Ulangan Akhir Semester genap telah dimulai. Seperti biasa aku break
dengan Fafa. Kami sama sekali tak berkomunikasi baik via bbm ataupun sms.
Sama-sama saling menahan rindu untuk bertemu. Ku lalui dan jalani UAS kali ini
dengan sungguh-sungguh. Aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku dan
orang-orang yang telah mendoakanku kemarin. Dan selama delapan hari itu juga
aku menahan cemas akan prediksi dari Shasha. Apakah benar mitos itu akan
menjadi kenyataan? Ku singkirkan prediksi itu jauh-jauh dari fikiranku dan
kembali fokus untuk belajar.
Saat hari ketujuh
UAS,tepat aku dan Fafa anniversary jadian yang ketujuh. Aku berharap besar
ingin diucapkan happy anniversary olehnya. Namun selama seharian aku online,tak
ada tanda-tanda bahwa harapanku terwujud. Aku sudah memancingnya lewat status
yang ku pajang di profil BBMku. Apakah dia sengaja lupa atau ada hal lain yang
akan dia lakukan untukku? Semacam surprise seperti ultah kemarin mungkin?Ah
biarlah. UAS masih satu hari lagi. Aku harus tetap fokus menyelesaikannya dulu.
Esok harinya,UAS
terakhir. Mapel yang diujikan hanya satu dan soal yang diujikan itu mayoritas
berasal dari buku lks yang ku pelajari semalam. Belum sempat bel tanda selesai
berbunyi,aku keluar dari ruangan. Aku melihat sudah banyak teman-teman di kelas
lain yang keluar karena begitu mudahnya soal yang diujikan. Setelah selesai
mengerjakan,Aulin mengajakku untuk quality time di kedai yang biasa kami
datangi. Disana aku curhat banyak soal Fafa padanya.
Kau tau?Siapa yang dulunya
tidak setuju bila aku berpacaran dengan Fafa adalah Aulin. Bahkan dia sempat
pernah bergumam kalau aku lebih cocok dengan Raka daripada dengan Fafa. Tapi
bukan dia yang memberitahu anak IPS itu. Mungkin saja ada orang lain yang
memang benci pada hubunganku dengan Fafa,karena sebelum kenal dekat denganku
Fafa pernah memiliki hubungan dekat dengan anggota bantara almamater sekolahku.
Aku tak cemburu padanya karena sudah nyata sekarang. Dia hanya didekati Fafa
sedangkan aku sudah dijadikan sebagai kekasih oleh Fafa. Menang telak.
Setelah selesai
bercengkrama,Aulin mengantarkanku pulang. Sesampainya di rumah,tepat pukul dua
belas siang aku menerima telfon dari nomor tak dikenal. Ku angkat telfon
sembari naik ke atas balkon rumah…
“Hallo??Assalamualaikum…???”
“Hallo
Waalaikumsalam….???Meiy….???”
“Iya ini saya
sendiri. Ini dengan siapa ya???”
“Ini aku Fafa…..”
“Eh kamuuu yang seminggu
gak ada kabarnya???kamu ganti nomer ya???”
“Hahaha….enggak
kok…ini cuma nomer di hp yang satunya. Oh iyaa.... kamu lagi apa?”
“Aku lagi nyantai
aja,habis pulang sekolah…Kamu???”
“Aku masih di
sekolah,oh iyaa….aaku bisa ngomong sesuatu nggak sama kamu?”
Aku mulai deg-degan.
Jangan-jangan dia mau ngasih surprise ke aku…
“Oh iya bisa kok
bisa. Mau ngomong apa???”
“Bisa enggak,emmm
kalau hari ini kita…….. mulai temenan?”
“Hah???Temenan???Maksudnya???”
“Yaaaaaaa, kita jadi
teman mulai hari ini….gimana???”
“Ehmmm,…..bentar-bentar
aku nggak ngerti deh sama perkataan kamu…Maksud kamu temenan apa???”
“Yaaaaaa kita
temenan….”
“Putuskah???”
“Enggak….bukan
…..ehmmm…. gini intinya kamu dan aku jadi teman….”
“Fa!maksud kamu apa
sih?kamu kenapa minta aku jadi teman kamu?”
“Eemmmmm…. Tolong
dengerin dulu penjelasanku…..aku…”
“Apa salahku,Fa?kamu
kenapa sih seminggu ngilang terus jadi gini?udah bosen sama aku???”
“Enggak Meiy…aku
enggak bosen sama kamu….”
“Terus kenapa?udah
nggak sayang lagi sama aku?udah ada yang lain?yang lebih dari aku??”
“Aku masih sayang
sama kamu. Kamu terlalu baik buat aku….Tolong kamu nggak usah mikir yang
macem-macem…aku pengen kita temenan bukan karena itu semua….”
“Terus karena
apa???karena aku terlalu baik buat kamu?terus kamu mau nyari yang lain yang
justru lebih buruk daripada aku? Kamu sadar gak sih kalau kemarin kita annive???dan
kamu nggak inget itu kan?terus sekarang kamu mau mutusin aku dengan alasan yang
kaya gini????(perlahan suaraku hilang karena tertahan oleh air mataku)”
“Maafin aku
Meiy…..aku tau ini berat,kamu nggak salah apa-apa sama aku, aaaku aku masih
inget kalau kita kemarin annivee……tapiiiii…..”
“Tapi apaaa?!kamu tega
Fa!!!!Tega!!!!!!! Aku nggak nyangka kamu bilang gitu ke aku… Aku nggak ngerti
apa alesan kamu mutusin aku..aku…aku…. Akkku….masih sayang sama kamuu…..(air
mataku mulai membasahi pipiku) daaannn….aku nggak mau temenan sama kamuuu…..aaaku
belum siap kalau kamu pergiii…..”
“Iyyyaaa….aku juga
masih sayang sama kamuuu…..tapi setelah ku fikir-fikir lebih baik kita udahan
sampe disini aja……Aku nggak bakal punya waktu buat kamu….Kamu terlalu baik buat
aku….Daaaan aku pikir kamu bisa nyari yang lain yang lebih bahagiain kamu
daripada aku…..Kita temenan aja ya???”
“Aku nggak percaya
kamu ngelakuin ini…”
“Bismillah….kita
putusss”
“Jangan nyesel!!!”
“Meiy…aakku”
Ku tutup telfon dari
Fafa. Seketika air mataku mengalir begitu deras membasahi pipiku. Aku tak
pernah membayangkan hal ini terjadi. Mitos itu kini benar-benar terbukti. Fafa
memutuskanku dengan alasan yang tak jelas seperti ini. Aku sudah terlanjur
emosi. Aku sudah terlanjur kalut dan hancur dengan perasaanku sendiri…. Apa
salahku Tuhannnn??? Haruskah aku bunuh diri?gantung diri?atau mati?agar dia tau
seberapa besar rasa cinta dan sayangku untuknya???Harus ku tunjukkan apa lagi
agar dia tau kalau aku benar-benar tulus mencintainya?Aku masih sayang padanya
Tuhannn….Aku belum siap kehilangan dia…Aku belum siap kalau dia pergi….Aku
belum siap kalau hubunganku berakhir….Aku belum siap untuk patah hati…..Bahkan
sebentar lagi aku akan menyandang sebagai calon paskibraka,sama seperti dia.
Dan nantinya dia yang akan melatihku…..
Tuhaaaannnn……kenapa ini semua terjadi?Bagaimana
nantinya perjuanganku untuk menjadi calon paskibraka?Apa salahku sampai Fafa
memutuskanku???Apa yang membuat Fafa tega memutuskanku Tuhann…..???Tak sadarkah
dia bahwa selama ini aku mati-matian mempertahankan hubunganku dengannya??? Tak
sadarkah dia selama ini bahwa aku selalu merindukannya di setiap
waktuku,mendekapnya dalam doaku,memeluknya dalam mimpiku?Tak sadarkah dia
selama ini bahwa aku selalu menunggunya pulang ketika usai kegiatan???Tak sadarkah
ia selama ini bahwa aku lah yang rela tersakiti bila teman-temanku selalu
menyuruhku untuk putus dengannya hanya gara-gara aku lebih cocok dengan Raka???
Tak sadarkah dia selama ini bahwa dia yang membiarkanku menunggunya terlalu
lama dan membuatku berharap besar bahwa akan ada kejutan surprise darinya
untukku?
Tak sadarkah dia bahwa dia baru saja menyakitiku?Melukai perasaanku?Mematahkan
hatiku?Menghapus harapanku? Menghentikan mimpiku?Memaksaku untuk berteman
dengannya? Menyuruhku mencari yang lain?Yang lebih membahagiakan?Yang lebih
pantas menurutnya?Bukan keinginanku semata… Sungguh aku tidak bisa… Aku
benar-benar belum siap untuk kehilangannya… Aku belum siap untuk ditinggalkan
olehnya…… Melihatnya pergi…..Meninggalkanku sendiri disini….. Merasakan dia tak
bersamaku lagi…Tak disisiku lagi…. Ini seperti tuan rumah yang menyuruhku untuk
pulang… Untuk berhenti singgah…Untuk mengusirku agar segera pindah….. Aku harus
pindah kemana lagi setelah ini???Air mataku mengalir tak henti-henti
seharian,hingga semalaman. Aku tak tau sampai kapan air mataku akan berhenti
mengalir hingga aku tertidur di atas bantal yang basah akibat derasnya air mata
yang tumpah.
***
Tangisku belum reda.
Aku masih merasakan betapa pahitnya kejadian kemarin siang itu. Nafsu makanku
hilang. Tubuhku lemas tak berdaya. Tak hanya sakit fisik,sakit hati juga kurasa
mungkin selanjutnya sakit jiwa. Ku tegarkan diriku dan ku tenangkan diriku
sembari bersiap untuk pergi menemuinya,di GOR nanti. Hari ini adalah hari
terakhir pertemuan antara calon anggota paskibraka sebelum latihan dimulai.
Panitia memberikan pengarahan kepada para peserta dan menghimbau agar tetap
menjaga kondisi kesehatan selama liburan yang kebetulan liburan kali ini cukup
lama karena bersamaan dengan libur kenaikan kelas,libur puasa Ramadan dan juga
libur lebaran.
Aku tak tau hal apa yang nantinya ku lakukan selama liburan.
Meratapi tangisanku?Patah hatiku?Pahitnya kisah cintaku?Dan terkubur dalam
kesedihan yang tak tau sampai kapan akan berakhir. Dan kali ini berakhir.
Pertemuannya yang ku maksud. Aku pulang dengan langkah lesu. Ingin aku
menemuinya namun kehendak hati apa dikata? Tak ingin menambah duka lara ketika
melihatnya. Tak ingin menambah sakit hati ketika memandangnya. Tak ingin
terlihat menangis ketika dihadapannya. Tak ingin terlihat sedih ketika menatapnya.
Dan aku tak ingin menemuinya. Aku rapuh. Aku layu. Aku redup. Aku seperti
kehilangan harapan hidupku. Aku seperti kehilangan semangat hidupku. Aku belum
bisa menerima segala sesuatu yang telah terjadi padaku. Aku terkulai lesu,lemah
dan tak berdaya di jalan pulangku.
Libur sekolah masih
seminggu. Para siswa dihimbau untuk tetap berangkat sekolah sekalipun di
sekolah tak ada kegiatan yang berarti. Aku tidak berangkat sekolah hari ini.
Bedrest selama tiga hari semenjak kepergian Fafa dari hidupku. Dia tidak
mati,hanya cintanya yang mati. Aku bahkan masih merindukannya ketika aku lagi
sakit seperti ini. Aku juga masih berharap dia akan memberiku perhatian ketika
keadaanku begini. Tapi semua hanya mimpi.. Aku tak bisa berhenti
menyukainya,berhenti untuk mencintainya bahkan melupakannya pun aku tak bisa.
Apalagi dipaksa. Pahitnya melebihi kepahitan kisah cintaku ketika bersama
Andromeda. Lebih besar. Lebih dalam. Lebih menyakitkan.
Selama aku putus
dengan Fafa,aku belum bercerita sama sekali kepada sahabatku atau orang
terdekatku. Bahkan orang tuaku pun tak tau kalau aku sakit karena patah hati.
Sakit hati yang menyebabkanku sakit fisik. Semenjak putus,aku langsung
menghapus semua hal yang berhubungan dengan Fafa. Kontak bbmnya,nomor
telponnya,akun line,wa,kecuali instagram. Karena aku masih menandai akunnya di
salah satu foto yang pernah aku upload. Aku tak ingin membencinya karena aku
tak bisa membencinya. Setelah lima hari bedrest,hari jumat aku mulai berangkat
ke sekolah. Mukaku sulit tersenyum sekarang kalau kata mas Rizal. Dia
curiga,jangan-jangan aku sakit gara-gara kebanyakan mikirin Fafa. Iya mas Iya.
Kepikiran orang yang baru saja membuat semangat hidupku menghilang dan tubuhku
tumbang.
Sesampainya di
kelas,para sahabatku sudah menungguku. Mereka khawatir akan keadaanku. Belum
sempat mereka bertanya,aku sudah menangis tersedu-sedu…
“Meeeeiiiyyyyy….kamu
kenapa?”
“Kamu kenapa,Meeiy?kok
pagi-pagi udah nangis,digodain om-om kamu?”
“Eh…Lin!dia lagi
nangis bukannya ditanyain baik-baik malah dibercandain…”
“Kan,aku mau ngehibur
dia,Rin….”
“Meiiiyyy,kamu
kenapa?cerita dong sama kita???”
“Iya Meiiiiyyy,siapa
tau kita bisa bantu ngasih solusi???”
“Lagian juga kamu
lagi puasa kan,kalau kamu nangis puasamu bisa batal lho,Meiy?”
“Aku lagi pms…”
“Ohhhh lagi pms,toh?kenapa
sampe nangis gini?sakit ya emang?”
“Ih Aulin lama-lama
ngeselin ya?Meiy tuh jawab pertanyaan kamu yang nanyain soal puasa…gimana sih?”
“Meeeiiiyyy cerita
gih sama kita….kita ikutan sedih kalau kamu nangis gini….”
Ku tenangkan diriku
dan ku ambil tisu yang Riani beri…..
“Kamu kenapa,Meiy???”
“Mitosnya
terbukti,Sha….”
“Hah?maksudnya
mitos???”
“Ya Allah,Meiy…..maaf
bukannya aku nakut-nakutin kamu waktu itu,cuma emang di internet juga udah
banyak artikel yang bilang kayak gitu… Beneran deh aku nggak ada maksud buat
ngedoain kamu biar cepat putus…”
“Lho???Kamu putus
sama Fafa???”
Aku mengangguk dan
mengatur sesaknya jalan nafasku…
“Aduuuhhhh
Meiiiiiyyy……aku jadi ikutin sedih nih?”Aulin memelukku,diikuti Arin,Shasha,dan juga
Riani… Air mataku mengalir lagi….
“Kok bisa putus
gimana ceritanya,Meiy?Kok Fafa nggak
cerita ya ke aku?padahal kemarin ahad sebelum puasa,aku,dia dan Dhede sempet
ketemu dan CFDan bareng lho….”
“Aku nggak tau,Rin.
Dia tiba-tiba hari sabtu kemarin nelfon aku dan bilang mau temenan… Sumpahh aku
nggak kuat ini…”
“Sabar….Meiy….kamu
kuat kok. Masih ada kita disini,kamu nggak usah khawatir,Meiy….kita selalu ada
buat kamu…”
“Mau temenan?Hah
maksudnya temenan?putus gitu?”
“Dia nggak bilang
putus secara langsung……”
“Terus alasan dia
mutusin kamu kenapa?”
“Aku nggak tau
alesannya kenapa…..alesannya tuh nggak jelas,intinya…dia nggak bakal punya
waktu buat aku lagi….huhuhu…..”
“Kok aneh ya?kamu
nggak nanya gitu atau nginterogasi dia biar dia mau ngejelasin alasan mutusin
kamu???”
“Aku nggak
tau,Rin…..aku bener-bener down,semenjak dia mutusin, aku udah nggak kontakan
lagi sama dia. Dia tuh kayak udah kukuh gitu buat mutusin aku….aku pasrah,semuanya
sekarang udah hancurrrr…..”
“Udahlah Meiy….kamu
tenangin diri kamu dulu….Kamu kan lagi sakit,kamu istirahat aja….jangan terlalu
mikirin dia yang udah ninggalin kamu…aku percaya kok dia pasti nyesel udah
mutusin kamu…..Senyum dong (rayu Shasha sambil mengusap air mataku)”
***
Hari-hariku begitu berat sekarang. Semua tak seperti dulu
lagi. Semuanya berubah sekarang. Semuanya sudah berbeda. Mau ngapa-ngapain pun
rasanya aku setengah hati melakukannya. Gairah untuk hidup seakan lenyap begitu
dia pergi meninggalkanku. Oke ini lebay. Tapi memang kenyataannya seperti ini.
Ini aku yang merasakan. Ini aku yang mengalami. Kau tak tau kan bagaimana
rasanya ditinggalkan seseorang ketika kau sedang sayang-sayangnya kepada dia? Kau
tak tau kan rasanya mendapat luka usai mendapat kejutan? Kau tak tau kan
rasanya diputus setelah anniversary jadian? Percayalah ini lebih sakit daripada
ditolak saat ingin jadian.
Kurang lebih setelah
seminggu berpuasa,kelasku mengadakan buka bersama. Aulin mengajak Shasha dan
juga aku untuk menjadi koordinator atau panitia yang memesankan makanan untuk
buka bersama. Aku sebenarnya masih malas untuk keluar rumah. Tapi dengan ajakan
Aulin yang begitu antusias sekali,aku jadi mau walau sedikit terpaksa. Kami
memesan tempat dan makanan dua hari sebelum hari H. Aulin memutuskan untuk
memilih tempat di daerah dimana aku biasanya pergi makan siang bersama Fafa.
Aku tak ingin melihat tempat itu karena perasaanku masih sensitif. Sesampainya
kami di rumah makan,kami memesan makanan dan satu meja berjajar panjang untuk
25 orang. Jumlah siswa di kelasku ada 32 orang. 7 orang tidak ikut dengan
alasan yang tak jelas,sama seperti Fafa (Baper…) Setelah sepakat,kami pulang
dan berniat untuk membeli kurma sebagai manisan untuk berbuka.
Hari H,aku berangkat
kesana dijemput oleh Aulin. Sebenarnya selama puasa aku punya banyak jadwal buka
bersama dengan banyak orang,organisasi atau alumni sekolahku dulu selain bukber
kelas kali ini. Semuanya akan ku datangi. Meskipun aku belum sembuh dari luka
patah hati. Namun setidaknya bertemu kawan-kawan dan orang lama akan membuat patah
hatiku sedikit terobati. Aku dan Aulin berangkat menuju TKP disusul Shasha.
Sesampainya disana,teman-temanku masih menunggu yang lainnya. Aku hanya diam
sambil merenungi rumah makan di samping rumah makan yang aku tempati sekarang.
Begitu banyak kenangan,impian,canda tawa,keluh kesah,dan memori yang indah yang
pernah tercipta disana. Sampai seseorang membuyarkan lamunanku tentang dirinya…
“Oey!jangan
ngalamun,ntar kesambet lho!”
“Ih…Raka apaan sih?”
“Hehehe….lagian
kenapa sih?bulan puasa nggak boleh ngalamun,entar kesambet setan…”
“Bulan puasa bukannya
nggak ada setan ya?”
“Yaaaaa setannya
muncul kalau kita ngalamun. Ngelamunin apa sih?sampe mata kamu besar gitu?”
“Ooohhh nggak,ini cuma
kurang tidur kok…”
“Masak kurang
tidur???Kok malah kayak orang habis nangis gitu ya?”
“Udah deh,Ka…. Jangan
ngehalangin lamunanku gini…..”
“Daripada ngelamun
mending gitaran sama aku yuk….?kita nyanyi sambil nunggu adzan maghrib…”
“Ogah ah!”
Aku pindah tempat dan
pergi menghindar dari Raka. Semenjak putus,aku jadi sensitif dengan laki-laki.
Aku pikir semua laki-laki itu sama saja. Kalau sudah bosen ya sudah. Senjata
khususnya putus dan menghilang. Gampang tinggal nyari yang lain lagi. Aku muak
dengan yang namanya laki-laki. Untuk sekarang sih,tidak tau kalau besok.
Adzan maghrib mulai
berkumandang. Kami pun mulai berbuka puasa. Ada yang gantian untuk sholat dan
ada juga yang berbuka agar nanti pulangnya tidak kemalaman. Setelah semuanya selesai
berbuka dan menunaikan sholat maghrib,kami berfoto selfie bersama. Aku membayar
bill. Setelah usai,kami pulang ke rumah masing-masing. Saat di parkiran,Raka
memanggilku dan hendak mengantarkanku pulang. Sejujurnya aku masih sensitif,tetapi
karena aku dulu pernah bilang kalau dia boleh mengantarkanku kapan saja ketika
sempat jadi aku menyetujuinya.
Di sepanjang perjalanan pulang dibonceng
Raka,aku kembali baper tentang kenanganku dengan Fafa. Dulu selesai makan siang
aku sering diantar pulang seperti ini. Saat hujan-hujan,saat selesai les
renang,saat pulang dari les,dan saat Raka akan menawarkanku boncengan. Berulang
kali dibonceng olehnya aku selalu menyandarkan kepalaku dibahunya. Dan tanpa
sadar air mataku menetes di pipiku hingga Raka sudah di depan rumahku. Ku usap
air mataku dan ku ucap terima kasih pada Raka. Saat aku berbalik,dia menepuk
pundakku…
“Lho,kamu kenapa
Meiy?kok nangis?”
Aku hanya menggelengkan
kepalaku….
“Tadi aku boncengnya
ngebut ya?terus mata kamu perih gitu?”
Aku menggelengkan
kepalaku lagi. Raka mulai memarkirkan motornya dan membawa serta gitarnya. Kami
duduk di teras rumah sambil memandang langit malam penuh bintang. Namun bagiku
langit yang ku lihat hampa sekarang,seperti perasaanku saat ini. Dia duduk di
sampingku dan mengulangi pertanyaannya lagi…
“Jadi,kamu kenapa sih
sebenernya?ada masalah apa sampai kamu jadi kayak gini…?”
Ku gelengkan kepalaku
yang ketiga kalinya
“Yasudah kalau kamu
nggak mau cerita sama aku,Tapi aku boleh kan gitaran disini? Aku nggak minta
recehan kok. Aku cuma baru belajar aransemen lagu baru. Mau denger nggak?”
Aku hanya mengangguk.
Kemudian dia bernyanyi…..
Jreng Jreng Jreng
‘Engkau
yang sedang patah hati…
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan…
Betapa pedih hati yang tersakiti….
Racun yang membunuhmu secara perlahan….
Engkau yang saat ini pilu…..
Betapa menanggung beban kepedihan….
Tumpahkan sedih itu dalam tangismu…..
Yang menusuk relung hati yang paling dalam….
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan…
Betapa pedih hati yang tersakiti….
Racun yang membunuhmu secara perlahan….
Engkau yang saat ini pilu…..
Betapa menanggung beban kepedihan….
Tumpahkan sedih itu dalam tangismu…..
Yang menusuk relung hati yang paling dalam….
Hanya diri
sendiri….
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti…..
Disini ku temani kau dalam tangismu…..
Bila air mata dapat cairkan hati……
Kan ku cabut duri perih dalam hatimu…..
Agar ku lihat senyum ditidurmu malam nanti…..
Anggap lah semua ini…..
Satu langkah dewasakan diri….
Dan tak terpungkiri juga bagi…’
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti…..
Disini ku temani kau dalam tangismu…..
Bila air mata dapat cairkan hati……
Kan ku cabut duri perih dalam hatimu…..
Agar ku lihat senyum ditidurmu malam nanti…..
Anggap lah semua ini…..
Satu langkah dewasakan diri….
Dan tak terpungkiri juga bagi…’
Tangisku pecah begitu
dia melantunkan lagu untukku. Pundaknya basah oleh tangisku malam itu. Ketika
tangisku tak terbendung lagi,dia menghentikan gitarannya dan merangkul pundakku.
Dia juga mengusap air mata di pipiku dan membelai lembut kepalaku. Aku merasa
nyaman disisinya. Seolah patah hatiku perlahan diobati karenanya. Sambil
bersandar,aku berbisik dalam hati…
‘Aku pulang,Ka…..
‘Aku lemah…
‘Aku ingin pindah….
‘Aku mau singgah…
‘Di rumahmu… Bersamamu…
‘Bolehkah???’
‘Aku lemah…
‘Aku ingin pindah….
‘Aku mau singgah…
‘Di rumahmu… Bersamamu…
‘Bolehkah???’
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar