Sabtu, 15 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Persinggahan yang Tak Terduga

“Meiiiiyyyyy!!!!” Teriak Aulin membuyarkan lamunanku
“Kamu nggak dengerin aku ngomong apa tadi?Kamu kenapa sih?”
“Eeee maafin aku ya lin….,aku bukannya nggak dengerin kamu tapi…akhir-akhir ini aku sering memikirkan yang….. haahhh! aku bingung harus gimana”jawabku kesal
“Okee,mungkin ini terakhir kali aku ngalah sama kamu. Sebenernya apa sih yang kamu fikirkan akhir-akhir ini?heh?sampe dengerin curhatanku aja kamu nggak mau?”
“Aku bukannya gak mau lin,tapi….”
“Sudahlah,aku gak mau debat sama kamu….Sekarang,kamu harus cerita sama aku. Aku bakal seneng ngedengerin curhatanmu. Siapa tau aku bisa bantu ngasih solusi…”
“Aku mau pindah,lin….”
“APA???Pindah??? Pindah kemana?baru aja naik kelas,ujian juga belum kamu udah mau pindah? Kamu ngapain pindah Meiy?kamu tega ninggalin aku?”
“Nggak,lin… Ini bukan soal pindah sekolah. Aku mau pindah ke hati orang lain”
“Huffffftttt,aku kira kamu mau pindah kemana. Kamu tuh ya sukanya bikin kepo,bikin panik,bikin baper juga. Emangnya kamu mau pindah ke hati siapa?Bukannya kamu masih nyimpen rasa sama Raka?”
“Sebenernya aku udah mikir-mikir ini sejak lama. Aku kemarin bilang ke Raka kalo aku udah nggak ada rasa lagi sama dia. Menurutmu aku salah gak sih bilang gitu ke Raka?”
“Kamu kenapa bilang begitu sama dia? Kamu kok jadi tega gini sih Meiy?”
“Aku harus gimana lagi,Lin? Aku capek nunggu dia terus, Aku capek didiemin dia terus, Aku capek dicuekin dia terus,dan Aku juga capek nyimpen rasa ini sendiri Lin. Entah kenapa saat aku gagal menyusulnya kemarin,aku mulai patah arang buat merjuangin perasaanku ini. Aku rasa sudah saatnya aku pindah dari hatinya….”
“Kamu terlalu gegabah,Meiy! Seharusnya kamu ngasih kesempatan Raka buat memperbaiki semuanya. Aku yakin,Raka nggak bakal semudah itu ngelepasin kamu,nyuekin kamu,ngebiarin kamu memendam sendirian perasaanmu. Buktinya kemarin dia masih mempertanyakan perasaanmu padanya. Berarti dia selama ini masih setia sama kamu. Lagian kenapa sih kamu pindah ke hati orang lain segala? Kenapa nggak kamu bilang aja kalo kamu masih nyimpen rasa sama dia? Atau…. Jangan-jangan kamu udah jatuh cinta sama si paskib sok keren itu?”
“Ya enggak lah,dia itu kan cuma temen aku. Mana mungkin aku jatuh cinta sama dia, move on juga belum….”
“Nah kalo belum move on,kenapa gak balik aja ke Raka? Kesempatan gak akan dateng dua kali,Meiy. Kalo kamu gak beneran jatuh cinta sama dia,lalu kenapa sedari tadi aku lihat kamu balas chat dia terus? Kamu udah nyaman kan sama si dia?Jujur aja deh”
“Entahlah… aku nggak pengen bahas soal Fafa. Kali ini aku serius,Lin. Aku berhenti menyukai Raka,aku berhenti menyimpan rasa buat dia,aku berhenti bertahan dan berjuang buat dia. Aku mau pindah ke hati orang lain tapi aku nggak tau harus pindah kemana”
“Ngaku aja deh kalo kamu udah mulai nyaman sama si Fafa fafa itu. Gak mungkin kamu chat dia terus kalo nggak ada rasa. Ternyata kamu lebih jahat ya Meiy? Kamu udah matahin harapan seseorang buat merjuangin kamu lagi. Dan kamu juga nyari pelampiasan buat move on dari Raka. Aku jadi kasihan sama Raka. Kalo menurutku,kamu salah meninggalkan Raka dengan cara seperti ini dan aku lebih mendukung kamu untuk tetap bertahan sama Raka daripada sama yang lain. Apa kamu nggak pernah mikir saat kamu sama dia taruhan,dia rela lari cuma karena dia kalah. Dan dari situ,kesetiaan dia terbukti. Cuma buat kamu. Tapi aku ngerasa kamu nggak ngehargain kesetiaannya selama ini”
“Tapi kalo hatiku emang udah nggak nyaman sama dia,apa harus dipaksain? Enggak juga kan? Aku juga gak mau jatuh pada lubang yang sama. Lebih baik aku pindah daripada terus berjuang tak tentu arah tujuan.”
“Meiy! Semua tujuannya tuh udah jelas sekarang. Raka masih punya rasa sama kamu. Dia bahkan masih setia sama kamu. Tapi kamu dengan cerobohnya ninggalin dia,dan malah lebih milih orang lain yang belum tentu mau sama kamu. Okee kalau itu memang keputusanmu. Aku gak maksa kok kamu mau berpihak ke siapa,yang jelas aku lebih setuju kalo kamu bertahan sama Raka. Aku nggak ngerti ya,apa hanya karena Fafa lebih hits dari Raka terus kamu jadi lebih milih Fafa? Atau karena hal lain yang membuatmu berubah pikiran untuk lebih memilih Fafa daripada Raka?yang pasti kamu jangan sampe nyesel karena udah ngelepas Raka nantinya…”
Bulir es krim durian terasa membekukan pikiranku yang sedang kacau. Rasanya aku terpendam dalam jurang es antartika. Aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Baru saja kemarin aku memutuskan untuk benar-benar pindah namun seakan ada saja penghalang yang membuatku ingin kembali lagi ke rumah lamaku. Apakah aku masih ragu? Tidak. Apakah aku masih berharap?tentu tidak. Apakah aku masih punya rasa untuknya?tidak juga. Aku sudah bersusah payah membunuh perasaanku sendiri akhir-akhir ini. Aku tak ingin kembali. Aku tak ingin jatuh ke lubang yang sama. Aku yakin,aku pasti akan menemukan tempat singgah yang baru.
Tepat pukul dua belas siang,Aku dan Aulin sampai di rumahku. Sedari pagi kami mencari bahan untuk membuat topeng. Semua yang aku butuhkan telah ada di depan mata. Dan kini saatnya aku membuat itu. Topeng yang menutupi segala bentuk raut muka. Namun tak menutupi semua kebohongan yang telah terjadi di depan mata. Aku tau ini tak mudah. Masih banyak tantangan yang harus aku hadapi akan perpindahanku ini. Masih banyak lika-liku yang harus aku lalui. Demi tujuan kemana tertambatnya hati ini.
                             ***
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa lika-liku yang ku lalui begitu cepat berlalu. Aku percaya,tak ada hal yang sia-sia selama aku masih terus melangkah maju untuk mencari tempat singgah yang tepat untukku. Sepertinya seseorang baru saja mempersilahkan tempat singgahnya untukku berhenti sejenak. Dia yang semalam memintaku untuk tetap terjaga ketika kegiatan baru saja menguras waktunya untuk membalas pesanku. Dia yang kini sibuk dengan segala organisasi,ekskul,bahkan tugas negaranya melebihi kesibukanku. Aku tak mengerti permintaannya semalam itu. Yang ku tahu,dia hanya memintaku untuk menemaninya chatting semalam meski via BBM. Dia bilang ‘lelahku akan hilang ketika aku ditemani oleh orang yang cerewet tapi manis sepertimu’. Ku anggap saja itu cuma rayuan gombal darinya. Aku hanya merespon sewajarnya. Meski kadang perhatian yang ia berikan membuatku terpancing untuk baper padanya,tapi aku berusaha untuk mengontrol perasaanku. Aku tanamkan dalam hatiku bahwa aku dan Fafa adalah ‘TEMAN’. Teman bisa saja saling perhatian. Teman bisa saja saling menemani ketika kesepian. Tapi apakah teman bisa saja terus menginginkan pertemuan? Apa tempat singgahlah yang sebenarnya menginginkan orang lain untuk tinggal disana? Entahlah…
Sore ini Riani mengajakku bertemu dengan Coco dan Fafa. Aku mengusulkan tempat untuk pertemuan hari ini. Aku cukup muak dengan hasil ulanganku tadi. Ada rasa tak puas dengan hasil yang ku terima. Aku ingin menyegarkan pikiranku dengan jus jambu. Jus favoritku. Dan aku berniat mengajak mereka ke caffetaria yang menyediakan berbagai macam jus. Seperti biasa aku dan Riani menunggu Coco dan Fafa datang untuk menjemput kami. Kali ini mereka datang lebih awal karena kebetulan tak ada kegiatan yang menghalangi mereka untuk bertemu dengan kami. Lima belas menit setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi,Fafa dan Coco akhirnya datang. Tak lupa mereka selalu menunggu kami sejauh 50 meter dari gerbang masuk sekolah. Setelah aku dan Riani menghampiri mereka,kami berempat berangkat menuju tempat yang akan kami tuju. Sesampainya di tempat yang kami tuju,kami memesan 4 gelas jus dengan rasa yang berbeda-beda. Setelah memesan jus kami pun duduk berhadap-hadapan. Coco berhadapan dengan Riani dan Fafa berhadapan denganku. Selama menunggu pesanan jus…..
“Kamu kenapa sih? Dari tadi cemberut mulu?” Tanya Fafa padaku
“Nggak kok,aku nggak kenapa-napa.”
“Nggak usah bo’ong. Aku tau kamu lagi mikirin sesuatu. Pasti lagi mikirin aku kan? Jujur aja deh”
“Kamu tuh kePDan banget sih jadi cowok.”
“Kamu lagi PMS yah?”
“Aku tuh…..”
“Silahkan mas mbak….”Tiba-tiba pelayan datang dan memberikan pesanan
“Aku tuh mau bilang makasih ya mbak…” ku minum jus sembari melihat pelayan itu tersenyum
“huuuffftttt kamu tuh ya. Jadi aku nggak boleh tau nih alasan muka kamu cemberut gitu? Senyum dong,entar pipi jambunya ilang lho”
Akhir-akhir ini Fafa sering memanggilku dengan sebutan pipi jambu. Entah karena lesung di pipiku ini atau karena aku pernah cerita kalau sebenarnya aku suka sekali dengan jus jambu. Entahlah,aku rasa dia mulai menggodaku. Aku pun bersikap jual mahal dengannya. Lalu,aku teringat dengan sesuatu yang membuat perasaanku agak sedikit mengganjal kali ini. Aku berniat menanyakannya pada Fafa..
“Duuuuhhh…!!! Aku tuh lagi kesel sama nilai ulanganku. Rasanya aku belum puas sama hasil jerih payahku sendiri..”
“Oooohhh…..gara-gara itu? Ya kamu seharusnya bersyukur dengan hasil yang kamu dapatkan. Yang penting kan kamu udah berusaha semaksimal mungkin. Diterima dengan lapang dada aja. Aku yakin kok,kedepannya juga bakal bagus nilainya. Yang penting kamu tambah rajin belajarnya. Apa perlu kita nggak chatting selama seminggu biar kamu fokus belajarnya?”
“Ya….. gimana ya?tetep aja kan rasanya nggak enak gitu. Emang kamu kuat gak chattingan sama aku selama seminggu?Baru aja aku tinggal tidur kemarin gara-gara kelamaan nunggu balasan kamu,kamu udah ngambek gitu. Gimana kamu kuat nggak chattingan selama seminggu?”
“Hahaha…. Aku cuma lebih memprioritaskan apa yang aku incar sekarang”
Ucapannya membuatku hampir tersedak…
“Maksud kamu?”tanyaku dengan perasaan kalut
“Kamu ngerasa ada yang beda nggak sih antara aku dan kamu?”tanyanya yang membuatku berpikir dua kali
“Beda gimana? Kita emang beda udah lama kan? Aku cewek kamu cowok. Emang beda kan?”
“Aku heran yah? kenapa sih saking pinternya anak jurusan ipa sampe nggak peka gini?”
Aku jadi bingung dengan apa yang baru saja ia katakan.
“Ya….. emang aku sedari dulu nggak peka orangnya…emang yang kamu maksud kaya gimana?”
“Akan lebih baik kalo kita memilih satu yang tepat lalu memprioritaskannya menjadi incaran kita. Tapi kalau belum yakin,untuk apa?”
“Tunggu-tunggu… jadi kamu udah punya incaran?eh maksudnya udah suka sama seseorang?”
“Kenapa? Kamu tersinggung kalo aku udah punya incaran? Aku emang udah punya incaran. Tapi sepertinya incaranku itu nggak ngincar aku juga. Dia ngincar orang lain. Dan aku rasa aku telah merusak hubungan incaranku dengan incarannya sebelum ku incar”
“Oh jadi kamu udah punya incaran? (Ku geser sedikit ke belakang kursi tempat dudukku sembari menata posisi dudukku) Maaf ya? Aku udah mengusik kehidupan kamu dan incaranmu. Aku juga tau,aku nggak seharusnya chattingan terus sama kamu. Jadi maafin aku yah?”jawabku dengan rasa bersalah. Aku tau,aku munafik di depan Aulin kemarin kalau aku nggak nyaman sama Fafa. Betapa bodohnya aku memendam semua ini.
“Enggak kok. Kamu nggak salah. Aku kasih tau ya. Sebenarnya incaranku itu lahir sebulan sebelum bulan kelahiranku. Kamu tau kan aku lahir bulan apa? Coba tebak?”
“Siapa? Jeni? Febi? Mareta? Aprilia? Mei? Yuni? Yuli? Agustina? Septi? Okta? Novi? Desi? Ahhh!!! Banyak tau nama cewek yang namanya bulan kelahiran,mana mungkin aku bisa tebak? Kan aku nggak tau tanggal lahir kamu?”ku jawab beberapa kemungkinan nama cewek berdasarkan bulan kelahirannya.
“Tapi sebelum aku kasih tau,aku masih belum yakin sama incaranku itu. Tiap hari dia selalu aku nantikan 1 pesan balasan darinya. Aku juga udah kode-kode ke dia sih. Tapi aku belum tau responnya kaya gimana. Dia juga sepertinya belum bisa melupakan incarannya itu”jawab Fafa.
“Kamu kok sok tau gitu sih? Menurut aku tuh ya,Cewek kalo udah ngerasa diincer sama cowok yang udah bikin nyaman dia, dia bakal merjuangin balik meskipun terkadang dia masih kepikiran soal mantannya. Tapi percayalah,jauh dilubuk hatinya dia bakal lebih memilih cowok yang bikin dia nyaman daripada cowok yang udah sia-sia ninggalin dia. Masalahnya dia udah nyaman belom dideketin sama kamu?”
Ku katakan dengan tatapan yang berbeda kali ini. Apa yang aku katakan barusan sebenernya berkaitan dengan perasaanku selama ini. Jujur,aku mulai merasa nyaman sama Fafa semenjak aku dan dia sering chattingan terus tiap malam. Dan karena itu pula, aku udah mulai bisa move on dari Raka. Aku pun berniat pindah dan singgah pada Fafa. Tapi apakah Fafa akan menyambut perpindahanku ini?
“Entah,tapi kalau misal aku udah menetapkan dia sebagai incaranku dan memprioritaskannya,apakah ia akan berhenti memikirkan masa lalunya? Kalo iya,aku bakal kasih tau kamu siapa incaranku”ucap Fafa yang membuatku kepo
“Ya pasti perlahan dilupain kok. Entah gimana caranya,yang penting selagi ada yang membuatnya nyaman dia pasti bakal lupa sendiri kok.”
“Aku pengen ngasih tau kamu. Sebenernya aku lahir di bulan Juni.”
“Berarti incaranmu itu yang lahirnya di bulan Mei kan?berart……” Aku belum sempat mencerna kata-katanya. Aku berusaha mengingat apa yang baru saja ia katakan padaku. Jadi selama ini dia mengincarku? Apakah ini mimpi? Aku terus mencubit pipiku sembari memikirkan apa yang akan aku katakan padanya. Perasaan hening mulai menghiasi pembicaraanku pada Fafa. Ku tatap wajahnya perlahan. Sorot mata sipitnya menandakan kalau yang ia katakan tadi seolah serius. Aku tak menyangka,bagaimana ia mengincar perempuan seperti diriku? Apakah dalam jus yang baru saja ia tenggak ada racun yang membuatnya berkata seperti itu? Ataukah ia sedang menipuku dengan sejuta janji manisnya??? Aku pun diam tak berani melanjutkan perkataaanku. Ku tunggu hingga ia kembali bicara padaku…

                       ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar