Kamis, 22 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Persaingan yang Tidak Sehat

      Liburan telah usai. Kesibukan perlahan mulai memenuhi jadwalku. Seperti biasanya,ku awali kesibukanku dengan pemecahan masalah agar nantinya tak menimbulkan masalah baru lagi. Sore yang sendu untuk mengenang masa lalu. Namun aku sudah tak berada disana. Kini aku sedang bersama seseorang yang menemaniku menuju masa depanku. Tampaknya dia masih marah akan kekhilafanku kemarin. Aku benar-benar tak sengaja melupakan hari jadianku yang kedua. Aku terlalu fokus pada lomba yang ku ikuti hingga aku melupakan hari jadianku. Sebenarnya ini tidak begitu penting bagi sebagian orang tapi yang namanya anak muda kelas ABG labil beranjak dewasa seperti sekarang,tanggal istimewa dengan pacar pasti akan selalu diingat dan dilestarikan. Perayaan anniversary jadian sebagian dirayakan dengan cara seperti mentraktir teman atau memberikan kejutan.
Oh iya,aku jadi lupa lagi. Selama aku berpacaran dengan Fafa,aku sengaja bersembunyi dari Indira dan Via,sahabat smpku. Bukannya aku takut mentraktir mereka,tetapi aku takut mereka akan mendapat hal yang sama seperti yang Arin terima. Aku takut Fafa akan menyerangnya lagi. Mulai hari ini aku tidak akan mengaitkan atau menyangkut pautkan hubunganku dan Fafa dengan sahabat-sahabatku. Aku tau,banyak yang tak setuju bila aku berpacaran dengan dia entah dengan alasan yang bagaimana aku tak pernah mengerti. 
Biasanya kalau aku ada masalah sama Fafa,aku hanya bisa curhat pada Riani yang memang karena dia aku jadi mengenal Fafa. Hingga kedekatan itulah yang kadang membuat para sahabatku cemburu. Mereka menyangka aku telah berubah semenjak pacaran dengan Fafa. Aku jadi dekat dengan Riani dan kurang dekat dengan Aulin,Arin,dan Shasha. Sejujurnya jika kamu tau,aku tak pernah membeda-bedakan,menghindar,pilih kasih atau semacamnya kepada mereka. Mungkin anggapan orang berbeda-beda tapi yang menjalankan hubungan ini siapa? Jadi aku berusaha sebisa mungkin untuk mencairkan suasana dan menyeimbangkan kedekatanku pada sahabatku dan juga pada pacarku.
      Sore ini aku akan memberikan kejutan pada Fafa. Sebuah video yang menampilkan perjalanan dimana aku mulai mengenal Fafa,masa-masa pendekatan hingga jadian. Semua ku edit dan ku rangkum dalam video singkat berdurasi 4 menit kurang 20 detik di ponselku. Video ini ku persembahkan untuknya sebagai wujud permintaan maaf atas rasa bersalahku melupakan anniversary hari jadian yang kedua. Ku perlihatkan dan ku pasangkan earphone di telinganya sembari meminum jus jambu dan jus sirsat di sebuah warung jus dimana dulu waktu smp sering ku datangi bersama Indira dan Via.
        “Gimana Fa?Maaf ya kalau jelek videonya,aku bukan anak jurusan multimedia jadi aku buat video ini sebisaku”
        “Kamu mau tau komentarku gimana soal videomu?”
        “Iya,kenapa?jelek ya?”
        “Kamu emang sengaja bikin video ini buat aku?”
         “Ya…..emang kenapa sih Fa?aku salah ya?video ini emang buat kamu sebagai wujud permohonan maafku. Aku nggak lupa tapi yang kemarin itu aku bener-bener khilaf…..”aku menunduk dan merasa bersalah untuk yang kesekian kalinya.
       “Hmmm…ya gimana aku bisa komentar orang kamu ngeditnya pake tulisan bahasa inggris gini? kamu kayak nggak tau aja kalau aku nggak bisa bahasa inggris. Sengaja ya biar aku nggak ngerti?”
         “Hah?jadi selama kamu nikmatin video ini kamu nggak ngerti apa pesan yang ada di dalamnya?”
       “Ya mana aku tau mbu…..aku kan nggak terlalu pinter bahasa inggris. Gimana sih?”
       “Jadi sia-sia dong aku buatnya?”
       “Enggak kok,nggak ada yang sia-sia. Selama sesuatu itu dari kamu,segala macem apa yang kamu buat,atau apapun yang kamu berikan buat aku,tetap aku hargai kok. Lagian aku agak sedikit ngerti dari gambarnya. Soundtrack lagunya juga romantis. Aku suka.”
     Sepertinya permintaan maafku seakan dikabulkan olehnya. Aku benar-benar senang sekali sore itu. Perlahan masalah mulai terselesaikan dan aku berharap hubunganku dengan Fafa kedepannya baik-baik saja tanpa adanya gangguan ataupun permasalahan yang mengharuskanku bertemu dengannya. Hubungan jarak jauh memang banyak tantangan yang menguji kesabaran,kepercayaan,dan komitmen antar pasangan. Kalau salah satu ada yang egois pasti masalah tidak akan cepat selesai. Kalau tidak bisa menyelesaikan via chat bbm,biasanya diantara Fafa atau aku pasti akan meminta untuk ketemuan. Sekalian melampiaskan rasa rindu yang menggebu-gebu mengingat aku dan Fafa sama-sama sibuk dan jarang punya waktu untuk sekedar bertemu.
                                          ***
     Minggu depan,ekskul paskibraka di sekolahku akan mengikuti lomba tata upacara bendera dan PBB di GOR kotaku. Perlombaan ini diikuti oleh seluruh sekolah di kotaku yang memiliki ekskul paskibraka. Termasuk sekolah Fafa. Fafa adalah seorang anggota OSIS,pramuka,dan purna paskibraka pasti pihak sekolahnya akan mengikutsertakannya dalam lomba. Di sisi lain tim paskibraka sekolahku juga mengikutsertakan para purna paskibraka kabupaten kemarin,seperti Raka. Aku tau semuanya dari Riani karena Riani adalah manager tim. Dia yang mengurus semua seragam,konsumsi atau keperluan yang dibutuhkan untuk lomba nantinya. Dia mengajakku untuk melihat perlombaan nanti. 
        Sebenarnya aku tak ingin melihatnya. Ada rasa tak enak hati bila datang kesana. Pasti banyak para anggota purna paskibraka yang melihat perlombaan. Dan tentunya banyak yang mengenal Fafa maupun Raka. Apa yang mereka katakan bila aku datang melihat? Kasak-kusuk menyakitkan pasti akan terdengar di telinga Fafa. Semenjak aku dekat dan jadian dengan Fafa banyak yang beranggapan bahwa Fafa perusak hubungan antara aku dan Raka. Kalau disalahkan sebenernya tidak sepenuhnya salah dan kalau dibenarkan tidak sepenuhnya benar juga. Fafa datang disaat aku mulai move on dari Raka. Sedangkan Raka datang lagi di saat aku mulai nyaman dengan Fafa. Andai Riani tak mengenalkanku pada Fafa,pasti aku akan menetap pada Raka atau justru sebaliknya. Aku akan tetap kukuh move on dari Raka. Entahlah….rencana Tuhan siapa yang tau. Yang bisa ku lakukan adalah menjalaninya dengan sepenuh hati apa yang ada di depan mata.
      Tepat pukul dua belas siang,bel sekolah berbunyi. Hari ini pulang agak pagi karena sebagian guru ada yang mengikuti rapat dalam penataran kurikulum di sekolahku. Dan tepat hari ini juga lomba itu dilaksanakan. Riani mengajakku untuk melihat mereka bertanding dalam lomba. Dia menanyakanku ikut mendukung siapa aku. Aku jadi bingung sendiri. Bila mendukung Fafa,rasanya aku berkhianat pada almamaterku sendiri. Jika mendukung Raka,rasanya aku terlalu kejam pada Fafa seolah mendoakannya supaya dia kalah. Aku pasrahkan saja semuanya dengan melihat penampilan mereka nantinya.
Seusai membereskan dan mengurus semua perlengkapan yang dibawa dalam mobil milik sekolah,Riani meminjam motor milik temannya. Ku tunggu dia di pos satpam. Setelah mengambil motor,Riani tancap gas menuju GOR bersamaku. Sebelum sampai sana,aku menerima telfon dari Fafa bahwa nanti sepulang dari lomba dia akan menjemputku. Tumben sekali dia menjemputku. Aku hanya menyetujuinya. Sesampainya disana,aku dan Riani mencari tempat untuk melihat penampilan mereka. Tepat di depan dan di sebelah kanan juri posisi kami melihat mereka. Perlombaanpun dimulai. Sekolahku mendapat nomor undi pertama. Durasi penampilan yang disyaratkan panitia cukup lama yaitu 30 menit. Variasi gerakan dan kekompakan para peserta sangat bagus dan selaras. Tepuk tangan dari juri dan para penonton begitu riuh menambah semangat para pemain. Setelah usai menampilkan,kini giliran tim sekolah Fafa. Ku lihat Fafa berada di barisan paling depan dan di penjuru kanan. Dia tidak mengetahui bahwa aku melihatnya.
Di tengah melihat penampilan dari tim Fafa,Riani meminta ijin untuk menemui Coco yang sedang melihat perlombaan juga. Ku ijinkan dia dan ku lanjutkan melihat penampilan Fafa. Aku tak bosan melihatnya penampilannya. Ini sebagai balasan karena kemarin dia juga melihatku ketika lomba rebana. Setelah tim Fafa selesai tampil,Riani kembali. Dia tampak lesu dan seolah menyembunyikan sesuatu dariku. Ku coba tanyakan padanya apa yang sedang terjadi namun dia bilang belum siap untuk cerita. Aku jadi curiga namun aku berusaha positif thinking barang kali memang dia belum siap cerita.
Tibalah saatnya penentuan pemenang. Para peserta banyak berharap cemas pada keputusan yang nantinya akan diumumkan oleh juri. Aku jadi ikutan cemas. Tapi siapapun yang akan menang nantinya,aku akan tetap memberikan support kepada mereka. Yang kalah jangan menyerah dan yang menang jangan terlalu senang. Semuanya berkat usaha dan dan doa yang aku yakini tak ada yang sia-sia asal keduanya sudah sama-sama maksimal. Juri mengumumkan tim yang menang dalam lomba PPB dan TUB tahun ini diraih oleh sekolahku. Aku ikut senang melihat para tim paskibraka sekolah yang menjerit kegirangan,mengucap syukur,dan meneriakkan yel-yel dengan semangat seolah melampiaskan rasa puas atas kemenangan mereka. 
Di lain tempat aku melihat tim Fafa pasrah akan keputusan juri dan masing-masing menyemangati teman mereka agar mental mereka tidak menurun. Ya,inilah perlombaan ada kalah ada menang. Setelah menerima piala dan piagam penghargaan tim sekolahku pun kembali ke sekolahan diikuti aku dan Riani. Riani nampak tersenyum dengan terpaksa menikmati kemenangan timnya. Aku sendiri bingung kenapa dia tak mau bercerita denganku. Sesampainya di sekolahan,Riani memintaku untuk menunggunya jika aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Dia mengikuti rapat evaluasi yang diadakan oleh Pembina ekskul paskibraka. Aku menunggunya di luar sekolah.
                             ***
Saat menuju luar sekolah,satu pesan ku terima dari Fafa. Dia bilang bahwa dia sudah menuju perjalanan ke sekolahku. Ketika ku balas pesan darinya,tiba-tiba seorang pemuda berhenti di hadapanku. Belum sempat ku melihatnya dia berbicara..
“Ngapain kamu disini?”
“Hah?Raka?”
“Kamu ngapain disini?”
“Aaaku nungguin jemputan disini…”
“Nungguin jemputan dari siapa?”
“Oh emm…eeeehhh….dari sopir pribadi. Iya sopir pribadi… oh maksud aku dari mobil angkutan…”
“Oh?daripada kelamaan nunggu,aku anterin pulang yuk?”
“Hah?eh?ehm……nggak usah Ka nggak usah. Lagian jalan rumah kamu kan arahnya kesana ngapain kamu nganterin aku kalau berlawanan arah?”
“Udah nggak apa-apa kok!yuk buruan naik!aku serius lho ini”
“Aduuuhhhh gimana ya?hmmm….lain kali aja deh Raka kamu nganterinnya”
“Beneran lho?aku lain kali nganterinnya?”
“Iya bener kok,udah sana pulang!”
“Kamu dijemput sama dia ya?”arah matanya menunjuk kepada seorang berjaket paskib yang sama sepertinya sedang berhenti jauh 50 meter dari gerbang sekolah. Aku sempat syok mengetahui bahwa pria itu adalah Fafa. Dia sudah sampai di sekolahan. Aku jadi bingung apa yang harus ku lakukan sekarang. Berharap pria di depanku ini cepat pergi dari hadapanku,ku bohongi dia…
“Eh hmmm….mana sih Ka?ehehmmmm nggak kok…aku nggak kenal sama pria itu. Udah ya kamu cepet pulang,aku nunggu angkot kok. Tuh angkotnya udah mau berhenti(beruntung ada angkutan hijau yang akan berhenti di depan sekolah)”
“Ohh..yaudah. Aku pulang dulu ya Meiy. Kamu hati-hati pulangnya. Dah…”
“ohhh iya iya Ka,iya hati-hati juga. Dadaahh….”
Ku lihat dia pergi menjauh hingga menghilang dan pandanganku. Setelah ku rasa aman,ku persiapkan mental untuk menghadap pada Fafa. Aku menghampirinya dengan ketakutan. Entah apa yang akan ia katakan padaku nantinya,aku berusaha mengatur detak jantungku dan merangkai kata-kata maaf untuknya
“Siapa tadi?”
“Ooohhh…itu tadi temenku”
“Kok jaketnya sama kaya aku?”
“Iyaaaa itu punya temennya terus dia pinjem gitu… hehehe…”
“Raka ya?”
“Ehhh nggak kok nggak. Tadi buk…”
“Nggak usah bohong. Ngomong apa aja tadi?”
Skak mat. Rasanya aku mau mati saja.
“Ngggak…..nggak ngomongin apa-apa kok….”
“Kalau kamu nggak jujur,aku pulang!”
“Eh iya iya iya yaa…aku jujur,tapi tolong please…. Jangan marah sama aku. Ini nggak seperti yang kamu pikir,Fa. Dia tadi cuma nanyain kenapa aku disini,aku jawab aja aku lagi nungguin kamu (kenyataannya aku berbohong pada Raka dan juga Fafa)”
“Buruan naik!”
Aku pun langsung naik di boncengan Fafa. Kali ini aku benar-benar takut padanya. Situasi yang tidak memungkinkanku untuk berbohong lagi padanya. Lagian juga kenapa coba Raka menawarkanku boncengan? Apapun alasannya,aku tak mau tau. Yang terpenting sekarang bagaimana cara membujuk Fafa agar dia tidak cemburu padaku. Aku memaklumi,kalau aku ada di posisi Fafa pasti aku akan cemburu dan menuduhnya dengan tuduhan yang mungkin bisa membuat aku dan Fafa putus. Tapi apa Fafa akan memutuskanku kali ini?Aku benar-benar belum siap mental untuk dipaksa pergi dari hatinya. Setelah mengantarkanku dia langsung tancap gas. Dia tidak berpamitan ataupun sekedar melihatku lagi. Aku berjalan lesu menuju rumahku. Sesampainya di rumah,dua pesan ku terima. Dari Riani dan juga Fafa yang keduanya sama-sama membuatku semakin merasa bersalah. Oh Tuhan ini hari apa???

                             *** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar