasi,ekskul,bahkan tugas
negaranya melebihi kesibukanku. Aku tak mengerti permintaannya semalam itu.
Yang ku tahu,dia hanya memintaku untuk menemaninya chatting semalam meski via BBM. Dia bilang ‘lelahku akan hilang
ketika aku ditemani oleh orang yang cerewet tapi manis sepertimu’. Ku
anggap saja itu cuma rayuan gombal darinya. Aku hanya merespon sewajarnya.
Meski kadang perhatian yang ia berikan membuatku terpancing untuk baper
padanya,tapi aku berusaha untuk mengontrol perasaanku. Aku tanamkan dalam
hatiku bahwa aku dan Fafa adalah ‘TEMAN’. Teman bisa saja saling perhatian.
Teman bisa saja saling menemani ketika kesepian. Tapi apakah teman bisa saja
terus menginginkan pertemuan? Apa tempat singgahlah yang sebenarnya
menginginkan orang lain untuk tinggal disana? Entahlah…
Sore
ini Riani mengajakku bertemu dengan Coco dan Fafa. Aku mengusulkan tempat untuk
pertemuan hari ini. Aku cukup muak dengan hasil ulanganku tadi. Ada rasa tak
puas dengan hasil yang ku terima. Aku ingin menyegarkan pikiranku dengan jus
jambu. Jus favoritku. Dan aku berniat mengajak mereka ke caffetaria yang
menyediakan berbagai macam jus. Seperti biasa aku dan Riani menunggu Coco dan
Fafa datang untuk menjemput kami. Kali ini mereka datang lebih awal karena
kebetulan tak ada kegiatan yang menghalangi mereka untuk bertemu dengan kami. Lima
belas menit setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi,Fafa dan Coco akhirnya
datang. Tak lupa mereka selalu menunggu kami sejauh 50 meter dari gerbang masuk
sekolah. Setelah aku dan Riani menghampiri mereka,kami berempat berangkat
menuju tempat yang akan kami tuju. Sesampainya di tempat yang kami tuju,kami
memesan 4 gelas jus dengan rasa yang berbeda-beda. Setelah memesan jus kami pun
duduk berhadap-hadapan. Coco berhadapan dengan Riani dan Fafa berhadapan
denganku. Selama menunggu pesanan jus…..
“Kamu
kenapa sih? Dari tadi cemberut mulu?” Tanya Fafa padaku
“Nggak
kok,aku nggak kenapa-napa.”
“Nggak
usah bo’ong. Aku tau kamu lagi mikirin sesuatu. Pasti lagi mikirin aku kan? Jujur
aja deh”
“Kamu
tuh kePDan banget sih jadi cowok.”
“Kamu
lagi PMS yah?”
“Aku
tuh…..”
“Silahkan
mas mbak….”Tiba-tiba pelayan datang dan memberikan pesanan
“Aku
tuh mau bilang makasih ya mbak…” ku minum jus sembari melihat pelayan itu tersenyum
“huuuffftttt
kamu tuh ya. Jadi aku nggak boleh tau nih alasan muka kamu cemberut gitu? Senyum
dong,entar pipi jambunya ilang lho”
Akhir-akhir
ini Fafa sering memanggilku dengan sebutan pipi jambu. Entah karena lesung di pipiku
ini atau karena aku pernah cerita kalau sebenarnya aku suka sekali dengan jus
jambu. Entahlah,aku rasa dia mulai menggodaku. Aku pun bersikap jual mahal
dengannya. Lalu,aku teringat dengan sesuatu yang membuat perasaanku agak
sedikit mengganjal kali ini. Aku berniat menanyakannya pada Fafa..
“Duuuuhhh…!!!
Aku tuh lagi kesel sama nilai ulanganku. Rasanya aku belum puas sama hasil
jerih payahku sendiri..”
“Oooohhh…..gara-gara
itu? Ya kamu seharusnya bersyukur dengan hasil yang kamu dapatkan. Yang penting
kan kamu udah berusaha semaksimal mungkin. Diterima dengan lapang dada aja. Aku
yakin kok,kedepannya juga bakal bagus nilainya. Yang penting kamu tambah rajin
belajarnya. Apa perlu kita nggak chatting selama seminggu biar kamu fokus
belajarnya?”
“Ya…..
gimana ya?tetep aja kan rasanya nggak enak gitu. Emang kamu kuat gak chattingan
sama aku selama seminggu?Baru aja aku tinggal tidur kemarin gara-gara kelamaan
nunggu balasan kamu,kamu udah ngambek gitu. Gimana kamu kuat nggak chattingan
selama seminggu?”
“Hahaha….
Aku cuma lebih memprioritaskan apa yang aku incar sekarang”
Ucapannya
membuatku hampir tersedak…
“Maksud
kamu?”tanyaku dengan perasaan kalut
“Kamu
ngerasa ada yang beda nggak sih antara aku dan kamu?”tanyanya yang membuatku
berpikir dua kali
“Beda
gimana? Kita emang beda udah lama kan? Aku cewek kamu cowok. Emang beda kan?”
“Aku
heran yah? kenapa sih saking pinternya anak jurusan ipa sampe nggak peka gini?”
Aku
jadi bingung dengan apa yang baru saja ia katakan.
“Ya…..
emang aku sedari dulu nggak peka orangnya…emang yang kamu maksud kaya gimana?”
“Akan
lebih baik kalo kita memilih satu yang tepat lalu memprioritaskannya menjadi
incaran kita. Tapi kalau belum yakin,untuk apa?”
“Tunggu-tunggu…
jadi kamu udah punya incaran?eh maksudnya udah suka sama seseorang?”
“Kenapa?
Kamu tersinggung kalo aku udah punya incaran? Aku emang udah punya incaran.
Tapi sepertinya incaranku itu nggak ngincar aku juga. Dia ngincar orang lain.
Dan aku rasa aku telah merusak hubungan incaranku dengan incarannya sebelum ku
incar”
“Oh
jadi kamu udah punya incaran? (Ku geser sedikit ke belakang kursi tempat
dudukku sembari menata posisi dudukku) Maaf ya? Aku udah mengusik kehidupan
kamu dan incaranmu. Aku juga tau,aku nggak seharusnya chattingan terus
sama kamu. Jadi maafin aku yah?”jawabku dengan rasa bersalah. Aku tau,aku munafik
di depan Aulin kemarin kalau aku nggak nyaman sama Fafa. Betapa bodohnya aku
memendam semua ini.
“Enggak
kok. Kamu nggak salah. Aku kasih tau ya. Sebenarnya incaranku itu lahir sebulan
sebelum bulan kelahiranku. Kamu tau kan aku lahir bulan apa? Coba tebak?”
“Siapa?
Jeni? Febi? Mareta? Aprilia? Mei? Yuni? Yuli? Agustina? Septi? Okta? Novi?
Desi? Ahhh!!! Banyak tau nama cewek yang namanya bulan kelahiran,mana mungkin
aku bisa tebak? Kan aku nggak tau tanggal lahir kamu?”ku jawab beberapa
kemungkinan nama cewek berdasarkan bulan kelahirannya.
“Tapi
sebelum aku kasih tau,aku masih belum yakin sama incaranku itu. Tiap hari dia
selalu aku nantikan 1 pesan balasan darinya. Aku juga udah kode-kode ke dia
sih. Tapi aku belum tau responnya kaya gimana. Dia juga sepertinya belum bisa
melupakan incarannya itu”jawab Fafa.
“Kamu
kok sok tau gitu sih? Menurut aku tuh ya,Cewek kalo udah ngerasa diincer sama
cowok yang udah bikin nyaman dia, dia bakal merjuangin balik meskipun terkadang
dia masih kepikiran soal mantannya. Tapi percayalah,jauh dilubuk hatinya dia
bakal lebih memilih cowok yang bikin dia nyaman daripada cowok yang udah
sia-sia ninggalin dia. Masalahnya dia udah nyaman belom dideketin sama kamu?”
Ku
katakan dengan tatapan yang berbeda kali ini. Apa yang aku katakan barusan
sebenernya berkaitan dengan perasaanku selama ini. Jujur,aku mulai merasa
nyaman sama Fafa semenjak aku dan dia sering chattingan terus tiap
malam. Dan karena itu pula, aku udah mulai bisa move on dari Raka. Aku pun
berniat pindah dan singgah pada Fafa. Tapi apakah Fafa akan menyambut
perpindahanku ini?
“Entah,tapi
kalau misal aku udah menetapkan dia sebagai incaranku dan
memprioritaskannya,apakah ia akan berhenti memikirkan masa lalunya? Kalo
iya,aku bakal kasih tau kamu siapa incaranku”ucap Fafa yang membuatku kepo
“Ya
pasti perlahan dilupain kok. Entah gimana caranya,yang penting selagi ada yang
membuatnya nyaman dia pasti bakal lupa sendiri kok.”
“Aku
pengen ngasih tau kamu. Sebenernya aku lahir di bulan Juni.”
“Berarti
incaranmu itu yang lahirnya di bulan Mei kan?berart……” Aku belum sempat
mencerna kata-katanya. Aku berusaha mengingat apa yang baru saja ia katakan
padaku. Jadi selama ini dia mengincarku? Apakah ini mimpi? Aku terus mencubit
pipiku sembari memikirkan apa yang akan aku katakan padanya. Perasaan hening
mulai menghiasi pembicaraanku pada Fafa. Ku tatap wajahnya perlahan. Sorot mata
sipitnya menandakan kalau yang ia katakan tadi seolah serius. Aku tak
menyangka,bagaimana ia mengincar perempuan seperti diriku? Apakah dalam jus
yang baru saja ia tenggak ada racun yang membuatnya berkata seperti itu? Ataukah
ia sedang menipuku dengan sejuta janji manisnya??? Aku pun diam tak berani
melanjutkan perkataaanku. Ku tunggu hingga ia kembali bicara padaku…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar