Jumat, 23 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Reuni

      ‘Kasih aku nomernya Raka. Sekarang!’
     ‘Buat apa?’
     ‘Aku mau ngasih selamat buat dia,karena dia menang’
     ‘Bohong! Udahlah,Fa. Aku tadi nggak diapa-apain kok sama dia’
     ‘Kasih nomernya atau aku minta putus?’
     ‘Fa,Raka tuh nggak ngapa-apain aku. Dia cuma nanyain aku ngapain disana tadi.’
     ‘Kasih nggak?’
     ‘Aku udah nggak punya nomernya. Udah ku hapus semenjak aku jadian sama kamu’
     ‘Bohong! Kasih atau putus?’
    Ini ancaman macam apa? Aku bingung harus menjelaskan seperti apa lagi padanya. Aku tak percaya bila dia akan mengucapkan selamat atas kemenangan pada Raka. Dia pasti akan menyerang Raka secara diam-diam tanpa sepengetahuanku. Aku ingin bertemu padanya namun dia malah meminta agar aku mengajak Raka untuk bertemu dengan dia. Apabila bertemu,bagaimana jika mereka nanti bertengkar? Aku tidak ingin menjadi bahan rebutan tapi Fafa terus mengancamku. Aku merasa diintimidasi oleh tuan rumahku sendiri. Aku takut diusir dari persinggahan. Aku meminta maaf padanya karena aku tak dapat mengabulkan permintaannya. Dia tak membalas pesanku lagi. Aku pasrah akan semuanya. 
     Aku belum berniat untuk menyelesaikan masalahku pada Fafa. Pikiranku kemana-mana. Satu pesan dari Riani juga yang membuatku merasa menjadi kambing hitam sekarang. Satu kesalahan lagi,aku meninggalkan Riani tadi. Dia ingin memberitahuku sesuatu. Aku lupa menunggunya saat Fafa sudah menjemputku. Aku putus asa. Jika aku boleh mati saat itu juga akan ku lakukan. Namun sebesar dan seberat apapun permasalahan aku harus bisa menyelesaikannya karena aku punya Tuhan Yang Maha Besar.
    Semenjak aku meninggalkan Riani,dia mendiamkanku selama seminggu lebih. Aku sudah berusaha meminta maaf padanya namun ketika aku akan meminta maaf padanya dia selalu menghindar. Dia tak mau berbicara padaku. Fafa pun demikian. Dia tak membalas bbmku dan smsku selama dia ngambek padaku gara-gara aku tak memberi nomor ponsel Raka. Bahkan semenjak Riani mendiamkanku,aku juga kehilangan semua sahabatku seperti Shasha,Arin,dan Aulin. 
     Aku merasa serba salah. Aku tidak tahan bila ada salah seorang yang dekat denganku mendiamkanku seperti ini. Aku ingin meminta maaf namun aku bingung harus memulai darimana. Hingga suatu ketika Aulin,Shasha,Arin,dan Riani sedang berkumpul bersama menemani Riani dan Arin menunggu jemputan di pos satpam,aku memberanikan diri untuk menghampiri mereka. Ketika ku hampiri mereka,mereka beranjak dari tempat duduk mereka…
       “Rin!!!” Riani dan Arin menoleh
       “Kamu manggil siapa?”
        “Aku manggil kalian berdua. Kalian boleh ninggalin aku tapi aku mohon…dengerin aku sebentar.... Aku cuma pengen kalian dengerin penjelasan dan permintaan maafku”
    Mereka hendak pergi meninggalkanku,tapi aku menahan mereka. Ku mohon dan ku tundukkan badanku ke hadapan Aulin,Shasha,Riani dan juga Arin.
       “Aku mohon Rin….maafin aku. Aku nggak tau harus gimana lagi. Cuma kalian sahabat yang paling aku sayangi….. Rin,(sambil meneteskan air mata dan menjabat tangan pada Arin) aku minta maaf karena aku udah bikin kamu ngerasa bersalah gara-gara Fafa. Fafa kemarin udah bilang sama aku kalau ada kesalahpahaman. Dia juga meminta maaf sama kamu lewat aku. Aku tau ini emang nggak adil tapi,dia bener-bener khilaf dan dia juga janji nggak akan nyerang lagi. Rin…. Kamu mau kan maafin aku?” aku berharap cemas dalam tangisanku.
       “Tapi aku kesel sama kamu,kenapa kamu nggak minta Fafa buat minta maaf langsung ke aku?”
     “Alaaahhh!udahlah Rin,dia tuh emang gitu. Suka lupa diri kalau udah sama pacarnya!”impas Riani
       “Riani….tolong dengerin dulu,aku bener-bener minta maaf banget kemarin udah ninggalin kamu tanpa ngasih tau kamu kalau aku dijemput Fafa,aaaku….”
       “Udahlah,Meiy! Kamu sengaja kan ninggalin aku?Kamu udah nggak butuh aku lagi kan? Kamu udah puas kan ngedapetin Fafa sampe kamu lupa sama sahabat kamu sendiri? Kamu lupa kan sama sahabat yang lagi butuh sahabatnya?Aku sakit Meiy,Sakkkiiitttt!!!”Bentak Riani sambil menangis dihadapanku
       “Eeennnggggaaaakk Riiinn…,sekali lagi maaaafffiiinnn aaaakkuuu…Aku sama sekali nggak ngelupain kalian,aku masih butuh kalian…aku masih sayang sama kalian….Tolong kalian jangan tinggalin aaakkkuu…”
      “Terus kalau kita nggak ninggalin kamu,kamu kemana kemarin disaat sahabatmu lagi patah hati?”
       “Arin!!!”bentak Riani pada Arin
       “Apaaa?patah hati???”tanyaku
       “Iya,Riani udah putus sama Coco….”jawab Shasha
       “Kkamu bercanda kan,Sha?”
     Riani menangis…
      “Rrriinnn….mmaaaafff aku baru tau….Kamm….”Riani semakin menangis tersedu-sedu,aku memeluknya.
       “Peeerrrgggii kamu!!!”dia mengelak
       “Udaahhlah Rin….Meiy udah berusaha buat minta maaf sama kamu,apa kamu nggak ada niat buat ngemaafin dia…?”saran Aulin
       “Untuk apa aku ngemaafin dia kalau dia nantinya nggak ngemaafin aku?”
      “Sekesel-keselnya,sesebel-sebelnya,semarah-marahnya kamu sama sahabatmu kamu nggak akan nemuin alasan buat nggak ngemaafin dia kalau dalam hatimu bener-bener tulus nggak mau kehilangan sahabatmu… Aku nggak mau kehilangan sahabat sebaik dan sebaik kalian..”jawabku
    Seketika tangis pecah diantara kami berlima. Kami saling berpelukan diiringi gerimis sore itu. Hujan turun mengiringi perjalanan kami pulang.
                                      ***
    Satu masalah perlahan mulai terselesaikan. Akhirnya aku,Riani,Arin,Aulin dan Shasha kembali bersahabat. Kami melakukan hal bersama-sama dalam suka dan duka. Perlahan Riani mulai membuka suara padaku. Dia tak lagi mendiamkanku. Namun sepertinya dia belum ingin cerita perihal kandasnya hubungannya dengan Coco. Dia ingin melupakan kesedihannya sejenak. Tak terasa jadwal study tour ke Bali untuk kelas sebelas angkatanku sudah dekat. Aku jadi tak sabar ingin liburan kesana. Sayangnya kami berlima tidak bisa kesana bersama. Arin memutuskan untuk tidak ikut study tour karena orang tuanya mengkhawatirkannya bila dia mabuk perjalanan. Dia hanya menitip oleh-oleh dan salam dari sana. Kami berempatpun berjanji akan mengabulkannya.
     Tepat sehari sebelum kami berangkat kesana,pihak sekolah Fafa mengadakan festival lomba kepramukaan yang mana banyak anggota pramuka dari luar sekolah yang diundang dan ikut berlomba disana. Termasuk Riani yang juga adalah seorang anggota pramuka di sekolahku. Sebelum dia berangkat menuju sekolah Fafa,dia sempat menawarkanku apakah ada yang ingin aku titipkan padanya untuk Fafa ketika dia ke sana. Aku tidak menitipkan apa-apa padanya. Hanya ingin bilang bahwa besok aku akan pergi. Namun aku melarang Riani memberitahunya bahwa besok aku akan ke pergi. Yaps pergi ke Bali.
     Malam tiba. Aku mempersiapkan segala sesuatu yang aku perlukan untuk besok. Satu pesan ku terima. Dari Fafa. Sudah satu bulan dia tidak menghubungiku semenjak api cemburu membakarnya. Aku sudah melupakan kemarahannya dan membiarkannya selama ini. Aku pasrah akan apa keputusannya. Aku bahkan tak memikirkan apakah aku masih berstatus sebagai pacarnya atau sudah putus. Entahlah..
       ‘Kamu mau pergi kemana?Kok nggak ngasih kabar?’
       ‘Kata siapa aku pergi?’
       ‘Nggak penting dari siapa. Aku nggak pengen kamu pergi’
       ‘Kenapa?’
       ‘Aku nggak pengen kamu pergi. Aku masih pengen sama kamu. Tolong jangan pergi ninggalin aku’
       ‘Kan aku nggak pergi?aku masih disini,nungguin kamu pulang…’
        ‘Aku nggak pergi,mbu…. Maafin aku kalau kamu ngerasa aku ninggalin kamu selama satu bulan ini. Sebetulnya aku berharap sebulan ini kamu mau menghubungiku dulu. Tapi ternyata aku terlalu berharap’
    ‘Kita tuh aneh ya?sama-sama berharap ingin dihubungi dulu,sama-sama ingin pasangannya peka,dan sama-sama nggak ingin pergi….’
       ‘Tapi….kamu serius masih disini kan?’
       ‘Aku emang mau pergi…’
       ‘Pergi….???Meiy…aku serius…!!!’
       ‘Iya besok aku mau pergi…’
       ‘Kemana???Kok aku gak tau?’
       ‘Nanti kalau aku udah pulang ku kasih tau’
      ‘Mbu…!!!plis aku udah nggak marah sama kamu. Tolong kasih tau aku kamu mau pergi kemana??’
     Tak ku balas pesan darinya. Aku berniat memberinya surprise lagi. Selama aku pergi study tour ke Bali,aku tak akan menghubunginya kecuali dia yang menghubungiku lebih dulu. Dan saat di objek wisatanya,aku akan mengucapkan happy anniversary jadian yang ke empat bulan ini. Aku sudah melalui hubunganku dengan Fafa yang penuh lika-liku selama 4 bulan ini. Dan aku berharap hubunganku dan dia kedepannya semakin baik-baik saja.
       Lima hari liburan disana terasa sangat menyenangkan. Kami berempat menikmatinya dengan riang gembira. Kami tak lupa mengabulkan permintaan Arin. Dan aku juga tak lupa untuk memberi surprise pada Fafa. Perjalanan study tour ini ku abadikan di kamera ponselku menjadi video yang nantinya digunakan untuk tugas bahasa Inggris. Baru kali ini aku mendapat tugas yang lumayan mudah karena biasanya seusai liburan dari suatu tempat para siswa akan mendapat tugas membuat laporan perjalanan atau karya tulis. 
      Beruntungnya tugas itu kini tergantikan dengan membuat video dan mengumpulkan foto-foto selama kami liburan disana. Aku dan teman-teman jadi semakin enjoy selama mengerjakannya. Oh iya,selama aku di Bali Fafa tak pernah absen untuk menanyakan kabarku setiap hari. Bahkan dia menghabiskan kuotanya hanya untuk melakukan videocall padaku. Namun sayang sekali,jaringan disana tidak mendukung sehingga videocall berjalan putus nyambung. Tapi setidaknya hubunganku dengan Fafa tidak putus nyambung. Hehe..
      Setelah kami kembali ke kota tercinta,kami memberikan oleh-oleh kami pada orang-orang yang kami sayangi. Sebenarnya aku membelikan oleh-oleh pada Fafa secara diam-diam. Karena jika aku memberitahunya,dia pasti menolak dan merasa bahwa dia merepotkanku. Tapi aku sama sekali tak merasa direpotkan olehnya karena bagiku oleh-oleh ini adalah sebagai wujud bahwa selama aku pergi aku tak melupakannya. Aku akan memberikannya ketika kami akan bertemu nantinya.
                                      ***
      Malam ahad nanti,Riani berencana mengadakan reuni dan mentraktir makan dalam rangka syukuran ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Dia mengajak Dhede,Titian,Marjo,Fafa,aku dan juga salah seorang teman baru di dalam keluarga kecil mereka yang bernama Doni. Dia sudah mengundang Coco namun Coco tak bisa hadir. Ini memang kebetulan dia ada acara atau memang tidak ingin bertemu mantan,aku tak tau. Yang terpenting bagi Riani,dia sudah berniat baik mengajaknya dan tak ingin memutuskan tali silaturahmi pada mantannya.
     Pukul 19.30 Riani menjemputku. Kali ini aku tidak dijemput oleh Fafa karena dia sedang mengikuti rapat. Dia berjanji akan datang ke rumah Riani setelah rapat usai. Tak lupa ku bawa oleh-oleh untuknya dan bergegas mengunci pintu karena di rumahku kebetulan tak ada orang. Aku sudah meminta izin pada ibuku yang mana sedang pergi arisan dan berjanji nanti tidak akan pulang kemalaman. Setelah sampai di rumah Riani,aku menunggu mereka. Beberapa menit,datanglah Titian. Aku menanyakan kabarnya karena kami jarang bertemu. Aku juga menanyakan kabar Marjo padanya karena setelah kami usai dari Semarang,aku tak pernah mendengar kabar kedekatan mereka. Ternyata Titian dan Marjo sudah tak lagi bersama. Aku jadi kudet sekarang. Terlalu fokus pada hubunganku dengan Fafa sehingga aku lupa pada hubungan sahabatku sendiri. 
      Tanpa bermaksud memancing,tiba-tiba Riani ikut-ikutan nimbrung. Dia mulai bercerita soal kandasnya hubungan dia dengan Coco. Dia tak pernah membayangkan hal itu terjadi. Titian baru menyadari kalau hubungan mereka sudah kandas,dan dia menanyakan apa penyebab kandasnya hubungan dia dengan Coco. Riani tak bisa menjelaskannya secara pasti karena Coco memutuskannya tanpa alasan yang jelas. Air matanya kembali menetes tatkala Dhede yang sudah datang diikuti Fafa dan Doni membawa kado dari Coco untuk Riani. Sebuah kado dan rekaman suara dari Coco yang isinya pertanda penyesalan kandasnya hubungan mereka. Aku jadi khawatir pada hubunganku sendiri. Titian dan Riani sudah tak menjalin hubungan dengan pasangan mereka. Bagaimana aku nantinya? Ah tak mungkin. Aku dan Fafa pasti akan lanjut hubungan terus.
      Setelah semuanya berkumpul,kami tancap gas menuju kafe yang telah Riani pesan disusul Marjo. Sesampainya disana,kami memesan meja dan makanan. Riani duduk bersebelahan dengan Doni,Aku bersebelahan dengan Fafa,dan Titian ingin bersebelahan dengan Dhede namun sebelum Dhede menduduki Marjo menyalipnya. Titian ingin pindah,namun demi menjaga rasa persahabatan dia mengurungkan niat dan pasrah duduk di samping Marjo.
      Setelah pesanan datang,aku dan Riani memberikan oleh-oleh pada mereka. Khusus untuk Fafa aku memberikannya sendiri sedang oleh-oleh yang lain Riani yang memberikan. Fafa sempat ingin menolak namun karena aku mengancam ingin putus dia jadi mau menerimanya. Sebenarnya akan sensitif sekali bila apa-apa selalu dengan ancaman ‘ingin putus’ tapi bagaimana lagi. Ini seperti sudah menjadi kebiasaan. Di tengah mereka asyik berbincang,Fafa mengajakku bicara…
        “Jadi gitu ya?nggak mau ngasih tau gara-gara liburan ke Bali?”
        “Iyaaa kan biar surprise???”
        “Curang ah!!!”
        “Kok curang?”
        “Padahal kan seharusnya cowok yang ngasih surprise…”
       “Udah…nggak apa-apa. Oh iya,aku mau ngirimin sesuatu nih buat kamu. Hpmu mana?”
         “Mau ngirimin apa?Jangan kaget yah?”
         “Ciyeee hpnya baru ……..kapan belinya…?”
         “Nggak kok. Ini cuma pengganti hpku yang lama,yang udah rusak…”
         “Sama aja baru kan?Bluetootnya dihidupin gih…Bukanya di rumah aja ya?”
         “Kok gitu? Padahal kan aku udah nggak sabar pengen lihat….”
         “Udah…. Di rumah aja. Nanti yang lain pada tau… Kan ini surprise…”
         “iya deh iya…”
        “Oh iya Fa,selama aku liburan di Bali ada yang kepo nih sama aku. Dia katanya adek kelas aku. Ngakunya sih kenalan kamu juga waktu kamu jamnas”
         “Hah siapa?”
       “Tau nih. Nggak cuma seorang. Yang satu namanya Dania dan yang satunya lagi namanya Naura. Kamu kenal nggak sama mereka?”
      “Oooohhh….. iya iya kenal. Dihhh tuh anak ya pengen banget nyari gratisan makan,padahal kan aku cuma bercanda…”
         “Emang kenapa sih?kok kayak taruhan gitu?”
        “Jadi gini mbuu…,waktu di bus aku duduk sebangku sama Naura. Nah Naura pernah ngintip handphone aku waktu aku ngabarin kamu. Terus dia tanya-tanya tentang kamu… Tapi aku nggak jawab soalnya dia tuh kayak kepo gitu sama kamu. Makanya aku ngerahasiain… eh tau-tau dia malah nyebarin gosip ke temen-temen jamnas aku kalau aku udah punya pacar. Mereka nggak tau nama kamu siapa. Terus mereka yaaaaa kayak nyari-nyari info tentang kamu”
         “Ooohhh….Gitu???Nah terus maksudnya nyari gratisan makanan?nraktir gitu?”
        “hmmm…..iiiyyya sayang…maaf ya?aku nggak bermaksud ngejadiin kamu barang taruhan kok. Aku cuma bercanda awalnya aku bikin sayembara gitu barangsiapa yang diantara mereka tau pacar aku tuh siapa aku bakal nraktir makan mereka. Eh taunya malah beneran…. Maaf ya???”
         “Hahaha…nggak apa-apa kok. Aku malah seneng dapet kenalan baru…”
        “Tapi aku nggak suka sama mereka. Mereka tuh cerewet,bawel dan pokoknya nyebelin deh…”
         “Yaaahhh kan anak kecil emang kebanyakan kayak gitu….?Kapan-kapan kalau boleh temuin aku sama mereka ya?Aku pengen kenalan sama mereka… Ya boleh ya?”
         “Emmmm….yaudah boleh lah…”

                                             ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar