Senin, 10 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Pertemuan yang (Tak) Ku Nantikan

Hari Jumat kini terpampang di atas kalender kelas. Pertemuan yang dijanjikan itu terpaksa ku setujui. Mungkin banyak yang beranggapan kalau aku adalah perempuan yang ceroboh,gegabah,dan sembrono dalam urusan seperti ini. Berdasarkan cap paskibraka yang ku tahu,dia lelaki yang baik,sopan,tanggung jawab dan bukan tergolong lelaki berandalan. Ya kalau bukan karena cap paskibraka mana mau aku menyetujui pertemuan ini. Aku harus lebih selektif dalam memilih teman. Aku yakin,Fafa tak kan berani berbuat macam-macam padaku.
Tak terasa bel pulang sekolah mulai berdenting. Aku terus teringat akan janji pertemuan itu. Padahal sebelum hari ini tiba aku sempat ingin menolak pertemuan ini. Ada rasa tak enak hati bila harus bertemu dengan seorang lelaki yang berbeda sekolah dan berbeda jurusan denganku. Tetapi ku paksa hati ini untuk tetap menyetujui pertemuan ini. Entah dengan alasan apa aku menyetujuinya. Aku meminta Riani untuk menjemputku setelah aku selesai les sepulang sekolah. Setelah itu aku dan Riani akan menunggu kedatangan Fafa dan Coco. 
Perasaanku menjadi tak karuan. Ingin sekali ku perlambat waktu yang bergulir melingkar di tanganku. Menit demi menit ku lalui hingga les yang lamanya 2 jam kian terasa singkat sekali. Perasaan panik mulai menghantuiku. Apa aku batalkan saja pertemuan ini? Jika iya,bagaimana dengan Riani? Ku telfon dia sedari tadi namun tak kunjung dia angkat telfonku. Apa mungkin dia sudah dalam perjalanan menjemputku kemari? Tiba-tiba terdengar suara motor tak jauh dari tempat ku menunggu Riani. Riani datang menjemputku. 
“Meiiiiyyy!!!Yuk cap cus!!!”
“Mmm……Rin,ini kita jadi ketemu mereka?” tanyaku penuh keraguan.
“Ya jadilah Meiy!mereka udah otw di jalan sekarang. Buruan naik gih” ujar Riani sambil memutar balikkan motor milik temannya.
“Tapi aku kayaknya gak jadi deh Rin…,aku….”
“Kenapa Meiy?Kamu mau ngebatalin pertemuan ini? Terus mereka gimana? Udahlah nggak ada waktu lagi buat nyari alasan yang nggak jelas”
Makin lama ku kendalikan,makin cepat jantungku berdegup kencang. Sesampainya di sekolahan kami pun menunggu kedatangan mereka. Tak berapa lama,mereka akhirnya datang. Terlihat dua sepeda motor berhenti sejuah 50 m dari gerbang sekolah. Riani sengaja menyuruh mereka untuk menunggu kami agak jauh dari gerbang sekolah agar tak diketahui oleh pihak sekolah baik guru,teman,maupun siapapun. Dua lelaki bertubuh jangkung,duduk tegap di kursi jok motor masing-masing. Riani mendahuluiku dan menghampiri pria yang memarkir kendaraannya paling depan. Sedangkan aku menghampiri pria yang sedari tadi menunduk entah karena alasan apa dia melihat ke bawah. Ketika aku tepat berada di depan motornya,ia perlahan membuka kaca helm dan menampakkan wajah penuh dengan rasa malu. Terlukis senyum manis darinya sebagai tanda perkenalan untuk pertama kalinya bertemu. “Oooo…. Jadi ini yang namanya Fafa. Sekilas nggak jauh beda dari foto aslinya”sapaku.
Tampaknya ia agak sedikit canggung dan salah tingkah saat ku tatap kedua bola matanya yang sipit. Lalu aku menepi dan maju beberapa langkah dan membelakanginya. Percayalah,jauh dalam lubuk hatiku aku ingin sekali membatalkan pertemuan ini. Rupa yang ku bayangkan jauh dari realita. Tentu aku akan lebih memilih bertemu dengan Raka saja daripada bertemu dengan dia. Dia yang berbalut jaket almamater paskibraka mirip jaket yang dikenakan Raka yang setiap pagi aku lihat seperti boneka teddy bear berwarna coklat sawo ‘kematengan’ yang nampak eksotis bila terkena sinar matahari. Dan parahnya lagi,dia yang nantinya akan memboncengkanku dan membawaku pergi. Ya Tuhan,kenapa harus dengan lelaki seperti ini? Dari jarak 1 meter,ku dengar Fafa sedikit berbicara pelan pada Riani …..
“Rin,kok dia bawa helm? Dia gak bawa motor sendiri?”
“Ya enggaklah Fa. Dia belum diijinin naik motor sendiri. Makanya dia bonceng kamu”
“Seriusan???Aku sama sekali belum pernah boncengin cewek selain ibuku dan adikku. Aku harus gimana?”
“Yaelah orang cuma bonceng doang. Emang kenapa?keberatan?dia sama aku juga kurusan dia. Anggep aja ini surprise”
“Surprise?emang hari ini dia ulang tahun?”
“Ya enggak lah Fa. Please deh namanya ‘Meiy’ masa ultahnya ‘Agustus’. Dah yuk buruan!”
Ku pakai helm dan segera membonceng Fafa dengan hati-hati dan agak sedikit membatasi posisi dudukku dengannya. Kami berempat pun memulai perjalanan menuju rumah makan yang Riani dan Coco rencanakan.
***
Di perjalanan tak ada perbincangan yang berarti antara aku dan Fafa. Aku hanya terdiam sambil sesekali memandangi layar ponselku. Entahlah,aku hanya bisa memandangi pundak dan helmya. Di sisi lain,Fafa mengarahkan spion ke arah wajahku. Aku merasa salah tingkah dibuatnya. Untuk mengurangi rasa canggungku ini, ku beranikan diri mengajaknya berbicara tentang dimana tempat tinggalnya. Dia pun merespon dengan cuek dan singkat. Setelah itu dia tak menanggapi perbincanganku lagi. Aku pun tak berniat menanyakan hal apapun lagi padanya. Sebelum sampai di rumah makan,aku sempat memotret pundak Fafa. Aku hanya iseng memotret dan menjadikannya profil BBM.
Sesampainya di rumah makan,kami pun memesan makanan dan meja untuk 4 orang. Awalnya Riani menawarkanku duduk di dekat Fafa namun aku menolaknya. Aku memilih duduk di samping Riani. Dan di hadapanku tak lain dan tak bukan adalah Fafa. Pelayan datang dan menawarkan daftar menu makanan pada kami. Riani menawarkan Coco namun ia malah menyerahkannya pada Fafa. Fafa menawarkanku. Aku mengelak dan memberikan daftar menu kembali ke Riani. Berturut-turut memutar dan akhirnya “Ladies First” ucap Fafa sambil tersenyum kepadaku. Aku terkesan akan perlakuan yang ia berikan. Aku bingung ingin memesan menu apa.
Ingin ku bertanya pada Riani namun ia sibuk kencan dengan Coco. Ingin hati bertanya pada Fafa,namun tiba-tiba ponsel yang ia genggam berdering. Dhede dan Marjo menelfon Fafa dan menanyakan keberadaannya. Sepertinya ada hal penting yang telah Fafa tinggalkan demi bertemu denganku. Aku pun tak tau apa alasan ia rela meninggalkan sesuatu demi diriku. Niat semula memesan pancake strawberry kini ku urungkan. Aku merasa tidak nyaman dengan mereka bertiga karena mereka hanya memesan menu minuman tanpa makanan. Untuk menutupi rasa malu,ku ambil ponsel dari dalam tasku. Ada notif BBM. Dhede mengomentari profil yang aku pasang. ‘Itu yang di depan Coco bukan?’ Sontak saja ku hadapkan ponselku pada Riani. Namun ia malah langsung mengambil ponselku dan membiarkan Coco untuk membalasnya. Aku mulai resah.
Sebenarnya mereka niat gak sih ngadain aku ketemuan sama Fafa? Aku merasa ada yang mereka sembunyikan dariku. Tiba-tiba Coco menyuruh Fafa untuk menelpon Marjo kembali. Namun ponsel Fafa lowbat. Ku tawarkan powerbank untuknya,semula ia menolak tetapi karena terdesak kepentingan yang tak ku ketahui akhirnya ia menerima tawaranku. Pesanan pun akhirnya datang. Fafa terlihat gelisah dan cemas. Mimik wajahnya menandakan bahwa ia ingin segera mengakhiri pertemuan ini. Ku beranikan diri untuk bertanya padanya…
“Sebenernya ada apaan sih?”
“Hah?oh nggak kok. Nggak ada apa-apa. Santai aja. Tuh jusnya jangan lupa diminum” jawab Fafa
“Aku nggak percaya. Co,sebenernya ada apaan sih?”
“Ehm…Meiy maafin Fafa ya?Sebenernya nggak cuma dia sih aku juga. Jadi habis ini kita ada latihan pramuka. Tapi nggak apa-apa kok. Dinikmatin aja dulu”ujar Coco
“APA?Tau gini kenapa jadi ketemu?Kok kamu nggak bilang sama aku?Kalau kamu bilang dari awal aku bakal lebih milih ngebatalin daripada kamu terlambat latihan nantinya”
“Oh enggak kok enggak. Nggak apa-apa kok. Kamu tenang aja. Jusnya dinikmatin dulu. Kamu habis ini pulang ke rumah atau balik ke sekolah?” Tanya Fafa
“Aku habis ini ada latihan rebana. Jadi aku mau balik ke sekolah”
“Oh gitu ya udah habis ini aku bakal nganterin kamu balik ke sekolah.”
Firasat memang selalu benar. Kenapa tak ku batalkan saja pertemuan ini dari awal? Rasanya aku ingin kabur dari rumah makan ini. Lebih baik aku pergi daripada dia harus kena hukuman akibat terlambat mengikuti latihan karena pertemuan ini. Aku merasa bersalah padanya. Sebelum mereka menyudahi pertemuan ini,aku sempat mengabadikan 2 gelas jus yang telah lenyap kelezatan di setiap tetesnya. Sama seperti pertemuan ini yang seakan kehilangan kehangatan di setiap menitnya.
Jam dinding mulai menunjukkan pukul 2 siang. Kami bergegas pergi meninggalkan rumah makan itu. Sesampainya di area parkir,Fafa menyuruhku untuk segera naik dan tancap gas mendahului Riani dan Coco. Dalam hatiku,aku kecewa dengan pertemuan ini. Kenapa ia harus rela begini demi diriku? Aku merasa bersalah padanya. Di sisi lain,aku juga tak ingin pertemuanku dengan Fafa berlangsung begitu cepat dan berlalu dengan ketergesaan waktu. Apapun alasannya untuk tetap memilih terlambat demi bertemu denganku,kini ku akui. Ada rasa yang berbeda. Kegusaran hatiku tentang perpindahan ini mulai menemui titik temu. Sepertinya aku akan segera menemukan tempat tinggal yang baru. Ada bunga yang perlahan mekar. Ada telur yang perlahan menetas. Ada rasa sesaat yang perlahan tumbuh menyambut perpindahan hatiku.
***
Di perjalanan menuju sekolahan,Fafa agak sedikit mulai terbuka kepadaku. Dia mulai mengajakku berbincang seputar latihan rebana. Aku hanya mengikuti kegiatan latihan ekstrakurikuler itu. Tidak sama halnya dengan dia yang memang merupakan personel grup rebana ternama. Ya meskipun begitu aku tak merendah. Mungkin ia mengajakku berbincang agar mencairkan suasana yang sedari tadi canggung.
“Maafin aku ya? Aku cuma nganterin kamu sampe sini. Soalnya aku takut ketahuan sama warga sekolahmu”
“Nggak kok nggak apa-apa.(Sambil ku turun perlahan dari motor dan ku lepas helm) Aku juga tau kok kamu lagi buru-buru. Maaf ya? Makasih bu…….”
“Aku duluan ya….. Assalamu’alaikum!!”
“……at hari ini. Wa'alaikumsalam. Yah…… udah main nyelonong aja tuh anak”
Sepertinya ia sangat terburu-buru. Baru pertama ketemu saja,aku sudah ditinggalkan seperti ini. Bagaimana nanti (?) Ah!fikirku terlalu kejauhan. Mungkin kepentingan kegiatan memang begitu mendesaknya. Apalagi dia adalah kakak kelas yang berstatus masih bertugas untuk mengajar latihan pramuka untuk adik-adik kelasnya. Riani pernah bilang padaku. Siapapun anggota bantara pramuka yang datangnya terlambat pasti akan kena hukuman push up puluhan kali hingga membuat dada,perut,dan tangan mereka nyaris tumbang. Itu konsekuensi bagi mereka yang kurang menaati peraturan sekaligus agar mereka terlatih untuk disiplin waktu. Tak jarang juga mereka latihan hingga larut malam. Mereka ini jurit malam atau karena memang terlalu cinta pada sekolahnya? Entahlah.
Aku tak perlu mengurusi akan hal itu. Biarkan dia sibuk dengan kegiatan yang dia lakukan. Lagi pula kalau dia sibuk justru aku akan senang karena aku tak 'kan diganggu olehnya. Biarkan kesibukannya membuat dia fokus dan tak selalu mengusik ketenangan hidupku. Aku yakin,dia sibuk untuk masa depannya. Aku dengar,dia juga salah satu anggota OSIS di sekolahnya. Dia tipe orang yang suka berorganisasi meskipun dari tampangnya dia terlihat tertutup. Entahlah. Hanya jati dirinya sendiri yang tau. Yang pasti aku tak suka dengan sikap dia tadi. Membohongiku dan meninggalkanku begitu saja. Di dunia ini mana ada gadis yang mau dibohongi dan ditinggalkan oleh seorang lelaki sekalipun lelaki itu bukanlah bagian yang mengisi hatinya sendiri???

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar