Alarm
ahad pagi membuatku terbangun dari lelapnya mimpi indah yang menyelimutiku
semalam. Hari ini ada jadwal kuliah pagi,jadi aku harus segera mungkin bangun
dan bersiap untuk pergi. Ku aktifkan ponsel yang semula tergeletak di tempat
tidurku. Ada banyak notif muncul. 1 undangan BBM baru dan seseorang mulai
mengikutiku (via instagram). Sontak saja aku heran dan membukanya satu persatu.
Fafa. Satu nama yang pernah aku dengar tetapi rasanya aku ragu untuk menerima
undangannya. Ku buka instagram. Fafa. Nama itu muncul lagi. Apa iya orang ini
adalah orang yang sama?Ku buka profil milik Fafa namun akunnya ternyata
privasi. Alhasil aku pun berniat mengabaikan notifku. Ada rasa sedikit
mengganjal. Dua notif dengan nama yang sama. Seingatku, aku tak meminta pesan
siaran kepada siapa-siapa semalam. Aku juga tak mengenal dia tapi aku pernah
melihat dia di Instagram yang kemarin Riani beritahu ke aku. Apa jangan-jangan
orang ini temennya pacarnya Riani?Si anak paskib itu?entahlah. Ku abaikan
notifku dan mulai berangkat kuliah pagi diantar Mas Rizal.
Suasana
di sekolah masih nampak sepi. Kulihat Aji dan Esta sedang menyiapkan kegiatan
kuliah pagi hari ini. Tak lama kemudian,kegiatan kuliah pagi dimulai. Kegiatan
tersebut berlangsung cukup lama. Setelah satu jam berlangsung,kegiatan tersebut
usai. Mbak Nia,kakak kelas yang sudah ku anggap kakakku sendiri menghampiriku. Dia
ingin mengajakku mencari sarapan pagi. Ku turuti ajakannya sambil mengambil
ponsel yang sedari kegiatan tadi bergetar terus. Ku baca 1 pesan dari Riani ”Meiy,udah
kamu terima undangannya belum?” Terima undangan?di notif undangan BBM baru
hanya ada 1 orang yang belum ku terima undangannya. “Terima undangan dari
siapa?di undangan BBM baru hanya ada kontak yang bernama Fafa”. Ku balas dengan
penuh keheranan. ”Iya ,itu anak paskib yang kemarin foto sama aku. Dia katanya
pengen kenalan sama kamu. Kamu dibilang cantik :D”. Hah?Dia belum mengenalku
tapi dia memujiku. Aku jadi keGRan membacanya. Kalau Fafa invite pinku,follow
instagramku,dia tau semua ini dari siapa coba. Jangan-jangan memang benar Riani
yang sengaja membocorkan ini semua. Jujur saja,baru tiga hari ini aku menjalani
proses move on dari Raka. Rasanya aku masih terlalu kaku untuk beradaptasi
dengan orang baru. Entahlah. ”Aku kan gak kenal,Rin. Gimana aku bisa menerimanya?”.
”Makanya biar bisa kenal terima aja. Percayalah,dia orangnya baik dan
setia…Wkwkwk”. Kalau dipikir-pikir nggak ada salahnya aku menerima undangan
Fafa. Aku menerima undangannya sembari menyantap sepiring lentog tanjung
bersama mbak Nia. Setelah sarapan,ku minta Mbak Nia mengantarkanku pergi les. Banyak
teman-temanku yang sudah menungguku.
Ponselku kembali bergetar. 1 notif dari Fafa
“PING!!!”
“Iya,ada
apa?”
Ku
tunggu balasannya. 30 menit kemudian…
“Hah?Maksudnya?”
Aku
heran,dia yang memulai kenapa dia yang kebingungan…
“Iya,tadi
kamu kan ngeping aku. Terus aku tanya,ada apa kok ngeping aku?”
“Oh,maaf
tadi…..aduh tadi dibajak Riani. Sialan emang tuh anak”
“Oh,gitu?hahaha….Intro?”
“Hah
intro?itu namanya udah ada di atas”
“Mana?di
atasku nggak ada apa-apa”
“Nggak
gitu maksudnya,namaku udah tertera di kontak bbmmu.”
“Aku
kan gak kenal kamu. Kamu siapa dan kenapa kamu nginvite pin aku?”
“Ya
udah deh. Biar kenal,kenalin. Aku Fafa,aku temennya Riani. Kamu temen
sekelasnya Riani kan?”
“Iya,kok
kamu bisa kenal Riani?”
“Ya
jadi gini…..”
Perlahan aku dan Fafa mulai berbalas BBM. Ku nikmati
perkenalanku dengan Fafa. Satu hal yang ku pikirkan tentang Fafa. Dia adalah
seorang purna paskibraka,sama seperti Raka. Ada kekaguman tersendiri untuk
mengenalinya. Tapi apakah sikap dan perilakunya sama seperti Raka?berlagak sok
keren dan arogan sebagai purna paskibraka?ah mungkin hanya prasangka burukku
saja. Ku rasa,dia orangnya beda. Kalau dilihat-lihat dari profil bbmnya,dia
orangnya pemalu dan introvert. Aku memang suka menerka-nerka watak
seseorang yang baru ku kenal dari fisiknya. Bukannya menjudge atau
berprasangka buruk. Hanya ingin lebih selektif memilih teman. Kekagumanku
padanya hanya sebatas cap Paskibraka yang ia miliki. Tapi mungkin akan lebih baik
jika aku mengenalinya lebih lama lagi. Semoga saja ini awal yang baru untuk
proses move onku dari Raka. Meskipun bayang-bayang wajah,perhatian,dan kenangan
manis tentang Raka masih membekas dibenakku,aku akan mencoba melupakannya. Tapi
kalaupun aku harus benar-benar ingin pindah dan pergi dari hati Raka,aku harus pindah
sendirian. Tanpa mengikuti perintah tuan rumahnya untuk tetap tinggal. Sayangnya,aku
dan Raka berada dalam posisi ‘teman satu kelas’. Pasti keadaan seperti ini akan
membuatku semakin canggung dan tak enak hati akan suasana hening bila
bersamanya. Suasana baper mungkin akan menghantuiku akhir-akhir ini. Tapi tak
apa,selagi tekad dan niatku masih bulat untuk tetap pindah dari hatinya aku
pasti bisa melaluinya.
***
Hari Senin adalah hari yang paling dikeluhkesahkan oleh
anak muda zaman sekarang. Banyak dari mereka yang mengeluh akan adanya hari
Senin karena beberapa hal seperti harus panas-panasan untuk upacara bendera,deadline
mengumpulkan tugas,atau penghentian paksa jadwal weekend mereka. Aku tak
tau alasan mereka semestinya. Yang aku tau,hari ini aku akan menghabisi Riani. Aku
masih kesal dengannya. Begitu mudahnya ia memberikan pinku ke sembarang orang. Sebenarnya
terserah aku juga,ingin menerima undangannya atau tidak. Tetapi rasanya aku
masih risih bila harus membahas soal Fafa. Belum kenal saja,dia seperti ‘gas
pol rem blong’. Pin diinvite,instagram difollow,dichat
dengan alasan dibajak. Andai dia bukan purna paskibraka,aku pasti sudah menolak
mentah-mentah berkenalan dengannya.
“Eh,Rin!maksud
kamu apa?”
“Eh,Bos!hehe…pagi-pagi
udah marah-marah. Slow woles,neng! Ada apaan sih?”
“Udahlah.
Gak usah pura-pura gak tau kamu. Soal si Fafa itu pasti kamu kan yang ngasih
tau pinku ke dia?”
“Eh
nggak kok. Serius. Yang ngasih itu si Dhede,temenku waktu SMP. Aku cuma cupid”
“Hah,cupid
apaan?Pokoknya aku gak akan mau kenalan sama Fafa. Aku mau hapus kontaknya
sekarang juga. Kamu kok lancang gini sih sama aku?”
“Gini
deh. Aku jelasin dulu. Jadi malam minggu kemarin itu,pacar aku si Coco ngapel
ke rumah bareng si Dhede sama Fafa. Rencananya besok paginya,aku mau buat
surprise ke Dhede biar ketemu sama gebetannya,si Momon. Nah entar kalo misal si
Dhede sama Momon,Aku sama Coco,terus Fafa sama siapa?Ya udah,aku bilang aja ke
Fafa ‘Eh Fa!ada yang bilang kamu itu ganteng lho!’ dia jawab
‘Siapa?’,’temenku,itupun gara-gara aku nge-upload foto di instagram yang ada
kamu’. Terus si Dhede malah nunjukin kontak bbmu ‘Siapa Rin?Ini,Si Meiy
bukan?’,’Eh Dhed,kok kamu tau-tauan?iya bener si Meiy. Dia temen sekelasku. Kok
kamu bisa punya pinnya,Dhed?’. Si Fafa kepo ‘Mana?sini coba lihat’,’Jangan kasih
tau Dhed,biar dia kepo’ eh malah handphonenya Dhede diambil deh sama Fafa. Akhirnya
Fafa tau pinmu dan mungkin dari situ dia nginvite pin kamu. Terus aku
bilang ‘gimana?cantik kan Fa?’dia bilang ‘iya cantik. Dia ada instagram nggak?’terus
aku kasih tau instagram kamu terus dia follow deh”
“Tau
gini,aku delete aja kontaknya si Dhede. Lagian juga aku gak bilang kalo
dia itu ganteng. Aku kan cuma bilang kalo dia itu lumayan. Aduh!Kenapa sih
kontakku penuh mata-mata gini?”
“Tenang,Meiy.
Fafa orangnya baik kok,dia gak suka berbuat yang aneh-aneh. Dia kan purna paskibraka”
“Yah
tetep aja kan kalo sifatnya begini,aku jadi risih gitu diajak kenalan. Dilihat
dari tampangnya juga dia gak seganteng blasteran itu”
“Don’t
judge the people by the cover. Bisa aja dia gak seganteng cowok yang kamu idam-idamkan itu. Tapi
percayalah dalam hatinya dia itu baik banget. Banyak temen yang respect
sama dia. Bahkan,banyak cewek-cewek yang ngantri pengen jadi pacarnya”
“Ah,paling
kamu cuma ngompor-ngomporin aku aja kan?Udahlah,nggak usah banyak omong kosong
kamu. Aku tau aku butuh waktu buat move on tapi nggak secepat ini. Semua butuh
proses dan aku mau menjalani proses move on dengan tenang tanpa ada gangguan
kayak gini.”
“Jadi
kamu ngerasa keganggu gara-gara Fafa? Meiy,mungkin kamu harus tau soal ini. Berdasarkan
rumor yang aku denger,Fafa baru aja dikecewain dan dikhianatin sama gebetannya.
Jauh hari sebelum dia kenal kamu,dia kesepian. Tiap hari kalo dia ikut kegiatan
murung mulu,kaya orang gak punya semangat hidup gitu deh. Makanya aku,Coco,sama
Dhede mau buat perubahan sama dia. Siapa tau setelah dia deket sama kamu,dia
jadi suka,seneng,ceria,dan ngejadiin kamu pacarnya. Bantuin orang biar seneng
kan dapet pahala..Hahaha….”
“Pahala
apanya?Aku gak suka dicomblangin kaya gini,Rin. Kalaupun aku harus kenalan sama
Fafa,aku dibuat jatuh cinta sama dia,terus gitu sampe bosen dan akhirnya dia
ninggalin dan nggantung perasaan aku gak jelas gitu kaya Raka,gimana? kamu
pikir aku ini kelinci percobaanmu?Aku gak pengen jatuh nggeblug untuk
yang kedua kalinya,Rin!”
“Udahlah,percaya
sama aku. Lagian ya,kalo misalkan Raka beneran sayang dan punya rasa cinta yang
dalam buat kamu,seharusnya dia nggak ngediemin dan nyuekin kamu kaya gini. Saranku,mending
kamu segera move on dari Raka. Move on itu bukan sekedar ngelupain dan
ngehilangin rasa aja tapi ngasih kesempatan buat yang lain untuk nyembuhin hati
kamu. Siapa tau Tuhan nemuin kamu sama Fafa tujuannya biar kamu bisa move on
dari Raka. Nikmatin dan jalanin aja dulu. Aku yakin,kamu pasti bakal nyaman
deket sama Fafa.”
***
Hari berganti hari. Perkenalanku dengan Fafa semakin akrab
saja. Kami saling bertukar pikiran,bercanda,bahkan curhat seputar keadaan
masing-masing. Yang aku tahu,Fafa itu cowok yang berbadan tegap,berhidung
mancung dibalut kulit sawo ‘kematengan’ gara-gara kepanasan terus saat latihan
paskib ternyata seorang pemain dan personel grup rebana. Ya,sama halnya seperti
diriku. Aku hanya sekilas tau dari profil BBM yang ia pasang semalam. Dari situ
ternyata aku dan dia punya kesamaan hobi. Kami pun saling bertukar voicenote
lantunan nasyid. Aku mendengar suaranya yang cukup lumayan syahdu. Sepertinya aku
akan senang punya teman seperti dia. Kalau seperti ini kan ada pembahasan topik
tertentu biar kalo chatting tak terasa canggung dan kaku. Entahlah. Aku
hanya merasa menemukan teman yang cocok dengan hobi dan kegemaranku. Ku harap
ini tak sementara.
Perkenalanku dengannya belum berjalan seminggu. Namun,Riani
masih terus saja mengganggu dan mengomporiku agar segera memberi kode untuk
Fafa. Jumat yang akan datang,Riani dan Coco akan merayakan hari jadian mereka
tepat satu bulan. Riani berniat mengajakku untuk pergi bersamanya sekaligus dia
berencana mempertemukanku dengan Fafa. Memang,aku dan Fafa hanya berkenalan via
BBM,Line,dan Instagram. Kalau dilihat-lihat,dia orangnya sederhana. Terlihat
dari status,timeline,dan post di instagramnya. Akan tetapi,itu semua hanyalah
dunia maya. Dunia yang penuh kebohongan publik dan kepalsuan paras di setiap
seluk beluknya. Yang aku takutkan jika besok Jumat aku dan dia jadi bertemu,lalu
apa yang akan aku lakukan?akankah aku pergi bersamanya?ataukah rupa yang ku
bayangkan dan ku idamkan tak sesuai dengan kenyataan?Nah,Kalau tak sesuai
kenyataan,apakah aku harus menolak pertemuan itu?ataukah bagaimana?Aku bingung.
Kalau semisal ku batalkan pertemuan itu,pasti ada rasa tak enak hati dalam
berkomunikasi antara aku dan dia. Jikalau jadi bertemu,aku takut syok dan kapok
bertemu dengan dia lagi hanya gara-gara tampang dan perawakannya berbeda dari
Raka… (Ah,Meiy!jangan lagi kau bandingkan dengan Raka. Mungkin saja fisik
tak berarti apa-apa bila hati telah memilih untuk tetap berkata ‘tidak’ padanya).
Fikirku dalam rasa. Rasanya aku terlalu cepat bila harus memikirkan soal
perasaanku pada Fafa. Aku hanya ingin mencari teman baru. Bukan mencari
pelampiasan cintaku ini. Belum lagi masalah perpindahan hati ini belum
terselesaikan. Masih perlu beradaptasi. Layaknya seekor burung merpati yang
terpaksa pergi dari sangkarnya demi mencari kebebasan di alam fana karena
merpati itu tau. Bertahan tidak akan membuatnya bebas. Lebih baik pergi untuk
melegakan diri daripada bertahan untuk rela tersakiti.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar