Hari berikutnya adalah seleksi tes akademik. Tak hanya itu,para
peserta juga akan diinterview dan diminta untuk menampilkan bakat serta keterampilan
yang dimiliki. Aku sudah belajar semalam dan latihan keterampilan apa yang
nanti akan aku tampilkan. Aku berangkat dari rumah menuju ke GOR diantar mas
Rizal. Orangtuaku memang belum mengijinkanku mengendarai sepeda motor sebelum
aku cukup umur. Ibuku saja mau menyetujui kalau aku ikut paskib asalkan aku diantar
jemput oleh Mas Rizal. Walaupun di antar jemput,aku tidak manja. Terkadang aku
diam-diam meminta mas Rizal agar biar aku saja yang memboncengkannya. Mas Rizal tak keberatan dan justru malah
mendukungku.
Setelah sampai di TKP,aku berpamitan pada Mas Rizal sambil berkata….
“Mas,doain aku ya
biar aku bisa ngerjain tes nantinya?”
“Iya pasti aku doain
kok. Sekarang sudah saatnya kamu mewujudkan mimpi ayah dan juga kakakmu. Semoga
berhasil ya?”
“Mas Rizal nggak
apa-apa kan?”
“Enggak kok. Justru
mas Rizal malah seneng kamu bisa jadi paskib padahal kamu kan anaknya manja…
Hahaha… udah gih sana,nanti dimarahin panitia lho!”
“Hahaha….oke
mas,makasih ya doanya?”
Ku lambaikan tangan
pada mas Rizal dan bergegas memasuki stadion. Aku mencari peserta dari
perwakilan sekolahku. Namun lagi-lagi aku ketemu dengan Tria,cewek yang kemarin
mengajakku berkenalan.
“Hai…..Meiy….
sendirian aja?Temenmu mana?”
“Hai…. Tria…emmmm iya
ini aku lagi nyari nih?Kayaknya pada belum dateng deh!”
“Eh nanti kamu
duduknya jejeran sama aku ya?Ya nggak jejer juga sih maksudnya sebaris sama
aku…ya boleh ya?”
“Iyya boleh kok.
Emang dari perwakilan sekolahmu cuma kamu doang ya?”
“Enggak sih,ada lima
kok. Yang empat cowok semua,dan aku cewek sendiri. Makanya aku nyari temen
cewek. Kamu sendiri gimana?”
“Dari sekolahku ada
delapan orang yang ikut. 5 cowok 3 cewek. Dan mayoritas yang ikut anak ekskul
PBN semua. Cuma aku dan Esta yang bukan anak PBN tapi ikut seleksi paskib”
“Kalau aku semuanya anak
ekskul paskibra termasuk aku. Tapi kamu tenang aja,ekskul paskib di sekolahku
jarang ada yang ngajar kok. Kita sama-sama berjuang nantinya ya?Yuk kita duduk
ke sebelah sana!Udah mulai tuh kayaknya”
Aku dan Tria bergegas
menuju tempat duduk yang biasa dipakai pengunjung untuk melihat pertandingan
sepak bola karena tempat tes diadakan disitu. Tes akademik dimulai. Panitia
membagikan soal. Soal tersebut isinya tentang materi seputar kewarganegaraan
dan hal-hal mengenai nasionalisme dan patriotisme. Kami seperti sedang ujian.
Dijaga oleh beberapa orang panitia yang berdiri di sisi kanan,kiri,depan dan
belakang tempat ujian peserta. Sebanyak apapun panitia yang menjaga,aku tak
peduli. Aku tetap fokus mengerjakan soal. Setelah tes akademik selesai,tes
selanjutnya yaitu tes wawancara. Ini bukan wawancara biasa tapi lebih ke
interview. Para peserta harus menjawabnya dengan menggunakan bahasa
inggris. Cukup sulit memang tapi pertanyaan yang diajukan cukup mudah untuk
dijawab kok. Hanya seputar data diri,cita-cita dan bakat yang dimiliki atau
hobi.
Setelah itu ada tes bakat dan keterampilan. Banyak yang menampilkan bakat
menyanyi,termasuk aku. Ada juga yang bermain gitar,membaca puisi atau
memperagakan teknik taekwondo. Ya semuanya tergantung dari masing-masing
peserta. Saat aku menampilkan bakatku,seorang panitia tiba-tiba masuk ke dalam
ruangan dan melihatku. Ternyata dia adalah senior yang dulu pernah sempat
bertemu denganku ketika aku dan Fafa CFD bersama. Aku hampir lupa namanya,tapi
dia ingat aku….
“Kayak pernah
lihat?Aku kayaknya dulu pernah ketemu kamu deh?”
“Yang waktu CFD itu
bukan kak?”
“Oh iya iya aku
inget,kamu pacarnya Fafa kan?Kalau nggak salah kamu yang namanya pijam apa sih
jambu gitu?oh itu eeehhhh….pipi jambu?iya kan?”
“Kamu kenal dia
Di?Namanya kan Arlisa Meiy…”tanya panitia yang sedang mengetes diriku
“Duh Pak!dia tuh pipi
jambu yang sering dicurhatin Fafa itu purna paskibraka tahun kemarin…Intinya
sih cewek ini pacarnya Fafa,iya kan?”Tanya Kak Adi padaku
“Eh…Hehehhee…”Aku
hanya tersenyum dan mengangguk. Namun pak panitia yang sedang menyeleksi
berbisik di telinga Kak Adi seolah sedang membicarakanku. Kak Adi terlihat
begitu serius menanggapi apa yang bapak itu bisikkan. Aku hanya terdiam sembari
menunggu mereka selesai berbicara.
“Ciyeeeee ikut
paskib,mau nyari kesempatan apa mau ngikutin jejak pacar nih?Hahaha semangat ya
dek. Nggak usah tegang,paling nanti juga kesenengan kamu karena yang bantu
ngelatih kan pacar kamu…”
“Oh hmmmm…Hehehe…”
“Udah ya…aku keluar
dulu ada urusan penting!Selamat berjuang”
Aku tersenyum dan ku
lanjutkan penampilanku. Setelah semua peserta selesai unjuk penampilan,panitia
mengumpulkan semua peserta untuk memberikan pengarahan tentang pengumuman siapa
aja peserta yang lolos seleksi paksibraka. Peserta yang tidak lolos seleksi
nantinya diminta untuk tidak berkecil hati dan tetap semangat karena tahun
depan masih ada seleksi paskib lagi. Setelah selesai memberikan pengarahan
proses seleksi kali ini disudahi. Para peserta kembali pulang ke rumah masing-masing
atau melanjutkan ke sekolahan itu pilihan mereka. Yang pasti aku akan pulang
karena aku gampang sekali yang namanya kecapekan. Saat aku menunggu jemputan dari
mas Rizal di luar stadion,aku mendengar suara yang sepertinya tak asing di
telingaku…
“Mbuuuuu…..”
Aku menoleh ke arah
asal suara,Fafa berlari mendekatiku
“Fafa?”
“Kamu dimana aja
sih?Aku cariin dari tadi nggak ada.”
“Lha,kamu sendiri
dimana?Aku nyarinya dari kemarin malah…”
“Aku berangkat agak
siang kemarin jadi aku nggak ikut nyeleksi dari awal”
“Ohhh gitu….?”
“Terus sekarang kamu
mau kemana?”
“Mau pulang…kenapa?”
“Aku anterin
yah,tunggu aku disini?”
“Eh…eh… nggak usah
nggak usah. Aku udah sms mas Rizal kok. Kamu selesaiin dulu urusan kamu… Aku
nggak enak kalau diomongin sama temen-temen kamu. Entar aku dikira yang nyuruh
kamu… Kamu masuk lagi aja ke sana,aku nunggu sendirian disini nggak apa-apa
kok”
“Oh yaudah deh,aku
masuk dulu ya?Jangan lupa berdoa dan tawakal ya biar aku bisa cepet ngelatih
kamu…”
“Kan belum tentu yang
nglatih kamu…” Tin tin…suara klakson motor mas Rizal menghentikan pembicaraanku
dengan Fafa. Aku pun berpamitan dengannya. Di perjalanan mas Rizal menanyakanku
tentang siapa tadi yang sedang bicara padaku. Ku jawab saja kalau dia itu
pacarku yang bernama Fafa,seorang purna paskibraka tahun lalu. Mas Rizal malah
mengira kalau Fafa itu adalah Raka. Oh iya,btw kenapa aku tak melihat Raka ya
tadi?sedari kemarin aku tak bertemu,bahkan melihat keberadaannya pun tidak sama
sekali. Atau jangan-jangan dia memang sengaja tak ikut menyeleksi hanya karena
tak enak hati ada Fafa? Aku tak mau tau. Aku sudah move on dari dia dan tak
ingin membahasnya lagi.
***
Hari ini adalah
pengumuman hasil seleksi. Aku berangkat menuju GOR dengan perasaan deg-degan.
Sebenarnya sih aku malah keberatan jika lolos seleksi karena pasti nantinya tim
PPI akan menggonjlok atau mengomporiku dengan Fafa. Atau bahkan dikerjain dan
dibikin malu dengan mereka?Haha entahlah…aku harus tetap berkhusnudzon. Sesampainya
disana,aku bertemu Tria. Kami berjalan menuju stadion dengan perasaan gelisah
menunggu hasil pengumuman. Setelah semua peserta datang ,panitia mengumumkan
hasil seleksi melalui kertas yang terpampang pada pengumuman. Aku dan Tria
berjalan menuju kesana mencari nama masing-masing. Terpampang ‘Arlisa
Meiyufita’ di atas kertas putih yang tak sengaja ku baca. Aku mengucap hamdalah
dan syukur kepada Sang Maha Kuasa. Tria juga lolos seleksi. Kami saling
berpelukan dan para peserta saling bersalaman untuk mengucapkan selamat.
Alhamdulillah,semua siswa yang ditunjuk sebagai perwakilan dari sekolahku lolos
seleksi semua. Jadi artinya aku sekarang adalah calon paskibraka kabupaten.
Amanah yang akan ku emban begitu besar. Tanggung jawab dan kepercayaan dari
panitia,orang tuaku dan kebangsaanku berada dipundakku sekarang. Aku takut tak
bisa menjalankan tugas namun Fafa dan Kak Adi terus memberiku semangat. Disana
ada juga Marjo. Dia tak menyangka kalau aku nantinya akan jadi juniornya.
Padahal aku,Fafa dan Marjo seumuran. Setelah melihat pengumuman,panitia
menghimbau para peserta agar tidak meninggalkan stadion terlebih dahulu karena
akan ada pengarahan yang cukup penting yang berguna untuk latihan bulan depan.
Latihan baru akan dimulai setelah libur Ramadan dan Idul Fitri. Aku fikir aku
akan dikarantina ketika bulan puasa. Setelah usai,aku pulang dengan perasaan
tak percaya bahwa aku lolos seleksi. Berjalan pulang dalam lamunan hingga
seseorang baru saja mengagetkanku…
“Baaaa!!!”
“Eh
copot!!!eh!iiiihhhhh kamu apa-apaan sih Tria?ngagetin aja!”
“Ciyeeee yang mau
dilatih sama pacar sendiri???”
“Ih,enggak juga
kali?emang kamu tau pacarku?”
“Tau kok,yang tinggi
item itu kan?yang tadi barusan ngobrol sama kamu waktu ngeliat hasil
pengumuman?”
“Iiiiihhh….enggak kok!”
“Enggak salah
kan?Jujur aja lah,nggak apa-apa kok lagian juga orangnya cukup ideal buat
dijadiin calon pacar. Tapi aku nggak akan ngerebut kok”
“Hahaha….lagian juga
aku malah nggak enak kalau ketemu dia. Takut nggak fokus,ia”
“Yaaa itu berarti tantangan
buat kamu,biar kamu lebih fokus nantinya. Kamu harus bisa ngontrol perasaan
bapermu. Jangan sampai perasaan baper mengelabuhi seluruh hatimu. Boleh baper
kalau udah selesai latihan”
“Iya deh. Nanti akan
aku coba kalau kita udah latihan”
“Oh iya,kamu mau
pulang kan?Mau aku anterin,Meiy?”
“Udah nggak usah
repot-repot,Ia. Aku udah sms kakakku kok buat jemput aku”
“Oh gitu,yaudah aku
duluan ya?Dah……”
***
Hari ini adalah hari
berkurangnya umurku. Tepat di hari ini umurku tujuh belas tahun. Sudah tidak
seperti anak kecil tapi belum tentu dewasa juga. Yang pasti diumurku yang ke
tujuh belas ini aku akan menjadikan diriku yang lebih baik dari sebelumnya. Jam
12 malam tadi,keluargaku memberiku surprise. Aku sangat senang sekali. Bagi
mereka,aku lulus seleksi paskib adalah kado terindah dan kebanggaan buat
keluarga. Aku terharu dan terenyuh akan ucapan dari mereka. Disaat ku buka
ponselku untuk mengabadikan momen itu,terlihat banyak notif memenuhi berandaku.
Banyak teman yang mengucapkan ucapan selamat ultah kepadaku. Dan yang nomor
satu adalah Fafa. Dia bahkan memasang foto profil dirinya yang sedang di puncak
gunung sambil membawa kertas bertuliskan selamat ulang tahun untukku. Aku
merasa spesial dan istimewa di matanya. Seumur-umur aku belum pernah diucapkan
salam dari puncak pegunungan begini. Banyak harapan dan doa dari para sahabatku
yang ku harap dengan pasti semua akan terkabul. Aku berjanji pada diriku
sendiri aku tidak akan mengecewakan orang-orang yang menyayangiku dan yang
kusayangi.
Saat berangkat di
sekolah pun,teman-teman sekelas mengucapkan selamat ultah padaku. Aku bahkan
tak menyangka bila mereka ingat ultahku. Banyak yang meminta traktiran namun
kebetulan sekali pada hari itu aku sedang berpuasa sunah. Hal ini ku sengaja
agar nantinya teman-teman tak akan mengerjaiku. Di samping memberikan ucapan
selamat ultah,para sahabatku juga memberiku kado. Ada yang besar,ada yang
kecil,semuanya ku terima dengan senang hati.
Setelah pulang
sekolah,aku menerima pesan dari Fafa bahwa hari ini dia akan memberiku kejutan.
Aku sangat mengiyakannya. Ku tunggu ia di gerbang tempatku kursus karena kebetulan
sore ini aku ada kursus. Dua hari ke depan aku akan menghadapi Ulangan Akhir
Semester di kelas sebelas. Ini babak penentuan yang nantinya akan memengaruhi
nasibku di kelas dua belas. Aku harus mempersiapkannya matang-matang. Usai les
ku tunggu dia di teras tempatku kursus. Ku nanti dia lebih dari 30 menit. Aku
semakin cemas karena hari semakin sore. Satu pesan ku terima katanya dia sudah
sampai. Aku keluar gerbang. Tak ku lihat tanda kehadirannya. Tiba-tiba saat aku
menghadapkan mataku ke arah barat,seseorang menutup mataku dari belakang. Aku
panik dan mencoba berteriak. Aku pikir aku akan diculik,dan ternyata saat
tangannya terlepas satu bunga mawar di depan mataku dan satu ciuman mendarat di
pipiku…
“Selamat Ulang
Tahun,sayang…?”
Aku kaget. Super kaget. Aku speechless. Sangat speechless. Ini di
pinggir jalan gang besar. Untung tak ada orang yang lihat ataupun lewat. Dia
memandangku dengan senyuman yang sangat manis. Aku masih tak percaya akan
perlakuan yang ia berikan. Ku kedipkan mataku dan ku terima bunga mawar
berwarna pink darinya. Aku tak bisa berkata apa-apa selain terima kasih
padanya.
“Fafa ….???kamu
apa-apaan sih bikin aku kaget segala?”
“Ini kan surprise
sayang?Yaaaa meskipun nggak pakai roti atau apa tapi kesannya romantis. Karena
aku pikir kalau ku kasih roti nanti kamu jadi tambah gendut. Capaska harus
menjaga berat badan,kan?”
“Ih!pengertian banget
sih pacarku ini?jadi makin sayang…(sambil mencubit hidungnya)Ciyeee….kaos yang
aku kasih dipake..??”
“Iya sengaja aku
pake,biar kamunya seneng. Dah yuk pulang sekarang,udah sore nih?”
Kami akhirnya pulang.
Aku tak bisa memeluknya seperti biasa ketika di motor karena aku membawa banyak
hadiah dari para sahabatku. Karena jarak dari rumah menuju tempat kursusku
lumayan dekat,sepuluh menit dia sampai di gang dekat rumahku. Sebelum dia pergi
dia mengambil sesuatu dari tasnya. Sepertinya ini kado tapi dia bilang ini
hanya oleh-oleh darinya sepulang dari PKL di Dealer daerah Pati milik pamanku
seminggu yang lalu. Aku sangat berterima kasih padanya. Dia membalasnya dengan
mencubit dan memegang pipiku. Lalu dia kembali pulang dan meninggalkanku
sendirian di gang. Aku berjalan menuju rumah dengan keberatan membawa barang
bawaanku.
Sesampainya di rumah,aku terkejut dengan sebuah motor beat warna hitam
terpampang di ruang tamuku. Aku pikir ini motor tamu atau siapa ternyata ini
adalah hadiah dari ayahku. Begitu ayahku keluar ku peluk dia. Di bawah plat
nomor bertuliskan ‘MEME’ yang artinya motor ini milikku. Aku sangat-sangat
berterimakasih padanya. Katanya hadiah ini biar aku latihan paskibnya gampang,jadi
mas Rizal tidak perlu repot-repot lagi mengantar jemputku. Aku tak
henti-hentinya mengucap syukur pada Sang Kuasa atas pelimpahan dan pemberian nikmat
yang begitu tiada tara.
Tak hanya hadiah yang
ku terima,kejutan juga datang dari para sahabatku. Shasha,Aulin,Arin dan Riani
datang ke rumahku untuk merayakan ultahku. Mereka memberiku donat ultah,menjahiliku
dan mengerjaiku. Mereka juga menghias ruang tamuku layaknya dekorasi perayaan
ultah anak muda jaman sekarang. Sebagai balasannya,ayahku mentraktir mereka
sebuah bakso lengkap dengan pangsit. Kami makan bersama dan berfoto selfie..
“Eh
Meiy….ngomong-ngomong kamu gak dikasih surprise sama Fafa?”
“Dia udah ngasih
surprise kok tadi sore.”
“Hah serius
Meiy?Surprise apa?”Tanya Aulin
“Tuh ada di kamar
surprisenya”
“Eh temen-temen yuk
kita lihat kira-kira Fafa ngasih apa ya ke Meiy???”
Saat sesampainya di kamar,aku tunjukkan barang yang Fafa berikan
padaku kepada mereka…
“Jadi???Cuma ini
Meiy?”Tanya Arin
“Iyya,emang
kenapa?yang penting kan kejutannya?”
“Cuma cokelat sama
baju?”Tanya Riani
“Ada,bunga mawar yang
ku minta juga dia udah kasih ke aku tadi sore.”
“Kok aku jadi takut
gini ya?”Heran Shasha
“Emang kenapa,sha?”
“Enggak deh
Meiy,nggak apa-apa kok”
“Sha,nggak usah bikin
takut kita gini deh. Emangnya ada apa?”Tanya Aulin
“Jadi kalian nggak
tau?”
“Nggak tau soal apa?”
“Kalau misal kita
dapet hadiah dari pacar dan hadiah itu berupa pakaian,cepat atau lambat
hubungan mereka bisa berakhir….”
“Hah?Eh Sha,nggak
usah ngaco deh kamu!teori darimana coba?”Bantah Riani
“Ih!aku serius tau.
Kalian sih nggak pengalaman soal hadiah gini. Pokoknya saranku ya,kalau kalian
mau ngasih kado ke orang jangan sampe ngado sapu tangan sama baju. Soalnya itu
semua pertanda buruk”jelas Shasha
“Yahhh mitos
kali,masak iya sih ngasih baju ke pacar bikin hubungan cepet putus?”Heran Aulin
“Tapi iya juga masak
pacarku ngedoain gitu sih?Siapa tau dia emang pengen ngasih ini? Dia juga
bilang tadi kalau baju ini cuma oleh-oleh bukan hadiah…”
“Lagian ya Meiy,masak
sih kamu ultah nggak dikasih kado malah dikasih oleh-oleh?Nggak masuk akal juga
kan?”tanya Arin
“Paling Fafa lagi
bokek kali,Rin. Siapa tau setelah ini dia ngasih surprise lagi sama Meiy??”bela
Aulin
“Duhhh!!udah deh
kalian!yang penting intinya dia udah inget,dia udah ngasih surprise,dia udah
menuhin apa yang ku minta aku udah seneng kok… Lagian juga kalian sukanya ngedoain
orang biar cepet putus mulu…”
“Bukan gitu,Meiy. Aku
nggak bermaksud ngedoain biar kamu cepet putus ,tapi ini mitos udah banyak lho
yang terbukti… Aku cuma takut aja,tapi aku selalu ngedoain yang terbaik kok
buat hubunganmu sama Fafa kedepannya…”
“Iya,Meiy. Kita udah
ngedukung kok. Kamu nggak usah khawatir”
Mereka berempat
memelukku. Namun aku masih memikirkan apa yang dikatakan Shasha. Apa benar
mitos itu akan menjadi kenyataan?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar