Di
perjalanan pulang aku hampir mengantuk. Aku takut tertidur di atas kendaraan
dan terjatuh atau bahkan hingga Fafa tak menyadari kalau aku nyaris jatuh. Ku
coba menahan rasa kantuk sembari bernyanyi agak lirih sesuka mood yang
ku rasa. Sesekali Fafa melihatku melalui spion seolah-olah ia mengawasiku
apakah aku tertidur atau melakukan hal lain seperti bernyanyi dengan lirih.
Padahal sudah ku kira-kira volume suaraku agar Fafa tak begitu mendengarnya
“Kamu
jangan ngantuk ya?Kita habis ini udah mau sampai. Kamu laper gak?”
“Tau
ajah kalau laper. Nyari makan dulu yuk. Mampir kemana gitu?”
“Ayok!
Rencana mau makan dimana?”
“Terserah
kamu deh. Kamu kan yang biasanya tau rumah makan yang menunya enak.”
Fafa
nampaknya sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya dia sedang memikirkan rumah
makan yang akan kami tuju. Tak berapa lama ia berpikir,akhirnya dia berbelok ke
sebuah rumah makan yang ngakunya belum pernah ia kunjungi. Kami pun memarkir
kendaraan,menaruh helm dan memasuki rumah makan. Sampai di dalam,kami memesan
menu makanan. Setelah memesan aku merebahkan kedua tanganku di atas meja makan
sembari menyandarkan kepalaku diatas tanganku. Hari ini sungguh melelahkan.
Ingin sekali ku terlelap sejenak..
“Meiy,aku
boleh pinjam hpmu nggak?Aku mau lihat hasil foto-foto tadi”Tanya Fafa
Aku
menyerahkan ponselku dan kembali terlelap sejenak. Pesanan sudah datang. Aku
langsung seketika membuka mataku dan segera melahap pesananku. Baru 2-3 santapan,tiba-tiba
Fafa menghadapkan ponsel ke arahku
“Ayah
kamu nelfon nih?gimana?”
Hampir
saja aku memuntahkan apa yang ku lahap. Ku ambil ponsel dari tangan Fafa dan ku
telan dengan paksa makanan yang ada dalam mulutku. Ku jawab telpon dari ayahku.
Dia menanyakan keberadaanku dan dengan siapa aku sekarang. Ku jawab saja aku
bersama dengan temanku. Namun sorot mata Fafa sepertinya menyangkal perkataanku
tadi. Seusai menanyakan hal itu ayahku berpesan untuk segera pulang karena aku
belum menyetrika seragam sekolahku untuk besok pagi. Setelah itu ayah menutup
telpon. Aku agak sedikit lega karena ayah tak memarahi aku kali ini. Padahal
aku pergi sedari jam enam pagi hingga pukul lima sore tanpa meminta izin
ataupun memberitahu orang tua kalau aku pergi. Syukurlah. Ku lanjutkan makanku.
Sambil mengunyah makanan,Fafa berbicara…
“Kakkkamu
habis ….”
“Kalau
makan nggak usah ngobrol. Ntar keselek siapa yang mau nolongin?”
Fafa
menelan makanan “Ya kamu lah. Kan cuma kamu yang ada disini.”
“Idiiihhh…….Mana
mau aku nolongin kamu?”
“Ya
udah kalo nggak mau nolongin nggak aku anterin pulang ah!”
“Yahhhh…..jangan
gitu dong Fa?Kamu kan baik,rajin,dan suka menabung ya….pokoknya baik banget deh. Anterin aku
pulang yah?Sampe gang aja nggak apa-apa kok!Yah? Pliiisssss” mohonku pada Fafa
“Nggak
ah. Aku nggak mau.”
“Hah?kok
kamu nggak mau?”
“Aku
maunya nganterin kamu sampe depan rumah.”
“Ya….gimana
ya?Aduh!!!jangan deh!mendingan sampe gang aja nggak apa-apa. Aku nggak mau
ngrepotin orang lain.”
“Emang
kenapa sih?Lagian juga nggak sopan kan kalau aku nganterin kamu cuma sampe gang
doang?Ntar tetanggamu ngiranya aku nelantarin anak orang”
“Nggak
kok. Dari gang ke rumahku nggak terlalu jauh. Kan ini aku yang minta. Sopir kan
harus manut sama penumpangnya. Bener kan?”
“Iya
deh iya.”
***
Setelah
makanan habisku santap bersamanya,kamipun membayar bill . Kali ini aku
yang duluan mengeluarkan uang dari dompetku. Dia sepertinya merasa malu pada
mbak-mbak kasir karena mungkin merasa kurang
gentle dibayarkan oleh seorang wanita. Setelah ku ambil kembaliannya,tiba-tiba
Fafa memasukkan uang ke dalam tasku dan menghindariku seolah uangnya tak ingin
ku kembalikan. Aku mengejar langkahnya. Namun aku ragu untuk mengembalikan
uangnya bila nanti ia mengancam tak mengantarkanku pulang.
Akhirnya
aku naik diboncengan Fafa dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sepanjang
jalan aku masih memikirkan bagaimana cara mengembalikan uang milik Fafa. Tak
terasa di perjalanan kami akhirnya memasuki gang utama desaku. Banyak gang-gang
kecil yang membingungkan kata Fafa. Ku beri dia petunjuk jalan menuju rumahku.
Dan akhirnya hampir sampai di dua gang yang sama menuju rumahku. Ku suruh ia
untuk berhenti di depan gang yang pertama,akan tetapi dia malah kebablasan
mengantarkanku tepat sampai di depan rumahku. Saat aku turun dari boncenganku,ayahku
keluar dan mengetahui kalau aku baru saja berboncengan dengan laki-laki yang
tak pernah sama sekali datang ke rumahku. Ku beranikan diriku untuk menjabat
dan mencium hormat tangan ayahku diikuti dengan Fafa.
“Wah
baru aja ayah omongin,ternyata udah di depan rumah!”
“Ehhh…Hehehe…Yah,kenalin.
Ini Fafa temenku.”
“Eeee….Selamat
sore,Om! Saya Fafa.”
“Hahahah…iya
iya. Selamat sore juga. Om ini ayahnya Meiy. Ehhh…makasih ya?udah nganterin anak
saya pulang.”
“Ehh…iya
Om,sama-sama Om. Kalau gitu,saya langsung pamit dulu ya om. Udah sore Om”
“Oh
iya-iya,sekali lagi makasih ya?kapan-kapan main kesini nggak apa-apa. Ya udah
hati-hati ya mas!”
“Eh…iya
Om. Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum
salam” Fafa berlalu meninggalkan aku dan ayah. Saat aku ingin masuk ke dalam
rumah,ayah masih terus melihat Fafa dan berkata…
“Tadi
itu temenmu,ndhuk?”panggil ayah
padaku
“Iiiyyya
yah. Kenapa?”
“Dia
itu paskibraka ya?”
“Iiyya
yah. Kok ayah tau?”
“Lhah,kamu
bukannya dulu di SMP ikut paskib?kok sekarang SMA nggak ikut?Kalau ikut kan
kamu dapet jaket kayak yang temenmu pake tadi itu?”
“Kan
dia paskib kabupaten yah. Aku kan nggak ikut seleksi dan nggak ikut
paskibraka.”
“Oh
jadi dia itu paskibraka kabupaten toh?Bagus lah,kamu pinter milih temen yang
hebat kayak temenmu itu. Siapa tau kehebatannya nular ke kamu.”
“aamiiin…..”
“Seandainya
kamu tau,ndhuk. Ayah dulu kepingin
banget anaknya bisa jadi anggota paskibraka. Keinginan ayah waktu itu hampir
terwujud waktu kakakmu dinyatakan lolos seleksi paskib. ”
“Lalu…..,kalau
ayah mendukung kakak untuk jadi paskibraka kenapa kakak mengundurkan diri?”
“Yah……….karena
waktu itu ibumu takut kalau suatu saat dia tak bisa mengikuti pembelajaran di
sekolah hanya karena keseringan latihan. Ibumu takut prestasi kakakmu akan
menurun. Orang tua selalu ingin memberikan hal yang terbaik untuk anaknya. Tapi
terkadang keinginannya itu tak sejalan dengan apa yang anak inginkan. Ayah cuma
berpesan,jadilah anak yang berbakti pada orang tua sekalipun larangannya
membuatmu kecewa. ”
“Iya
yah. Meiy akan berbakti pada ayah dan ibu kok. Meiy masuk ke dalam dulu ya?”
***
Hari
yang cerah untuk jiwa yang bergairah. Hari ini jadwal praktikum biologi di
laboratorium. Aku suka sekali mengutak-utik alat-alat di lab dan melakukan
percobaan. Itulah mengapa aku bisa masuk di jurusan ipa karena aku tertarik
dengan percobaan yang membuatku terkagum-kagum dan terheran-heran karena rasa
ingin tahuku. Seperti gelembung yang tiba-tiba muntah dari dalam tabung reaksi.
Seperti warna yang merubah zat dari suatu senyawa dalam gelas kimia. Atau
bahkan seperti rasa yang merubah segalanya menjadi indah. Entahlah… Akhir-akhir
ini mood ku sering sekali berubah-ubah. Terkadang senang terkadang badmood
sendiri. Itupun pemicunya tak lain dan tak bukan gara-gara teddy bear
kematengan itu. Dia memang menjadi moodbosterku sekarang tapi tak jarang
dia juga yang beralih menjadi moodbreakerku. Aku sendiri kadang
gemas,kesal,dan sebal padanya. Selagi dia masih ada dalam batas normal sikap seorang
paskib sewajarnya aku masih memakluminya. SebenArnya aku tak ingin terlalu jauh
sampai menjadikannya moodbosterku. Ingin ku batasi perkenalan ini. Namun
semakin hari rasa ini semakin tidak terdefinisikan. Aku takut mengingkari janji yang telah ku sepakati dengannya.
Apakah aku melampaui batas janjiku?Apakah aku telah jatuh cinta dengannya?
Lihat saja siapa pemicunya.
Sore
ini ada latihan renang. Aku,Aulin,Shasha,Tyas,dan Nida berangkat menuju kolam
renang yang lumayan jauh dari sekolah kami. Kami berlima berangkat kesana
sekitar pukul 3 sore. Sesampainya di parkiran kolam renang,banyak sekali motor
pengunjung memarkirkan kendaraannya. Kelihatannya di dalam sudah banyak
pengunjung yang berenang. Biasanya pengunjungnya adalah para siswa dari berbagai
sekolah yang aturan pembelajarannya mengharuskan muridnya untuk bisa berenang.
Aku jadi minder kalo banyak orang seperti ini. Kami menuju tempat pembayaran
karcis. Benar saja,banyak daftar siswa dari sekolah lain yang telah terdata.
Rasanya aku enggan dan risih untuk berenang ke dalam kolam renang yang banyak
pengunjungnya. Airnya berubah jadi hangat,tempatnya sempit,dan hal lain yang
menghambat latihan renangku. Walaupun begitu,aku tak peduli. Aku kesini karena
ingin bisa. Aku tak takut mereka meledekku atau melihat gerakanku yang amburadul.
Selagi aku masih punya semangat belajar,aku pasti akan berusaha agar aku bisa.
***
Satu
jam terasa begitu cepat berjalan. Kami mengakhiri latihan renang pada sore hari
ini dengan melihat pemandangan senja matahari terbenam di sebelah barat. Indah
sekali. Senja mengiringi langkahku menuju tempat parkiran. Biasanya kalo aku
pulang dari latihan renang,aku pasti akan menghubungi mas Rizal untuk
menjemputku. Namun kali ini mas Rizal berhalangan untuk menjemputku. Lalu aku
meminta Aulin untuk mengantarkanku pulang. Dia sepertinya keberatan dengan
permintaanku karena jika dia mengantarkanku pulang larut sore ibunya pasti akan
memarahinya. Aku pun berniat mencari cara agar ada yang bisa menjemputku.
Kegelisahanku ini ku curahkan pada Fafa yang sedari tadi berbalas BBM denganku.
Aku tak berharap dia akan datang menjemputku. Aku hanya pasrah duduk
diboncengan Aulin menuju sekolahan. Sesampainya di sekolahan,aku berniat pulang
dengan naik mobil pribadi berwarna hijau agar sampai di gang utama desaku. Agar
aku tak kecewa aku akan menunggu angkutan hijau di tepi sekolah. Sesampainya di
sekolahan,ku sampaikan rasa terima kasihku pada Aulin. Dia berpamitan padaku.
Sebelum dia pergi,dia memandang ke arah barat dan berkata…
“Meiy!itu
siapa yang pake helm abu-abu,motor putih,dan berjaket….kayak punya Raka?”
“Hah?Mana?”
“Itu
yang berhenti di bawah pohon….”
“Ya
Ampun,Lin! Itu Fafa!”
“Fafa?Yang
paskib itu?”
“Iyaaaa….dia
ngapain disitu?kamu tunggu disini sebentar ya?”
Ku
hampiri dia yang berhenti di tepi sana dengan langkah cepat. Ku perhatikan
perawakannya. Aku yakin itu adalah Fafa. Ketika sudah dekat,dia melihatku dan
berkata…
“Kamu
udah pulang dari latihan renang kan?”
“Iiiyya,kamu
kenapa bisa ada disini?”Dia menggaet tasku
“Aku
mau nganterin kamu pulang. Kamu nggak ada yang nganterin pulang kan?”
“Emang
nggak ada sih,tapi….bukannya kamu ada rapat OSIS?”
“Itu
urusanku. Yok,cepat naik”
Dengan
mimik wajah kebingungan,aku naik diboncengan Fafa. Dari kejauhan aku berpamitan
pada Aulin. Dia sepertinya kebingungan juga dengan kejadian ini. Mengapa Fafa
menjemputku padahal aku tak menyuruhnya untuk menjemputku?Mengapa Fafa datang
dengan tiba-tiba tanpa mengabariku? Apa dia punya radar yang mengetahui segala
aktivitasku?Apa dia punya mata-mata untuk mengikuti? Sepanjang perjalanan
menuju rumahku,aku terdiam dan memikirkan apa yang Fafa lakukan padaku.
Sesampainya di depan gang rumahku,dia berpamitan. Dia tak sempat bicara banyak
padaku. Lalu dia pergi meninggalkanku di depan gang kecil dekat rumahku. Saat
aku melangkah menuju rumahku,ku lihat ayah sedang mengeluarkan motor dari
garasi. Aku berlari dan menghampirinya….
“Lho!
Padahal mau ayah jemput. Kok udah sampe rumah duluan?”kata ayah
“Iya
yah. Tadi temenku yang nganterin pulang”
“Siapa?kok
gak mampir dulu?”
“Fafa
yah,dia buru-buru karena ada rapat OSIS.”
“Oh
gitu?Duh…..!baiknya itu anak. Sampaikan salam dan makasih ayah buat dia ya yang
udah nganterin pulang kamu. Besok kamu masih ketemu dia kan?”
Aku
hanya memandang ayah dan tak menjawab apapun. Aku masih bingung dengan kejadian
tadi. Aku masuk ke dalam rumah mengikuti langkah ayahku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar