Sabtu, 22 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Sanjungan dari Tuan Rumah

Di perjalanan pulang aku hampir mengantuk. Aku takut tertidur di atas kendaraan dan terjatuh atau bahkan hingga Fafa tak menyadari kalau aku nyaris jatuh. Ku coba menahan rasa kantuk sembari bernyanyi agak lirih sesuka mood yang ku rasa. Sesekali Fafa melihatku melalui spion seolah-olah ia mengawasiku apakah aku tertidur atau melakukan hal lain seperti bernyanyi dengan lirih. Padahal sudah ku kira-kira volume suaraku agar Fafa tak begitu mendengarnya
“Kamu jangan ngantuk ya?Kita habis ini udah mau sampai. Kamu laper gak?”
“Tau ajah kalau laper. Nyari makan dulu yuk. Mampir kemana gitu?”
“Ayok! Rencana mau makan dimana?”
“Terserah kamu deh. Kamu kan yang biasanya tau rumah makan yang menunya enak.”
Fafa nampaknya sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya dia sedang memikirkan rumah makan yang akan kami tuju. Tak berapa lama ia berpikir,akhirnya dia berbelok ke sebuah rumah makan yang ngakunya belum pernah ia kunjungi. Kami pun memarkir kendaraan,menaruh helm dan memasuki rumah makan. Sampai di dalam,kami memesan menu makanan. Setelah memesan aku merebahkan kedua tanganku di atas meja makan sembari menyandarkan kepalaku diatas tanganku. Hari ini sungguh melelahkan. Ingin sekali ku terlelap sejenak..
“Meiy,aku boleh pinjam hpmu nggak?Aku mau lihat hasil foto-foto tadi”Tanya Fafa
Aku menyerahkan ponselku dan kembali terlelap sejenak. Pesanan sudah datang. Aku langsung seketika membuka mataku dan segera melahap pesananku. Baru 2-3 santapan,tiba-tiba Fafa menghadapkan ponsel ke arahku
“Ayah kamu nelfon nih?gimana?”
Hampir saja aku memuntahkan apa yang ku lahap. Ku ambil ponsel dari tangan Fafa dan ku telan dengan paksa makanan yang ada dalam mulutku. Ku jawab telpon dari ayahku. Dia menanyakan keberadaanku dan dengan siapa aku sekarang. Ku jawab saja aku bersama dengan temanku. Namun sorot mata Fafa sepertinya menyangkal perkataanku tadi. Seusai menanyakan hal itu ayahku berpesan untuk segera pulang karena aku belum menyetrika seragam sekolahku untuk besok pagi. Setelah itu ayah menutup telpon. Aku agak sedikit lega karena ayah tak memarahi aku kali ini. Padahal aku pergi sedari jam enam pagi hingga pukul lima sore tanpa meminta izin ataupun memberitahu orang tua kalau aku pergi. Syukurlah. Ku lanjutkan makanku. Sambil mengunyah makanan,Fafa berbicara…
“Kakkkamu habis ….”
“Kalau makan nggak usah ngobrol. Ntar keselek siapa yang mau nolongin?”
Fafa menelan makanan “Ya kamu lah. Kan cuma kamu yang ada disini.”
“Idiiihhh…….Mana mau aku nolongin kamu?”
“Ya udah kalo nggak mau nolongin nggak aku anterin pulang ah!”
“Yahhhh…..jangan gitu dong Fa?Kamu kan baik,rajin,dan suka menabung  ya….pokoknya baik banget deh. Anterin aku pulang yah?Sampe gang aja nggak apa-apa kok!Yah? Pliiisssss” mohonku pada Fafa
“Nggak ah. Aku nggak mau.”
“Hah?kok kamu nggak mau?”
“Aku maunya nganterin kamu sampe depan rumah.”
“Ya….gimana ya?Aduh!!!jangan deh!mendingan sampe gang aja nggak apa-apa. Aku nggak mau ngrepotin orang lain.”
“Emang kenapa sih?Lagian juga nggak sopan kan kalau aku nganterin kamu cuma sampe gang doang?Ntar tetanggamu ngiranya aku nelantarin anak orang”
“Nggak kok. Dari gang ke rumahku nggak terlalu jauh. Kan ini aku yang minta. Sopir kan harus manut sama penumpangnya. Bener kan?”
“Iya deh iya.”
                       ***
Setelah makanan habisku santap bersamanya,kamipun membayar bill . Kali ini aku yang duluan mengeluarkan uang dari dompetku. Dia sepertinya merasa malu pada mbak-mbak kasir karena mungkin merasa kurang gentle dibayarkan oleh seorang wanita. Setelah ku ambil kembaliannya,tiba-tiba Fafa memasukkan uang ke dalam tasku dan menghindariku seolah uangnya tak ingin ku kembalikan. Aku mengejar langkahnya. Namun aku ragu untuk mengembalikan uangnya bila nanti ia mengancam tak mengantarkanku pulang.
Akhirnya aku naik diboncengan Fafa dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sepanjang jalan aku masih memikirkan bagaimana cara mengembalikan uang milik Fafa. Tak terasa di perjalanan kami akhirnya memasuki gang utama desaku. Banyak gang-gang kecil yang membingungkan kata Fafa. Ku beri dia petunjuk jalan menuju rumahku. Dan akhirnya hampir sampai di dua gang yang sama menuju rumahku. Ku suruh ia untuk berhenti di depan gang yang pertama,akan tetapi dia malah kebablasan mengantarkanku tepat sampai di depan rumahku. Saat aku turun dari boncenganku,ayahku keluar dan mengetahui kalau aku baru saja berboncengan dengan laki-laki yang tak pernah sama sekali datang ke rumahku. Ku beranikan diriku untuk menjabat dan mencium hormat tangan ayahku diikuti dengan Fafa.
“Wah baru aja ayah omongin,ternyata udah di depan rumah!”
“Ehhh…Hehehe…Yah,kenalin. Ini Fafa temenku.”
“Eeee….Selamat sore,Om! Saya Fafa.”
“Hahahah…iya iya. Selamat sore juga. Om ini ayahnya Meiy. Ehhh…makasih ya?udah nganterin anak saya pulang.”
“Ehh…iya Om,sama-sama Om. Kalau gitu,saya langsung pamit dulu ya om. Udah sore Om”
“Oh iya-iya,sekali lagi makasih ya?kapan-kapan main kesini nggak apa-apa. Ya udah hati-hati ya mas!”
“Eh…iya Om. Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam” Fafa berlalu meninggalkan aku dan ayah. Saat aku ingin masuk ke dalam rumah,ayah masih terus melihat Fafa dan berkata…
“Tadi itu temenmu,ndhuk?”panggil ayah padaku
“Iiiyyya yah. Kenapa?”
“Dia itu paskibraka ya?”
“Iiyya yah. Kok ayah tau?”
“Lhah,kamu bukannya dulu di SMP ikut paskib?kok sekarang SMA nggak ikut?Kalau ikut kan kamu dapet jaket kayak yang temenmu pake tadi itu?”
“Kan dia paskib kabupaten yah. Aku kan nggak ikut seleksi dan nggak ikut paskibraka.”
“Oh jadi dia itu paskibraka kabupaten toh?Bagus lah,kamu pinter milih temen yang hebat kayak temenmu itu. Siapa tau kehebatannya nular ke kamu.”
“aamiiin…..”
“Seandainya kamu tau,ndhuk. Ayah dulu kepingin banget anaknya bisa jadi anggota paskibraka. Keinginan ayah waktu itu hampir terwujud waktu kakakmu dinyatakan lolos seleksi paskib. ”
“Lalu…..,kalau ayah mendukung kakak untuk jadi paskibraka kenapa kakak mengundurkan diri?”
“Yah……….karena waktu itu ibumu takut kalau suatu saat dia tak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah hanya karena keseringan latihan. Ibumu takut prestasi kakakmu akan menurun. Orang tua selalu ingin memberikan hal yang terbaik untuk anaknya. Tapi terkadang keinginannya itu tak sejalan dengan apa yang anak inginkan. Ayah cuma berpesan,jadilah anak yang berbakti pada orang tua sekalipun larangannya membuatmu kecewa. ”
“Iya yah. Meiy akan berbakti pada ayah dan ibu kok. Meiy masuk ke dalam dulu ya?”
                       ***
Hari yang cerah untuk jiwa yang bergairah. Hari ini jadwal praktikum biologi di laboratorium. Aku suka sekali mengutak-utik alat-alat di lab dan melakukan percobaan. Itulah mengapa aku bisa masuk di jurusan ipa karena aku tertarik dengan percobaan yang membuatku terkagum-kagum dan terheran-heran karena rasa ingin tahuku. Seperti gelembung yang tiba-tiba muntah dari dalam tabung reaksi. Seperti warna yang merubah zat dari suatu senyawa dalam gelas kimia. Atau bahkan seperti rasa yang merubah segalanya menjadi indah. Entahlah… Akhir-akhir ini mood ku sering sekali berubah-ubah. Terkadang senang terkadang badmood sendiri. Itupun pemicunya tak lain dan tak bukan gara-gara teddy bear kematengan itu. Dia memang menjadi moodbosterku sekarang tapi tak jarang dia juga yang beralih menjadi moodbreakerku. Aku sendiri kadang gemas,kesal,dan sebal padanya. Selagi dia masih ada dalam batas normal sikap seorang paskib sewajarnya aku masih memakluminya. SebenArnya aku tak ingin terlalu jauh sampai menjadikannya moodbosterku. Ingin ku batasi perkenalan ini. Namun semakin hari rasa ini semakin tidak terdefinisikan. Aku takut mengingkari  janji yang telah ku sepakati dengannya. Apakah aku melampaui batas janjiku?Apakah aku telah jatuh cinta dengannya? Lihat saja siapa pemicunya.
Sore ini ada latihan renang. Aku,Aulin,Shasha,Tyas,dan Nida berangkat menuju kolam renang yang lumayan jauh dari sekolah kami. Kami berlima berangkat kesana sekitar pukul 3 sore. Sesampainya di parkiran kolam renang,banyak sekali motor pengunjung memarkirkan kendaraannya. Kelihatannya di dalam sudah banyak pengunjung yang berenang. Biasanya pengunjungnya adalah para siswa dari berbagai sekolah yang aturan pembelajarannya mengharuskan muridnya untuk bisa berenang. Aku jadi minder kalo banyak orang seperti ini. Kami menuju tempat pembayaran karcis. Benar saja,banyak daftar siswa dari sekolah lain yang telah terdata. Rasanya aku enggan dan risih untuk berenang ke dalam kolam renang yang banyak pengunjungnya. Airnya berubah jadi hangat,tempatnya sempit,dan hal lain yang menghambat latihan renangku. Walaupun begitu,aku tak peduli. Aku kesini karena ingin bisa. Aku tak takut mereka meledekku atau melihat gerakanku yang amburadul. Selagi aku masih punya semangat belajar,aku pasti akan berusaha agar aku bisa.
                                       ***
Satu jam terasa begitu cepat berjalan. Kami mengakhiri latihan renang pada sore hari ini dengan melihat pemandangan senja matahari terbenam di sebelah barat. Indah sekali. Senja mengiringi langkahku menuju tempat parkiran. Biasanya kalo aku pulang dari latihan renang,aku pasti akan menghubungi mas Rizal untuk menjemputku. Namun kali ini mas Rizal berhalangan untuk menjemputku. Lalu aku meminta Aulin untuk mengantarkanku pulang. Dia sepertinya keberatan dengan permintaanku karena jika dia mengantarkanku pulang larut sore ibunya pasti akan memarahinya. Aku pun berniat mencari cara agar ada yang bisa menjemputku. Kegelisahanku ini ku curahkan pada Fafa yang sedari tadi berbalas BBM denganku. Aku tak berharap dia akan datang menjemputku. Aku hanya pasrah duduk diboncengan Aulin menuju sekolahan. Sesampainya di sekolahan,aku berniat pulang dengan naik mobil pribadi berwarna hijau agar sampai di gang utama desaku. Agar aku tak kecewa aku akan menunggu angkutan hijau di tepi sekolah. Sesampainya di sekolahan,ku sampaikan rasa terima kasihku pada Aulin. Dia berpamitan padaku. Sebelum dia pergi,dia memandang ke arah barat dan berkata…
“Meiy!itu siapa yang pake helm abu-abu,motor putih,dan berjaket….kayak punya Raka?”
“Hah?Mana?”
“Itu yang berhenti di bawah pohon….”
“Ya Ampun,Lin! Itu Fafa!”
“Fafa?Yang paskib itu?”
“Iyaaaa….dia ngapain disitu?kamu tunggu disini sebentar ya?”
Ku hampiri dia yang berhenti di tepi sana dengan langkah cepat. Ku perhatikan perawakannya. Aku yakin itu adalah Fafa. Ketika sudah dekat,dia melihatku dan berkata…
“Kamu udah pulang dari latihan renang kan?”
“Iiiyya,kamu kenapa bisa ada disini?”Dia menggaet tasku
“Aku mau nganterin kamu pulang. Kamu nggak ada yang nganterin pulang kan?”
“Emang nggak ada sih,tapi….bukannya kamu ada rapat OSIS?”
“Itu urusanku. Yok,cepat naik”
Dengan mimik wajah kebingungan,aku naik diboncengan Fafa. Dari kejauhan aku berpamitan pada Aulin. Dia sepertinya kebingungan juga dengan kejadian ini. Mengapa Fafa menjemputku padahal aku tak menyuruhnya untuk menjemputku?Mengapa Fafa datang dengan tiba-tiba tanpa mengabariku? Apa dia punya radar yang mengetahui segala aktivitasku?Apa dia punya mata-mata untuk mengikuti? Sepanjang perjalanan menuju rumahku,aku terdiam dan memikirkan apa yang Fafa lakukan padaku. Sesampainya di depan gang rumahku,dia berpamitan. Dia tak sempat bicara banyak padaku. Lalu dia pergi meninggalkanku di depan gang kecil dekat rumahku. Saat aku melangkah menuju rumahku,ku lihat ayah sedang mengeluarkan motor dari garasi. Aku berlari dan menghampirinya….
“Lho! Padahal mau ayah jemput. Kok udah sampe rumah duluan?”kata ayah
“Iya yah. Tadi temenku yang nganterin pulang”
“Siapa?kok gak mampir dulu?”
“Fafa yah,dia buru-buru karena ada rapat OSIS.”
“Oh gitu?Duh…..!baiknya itu anak. Sampaikan salam dan makasih ayah buat dia ya yang udah nganterin pulang kamu. Besok kamu masih ketemu dia kan?”
Aku hanya memandang ayah dan tak menjawab apapun. Aku masih bingung dengan kejadian tadi. Aku masuk ke dalam rumah mengikuti langkah ayahku.

                             ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar