Sudah tiga hari ini Fafa tak menghubungiku. Aku sudah mengirimkannya
pesan BBM namun bertanda centang tiga hari ini. Apa dia tidak memiliki kuota
atau memang dia sedang sibuk kegiatan? Entahlah. Selain BBM,aku juga
mengirimkannya pesan SMS. Namun aku sama sekali tak menerima balasan darinya.
Ku coba menelponnya namun lagi-lagi tak ada tanda bahwa nomernya aktif. Aku
jadi semakin mengkhawatirkannya. Apa dia sebegitu marahnya sama aku
sampai-sampai dia tak menghubungiku selama ini? Apa aku sudah tak dianggap
sebagai pacarnya lagi? Apa dia memutuskanku secara sepihak? Kalau kata putus
sepertinya tak pernah terlontar dari mulutnya walaupun ketika kami bertengkar
hanya karena urusan sepele. Dia selalu mau mengalah demi aku. Dia selalu
memaklumi kesalahanku. Aku merasa kasihan padanya.
Namun siapa peduli?seenaknya
saja dia kemarin menelantarkanku seperti itu. Bukankah seorang paskibraka
seharusnya menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan juga kehormatan seorang
wanita yang dicintainya?Ya aku memang berlebihan. Coba aja kalau aku bukan
pacarnya pasti aku tidak akan semena-mena ini. Aku pasrah jika dia memutuskanku
hanya karena urusan sepele seperti kemarin. Seharusnya yang salah itu dia. Andai
aku tau dia harus latihan saat itu juga,kenapa dia tidak inisiatif
mengantarkanku pulang? Kalau saja dia berani memutuskan hubungan hanya
gara-gara masalah ini,itu tandanya dia seorang pengecut. Tidak berani berjuang.
Berjuang mempertahankan hubungan yang sudah tiga hari ini agak renggang.
Aku berniat
mengabaikan kerenggangan hubunganku dengan Fafa. Ku alihkan pikiranku pada
persiapan kemah pramuka akhir tahun untuk angkatan kelas sebelas tahun ini. Aku
sangat senang mengikuti kemah,apalagi saat hiking rasanya pasti seru sekali.
Namun aku tak berniat sama sekali menjadi anggota pramuka walaupun aku suka
kemah. Dulu waktu smp aku pernah dicalonkan menjadi anggota pramuka dewan
penggalang oleh kakak seniorku namun ibuku tak mengijinkannya. Ibuku selalu mengedepankan
prestasi akademik anaknya karena ibuku pernah berpesan bahwa Anak yang pandai
terlahir dari seorang ibu yang pandai pula. Makanya ibuku ingin anaknya pandai
seperti ibunya agar kelak aku juga memiliki anak yang pandai. Ku turuti saja
keinginannya agar kelak aku tak menyesal di kemudian hari.
Sebelum pulang
sekolah,Riani sempat berpesan padaku bahwa dia melarangku untuk pulang duluan
nanti. Katanya sih ada sesuatu yang penting. Aku mengangguk tanda setuju. Bel
tanda pulang sekolah berbunyi. Rupanya dia mendahuluiku saat keluar kelas. Dia
nampak terburu-buru. Aku jadi curiga padanya. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu
dariku. Aku berniat mengejarnya. Setelah sampai di pos satpam,ku lihat Riani
menghampiriku.
“Eh Meiy?Hehehehe…”
“Kamu habis
darimana,Rin?”
“Aaaku habis dari
luar. Habis ketemu sama seseorang. Eh buruan ikut aku yuk!”
“Hah?kemana?katanya
kamu nggak ngebolehin aku pulang?”
“Udah boleh pulang
sekarang. Udah ada yang jemput di luar sana. Yuk buruan!”
Riani menggandeng
tanganku dan membawaku ke luar sekolah. Dia menghadapkanku pada pria berjaket
paskib yang memarkir motornya 50 meter dari gerbang sekolah. Rupanya ini adalah
rencana Fafa. Dia menyuruh Riani untuk menyuruhku ikut bersamanya sepulang
sekolah untuk bertemu dengannya. Mungkin karena Riani tau kalau hubunganku
dengan Fafa sedang dalam masalah,dia berniat membantu memperbaiki keadaan. Aku berbisik
pada Riani
“Aduh Rin!kamu
ngapain sih ngajak aku ketemu sama dia?Aku tuh lagi males ngelihat mukanya”
“Udahlah Meiy,aku lebih
males nglihat muka kamu tiap hari cemberut mulu. Baikan aja napa? Kalau kamu
ngambek terus,masalahnya nggak akan kelar-kelar. Lagian kamu juga biasanya
bantuin nyelesain masalah hubunganku sama Coco. Anggep aja ini balas budi aku
buat kamu. Udah ya aku tinggal dulu,Fa terserah ini anak kamu anterin pulang
kek mau ajak makan kek terserah asal masalahnya cepet selesai. Jangan sampe
kamu ninggalin dia lagi ya? Udah ya Meiy,aku tinggal dulu. Aku disuruh nunggu
jemputan mamaku”
“Eh tapi Rin?”
“Daaahhhh…….”
Riani pergi meninggalkanku dan Fafa. Suasana
canggung yang ke berapa kali terulang kembali. Aku malas memulai pembicaraan.
Dia melihatku namun aku tak sedikitpun melihatnya. Dia meraih tanganku…
“Ikut aku yuk?Kita ngobrol di tempat biasa”
“Enggak!”
“Enggak nolak maksudnya?”
“Aku enggak mau. Mending kamu pulang aja sana.
Masih banyak kegiatan yang harus kamu selesaiin.”
“Aku udah selesai kegiatan,sayang. Aku nggak
mau berantem di pinggir jalan gini. Ntar dilihatin banyak orang. Kita berantem
di rumah makan aja ya?”
“Ih!Kamu nyebelin banget sih!”
“Udah deh nggak usah sok ngambek gitu. Yuk
buruan naik”
Dengan terpaksa aku naik diboncengan Fafa.
Bukannya ngajak baikan malah ngajak berantem. Di rumah makan lagi berantemnya.
Aku memasuki rumah makan tanpa menggenggam tangan Fafa seperti biasanya. Ku
silangkan tanganku di dada. Aku masih kecewa padanya. Kalau dia serius ngajak
baikan seharusnya dia meminta maaf terlebih dahulu padaku. Bukan membuatku
semakin bête saja padanya.
“Sayang?”rayunya sambil menggenggam tanganku
namun aku mengelak
“Apaan sih?gak usah pegang-pegang deh!”
“Masih ngambek ya?”
“Siapa sih ya nggak ngambek?Udah ditelantarin,ditinggalin,nggak
dihubungin selama 3 hari lagi. Sebenernya kamu masih nganggep aku pacar kamu
nggak sih?”
“Apa?nelantarin? aku nggak ngerasa nelantarin
kamu. Kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu mau dijemput Raka?yaudah aku langsung
tenang aja”
“Kamu gila kali ya?aku pikir kamu bakal cemburu
begitu aku bilang gitu. Kamu nggak cemburu sama sekali?Kamu nggak peka banget
sih jadi cowok!”
“Gak usah nanya aku cemburu apa enggak. Kalau
tau kenapa nanya?”
“Kan aku cuma mastiin,lagian tadi kamu bilang gitu.
Siapa suruh kamu ninggalin aku?”
“Siapa suruh kamu bilang mau dijemput Raka?”
“Siapa suruh kamu mendadak pergi latihan?”
“Heh!Maaf ya?kalau masalah latihan ya nggak
bisa diganggu gugat dong, kamu seharusnya ngerti lah kalau aku ini anak
kegiatan,jadi….. aku nggak selalu ada waktu buat kamu. Kan aku udah bilang
waktu aku nembak kamu dulu?Okeee…ehm mungkin kamu baru adaptasi,jadi aku akan
memaklumi kalau kamu marah sama aku…” dia meraih kedua tanganku dengan paksa
“Maafin aku ya?aku tau aku salah. Aku nggak
bermaksud ninggalin kamu dan nelantarin kamu. Itu semua aku lakuin karena aku
lagi cepet-cepet dan aku lagi emosi gara-gara kamu bilang gitu. Aku sendiri
kesel kamu bilang gitu sama aku. Aku khilaf,mbu…”
“Terus kemana kamu tiga hari kemarin?nyari selingkuhan?”
“Kamu kenapa sih nyolot terus bicaranya?kamu
lagi pms yah?”
“Ngaku aja deh,nggak usah banyak alesan kamu.
Kamu nggak mikir apa udah bikin aku khawatir,udah bikin aku kangen,udah bikin
aku gila gara-gara keseringan mikirin kamu yang ilang-ilangan terus…?”
“Ya maafin aku…..aku nggak nyari selingkuhan
kok. Kan aku ada kegiatan ya mana mungkin aku nyari selingkuhan. Terus soal
nggak ngehubungin kamu itu maaf dan maaaaaaffff …. banget. Hpku rusak,baru aja
tadi sebelum jemput kamu aku bawa ke tukang reparasi. Jadi maaf ya kalau nggak
ngabarin kamu”
“Beneran rusak?kamu kan bisa pinjem hp temen
kamu buat ngabarin aku..”
“Yaaaa nggak enak juga kali mbu..…nanti kalau dia
macem-macem sama kamu gimana? Udah ah aku nggak mau kita berantem lama-lama.
Aku pengen masalah ini cepet selesai. Aku minta maaf sama kamu. Aku janji nggak
akan ninggalin kamu lagi dan kali ini aku mau ngomongin sesuatu sama kamu,tapi
aku belum siap”
“Mau ngomongin apa?”
“Kepo ya???”
“Ih!aku serius!”
“Hahaha dimaafin
nggak nih?”
“Iyaiya dimaafin.
Udah deh aku tuh lagi pms jadi jangan bikin aku makin bête ya?Mau ngomong apa
sih?”
“Aku mau pergi”
“Kamu mau ninggalin
aku lagi????”
“Eh bukan gitu
sayang,maksud aku… aku mau pergi ke luar kota buat kegiatan kemah jambore
nasional di Klaten”
“Berapa hari kamu
kemahnya?”
“Yaaaa nggak lama
kok,paling 3 hari”
“3 hari???”
“Nggak lama kok ….
Lagian itu kemahnya seminggu lagi”
“Lah kok sama kayak
aku? Aku seminggu lagi juga ada kemah angkatan di sekolahan”
“Nah gini dong!samaan
kegiatannya,tapi kayaknya hpku udah selesai di reparasi seminggu lagi. Jadi aku
udah bisa ngabarin kamu”
“Yaudah deh,tapi
bener lho?jangan lupa ngabarin aku kalau hp kamu udah nggak rusak lagi. Ehm….btw,kamu
kenapa sih akhir-akhir ini pake topi terus?pamali lho pake topi di dalem
ruangan. Aku ambil ya topinya?”
“Eh jangan dong mbu…..”
“Udah nggak
apa-apa”Ku ambil topi di kepalanya dengan paksa dan ternyata..
“Hah?kamu kenapa jadi
gundul gini?" “Ini peraturan
sekolah mbu,sebulan sekali ada penggundulan masal di sekolah”
“Ooooohhhh….jadi kamu pake topi bukan karena
kepanasan tapi karena….”
“Kenapa?kamu nggak suka kalau aku gundul?”
“ya gimana ya?Aneh aja gitu kelihatannya,berasa
jalan ama tuyul hahahaha”
“Enak aja…(sambil mencubit pipiku) Biarpun
rambut aku dicukur terus,nantinya juga tumbuh lagi dan lagi. Biar sama kaya
cinta aku ke kamu. Cintaku ke kamu tumbuh terus kaya rambut aku”
“Apaan sih?”Aku menanggapinya dengan senyuman
“Hahaha…”
***
Masih banyak hal yang ku bicarakan bersama Fafa
siang itu. Selain memperbaiki hubungan,aku juga meminta Fafa untuk
mengajarkanku bagaimana cara mendirikan tenda,membuat simpul tali,dan
sebagainya. Ada untungnya juga aku punya pacar seorang anak pramuka. Tapi
disisi lain juga merasa rugi karena Fafa tak punya banyak waktu untuk bertemu
denganku. Walapun begitu,aku harus bisa memakluminya. Aku akan belajar
menerimanya.
Seminggu rasanya berjalan begitu cepat sekali.
Tak terasa kemah sedang terlaksana. Sebelum berangkat menuju sekolahan. Fafa
mengirimkan sebuah pesan yang intinya mengingatkanku akan ajarannya kemarin.
Dia juga berpesan jangan terlalu sering memikirkannya dan menyuruhku untuk
focus pada kegiatan kemah yang sedang terlaksana kali ini. Aku membalasnya
dengan ucapan semangat dan selamat berjuang. Aku selalu mendoakan dia agar dia
mampu meraih juara umum untuk kontingen daerahku. Ya begitulah kami akan saling
support agar hubungan kami selalu harmonis dan romantis.
Kegiatan demi kegiatan ku lalui dengan senang
hati. Aku menikmatinya dengan riang gembira karena aku merasa pacarku juga
sedang melakukan hal yang sama sepertiku. Kegiatan apa saja yang ku lakukan
selalu membuatku teringat akan dirinya yang kini jauh di luar kota. Aku tak
pernah sedikitpun tak merindukannya. Setiap kali ku merindukannya,aku selalu
mengirimkannya pesan ketika selesai kegiatan. Namun terkadang balasan yang ku
terima cukup lama. Dia pernah bilang kalau sinyal disana agak sulit karena
lokasi perkemahan yang berada di area hutan. Aku tak masalah selagi dia masih
memberiku kabar. Ditambah lagi salam yang ku terima lewat gambar kertas yang
bertuliskan ‘Siang pipi jambu. Selamat Menjalankan Kegiatan. Klaten’ Terkadang
rindu ini menyiksa namun tak apa selagi ku kendalikan masih bisa.
***
Seusai kemah angkatan,aku belum berniat bertemu
dengan Fafa karena aku masih terlalu capek untuk kemana-mana. Lagian Fafa juga
baru pulang dari Klaten jadi aku kan memberinya waktu untuk istirahat. Setelah
kemah diadakan,tak terasa UAS akhir tahun mulai terlaksana. Aku meminta break pada Fafa untuk tidak
menghubungiku selama UAS. Aku ingin mengerjakan UAS dengan tenang tanpa adanya
tekanan mau gangguan dari doi. Biasanya aku sulit mengontrol perasaanku ketika
chatting dengan dia. Apalagi dia sering memberiku perhatian,gombalan,bahkan
semangat saja aku baper jika dia yang mengirimkan. Makanya aku ingin break biar
aku focus belajar dan mengerjakan soal UAS. UAS dilaksanakan selama delapan
hari. Cukup lama memang,karena mapel yang diajarkan di sekolahan cukup banyak.
Tak terasa delapan hari itu ku lalui dengan penuh tekanan dalam menahan rasa
rindu yang menggebu-gebu. Aku ingin secepatnya bertemu dengan Fafa.
Hari ini adalah hari pertama classmeeting sedang
diadakan. Banyak dari temanku yang antusias mengikuti lomba yang diadakan oleh
panitia OSIS. Ku percepat langkahku menuju kelas untuk bersiap mengikuti lomba.
Ketika aku memasuki kelas,Arin menyambutku dengan tatapan yang berbeda. Seolah
dia sedang marah,dia menghampiriku dengan membawa ponselnya dan menunjukkan
sesuatu padaku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar