Liburan ku jalani dengan penuh kesabaran dan kerlingan air mata. Aku
tau,tak mudah menahan rasa sedih ketika berpuasa. Tak mudah mengelola perasaan
ketika menahan nafsu dunia. Tak mudah tak memikirkannya walau hanya sehari
saja. Bayang-bayangnya masih terlintas di layar ponselku meski sebenarnya tak
ada. Namun aku selalu berharap dan merasa ada notif dari dia. Riani pernah
bilang kalau kita baru saja putus hubungan dengan pacar,jangan sampai ada yang
namanya dendam. Jangan sampai ada insiden menghapus kontak mantan,memutus tali
silaturahmi,atau bahkan menghindarinya seolah kamu phobia dengannya. Mungkin ada
yang sebagian kecil orang phobia dengan masa lalunya,tapi pastikan bukan kamu
orangnya. Dia juga pernah bilang kalau kita melakukan hal itu,berarti kita
kurang dewasa dalam bertindak. Masih kekanak-kanakan. Bukankah setelah putus
justru kita akan merasa lebih bebas,lebih dewasa dalam bersikap,dan tumbuh
menjadi pribadi yang lebih kuat? Tapi aku sudah terlanjur melakukan apa
larangannya.
Libur puasa ku isi
dengan berkumpul bersama sahabat-sahabatku. Berkat mereka lukaku jadi agak
sedikit terobati. Mereka menghiburku dengan segala tingkah kekonyolan mereka.
Mereka mengajakku belanja,melihat pameran,dan jalan-jalan ke suatu tempat.
Mereka juga selalu menanyakan apa alasan Fafa memutuskanku. Ku jawab saja
memang sudah waktunya putus. Aku tak ingin membahas tentangnya lagi. Riani juga
sempat menyuruhku untuk segera menemuinya lalu memintanya untuk menjelaskan apa
alasan dia memutuskanku. Tapi ku pikir aku akan semakin menderita bila
mengulik-ngulik tentangnya lagi. Suatu saat jika aku kuat,aku akan mencoba menemuinya
dan memintanya untuk menjelaskanku. Tapi entah kapan itu terjadi.
Libur lebaran ku
luangkan waktuku untuk menonton film bersama Riani. Hanya berdua. Iya dia yang
minta. Setelah selesai dari acara halal bihalal ambalan,Riani langsung
menjemputku. Kami mampir ke rumahnya dulu dan langsung menuju ke tkp. Bioskop
nampak ramai. Meski jadwal film yang akan kami tonton sudah mulai, kami tetap
memesan tiket saat itu juga. Riani memesan nomer kursi yang sama ketika dulu
aku nonton bersama Fafa. Karena yang belum terisi hanya dua kursi itu. Kami
memasuki bioskop dan menonton film.
Film yang ditayangkan mengisahkan tentang
perjuangan melawan pahitnya patah hati seorang pemuda yang sangat sayang pada
kekasihnya yang baru saja meninggalkannya. Pemuda itu dibantu oleh sahabatnya
yaitu seorang perempuan yang mengalami hal yang sama seperti pemuda itu namun
dia patah hati bukan karena diputuskan pacarnya melainkan pacarnya meninggal
dunia. Mereka menikmati tahap demi tahap mengobati patah hati mereka dan
menemukan hikmah serta pelajaran dari kepahitan patah hati mereka. Hingga
akhirnya mereka menikah dengan pasangan mereka masing-masing di tanggal dan
bulan yang sama namun di tahun yang berbeda.
Meskipun film ini bergenre komedi,tapi terselip
kisah romantis di dalamnya. Saking menghayati film itu,aku jadi baper dan
menangis bombay kalau kata Riani. Aku berharap akan bahagia layaknya perempuan
di film itu tapi aku tak ingin ditinggalkan dengan alasan kekasihku meninggal
dunia. Ku ulangi sekali lagi,dia tidak mati. Cintanya yang mati. Tapi aku
merasa aku dan Riani memiliki nasib yang sama seperti film yang ditayangkan.
Terutama soal kisah cinta. Kami ditinggalkan oleh kekasih kami ketika kami
sedang sayang-sayangnya kepada mereka. Coco dan juga Fafa. Dua pria yang terlahir
dari dua orangtua yang berbeda namun mereka memiliki sifat yang sama.
Meninggalkan tanpa alasan yang jelas. Entah karena hal itu disengaja atau
tidak,aku tak ingin memperdalamnya.
Seusai menonton film aku dan Riani menuju ke
kafe dekat bioskop. Saat makanpun,kami tertegun pada pikiran masing-masing.
Mungkin tentang film tadi. Atau mungkin mengenai alasan mereka yang
meninggalkan kami tanpa alasan yang pasti. Walaupun Riani sudah memiliki
pengganti namun aku merasa dia belum bisa move on dari mantannya. Dan mungkin
cara dia menjalani hubungan dengan pacarnya yang sekarang tak sebahagia dulu
ketika dengan Coco. Rasanya pasti berbeda,karena dia menjalaninya dengan orang
yang berbeda dan kisah yang berbeda pula. Ah ku pikir ini hanya pelampiasan
Riani semata. Tapi biarlah. Aku tak ingin mengurusinya.
***
Tepat libur lebaran
pada hari kelima,latihan perdana calon paskibraka dimulai. Aku berangkat
sendiri kesana menggunakan hadiah dari ayahku. Aku sangat bersemangat sekali.
Ya walau patah hati masih terasa disini(nunjuk hati..) Pukul enam pagi aku
sudah bersiap menuju ke tempat latihan. Area halaman GOR tempat latihannya.
Sebelum berangkat kesana tak lupa ku cium tangan kedua orangtuaku dan memohon
doa restu agar dilancarkan segalanya. Lalu aku menghidupkan motorku dan
bergegas pergi kesana. Sebelum kesana,aku sudah berjanji pada Esta untuk
menghampirinya. Dia sudah bersiap di gang kecil dekat rumahnya. Kami pun
berangkat menuju kesana.
Sesampainya di tempat
latihan,aku memarkirkan motorku dan menaruh tasku di tempat yang disediakan.
Sudah banyak yang menunggu. Kami hampir terlambat. Penertiban barisan dipimpin
oleh kakak dari PPI. Yang jelas bukan Fafa. Dia tak mungkin memimpin apel
seperti ini. Oke jangan bahas Fafa. Aku sedang berusaha untuk tidak memikirkannya
namun tetap saja teringat terus. Setelah apel,ada perkenalan dari para kakak
PPI. Aku sudah sangat bersyukur tak melihat tanda keberadaan Fafa. Lalu,kakak
dari PPI meminta para peserta calon paskibraka untuk memperkenalkan diri di
depan para peserta satu-persatu. Banyak yang grogi dan banyak juga yang terlalu
serius sampai-sampai digoda oleh kakak PPI. Kini giliranku untuk memperkenalkan
diri. Sama seperti saat tes keterampilan,salah satu kakak PPI berusaha
mengomporiku tentang hubungan lamaku dengan Fafa. Aku hanya tersenyum kaku ke
arahnya. Kau tau kan ini senyuman apa? Antara malu,sakit,dan juga terpaksa.
Setelah memperkenalkan diri,aku kembali duduk ke dalam barisan.
Setelah selesai
perkenalan,seorang perwira TNI datang. Namanya Pak Gito. Beliau yang nantinya akan
melatih kami. Tak hanya seorang,beliau juga dibantu oleh kedua temannya yang
bernama Pak Ical dan Pak Jalu. Mereka sama-sama terlihat garang namun dibalik
kegarangan mereka tersimpan sikap konyol dan jenaka. Setelah beliau memperkenalkan
diri,latihan dimulai. Ada push up,sit up,jongkok berdiri,dll. Latihan sangat
intensif dan repetisi. Seusai latihan,para peserta beristirahat dan menikmati
makanan yang disediakan oleh kakak PPI. Peserta duduk sejajar dalam dua saf dan
berhadap-hadapan. Aku duduk berhadapan dengan seorang pemuda berkulit putih dan
berkumis tipis. Dari tampangnya aku menerka bahwa dia almamater sekolah
berbasis agamis. Dan ternyata benar. Di sela-sela menikmati makanan,aku
berkenalan dengannya. Namanya Mandala. Tak hanya depanku,aku juga berkenalan
dengan samping kanan dan kiriku. Yang kiri namanya Seruni dan yang kanan
namanya Hendra.
Seusai menyantap,tiba pembagian seragam dan fasilitas
untuk latihan oleh Kakak PPI. Banyak kakak-kakak PPI yang baru datang membawa
tumpukan kardus yang isinya sepatu dan seragam olahraga beserta training untuk
latihan. Dan diantara kakak-kakak itu aku melihat Fafa dan juga Raka. Aku berharap
Fafa akan melihatku namun ternyata tidak sama sekali. Ketika pembagianpun,dia
tak membagikan seragam padaku padahal jarak antara aku dan dia lumayan dekat.
Justru yang memberikan seragam untukku adalah Raka. Aku tersenyum dan berterima
kasih pada Raka. Kak Adi,salah satu dari sekian kakak PPI yang mengatur dan
mengurus segalanya menghimbau agar mewajibkan seragam dan fasilitas yang sudah dibagikan
untuk dipakai selama latihan. Setelah pembagian seragam,barisan dibubarkan dan
latihan selesai pukul setengah dua belas siang.
Hari berikutnya
adalah latihan yang sesungguhnya. Aku berangkat agak pagi karena seperti biasa
aku menghampiri Esta. Setelah sampai,ku pinta Esta untuk duluan ke tempat
latihan karena aku akan mengambil atributku yang ada di jok motor. Dan entah
kebetulan atau tidak,saat aku hendak membuka jok motorku aku tersadar bahwa
motorku bersebelahan dengan motor yang tak asing aku mengenalinya. Motor berbalut
stiker warna putih yang biasa ku boncengi dulu bersama Fafa. Aku lihat plat
nomornya. Firasatku sepertinya benar. Ini pasti motor Fafa. Terlihat jaket
paskib tahun lalu terlampir di atas spionnya. Aku berniat menunggunya di atas
motorku,siapa tau ia akan mengambil jaketnya. Benar saja. Si pemilik motor
datang setelah aku selesai mengambil atributku dari balik jok motor. Saat
langkahnya mulai mendekat,ku beranikan diriku untuk memandangnya. Tetapi dia
sama sekali tak melihatku. Ku tunggu dia hingga ia selesai mengambil apa yang dia
perlukan dari jok motornya. Setelah selesai mengambil dan hendak pergi,ku
panggil dia…
“Fa…..!!!”
Dia menghentikan
langkahnya,aku berdiri dari tempat dudukku…
“Kamu nggak lihat aku
disini?”
Dia melanjutkan
langkahnya…
“Fafa!!!”
Dia berhenti lagi
tanpa sedikitpun menoleh ke arahku….
“Aku lagi ngomong
sama kamu…”
“Aku kan udah bilang,aku
nggak bakal punya waktu lagi buat kamu….”
“Tapi aku masih punya
banyak waktu buat kamu untuk ngejelasin se…”
“Cukup. Bukannya
semuanya sudah jelas? Kamu nggak ngelakuin kesalahan apa-apa sama aku. Aku
hanya ingin kamu bahagia dan terlepas dari keegoisanku untuk tetap
memilikimu….”
“Tapi kalau sama kamu
aja aku udah bahagia,untuk apa kamu maksa aku buat nyari orang lain???”
Dia tak menjawab. Dia
melanjutkan langkahnya lagi…
“Fa!!! Fafa……!!!!”
Suaraku tertahan oleh
air mataku yang tanpa sengaja mengalir di pipiku begitu melihatnya pergi. Aku
masih tak menyangka dia akan mengatakan hal demikian kepadaku. Sedingin itukah
dia bersikap kepadaku?Secuek itukah hingga ia tak memandangku?Ku usap air
mataku dan bergegas memakai atributku. Aku tersadar. Aku terlambat ikut
latihan. Aku berlari menuju tempat latihan. Latihan sudah dimulai. Pak Gito
sudah memberikan instruksi kepada para peserta. Aku berjalan perlahan ke arah
beliau. Dan bentakan tegas seolah menyambar telingaku…
“Heh!Kamu!!!! Dari
mana saja?Kenapa kamu terlambat???”
“Maaf,Pak….saya
tadi...bangun kesiangan. Ibu saya lupa membangunkan saya. Dan juga atribut saya
ketinggalan di jok motor pak..”
“Seharusnya kamu
sudah mandiri. Bangun tidur aja minta dibangunin. Udah nggak usah banyak alasan
kamu. Sebagai hukumannya,push up 25 kali disini. Cepat!!!”
“Siap,Pak!!!”
Aku push up sebanyak
25 kali dan ditambah hukuman lari putar lapangan lima kali. Rasanya aku mau
pingsan saja. Tak hanya latihan fisik,kami juga diajarkan yel-yel yang
bertujuan agar para peserta tetap kompak,solid,dan semangat. Yel-yel pada tiap
angkatan tentu berbeda. Semarak para peserta begitu bersemangat meneriakkannya.
Salah satu dari peserta disuruh pelatih untuk maju menjadi pemimpin pesorak
yel-yel. Mandala. Dia yang sepertinya akan menjadi tim inti yang mana akan
berbaris bersama sang pembawa baki bendera. Karena terlalu kecapekan dan
tertekan,aku tak bersemangat menyemarakkan yel-yel. Pak Gito kembali menegurku
dan menyuruhku ke depan barisan. Beliau memintaku untuk menyuarakan yel-yel
sendirian. Aku seperti digojlok sekarang. Kau tau betapa malunya aku ketika aku
seolah dikerjain oleh pelatih di depan para peserta dan kakak PPI? Ya ini
memalukan.
Walau begitu aku tetap menjalankan intruksi dengan sikap layaknya
seorang paskibraka yang bertanggung jawab dan terlatih untuk disiplin. Aku
ingin menunjukkan pada Fafa bahwa dia bukan sumber dari ketakutanku dan
kelemahanku. Aku berusaha untuk melupakan rasa sakit di hatiku namun tiap kali
aku berusaha dia seolah selalu menjadi penghalang bagiku. Lagi-lagi aku lemah.
Lagi-lagi aku takut. Terutama mendapat hukuman dan dibentak oleh pelatih
gara-gara aku kurang fokus dan konsentrasi. Aku nyaris putus asa. Ingin
menghindar darinya namun dia selalu ikut mengamati jalannya latihan. Bahkan aku
ingin mundur dari paskibraka. Aku tak bisa berhenti untuk memikirkannya. Aku
tidak bisa berhenti untuk terbawa perasaan padanya.
Sampai pernah suatu ketika aku tidak kuat mengikuti
latihan,aku pingsan. Kakak PPI panik dan membopong tubuhku menuju ke pos
kesehatan. Setelah siuman aku menangis dan sempat ingin kabur karena saking tak
kuatnya mengikuti latihan yang bagiku begitu berat mengingat aku baru saja
patah hati dari teddy bear kematengan yang membuat fikiranku menjadi tak
karuan. Namun,keinginanku tertahan oleh Raka yang saat itu sedang menjagaku.
Dia memberiku ekstrak pudding dan juga susu. Aku tak selera untuk memakannya.
Ku keluhkan semuanya kepada Raka…
“Aku udah nggak kuat,Ka…. Aku mau mundur
aja…..”
“Hei,Meiy!Kamu nggak boleh bilang gitu. Kalau
kamu mundur,nanti yang ngisi kekosongan posisi kamu siapa?”
“Kakak PPI juga banyak kan yang masih
bisa?Udahlah….aku emang nggak pantes buat jadi paskibraka….Aku…Aaakkkuuu….nggak
bisa Ka…”
“Jangan
sedih…Aku tau kamu bisa. Kamu harus berjuang. Buktikan kalau kamu bisa.
Buktikan kalau kamu memang terlalu baik dan terbaik. Tapi bukan buat dia. Buat
seluruh peserta,PPI,orangtuamu,kakakmu,hingga bupati sekalipun. Jangan
nyerah,Meiyy! Kamu harus Semangat!!! Yuk kita kesana!”
Lalu aku kembali ke
barisan. Para peserta melihatku. Ku tampilkan wajah baik-baik saja namun aku
tak bisa menutupinya. Setelah pelatih selesai memberi pengarahan dan
wejangan,latihan usai. Sebelum pulang,aku dipanggil oleh kak Cici salah satu
kakak PPI yang bersama Kak Adi. Dia menghampiriku….
“Dek???”
“Iya kak?”
“Kamu udah sehat?”
“Udah Kak.”
“Kakak cuma mau
bilang. Kamu nggak boleh nyerah. Kalau kamu nyerah,kamu akan kalah…Kakak
tau,kenapa kamu bisa kaya gini. Kakak cuma ingin kamu fokus latihannya. Jadi
paskibra itu nggak sembarang orang lho bisa ikut. Ini seperti kesempatan yang
berharga dalam hidupmu kelak. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Buktikan kalau kamu bisa. Buktikan kalau kamu pantas jadi paskibraka. Jangan
fikirin soal mantan,Buang seluruh rasa sakitmu dalam hentakan kaki. Luapkan
kekesalanmu dalam ayunan tangan. Fokuskan pandanganmu ke arah mereka yang
menyaksikan. Selamat berjuang,adekkk”
Panjang. Lebar. Luas.
Tapi mengena di fikiran dan perasaan. Itulah yang kurasakan ketika Kak Cici
memberiku wejangan. Dan sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar