Liburan telah usai. Kesibukan perlahan mulai memenuhi jadwalku.
Seperti biasanya,ku awali kesibukanku dengan pemecahan masalah agar nantinya
tak menimbulkan masalah baru lagi. Sore yang sendu untuk mengenang masa lalu.
Namun aku sudah tak berada disana. Kini aku sedang bersama seseorang yang
menemaniku menuju masa depanku. Tampaknya dia masih marah akan kekhilafanku
kemarin. Aku benar-benar tak sengaja melupakan hari jadianku yang kedua. Aku
terlalu fokus pada lomba yang ku ikuti hingga aku melupakan hari jadianku.
Sebenarnya ini tidak begitu penting bagi sebagian orang tapi yang namanya anak
muda kelas ABG labil beranjak dewasa seperti sekarang,tanggal istimewa dengan
pacar pasti akan selalu diingat dan dilestarikan. Perayaan anniversary jadian
sebagian dirayakan dengan cara seperti mentraktir teman atau memberikan
kejutan.
Oh iya,aku jadi lupa lagi. Selama aku
berpacaran dengan Fafa,aku sengaja bersembunyi dari Indira dan Via,sahabat
smpku. Bukannya aku takut mentraktir mereka,tetapi aku takut mereka akan
mendapat hal yang sama seperti yang Arin terima. Aku takut Fafa akan
menyerangnya lagi. Mulai hari ini aku tidak akan mengaitkan atau menyangkut
pautkan hubunganku dan Fafa dengan sahabat-sahabatku. Aku tau,banyak yang tak
setuju bila aku berpacaran dengan dia entah dengan alasan yang bagaimana aku
tak pernah mengerti.
Biasanya kalau aku ada masalah sama Fafa,aku hanya bisa
curhat pada Riani yang memang karena dia aku jadi mengenal Fafa. Hingga
kedekatan itulah yang kadang membuat para sahabatku cemburu. Mereka menyangka
aku telah berubah semenjak pacaran dengan Fafa. Aku jadi dekat dengan Riani dan
kurang dekat dengan Aulin,Arin,dan Shasha. Sejujurnya jika kamu tau,aku tak
pernah membeda-bedakan,menghindar,pilih kasih atau semacamnya kepada mereka.
Mungkin anggapan orang berbeda-beda tapi yang menjalankan hubungan ini siapa?
Jadi aku berusaha sebisa mungkin untuk mencairkan suasana dan menyeimbangkan
kedekatanku pada sahabatku dan juga pada pacarku.
Sore ini aku akan memberikan
kejutan pada Fafa. Sebuah video yang menampilkan perjalanan dimana aku mulai
mengenal Fafa,masa-masa pendekatan hingga jadian. Semua ku edit dan ku rangkum
dalam video singkat berdurasi 4 menit kurang 20 detik di ponselku. Video ini ku
persembahkan untuknya sebagai wujud permintaan maaf atas rasa bersalahku
melupakan anniversary hari jadian yang kedua. Ku perlihatkan dan ku pasangkan
earphone di telinganya sembari meminum jus jambu dan jus sirsat di sebuah
warung jus dimana dulu waktu smp sering ku datangi bersama Indira dan Via.
“Gimana Fa?Maaf ya
kalau jelek videonya,aku bukan anak jurusan multimedia jadi aku buat video ini sebisaku”
“Kamu mau tau
komentarku gimana soal videomu?”
“Iya,kenapa?jelek
ya?”
“Kamu emang sengaja
bikin video ini buat aku?”
“Ya…..emang kenapa
sih Fa?aku salah ya?video ini emang buat kamu sebagai wujud permohonan maafku.
Aku nggak lupa tapi yang kemarin itu aku bener-bener khilaf…..”aku menunduk dan
merasa bersalah untuk yang kesekian kalinya.
“Hmmm…ya gimana aku
bisa komentar orang kamu ngeditnya pake tulisan bahasa inggris gini? kamu kayak
nggak tau aja kalau aku nggak bisa bahasa inggris. Sengaja ya biar aku nggak
ngerti?”
“Hah?jadi selama kamu
nikmatin video ini kamu nggak ngerti apa pesan yang ada di dalamnya?”
“Ya mana aku tau
mbu…..aku kan nggak terlalu pinter bahasa inggris. Gimana sih?”
“Jadi sia-sia dong
aku buatnya?”
“Enggak kok,nggak ada
yang sia-sia. Selama sesuatu itu dari kamu,segala macem apa yang kamu buat,atau
apapun yang kamu berikan buat aku,tetap aku hargai kok. Lagian aku agak sedikit
ngerti dari gambarnya. Soundtrack lagunya juga romantis. Aku suka.”
Sepertinya permintaan
maafku seakan dikabulkan olehnya. Aku benar-benar senang sekali sore itu.
Perlahan masalah mulai terselesaikan dan aku berharap hubunganku dengan Fafa kedepannya
baik-baik saja tanpa adanya gangguan ataupun permasalahan yang mengharuskanku
bertemu dengannya. Hubungan jarak jauh memang banyak tantangan yang menguji
kesabaran,kepercayaan,dan komitmen antar pasangan. Kalau salah satu ada yang
egois pasti masalah tidak akan cepat selesai. Kalau tidak bisa menyelesaikan
via chat bbm,biasanya diantara Fafa atau aku pasti akan meminta untuk ketemuan.
Sekalian melampiaskan rasa rindu yang menggebu-gebu mengingat aku dan Fafa
sama-sama sibuk dan jarang punya waktu untuk sekedar bertemu.
***
Minggu depan,ekskul
paskibraka di sekolahku akan mengikuti lomba tata upacara bendera dan PBB di
GOR kotaku. Perlombaan ini diikuti oleh seluruh sekolah di kotaku yang memiliki
ekskul paskibraka. Termasuk sekolah Fafa. Fafa adalah seorang anggota
OSIS,pramuka,dan purna paskibraka pasti pihak sekolahnya akan
mengikutsertakannya dalam lomba. Di sisi lain tim paskibraka sekolahku juga
mengikutsertakan para purna paskibraka kabupaten kemarin,seperti Raka. Aku tau
semuanya dari Riani karena Riani adalah manager tim. Dia yang mengurus semua
seragam,konsumsi atau keperluan yang dibutuhkan untuk lomba nantinya. Dia mengajakku
untuk melihat perlombaan nanti.
Sebenarnya aku tak ingin melihatnya. Ada rasa
tak enak hati bila datang kesana. Pasti banyak para anggota purna paskibraka
yang melihat perlombaan. Dan tentunya banyak yang mengenal Fafa maupun Raka.
Apa yang mereka katakan bila aku datang melihat? Kasak-kusuk menyakitkan pasti
akan terdengar di telinga Fafa. Semenjak aku dekat dan jadian dengan Fafa
banyak yang beranggapan bahwa Fafa perusak hubungan antara aku dan Raka. Kalau
disalahkan sebenernya tidak sepenuhnya salah dan kalau dibenarkan tidak
sepenuhnya benar juga. Fafa datang disaat aku mulai move on dari Raka. Sedangkan
Raka datang lagi di saat aku mulai nyaman dengan Fafa. Andai Riani tak
mengenalkanku pada Fafa,pasti aku akan menetap pada Raka atau justru sebaliknya.
Aku akan tetap kukuh move on dari Raka. Entahlah….rencana Tuhan siapa yang tau.
Yang bisa ku lakukan adalah menjalaninya dengan sepenuh hati apa yang ada di
depan mata.
Tepat pukul dua belas
siang,bel sekolah berbunyi. Hari ini pulang agak pagi karena sebagian guru ada
yang mengikuti rapat dalam penataran kurikulum di sekolahku. Dan tepat hari ini
juga lomba itu dilaksanakan. Riani mengajakku untuk melihat mereka bertanding
dalam lomba. Dia menanyakanku ikut mendukung siapa aku. Aku jadi bingung
sendiri. Bila mendukung Fafa,rasanya aku berkhianat pada almamaterku sendiri.
Jika mendukung Raka,rasanya aku terlalu kejam pada Fafa seolah mendoakannya
supaya dia kalah. Aku pasrahkan saja semuanya dengan melihat penampilan mereka
nantinya.
Seusai membereskan dan mengurus semua
perlengkapan yang dibawa dalam mobil milik sekolah,Riani meminjam motor milik
temannya. Ku tunggu dia di pos satpam. Setelah mengambil motor,Riani tancap gas
menuju GOR bersamaku. Sebelum sampai sana,aku menerima telfon dari Fafa bahwa
nanti sepulang dari lomba dia akan menjemputku. Tumben sekali dia menjemputku.
Aku hanya menyetujuinya. Sesampainya disana,aku dan Riani mencari tempat untuk
melihat penampilan mereka. Tepat di depan dan di sebelah kanan juri posisi kami
melihat mereka. Perlombaanpun dimulai. Sekolahku mendapat nomor undi pertama. Durasi
penampilan yang disyaratkan panitia cukup lama yaitu 30 menit. Variasi gerakan
dan kekompakan para peserta sangat bagus dan selaras. Tepuk tangan dari juri
dan para penonton begitu riuh menambah semangat para pemain. Setelah usai
menampilkan,kini giliran tim sekolah Fafa. Ku lihat Fafa berada di barisan paling
depan dan di penjuru kanan. Dia tidak mengetahui bahwa aku melihatnya.
Di tengah melihat penampilan dari tim
Fafa,Riani meminta ijin untuk menemui Coco yang sedang melihat perlombaan juga.
Ku ijinkan dia dan ku lanjutkan melihat penampilan Fafa. Aku tak bosan
melihatnya penampilannya. Ini sebagai balasan karena kemarin dia juga melihatku
ketika lomba rebana. Setelah tim Fafa selesai tampil,Riani kembali. Dia tampak
lesu dan seolah menyembunyikan sesuatu dariku. Ku coba tanyakan padanya apa
yang sedang terjadi namun dia bilang belum siap untuk cerita. Aku jadi curiga
namun aku berusaha positif thinking barang kali memang dia belum siap cerita.
Tibalah saatnya penentuan pemenang. Para
peserta banyak berharap cemas pada keputusan yang nantinya akan diumumkan oleh
juri. Aku jadi ikutan cemas. Tapi siapapun yang akan menang nantinya,aku akan
tetap memberikan support kepada mereka. Yang kalah jangan menyerah dan yang
menang jangan terlalu senang. Semuanya berkat usaha dan dan doa yang aku yakini
tak ada yang sia-sia asal keduanya sudah sama-sama maksimal. Juri mengumumkan
tim yang menang dalam lomba PPB dan TUB tahun ini diraih oleh sekolahku. Aku
ikut senang melihat para tim paskibraka sekolah yang menjerit kegirangan,mengucap
syukur,dan meneriakkan yel-yel dengan semangat seolah melampiaskan rasa puas
atas kemenangan mereka.
Di lain tempat aku melihat tim Fafa pasrah akan
keputusan juri dan masing-masing menyemangati teman mereka agar mental mereka
tidak menurun. Ya,inilah perlombaan ada kalah ada menang. Setelah menerima
piala dan piagam penghargaan tim sekolahku pun kembali ke sekolahan diikuti aku
dan Riani. Riani nampak tersenyum dengan terpaksa menikmati kemenangan timnya.
Aku sendiri bingung kenapa dia tak mau bercerita denganku. Sesampainya di
sekolahan,Riani memintaku untuk menunggunya jika aku ingin tau apa yang
sebenarnya terjadi. Dia mengikuti rapat evaluasi yang diadakan oleh Pembina
ekskul paskibraka. Aku menunggunya di luar sekolah.
***
Saat menuju luar sekolah,satu pesan ku terima
dari Fafa. Dia bilang bahwa dia sudah menuju perjalanan ke sekolahku. Ketika ku
balas pesan darinya,tiba-tiba seorang pemuda berhenti di hadapanku. Belum
sempat ku melihatnya dia berbicara..
“Ngapain kamu disini?”
“Hah?Raka?”
“Kamu ngapain disini?”
“Aaaku nungguin jemputan disini…”
“Nungguin jemputan dari siapa?”
“Oh emm…eeeehhh….dari sopir pribadi. Iya sopir
pribadi… oh maksud aku dari mobil angkutan…”
“Oh?daripada kelamaan nunggu,aku anterin pulang
yuk?”
“Hah?eh?ehm……nggak usah Ka nggak usah. Lagian
jalan rumah kamu kan arahnya kesana ngapain kamu nganterin aku kalau berlawanan
arah?”
“Udah nggak apa-apa kok!yuk buruan naik!aku
serius lho ini”
“Aduuuhhhh gimana ya?hmmm….lain kali aja deh
Raka kamu nganterinnya”
“Beneran lho?aku lain kali nganterinnya?”
“Iya bener kok,udah sana pulang!”
“Kamu dijemput sama dia ya?”arah matanya
menunjuk kepada seorang berjaket paskib yang sama sepertinya sedang berhenti
jauh 50 meter dari gerbang sekolah. Aku sempat syok mengetahui bahwa pria itu
adalah Fafa. Dia sudah sampai di sekolahan. Aku jadi bingung apa yang harus ku
lakukan sekarang. Berharap pria di depanku ini cepat pergi dari hadapanku,ku
bohongi dia…
“Eh hmmm….mana sih Ka?ehehmmmm nggak kok…aku
nggak kenal sama pria itu. Udah ya kamu cepet pulang,aku nunggu angkot kok. Tuh
angkotnya udah mau berhenti(beruntung ada angkutan hijau yang akan berhenti di
depan sekolah)”
“Ohh..yaudah. Aku pulang dulu ya Meiy. Kamu
hati-hati pulangnya. Dah…”
“ohhh iya iya Ka,iya hati-hati juga. Dadaahh….”
Ku lihat dia pergi menjauh hingga menghilang
dan pandanganku. Setelah ku rasa aman,ku persiapkan mental untuk menghadap pada
Fafa. Aku menghampirinya dengan ketakutan. Entah apa yang akan ia katakan
padaku nantinya,aku berusaha mengatur detak jantungku dan merangkai kata-kata
maaf untuknya
“Siapa tadi?”
“Ooohhh…itu tadi temenku”
“Kok jaketnya sama kaya aku?”
“Iyaaaa itu punya temennya terus dia pinjem
gitu… hehehe…”
“Raka ya?”
“Ehhh nggak kok nggak. Tadi buk…”
“Nggak usah bohong. Ngomong apa aja tadi?”
Skak mat. Rasanya aku mau mati saja.
“Ngggak…..nggak ngomongin apa-apa kok….”
“Kalau kamu nggak jujur,aku pulang!”
“Eh iya iya iya yaa…aku jujur,tapi tolong
please…. Jangan marah sama aku. Ini nggak seperti yang kamu pikir,Fa. Dia tadi
cuma nanyain kenapa aku disini,aku jawab aja aku lagi nungguin kamu
(kenyataannya aku berbohong pada Raka dan juga Fafa)”
“Buruan naik!”
Aku pun langsung naik di boncengan Fafa. Kali
ini aku benar-benar takut padanya. Situasi yang tidak memungkinkanku untuk
berbohong lagi padanya. Lagian juga kenapa coba Raka menawarkanku boncengan?
Apapun alasannya,aku tak mau tau. Yang terpenting sekarang bagaimana cara
membujuk Fafa agar dia tidak cemburu padaku. Aku memaklumi,kalau aku ada di
posisi Fafa pasti aku akan cemburu dan menuduhnya dengan tuduhan yang mungkin
bisa membuat aku dan Fafa putus. Tapi apa Fafa akan memutuskanku kali ini?Aku
benar-benar belum siap mental untuk dipaksa pergi dari hatinya. Setelah
mengantarkanku dia langsung tancap gas. Dia tidak berpamitan ataupun sekedar
melihatku lagi. Aku berjalan lesu menuju rumahku. Sesampainya di rumah,dua
pesan ku terima. Dari Riani dan juga Fafa yang keduanya sama-sama membuatku
semakin merasa bersalah. Oh Tuhan ini hari apa???
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar