Sabtu, 08 Oktober 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka : Rindu yang Berujung Semu

Aku tak habis pikir. Kenapa sosok bule amatir itu selalu menghalangi konsentrasiku akhir-akhir ini. Dia yang dulunya sempat ku juluki lelaki blasteran tak beretika,kini telah menjadi sosok yang paling menyebalkan dan mengusik hidupku. Aku mengenalnya pun setelah 3 bulan satu kelas dengannya dan satu kelompok dalam tugas drama roleplay bahasa inggris. Kita duduk bersama,saling berbincang,basa-basi dan akhirnya mengenal satu sama lain. Seiring berjalannya waktu,kami bertukar nomor telepon dan berhubungan via sms tiap malam. Mulai dari tanya PR,tanya ini itu,hanya sekedar iseng saja. Namun tanpa ku sadari,keisengan yang ia buat menimbulkan benih-benih rasa dihatinya untukku. Rasa yang tak pernah ia ungkapkan,yang selalu ia pendam,yang berusaha ia munculkan lewat suapan,hantaran,dan ajakan untuk bernyanyi berdua bersama masa itu. Semula aku merespon positif tingkah laku yang ia perbuat untukku bahkan akupun tak jauh beda memendam rasa untuknya. Tapi perlahan rasa ini mulai sirna. Diterpa angin waktu dan badai suasana yang menggusarkan hatiku dan hatinya. Yang semula perhatian kini telah mengabaikan. Yang semula menghibur,kini ternyata kabur. Dan yang semula ingin terus bersama,kini keinginan itu seakan memudar. Terkadang aku merasa aneh dengan semua yang ku jalani bersamanya dulu namun kini tak lagi ku lakukan. Ya,kenangan itu seakan lenyap ditelan ombak rasa penuh keraguan. Tapi,kini ku sadari. Aku kembali merindukannya. Dirinya yang jauh di sana yang sedang mengemban tugas bernegara.
                          ***
                                      
Pagi ini aku begitu bersemangat sekali. Berangkat sekolah diantar kakakku yang paling ganteng katanya. Mas Rizal,seorang calon paskibraka yang dulu rela menggagalkan impiannya menjadi paskibraka demi keinginan bunda. Dia nampak sedikit kesal ketika aku menceritakan Raka,seorang paskibraka kabupaten yang hari ini bertugas di alun-alun. Hari ini merupakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Pasti akan jadi suatu moment yang tak ‘kan terlupakan bila nanti aku berfoto disampingnya. Meskipun aku bukan paskibraka,tapi setidaknya aku beruntung bisa dekat dengan dia yang seorang paskibraka. Sesampainya di gerbang sekolah,ku lepas helm dan ku cium tangan mas Rizal. Ku ucap salam dan berpesan bahwa nanti sepulang sekolah aku akan pergi menyaksikan upacara HUT RI di alun-alun bersama temanku.
“Mau ngapain kamu ke alun-alun?Mau ngelihat dia?huh,entar kalo gak jadi foto nyesel lho!”
“Apaan si,Mas?ooo…..Mas Rizal syirik ya?mentang-mentang dulu pernah gagal?hihihi bercanda mas…”
“Eh!kamu ini(sambil mencubit pipiku) lihat saja nanti,asal kamu tau ya?siapapun yang pernah jadi paskibraka,dia bakal jual mahal kalo dimintain foto. Mereka kayak berlagak udah sok keren gitu deh. Percaya sama mas”
“Yeee….setiap orang beda-beda kali mas. Siapa tau aja dia mau aku ajakin foto?kan cuma aku satu-satunya gadis berkharisma yang dekat dengan dia. Hahaha…”
“Berkharisma apanya?bau kencur gini…Hahaha… udah sana,tuh paskibranya udah pada siap-siap”
Mas Rizal melambaikan tangan dan pergi berlalu. Aku pun memasuki gerbang sekolah dan ku lihat para paskibra yang bertugas di sekolah sedang bersiap-siap. Dari situ aku membayangkan keberadaan Raka. Saat ini dia pasti sibuk mempersiapkan diri. Memakai seragam putih khas paskibraka,berpeci hitam bertanda lambang negara,bersepatu hitam PDH mengkilap,aaawww pasti dia terlihat gagah dan berwibawa. Rasanya ingin meleleh jika dia ada di hadapanku sekarang. Namun keadaan berbanding terbalik dengan apa yang ku bayangkan. Terlihat Aulin,sahabat yang setia menemaniku saat hangout sedang berdiri tepat di hadapanku dengan memakai seragam kebesaran marching bandnya. Rupanya dia bertugas mengiringi upacara pada hari ini.
“lho!kamu tugas hari ini,Lin?tapi gimana nanti?kita jadi lihat upacara di alun-alun kan?”
“iya aku tugas hari ini,Meiy. Maaf ya?aku nggak bisa nemenin kamu dalam barisan tapi nanti kita jadi kok lihat upacaranya. Tap tenang”
“Yeay!makasih Aulin,kamu the best bestfriend deh pokoknya. Bentar lagi aku bakal serasa kayak ibu persit nih”
“Ehem ehem…..kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih?mau ngelihat si doi ya?”Tiba-tiba Riani datang dan mengusik perbincangan antara aku dan Aulin.
“Apa sih kamu,Rin?yeeee emang lagi seneng akunya. Eh Rin,kamu tau gak?katanya sih kalo kita punya gebetan atau pacar seorang paskibra,kita nih yang cewek serasa kayak jadi istri panglima TNI atau serasa jadi ibu negara gitu. Ya kelihatan keren gitu deh intinya. Makanya aku seneng,soalnya aku bakal jadi ibu persit.Hahaha…”
“Yaelah,nggak usah ngayal ketinggian kamu,setauku ya kalo kita jadi pacar seorang paskibraka kita itu kayak dikekang,di kalangan temen-temennya pasti pada diomongin sana-sini dan diomonginnya gak enak lagi. Ati-ati lho kalo kharismamu nanti luntur gara-gara omongan mereka”
“Yeee gak usah kompor deh,Rin. Udah ah,yuk ke lapangan. Upacaranya udah mau dimulai tuh”
      Upacara sudah dimulai. Aku menempati posisi barisan pertama,paling depan dan di penjuru kanan. Hal ini sengaja ku lakukan karena aku ingin melihat para paskibraka itu bertugas. Lagi-lagi aku membayangkan Raka. Semenjak si dia menjadi paskibraka,aku kian terobsesi dengan yang namanya  paskibraka. Entah itu gerakannya,pakaiannya,atau bahkan orang yang jadi paskibraka. Seperti yang ku katakan pada Riani,sahabatku tadi. Kalau kita jadi gebetan atau pacar dari seorang paskibraka,kita layaknya istri para panglima TNI atau istri kepala Negara. Selalu jadi sorotan,selalu jadi bahan omongan,atau bahkan jadi panutan buat yang lain. Bisa-bisa aku mendadak hits setelah jadi pacar paskibraka. Hahaha…Khayalanku tentang paskibraka perlahan hilang seiring berakhirnya upacara bendera. Aku bergegas menemui Aulin dan menuju ke area parkir sekolah. Namun suara tanda pengumuman sekolah terdengar cukup keras…
Diberitahukan kepada seluruh siswa untuk tidak meninggalkan sekolah guna menyaksikan lomba salam rangka HUT RI final…..
Aaaaaaaaaaaaaa…….rasa amarah,kesal,dan kecewa seolah memuncak begitu mendengar suara yang seakan merusak gendang telingaku. Kenapa disaat terdesak seperti ini kesempatan tak berpihak padaku?Ataukah Tuhan memang menghendaki aku tak dapat menemuinya?Tak diijinkan ‘tuk merindukannya lagi?Bila ku jatuh cinta lagi?Bila rasaku masih tersimpan dan masih terjaga untuknya?Percayalah. Aku adalah tipe orang yang setia dan selalu sabar menunggu dalam urusan cinta. Buktinya sudah hampir tiga bulan ini aku menunggunya kembali. Menunggu dia yang sedang di karantina untuk menjadi paskibraka. Namun sepertinya dia tak mengetahui arti penantianku selama ini. Dia nyaris tak menghubungiku selama itu. Dia selalu acuh ketika berhadapan denganku.  Aku bahkan rela jadi pelampiasan ketika ia lelah selesai latihan. Aku juga rela mengerjakan tugasnya yang dulu seharusnya ia selesaikan demi nilai tugasnya terpenuhi. Dan sekarang aku menunggu gerbang sekolah terbuka dengan ditemani Aulin hanya karena aku ingin bertemu dengannya. Aku memang berambisi ingin berfoto bersamanya. Aku ingin berbincang sejenak bersamanya. Tetapi mungkin keinginan itu hanya keinginan semu semata. Hanya keinginan yang tak pernah terwujud.
Tak terasa yang kutunggu kian menguras waktuku. Jadwal upacara di alun-alun dimulai pukul 10.00 pagi dan kini angka satu dan nol itu tepat melintas di jam tanganku. Aku semakin cemas. Jarum jam kian terus berputar namun gerbang sekolah masih saja tertutup rapat. Nyaris tepat pukul 11.00,gerbang mulai terbuka. Aulin pun langsung tancap gas. Kami menuju alun-alun dengan tergesa-gesa hingga kami bingung mencari dan menelusuri jalan pintas menuju alun-alun. Semua jalan menuju alun-alun nyaris tertutup rapat agar suasana upacara tetap kondusif dan khidmat. Ketika kami berhasil menerobos jalan menuju alun-alun ternyata upacara telah usai. Aku pun lemas tak berkutik apa-apa. Berharap cemas,akhirnya aku dan Aulin pulang dengan rasa kecewa. Percuma saja aku berhenti di alun-alun toh upacara sudah selesai. Jikalau aku berhenti disana,apa yang akan ku perbuat?mencarinya?nekat meminta foto bersamanya? Ingin ku berontak namun apalah daya. Yang ku lakukan hanyalah sia-sia. Inginku terasa  sirna. Ternyata kesempatanku untuk menjadi ‘ibu negara’ hanya tinggal angan-angan semata. Ya Tuhan,kenapa hari ini yang seharusnya semua jiwa dan raga layak untuk merdeka kini seakan kembali merengkuh jajahan kekecewaan,nestapa,dan pelipur lara?Entahlah…..Aku hanya bisa terbujur lemas dan lesu seusai Aulin mengantarkanku pulang. Apa yang terjadi hari ini sepertinya akan sulit ku lupakan. Sulit berlalu. Aku hanya bisa berharap esok hari kan ku temukan harapan baru yang menjanjikan.
                             ***                               
Udara dingin masih terasa menyelimuti tubuhku pagi ini. Aku berjalan menuju kelas dengan wajah yang nampak masih terikat rasa kecewa. Di dalam kelas banyak teman-teman yang sedang asyik berbincang seputar HUT kemarin. Banyak dari mereka yang cenderung lebih memilih untuk melihat paskibraka bertugas di televisi. Tidak senekat aku yang menerobos garis polisi hanya demi melihat si dia yang membuatku kecewa hari ini. Aku hanya bisa pasrah akan semua yang terjadi. Mungkin sudah selayaknya untuk ku tak merindukannya lagi. Lamunanku buyar ketika seorang menepuk meja di depanku…
“Woiii!!!Pagi-pagi udah lesu aja?senyum dong,neng!”
“Eh!Apaan sih kamu,Rin?gak lucu tau!”
“Hahaha…kaget ya?emang kamu kenapa sih?pagi-pagi mukanya udah ditekuk gitu?senyum kek apa nyapa gitu. Eh Meiy!aku semalem habis ngupload foto di instagram lho?likenya mana nih?”
“Aku sibuk semalem jadi gak sempet buka sosmed”
“Ya udah buruan buka deh mumpung ada wifi. Semalem aku ketemu Raka lho. Katanya sih dia disana paling pendek. Kalo setinggi dia gitu paling pendek,gimana yang kaya kita ya,Meiy?”
“Hah?kamu tadi malem lihat dia?dimana?”
“Aku tadi malem lihat resepsi kenegaraan bareng pacarku. Terus pacarku pengen ketemu sama temennya yang jadi paskib. (Sembari ku buka instagram dan melihat foto yang dia upload)Nah!ini mereka!”
“Mana si Raka?”
“Emang aku bilang foto sama Raka?kan aku sama dia cuma ketemu doang gak sempet foto”
“Terus ini yang pake baju paskibraka siapa?”
“Oh,ini temennya pacarku. Yang kiri namanya Fafa dan yang kanan namanya Marjo”
“Oh gitu. Berarti kalo mereka paskib,mereka kenal Raka dong?”
“Jelas kenal lah. Eh,gimana Meiy si Fafa sama Marjo?Ganteng kan?”
“Ganteng darimana?orang item gak jelas gini”
“Yeeeee…..kan mereka item gara-gara itu fotonya di tempat gelap. Bentar deh aku cariin akunnya si Fafa dulu pake handphone yang lain”
          Aku pun tak menghiraukannya. Rasanya aku masih kecewa dengan apa yang sudah terjadi kemarin.…..
“Meiy!Sini!aku udah nemu instagramnya Fafa”
“Mana?”
“Nih!Gimana?ganteng kan?Dia temen sekelasnya Coco”
“Hmm……. Lumayan sih. Ah!udah ah. Aku gak mau bahas soal yang berbau paskib lagi. Aku masih kecewa sama yang kemarin.”
“Yaelah masa gitu aja kecewa?Santai Meiy,yang ini beda dari yang lain. Inget!yang item itu setia”
“Terserah deh”
          Entahlah. Firasat dan rayuan siapa yang kini merasuki fikiran dan perasaanku. Ingin hati melupakan namun tak mampu. Ingin hati meninggalkan namun ragu. Ingin hati bicara bahwa aku ingin pergi dan tak lagi terikat batin dengan Raka namun Raka menolak. Di sisi lain ia menginginkanku untuk tetap tinggal di hatinya. Tapi aku tetap berambisi. Jika aku tetap tinggal,haruskah ku menahan rindu lagi?haruskah ku menahan sakit hati lagi?dan haruskah ku menunggu ketidakpastian rasa ini?Cukup untuk kali ini. Aku percaya dan aku berjanji pada hatiku sendiri. Aku berniat ingin move on dari Raka. Sudah saatnya aku meninggalkan rasa ini. Rasa kecewa ku yang kemarin rupanya membawaku ke dalam sugesti bahwa aku harus bisa membunuh rasa ini perlahan walau kelihatannya susah untuk ku taklukkan. Beberapa hari berikutnya aku merasa ada yang berubah antara aku dan Raka. Baik dari sikap masing-masing,cara bicara masing-masing  hingga rasa yang dirasakan masing-masing. Entahlah. Hanya Aku,Raka,dan Tuhan yang tahu. Sampai suatu pagi yang sendu mencoba memberiku kepastian dan jawaban akan kegalauan hati ini.

                            *** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar