Rabu, 28 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Puncak Perjuangan Cinta

       Liburan ku jalani dengan penuh kesabaran dan kerlingan air mata. Aku tau,tak mudah menahan rasa sedih ketika berpuasa. Tak mudah mengelola perasaan ketika menahan nafsu dunia. Tak mudah tak memikirkannya walau hanya sehari saja. Bayang-bayangnya masih terlintas di layar ponselku meski sebenarnya tak ada. Namun aku selalu berharap dan merasa ada notif dari dia. Riani pernah bilang kalau kita baru saja putus hubungan dengan pacar,jangan sampai ada yang namanya dendam. Jangan sampai ada insiden menghapus kontak mantan,memutus tali silaturahmi,atau bahkan menghindarinya seolah kamu phobia dengannya. Mungkin ada yang sebagian kecil orang phobia dengan masa lalunya,tapi pastikan bukan kamu orangnya. Dia juga pernah bilang kalau kita melakukan hal itu,berarti kita kurang dewasa dalam bertindak. Masih kekanak-kanakan. Bukankah setelah putus justru kita akan merasa lebih bebas,lebih dewasa dalam bersikap,dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat? Tapi aku sudah terlanjur melakukan apa larangannya.
      Libur puasa ku isi dengan berkumpul bersama sahabat-sahabatku. Berkat mereka lukaku jadi agak sedikit terobati. Mereka menghiburku dengan segala tingkah kekonyolan mereka. Mereka mengajakku belanja,melihat pameran,dan jalan-jalan ke suatu tempat. Mereka juga selalu menanyakan apa alasan Fafa memutuskanku. Ku jawab saja memang sudah waktunya putus. Aku tak ingin membahas tentangnya lagi. Riani juga sempat menyuruhku untuk segera menemuinya lalu memintanya untuk menjelaskan apa alasan dia memutuskanku. Tapi ku pikir aku akan semakin menderita bila mengulik-ngulik tentangnya lagi. Suatu saat jika aku kuat,aku akan mencoba menemuinya dan memintanya untuk menjelaskanku. Tapi entah kapan itu terjadi.
      Libur lebaran ku luangkan waktuku untuk menonton film bersama Riani. Hanya berdua. Iya dia yang minta. Setelah selesai dari acara halal bihalal ambalan,Riani langsung menjemputku. Kami mampir ke rumahnya dulu dan langsung menuju ke tkp. Bioskop nampak ramai. Meski jadwal film yang akan kami tonton sudah mulai, kami tetap memesan tiket saat itu juga. Riani memesan nomer kursi yang sama ketika dulu aku nonton bersama Fafa. Karena yang belum terisi hanya dua kursi itu. Kami memasuki bioskop dan menonton film. 
       Film yang ditayangkan mengisahkan tentang perjuangan melawan pahitnya patah hati seorang pemuda yang sangat sayang pada kekasihnya yang baru saja meninggalkannya. Pemuda itu dibantu oleh sahabatnya yaitu seorang perempuan yang mengalami hal yang sama seperti pemuda itu namun dia patah hati bukan karena diputuskan pacarnya melainkan pacarnya meninggal dunia. Mereka menikmati tahap demi tahap mengobati patah hati mereka dan menemukan hikmah serta pelajaran dari kepahitan patah hati mereka. Hingga akhirnya mereka menikah dengan pasangan mereka masing-masing di tanggal dan bulan yang sama namun di tahun yang berbeda.  
Meskipun film ini bergenre komedi,tapi terselip kisah romantis di dalamnya. Saking menghayati film itu,aku jadi baper dan menangis bombay kalau kata Riani. Aku berharap akan bahagia layaknya perempuan di film itu tapi aku tak ingin ditinggalkan dengan alasan kekasihku meninggal dunia. Ku ulangi sekali lagi,dia tidak mati. Cintanya yang mati. Tapi aku merasa aku dan Riani memiliki nasib yang sama seperti film yang ditayangkan. Terutama soal kisah cinta. Kami ditinggalkan oleh kekasih kami ketika kami sedang sayang-sayangnya kepada mereka. Coco dan juga Fafa. Dua pria yang terlahir dari dua orangtua yang berbeda namun mereka memiliki sifat yang sama. Meninggalkan tanpa alasan yang jelas. Entah karena hal itu disengaja atau tidak,aku tak ingin memperdalamnya.
Seusai menonton film aku dan Riani menuju ke kafe dekat bioskop. Saat makanpun,kami tertegun pada pikiran masing-masing. Mungkin tentang film tadi. Atau mungkin mengenai alasan mereka yang meninggalkan kami tanpa alasan yang pasti. Walaupun Riani sudah memiliki pengganti namun aku merasa dia belum bisa move on dari mantannya. Dan mungkin cara dia menjalani hubungan dengan pacarnya yang sekarang tak sebahagia dulu ketika dengan Coco. Rasanya pasti berbeda,karena dia menjalaninya dengan orang yang berbeda dan kisah yang berbeda pula. Ah ku pikir ini hanya pelampiasan Riani semata. Tapi biarlah. Aku tak ingin mengurusinya.
                                      ***
      Tepat libur lebaran pada hari kelima,latihan perdana calon paskibraka dimulai. Aku berangkat sendiri kesana menggunakan hadiah dari ayahku. Aku sangat bersemangat sekali. Ya walau patah hati masih terasa disini(nunjuk hati..) Pukul enam pagi aku sudah bersiap menuju ke tempat latihan. Area halaman GOR tempat latihannya. Sebelum berangkat kesana tak lupa ku cium tangan kedua orangtuaku dan memohon doa restu agar dilancarkan segalanya. Lalu aku menghidupkan motorku dan bergegas pergi kesana. Sebelum kesana,aku sudah berjanji pada Esta untuk menghampirinya. Dia sudah bersiap di gang kecil dekat rumahnya. Kami pun berangkat menuju kesana.
       Sesampainya di tempat latihan,aku memarkirkan motorku dan menaruh tasku di tempat yang disediakan. Sudah banyak yang menunggu. Kami hampir terlambat. Penertiban barisan dipimpin oleh kakak dari PPI. Yang jelas bukan Fafa. Dia tak mungkin memimpin apel seperti ini. Oke jangan bahas Fafa. Aku sedang berusaha untuk tidak memikirkannya namun tetap saja teringat terus. Setelah apel,ada perkenalan dari para kakak PPI. Aku sudah sangat bersyukur tak melihat tanda keberadaan Fafa. Lalu,kakak dari PPI meminta para peserta calon paskibraka untuk memperkenalkan diri di depan para peserta satu-persatu. Banyak yang grogi dan banyak juga yang terlalu serius sampai-sampai digoda oleh kakak PPI. Kini giliranku untuk memperkenalkan diri. Sama seperti saat tes keterampilan,salah satu kakak PPI berusaha mengomporiku tentang hubungan lamaku dengan Fafa. Aku hanya tersenyum kaku ke arahnya. Kau tau kan ini senyuman apa? Antara malu,sakit,dan juga terpaksa. Setelah memperkenalkan diri,aku kembali duduk ke dalam barisan.
      Setelah selesai perkenalan,seorang perwira TNI datang. Namanya Pak Gito. Beliau yang nantinya akan melatih kami. Tak hanya seorang,beliau juga dibantu oleh kedua temannya yang bernama Pak Ical dan Pak Jalu. Mereka sama-sama terlihat garang namun dibalik kegarangan mereka tersimpan sikap konyol dan jenaka. Setelah beliau memperkenalkan diri,latihan dimulai. Ada push up,sit up,jongkok berdiri,dll. Latihan sangat intensif dan repetisi. Seusai latihan,para peserta beristirahat dan menikmati makanan yang disediakan oleh kakak PPI. Peserta duduk sejajar dalam dua saf dan berhadap-hadapan. Aku duduk berhadapan dengan seorang pemuda berkulit putih dan berkumis tipis. Dari tampangnya aku menerka bahwa dia almamater sekolah berbasis agamis. Dan ternyata benar. Di sela-sela menikmati makanan,aku berkenalan dengannya. Namanya Mandala. Tak hanya depanku,aku juga berkenalan dengan samping kanan dan kiriku. Yang kiri namanya Seruni dan yang kanan namanya Hendra.
Seusai menyantap,tiba pembagian seragam dan fasilitas untuk latihan oleh Kakak PPI. Banyak kakak-kakak PPI yang baru datang membawa tumpukan kardus yang isinya sepatu dan seragam olahraga beserta training untuk latihan. Dan diantara kakak-kakak itu aku melihat Fafa dan juga Raka. Aku berharap Fafa akan melihatku namun ternyata tidak sama sekali. Ketika pembagianpun,dia tak membagikan seragam padaku padahal jarak antara aku dan dia lumayan dekat. Justru yang memberikan seragam untukku adalah Raka. Aku tersenyum dan berterima kasih pada Raka. Kak Adi,salah satu dari sekian kakak PPI yang mengatur dan mengurus segalanya menghimbau agar mewajibkan seragam dan fasilitas yang sudah dibagikan untuk dipakai selama latihan. Setelah pembagian seragam,barisan dibubarkan dan latihan selesai pukul setengah dua belas siang.
     Hari berikutnya adalah latihan yang sesungguhnya. Aku berangkat agak pagi karena seperti biasa aku menghampiri Esta. Setelah sampai,ku pinta Esta untuk duluan ke tempat latihan karena aku akan mengambil atributku yang ada di jok motor. Dan entah kebetulan atau tidak,saat aku hendak membuka jok motorku aku tersadar bahwa motorku bersebelahan dengan motor yang tak asing aku mengenalinya. Motor berbalut stiker warna putih yang biasa ku boncengi dulu bersama Fafa. Aku lihat plat nomornya. Firasatku sepertinya benar. Ini pasti motor Fafa. Terlihat jaket paskib tahun lalu terlampir di atas spionnya. Aku berniat menunggunya di atas motorku,siapa tau ia akan mengambil jaketnya. Benar saja. Si pemilik motor datang setelah aku selesai mengambil atributku dari balik jok motor. Saat langkahnya mulai mendekat,ku beranikan diriku untuk memandangnya. Tetapi dia sama sekali tak melihatku. Ku tunggu dia hingga ia selesai mengambil apa yang dia perlukan dari jok motornya. Setelah selesai mengambil dan hendak pergi,ku panggil dia…
          “Fa…..!!!”
          Dia menghentikan langkahnya,aku berdiri dari tempat dudukku…
          “Kamu nggak lihat aku disini?”
          Dia melanjutkan langkahnya…
          “Fafa!!!”
          Dia berhenti lagi tanpa sedikitpun menoleh ke arahku….
          “Aku lagi ngomong sama kamu…”
          “Aku kan udah bilang,aku nggak bakal punya waktu lagi buat kamu….”
          “Tapi aku masih punya banyak waktu buat kamu untuk ngejelasin se…”
          “Cukup. Bukannya semuanya sudah jelas? Kamu nggak ngelakuin kesalahan apa-apa sama aku. Aku hanya ingin kamu bahagia dan terlepas dari keegoisanku untuk tetap memilikimu….”
          “Tapi kalau sama kamu aja aku udah bahagia,untuk apa kamu maksa aku buat nyari orang lain???”
          Dia tak menjawab. Dia melanjutkan langkahnya lagi…
          “Fa!!! Fafa……!!!!”
     Suaraku tertahan oleh air mataku yang tanpa sengaja mengalir di pipiku begitu melihatnya pergi. Aku masih tak menyangka dia akan mengatakan hal demikian kepadaku. Sedingin itukah dia bersikap kepadaku?Secuek itukah hingga ia tak memandangku?Ku usap air mataku dan bergegas memakai atributku. Aku tersadar. Aku terlambat ikut latihan. Aku berlari menuju tempat latihan. Latihan sudah dimulai. Pak Gito sudah memberikan instruksi kepada para peserta. Aku berjalan perlahan ke arah beliau. Dan bentakan tegas seolah menyambar telingaku…
          “Heh!Kamu!!!! Dari mana saja?Kenapa kamu terlambat???”
          “Maaf,Pak….saya tadi...bangun kesiangan. Ibu saya lupa membangunkan saya. Dan juga atribut saya ketinggalan di jok motor pak..”
          “Seharusnya kamu sudah mandiri. Bangun tidur aja minta dibangunin. Udah nggak usah banyak alasan kamu. Sebagai hukumannya,push up 25 kali disini. Cepat!!!”
          “Siap,Pak!!!”
      Aku push up sebanyak 25 kali dan ditambah hukuman lari putar lapangan lima kali. Rasanya aku mau pingsan saja. Tak hanya latihan fisik,kami juga diajarkan yel-yel yang bertujuan agar para peserta tetap kompak,solid,dan semangat. Yel-yel pada tiap angkatan tentu berbeda. Semarak para peserta begitu bersemangat meneriakkannya. Salah satu dari peserta disuruh pelatih untuk maju menjadi pemimpin pesorak yel-yel. Mandala. Dia yang sepertinya akan menjadi tim inti yang mana akan berbaris bersama sang pembawa baki bendera. Karena terlalu kecapekan dan tertekan,aku tak bersemangat menyemarakkan yel-yel. Pak Gito kembali menegurku dan menyuruhku ke depan barisan. Beliau memintaku untuk menyuarakan yel-yel sendirian. Aku seperti digojlok sekarang. Kau tau betapa malunya aku ketika aku seolah dikerjain oleh pelatih di depan para peserta dan kakak PPI? Ya ini memalukan. 
      Walau begitu aku tetap menjalankan intruksi dengan sikap layaknya seorang paskibraka yang bertanggung jawab dan terlatih untuk disiplin. Aku ingin menunjukkan pada Fafa bahwa dia bukan sumber dari ketakutanku dan kelemahanku. Aku berusaha untuk melupakan rasa sakit di hatiku namun tiap kali aku berusaha dia seolah selalu menjadi penghalang bagiku. Lagi-lagi aku lemah. Lagi-lagi aku takut. Terutama mendapat hukuman dan dibentak oleh pelatih gara-gara aku kurang fokus dan konsentrasi. Aku nyaris putus asa. Ingin menghindar darinya namun dia selalu ikut mengamati jalannya latihan. Bahkan aku ingin mundur dari paskibraka. Aku tak bisa berhenti untuk memikirkannya. Aku tidak bisa berhenti untuk terbawa perasaan padanya.
Sampai pernah suatu ketika aku tidak kuat mengikuti latihan,aku pingsan. Kakak PPI panik dan membopong tubuhku menuju ke pos kesehatan. Setelah siuman aku menangis dan sempat ingin kabur karena saking tak kuatnya mengikuti latihan yang bagiku begitu berat mengingat aku baru saja patah hati dari teddy bear kematengan yang membuat fikiranku menjadi tak karuan. Namun,keinginanku tertahan oleh Raka yang saat itu sedang menjagaku. Dia memberiku ekstrak pudding dan juga susu. Aku tak selera untuk memakannya. Ku keluhkan semuanya kepada Raka…
“Aku udah nggak kuat,Ka…. Aku mau mundur aja…..”
“Hei,Meiy!Kamu nggak boleh bilang gitu. Kalau kamu mundur,nanti yang ngisi kekosongan posisi kamu siapa?”
“Kakak PPI juga banyak kan yang masih bisa?Udahlah….aku emang nggak pantes buat jadi paskibraka….Aku…Aaakkkuuu….nggak bisa Ka…”
 “Jangan sedih…Aku tau kamu bisa. Kamu harus berjuang. Buktikan kalau kamu bisa. Buktikan kalau kamu memang terlalu baik dan terbaik. Tapi bukan buat dia. Buat seluruh peserta,PPI,orangtuamu,kakakmu,hingga bupati sekalipun. Jangan nyerah,Meiyy! Kamu harus Semangat!!! Yuk kita kesana!”
      Lalu aku kembali ke barisan. Para peserta melihatku. Ku tampilkan wajah baik-baik saja namun aku tak bisa menutupinya. Setelah pelatih selesai memberi pengarahan dan wejangan,latihan usai. Sebelum pulang,aku dipanggil oleh kak Cici salah satu kakak PPI yang bersama Kak Adi. Dia menghampiriku….
          “Dek???”
          “Iya kak?”
          “Kamu udah sehat?”
          “Udah Kak.”
          “Kakak cuma mau bilang. Kamu nggak boleh nyerah. Kalau kamu nyerah,kamu akan kalah…Kakak tau,kenapa kamu bisa kaya gini. Kakak cuma ingin kamu fokus latihannya. Jadi paskibra itu nggak sembarang orang lho bisa ikut. Ini seperti kesempatan yang berharga dalam hidupmu kelak. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Buktikan kalau kamu bisa. Buktikan kalau kamu pantas jadi paskibraka. Jangan fikirin soal mantan,Buang seluruh rasa sakitmu dalam hentakan kaki. Luapkan kekesalanmu dalam ayunan tangan. Fokuskan pandanganmu ke arah mereka yang menyaksikan. Selamat berjuang,adekkk”
      Panjang. Lebar. Luas. Tapi mengena di fikiran dan perasaan. Itulah yang kurasakan ketika Kak Cici memberiku wejangan. Dan sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan.

                                      ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar