Rabu, 12 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Ketika Temu Telah Menjadi Candu

Ku coba menjawab pertanyaannya
“Boleh,mau nanya apa?”
“Kamu kenal nggak sama Raka,Tara,Ipang,Aldi dan kawan-kawannya?”. Aku hanya mengenali kata ‘Raka’. Kenapa dia menanyakan ini? Sepertinya dia ingin merusak selera makanku.
“Ooo…Raka?iya dia temen sekelasku. Kenapa?”
“Yang lain?kamu gak kenal?”
“Iya,aku tau orangnya sih cuma gak kenal deket juga”
“Berarti kamu kenal deket dong sama Raka?”
Kali ini selera makanku benar-benar hilang…
“Eee,sebenarnya kenapa sih? Kamu lapar kan? Lebih baik kamu makan dulu. Kalo makanmu udah selesai baru kamu bicara. Ntar keselek lho”
“Aku kan cuma tanya. Kenapa kamu cuma kenal dekat sama Raka?”
“Kita cuma temen sekelas doang. Nggak deket-deket amat juga kok”jawabku agak kesal
“Aku gak percaya”bantahnya. Aku menghentikan makanku. Perlahan aku memandangnya dengan tatapan tajam
“Aku denger….,kamu lagi deket sama dia kan?Udah,jujur aja gak apa-apa. Aku berusaha ngomong banyak hari ini sama kamu biar nggak canggung kaya kemarin”ucapnya yang membuatku agak sedikit curiga.
“Kamu tau darimana?Itu gosip udah lama kok. Sekarang udah biasa-biasa aja.”
“Aku tau dari Riani. Dia yang ngasih tahu aku soal hubunganmu sama dia”
Lagi-lagi si Riani. Kenapa sih dia selalu ngumpanin aku?...
“Oh,gitu ya?Dia emang suka menebar gosip gitu. Gak usah percaya deh”
“Terus,kenapa jadi teman biasa? Bukannya kamu suka sama paskibraka?”
Pertanyaannya nyaris menusuk urat tenggorokanku. Ingin sekali aku menuangkan makanan ke arah wajahnya. Seolah-olah dia ingin tau urusan percintaan lamaku dengan Raka. Kalaupun dia tau,pasti dia akan menyesal mempertanyakannya nanti. Tunggu saja
“Maksudnya?Aku emang dari dulu nganggep dia teman biasa. Kita pernah dekat karena dalam satu kelompok belajar.  Dia sering belajar sama aku. Dan aku udah gak dekat sama dia lagi ketika dia ninggalin aku demi tugasnya jadi paskibraka. Emm… oh iya,sekarang gantian aku yang tanya sesuatu sama kamu. Kamu kenal nggak sama yang namanya Ardian?” Ku coba mengalihkan pembicaraan ini dengan menanyakan tentang Ardian
“Ardian? Jurusan teknik 1 itu?Iya aku kenal. Kenapa?”
“Kamu satu kelas sama dia?”
“Nggak. Aku jurusan teknik 2. Kamu kenal sama dia?”
“Iya. Dia sahabatku waktu SMP. Aku kira dia satu kelas sama kamu. Oh iya kita nanti pulang jam berapa?”
“Kenapa emangnya?Kamu nggak tergesa-gesa kan?”tanyanya penuh harap agar aku tak melewatkan makan siang ini bersamanya.
“Enggak juga sih. Cuma aku ada janji sama temanku. Dia minta aku buat balik ke sekolah nanti jam setengah 5 sore”
Raut wajahnya terlihat agak kecewa. Sepertinya dia tak ingin lekas menyudahi pertemuan ini…
“Oh gitu?Yyaa udah deh. Pancakenya jangan lupa dihabisin. Nanti jam 4 kita otw”
Sebenarnya masih banyak hal yang ku bicarakan selama makan siang hari ini. Mulai dari kegiatan ekskul,kegiatan organisasi,dan segala hal yang membuatku dan dia lupa waktu. Kami sudah melewati batas waktu 15 menit dari kesepakatan untuk pulang. Meskipun agak terlambat namun dia sepertinya tak menghiraukannya. Kami pun  mulai beranjak dari tempat duduk dan menuju kasir pembayaran. Fafa menanyakan kepada kasir berapa bill yang harus dibayar. Ketika kasir menyebutkan nominal,aku langsung membuka tasku untuk mengambil dompetku. Namun Fafa memegang tanganku “Gak usah,biar kembaliannya gampang”. Biasanya ketika cowok ingin membayarkan bill ceweknya,mereka akan bilang ‘Gak usah,biar aku yang bayar’. Nah pria yang berada selangkah di depanku ini sebenarnya sedang berniat mentraktirku atau mungkin karena dia gengsi?Aku merasa canggung lagi padanya selama perjalanan pulang. “Kita kapan ketemu lagi?”ku tanya Fafa sambil memakai helm. Dia melihatku dengan tatapan yang tak biasa. Aku tak bisa mengartikan arti tatapan apa ini. Sepertinya pertanyaanku membuatnya kaget. Setelah aku palingkan wajahku,dia mulai memakai helm dan bergegas mengantarkanku pulang. Saat di perjalanan aku bertanya kembali padanya
“Jadi,kapan kita ketemu lagi?”. Fafa mengarahkan spion ke arah wajahku.
“Apa?”
“Aku tanya,jadi kapan kita ketemu?Kalo kita ketemu lagi aku mau nraktir kamu sebagai pengganti makan siang hari ini.” jelasku.
“Kita lihat aja sikonnya. Aku takut gak bisa nepatin janjiku. Aku sibuk dengan kegiatanku akhir-akhir ini.”
Setelah itu aku tak merespon perkataannya lagi. Ku kira itu sudah jelas bahwa ini adalah pertemuan terakhirku dengannya. Sesampainya di dekat sekolah,ku ucapkan salam perpisahan untuknya..
“Tunggu dulu. Sebelum kamu pergi,aku mau bicara sebentar sama kamu. Makasih ya udah nraktir aku hari ini. Aku takut gak bisa balas budi sama kamu. Aku harap kita bisa bertemu lagi dilain waktu.”
“Aku juga berharap semoga kita bisa bertemu lagi. Sudah ya?Aku pergi dulu. Assalamu’alaikum!!!”
“Wa’alaikumsalam!!”
Dia pergi sembari tersenyum manis ke arahku. Hari ini sungguh membuat moodku naik drastis. Bertemu dan berbincang dengan orang baru tak selamanya menakutkan. Tergantung dari cara kita mengajaknya berkenalan dan berbicara padanya. Aku pun berjalan menuju ke sekolah dan menunggu Indira menjemputku.
                                    ***
Sepi masih menjadi teman keseharianku. Disaat hati tak berpenghuni,ada saja yang ingin mengisi. Namun aku selalu menolak untuk berkata ‘ya’ pada mereka yang ingin mengisi hati ini. Entahlah, hati rasanya masih enggan untuk singgah di tempat yang baru. Daripada pusing memikirkan soal hati,lebih baik aku selesaikan tugas yang setia menemaniku akhir-akhir ini. Tugas kali ini cukup mudah sebenarnya namun jika mood tak berkeinginan untuk menyelesaikannya,rasanya pasti akan sangat berat. Membuat topeng dari bubur kertas. Sama seperti membuat kebohongan dari bubur kenangan masa lalu yang seharusnya sudah tak lagi ku pendam sendirian. Ah!lagi-lagi aku memikirkan soal hati. Lagi-lagi aku baper. Lagi-lagi tentang kenangan itu. Tak ada hal lain yang lebih pentingkah selain urusan hati? Aku seharusnya sudah tak memikirkan perpindahan hati ini. Namun selalu saja ada hal yang membuatku teringat akan hal ini.
Siang ini aku berencana pergi mencari bahan untuk membuat topeng itu. Walau moodku tak sebaik kemarin,tetapi ku paksakan untuk mencarinya karena berkaitan dengan nilai tugasku. Ku pinta Riani untuk mengantarkanku pergi mencari bahan. Kami pergi mencari bahan hingga ke pelosok pasar dekat pusat kota. Tetapi barang yang kami cari ternyata tidak semuanya ada. Yah walaupun begitu kami tetap terus mencarinya. Hingga penat mulai terasa,kami beristirahat di dekat tempat parkir pasar. Sambil beristirahat sejenak,ku lihat Riani sibuk dengan ponselnya. Sedari mencari bahan tadi,dia tak pernah sekalipun melepas ponselnya. Aku tau,orang yang sedang dimabuk asmara pasti rela melakukan apapun demi si doi. Aku juga sering melihat Riani diam-diam telfonan dengan pacarnya ketika jam pelajaran sedang berlangsung. Sebegitu pentingkah komunikasi dengan pacar rasa LDR meski jaraknya masih dalam satu kota yang sama?Selagi masih bisa bertemu aku rasa tak perlu sekhawatir itu. Aku memandangi ponselku dan berharap ada 1 notif dari seseorang. Ternyata tak satupun notif ku terima. Lalu tiba-tiba Riani berteriak
“Meeeiiiiyyy!!!kita ke sekolahnya Coco yuk!”
“Mau ngapain kamu kesana?Aku mau kamu jadiin ‘kambing congek’ lagi nih?”
“Ya enggak lah,tenang aja nanti juga ada yang bakal nemenin kamu kok.”
“Jangan bilang kamu bakal ngetemuin aku sama Fafa lagi?Awas ya kamu!”
“Ih!Jangan su’udzon gitu. Tenang,aku cuma mau ketemu Coco kok!”
Setelah puas beristirahat,Riani langsung tancap gas menuju sekolah Coco. Lokasinya lumayan dekat dari pasar. Sekitar 15 menit kami sudah sampai di sekolah Coco. Sama seperti yang Coco dan Fafa lakukan,kami memarkir motor jauh dari gerbang sekolah. Semua itu agar tujuannya tak diketahui oleh pihak sekolahnya. Tak lama terlihat seorang pria berlari menghampiri kami. Coco datang menghampiri Riani. Dia tak menyapaku. Aku sepertinya benar-benar dijadikan ‘kambing congek’ oleh mereka. Jika aku bisa mengendalikan motor yang Riani kendarai,aku pasti akan segera kabur meninggalkan mereka berdua.
“Sayaaanggg,kayaknya temenmu itu lagi butuh seseorang deh biar ada yang ngajakin ngobrol!”ejek Coco
“Iya ya?Kayaknya dia kesepian. Tapi jangan digituin juga. Kasihan dianya. Dia udah capek-capek nemenin aku nyari bahan buat tugasku lho”bela Riani
“Gimana kalo Fafa aku suruh kesini aja?Dia kayaknya lagi istirahat di Ruang OSIS”
“Eh!jangan-jangan!gak usah. Aku disini nggak apa-apa kok sendirian. Kalian ngobrol aja nggak apa-apa. Aku tungguin.”Bantahku
“Udahlah Meiy!gak usah gitu. Aku tau kamu pasti pengen banget kan ketemu dia lagi?”sahut Riani sambil berbisik sesuatu pada Coco
“Aku heran?Fafa akhir-akhir ini suka senyum-senyum sendiri loh kalo lagi balas chatmu”kata Coco padaku
“Ah udah lah!Kalian gak usah aneh-aneh gini deh. Lagian juga siapa yang pengen ketemu sama dia?”
“Meiy!!! Lihat…….!”(teriak Riani sambil menunjuk ke arah gerbang sekolah)
Rupanya Coco memberitahu Fafa akan keberadaanku disini. Fafa perlahan menghampiri kami. Rasanya aku ingin kabur dari mereka saat ini juga…
“Lho kalian ngapain disini? Oh pasti mau ngapelin Coco ya,Rin? Hhhhfffttt,ngapel si ngapel tapi ya jangan dipinggir jalan gini”
“Terus kita harus kemana?”
“Kita mampir kesana yuk!”
Coco menunjuk sebuah warung dekat sekolahnya. Mereka berdua berjalan menuju warung itu sedangkan aku dan Riani memarkirkan motor kesana. Sesampainya disana,kami memesan minuman. Kami memilih tempat duduk yang berbeda. Hal ini tak disengaja karena kebetulan warung itu sedang ramai pembeli. Posisi dudukku dan Fafa berbeda dengan Riani dan Coco. Sepertinya Fafa akan bernasib sama sepertiku. Atau bahkan mereka sengaja membuat aku dan Fafa seperti ini? Kenapa harus bertemu dengannya lagi? Kenapa harus duduk berhadapan dengannya lagi? Apa inikah saatnya giliranku membalas hutangnya kemarin? Atau ini memang kesempatan yang dikendaki-Nya untuk mempertemukanku dengannya? Apakah ini candu yang selama ini Fafa pendam saat tak bersamaku??

                       ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar