“Bisa
nggak sih kamu nggak usah natap mataku kaya gini?Aku tuh nggak biasa ditatap mata
sama cewek”
Aku
pun menunduk dan berusaha mengalihkan pandanganku ke arah sekelilingku. Aku merasa
serba salah. Lalu Fafa melanjutkan perkataannya.….
“Gak
usah GR kamu. Nama Mei kan ada banyak. Meisya,Mellinda,Meme Comic Indonesia.
Nggak cuma kamu doang”celotehnya yang membuat diriku menjadi salah tingkah.
“Yeeeee………..
nama ku kan juga Meiy. Kirain aku. Hehehe….Eh? eee… Tapi kamu kenapa bisa tau
kalo incaranmu itu nggak ngincar kamu balik?”
“Ya…..taulah
dia sempet dideketin juga sama temen seperjuanganku paskib tapi entah kenapa
dia nggak cuma deket sama temenku itu,dia juga deket sama aku. Ya meragukan
gitu deh. Makanya sampe sekarang aku belum yakin sama dia.”
“Oh
jadi gitu,ya kamu kode gitu ke dia biar dia peka. Cewek mah biasanya gitu,minta
dikode tapi kadang kalo dikodein gak peka juga.”
“Hahahha…..kamu
bisa aja. Oh iya kalo kamu sendiri gimana? Apa udah ada incaran?”
“Mmmm…..aku
nggak ada incaran sih. Aku lagi perjalanan pindah ke hati orang lain. Tapi
nggak tau mau pindah ke siapa.”
“Kamu
mau nggak kalo kita sepakat?”
“Sepakat
untuk apa?”
“Aku
nemenin kamu buat pindah dan kamu nemenin aku buat deketin incaranku. Jadi kan
kita enak kalo sharing soal tambatan hati kita. Ya semacam teman
curhatku lah”
Rasanya
harapanku untuk pindah ke hati Fafa seakan pupus di tengah jalan. Rupanya dia
hanya tempat singgah sementara. Ibaratnya seperti tuan rumah yang sudah
memiliki teman untuk tinggal di dalamnya dan aku hanya seorang tamu yang tak tau
kemana aku akan pergi singgah setelah ini.
“hemmmm…..
boleh-boleh aja sih. Tapi kamu juga harus janji sama aku. Suatu saat ketika
kamu udah yakin dan nggak ragu sama incaranmu,kamu harus ngasih tau ke aku
incaranmu itu siapa. Gimana?”
“Okeee….
Aku akan ngasih tau. Tanda sepakat?”Fafa menunjukkan jari kelingkingnya agar
aku menyepakati kesepakatan ini. Meskipun harapku baru saja dia patahkan,namun
aku tetap berpikir positif kalo dia hanya ingin menyediakan tempat singgah
sementara untukku.
Sore
itu kami kembali dengan perasaan agak was-was. Karena salah satu dari anggota
bantara pramuka sekolahku mengetahui kalo Riani bertemu dengan pacarnya yang
almamaternya berbeda dengan kami. Jelas ini merupakan suatu pelanggaran karena
menurut kesepakatan yang ada “Sesama anggota bantara tidak boleh ada yang berikatan(berpacaran)”.
Cukup sulit Riani memperjuangkan cintanya pada Coco. Makanya mereka selalu tak
pernah absen untuk tetap berkomunikasi setiap saat. Akhirnya kami sampai di
sekolah bersamaan. Aku senang melihat Fafa mulai terbuka kepadaku dengan
menganggapku sebagai tangan kanannya. Yah,walau agak sedikit terkejut tadi
tetapi aku akan terus mengingat kesepakatan yang aku setujui. Aku tidak akan
mengingkarinya selagi aku dapat melupakan harapku yang telah pupus padanya.
***
Hari
Ahad adalah jadwal kuliah pagi yang harus aku ikuti. Jadwal kuliah pagi hari
ini adalah jadwal kelasku. Aku datang lebih awal dan menunggu kedatangan
teman-temanku. Setelah beberapa menit menunggu,kuliah pagi dimulai. Banyak
teman-temanku yang berangkat kesiangan kali ini. Namun tak kulihat tanda
keberadaan Riani. Tiba-tiba ponselku bergetar
“Meiy!
Tunggu aku di luar. Aku nggak ikut kuliah pagi. Aku udah terlanjur telat
setengah jam”
Riani
memang agak bandel soal urusan yang seperti ini. Kalo soal ketemuan dengan
pacar dia pasti akan berangkat lebih awal. Kalo soal kuliah pagi seperti
ini,boro-boro banget berangkat awal. Bisa-bisa kuliah pagi udah selesai,dia
baru berangkat. Seperti sekarang ini. Aku pun bergegas menghampirinya seusai
kuliah pagi. Dia menungguku di pos satpam sekolah. Sesampainya di pos
satpam,aku terkejut melihat dia memakai pakaian yang tak biasa.
“Kamu
mau kemana,Rin?Tumben pagi-pagi udah dandan rapi gini?”
“Lho
kamu gak tau?Fafa nggak ngabarin kamu semalem?”
“Emang
ngabarin apa?Dia nggak bilang apa-apa ke aku?”
“Kan
kita mau jalan-jalan hari ini?Gimana sih?Jadi kamu emang bener-bener nggak tau
kalo kita pergi hari ini?”
“Hah?mau
pergi kemana?Aku belum pake baju yang…….”
“Ah
udah deh,Udah cantik gini juga. Entar kira-kira jam setengah delapan Fafa sama
Coco udah otw kesini. Jadi kamu siap-siap aja.”
“Kita
mau pergi kemana?berempat doang?”
“Iya
urusan tempatnya nanti deh gampang yang penting kita siap-siap aja. Buruan gih
ambil helm kamu. Kita nunggu di luar gerbang sekolah aja biar nggak ada yang
tau.”
“Tapi……”
“Udahhh…..ayok
buruan….”
Aku
tak mengerti kenapa semuanya mendadak seperti ini. Semalam Fafa tak
memberitahuku bahwa hari ini kita akan pergi jalan-jalan. Apakah ini surprise
yang sengaja Fafa buat untukku?Apakah Fafa ingin menculikku?Apakah aku akan
bersenang-senang hari ini bersamanya? Khayalku terlalu berlebihan kali ini. Ku
turuti keinginan Riani dan kami menunggu di pinggir jalan dekat sekolah
layaknya orang yang sedang menunggu jemputan. Tiga puluh menit kemudian,Fafa
datang. Dia datang memakai jaket almamater paskibnya. Aku dan Riani
menghampirinya
“Kamu
kok nggak bilang ke aku sih kalo kita mau pergi?”tanyaku pada Fafa
“Lho,yang
ngajakin kan nggak aku. Ini sebenernya adalah hukuman. Karena semalem aku kalah
taruhan sama Riani.”
“Ini
kenapa jadi gini sih?Aku nggak ngerti deh,terus kalau kamu kalah kenapa?ngajak
pergi gak ngasih tau. Kalau tau kan aku bisa siap-siap”tanyaku pada Fafa lagi
“Rin,kok
Coco belum dateng sih?”Dia mencoba mengalihkan pembicaraanku. Dia hanya
merespon pertanyaanku dengan senyuman. Aku semakin kesal dengannya.
“Tau
deh Fa. Dari tadi gak dibales. Mungkin dia lagi mandi kali.”jawab Riani
“Kamu
dengerin aku ngomong nggak sih?”bentakku pada Fafa
Dia
mengabaikanku dan sibuk membuka ponselnya. Sebenarnya dia itu kenapa sih. Aku
pun berniat kembali ke sekolah
“Eh…eh…
mau kemana kamu,Meiy???”Tanya Riani
“Ya
mau ke sekolah lah,ngapain aku kesini kalo pada akhirnya aku dicuekin?”
“Eh….jangan
ngambek gitu dong?Kamu gimana sih Fa?kamu nga…..”
Aku
pun berlari menuju gerbang sekolah. Aku kesal sekali dengannya. Begitu mudahnya
dia mengabaikanku tadi. Sesampainya di pos satpam,bunyi klakson terdengar dari
luar sekolah. Coco,Riani dan Fafa memberiku isyarat untuk menghampiri mereka.
Aku pun kembali ke luar gerbang sekolah dengan langkah ngotot.
“Kamu
kenapa balik ke sekolah lagi?Kamu yakin nggak mau ikut? Yuk buruan naik”Kata
Fafa yang seakan menghapus rasa kesalku padanya. Aku pun duduk di belakangnya.
Kami berempat berangkat menuju rumah Titian. Rupanya mereka tak hanya
mengajakku pergi namun mereka juga mengajak beberapa teman mereka. Titian,Marjo
dan juga Dhede. Aku semula tak mengenali mereka. Namun akhirnya Fafa yang
mengenalkanku pada mereka saat berhenti di dekat jembatan perbatasan kota.
“Wah……..Fafa
udah mulai berani nih ngajak ceweknya jeng-jeng” celoteh Marjo pada Fafa
“Oooohhh…jadi
ini yang namanya ‘Meiy’ itu? Fafa andik juga ya soal nyari gebetan gini?”impas
Dhede
“Apaan
sih kalian? Oohh iya ,Meiy ini kenalin. Yang ini namanya Dhede. Yang itu
namanya Marjo. Dan yang bonceng Marjo namanya Titian.”
“Oh…..eeehhh….haiii….
salam kenal semuanya”
“Eh!
Bentar –bentar. Kalo kalian pada ada boncengannya,Aku masa iya harus sendirian
gini? Kalian tega ya sama aku” ujar Dhede agak kecewa karena dari kami yang ada
disana hanya dia yang berkendara sendiri.
“Gini
deh. Kalian berempat tunggu disini sebentar. Aku sama Titian nganterin Dhede
buat nyari boncengan. Gimana?”usul Marjo. Dia meminta Fafa,Coco,Riani dan aku
untuk menunggunya kembali sembari dia mengantarkan Dhede mencari boncengan.
Mereka bertiga tancap gas dan berlalu meninggalkan kami berempat.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar