Selasa, 27 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Dimana Ada Luka Disitu Ada Raka

        Ulangan Akhir Semester genap telah dimulai. Seperti biasa aku break dengan Fafa. Kami sama sekali tak berkomunikasi baik via bbm ataupun sms. Sama-sama saling menahan rindu untuk bertemu. Ku lalui dan jalani UAS kali ini dengan sungguh-sungguh. Aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku dan orang-orang yang telah mendoakanku kemarin. Dan selama delapan hari itu juga aku menahan cemas akan prediksi dari Shasha. Apakah benar mitos itu akan menjadi kenyataan? Ku singkirkan prediksi itu jauh-jauh dari fikiranku dan kembali fokus untuk belajar.
     Saat hari ketujuh UAS,tepat aku dan Fafa anniversary jadian yang ketujuh. Aku berharap besar ingin diucapkan happy anniversary olehnya. Namun selama seharian aku online,tak ada tanda-tanda bahwa harapanku terwujud. Aku sudah memancingnya lewat status yang ku pajang di profil BBMku. Apakah dia sengaja lupa atau ada hal lain yang akan dia lakukan untukku? Semacam surprise seperti ultah kemarin mungkin?Ah biarlah. UAS masih satu hari lagi. Aku harus tetap fokus menyelesaikannya dulu.
      Esok harinya,UAS terakhir. Mapel yang diujikan hanya satu dan soal yang diujikan itu mayoritas berasal dari buku lks yang ku pelajari semalam. Belum sempat bel tanda selesai berbunyi,aku keluar dari ruangan. Aku melihat sudah banyak teman-teman di kelas lain yang keluar karena begitu mudahnya soal yang diujikan. Setelah selesai mengerjakan,Aulin mengajakku untuk quality time di kedai yang biasa kami datangi. Disana aku curhat banyak soal Fafa padanya. 
        Kau tau?Siapa yang dulunya tidak setuju bila aku berpacaran dengan Fafa adalah Aulin. Bahkan dia sempat pernah bergumam kalau aku lebih cocok dengan Raka daripada dengan Fafa. Tapi bukan dia yang memberitahu anak IPS itu. Mungkin saja ada orang lain yang memang benci pada hubunganku dengan Fafa,karena sebelum kenal dekat denganku Fafa pernah memiliki hubungan dekat dengan anggota bantara almamater sekolahku. Aku tak cemburu padanya karena sudah nyata sekarang. Dia hanya didekati Fafa sedangkan aku sudah dijadikan sebagai kekasih oleh Fafa. Menang telak.
    Setelah selesai bercengkrama,Aulin mengantarkanku pulang. Sesampainya di rumah,tepat pukul dua belas siang aku menerima telfon dari nomor tak dikenal. Ku angkat telfon sembari naik ke atas balkon rumah…
          “Hallo??Assalamualaikum…???”
          “Hallo Waalaikumsalam….???Meiy….???”
          “Iya ini saya sendiri. Ini dengan siapa ya???”
          “Ini aku Fafa…..”
          “Eh kamuuu yang seminggu gak ada kabarnya???kamu ganti nomer ya???”
          “Hahaha….enggak kok…ini cuma nomer di hp yang satunya. Oh iyaa.... kamu lagi apa?”
          “Aku lagi nyantai aja,habis pulang sekolah…Kamu???”
          “Aku masih di sekolah,oh iyaa….aaku bisa ngomong sesuatu nggak sama kamu?”
          Aku mulai deg-degan. Jangan-jangan dia mau ngasih surprise ke aku…
          “Oh iya bisa kok bisa. Mau ngomong apa???”
          “Bisa enggak,emmm kalau hari ini kita…….. mulai temenan?”
          “Hah???Temenan???Maksudnya???”
          “Yaaaaaaa, kita jadi teman mulai hari ini….gimana???”
          “Ehmmm,…..bentar-bentar aku nggak ngerti deh sama perkataan kamu…Maksud kamu temenan apa???”
          “Yaaaaaa kita temenan….”
          “Putuskah???”
          “Enggak….bukan …..ehmmm…. gini intinya kamu dan aku jadi teman….”
          “Fa!maksud kamu apa sih?kamu kenapa minta aku jadi teman kamu?”
          “Eemmmmm…. Tolong dengerin dulu penjelasanku…..aku…”
          “Apa salahku,Fa?kamu kenapa sih seminggu ngilang terus jadi gini?udah bosen sama aku???”
          “Enggak Meiy…aku enggak bosen sama kamu….”
          “Terus kenapa?udah nggak sayang lagi sama aku?udah ada yang lain?yang lebih dari aku??”
        “Aku masih sayang sama kamu. Kamu terlalu baik buat aku….Tolong kamu nggak usah mikir yang macem-macem…aku pengen kita temenan bukan karena itu semua….”
       “Terus karena apa???karena aku terlalu baik buat kamu?terus kamu mau nyari yang lain yang justru lebih buruk daripada aku? Kamu sadar gak sih kalau kemarin kita annive???dan kamu nggak inget itu kan?terus sekarang kamu mau mutusin aku dengan alasan yang kaya gini????(perlahan suaraku hilang karena tertahan oleh air mataku)”
        “Maafin aku Meiy…..aku tau ini berat,kamu nggak salah apa-apa sama aku, aaaku aku masih inget kalau kita kemarin annivee……tapiiiii…..”
       “Tapi apaaa?!kamu tega Fa!!!!Tega!!!!!!! Aku nggak nyangka kamu bilang gitu ke aku… Aku nggak ngerti apa alesan kamu mutusin aku..aku…aku…. Akkku….masih sayang sama kamuu…..(air mataku mulai membasahi pipiku) daaannn….aku nggak mau temenan sama kamuuu…..aaaku belum siap kalau kamu pergiii…..”
        “Iyyyaaa….aku juga masih sayang sama kamuuu…..tapi setelah ku fikir-fikir lebih baik kita udahan sampe disini aja……Aku nggak bakal punya waktu buat kamu….Kamu terlalu baik buat aku….Daaaan aku pikir kamu bisa nyari yang lain yang lebih bahagiain kamu daripada aku…..Kita temenan aja ya???”
          “Aku nggak percaya kamu ngelakuin ini…”
          “Bismillah….kita putusss”
          “Jangan nyesel!!!”
          “Meiy…aakku”
      Ku tutup telfon dari Fafa. Seketika air mataku mengalir begitu deras membasahi pipiku. Aku tak pernah membayangkan hal ini terjadi. Mitos itu kini benar-benar terbukti. Fafa memutuskanku dengan alasan yang tak jelas seperti ini. Aku sudah terlanjur emosi. Aku sudah terlanjur kalut dan hancur dengan perasaanku sendiri…. Apa salahku Tuhannnn??? Haruskah aku bunuh diri?gantung diri?atau mati?agar dia tau seberapa besar rasa cinta dan sayangku untuknya???Harus ku tunjukkan apa lagi agar dia tau kalau aku benar-benar tulus mencintainya?Aku masih sayang padanya Tuhannn….Aku belum siap kehilangan dia…Aku belum siap kalau dia pergi….Aku belum siap kalau hubunganku berakhir….Aku belum siap untuk patah hati…..Bahkan sebentar lagi aku akan menyandang sebagai calon paskibraka,sama seperti dia. Dan nantinya dia yang akan melatihku…..
        Tuhaaaannnn……kenapa ini semua terjadi?Bagaimana nantinya perjuanganku untuk menjadi calon paskibraka?Apa salahku sampai Fafa memutuskanku???Apa yang membuat Fafa tega memutuskanku Tuhann…..???Tak sadarkah dia bahwa selama ini aku mati-matian mempertahankan hubunganku dengannya??? Tak sadarkah dia selama ini bahwa aku selalu merindukannya di setiap waktuku,mendekapnya dalam doaku,memeluknya dalam mimpiku?Tak sadarkah dia selama ini bahwa aku selalu menunggunya pulang ketika usai kegiatan???Tak sadarkah ia selama ini bahwa aku lah yang rela tersakiti bila teman-temanku selalu menyuruhku untuk putus dengannya hanya gara-gara aku lebih cocok dengan Raka??? Tak sadarkah dia selama ini bahwa dia yang membiarkanku menunggunya terlalu lama dan membuatku berharap besar bahwa akan ada kejutan surprise darinya untukku?
        Tak sadarkah dia bahwa dia baru saja menyakitiku?Melukai perasaanku?Mematahkan hatiku?Menghapus harapanku? Menghentikan mimpiku?Memaksaku untuk berteman dengannya? Menyuruhku mencari yang lain?Yang lebih membahagiakan?Yang lebih pantas menurutnya?Bukan keinginanku semata… Sungguh aku tidak bisa… Aku benar-benar belum siap untuk kehilangannya… Aku belum siap untuk ditinggalkan olehnya…… Melihatnya pergi…..Meninggalkanku sendiri disini….. Merasakan dia tak bersamaku lagi…Tak disisiku lagi…. Ini seperti tuan rumah yang menyuruhku untuk pulang… Untuk berhenti singgah…Untuk mengusirku agar segera pindah….. Aku harus pindah kemana lagi setelah ini???Air mataku mengalir tak henti-henti seharian,hingga semalaman. Aku tak tau sampai kapan air mataku akan berhenti mengalir hingga aku tertidur di atas bantal yang basah akibat derasnya air mata yang tumpah.
                                         ***
      Tangisku belum reda. Aku masih merasakan betapa pahitnya kejadian kemarin siang itu. Nafsu makanku hilang. Tubuhku lemas tak berdaya. Tak hanya sakit fisik,sakit hati juga kurasa mungkin selanjutnya sakit jiwa. Ku tegarkan diriku dan ku tenangkan diriku sembari bersiap untuk pergi menemuinya,di GOR nanti. Hari ini adalah hari terakhir pertemuan antara calon anggota paskibraka sebelum latihan dimulai. Panitia memberikan pengarahan kepada para peserta dan menghimbau agar tetap menjaga kondisi kesehatan selama liburan yang kebetulan liburan kali ini cukup lama karena bersamaan dengan libur kenaikan kelas,libur puasa Ramadan dan juga libur lebaran. 
        Aku tak tau hal apa yang nantinya ku lakukan selama liburan. Meratapi tangisanku?Patah hatiku?Pahitnya kisah cintaku?Dan terkubur dalam kesedihan yang tak tau sampai kapan akan berakhir. Dan kali ini berakhir. Pertemuannya yang ku maksud. Aku pulang dengan langkah lesu. Ingin aku menemuinya namun kehendak hati apa dikata? Tak ingin menambah duka lara ketika melihatnya. Tak ingin menambah sakit hati ketika memandangnya. Tak ingin terlihat menangis ketika dihadapannya. Tak ingin terlihat sedih ketika menatapnya. Dan aku tak ingin menemuinya. Aku rapuh. Aku layu. Aku redup. Aku seperti kehilangan harapan hidupku. Aku seperti kehilangan semangat hidupku. Aku belum bisa menerima segala sesuatu yang telah terjadi padaku. Aku terkulai lesu,lemah dan tak berdaya di jalan pulangku.
       Libur sekolah masih seminggu. Para siswa dihimbau untuk tetap berangkat sekolah sekalipun di sekolah tak ada kegiatan yang berarti. Aku tidak berangkat sekolah hari ini. Bedrest selama tiga hari semenjak kepergian Fafa dari hidupku. Dia tidak mati,hanya cintanya yang mati. Aku bahkan masih merindukannya ketika aku lagi sakit seperti ini. Aku juga masih berharap dia akan memberiku perhatian ketika keadaanku begini. Tapi semua hanya mimpi.. Aku tak bisa berhenti menyukainya,berhenti untuk mencintainya bahkan melupakannya pun aku tak bisa. Apalagi dipaksa. Pahitnya melebihi kepahitan kisah cintaku ketika bersama Andromeda. Lebih besar. Lebih dalam. Lebih menyakitkan.
       Selama aku putus dengan Fafa,aku belum bercerita sama sekali kepada sahabatku atau orang terdekatku. Bahkan orang tuaku pun tak tau kalau aku sakit karena patah hati. Sakit hati yang menyebabkanku sakit fisik. Semenjak putus,aku langsung menghapus semua hal yang berhubungan dengan Fafa. Kontak bbmnya,nomor telponnya,akun line,wa,kecuali instagram. Karena aku masih menandai akunnya di salah satu foto yang pernah aku upload. Aku tak ingin membencinya karena aku tak bisa membencinya. Setelah lima hari bedrest,hari jumat aku mulai berangkat ke sekolah. Mukaku sulit tersenyum sekarang kalau kata mas Rizal. Dia curiga,jangan-jangan aku sakit gara-gara kebanyakan mikirin Fafa. Iya mas Iya. Kepikiran orang yang baru saja membuat semangat hidupku menghilang dan tubuhku tumbang.
       Sesampainya di kelas,para sahabatku sudah menungguku. Mereka khawatir akan keadaanku. Belum sempat mereka bertanya,aku sudah menangis tersedu-sedu…
          “Meeeeiiiyyyyy….kamu kenapa?”
          “Kamu kenapa,Meeiy?kok pagi-pagi udah nangis,digodain om-om kamu?”
          “Eh…Lin!dia lagi nangis bukannya ditanyain baik-baik malah dibercandain…”
          “Kan,aku mau ngehibur dia,Rin….”
          “Meiiiyyy,kamu kenapa?cerita dong sama kita???”
          “Iya Meiiiiyyy,siapa tau kita bisa bantu ngasih solusi???”
         “Lagian juga kamu lagi puasa kan,kalau kamu nangis puasamu bisa batal lho,Meiy?”
          “Aku lagi pms…”
          “Ohhhh lagi pms,toh?kenapa sampe nangis gini?sakit ya emang?”
          “Ih Aulin lama-lama ngeselin ya?Meiy tuh jawab pertanyaan kamu yang nanyain soal puasa…gimana sih?”
          “Meeeiiiyyy cerita gih sama kita….kita ikutan sedih kalau kamu nangis gini….”
          Ku tenangkan diriku dan ku ambil tisu yang Riani beri…..
          “Kamu kenapa,Meiy???”
          “Mitosnya terbukti,Sha….”
          “Hah?maksudnya mitos???”
        “Ya Allah,Meiy…..maaf bukannya aku nakut-nakutin kamu waktu itu,cuma emang di internet juga udah banyak artikel yang bilang kayak gitu… Beneran deh aku nggak ada maksud buat ngedoain kamu biar cepat putus…”
          “Lho???Kamu putus sama Fafa???”
          Aku mengangguk dan mengatur sesaknya jalan nafasku…
       “Aduuuhhhh Meiiiiiyyy……aku jadi ikutin sedih nih?”Aulin memelukku,diikuti Arin,Shasha,dan juga Riani… Air mataku mengalir lagi….
          “Kok bisa putus gimana ceritanya,Meiy?Kok Fafa  nggak cerita ya ke aku?padahal kemarin ahad sebelum puasa,aku,dia dan Dhede sempet ketemu dan CFDan bareng lho….”
          “Aku nggak tau,Rin. Dia tiba-tiba hari sabtu kemarin nelfon aku dan bilang mau temenan… Sumpahh aku nggak kuat ini…”
      “Sabar….Meiy….kamu kuat kok. Masih ada kita disini,kamu nggak usah khawatir,Meiy….kita selalu ada buat kamu…”
          “Mau temenan?Hah maksudnya temenan?putus gitu?”
          “Dia nggak bilang putus secara langsung……”
          “Terus alasan dia mutusin kamu kenapa?”
        “Aku nggak tau alesannya kenapa…..alesannya tuh nggak jelas,intinya…dia nggak bakal punya waktu buat aku lagi….huhuhu…..”
        “Kok aneh ya?kamu nggak nanya gitu atau nginterogasi dia biar dia mau ngejelasin alasan mutusin kamu???”
         “Aku nggak tau,Rin…..aku bener-bener down,semenjak dia mutusin, aku udah nggak kontakan lagi sama dia. Dia tuh kayak udah kukuh gitu buat mutusin aku….aku pasrah,semuanya sekarang udah hancurrrr…..”
       “Udahlah Meiy….kamu tenangin diri kamu dulu….Kamu kan lagi sakit,kamu istirahat aja….jangan terlalu mikirin dia yang udah ninggalin kamu…aku percaya kok dia pasti nyesel udah mutusin kamu…..Senyum dong (rayu Shasha sambil mengusap air mataku)”
                                        ***
        Hari-hariku begitu berat sekarang. Semua tak seperti dulu lagi. Semuanya berubah sekarang. Semuanya sudah berbeda. Mau ngapa-ngapain pun rasanya aku setengah hati melakukannya. Gairah untuk hidup seakan lenyap begitu dia pergi meninggalkanku. Oke ini lebay. Tapi memang kenyataannya seperti ini. Ini aku yang merasakan. Ini aku yang mengalami. Kau tak tau kan bagaimana rasanya ditinggalkan seseorang ketika kau sedang sayang-sayangnya kepada dia? Kau tak tau kan rasanya mendapat luka usai mendapat kejutan? Kau tak tau kan rasanya diputus setelah anniversary jadian? Percayalah ini lebih sakit daripada ditolak saat ingin jadian.
        Kurang lebih setelah seminggu berpuasa,kelasku mengadakan buka bersama. Aulin mengajak Shasha dan juga aku untuk menjadi koordinator atau panitia yang memesankan makanan untuk buka bersama. Aku sebenarnya masih malas untuk keluar rumah. Tapi dengan ajakan Aulin yang begitu antusias sekali,aku jadi mau walau sedikit terpaksa. Kami memesan tempat dan makanan dua hari sebelum hari H. Aulin memutuskan untuk memilih tempat di daerah dimana aku biasanya pergi makan siang bersama Fafa. Aku tak ingin melihat tempat itu karena perasaanku masih sensitif. Sesampainya kami di rumah makan,kami memesan makanan dan satu meja berjajar panjang untuk 25 orang. Jumlah siswa di kelasku ada 32 orang. 7 orang tidak ikut dengan alasan yang tak jelas,sama seperti Fafa (Baper…) Setelah sepakat,kami pulang dan berniat untuk membeli kurma sebagai manisan untuk berbuka.
        Hari H,aku berangkat kesana dijemput oleh Aulin. Sebenarnya selama puasa aku punya banyak jadwal buka bersama dengan banyak orang,organisasi atau alumni sekolahku dulu selain bukber kelas kali ini. Semuanya akan ku datangi. Meskipun aku belum sembuh dari luka patah hati. Namun setidaknya bertemu kawan-kawan dan orang lama akan membuat patah hatiku sedikit terobati. Aku dan Aulin berangkat menuju TKP disusul Shasha. Sesampainya disana,teman-temanku masih menunggu yang lainnya. Aku hanya diam sambil merenungi rumah makan di samping rumah makan yang aku tempati sekarang. Begitu banyak kenangan,impian,canda tawa,keluh kesah,dan memori yang indah yang pernah tercipta disana. Sampai seseorang membuyarkan lamunanku tentang dirinya…
          “Oey!jangan ngalamun,ntar kesambet lho!”
          “Ih…Raka apaan sih?”
          “Hehehe….lagian kenapa sih?bulan puasa nggak boleh ngalamun,entar kesambet setan…”
          “Bulan puasa bukannya nggak ada setan ya?”
          “Yaaaaa setannya muncul kalau kita ngalamun. Ngelamunin apa sih?sampe mata kamu besar gitu?”
          “Ooohhh nggak,ini cuma kurang tidur kok…”
          “Masak kurang tidur???Kok malah kayak orang habis nangis gitu ya?”
          “Udah deh,Ka…. Jangan ngehalangin lamunanku gini…..”
          “Daripada ngelamun mending gitaran sama aku yuk….?kita nyanyi sambil nunggu adzan maghrib…”
          “Ogah ah!”
        Aku pindah tempat dan pergi menghindar dari Raka. Semenjak putus,aku jadi sensitif dengan laki-laki. Aku pikir semua laki-laki itu sama saja. Kalau sudah bosen ya sudah. Senjata khususnya putus dan menghilang. Gampang tinggal nyari yang lain lagi. Aku muak dengan yang namanya laki-laki. Untuk sekarang sih,tidak tau kalau besok.
      Adzan maghrib mulai berkumandang. Kami pun mulai berbuka puasa. Ada yang gantian untuk sholat dan ada juga yang berbuka agar nanti pulangnya tidak kemalaman. Setelah semuanya selesai berbuka dan menunaikan sholat maghrib,kami berfoto selfie bersama. Aku membayar bill. Setelah usai,kami pulang ke rumah masing-masing. Saat di parkiran,Raka memanggilku dan hendak mengantarkanku pulang. Sejujurnya aku masih sensitif,tetapi karena aku dulu pernah bilang kalau dia boleh mengantarkanku kapan saja ketika sempat jadi aku menyetujuinya. 
      Di sepanjang perjalanan pulang dibonceng Raka,aku kembali baper tentang kenanganku dengan Fafa. Dulu selesai makan siang aku sering diantar pulang seperti ini. Saat hujan-hujan,saat selesai les renang,saat pulang dari les,dan saat Raka akan menawarkanku boncengan. Berulang kali dibonceng olehnya aku selalu menyandarkan kepalaku dibahunya. Dan tanpa sadar air mataku menetes di pipiku hingga Raka sudah di depan rumahku. Ku usap air mataku dan ku ucap terima kasih pada Raka. Saat aku berbalik,dia menepuk pundakku…
          “Lho,kamu kenapa Meiy?kok nangis?”
          Aku hanya menggelengkan kepalaku….
          “Tadi aku boncengnya ngebut ya?terus mata kamu perih gitu?”
     Aku menggelengkan kepalaku lagi. Raka mulai memarkirkan motornya dan membawa serta gitarnya. Kami duduk di teras rumah sambil memandang langit malam penuh bintang. Namun bagiku langit yang ku lihat hampa sekarang,seperti perasaanku saat ini. Dia duduk di sampingku dan mengulangi pertanyaannya lagi…
          “Jadi,kamu kenapa sih sebenernya?ada masalah apa sampai kamu jadi kayak gini…?”
          Ku gelengkan kepalaku yang ketiga kalinya
          “Yasudah kalau kamu nggak mau cerita sama aku,Tapi aku boleh kan gitaran disini? Aku nggak minta recehan kok. Aku cuma baru belajar aransemen lagu baru. Mau denger nggak?”
          Aku hanya mengangguk. Kemudian dia bernyanyi…..
Jreng Jreng Jreng
‘Engkau yang sedang patah hati…
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan…
Betapa pedih hati yang tersakiti….
Racun yang membunuhmu secara perlahan….
Engkau yang saat ini pilu…..
Betapa menanggung beban kepedihan….
Tumpahkan sedih itu dalam tangismu…..
Yang menusuk relung hati yang paling dalam….
Hanya diri sendiri….
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti…..
Disini ku temani kau dalam tangismu…..
Bila air mata dapat cairkan hati……
Kan ku cabut duri perih dalam hatimu…..
Agar ku lihat senyum ditidurmu malam nanti…..
Anggap lah semua ini…..
Satu langkah dewasakan diri….
Dan tak terpungkiri juga bagi…’
      Tangisku pecah begitu dia melantunkan lagu untukku. Pundaknya basah oleh tangisku malam itu. Ketika tangisku tak terbendung lagi,dia menghentikan gitarannya dan merangkul pundakku. Dia juga mengusap air mata di pipiku dan membelai lembut kepalaku. Aku merasa nyaman disisinya. Seolah patah hatiku perlahan diobati karenanya. Sambil bersandar,aku berbisik dalam hati…
          ‘Aku pulang,Ka…..
          ‘Aku lemah…
          ‘Aku ingin pindah….
          ‘Aku mau singgah…
          ‘Di rumahmu… Bersamamu…
          ‘Bolehkah???’

                                      ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar