‘Kasih aku nomernya Raka. Sekarang!’
‘Buat apa?’
‘Aku mau ngasih
selamat buat dia,karena dia menang’
‘Bohong! Udahlah,Fa.
Aku tadi nggak diapa-apain kok sama dia’
‘Kasih nomernya atau
aku minta putus?’
‘Fa,Raka tuh nggak
ngapa-apain aku. Dia cuma nanyain aku ngapain disana tadi.’
‘Kasih nggak?’
‘Aku udah nggak punya
nomernya. Udah ku hapus semenjak aku jadian sama kamu’
‘Bohong! Kasih atau
putus?’
Ini ancaman macam
apa? Aku bingung harus menjelaskan seperti apa lagi padanya. Aku tak percaya
bila dia akan mengucapkan selamat atas kemenangan pada Raka. Dia pasti akan
menyerang Raka secara diam-diam tanpa sepengetahuanku. Aku ingin bertemu
padanya namun dia malah meminta agar aku mengajak Raka untuk bertemu dengan
dia. Apabila bertemu,bagaimana jika mereka nanti bertengkar? Aku tidak ingin
menjadi bahan rebutan tapi Fafa terus mengancamku. Aku merasa diintimidasi oleh
tuan rumahku sendiri. Aku takut diusir dari persinggahan. Aku meminta maaf
padanya karena aku tak dapat mengabulkan permintaannya. Dia tak membalas
pesanku lagi. Aku pasrah akan semuanya.
Aku belum berniat untuk menyelesaikan
masalahku pada Fafa. Pikiranku kemana-mana. Satu pesan dari Riani juga yang
membuatku merasa menjadi kambing hitam sekarang. Satu kesalahan lagi,aku
meninggalkan Riani tadi. Dia ingin memberitahuku sesuatu. Aku lupa menunggunya
saat Fafa sudah menjemputku. Aku putus asa. Jika aku boleh mati saat itu juga
akan ku lakukan. Namun sebesar dan seberat apapun permasalahan aku harus bisa
menyelesaikannya karena aku punya Tuhan Yang Maha Besar.
Semenjak aku
meninggalkan Riani,dia mendiamkanku selama seminggu lebih. Aku sudah berusaha
meminta maaf padanya namun ketika aku akan meminta maaf padanya dia selalu
menghindar. Dia tak mau berbicara padaku. Fafa pun demikian. Dia tak membalas
bbmku dan smsku selama dia ngambek padaku gara-gara aku tak memberi nomor
ponsel Raka. Bahkan semenjak Riani mendiamkanku,aku juga kehilangan semua
sahabatku seperti Shasha,Arin,dan Aulin.
Aku merasa serba salah. Aku tidak
tahan bila ada salah seorang yang dekat denganku mendiamkanku seperti ini. Aku
ingin meminta maaf namun aku bingung harus memulai darimana. Hingga suatu
ketika Aulin,Shasha,Arin,dan Riani sedang berkumpul bersama menemani Riani dan
Arin menunggu jemputan di pos satpam,aku memberanikan diri untuk menghampiri
mereka. Ketika ku hampiri mereka,mereka beranjak dari tempat duduk mereka…
“Rin!!!” Riani dan
Arin menoleh
“Kamu manggil siapa?”
“Aku manggil kalian
berdua. Kalian boleh ninggalin aku tapi aku mohon…dengerin aku sebentar.... Aku
cuma pengen kalian dengerin penjelasan dan permintaan maafku”
Mereka hendak pergi meninggalkanku,tapi aku menahan mereka.
Ku mohon dan ku tundukkan badanku ke hadapan Aulin,Shasha,Riani dan juga Arin.
“Aku mohon
Rin….maafin aku. Aku nggak tau harus gimana lagi. Cuma kalian sahabat yang
paling aku sayangi….. Rin,(sambil meneteskan air mata dan menjabat tangan pada Arin)
aku minta maaf karena aku udah bikin kamu ngerasa bersalah gara-gara Fafa. Fafa
kemarin udah bilang sama aku kalau ada kesalahpahaman. Dia juga meminta maaf
sama kamu lewat aku. Aku tau ini emang nggak adil tapi,dia bener-bener khilaf
dan dia juga janji nggak akan nyerang lagi. Rin…. Kamu mau kan maafin aku?” aku
berharap cemas dalam tangisanku.
“Tapi aku kesel sama
kamu,kenapa kamu nggak minta Fafa buat minta maaf langsung ke aku?”
“Alaaahhh!udahlah
Rin,dia tuh emang gitu. Suka lupa diri kalau udah sama pacarnya!”impas Riani
“Riani….tolong
dengerin dulu,aku bener-bener minta maaf banget kemarin udah ninggalin kamu
tanpa ngasih tau kamu kalau aku dijemput Fafa,aaaku….”
“Udahlah,Meiy! Kamu sengaja kan ninggalin aku?Kamu udah
nggak butuh aku lagi kan? Kamu udah puas kan ngedapetin Fafa sampe kamu lupa
sama sahabat kamu sendiri? Kamu lupa kan sama sahabat yang lagi butuh sahabatnya?Aku
sakit Meiy,Sakkkiiitttt!!!”Bentak Riani sambil menangis dihadapanku
“Eeennnggggaaaakk
Riiinn…,sekali lagi maaaafffiiinnn aaaakkuuu…Aku sama sekali nggak ngelupain
kalian,aku masih butuh kalian…aku masih sayang sama kalian….Tolong kalian
jangan tinggalin aaakkkuu…”
“Terus kalau kita
nggak ninggalin kamu,kamu kemana kemarin disaat sahabatmu lagi patah hati?”
“Arin!!!”bentak Riani
pada Arin
“Apaaa?patah hati???”tanyaku
“Iya,Riani udah putus
sama Coco….”jawab Shasha
“Kkamu bercanda
kan,Sha?”
Riani menangis…
“Rrriinnn….mmaaaafff
aku baru tau….Kamm….”Riani semakin menangis tersedu-sedu,aku memeluknya.
“Peeerrrgggii
kamu!!!”dia mengelak
“Udaahhlah Rin….Meiy
udah berusaha buat minta maaf sama kamu,apa kamu nggak ada niat buat ngemaafin
dia…?”saran Aulin
“Untuk apa aku
ngemaafin dia kalau dia nantinya nggak ngemaafin aku?”
“Sekesel-keselnya,sesebel-sebelnya,semarah-marahnya
kamu sama sahabatmu kamu nggak akan nemuin alasan buat nggak ngemaafin dia
kalau dalam hatimu bener-bener tulus nggak mau kehilangan sahabatmu… Aku nggak
mau kehilangan sahabat sebaik dan sebaik kalian..”jawabku
Seketika
tangis pecah diantara kami berlima. Kami saling berpelukan diiringi gerimis
sore itu. Hujan turun mengiringi perjalanan kami pulang.
***
Satu masalah perlahan
mulai terselesaikan. Akhirnya aku,Riani,Arin,Aulin dan Shasha kembali
bersahabat. Kami melakukan hal bersama-sama dalam suka dan duka. Perlahan Riani
mulai membuka suara padaku. Dia tak lagi mendiamkanku. Namun sepertinya dia
belum ingin cerita perihal kandasnya hubungannya dengan Coco. Dia ingin
melupakan kesedihannya sejenak. Tak terasa jadwal study tour ke Bali untuk
kelas sebelas angkatanku sudah dekat. Aku jadi tak sabar ingin liburan kesana.
Sayangnya kami berlima tidak bisa kesana bersama. Arin memutuskan untuk tidak
ikut study tour karena orang tuanya mengkhawatirkannya bila dia mabuk
perjalanan. Dia hanya menitip oleh-oleh dan salam dari sana. Kami berempatpun
berjanji akan mengabulkannya.
Tepat sehari sebelum
kami berangkat kesana,pihak sekolah Fafa mengadakan festival lomba kepramukaan
yang mana banyak anggota pramuka dari luar sekolah yang diundang dan ikut
berlomba disana. Termasuk Riani yang juga adalah seorang anggota pramuka di
sekolahku. Sebelum dia berangkat menuju sekolah Fafa,dia sempat menawarkanku
apakah ada yang ingin aku titipkan padanya untuk Fafa ketika dia ke sana. Aku
tidak menitipkan apa-apa padanya. Hanya ingin bilang bahwa besok aku akan
pergi. Namun aku melarang Riani memberitahunya bahwa besok aku akan ke pergi.
Yaps pergi ke Bali.
Malam tiba. Aku
mempersiapkan segala sesuatu yang aku perlukan untuk besok. Satu pesan ku
terima. Dari Fafa. Sudah satu bulan dia tidak menghubungiku semenjak api
cemburu membakarnya. Aku sudah melupakan kemarahannya dan membiarkannya selama
ini. Aku pasrah akan apa keputusannya. Aku bahkan tak memikirkan apakah aku
masih berstatus sebagai pacarnya atau sudah putus. Entahlah..
‘Kamu mau pergi
kemana?Kok nggak ngasih kabar?’
‘Kata siapa aku
pergi?’
‘Nggak penting dari
siapa. Aku nggak pengen kamu pergi’
‘Kenapa?’
‘Aku nggak pengen
kamu pergi. Aku masih pengen sama kamu. Tolong jangan pergi ninggalin aku’
‘Kan aku nggak
pergi?aku masih disini,nungguin kamu pulang…’
‘Aku nggak
pergi,mbu…. Maafin aku kalau kamu ngerasa aku ninggalin kamu selama satu bulan
ini. Sebetulnya aku berharap sebulan ini kamu mau menghubungiku dulu. Tapi
ternyata aku terlalu berharap’
‘Kita tuh aneh
ya?sama-sama berharap ingin dihubungi dulu,sama-sama ingin pasangannya peka,dan
sama-sama nggak ingin pergi….’
‘Tapi….kamu serius
masih disini kan?’
‘Aku emang mau
pergi…’
‘Pergi….???Meiy…aku
serius…!!!’
‘Iya besok aku mau
pergi…’
‘Kemana???Kok aku gak
tau?’
‘Nanti kalau aku udah
pulang ku kasih tau’
‘Mbu…!!!plis aku udah
nggak marah sama kamu. Tolong kasih tau aku kamu mau pergi kemana??’
Tak ku balas pesan
darinya. Aku berniat memberinya surprise lagi. Selama aku pergi study tour ke
Bali,aku tak akan menghubunginya kecuali dia yang menghubungiku lebih dulu. Dan
saat di objek wisatanya,aku akan mengucapkan happy anniversary jadian yang ke
empat bulan ini. Aku sudah melalui hubunganku dengan Fafa yang penuh lika-liku
selama 4 bulan ini. Dan aku berharap hubunganku dan dia kedepannya semakin
baik-baik saja.
Lima hari liburan
disana terasa sangat menyenangkan. Kami berempat menikmatinya dengan riang
gembira. Kami tak lupa mengabulkan permintaan Arin. Dan aku juga tak lupa untuk
memberi surprise pada Fafa. Perjalanan study tour ini ku abadikan di kamera
ponselku menjadi video yang nantinya digunakan untuk tugas bahasa Inggris. Baru
kali ini aku mendapat tugas yang lumayan mudah karena biasanya seusai liburan
dari suatu tempat para siswa akan mendapat tugas membuat laporan perjalanan
atau karya tulis.
Beruntungnya tugas itu kini tergantikan dengan membuat video
dan mengumpulkan foto-foto selama kami liburan disana. Aku dan teman-teman jadi
semakin enjoy selama mengerjakannya. Oh iya,selama aku di Bali Fafa tak pernah
absen untuk menanyakan kabarku setiap hari. Bahkan dia menghabiskan kuotanya
hanya untuk melakukan videocall padaku. Namun sayang sekali,jaringan disana
tidak mendukung sehingga videocall berjalan putus nyambung. Tapi setidaknya
hubunganku dengan Fafa tidak putus nyambung. Hehe..
Setelah kami kembali
ke kota tercinta,kami memberikan oleh-oleh kami pada orang-orang yang kami
sayangi. Sebenarnya aku membelikan oleh-oleh pada Fafa secara diam-diam. Karena
jika aku memberitahunya,dia pasti menolak dan merasa bahwa dia merepotkanku.
Tapi aku sama sekali tak merasa direpotkan olehnya karena bagiku oleh-oleh ini
adalah sebagai wujud bahwa selama aku pergi aku tak melupakannya. Aku akan
memberikannya ketika kami akan bertemu nantinya.
***
Malam ahad
nanti,Riani berencana mengadakan reuni dan mentraktir makan dalam rangka syukuran
ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Dia mengajak Dhede,Titian,Marjo,Fafa,aku
dan juga salah seorang teman baru di dalam keluarga kecil mereka yang bernama
Doni. Dia sudah mengundang Coco namun Coco tak bisa hadir. Ini memang kebetulan
dia ada acara atau memang tidak ingin bertemu mantan,aku tak tau. Yang
terpenting bagi Riani,dia sudah berniat baik mengajaknya dan tak ingin
memutuskan tali silaturahmi pada mantannya.
Pukul 19.30 Riani
menjemputku. Kali ini aku tidak dijemput oleh Fafa karena dia sedang mengikuti
rapat. Dia berjanji akan datang ke rumah Riani setelah rapat usai. Tak lupa ku
bawa oleh-oleh untuknya dan bergegas mengunci pintu karena di rumahku kebetulan
tak ada orang. Aku sudah meminta izin pada ibuku yang mana sedang pergi arisan
dan berjanji nanti tidak akan pulang kemalaman. Setelah sampai di rumah
Riani,aku menunggu mereka. Beberapa menit,datanglah Titian. Aku menanyakan
kabarnya karena kami jarang bertemu. Aku juga menanyakan kabar Marjo padanya
karena setelah kami usai dari Semarang,aku tak pernah mendengar kabar kedekatan
mereka. Ternyata Titian dan Marjo sudah tak lagi bersama. Aku jadi kudet
sekarang. Terlalu fokus pada hubunganku dengan Fafa sehingga aku lupa pada
hubungan sahabatku sendiri.
Tanpa bermaksud memancing,tiba-tiba Riani
ikut-ikutan nimbrung. Dia mulai bercerita soal kandasnya hubungan dia dengan
Coco. Dia tak pernah membayangkan hal itu terjadi. Titian baru menyadari kalau
hubungan mereka sudah kandas,dan dia menanyakan apa penyebab kandasnya hubungan
dia dengan Coco. Riani tak bisa menjelaskannya secara pasti karena Coco
memutuskannya tanpa alasan yang jelas. Air matanya kembali menetes tatkala
Dhede yang sudah datang diikuti Fafa dan Doni membawa kado dari Coco untuk Riani.
Sebuah kado dan rekaman suara dari Coco yang isinya pertanda penyesalan
kandasnya hubungan mereka. Aku jadi khawatir pada hubunganku sendiri. Titian
dan Riani sudah tak menjalin hubungan dengan pasangan mereka. Bagaimana aku
nantinya? Ah tak mungkin. Aku dan Fafa pasti akan lanjut hubungan terus.
Setelah semuanya
berkumpul,kami tancap gas menuju kafe yang telah Riani pesan disusul Marjo.
Sesampainya disana,kami memesan meja dan makanan. Riani duduk bersebelahan
dengan Doni,Aku bersebelahan dengan Fafa,dan Titian ingin bersebelahan dengan
Dhede namun sebelum Dhede menduduki Marjo menyalipnya. Titian ingin
pindah,namun demi menjaga rasa persahabatan dia mengurungkan niat dan pasrah
duduk di samping Marjo.
Setelah pesanan
datang,aku dan Riani memberikan oleh-oleh pada mereka. Khusus untuk Fafa aku
memberikannya sendiri sedang oleh-oleh yang lain Riani yang memberikan. Fafa
sempat ingin menolak namun karena aku mengancam ingin putus dia jadi mau menerimanya.
Sebenarnya akan sensitif sekali bila apa-apa selalu dengan ancaman ‘ingin
putus’ tapi bagaimana lagi. Ini seperti sudah menjadi kebiasaan. Di tengah
mereka asyik berbincang,Fafa mengajakku bicara…
“Jadi gitu ya?nggak
mau ngasih tau gara-gara liburan ke Bali?”
“Iyaaa kan biar
surprise???”
“Curang ah!!!”
“Kok curang?”
“Padahal kan
seharusnya cowok yang ngasih surprise…”
“Udah…nggak apa-apa.
Oh iya,aku mau ngirimin sesuatu nih buat kamu. Hpmu mana?”
“Mau ngirimin
apa?Jangan kaget yah?”
“Ciyeee hpnya baru ……..kapan
belinya…?”
“Nggak kok. Ini cuma
pengganti hpku yang lama,yang udah rusak…”
“Sama aja baru kan?Bluetootnya
dihidupin gih…Bukanya di rumah aja ya?”
“Kok gitu? Padahal
kan aku udah nggak sabar pengen lihat….”
“Udah…. Di rumah aja.
Nanti yang lain pada tau… Kan ini surprise…”
“iya deh iya…”
“Oh iya Fa,selama aku
liburan di Bali ada yang kepo nih sama aku. Dia katanya adek kelas aku.
Ngakunya sih kenalan kamu juga waktu kamu jamnas”
“Hah siapa?”
“Tau nih. Nggak cuma
seorang. Yang satu namanya Dania dan yang satunya lagi namanya Naura. Kamu
kenal nggak sama mereka?”
“Oooohhh….. iya iya kenal.
Dihhh tuh anak ya pengen banget nyari gratisan makan,padahal kan aku cuma
bercanda…”
“Emang kenapa sih?kok
kayak taruhan gitu?”
“Jadi gini
mbuu…,waktu di bus aku duduk sebangku sama Naura. Nah Naura pernah ngintip
handphone aku waktu aku ngabarin kamu. Terus dia tanya-tanya tentang kamu… Tapi
aku nggak jawab soalnya dia tuh kayak kepo gitu sama kamu. Makanya aku
ngerahasiain… eh tau-tau dia malah nyebarin gosip ke temen-temen jamnas aku
kalau aku udah punya pacar. Mereka nggak tau nama kamu siapa. Terus mereka
yaaaaa kayak nyari-nyari info tentang kamu”
“Ooohhh….Gitu???Nah
terus maksudnya nyari gratisan makanan?nraktir gitu?”
“hmmm…..iiiyyya
sayang…maaf ya?aku nggak bermaksud ngejadiin kamu barang taruhan kok. Aku cuma
bercanda awalnya aku bikin sayembara gitu barangsiapa yang diantara mereka tau
pacar aku tuh siapa aku bakal nraktir makan mereka. Eh taunya malah beneran….
Maaf ya???”
“Hahaha…nggak apa-apa
kok. Aku malah seneng dapet kenalan baru…”
“Tapi aku nggak suka
sama mereka. Mereka tuh cerewet,bawel dan pokoknya nyebelin deh…”
“Yaaahhh kan anak
kecil emang kebanyakan kayak gitu….?Kapan-kapan kalau boleh temuin aku sama
mereka ya?Aku pengen kenalan sama mereka… Ya boleh ya?”
“Emmmm….yaudah boleh
lah…”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar