Selasa, 18 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Memori di Penjuru Kota Atlas

Menunggu itu memang membosankan. Tapi entah mengapa aku selalu mau sabar menunggu meski membosankan. Aku berpikir bahwa ketika kita sabar menunggu  sesuatu saat kita akan mendapatkan hasil apa yang telah kita tunggu dengan sabar. Dan hasilnya pasti memuaskan. Namun menunggu kali ini memang paling membosankan. Sudah satu jam Riani,Coco,Fafa dan aku menunggu. Menunggu Marjo,Titian,dan Dhede di pinggir jalan sembari ditemani Fafa yang sedari tadi memperhatikanku. Ku lihat banyak motor dan mobil berlalu lalang di jalan raya. Ditambah lagi mentari bersinar sepinggal naik. Karena kebosananku ini,aku berniat mengajaknya bicara.
“Kamu bosen nggak sih nunggu disini? Mereka kapan balik lagi kesini?”
“Yahhh…. Sabar dong! Mereka paling juga lagi perjalanan kok. Bentar lagi juga sampe.”
“Kelamaan tau,udah panas kaya gini lagi”
“Kaya gini panas?Kamu seharusnya bersyukur nggak kepanggang selama 1 bulan”
“Hahaha…..siapa suruh jadi paskib?Eh iya,kamu gimana ceritanya bisa jadi anggota paskib?”
“Jadi gini,jadi anggota paskib itu dulu yang nugasin dari sekolah buat perwakilan ke kabupaten. Tiap sekolah di seluruh penjuru kota diharuskan mewakili beberapa muridnya untuk menjadi anggota paskibraka. Dan dari berbagai macam seleksi yang ketat,Alhamdulillah aku terpilih dan jadi purna paskibraka sekarang. Jadi paskib itu enak lho. Dapet seragam gratis,makan gratis,pengalaman gratis,piagam gratis,dan mendadak hits secara gratis juga.”
“Tapi kan perjuangannya berat banget. Cuma beberapa orang kan yang bisa lolos masuk seleksi? Udah gitu seleksinya harus lari lah,push up lah,panas-panasan terus,baris berbaris terus apa iya nggak capek tuh kaki sama tangan?”
“Ya…semua kelelahan dan kecapekan itu akan terbayar ketika hari H pengibaran bendera. Kamu pasti bakal ngerasain gimana jadi seorang yang bener-bener kaya pahlawan gitu. Merjuangin segala kegiatan dan aktivitas sekolah demi terlaksananya upacara HUT RI dan berkibarnya Sang Saka Merah Putih. Pengalaman paling berkesan deh pokoknya. Makanya kamu jadi cewek jangan pendek-pendek biar bisa jadi paskib kaya aku”
“Gak ah. Aku gak mau item kaya kamu!”
“Eh!jangan salah lho! Justru orang yang item itu banyak yang naksir. Wkwkwk”
“Gak usah kePDan kamu. Emang bener ya?anak paskib itu nggak jauh dari sok keren,sok hits dan juga sok arogan gini”
“Hanya orang-orang yang belum pernah jadi paskib yang bicara seperti itu. Anak paskib ramah-ramah kok. Selain ramah dia juga setia. Dan hanya orang-orang yang merugi yang nyia-nyiain anak paskib”
Aku merasa tersindir olehnya. Kenapa setiap kata-kata yang ia lontarkan selalu membuatku kesal akhir-akhir ini?Apakah dia sedang menggodaku?Ku alihkan pandanganku menuju ke barat. Terlihat Marjo berboncengan dengan Dhede dan Titian berboncengan dengan perempuan yang tak aku kenali. Sepertinya dia temennya Dhede atau bahkan pacarnya?
“Eeeee ciyeeeee…..Dhede ngajakin Momon touring….!!!” Teriak Coco
“Lho,Dhed?Mau saingan ini ceritanya?”Tambah Fafa
“Hahhah….udahlah. Kalian diem aja. Yuk cap cus!!!”ajak Dhede
“Kita mau kemana?”tanyaku pada Fafa
“Ngikutin alurnya aja. Udah siap?”
Aku naik diboncengan Fafa. Kami berdelapan mulai berangkat menuju perjalanan panjang yang sangat terik dan penuh dengan kemacetan. Jujur,baru kali ini aku berpergian dengan seorang pria yang baru dua minggu akrab dengannya. Aku mulai agak terbiasa dengannya. Sudah tak ada rasa canggung lagi dengannya. Sembari menikmati perjalanan…..
“Kamu udah berapa kali boncengin cewek?”tanyaku pada Fafa
“Aku belum pernah sama sekali boncengin cewek selain ibuku,adikku,dan kamu.”
“Berarti kamu belum pernah jalan sama cewek atau punya pacar gitu sampe sekarang?”
“Aku udah punya satu mantan pacar. Dan itu pun dulu kalo pergi-pergi gak pernah satu kendaraan atau berboncengan. Dulu pakai motor sendiri-sendiri. Dulu juga jarang banget ketemu.”
“Oooohhh…..gitu? Teruss….kenapa dulu bisa putus?”
“Yah…..dulu aku sering banget ngikutin kegiatan. Sibuk ngurus ini itu dan karena sibuknya aku,aku jadi jarang ngehubungin dia. Aku pikir dia bakal nunggu aku selesai kegiatan atau perhatian sama aku disaat aku lagi kecapekan atau selesai kegiatan ngehubungin aku gitu. Eh ternyata diem-diem dia selingkuh dari aku. Ya udah karena ketahuan selingkuh,aku putusin deh. Aku paling gak suka sama orang yang nyia-nyiain kesetiaan dan kepercayaan sama orang lain.”
“Jadi dulu kamu korban selingkuhan? dulu bertahan sampe berapa bulan? Kok kamu mau sih diduain?”
“Ya nggak elah. Mana ada sih manusia yang mau diduain? Karena udah 4 bulan itu dia udah ketahuan tiga kali selingkuh diem-diem disaat aku lagi sibuk kegiatan ya udah aku putusin“
“Kamu nyesel gak sih ninggalin dia?”
“Ngapain juga nyesel ninggalin pengkhianat kaya dia? Biarkan perusak bersama dengan perusak. Tapi walau begitu aku masih menganggapnya teman kok. Aku gak suka balas dendam.”
“Dih………!Udah nggak usah kesel gitu. Lagian juga itu udah berlalu kok. Yang dulu biarlah berlalu.”
“Kalo kamu sendiri gimana?Belum pernah pacaran?”
“Aku udah punya alumni hati sih. Aku sama mantanku putus udah lama sih tapi sekarang masih akrab kok. Aku sama dia bahkan masih saling sapa satu sama lain. Soalnya dulu kita sepakat untuk tetap bersahabat meskipun udah putus”
“Dulu kamu kenapa bisa putus sama dia?”
“Aku lupa alasan pastinya. Intinya dia over protektif dan terlalu posesif sama aku. Aku dikira selingkuh sama dia. Padahal aku nggak selingkuh sama sekali. Cuma gara-gara temenku dan aku dulu ngobrol lama di parkiran sekolah cuma bahas tugas kelompok. Saking asyiknya ngobrol bahas tugas eh dikira selingkuh. Padahal bahas tugas doang. Dan dengan alasan itu dia mutusin aku.”
“Intinya kamu sama dia putus gara-gara salah paham kan?Kenapa nggak kamu jelasin aja apa yang sebenernya terjadi?”
“Aku udah jelasin ke dia tapi dia nggak percaya sama aku. Karena dia ngelihat dengan mata kepalanya sendiri. Tapi seminggu kemudian dia ngajak balikan sama aku. Aku nolak. Karena aku punya prinsip. Gak bakal mau balikan sama mantan. Kamu tahu kan rasanya punya gelas yang dipecahin terus abis itu disatuin lagi? Rasanya nggak akan utuh dan rapi lagi kaya sebelum dipecahin. Terus juga balikan sama mantan kaya baca buku dua kali. Pasti endingnya sama”
“Iya juga ya?Wah! dia kayaknya rugi deh udah ninggalin kamu gitu aja. Enak ya dia nggak diselingkuhin secara fakta sedangkan aku dengan fakta. Itu lebih nyakitin tau gak,Meiy. Dan karena itu pula aku ingin mencari incaran. Aku nggak ingin trauma gara-gara dikhianatin.”
“mmm….bagus deh kalo gitu.”
                        ***
Ku lihat sekelilingku. Jalan nampak sepi namun debu-debu berterbangan. Keringnya tenggorokan mulai terasa. Saat sampai di suatu lampu traffic light,ku minum air putih yang ku beli tadi waktu kuliah pagi. Dahaga sedikit terobati. Namun perjalanan masih tetap dilalui. Ku dengar lagu yang mengalun lumayan keras di seberang jalan. Aku mengenali lirik lagu itu. Itu adalah lantunan nasyid yang sering dilantunkan saat latihan rebana. Fafa menoleh ke kiri dan mengajakku bernyanyi apa yang baru saja dia dengar. Ternyata tak hanya diriku yang tau akan nasyid itu. Kami berdua pun bernyanyi bersama di sepanjang perjalanan. Indah terasa perjalanan ini ku nikmati hingga rasa bosan dan kepanasan mulai terlupakan.
Tepat pukul dua belas siang,kami akhirnya sampai di suatu Masjid pusat kota Semarang. Kami beristirahat sejenak dan melaksanakan sholat. Perjalanan dari parkiran menuju masjid amat sangat panas. Karena pelataran masjid harus suci,alas kaki setiap pengunjung yang ingin ke masjid harus dilepas. Aku melepas sandalku sembari mencari tempat teduh. Rasanya seperti berjalan di area kawah gunung berapi. Sampai-sampai Dhede berlari terbirit-birit menuju tempat teduh. Dhede memang paling sering bertingkah konyol diantara kami berdelapan.
Sesampainya kami di teras masjid, laki-laki dan perempuan terpisah. Aku,Titian,dan Momon mengikuti Riani mencari jalan untuk sampai ke tempat wudlu. Kami berwudlu secara bergantian dan dari tempat wudlu itulah aku dan Momon mulai berkenalan. Dia bahkan mengingatkanku untuk tak perlu canggung dengan mereka,karena diantara kami berdelapan hanya aku yang bukan tergolong anak pramuka dan anak kegiatan. Yah meskipun begitu aku tetap senang disambut akrab dengan mereka. Mereka seperti sudah menganggapku sebagai keluarga mereka. Seusai sholat bersama para lelaki itu,kami melanjutkan perjalanan menuju area pelataran masjid. Di sepanjang langkah menuju pelataran,Fafa terus menjadi paparazzi. Dia sering memotretku diam-diam. Karena kesal,aku tak mengajaknya bicara kali ini. Kami pun berfoto ria,bersama,membuat cerita,berbagi canda tawa,hingga lelah tak terasa.
                       ***
Sesampainya di pelataran masjid,kami berfoto selfie bersama pasangan masing-masing pembonceng. Riani dan Coco. Marjo dan Titian. Dhede dan Momon. Aku dan Fafa. Aku semula menolak untuk berfoto dengannya,namun dia mengancam tak kan memboncengkanku ketika pulang nanti. Karena matahari sudah semakin terik,kami pun mulai melanjutkan perjalanan menuju ke tempat wisata selanjutnya. Kurang lebih tiga puluh menit kami lalui perjalanan menuju ke obyek wisata Lawang Sewu. Rasanya aku tak asing dengan tempat ini. Aku sering mendengarnya namun tak pernah sama sekali aku mengunjunginya. Kami masuk melalui pintu utama. Sebelum menjelajah ke dalam,kami berfoto di latar halaman Lawang Sewu. Kami berdampingan bersama pasangan masing-masing. Meski tak ada ikatan apa-apa antara aku dan Fafa,namun mereka berenam sering menganggap kami adalah sepasang kekasih baru. Aku hanya tersenyum mendengar anggapan seperti itu. Pasalnya harapku padanya telah pupus kemarin. Tapi apakah Fafa memberi anggapan yang berbeda tentang itu?Aku tak tau pasti. Yang kutahu dia hanya khawatir soal kepulanganku nanti. Dia terus mempertanyakannya seusai kami mengelilingi Lawang Sewu.
“Mbu,nanti kamu pulang jam berapa?”panggilnya padaku
“Bisa nggak sih nggak usah panggil aku ‘mbu’?kamu pikir aku lembu apa?”
“hehe…jangan ngambek dong mbu eh Meiy cuma keingetan ‘pipi jambu’ aja. Aku nganterin kamu pulang jam berapa nanti?”
“Aku nggak boleh pulang larut sore. Kira-kira jam lima harus udah sampai di rumah.”
“Oh…. Ya udah. Habis ini kita pulang kan,Dhed?”Tanya Fafa pada Dhede
“Iya habis ini kita pulang. Gaes,yuk kita gasss!!!”Teriak Dhede sambil mengajak kami untuk pulang.
Kami memulai perjalanan pulang sekitar pukul dua siang. Sepanjang perjalanan,Marjo sebagai penunjuk jalan kebingungan mencari jalan pintas untuk menembus ke perbatasan kota. Hingga kami memutar balik kendaraan sebanyak lima kali. Aku menjadi pusing dan ngantuk dibuatnya. Sesampainya di daerah Sayung,kami berpencar karena banyak kendaraan yang melintasi daerah itu. Kurang lebih perjalanan lima belas kilometer seusai kami berpencar,kami dipertemukan disaat ada operasi penjaringan dari polisi daerah tersebut. Dhede dan Momon yang berada di jalur paling kiri terpaksa terjaring dan dihentikan oleh polisi. Sedangkan Fafa tiba-tiba tancap gas dengan sangat cepat dan menyalip kendaraan di depannya dengan cekatan.
Rupanya aku dan Fafa terlalu jauh untuk kabur dari operasi polisi. Sepertinya Dhede dan Momon berhasil ditilang oleh polisi. Lalu,bagaimana dengan Coco,Riani,Marjo dan Titian? Apakah mereka selamat dari operasi polisi ataukah mereka telah sampai dulu mendahului aku dan Fafa?Aku dan Fafa berhenti di tepi jalan sembari kebingungan apa yang harus kami lakukan. Ingin kembali namun Fafa takut terjaring operasi bukan karena tak memiliki surat kelengkapan berkendara melainkan karena dia membawa seseorang yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengantarkannya pulang. Ingin melanjutkan perjalanan namun hati rasanya tak tega untuk meninggalkan mereka berenam terjaring operasi. Bagaimana mereka nantinya?
Pikiranku semakin kacau ketika Riani tak mengangkat telfonku dan tak membalas pesanku. Ditambah lagi disana jaringan sinyal sulit sekali ditemukan. Akhirnya Fafa mengajakku untuk melanjutkan perjalanan meski hati sepertinya tak ingin meninggalkan mereka. Dia lebih memilih menyelamatkan diri dari jaring daripada harus melibatkanku dengan kejadian seperti itu. Aku jadi merasa bersalah dengan mereka berenam. Andai saja waktu dapat ku putar,aku lebih baik kembali ke sekolah dan tak menanggapi isyaratnya daripada harus merasa bersalah lagi seperti ini. Aku dan Fafa melanjutkan perjalanan pulang sendirian menuju kota tercinta.

                       ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar