Menunggu
itu memang membosankan. Tapi entah mengapa aku selalu mau sabar menunggu meski
membosankan. Aku berpikir bahwa ketika kita sabar menunggu sesuatu saat kita akan mendapatkan hasil apa
yang telah kita tunggu dengan sabar. Dan hasilnya pasti memuaskan. Namun
menunggu kali ini memang paling membosankan. Sudah satu jam Riani,Coco,Fafa dan
aku menunggu. Menunggu Marjo,Titian,dan Dhede di pinggir jalan sembari ditemani
Fafa yang sedari tadi memperhatikanku. Ku lihat banyak motor dan mobil berlalu
lalang di jalan raya. Ditambah lagi mentari bersinar sepinggal naik. Karena
kebosananku ini,aku berniat mengajaknya bicara.
“Kamu
bosen nggak sih nunggu disini? Mereka kapan balik lagi kesini?”
“Yahhh….
Sabar dong! Mereka paling juga lagi perjalanan kok. Bentar lagi juga sampe.”
“Kelamaan
tau,udah panas kaya gini lagi”
“Kaya
gini panas?Kamu seharusnya bersyukur nggak kepanggang selama 1 bulan”
“Hahaha…..siapa
suruh jadi paskib?Eh iya,kamu gimana ceritanya bisa jadi anggota paskib?”
“Jadi
gini,jadi anggota paskib itu dulu yang nugasin dari sekolah buat perwakilan ke
kabupaten. Tiap sekolah di seluruh penjuru kota diharuskan mewakili beberapa
muridnya untuk menjadi anggota paskibraka. Dan dari berbagai macam seleksi yang
ketat,Alhamdulillah aku terpilih dan jadi purna paskibraka sekarang. Jadi
paskib itu enak lho. Dapet seragam gratis,makan gratis,pengalaman gratis,piagam
gratis,dan mendadak hits secara gratis juga.”
“Tapi
kan perjuangannya berat banget. Cuma beberapa orang kan yang bisa lolos masuk
seleksi? Udah gitu seleksinya harus lari lah,push up lah,panas-panasan
terus,baris berbaris terus apa iya nggak capek tuh kaki sama tangan?”
“Ya…semua
kelelahan dan kecapekan itu akan terbayar ketika hari H pengibaran bendera.
Kamu pasti bakal ngerasain gimana jadi seorang yang bener-bener kaya pahlawan gitu.
Merjuangin segala kegiatan dan aktivitas sekolah demi terlaksananya upacara HUT
RI dan berkibarnya Sang Saka Merah Putih. Pengalaman paling berkesan deh
pokoknya. Makanya kamu jadi cewek jangan pendek-pendek biar bisa jadi paskib
kaya aku”
“Gak
ah. Aku gak mau item kaya kamu!”
“Eh!jangan
salah lho! Justru orang yang item itu banyak yang naksir. Wkwkwk”
“Gak
usah kePDan kamu. Emang bener ya?anak paskib itu nggak jauh dari sok keren,sok
hits dan juga sok arogan gini”
“Hanya
orang-orang yang belum pernah jadi paskib yang bicara seperti itu. Anak paskib
ramah-ramah kok. Selain ramah dia juga setia. Dan hanya orang-orang yang merugi
yang nyia-nyiain anak paskib”
Aku
merasa tersindir olehnya. Kenapa setiap kata-kata yang ia lontarkan selalu
membuatku kesal akhir-akhir ini?Apakah dia sedang menggodaku?Ku alihkan
pandanganku menuju ke barat. Terlihat Marjo berboncengan dengan Dhede dan Titian
berboncengan dengan perempuan yang tak aku kenali. Sepertinya dia temennya
Dhede atau bahkan pacarnya?
“Eeeee
ciyeeeee…..Dhede ngajakin Momon touring….!!!” Teriak Coco
“Lho,Dhed?Mau
saingan ini ceritanya?”Tambah Fafa
“Hahhah….udahlah.
Kalian diem aja. Yuk cap cus!!!”ajak Dhede
“Kita
mau kemana?”tanyaku pada Fafa
“Ngikutin
alurnya aja. Udah siap?”
Aku
naik diboncengan Fafa. Kami berdelapan mulai berangkat menuju perjalanan
panjang yang sangat terik dan penuh dengan kemacetan. Jujur,baru kali ini aku
berpergian dengan seorang pria yang baru dua minggu akrab dengannya. Aku mulai
agak terbiasa dengannya. Sudah tak ada rasa canggung lagi dengannya. Sembari
menikmati perjalanan…..
“Kamu
udah berapa kali boncengin cewek?”tanyaku pada Fafa
“Aku
belum pernah sama sekali boncengin cewek selain ibuku,adikku,dan kamu.”
“Berarti
kamu belum pernah jalan sama cewek atau punya pacar gitu sampe sekarang?”
“Aku
udah punya satu mantan pacar. Dan itu pun dulu kalo pergi-pergi gak pernah satu
kendaraan atau berboncengan. Dulu pakai motor sendiri-sendiri. Dulu juga jarang
banget ketemu.”
“Oooohhh…..gitu?
Teruss….kenapa dulu bisa putus?”
“Yah…..dulu
aku sering banget ngikutin kegiatan. Sibuk ngurus ini itu dan karena sibuknya
aku,aku jadi jarang ngehubungin dia. Aku pikir dia bakal nunggu aku selesai
kegiatan atau perhatian sama aku disaat aku lagi kecapekan atau selesai
kegiatan ngehubungin aku gitu. Eh ternyata diem-diem dia selingkuh dari aku. Ya
udah karena ketahuan selingkuh,aku putusin deh. Aku paling gak suka sama orang yang
nyia-nyiain kesetiaan dan kepercayaan sama orang lain.”
“Jadi
dulu kamu korban selingkuhan? dulu bertahan sampe berapa bulan? Kok kamu mau
sih diduain?”
“Ya
nggak elah. Mana ada sih manusia yang mau diduain? Karena udah 4 bulan itu dia
udah ketahuan tiga kali selingkuh diem-diem disaat aku lagi sibuk kegiatan ya
udah aku putusin“
“Kamu
nyesel gak sih ninggalin dia?”
“Ngapain
juga nyesel ninggalin pengkhianat kaya dia? Biarkan perusak bersama dengan
perusak. Tapi walau begitu aku masih menganggapnya teman kok. Aku gak suka
balas dendam.”
“Dih………!Udah
nggak usah kesel gitu. Lagian juga itu udah berlalu kok. Yang dulu biarlah
berlalu.”
“Kalo
kamu sendiri gimana?Belum pernah pacaran?”
“Aku
udah punya alumni hati sih. Aku sama mantanku putus udah lama sih tapi sekarang
masih akrab kok. Aku sama dia bahkan masih saling sapa satu sama lain. Soalnya
dulu kita sepakat untuk tetap bersahabat meskipun udah putus”
“Dulu
kamu kenapa bisa putus sama dia?”
“Aku
lupa alasan pastinya. Intinya dia over protektif dan terlalu posesif sama aku.
Aku dikira selingkuh sama dia. Padahal aku nggak selingkuh sama sekali. Cuma
gara-gara temenku dan aku dulu ngobrol lama di parkiran sekolah cuma bahas
tugas kelompok. Saking asyiknya ngobrol bahas tugas eh dikira selingkuh.
Padahal bahas tugas doang. Dan dengan alasan itu dia mutusin aku.”
“Intinya
kamu sama dia putus gara-gara salah paham kan?Kenapa nggak kamu jelasin aja apa
yang sebenernya terjadi?”
“Aku
udah jelasin ke dia tapi dia nggak percaya sama aku. Karena dia ngelihat dengan
mata kepalanya sendiri. Tapi seminggu kemudian dia ngajak balikan sama aku. Aku
nolak. Karena aku punya prinsip. Gak bakal mau balikan sama mantan. Kamu tahu
kan rasanya punya gelas yang dipecahin terus abis itu disatuin lagi? Rasanya
nggak akan utuh dan rapi lagi kaya sebelum dipecahin. Terus juga balikan sama
mantan kaya baca buku dua kali. Pasti endingnya sama”
“Iya
juga ya?Wah! dia kayaknya rugi deh udah ninggalin kamu gitu aja. Enak ya dia
nggak diselingkuhin secara fakta sedangkan aku dengan fakta. Itu lebih nyakitin
tau gak,Meiy. Dan karena itu pula aku ingin mencari incaran. Aku nggak ingin
trauma gara-gara dikhianatin.”
“mmm….bagus
deh kalo gitu.”
***
Ku
lihat sekelilingku. Jalan nampak sepi namun debu-debu berterbangan. Keringnya tenggorokan
mulai terasa. Saat sampai di suatu lampu traffic light,ku minum air putih yang
ku beli tadi waktu kuliah pagi. Dahaga sedikit terobati. Namun perjalanan masih
tetap dilalui. Ku dengar lagu yang mengalun lumayan keras di seberang jalan.
Aku mengenali lirik lagu itu. Itu adalah lantunan nasyid yang sering
dilantunkan saat latihan rebana. Fafa menoleh ke kiri dan mengajakku bernyanyi
apa yang baru saja dia dengar. Ternyata tak hanya diriku yang tau akan nasyid
itu. Kami berdua pun bernyanyi bersama di sepanjang perjalanan. Indah terasa
perjalanan ini ku nikmati hingga rasa bosan dan kepanasan mulai terlupakan.
Tepat
pukul dua belas siang,kami akhirnya sampai di suatu Masjid pusat kota Semarang.
Kami beristirahat sejenak dan melaksanakan sholat. Perjalanan dari parkiran
menuju masjid amat sangat panas. Karena pelataran masjid harus suci,alas kaki
setiap pengunjung yang ingin ke masjid harus dilepas. Aku melepas sandalku
sembari mencari tempat teduh. Rasanya seperti berjalan di area kawah gunung
berapi. Sampai-sampai Dhede berlari terbirit-birit menuju tempat teduh. Dhede
memang paling sering bertingkah konyol diantara kami berdelapan.
Sesampainya
kami di teras masjid, laki-laki dan perempuan terpisah. Aku,Titian,dan Momon
mengikuti Riani mencari jalan untuk sampai ke tempat wudlu. Kami berwudlu
secara bergantian dan dari tempat wudlu itulah aku dan Momon mulai berkenalan.
Dia bahkan mengingatkanku untuk tak perlu canggung dengan mereka,karena
diantara kami berdelapan hanya aku yang bukan tergolong anak pramuka dan anak
kegiatan. Yah meskipun begitu aku tetap senang disambut akrab dengan mereka.
Mereka seperti sudah menganggapku sebagai keluarga mereka. Seusai sholat bersama
para lelaki itu,kami melanjutkan perjalanan menuju area pelataran masjid. Di
sepanjang langkah menuju pelataran,Fafa terus menjadi paparazzi. Dia sering
memotretku diam-diam. Karena kesal,aku tak mengajaknya bicara kali ini. Kami
pun berfoto ria,bersama,membuat cerita,berbagi canda tawa,hingga lelah tak
terasa.
***
Sesampainya
di pelataran masjid,kami berfoto selfie bersama pasangan masing-masing
pembonceng. Riani dan Coco. Marjo dan Titian. Dhede dan Momon. Aku dan Fafa.
Aku semula menolak untuk berfoto dengannya,namun dia mengancam tak kan
memboncengkanku ketika pulang nanti. Karena matahari sudah semakin terik,kami
pun mulai melanjutkan perjalanan menuju ke tempat wisata selanjutnya. Kurang
lebih tiga puluh menit kami lalui perjalanan menuju ke obyek wisata Lawang
Sewu. Rasanya aku tak asing dengan tempat ini. Aku sering mendengarnya namun
tak pernah sama sekali aku mengunjunginya. Kami masuk melalui pintu utama.
Sebelum menjelajah ke dalam,kami berfoto di latar halaman Lawang Sewu. Kami
berdampingan bersama pasangan masing-masing. Meski tak ada ikatan apa-apa
antara aku dan Fafa,namun mereka berenam sering menganggap kami adalah sepasang
kekasih baru. Aku hanya tersenyum mendengar anggapan seperti itu. Pasalnya
harapku padanya telah pupus kemarin. Tapi apakah Fafa memberi anggapan yang
berbeda tentang itu?Aku tak tau pasti. Yang kutahu dia hanya khawatir soal
kepulanganku nanti. Dia terus mempertanyakannya seusai kami mengelilingi Lawang
Sewu.
“Mbu,nanti
kamu pulang jam berapa?”panggilnya padaku
“Bisa
nggak sih nggak usah panggil aku ‘mbu’?kamu pikir aku lembu apa?”
“hehe…jangan
ngambek dong mbu eh Meiy cuma keingetan ‘pipi jambu’ aja. Aku nganterin kamu pulang
jam berapa nanti?”
“Aku
nggak boleh pulang larut sore. Kira-kira jam lima harus udah sampai di rumah.”
“Oh….
Ya udah. Habis ini kita pulang kan,Dhed?”Tanya Fafa pada Dhede
“Iya
habis ini kita pulang. Gaes,yuk kita gasss!!!”Teriak Dhede sambil mengajak kami
untuk pulang.
Kami
memulai perjalanan pulang sekitar pukul dua siang. Sepanjang perjalanan,Marjo
sebagai penunjuk jalan kebingungan mencari jalan pintas untuk menembus ke
perbatasan kota. Hingga kami memutar balik kendaraan sebanyak lima kali. Aku
menjadi pusing dan ngantuk dibuatnya. Sesampainya di daerah Sayung,kami
berpencar karena banyak kendaraan yang melintasi daerah itu. Kurang lebih
perjalanan lima belas kilometer seusai kami berpencar,kami dipertemukan disaat
ada operasi penjaringan dari polisi daerah tersebut. Dhede dan Momon yang
berada di jalur paling kiri terpaksa terjaring dan dihentikan oleh polisi.
Sedangkan Fafa tiba-tiba tancap gas dengan sangat cepat dan menyalip kendaraan
di depannya dengan cekatan.
Rupanya
aku dan Fafa terlalu jauh untuk kabur dari operasi polisi. Sepertinya Dhede dan
Momon berhasil ditilang oleh polisi. Lalu,bagaimana dengan Coco,Riani,Marjo dan
Titian? Apakah mereka selamat dari operasi polisi ataukah mereka telah sampai
dulu mendahului aku dan Fafa?Aku dan Fafa berhenti di tepi jalan sembari
kebingungan apa yang harus kami lakukan. Ingin kembali namun Fafa takut
terjaring operasi bukan karena tak memiliki surat kelengkapan berkendara
melainkan karena dia membawa seseorang yang menjadi tanggung jawabnya untuk
mengantarkannya pulang. Ingin melanjutkan perjalanan namun hati rasanya tak
tega untuk meninggalkan mereka berenam terjaring operasi. Bagaimana mereka
nantinya?
Pikiranku
semakin kacau ketika Riani tak mengangkat telfonku dan tak membalas pesanku.
Ditambah lagi disana jaringan sinyal sulit sekali ditemukan. Akhirnya Fafa
mengajakku untuk melanjutkan perjalanan meski hati sepertinya tak ingin
meninggalkan mereka. Dia lebih memilih menyelamatkan diri dari jaring daripada
harus melibatkanku dengan kejadian seperti itu. Aku jadi merasa bersalah dengan
mereka berenam. Andai saja waktu dapat ku putar,aku lebih baik kembali ke
sekolah dan tak menanggapi isyaratnya daripada harus merasa bersalah lagi
seperti ini. Aku dan Fafa melanjutkan perjalanan pulang sendirian menuju kota
tercinta.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar