Selasa, 20 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Salam dari Bumi Perkemahan

      Sudah tiga hari ini Fafa tak menghubungiku. Aku sudah mengirimkannya pesan BBM namun bertanda centang tiga hari ini. Apa dia tidak memiliki kuota atau memang dia sedang sibuk kegiatan? Entahlah. Selain BBM,aku juga mengirimkannya pesan SMS. Namun aku sama sekali tak menerima balasan darinya. Ku coba menelponnya namun lagi-lagi tak ada tanda bahwa nomernya aktif. Aku jadi semakin mengkhawatirkannya. Apa dia sebegitu marahnya sama aku sampai-sampai dia tak menghubungiku selama ini? Apa aku sudah tak dianggap sebagai pacarnya lagi? Apa dia memutuskanku secara sepihak? Kalau kata putus sepertinya tak pernah terlontar dari mulutnya walaupun ketika kami bertengkar hanya karena urusan sepele. Dia selalu mau mengalah demi aku. Dia selalu memaklumi kesalahanku. Aku merasa kasihan padanya. 
      Namun siapa peduli?seenaknya saja dia kemarin menelantarkanku seperti itu. Bukankah seorang paskibraka seharusnya menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan juga kehormatan seorang wanita yang dicintainya?Ya aku memang berlebihan. Coba aja kalau aku bukan pacarnya pasti aku tidak akan semena-mena ini. Aku pasrah jika dia memutuskanku hanya karena urusan sepele seperti kemarin. Seharusnya yang salah itu dia. Andai aku tau dia harus latihan saat itu juga,kenapa dia tidak inisiatif mengantarkanku pulang? Kalau saja dia berani memutuskan hubungan hanya gara-gara masalah ini,itu tandanya dia seorang pengecut. Tidak berani berjuang. Berjuang mempertahankan hubungan yang sudah tiga hari ini agak renggang.
      Aku berniat mengabaikan kerenggangan hubunganku dengan Fafa. Ku alihkan pikiranku pada persiapan kemah pramuka akhir tahun untuk angkatan kelas sebelas tahun ini. Aku sangat senang mengikuti kemah,apalagi saat hiking rasanya pasti seru sekali. Namun aku tak berniat sama sekali menjadi anggota pramuka walaupun aku suka kemah. Dulu waktu smp aku pernah dicalonkan menjadi anggota pramuka dewan penggalang oleh kakak seniorku namun ibuku tak mengijinkannya. Ibuku selalu mengedepankan prestasi akademik anaknya karena ibuku pernah berpesan bahwa Anak yang pandai terlahir dari seorang ibu yang pandai pula. Makanya ibuku ingin anaknya pandai seperti ibunya agar kelak aku juga memiliki anak yang pandai. Ku turuti saja keinginannya agar kelak aku tak menyesal di kemudian hari.
      Sebelum pulang sekolah,Riani sempat berpesan padaku bahwa dia melarangku untuk pulang duluan nanti. Katanya sih ada sesuatu yang penting. Aku mengangguk tanda setuju. Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Rupanya dia mendahuluiku saat keluar kelas. Dia nampak terburu-buru. Aku jadi curiga padanya. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku berniat mengejarnya. Setelah sampai di pos satpam,ku lihat Riani menghampiriku.
        “Eh Meiy?Hehehehe…”
        “Kamu habis darimana,Rin?”
        “Aaaku habis dari luar. Habis ketemu sama seseorang. Eh buruan ikut aku yuk!”
        “Hah?kemana?katanya kamu nggak ngebolehin aku pulang?”
        “Udah boleh pulang sekarang. Udah ada yang jemput di luar sana. Yuk buruan!”
     Riani menggandeng tanganku dan membawaku ke luar sekolah. Dia menghadapkanku pada pria berjaket paskib yang memarkir motornya 50 meter dari gerbang sekolah. Rupanya ini adalah rencana Fafa. Dia menyuruh Riani untuk menyuruhku ikut bersamanya sepulang sekolah untuk bertemu dengannya. Mungkin karena Riani tau kalau hubunganku dengan Fafa sedang dalam masalah,dia berniat membantu memperbaiki keadaan. Aku berbisik pada Riani
        “Aduh Rin!kamu ngapain sih ngajak aku ketemu sama dia?Aku tuh lagi males ngelihat mukanya”
       “Udahlah Meiy,aku lebih males nglihat muka kamu tiap hari cemberut mulu. Baikan aja napa? Kalau kamu ngambek terus,masalahnya nggak akan kelar-kelar. Lagian kamu juga biasanya bantuin nyelesain masalah hubunganku sama Coco. Anggep aja ini balas budi aku buat kamu. Udah ya aku tinggal dulu,Fa terserah ini anak kamu anterin pulang kek mau ajak makan kek terserah asal masalahnya cepet selesai. Jangan sampe kamu ninggalin dia lagi ya? Udah ya Meiy,aku tinggal dulu. Aku disuruh nunggu jemputan mamaku”
       “Eh tapi Rin?”
       “Daaahhhh…….”
Riani pergi meninggalkanku dan Fafa. Suasana canggung yang ke berapa kali terulang kembali. Aku malas memulai pembicaraan. Dia melihatku namun aku tak sedikitpun melihatnya. Dia meraih tanganku…
“Ikut aku yuk?Kita ngobrol di tempat biasa”
“Enggak!”
“Enggak nolak maksudnya?”
“Aku enggak mau. Mending kamu pulang aja sana. Masih banyak kegiatan yang harus kamu selesaiin.”
“Aku udah selesai kegiatan,sayang. Aku nggak mau berantem di pinggir jalan gini. Ntar dilihatin banyak orang. Kita berantem di rumah makan aja ya?”
“Ih!Kamu nyebelin banget sih!”
“Udah deh nggak usah sok ngambek gitu. Yuk buruan naik”
Dengan terpaksa aku naik diboncengan Fafa. Bukannya ngajak baikan malah ngajak berantem. Di rumah makan lagi berantemnya. Aku memasuki rumah makan tanpa menggenggam tangan Fafa seperti biasanya. Ku silangkan tanganku di dada. Aku masih kecewa padanya. Kalau dia serius ngajak baikan seharusnya dia meminta maaf terlebih dahulu padaku. Bukan membuatku semakin bête saja padanya.
“Sayang?”rayunya sambil menggenggam tanganku namun aku mengelak
“Apaan sih?gak usah pegang-pegang deh!”
“Masih ngambek ya?”
“Siapa sih ya nggak ngambek?Udah ditelantarin,ditinggalin,nggak dihubungin selama 3 hari lagi. Sebenernya kamu masih nganggep aku pacar kamu nggak sih?”
“Apa?nelantarin? aku nggak ngerasa nelantarin kamu. Kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu mau dijemput Raka?yaudah aku langsung tenang aja”
“Kamu gila kali ya?aku pikir kamu bakal cemburu begitu aku bilang gitu. Kamu nggak cemburu sama sekali?Kamu nggak peka banget sih jadi cowok!”
“Gak usah nanya aku cemburu apa enggak. Kalau tau kenapa nanya?”
“Kan aku cuma mastiin,lagian tadi kamu bilang gitu. Siapa suruh kamu ninggalin aku?”
“Siapa suruh kamu bilang mau dijemput Raka?”
“Siapa suruh kamu mendadak pergi latihan?”
“Heh!Maaf ya?kalau masalah latihan ya nggak bisa diganggu gugat dong, kamu seharusnya ngerti lah kalau aku ini anak kegiatan,jadi….. aku nggak selalu ada waktu buat kamu. Kan aku udah bilang waktu aku nembak kamu dulu?Okeee…ehm mungkin kamu baru adaptasi,jadi aku akan memaklumi kalau kamu marah sama aku…” dia meraih kedua tanganku dengan paksa
“Maafin aku ya?aku tau aku salah. Aku nggak bermaksud ninggalin kamu dan nelantarin kamu. Itu semua aku lakuin karena aku lagi cepet-cepet dan aku lagi emosi gara-gara kamu bilang gitu. Aku sendiri kesel kamu bilang gitu sama aku. Aku khilaf,mbu…”
“Terus kemana kamu tiga hari kemarin?nyari selingkuhan?”
“Kamu kenapa sih nyolot terus bicaranya?kamu lagi pms yah?”
“Ngaku aja deh,nggak usah banyak alesan kamu. Kamu nggak mikir apa udah bikin aku khawatir,udah bikin aku kangen,udah bikin aku gila gara-gara keseringan mikirin kamu yang ilang-ilangan terus…?”
“Ya maafin aku…..aku nggak nyari selingkuhan kok. Kan aku ada kegiatan ya mana mungkin aku nyari selingkuhan. Terus soal nggak ngehubungin kamu itu maaf dan maaaaaaffff …. banget. Hpku rusak,baru aja tadi sebelum jemput kamu aku bawa ke tukang reparasi. Jadi maaf ya kalau nggak ngabarin kamu”
“Beneran rusak?kamu kan bisa pinjem hp temen kamu buat ngabarin aku..”
“Yaaaa nggak enak juga kali mbu..…nanti kalau dia macem-macem sama kamu gimana? Udah ah aku nggak mau kita berantem lama-lama. Aku pengen masalah ini cepet selesai. Aku minta maaf sama kamu. Aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi dan kali ini aku mau ngomongin sesuatu sama kamu,tapi aku belum siap”
     “Mau ngomongin apa?”
     “Kepo ya???”
      “Ih!aku serius!”
      “Hahaha dimaafin nggak nih?”
     “Iyaiya dimaafin. Udah deh aku tuh lagi pms jadi jangan bikin aku makin bête ya?Mau ngomong apa sih?”
     “Aku mau pergi”
      “Kamu mau ninggalin aku lagi????”
     “Eh bukan gitu sayang,maksud aku… aku mau pergi ke luar kota buat kegiatan kemah jambore nasional di Klaten”
     “Berapa hari kamu kemahnya?”
     “Yaaaa nggak lama kok,paling 3 hari”
     “3 hari???”
     “Nggak lama kok …. Lagian itu kemahnya seminggu lagi”
     “Lah kok sama kayak aku? Aku seminggu lagi juga ada kemah angkatan di sekolahan”
   “Nah gini dong!samaan kegiatannya,tapi kayaknya hpku udah selesai di reparasi seminggu lagi. Jadi aku udah bisa ngabarin kamu”
    “Yaudah deh,tapi bener lho?jangan lupa ngabarin aku kalau hp kamu udah nggak rusak lagi. Ehm….btw,kamu kenapa sih akhir-akhir ini pake topi terus?pamali lho pake topi di dalem ruangan. Aku ambil ya topinya?”
     “Eh jangan dong mbu…..”
     “Udah nggak apa-apa”Ku ambil topi di kepalanya dengan paksa dan ternyata..
      “Hah?kamu kenapa jadi gundul gini?"      “Ini peraturan sekolah mbu,sebulan sekali ada penggundulan masal di sekolah”
“Ooooohhhh….jadi kamu pake topi bukan karena kepanasan tapi karena….”
“Kenapa?kamu nggak suka kalau aku gundul?”
“ya gimana ya?Aneh aja gitu kelihatannya,berasa jalan ama tuyul hahahaha”
“Enak aja…(sambil mencubit pipiku) Biarpun rambut aku dicukur terus,nantinya juga tumbuh lagi dan lagi. Biar sama kaya cinta aku ke kamu. Cintaku ke kamu tumbuh terus kaya rambut aku”
“Apaan sih?”Aku menanggapinya dengan senyuman
“Hahaha…”
                             ***
Masih banyak hal yang ku bicarakan bersama Fafa siang itu. Selain memperbaiki hubungan,aku juga meminta Fafa untuk mengajarkanku bagaimana cara mendirikan tenda,membuat simpul tali,dan sebagainya. Ada untungnya juga aku punya pacar seorang anak pramuka. Tapi disisi lain juga merasa rugi karena Fafa tak punya banyak waktu untuk bertemu denganku. Walapun begitu,aku harus bisa memakluminya. Aku akan belajar menerimanya.
Seminggu rasanya berjalan begitu cepat sekali. Tak terasa kemah sedang terlaksana. Sebelum berangkat menuju sekolahan. Fafa mengirimkan sebuah pesan yang intinya mengingatkanku akan ajarannya kemarin. Dia juga berpesan jangan terlalu sering memikirkannya dan menyuruhku untuk focus pada kegiatan kemah yang sedang terlaksana kali ini. Aku membalasnya dengan ucapan semangat dan selamat berjuang. Aku selalu mendoakan dia agar dia mampu meraih juara umum untuk kontingen daerahku. Ya begitulah kami akan saling support agar hubungan kami selalu harmonis dan romantis.
Kegiatan demi kegiatan ku lalui dengan senang hati. Aku menikmatinya dengan riang gembira karena aku merasa pacarku juga sedang melakukan hal yang sama sepertiku. Kegiatan apa saja yang ku lakukan selalu membuatku teringat akan dirinya yang kini jauh di luar kota. Aku tak pernah sedikitpun tak merindukannya. Setiap kali ku merindukannya,aku selalu mengirimkannya pesan ketika selesai kegiatan. Namun terkadang balasan yang ku terima cukup lama. Dia pernah bilang kalau sinyal disana agak sulit karena lokasi perkemahan yang berada di area hutan. Aku tak masalah selagi dia masih memberiku kabar. Ditambah lagi salam yang ku terima lewat gambar kertas yang bertuliskan ‘Siang pipi jambu. Selamat Menjalankan Kegiatan. Klaten’ Terkadang rindu ini menyiksa namun tak apa selagi ku kendalikan masih bisa.
                                  ***                                            
Seusai kemah angkatan,aku belum berniat bertemu dengan Fafa karena aku masih terlalu capek untuk kemana-mana. Lagian Fafa juga baru pulang dari Klaten jadi aku kan memberinya waktu untuk istirahat. Setelah kemah diadakan,tak terasa UAS akhir tahun mulai terlaksana. Aku meminta break pada Fafa untuk tidak menghubungiku selama UAS. Aku ingin mengerjakan UAS dengan tenang tanpa adanya tekanan mau gangguan dari doi. Biasanya aku sulit mengontrol perasaanku ketika chatting dengan dia. Apalagi dia sering memberiku perhatian,gombalan,bahkan semangat saja aku baper jika dia yang mengirimkan. Makanya aku ingin break biar aku focus belajar dan mengerjakan soal UAS. UAS dilaksanakan selama delapan hari. Cukup lama memang,karena mapel yang diajarkan di sekolahan cukup banyak. Tak terasa delapan hari itu ku lalui dengan penuh tekanan dalam menahan rasa rindu yang menggebu-gebu. Aku ingin secepatnya bertemu dengan Fafa.
Hari ini adalah hari pertama classmeeting sedang diadakan. Banyak dari temanku yang antusias mengikuti lomba yang diadakan oleh panitia OSIS. Ku percepat langkahku menuju kelas untuk bersiap mengikuti lomba. Ketika aku memasuki kelas,Arin menyambutku dengan tatapan yang berbeda. Seolah dia sedang marah,dia menghampiriku dengan membawa ponselnya dan menunjukkan sesuatu padaku.
                             ***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar