Ku
coba menjawab pertanyaannya
“Boleh,mau
nanya apa?”
“Kamu
kenal nggak sama Raka,Tara,Ipang,Aldi dan kawan-kawannya?”. Aku hanya mengenali
kata ‘Raka’. Kenapa dia menanyakan ini? Sepertinya dia ingin merusak selera
makanku.
“Ooo…Raka?iya
dia temen sekelasku. Kenapa?”
“Yang
lain?kamu gak kenal?”
“Iya,aku
tau orangnya sih cuma gak kenal deket juga”
“Berarti
kamu kenal deket dong sama Raka?”
Kali
ini selera makanku benar-benar hilang…
“Eee,sebenarnya
kenapa sih? Kamu lapar kan? Lebih baik kamu makan dulu. Kalo makanmu udah
selesai baru kamu bicara. Ntar keselek lho”
“Aku
kan cuma tanya. Kenapa kamu cuma kenal dekat sama Raka?”
“Kita
cuma temen sekelas doang. Nggak deket-deket amat juga kok”jawabku agak kesal
“Aku
gak percaya”bantahnya. Aku menghentikan makanku. Perlahan aku memandangnya
dengan tatapan tajam
“Aku
denger….,kamu lagi deket sama dia kan?Udah,jujur aja gak apa-apa. Aku berusaha
ngomong banyak hari ini sama kamu biar nggak canggung kaya kemarin”ucapnya yang
membuatku agak sedikit curiga.
“Kamu
tau darimana?Itu gosip udah lama kok. Sekarang udah biasa-biasa aja.”
“Aku
tau dari Riani. Dia yang ngasih tahu aku soal hubunganmu sama dia”
Lagi-lagi
si Riani. Kenapa sih dia selalu ngumpanin aku?...
“Oh,gitu
ya?Dia emang suka menebar gosip gitu. Gak usah percaya deh”
“Terus,kenapa
jadi teman biasa? Bukannya kamu suka sama paskibraka?”
Pertanyaannya
nyaris menusuk urat tenggorokanku. Ingin sekali aku menuangkan makanan ke arah
wajahnya. Seolah-olah dia ingin tau urusan percintaan lamaku dengan Raka.
Kalaupun dia tau,pasti dia akan menyesal mempertanyakannya nanti. Tunggu saja
“Maksudnya?Aku
emang dari dulu nganggep dia teman biasa. Kita pernah dekat karena dalam satu
kelompok belajar. Dia sering belajar sama
aku. Dan aku udah gak dekat sama dia lagi ketika dia ninggalin aku demi
tugasnya jadi paskibraka. Emm… oh iya,sekarang gantian aku yang tanya sesuatu
sama kamu. Kamu kenal nggak sama yang namanya Ardian?” Ku coba mengalihkan
pembicaraan ini dengan menanyakan tentang Ardian
“Ardian?
Jurusan teknik 1 itu?Iya aku kenal. Kenapa?”
“Kamu
satu kelas sama dia?”
“Nggak.
Aku jurusan teknik 2. Kamu kenal sama dia?”
“Iya.
Dia sahabatku waktu SMP. Aku kira dia satu kelas sama kamu. Oh iya kita nanti
pulang jam berapa?”
“Kenapa
emangnya?Kamu nggak tergesa-gesa kan?”tanyanya penuh harap agar aku tak melewatkan
makan siang ini bersamanya.
“Enggak
juga sih. Cuma aku ada janji sama temanku. Dia minta aku buat balik ke sekolah
nanti jam setengah 5 sore”
Raut
wajahnya terlihat agak kecewa. Sepertinya dia tak ingin lekas menyudahi
pertemuan ini…
“Oh
gitu?Yyaa udah deh. Pancakenya jangan lupa dihabisin. Nanti jam 4 kita otw”
Sebenarnya
masih banyak hal yang ku bicarakan selama makan siang hari ini. Mulai dari
kegiatan ekskul,kegiatan organisasi,dan segala hal yang membuatku dan dia lupa
waktu. Kami sudah melewati batas waktu 15 menit dari kesepakatan untuk pulang.
Meskipun agak terlambat namun dia sepertinya tak menghiraukannya. Kami pun mulai beranjak dari tempat duduk dan menuju
kasir pembayaran. Fafa menanyakan kepada kasir berapa bill yang harus
dibayar. Ketika kasir menyebutkan nominal,aku langsung membuka tasku untuk
mengambil dompetku. Namun Fafa memegang tanganku “Gak usah,biar kembaliannya
gampang”. Biasanya ketika cowok ingin membayarkan bill ceweknya,mereka
akan bilang ‘Gak usah,biar aku yang bayar’. Nah pria yang berada selangkah di
depanku ini sebenarnya sedang berniat mentraktirku atau mungkin karena dia
gengsi?Aku merasa canggung lagi padanya selama perjalanan pulang. “Kita kapan
ketemu lagi?”ku tanya Fafa sambil memakai helm. Dia melihatku dengan tatapan
yang tak biasa. Aku tak bisa mengartikan arti tatapan apa ini. Sepertinya
pertanyaanku membuatnya kaget. Setelah aku palingkan wajahku,dia mulai memakai
helm dan bergegas mengantarkanku pulang. Saat di perjalanan aku bertanya
kembali padanya
“Jadi,kapan
kita ketemu lagi?”. Fafa mengarahkan spion ke arah wajahku.
“Apa?”
“Aku
tanya,jadi kapan kita ketemu?Kalo kita ketemu lagi aku mau nraktir kamu sebagai
pengganti makan siang hari ini.” jelasku.
“Kita
lihat aja sikonnya. Aku takut gak bisa nepatin janjiku. Aku sibuk dengan
kegiatanku akhir-akhir ini.”
Setelah
itu aku tak merespon perkataannya lagi. Ku kira itu sudah jelas bahwa ini
adalah pertemuan terakhirku dengannya. Sesampainya di dekat sekolah,ku ucapkan
salam perpisahan untuknya..
“Tunggu
dulu. Sebelum kamu pergi,aku mau bicara sebentar sama kamu. Makasih ya udah nraktir
aku hari ini. Aku takut gak bisa balas budi sama kamu. Aku harap kita bisa
bertemu lagi dilain waktu.”
“Aku
juga berharap semoga kita bisa bertemu lagi. Sudah ya?Aku pergi dulu.
Assalamu’alaikum!!!”
“Wa’alaikumsalam!!”
Dia
pergi sembari tersenyum manis ke arahku. Hari ini sungguh membuat moodku naik drastis.
Bertemu dan berbincang dengan orang baru tak selamanya menakutkan. Tergantung
dari cara kita mengajaknya berkenalan dan berbicara padanya. Aku pun berjalan
menuju ke sekolah dan menunggu Indira menjemputku.
***
Sepi
masih menjadi teman keseharianku. Disaat hati tak berpenghuni,ada saja yang
ingin mengisi. Namun aku selalu menolak untuk berkata ‘ya’ pada mereka yang
ingin mengisi hati ini. Entahlah, hati rasanya masih enggan untuk singgah di
tempat yang baru. Daripada pusing memikirkan soal hati,lebih baik aku
selesaikan tugas yang setia menemaniku akhir-akhir ini. Tugas kali ini cukup
mudah sebenarnya namun jika mood tak berkeinginan untuk
menyelesaikannya,rasanya pasti akan sangat berat. Membuat topeng dari bubur
kertas. Sama seperti membuat kebohongan dari bubur kenangan masa lalu yang
seharusnya sudah tak lagi ku pendam sendirian. Ah!lagi-lagi aku memikirkan soal
hati. Lagi-lagi aku baper. Lagi-lagi tentang kenangan itu. Tak ada hal lain
yang lebih pentingkah selain urusan hati? Aku seharusnya sudah tak memikirkan
perpindahan hati ini. Namun selalu saja ada hal yang membuatku teringat akan
hal ini.
Siang
ini aku berencana pergi mencari bahan untuk membuat topeng itu. Walau moodku
tak sebaik kemarin,tetapi ku paksakan untuk mencarinya karena berkaitan dengan
nilai tugasku. Ku pinta Riani untuk mengantarkanku pergi mencari bahan. Kami
pergi mencari bahan hingga ke pelosok pasar dekat pusat kota. Tetapi barang
yang kami cari ternyata tidak semuanya ada. Yah walaupun begitu kami tetap
terus mencarinya. Hingga penat mulai terasa,kami beristirahat di dekat tempat
parkir pasar. Sambil beristirahat sejenak,ku lihat Riani sibuk dengan
ponselnya. Sedari mencari bahan tadi,dia tak pernah sekalipun melepas
ponselnya. Aku tau,orang yang sedang dimabuk asmara pasti rela melakukan apapun
demi si doi. Aku juga sering melihat Riani diam-diam telfonan dengan pacarnya
ketika jam pelajaran sedang berlangsung. Sebegitu pentingkah komunikasi dengan
pacar rasa LDR meski jaraknya masih dalam satu kota yang sama?Selagi masih bisa
bertemu aku rasa tak perlu sekhawatir itu. Aku memandangi ponselku dan berharap
ada 1 notif dari seseorang. Ternyata tak satupun notif ku terima. Lalu
tiba-tiba Riani berteriak
“Meeeiiiiyyy!!!kita
ke sekolahnya Coco yuk!”
“Mau
ngapain kamu kesana?Aku mau kamu jadiin ‘kambing congek’ lagi nih?”
“Ya
enggak lah,tenang aja nanti juga ada yang bakal nemenin kamu kok.”
“Jangan
bilang kamu bakal ngetemuin aku sama Fafa lagi?Awas ya kamu!”
“Ih!Jangan
su’udzon gitu. Tenang,aku cuma mau ketemu Coco kok!”
Setelah
puas beristirahat,Riani langsung tancap gas menuju sekolah Coco. Lokasinya
lumayan dekat dari pasar. Sekitar 15 menit kami sudah sampai di sekolah Coco.
Sama seperti yang Coco dan Fafa lakukan,kami memarkir motor jauh dari gerbang
sekolah. Semua itu agar tujuannya tak diketahui oleh pihak sekolahnya. Tak lama
terlihat seorang pria berlari menghampiri kami. Coco datang menghampiri Riani.
Dia tak menyapaku. Aku sepertinya benar-benar dijadikan ‘kambing congek’
oleh mereka. Jika aku bisa mengendalikan motor yang Riani kendarai,aku pasti
akan segera kabur meninggalkan mereka berdua.
“Sayaaanggg,kayaknya
temenmu itu lagi butuh seseorang deh biar ada yang ngajakin ngobrol!”ejek Coco
“Iya
ya?Kayaknya dia kesepian. Tapi jangan digituin juga. Kasihan dianya. Dia udah
capek-capek nemenin aku nyari bahan buat tugasku lho”bela Riani
“Gimana
kalo Fafa aku suruh kesini aja?Dia kayaknya lagi istirahat di Ruang OSIS”
“Eh!jangan-jangan!gak
usah. Aku disini nggak apa-apa kok sendirian. Kalian ngobrol aja nggak apa-apa.
Aku tungguin.”Bantahku
“Udahlah
Meiy!gak usah gitu. Aku tau kamu pasti pengen banget kan ketemu dia lagi?”sahut
Riani sambil berbisik sesuatu pada Coco
“Aku
heran?Fafa akhir-akhir ini suka senyum-senyum sendiri loh kalo lagi balas
chatmu”kata Coco padaku
“Ah
udah lah!Kalian gak usah aneh-aneh gini deh. Lagian juga siapa yang pengen
ketemu sama dia?”
“Meiy!!!
Lihat…….!”(teriak Riani sambil menunjuk ke arah gerbang sekolah)
Rupanya
Coco memberitahu Fafa akan keberadaanku disini. Fafa perlahan menghampiri kami.
Rasanya aku ingin kabur dari mereka saat ini juga…
“Lho
kalian ngapain disini? Oh pasti mau ngapelin Coco ya,Rin? Hhhhfffttt,ngapel si
ngapel tapi ya jangan dipinggir jalan gini”
“Terus
kita harus kemana?”
“Kita
mampir kesana yuk!”
Coco
menunjuk sebuah warung dekat sekolahnya. Mereka berdua berjalan menuju warung
itu sedangkan aku dan Riani memarkirkan motor kesana. Sesampainya disana,kami
memesan minuman. Kami memilih tempat duduk yang berbeda. Hal ini tak disengaja
karena kebetulan warung itu sedang ramai pembeli. Posisi dudukku dan Fafa
berbeda dengan Riani dan Coco. Sepertinya Fafa akan bernasib sama sepertiku.
Atau bahkan mereka sengaja membuat aku dan Fafa seperti ini? Kenapa harus
bertemu dengannya lagi? Kenapa harus duduk berhadapan dengannya lagi? Apa
inikah saatnya giliranku membalas hutangnya kemarin? Atau ini memang kesempatan
yang dikendaki-Nya untuk mempertemukanku dengannya? Apakah ini candu yang
selama ini Fafa pendam saat tak bersamaku??
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar