Senin, 26 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Misteri dalam Sweet Seventeen

       Hari berikutnya adalah seleksi tes akademik. Tak hanya itu,para peserta juga akan diinterview dan diminta untuk menampilkan bakat serta keterampilan yang dimiliki. Aku sudah belajar semalam dan latihan keterampilan apa yang nanti akan aku tampilkan. Aku berangkat dari rumah menuju ke GOR diantar mas Rizal. Orangtuaku memang belum mengijinkanku mengendarai sepeda motor sebelum aku cukup umur. Ibuku saja mau menyetujui kalau aku ikut paskib asalkan aku diantar jemput oleh Mas Rizal. Walaupun di antar jemput,aku tidak manja. Terkadang aku diam-diam meminta mas Rizal agar biar aku saja yang memboncengkannya.  Mas Rizal tak keberatan dan justru malah mendukungku.
       Setelah sampai di TKP,aku berpamitan pada Mas Rizal sambil berkata….
          “Mas,doain aku ya biar aku bisa ngerjain tes nantinya?”
         “Iya pasti aku doain kok. Sekarang sudah saatnya kamu mewujudkan mimpi ayah dan juga kakakmu. Semoga berhasil ya?”
          “Mas Rizal nggak apa-apa kan?”
          “Enggak kok. Justru mas Rizal malah seneng kamu bisa jadi paskib padahal kamu kan anaknya manja… Hahaha… udah gih sana,nanti dimarahin panitia lho!”
          “Hahaha….oke mas,makasih ya doanya?”
       Ku lambaikan tangan pada mas Rizal dan bergegas memasuki stadion. Aku mencari peserta dari perwakilan sekolahku. Namun lagi-lagi aku ketemu dengan Tria,cewek yang kemarin mengajakku berkenalan.
          “Hai…..Meiy…. sendirian aja?Temenmu mana?”
        “Hai…. Tria…emmmm iya ini aku lagi nyari nih?Kayaknya pada belum dateng deh!”
         “Eh nanti kamu duduknya jejeran sama aku ya?Ya nggak jejer juga sih maksudnya sebaris sama aku…ya boleh ya?”
          “Iyya boleh kok. Emang dari perwakilan sekolahmu cuma kamu doang ya?”
       “Enggak sih,ada lima kok. Yang empat cowok semua,dan aku cewek sendiri. Makanya aku nyari temen cewek. Kamu sendiri gimana?”
          “Dari sekolahku ada delapan orang yang ikut. 5 cowok 3 cewek. Dan mayoritas yang ikut anak ekskul PBN semua. Cuma aku dan Esta yang bukan anak PBN tapi ikut seleksi paskib”
       “Kalau aku semuanya anak ekskul paskibra termasuk aku. Tapi kamu tenang aja,ekskul paskib di sekolahku jarang ada yang ngajar kok. Kita sama-sama berjuang nantinya ya?Yuk kita duduk ke sebelah sana!Udah mulai tuh kayaknya”
       Aku dan Tria bergegas menuju tempat duduk yang biasa dipakai pengunjung untuk melihat pertandingan sepak bola karena tempat tes diadakan disitu. Tes akademik dimulai. Panitia membagikan soal. Soal tersebut isinya tentang materi seputar kewarganegaraan dan hal-hal mengenai nasionalisme dan patriotisme. Kami seperti sedang ujian. Dijaga oleh beberapa orang panitia yang berdiri di sisi kanan,kiri,depan dan belakang tempat ujian peserta. Sebanyak apapun panitia yang menjaga,aku tak peduli. Aku tetap fokus mengerjakan soal. Setelah tes akademik selesai,tes selanjutnya yaitu tes wawancara. Ini bukan wawancara biasa tapi lebih ke interview. Para peserta harus menjawabnya dengan menggunakan bahasa inggris. Cukup sulit memang tapi pertanyaan yang diajukan cukup mudah untuk dijawab kok. Hanya seputar data diri,cita-cita dan bakat yang dimiliki atau hobi. 
      Setelah itu ada tes bakat dan keterampilan. Banyak yang menampilkan bakat menyanyi,termasuk aku. Ada juga yang bermain gitar,membaca puisi atau memperagakan teknik taekwondo. Ya semuanya tergantung dari masing-masing peserta. Saat aku menampilkan bakatku,seorang panitia tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan melihatku. Ternyata dia adalah senior yang dulu pernah sempat bertemu denganku ketika aku dan Fafa CFD bersama. Aku hampir lupa namanya,tapi dia ingat aku….
          “Kayak pernah lihat?Aku kayaknya dulu pernah ketemu kamu deh?”
          “Yang waktu CFD itu bukan kak?”
       “Oh iya iya aku inget,kamu pacarnya Fafa kan?Kalau nggak salah kamu yang namanya pijam apa sih jambu gitu?oh itu eeehhhh….pipi jambu?iya kan?”
       “Kamu kenal dia Di?Namanya kan Arlisa Meiy…”tanya panitia yang sedang mengetes diriku
        “Duh Pak!dia tuh pipi jambu yang sering dicurhatin Fafa itu purna paskibraka tahun kemarin…Intinya sih cewek ini pacarnya Fafa,iya kan?”Tanya Kak Adi padaku
          “Eh…Hehehhee…”Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Namun pak panitia yang sedang menyeleksi berbisik di telinga Kak Adi seolah sedang membicarakanku. Kak Adi terlihat begitu serius menanggapi apa yang bapak itu bisikkan. Aku hanya terdiam sembari menunggu mereka selesai berbicara.
          “Ciyeeeee ikut paskib,mau nyari kesempatan apa mau ngikutin jejak pacar nih?Hahaha semangat ya dek. Nggak usah tegang,paling nanti juga kesenengan kamu karena yang bantu ngelatih kan pacar kamu…”
          “Oh hmmmm…Hehehe…”
          “Udah ya…aku keluar dulu ada urusan penting!Selamat berjuang”
      Aku tersenyum dan ku lanjutkan penampilanku. Setelah semua peserta selesai unjuk penampilan,panitia mengumpulkan semua peserta untuk memberikan pengarahan tentang pengumuman siapa aja peserta yang lolos seleksi paksibraka. Peserta yang tidak lolos seleksi nantinya diminta untuk tidak berkecil hati dan tetap semangat karena tahun depan masih ada seleksi paskib lagi. Setelah selesai memberikan pengarahan proses seleksi kali ini disudahi. Para peserta kembali pulang ke rumah masing-masing atau melanjutkan ke sekolahan itu pilihan mereka. Yang pasti aku akan pulang karena aku gampang sekali yang namanya kecapekan. Saat aku menunggu jemputan dari mas Rizal di luar stadion,aku mendengar suara yang sepertinya tak asing di telingaku…
          “Mbuuuuu…..”
          Aku menoleh ke arah asal suara,Fafa berlari mendekatiku
          “Fafa?”
          “Kamu dimana aja sih?Aku cariin dari tadi nggak ada.”
          “Lha,kamu sendiri dimana?Aku nyarinya dari kemarin malah…”
          “Aku berangkat agak siang kemarin jadi aku nggak ikut nyeleksi dari awal”
          “Ohhh gitu….?”
          “Terus sekarang kamu mau kemana?”
          “Mau pulang…kenapa?”
          “Aku anterin yah,tunggu aku disini?”
          “Eh…eh… nggak usah nggak usah. Aku udah sms mas Rizal kok. Kamu selesaiin dulu urusan kamu… Aku nggak enak kalau diomongin sama temen-temen kamu. Entar aku dikira yang nyuruh kamu… Kamu masuk lagi aja ke sana,aku nunggu sendirian disini nggak apa-apa kok”
        “Oh yaudah deh,aku masuk dulu ya?Jangan lupa berdoa dan tawakal ya biar aku bisa cepet ngelatih kamu…”
         “Kan belum tentu yang nglatih kamu…” Tin tin…suara klakson motor mas Rizal menghentikan pembicaraanku dengan Fafa. Aku pun berpamitan dengannya. Di perjalanan mas Rizal menanyakanku tentang siapa tadi yang sedang bicara padaku. Ku jawab saja kalau dia itu pacarku yang bernama Fafa,seorang purna paskibraka tahun lalu. Mas Rizal malah mengira kalau Fafa itu adalah Raka. Oh iya,btw kenapa aku tak melihat Raka ya tadi?sedari kemarin aku tak bertemu,bahkan melihat keberadaannya pun tidak sama sekali. Atau jangan-jangan dia memang sengaja tak ikut menyeleksi hanya karena tak enak hati ada Fafa? Aku tak mau tau. Aku sudah move on dari dia dan tak ingin membahasnya lagi.
                                   ***
      Hari ini adalah pengumuman hasil seleksi. Aku berangkat menuju GOR dengan perasaan deg-degan. Sebenarnya sih aku malah keberatan jika lolos seleksi karena pasti nantinya tim PPI akan menggonjlok atau mengomporiku dengan Fafa. Atau bahkan dikerjain dan dibikin malu dengan mereka?Haha entahlah…aku harus tetap berkhusnudzon. Sesampainya disana,aku bertemu Tria. Kami berjalan menuju stadion dengan perasaan gelisah menunggu hasil pengumuman. Setelah semua peserta datang ,panitia mengumumkan hasil seleksi melalui kertas yang terpampang pada pengumuman. Aku dan Tria berjalan menuju kesana mencari nama masing-masing. Terpampang ‘Arlisa Meiyufita’ di atas kertas putih yang tak sengaja ku baca. Aku mengucap hamdalah dan syukur kepada Sang Maha Kuasa. Tria juga lolos seleksi. Kami saling berpelukan dan para peserta saling bersalaman untuk mengucapkan selamat. 
       Alhamdulillah,semua siswa yang ditunjuk sebagai perwakilan dari sekolahku lolos seleksi semua. Jadi artinya aku sekarang adalah calon paskibraka kabupaten. Amanah yang akan ku emban begitu besar. Tanggung jawab dan kepercayaan dari panitia,orang tuaku dan kebangsaanku berada dipundakku sekarang. Aku takut tak bisa menjalankan tugas namun Fafa dan Kak Adi terus memberiku semangat. Disana ada juga Marjo. Dia tak menyangka kalau aku nantinya akan jadi juniornya. Padahal aku,Fafa dan Marjo seumuran. Setelah melihat pengumuman,panitia menghimbau para peserta agar tidak meninggalkan stadion terlebih dahulu karena akan ada pengarahan yang cukup penting yang berguna untuk latihan bulan depan. Latihan baru akan dimulai setelah libur Ramadan dan Idul Fitri. Aku fikir aku akan dikarantina ketika bulan puasa. Setelah usai,aku pulang dengan perasaan tak percaya bahwa aku lolos seleksi. Berjalan pulang dalam lamunan hingga seseorang baru saja mengagetkanku…
          “Baaaa!!!”
          “Eh copot!!!eh!iiiihhhhh kamu apa-apaan sih Tria?ngagetin aja!”
          “Ciyeeee yang mau dilatih sama pacar sendiri???”
          “Ih,enggak juga kali?emang kamu tau pacarku?”
          “Tau kok,yang tinggi item itu kan?yang tadi barusan ngobrol sama kamu waktu ngeliat hasil pengumuman?”
          “Iiiiihhh….enggak kok!”
        “Enggak salah kan?Jujur aja lah,nggak apa-apa kok lagian juga orangnya cukup ideal buat dijadiin calon pacar. Tapi aku nggak akan ngerebut kok”
       “Hahaha….lagian juga aku malah nggak enak kalau ketemu dia. Takut nggak fokus,ia”
          “Yaaa itu berarti tantangan buat kamu,biar kamu lebih fokus nantinya. Kamu harus bisa ngontrol perasaan bapermu. Jangan sampai perasaan baper mengelabuhi seluruh hatimu. Boleh baper kalau udah selesai latihan”
          “Iya deh. Nanti akan aku coba kalau kita udah latihan”
          “Oh iya,kamu mau pulang kan?Mau aku anterin,Meiy?”
          “Udah nggak usah repot-repot,Ia. Aku udah sms kakakku kok buat jemput aku”
          “Oh gitu,yaudah aku duluan ya?Dah……”
                                      ***
        Hari ini adalah hari berkurangnya umurku. Tepat di hari ini umurku tujuh belas tahun. Sudah tidak seperti anak kecil tapi belum tentu dewasa juga. Yang pasti diumurku yang ke tujuh belas ini aku akan menjadikan diriku yang lebih baik dari sebelumnya. Jam 12 malam tadi,keluargaku memberiku surprise. Aku sangat senang sekali. Bagi mereka,aku lulus seleksi paskib adalah kado terindah dan kebanggaan buat keluarga. Aku terharu dan terenyuh akan ucapan dari mereka. Disaat ku buka ponselku untuk mengabadikan momen itu,terlihat banyak notif memenuhi berandaku. Banyak teman yang mengucapkan ucapan selamat ultah kepadaku. Dan yang nomor satu adalah Fafa. Dia bahkan memasang foto profil dirinya yang sedang di puncak gunung sambil membawa kertas bertuliskan selamat ulang tahun untukku. Aku merasa spesial dan istimewa di matanya. Seumur-umur aku belum pernah diucapkan salam dari puncak pegunungan begini. Banyak harapan dan doa dari para sahabatku yang ku harap dengan pasti semua akan terkabul. Aku berjanji pada diriku sendiri aku tidak akan mengecewakan orang-orang yang menyayangiku dan yang kusayangi.
      Saat berangkat di sekolah pun,teman-teman sekelas mengucapkan selamat ultah padaku. Aku bahkan tak menyangka bila mereka ingat ultahku. Banyak yang meminta traktiran namun kebetulan sekali pada hari itu aku sedang berpuasa sunah. Hal ini ku sengaja agar nantinya teman-teman tak akan mengerjaiku. Di samping memberikan ucapan selamat ultah,para sahabatku juga memberiku kado. Ada yang besar,ada yang kecil,semuanya ku terima dengan senang hati.
      Setelah pulang sekolah,aku menerima pesan dari Fafa bahwa hari ini dia akan memberiku kejutan. Aku sangat mengiyakannya. Ku tunggu ia di gerbang tempatku kursus karena kebetulan sore ini aku ada kursus. Dua hari ke depan aku akan menghadapi Ulangan Akhir Semester di kelas sebelas. Ini babak penentuan yang nantinya akan memengaruhi nasibku di kelas dua belas. Aku harus mempersiapkannya matang-matang. Usai les ku tunggu dia di teras tempatku kursus. Ku nanti dia lebih dari 30 menit. Aku semakin cemas karena hari semakin sore. Satu pesan ku terima katanya dia sudah sampai. Aku keluar gerbang. Tak ku lihat tanda kehadirannya. Tiba-tiba saat aku menghadapkan mataku ke arah barat,seseorang menutup mataku dari belakang. Aku panik dan mencoba berteriak. Aku pikir aku akan diculik,dan ternyata saat tangannya terlepas satu bunga mawar di depan mataku dan satu ciuman mendarat di pipiku…
          “Selamat Ulang Tahun,sayang…?”
Aku kaget. Super kaget. Aku speechless. Sangat speechless. Ini di pinggir jalan gang besar. Untung tak ada orang yang lihat ataupun lewat. Dia memandangku dengan senyuman yang sangat manis. Aku masih tak percaya akan perlakuan yang ia berikan. Ku kedipkan mataku dan ku terima bunga mawar berwarna pink darinya. Aku tak bisa berkata apa-apa selain terima kasih padanya.
          “Fafa ….???kamu apa-apaan sih bikin aku kaget segala?”
           “Ini kan surprise sayang?Yaaaa meskipun nggak pakai roti atau apa tapi kesannya romantis. Karena aku pikir kalau ku kasih roti nanti kamu jadi tambah gendut. Capaska harus menjaga berat badan,kan?”
      “Ih!pengertian banget sih pacarku ini?jadi makin sayang…(sambil mencubit hidungnya)Ciyeee….kaos yang aku kasih dipake..??”
          “Iya sengaja aku pake,biar kamunya seneng. Dah yuk pulang sekarang,udah sore nih?”
        Kami akhirnya pulang. Aku tak bisa memeluknya seperti biasa ketika di motor karena aku membawa banyak hadiah dari para sahabatku. Karena jarak dari rumah menuju tempat kursusku lumayan dekat,sepuluh menit dia sampai di gang dekat rumahku. Sebelum dia pergi dia mengambil sesuatu dari tasnya. Sepertinya ini kado tapi dia bilang ini hanya oleh-oleh darinya sepulang dari PKL di Dealer daerah Pati milik pamanku seminggu yang lalu. Aku sangat berterima kasih padanya. Dia membalasnya dengan mencubit dan memegang pipiku. Lalu dia kembali pulang dan meninggalkanku sendirian di gang. Aku berjalan menuju rumah dengan keberatan membawa barang bawaanku. 
       Sesampainya di rumah,aku terkejut dengan sebuah motor beat warna hitam terpampang di ruang tamuku. Aku pikir ini motor tamu atau siapa ternyata ini adalah hadiah dari ayahku. Begitu ayahku keluar ku peluk dia. Di bawah plat nomor bertuliskan ‘MEME’ yang artinya motor ini milikku. Aku sangat-sangat berterimakasih padanya. Katanya hadiah ini biar aku latihan paskibnya gampang,jadi mas Rizal tidak perlu repot-repot lagi mengantar jemputku. Aku tak henti-hentinya mengucap syukur pada Sang Kuasa atas pelimpahan dan pemberian nikmat yang begitu tiada tara.
      Tak hanya hadiah yang ku terima,kejutan juga datang dari para sahabatku. Shasha,Aulin,Arin dan Riani datang ke rumahku untuk merayakan ultahku. Mereka memberiku donat ultah,menjahiliku dan mengerjaiku. Mereka juga menghias ruang tamuku layaknya dekorasi perayaan ultah anak muda jaman sekarang. Sebagai balasannya,ayahku mentraktir mereka sebuah bakso lengkap dengan pangsit. Kami makan bersama dan berfoto selfie..
          “Eh Meiy….ngomong-ngomong kamu gak dikasih surprise sama Fafa?”
          “Dia udah ngasih surprise kok tadi sore.”
          “Hah serius Meiy?Surprise apa?”Tanya Aulin
          “Tuh ada di kamar surprisenya”
          “Eh temen-temen yuk kita lihat kira-kira Fafa ngasih apa ya ke Meiy???”
Saat sesampainya di kamar,aku tunjukkan barang yang Fafa berikan padaku kepada mereka…
          “Jadi???Cuma ini Meiy?”Tanya Arin
          “Iyya,emang kenapa?yang penting kan kejutannya?”
          “Cuma cokelat sama baju?”Tanya Riani
          “Ada,bunga mawar yang ku minta juga dia udah kasih ke aku tadi sore.”
          “Kok aku jadi takut gini ya?”Heran Shasha
          “Emang kenapa,sha?”
          “Enggak deh Meiy,nggak apa-apa kok”
          “Sha,nggak usah bikin takut kita gini deh. Emangnya ada apa?”Tanya Aulin
          “Jadi kalian nggak tau?”
          “Nggak tau soal apa?”
          “Kalau misal kita dapet hadiah dari pacar dan hadiah itu berupa pakaian,cepat atau lambat hubungan mereka bisa berakhir….”
          “Hah?Eh Sha,nggak usah ngaco deh kamu!teori darimana coba?”Bantah Riani
       “Ih!aku serius tau. Kalian sih nggak pengalaman soal hadiah gini. Pokoknya saranku ya,kalau kalian mau ngasih kado ke orang jangan sampe ngado sapu tangan sama baju. Soalnya itu semua pertanda buruk”jelas Shasha
       “Yahhh mitos kali,masak iya sih ngasih baju ke pacar bikin hubungan cepet putus?”Heran Aulin
        “Tapi iya juga masak pacarku ngedoain gitu sih?Siapa tau dia emang pengen ngasih ini? Dia juga bilang tadi kalau baju ini cuma oleh-oleh bukan hadiah…”
       “Lagian ya Meiy,masak sih kamu ultah nggak dikasih kado malah dikasih oleh-oleh?Nggak masuk akal juga kan?”tanya Arin
        “Paling Fafa lagi bokek kali,Rin. Siapa tau setelah ini dia ngasih surprise lagi sama Meiy??”bela Aulin
      “Duhhh!!udah deh kalian!yang penting intinya dia udah inget,dia udah ngasih surprise,dia udah menuhin apa yang ku minta aku udah seneng kok… Lagian juga kalian sukanya ngedoain orang biar cepet putus mulu…”
        “Bukan gitu,Meiy. Aku nggak bermaksud ngedoain biar kamu cepet putus ,tapi ini mitos udah banyak lho yang terbukti… Aku cuma takut aja,tapi aku selalu ngedoain yang terbaik kok buat hubunganmu sama Fafa kedepannya…”
        “Iya,Meiy. Kita udah ngedukung kok. Kamu nggak usah khawatir”
      Mereka berempat memelukku. Namun aku masih memikirkan apa yang dikatakan Shasha. Apa benar mitos itu akan menjadi kenyataan?

                                    ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar