Minggu, 16 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Kesepakatan Diantara Kita

“Bisa nggak sih kamu nggak usah natap mataku kaya gini?Aku tuh nggak biasa ditatap mata sama cewek”
Aku pun menunduk dan berusaha mengalihkan pandanganku ke arah sekelilingku. Aku merasa serba salah. Lalu Fafa melanjutkan perkataannya.….
“Gak usah GR kamu. Nama Mei kan ada banyak. Meisya,Mellinda,Meme Comic Indonesia. Nggak cuma kamu doang”celotehnya yang membuat diriku menjadi salah tingkah.
“Yeeeee……….. nama ku kan juga Meiy. Kirain aku. Hehehe….Eh? eee… Tapi kamu kenapa bisa tau kalo incaranmu itu nggak ngincar kamu balik?”
“Ya…..taulah dia sempet dideketin juga sama temen seperjuanganku paskib tapi entah kenapa dia nggak cuma deket sama temenku itu,dia juga deket sama aku. Ya meragukan gitu deh. Makanya sampe sekarang aku belum yakin sama dia.”
“Oh jadi gitu,ya kamu kode gitu ke dia biar dia peka. Cewek mah biasanya gitu,minta dikode tapi kadang kalo dikodein gak peka juga.”
“Hahahha…..kamu bisa aja. Oh iya kalo kamu sendiri gimana? Apa udah ada incaran?”
“Mmmm…..aku nggak ada incaran sih. Aku lagi perjalanan pindah ke hati orang lain. Tapi nggak tau mau pindah ke siapa.”
“Kamu mau nggak kalo kita sepakat?”
“Sepakat untuk apa?”
“Aku nemenin kamu buat pindah dan kamu nemenin aku buat deketin incaranku. Jadi kan kita enak kalo sharing soal tambatan hati kita. Ya semacam teman curhatku lah”
Rasanya harapanku untuk pindah ke hati Fafa seakan pupus di tengah jalan. Rupanya dia hanya tempat singgah sementara. Ibaratnya seperti tuan rumah yang sudah memiliki teman untuk tinggal di dalamnya dan aku hanya seorang tamu yang tak tau kemana aku akan pergi singgah setelah ini.
“hemmmm….. boleh-boleh aja sih. Tapi kamu juga harus janji sama aku. Suatu saat ketika kamu udah yakin dan nggak ragu sama incaranmu,kamu harus ngasih tau ke aku incaranmu itu siapa. Gimana?”
“Okeee…. Aku akan ngasih tau. Tanda sepakat?”Fafa menunjukkan jari kelingkingnya agar aku menyepakati kesepakatan ini. Meskipun harapku baru saja dia patahkan,namun aku tetap berpikir positif kalo dia hanya ingin menyediakan tempat singgah sementara untukku.
Sore itu kami kembali dengan perasaan agak was-was. Karena salah satu dari anggota bantara pramuka sekolahku mengetahui kalo Riani bertemu dengan pacarnya yang almamaternya berbeda dengan kami. Jelas ini merupakan suatu pelanggaran karena menurut kesepakatan yang ada “Sesama anggota bantara tidak boleh ada yang berikatan(berpacaran)”. Cukup sulit Riani memperjuangkan cintanya pada Coco. Makanya mereka selalu tak pernah absen untuk tetap berkomunikasi setiap saat. Akhirnya kami sampai di sekolah bersamaan. Aku senang melihat Fafa mulai terbuka kepadaku dengan menganggapku sebagai tangan kanannya. Yah,walau agak sedikit terkejut tadi tetapi aku akan terus mengingat kesepakatan yang aku setujui. Aku tidak akan mengingkarinya selagi aku dapat melupakan harapku yang telah pupus padanya.
                             ***
Hari Ahad adalah jadwal kuliah pagi yang harus aku ikuti. Jadwal kuliah pagi hari ini adalah jadwal kelasku. Aku datang lebih awal dan menunggu kedatangan teman-temanku. Setelah beberapa menit menunggu,kuliah pagi dimulai. Banyak teman-temanku yang berangkat kesiangan kali ini. Namun tak kulihat tanda keberadaan Riani. Tiba-tiba ponselku bergetar
“Meiy! Tunggu aku di luar. Aku nggak ikut kuliah pagi. Aku udah terlanjur telat setengah jam”
Riani memang agak bandel soal urusan yang seperti ini. Kalo soal ketemuan dengan pacar dia pasti akan berangkat lebih awal. Kalo soal kuliah pagi seperti ini,boro-boro banget berangkat awal. Bisa-bisa kuliah pagi udah selesai,dia baru berangkat. Seperti sekarang ini. Aku pun bergegas menghampirinya seusai kuliah pagi. Dia menungguku di pos satpam sekolah. Sesampainya di pos satpam,aku terkejut melihat dia memakai pakaian yang tak biasa.
“Kamu mau kemana,Rin?Tumben pagi-pagi udah dandan rapi gini?”
“Lho kamu gak tau?Fafa nggak ngabarin kamu semalem?”
“Emang ngabarin apa?Dia nggak bilang apa-apa ke aku?”
“Kan kita mau jalan-jalan hari ini?Gimana sih?Jadi kamu emang bener-bener nggak tau kalo kita pergi hari ini?”
“Hah?mau pergi kemana?Aku belum pake baju yang…….”
“Ah udah deh,Udah cantik gini juga. Entar kira-kira jam setengah delapan Fafa sama Coco udah otw kesini. Jadi kamu siap-siap aja.”
“Kita mau pergi kemana?berempat doang?”
“Iya urusan tempatnya nanti deh gampang yang penting kita siap-siap aja. Buruan gih ambil helm kamu. Kita nunggu di luar gerbang sekolah aja biar nggak ada yang tau.”
“Tapi……”
“Udahhh…..ayok buruan….”
Aku tak mengerti kenapa semuanya mendadak seperti ini. Semalam Fafa tak memberitahuku bahwa hari ini kita akan pergi jalan-jalan. Apakah ini surprise yang sengaja Fafa buat untukku?Apakah Fafa ingin menculikku?Apakah aku akan bersenang-senang hari ini bersamanya? Khayalku terlalu berlebihan kali ini. Ku turuti keinginan Riani dan kami menunggu di pinggir jalan dekat sekolah layaknya orang yang sedang menunggu jemputan. Tiga puluh menit kemudian,Fafa datang. Dia datang memakai jaket almamater paskibnya. Aku dan Riani menghampirinya
“Kamu kok nggak bilang ke aku sih kalo kita mau pergi?”tanyaku pada Fafa
“Lho,yang ngajakin kan nggak aku. Ini sebenernya adalah hukuman. Karena semalem aku kalah taruhan sama Riani.”
“Ini kenapa jadi gini sih?Aku nggak ngerti deh,terus kalau kamu kalah kenapa?ngajak pergi gak ngasih tau. Kalau tau kan aku bisa siap-siap”tanyaku pada Fafa lagi
“Rin,kok Coco belum dateng sih?”Dia mencoba mengalihkan pembicaraanku. Dia hanya merespon pertanyaanku dengan senyuman. Aku semakin kesal dengannya.
“Tau deh Fa. Dari tadi gak dibales. Mungkin dia lagi mandi kali.”jawab Riani
“Kamu dengerin aku ngomong nggak sih?”bentakku pada Fafa
Dia mengabaikanku dan sibuk membuka ponselnya. Sebenarnya dia itu kenapa sih. Aku pun berniat kembali ke sekolah
“Eh…eh… mau kemana kamu,Meiy???”Tanya Riani
“Ya mau ke sekolah lah,ngapain aku kesini kalo pada akhirnya aku dicuekin?”
“Eh….jangan ngambek gitu dong?Kamu gimana sih Fa?kamu nga…..”
Aku pun berlari menuju gerbang sekolah. Aku kesal sekali dengannya. Begitu mudahnya dia mengabaikanku tadi. Sesampainya di pos satpam,bunyi klakson terdengar dari luar sekolah. Coco,Riani dan Fafa memberiku isyarat untuk menghampiri mereka. Aku pun kembali ke luar gerbang sekolah dengan langkah ngotot.
“Kamu kenapa balik ke sekolah lagi?Kamu yakin nggak mau ikut? Yuk buruan naik”Kata Fafa yang seakan menghapus rasa kesalku padanya. Aku pun duduk di belakangnya. Kami berempat berangkat menuju rumah Titian. Rupanya mereka tak hanya mengajakku pergi namun mereka juga mengajak beberapa teman mereka. Titian,Marjo dan juga Dhede. Aku semula tak mengenali mereka. Namun akhirnya Fafa yang mengenalkanku pada mereka saat berhenti di dekat jembatan perbatasan kota.
“Wah……..Fafa udah mulai berani nih ngajak ceweknya jeng-jeng” celoteh Marjo pada Fafa
“Oooohhh…jadi ini yang namanya ‘Meiy’ itu? Fafa andik juga ya soal nyari gebetan gini?”impas Dhede
“Apaan sih kalian? Oohh iya ,Meiy ini kenalin. Yang ini namanya Dhede. Yang itu namanya Marjo. Dan yang bonceng Marjo namanya Titian.”
“Oh…..eeehhh….haiii…. salam kenal semuanya”
“Eh! Bentar –bentar. Kalo kalian pada ada boncengannya,Aku masa iya harus sendirian gini? Kalian tega ya sama aku” ujar Dhede agak kecewa karena dari kami yang ada disana hanya dia yang berkendara sendiri.
“Gini deh. Kalian berempat tunggu disini sebentar. Aku sama Titian nganterin Dhede buat nyari boncengan. Gimana?”usul Marjo. Dia meminta Fafa,Coco,Riani dan aku untuk menunggunya kembali sembari dia mengantarkan Dhede mencari boncengan. Mereka bertiga tancap gas dan berlalu meninggalkan kami berempat.

                                 ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar