Aku
tak habis pikir. Kenapa sosok bule amatir itu selalu menghalangi konsentrasiku
akhir-akhir ini. Dia yang dulunya sempat ku juluki lelaki blasteran tak
beretika,kini telah menjadi sosok yang paling menyebalkan dan mengusik hidupku.
Aku mengenalnya pun setelah 3 bulan satu kelas dengannya dan satu kelompok dalam
tugas drama roleplay bahasa inggris. Kita duduk bersama,saling
berbincang,basa-basi dan akhirnya mengenal satu sama lain. Seiring berjalannya
waktu,kami bertukar nomor telepon dan berhubungan via sms tiap malam. Mulai
dari tanya PR,tanya ini itu,hanya sekedar iseng saja. Namun tanpa ku
sadari,keisengan yang ia buat menimbulkan benih-benih rasa dihatinya untukku. Rasa
yang tak pernah ia ungkapkan,yang selalu ia pendam,yang berusaha ia munculkan
lewat suapan,hantaran,dan ajakan untuk bernyanyi berdua bersama masa itu. Semula
aku merespon positif tingkah laku yang ia perbuat untukku bahkan akupun tak
jauh beda memendam rasa untuknya. Tapi perlahan rasa ini mulai sirna. Diterpa
angin waktu dan badai suasana yang menggusarkan hatiku dan hatinya. Yang semula
perhatian kini telah mengabaikan. Yang semula menghibur,kini ternyata kabur. Dan
yang semula ingin terus bersama,kini keinginan itu seakan memudar. Terkadang
aku merasa aneh dengan semua yang ku jalani bersamanya dulu namun kini tak lagi
ku lakukan. Ya,kenangan itu seakan lenyap ditelan ombak rasa penuh keraguan. Tapi,kini
ku sadari. Aku kembali merindukannya. Dirinya yang jauh di sana yang sedang
mengemban tugas bernegara.
***
Pagi ini aku begitu bersemangat sekali. Berangkat sekolah
diantar kakakku yang paling ganteng katanya. Mas Rizal,seorang calon paskibraka
yang dulu rela menggagalkan impiannya menjadi paskibraka demi keinginan bunda. Dia
nampak sedikit kesal ketika aku menceritakan Raka,seorang paskibraka kabupaten
yang hari ini bertugas di alun-alun. Hari ini merupakan Hari Ulang Tahun
Republik Indonesia. Pasti akan jadi suatu moment yang tak ‘kan terlupakan bila
nanti aku berfoto disampingnya. Meskipun aku bukan paskibraka,tapi setidaknya
aku beruntung bisa dekat dengan dia yang seorang paskibraka. Sesampainya di
gerbang sekolah,ku lepas helm dan ku cium tangan mas Rizal. Ku ucap salam dan
berpesan bahwa nanti sepulang sekolah aku akan pergi menyaksikan upacara HUT RI
di alun-alun bersama temanku.
“Mau ngapain kamu ke
alun-alun?Mau ngelihat dia?huh,entar kalo gak jadi foto nyesel lho!”
“Apaan si,Mas?ooo…..Mas
Rizal syirik ya?mentang-mentang dulu pernah gagal?hihihi bercanda mas…”
“Eh!kamu ini(sambil mencubit
pipiku) lihat saja nanti,asal kamu tau ya?siapapun yang pernah jadi
paskibraka,dia bakal jual mahal kalo dimintain foto. Mereka kayak berlagak udah
sok keren gitu deh. Percaya sama mas”
“Yeee….setiap orang
beda-beda kali mas. Siapa tau aja dia mau aku ajakin foto?kan cuma aku
satu-satunya gadis berkharisma yang dekat dengan dia. Hahaha…”
“Berkharisma
apanya?bau kencur gini…Hahaha… udah sana,tuh paskibranya udah pada siap-siap”
Mas
Rizal melambaikan tangan dan pergi berlalu. Aku pun memasuki gerbang sekolah
dan ku lihat para paskibra yang bertugas di sekolah sedang bersiap-siap. Dari
situ aku membayangkan keberadaan Raka. Saat ini dia pasti sibuk mempersiapkan
diri. Memakai seragam putih khas paskibraka,berpeci hitam bertanda lambang
negara,bersepatu hitam PDH mengkilap,aaawww pasti dia terlihat gagah dan
berwibawa. Rasanya ingin meleleh jika dia ada di hadapanku sekarang. Namun
keadaan berbanding terbalik dengan apa yang ku bayangkan. Terlihat
Aulin,sahabat yang setia menemaniku saat hangout sedang berdiri tepat di
hadapanku dengan memakai seragam kebesaran marching bandnya. Rupanya dia
bertugas mengiringi upacara pada hari ini.
“lho!kamu tugas hari
ini,Lin?tapi gimana nanti?kita jadi lihat upacara di alun-alun kan?”
“iya aku tugas hari
ini,Meiy. Maaf ya?aku nggak bisa nemenin kamu dalam barisan tapi nanti kita
jadi kok lihat upacaranya. Tap tenang”
“Yeay!makasih
Aulin,kamu the best bestfriend deh pokoknya. Bentar lagi aku bakal
serasa kayak ibu persit nih”
“Ehem ehem…..kayaknya
ada yang lagi berbunga-bunga nih?mau ngelihat si doi ya?”Tiba-tiba Riani datang
dan mengusik perbincangan antara aku dan Aulin.
“Apa sih
kamu,Rin?yeeee emang lagi seneng akunya. Eh Rin,kamu tau gak?katanya sih kalo
kita punya gebetan atau pacar seorang paskibra,kita nih yang cewek serasa kayak
jadi istri panglima TNI atau serasa jadi ibu negara gitu. Ya kelihatan keren
gitu deh intinya. Makanya aku seneng,soalnya aku bakal jadi ibu persit.Hahaha…”
“Yaelah,nggak usah
ngayal ketinggian kamu,setauku ya kalo kita jadi pacar seorang paskibraka kita
itu kayak dikekang,di kalangan temen-temennya pasti pada diomongin sana-sini dan
diomonginnya gak enak lagi. Ati-ati lho kalo kharismamu nanti luntur gara-gara
omongan mereka”
“Yeee gak usah kompor
deh,Rin. Udah ah,yuk ke lapangan. Upacaranya udah mau dimulai tuh”
Upacara sudah dimulai. Aku menempati
posisi barisan pertama,paling depan dan di penjuru kanan. Hal ini sengaja ku
lakukan karena aku ingin melihat para paskibraka itu bertugas. Lagi-lagi aku
membayangkan Raka. Semenjak si dia menjadi paskibraka,aku kian terobsesi dengan
yang namanya paskibraka. Entah itu
gerakannya,pakaiannya,atau bahkan orang yang jadi paskibraka. Seperti yang ku katakan
pada Riani,sahabatku tadi. Kalau kita jadi gebetan atau pacar dari seorang
paskibraka,kita layaknya istri para panglima TNI atau istri kepala Negara.
Selalu jadi sorotan,selalu jadi bahan omongan,atau bahkan jadi panutan buat
yang lain. Bisa-bisa aku mendadak hits setelah jadi pacar paskibraka. Hahaha…Khayalanku
tentang paskibraka perlahan hilang seiring berakhirnya upacara bendera. Aku
bergegas menemui Aulin dan menuju ke area parkir sekolah. Namun suara tanda
pengumuman sekolah terdengar cukup keras…
‘Diberitahukan
kepada seluruh siswa untuk tidak meninggalkan sekolah guna menyaksikan lomba salam
rangka HUT RI final…..’
Aaaaaaaaaaaaaa…….rasa
amarah,kesal,dan kecewa seolah memuncak begitu mendengar suara yang seakan
merusak gendang telingaku. Kenapa disaat terdesak seperti ini kesempatan tak
berpihak padaku?Ataukah Tuhan memang menghendaki aku tak dapat menemuinya?Tak
diijinkan ‘tuk merindukannya lagi?Bila ku jatuh cinta lagi?Bila rasaku masih
tersimpan dan masih terjaga untuknya?Percayalah. Aku adalah tipe orang yang
setia dan selalu sabar menunggu dalam urusan cinta. Buktinya sudah hampir tiga
bulan ini aku menunggunya kembali. Menunggu dia yang sedang di karantina untuk
menjadi paskibraka. Namun sepertinya dia tak mengetahui arti penantianku selama
ini. Dia nyaris tak menghubungiku selama itu. Dia selalu acuh ketika berhadapan
denganku. Aku bahkan rela jadi
pelampiasan ketika ia lelah selesai latihan. Aku juga rela mengerjakan tugasnya
yang dulu seharusnya ia selesaikan demi nilai tugasnya terpenuhi. Dan sekarang
aku menunggu gerbang sekolah terbuka dengan ditemani Aulin hanya karena aku
ingin bertemu dengannya. Aku memang berambisi ingin berfoto bersamanya. Aku
ingin berbincang sejenak bersamanya. Tetapi mungkin keinginan itu hanya
keinginan semu semata. Hanya keinginan yang tak pernah terwujud.
Tak
terasa yang kutunggu kian menguras waktuku. Jadwal upacara di alun-alun dimulai
pukul 10.00 pagi dan kini angka satu dan nol itu tepat melintas di jam
tanganku. Aku semakin cemas. Jarum jam kian terus berputar namun gerbang
sekolah masih saja tertutup rapat. Nyaris tepat pukul 11.00,gerbang mulai
terbuka. Aulin pun langsung tancap gas. Kami menuju alun-alun dengan
tergesa-gesa hingga kami bingung mencari dan menelusuri jalan pintas menuju
alun-alun. Semua jalan menuju alun-alun nyaris tertutup rapat agar suasana
upacara tetap kondusif dan khidmat. Ketika kami berhasil menerobos jalan menuju
alun-alun ternyata upacara telah usai. Aku pun lemas tak berkutik apa-apa. Berharap
cemas,akhirnya aku dan Aulin pulang dengan rasa kecewa. Percuma saja aku
berhenti di alun-alun toh upacara sudah selesai. Jikalau aku berhenti
disana,apa yang akan ku perbuat?mencarinya?nekat meminta foto bersamanya? Ingin
ku berontak namun apalah daya. Yang ku lakukan hanyalah sia-sia. Inginku terasa
sirna. Ternyata kesempatanku untuk
menjadi ‘ibu negara’ hanya tinggal angan-angan semata. Ya Tuhan,kenapa hari ini
yang seharusnya semua jiwa dan raga layak untuk merdeka kini seakan kembali
merengkuh jajahan kekecewaan,nestapa,dan pelipur lara?Entahlah…..Aku hanya bisa
terbujur lemas dan lesu seusai Aulin mengantarkanku pulang. Apa yang terjadi hari
ini sepertinya akan sulit ku lupakan. Sulit berlalu. Aku hanya bisa berharap
esok hari kan ku temukan harapan baru yang menjanjikan.
***
Udara
dingin masih terasa menyelimuti tubuhku pagi ini. Aku berjalan menuju kelas dengan
wajah yang nampak masih terikat rasa kecewa. Di dalam kelas banyak teman-teman
yang sedang asyik berbincang seputar HUT kemarin. Banyak dari mereka yang
cenderung lebih memilih untuk melihat paskibraka bertugas di televisi. Tidak
senekat aku yang menerobos garis polisi hanya demi melihat si dia yang
membuatku kecewa hari ini. Aku hanya bisa pasrah akan semua yang terjadi. Mungkin
sudah selayaknya untuk ku tak merindukannya lagi. Lamunanku buyar ketika
seorang menepuk meja di depanku…
“Woiii!!!Pagi-pagi
udah lesu aja?senyum dong,neng!”
“Eh!Apaan sih
kamu,Rin?gak lucu tau!”
“Hahaha…kaget ya?emang
kamu kenapa sih?pagi-pagi mukanya udah ditekuk gitu?senyum kek apa nyapa gitu. Eh
Meiy!aku semalem habis ngupload foto di instagram lho?likenya mana nih?”
“Aku sibuk semalem
jadi gak sempet buka sosmed”
“Ya udah buruan buka
deh mumpung ada wifi. Semalem aku ketemu Raka lho. Katanya sih dia disana
paling pendek. Kalo setinggi dia gitu paling pendek,gimana yang kaya kita
ya,Meiy?”
“Hah?kamu tadi malem
lihat dia?dimana?”
“Aku tadi malem lihat
resepsi kenegaraan bareng pacarku. Terus pacarku pengen ketemu sama temennya
yang jadi paskib. (Sembari ku buka instagram dan melihat foto yang dia
upload)Nah!ini mereka!”
“Mana si Raka?”
“Emang aku bilang foto
sama Raka?kan aku sama dia cuma ketemu doang gak sempet foto”
“Terus ini yang pake
baju paskibraka siapa?”
“Oh,ini temennya
pacarku. Yang kiri namanya Fafa dan yang kanan namanya Marjo”
“Oh gitu. Berarti kalo
mereka paskib,mereka kenal Raka dong?”
“Jelas kenal lah. Eh,gimana
Meiy si Fafa sama Marjo?Ganteng kan?”
“Ganteng darimana?orang
item gak jelas gini”
“Yeeeee…..kan mereka
item gara-gara itu fotonya di tempat gelap. Bentar deh aku cariin akunnya si
Fafa dulu pake handphone yang lain”
Aku
pun tak menghiraukannya. Rasanya aku masih kecewa dengan apa yang sudah terjadi
kemarin.…..
“Meiy!Sini!aku udah
nemu instagramnya Fafa”
“Mana?”
“Nih!Gimana?ganteng
kan?Dia temen sekelasnya Coco”
“Hmm……. Lumayan sih. Ah!udah
ah. Aku gak mau bahas soal yang berbau paskib lagi. Aku masih kecewa sama yang
kemarin.”
“Yaelah masa gitu aja
kecewa?Santai Meiy,yang ini beda dari yang lain. Inget!yang item itu setia”
“Terserah deh”
Entahlah. Firasat dan rayuan siapa
yang kini merasuki fikiran dan perasaanku. Ingin hati melupakan namun tak
mampu. Ingin hati meninggalkan namun ragu. Ingin hati bicara bahwa aku ingin
pergi dan tak lagi terikat batin dengan Raka namun Raka menolak. Di sisi lain
ia menginginkanku untuk tetap tinggal di hatinya. Tapi aku tetap berambisi. Jika
aku tetap tinggal,haruskah ku menahan rindu lagi?haruskah ku menahan sakit hati
lagi?dan haruskah ku menunggu ketidakpastian rasa ini?Cukup untuk kali ini. Aku
percaya dan aku berjanji pada hatiku sendiri. Aku berniat ingin move on dari
Raka. Sudah saatnya aku meninggalkan rasa ini. Rasa kecewa ku yang kemarin
rupanya membawaku ke dalam sugesti bahwa aku harus bisa membunuh rasa ini
perlahan walau kelihatannya susah untuk ku taklukkan. Beberapa hari berikutnya
aku merasa ada yang berubah antara aku dan Raka. Baik dari sikap masing-masing,cara
bicara masing-masing hingga rasa yang
dirasakan masing-masing. Entahlah. Hanya Aku,Raka,dan Tuhan yang tahu. Sampai
suatu pagi yang sendu mencoba memberiku kepastian dan jawaban akan kegalauan
hati ini.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar