Pukul 10.00 malam aku meminta ijin pada teman-teman untuk pulang
karena ibuku sudah menghubungiku. Aku akan diantar pulang oleh Fafa. Aku
beranjak dari tempat dudukku dan berpamitan kepada mereka. Mereka sempat
mengomporiku dan menyangka bahwa kami akan memiliki acara sendiri. Mayoritas
anak muda yang memiliki seorang kekasih pasti akan bersenang-senang di malam
minggu. Namun ku urungkan niatku karena aku tak terbiasa pergi keluar malam
dengan seorang pria. Dan mungkin baru kali ini aku nekat keluar malam diantar
pulang oleh seorang pria. Percayalah,dia hanya mengantarkanku pulang karena dia
tau diri. Sedari siang dia belum mandi hingga malam ini karena padatnya jadwal
kegiatan yang ia ikuti. Bisa kau bayangkan betapa baunya ia? Dia juga malu
untuk mengajakku kemana-mana dengan keadaan seperti ini. Bahkan dia sempat
menolak ketika aku memintanya untuk mengantarkanku. Seperti biasa dengan
ancaman itu, dia jadi takut sendiri. Padahal aku tak mengancamnya…
“Kita ini mau pulang
kan?”
“Nggak!”
“Kok nggak sih?”
“Kamu harus mandi
dulu baru nganterin aku pulang”
“Rumahku
jauh,mbuuuu….Kalau kamu mau,aku pulang tapi kamu nunggu disini. Gimana?”
“Nggak ah aku nggak
mau. Entar kalau aku diculik om-om gimana?Besok kamu gowes sama siapa?”
“Ya nggak jadi gowes
lah kan kamunya diculik”
“Udah ah…buruan
anterin aku pulang. Besok jangan lupa ya?Jam 6 kamu harus udah sampe sekolahan.
Kita janjian di sekolahan…”
“Hah?Kan kita jadian
di deket gang rumah kamu…???Kamu lupa ya?”
“Aku bilang
JANJIAN,Fa….. bukan JADIAN. Kuping mana kuping?”
“Heheheh….insyaallah
ya?tapi jangan lupa aku dibangunin ya?Aku nggak mau bangun kalau kamu nggak
bangunin”
“Yaelah…..kamu
gagah-gagah manja juga ya ternyata???”
“Manja kalau sama
ibuku dan ibu…..calon dari anak-anakku?”
“Apa?kamu bilang apa
tadi?”
“Nggak ada siaran
ulang. Udah yukk gassss….”
Malam itu rasanya
singkat sekali. Fafa mengantarkanku pulang. Ketika di tengah perjalanan,tangannya
meraih tanganku. Dia melingkarkannya di perutnya seolah tanganku ini memeluknya.
Dia menggenggam tanganku erat dan menyandarkan punggungnya ke belakang dan
menoleh ke kiri sambil berkata ‘Makasih ya buat malam ini mbu… Aku sayang sama
kamu’. Sesampainya di dekat
gang,aku turun dari boncengannya namun dia masih menggenggam tanganku.
“Fa?sehat?”
“Iya sehat,kenapa?”
“Ini aku udah mau
sampe rumah lho. Kamu nggak ada niat buat ngelepasss…(sambil melirik tanganku
yang masih digenggamnya)”
“Ohhh….kirain iya
lupa lupa. Maaf…aku jadi salah fokus ngelihatin wajah kamu yang bersinar kaya
bulan purnama. Tuh!(sambil menunjukkan bulan purnama yang kebetulan bersinar
malam ini)”
“Nggak usah bikin aku
insomnia gara-gara kamu gombalin yah?Udah ah aku udah ngantuk. Dadah Fafa
sayang….”
“Dadah pijamku
sayang….”
***
Alarm pukul 4 pagi
sudah mengganggu lelapnya tidurku. Sebenarnya mataku tak bisa diajak toleransi
namun aku paksa untuk terjaga dan bersiap-siap mandi dan sholat shubuh. Tak
lupa ku bbm,sms,WA,line ,dan miscall Fafa. Biar dia cepet bangunnya,tapi akan
percuma saja bila dia menonaktifkan ponselnya. Ku pakai jurus telepati agar ia
mau bangun. Mungkin ini ide tak masuk akal tapi aku percaya dia pasti sudah
bangun sekarang. Setelah kurang lebih satu jam mempersiapkan,ku keluarkan
sepeda federal milik Mas Rizal dari garasi. Lalu ku ambil ponselku yang sedari tadi
berdering. Bbm,sms,WA,line dan miscall balik dari Fafa dan semuanya jawabannya
‘iya mbu aku otw’. Oke kalau dia tidak lupa kali ini.
Aku berpamitan pada ibuku
dan segera mengayuh sepedaku menuju sekolahku. Udara pagi yang dingin dan kabut
yang sejuk menyelimuti kulitku. Aku hampir tak pernah punya waktu untuk jalan-jalan
pagi atau sekedar berolahraga pagi karena rutinitas kuliah pagi yang
mengharuskanku untuk datang ke sekolah. Jadi aku tidak akan menyia-nyiakan
kesempatanku untuk gowes bareng Fafa kali ini.
Tak terasa aku sudah
sampai di sekolahan. Namun Fafa belum juga kelihatan batang hidungnya. Ku coba
hubungi dia. Lima belas menit ku menunggu akhirnya dia datang juga. Dia datang
dengan mengenakan setelan jersey berwarna hijau cerah dan menaiki sepeda lipat
seperti milikku namun aku tak menaikinya karena aku pikir jika aku menaiki
sepeda lipat untuk gowes pagi rasanya kurang begitu nyaman. Jadi aku pinjam
saja sepeda punya mas Rizal.
“Huh….udah lama ya
nunggunya?”
“Nggak juga,emmmm ini
sepeda siapa?”
“Ohh…ini punya adekku…(sambil ngos-ngosan)”
“Haha…kamu ngapain
sih acting ngos-ngosan gitu?”
“Capek tau mbu…..,gowes
dari rumahku sampe sekolahmu…lama-lama aku kaya bisa tambah kerempeng nih?”
“Ah elah…kamu lebay
banget sih?baru gowes gitu aja udah ngos-ngosan,katanya anak kegiatan?”
“Kan aku nggak biasa
gowes,sayang….”
“Ya udah biar
terbiasa,yuk gowes lagi... kita ke…..”
“Eeehh entar dulu
dong…istirahat dulu lah..…”
“Gini aja deh,gimana
kalau kamu tukeran sepeda sama aku?Kamu pake sepedaku aku pake sepedamu. Buat
pemula dianjurkan pake sepeda federal ini.”
“Nggak. Aku nggak mau
lengah. Yaudah yuk berangkat!”
“Udah deh!Turun kamu.
Nih!pake sepedaku. Kamu tau kan aku nggak suka kalau kamu keringetan?Jalan juga
belum udah keringetan gini”
“Yya yaudah deh”
Akhirnya kami sepakat
untuk bertukar sepeda. Kami memulai perjalanan menuju alun-alun. Dia mulai agak
sedikit bersemangat karena sepeda yang ia kendarai ia atur menjadi enteng. Dia
mendahuluiku. Aku bersepeda dengan santai karena aku ingin menikmati
perjalananku pagi ini. Aku sangat senang menikmati gowes pagi dengan Fafa.
Sejujurnya aku pernah gowes bareng dengan seorang pria. Andromeda. Dulu kami
selalu gowes bareng tiap pulang sekolah karena jalan pulang kami searah dan
masih tetangga satu desa. Tapi tetap saja dulu berasa LDR karena kami jarang
bertemu ketika di sekolah. Duhh ini kenapa aku jadi memikirkan Andromeda ketika
bersama Fafa?ku hapus memori pendek dan fokus mendengarkan curahan hati Fafa.
Kemarin waktu ada rapat purna paskibraka,dia sempat digoda oleh kakak seniornya
yang tahu kalau dia pernah berboncengan dengan seorang wanita yang masih
memakai seragam sekolah ketika pulang sekolah agak larut sore. Itu adalah waktu
ketika Fafa menembakku. Dan seniornya
bilang kalau dia sempat membuntutinya ketika Fafa melewati sekolahnya. Berarti seniornya
tau kalau Fafa kala itu memboncengkanku. Dan dia pasti mengira kalau yang
diboncengkan Fafa adalah pacarnya yaitu Aku. Aku jadi malu. Menurut info yang
ku dengar jika Fafa sedang mengikuti rapat dia orangnya cenderung pendiam,cuek
namun tetap antusias. Jadi aku pikir ketika seniornya mencoba memergokinya,dia
pasang wajah sok stay cool seperti sekarang ini. Ketika dia memandangku
sesampainya di rumah Riani…
“Fa!”
“Oey! Kamu tuh
ngagetin aja?”
“Kamu tuh yang dari
tadi ngelamun. Udah gih panggil si Riani!”
“Ogah
ah,kan kamu yang minta ke rumahnya?lagian ngapain sih pake mampir segala?Kan
kita mau gowes berdua sayang?”
“Kalau tiba-tiba
ketemu senior kamu gimana?aku kan jadi ngerasa nggak enak.”
“Udahlah…biarin aja.
Lagian mereka juga nggak tau nama kamu”
“Kita mampir ke rumah
Riani mau nitip sepeda. Kita ke alun-alunnya jalan kaki aja ya?Disana nggak ada
lahan parkir buat sepeda…”
“Kan belum
dicari?siapa tau ada…”
“Eh,kalian?ngapain
pagi-pagi ke rumah?Wah…gowes gak ngajak-ngajak nih!”
“Ehhh gini Rin,kita
mau nitip sepeda di rumah kamu soalnya kita mau ke alun-alun jalan kaki….”
“Oh gitu?ya udah
taruh sini gih!Eh aku ikutan kesana ya?gak apa-apa kan?temenin kek biar aku
nggak serasa jomblo akut yang bisanya nangisin mantan mulu….”
“Yaudah yuk buruan
kalo mau ikut. Riani ikut nggak apa-apa kan,Fa?”Dia sepertinya agak setengah
hati menerima kehadiran Riani. Tapi berusaha ku bujuk dia dan akhirnya dia mau.
Kami bertiga berjalan kaki menuju alun-alun. Mentari mulai perlahan menampakkan
sinarnya. Setelah kurang lebih 500 meter terlalui,kami akhirnya sampai di
alun-alun. Banyak anak kecil,remaja hingga dewasa mengikuti CFD pagi ini.
Alun-alun nampak sangat ramai sekali. Aku jadi malas kalau harus berlari
mengitari alun-alun dan berdesak-desakan diantara ribuan orang. Akhirnya kami
memutuskan untuk jalan santai biasa dan duduk di teras Mall yang sudah buka.
Setelah 30 menit istirahat,kami melanjutkan perjalanan menuju pusat susu sapi
perah untuk mengisi energi.
Setelah sampai disana,kami memesan meja untuk
bertiga. Fafa yang memesankan susunya,Aku dan Riani duduk menunggunya. Aku
merasa tidak nyaman karena sedari tadi ada perempuan yang memandangku secara
diam-diam seolah sedang memata-mataiku. Aku palingkan wajahku ke arah ponselku
seolah aku tak lagi melihatnya. Fafa datang membawa tiga gelas susu. Dan saat
kami bertiga sedang menikmatinya,perempuan yang memata-mataiku datang
menghampiri Fafa…
“Kak Fafa!!!!”teriak
perempuan itu yang suaranya terdengar sangat cempreng melebihi suaraku hingga
membuat orang di sekitar kami melihat ke arahnya.
“Lhah?Anak kecil
ngapain kemari?”
“Terserah aku dong
mau kemana aja?mana kak janjinya?katanya mau nraktir?Mbak ini pasti pacarnya
kak Fafa kan?”dia melihatku dan tersenyum padaku…
“Dia siapa sih Fa?”ku
tanyakan pada Fafa
“Ituuuhh yang aku
ceritain kemarin. Yang gendut ini namanya Dania….”
“Iiiihhhh kak
Fafa!!!aku tuh nggak gendut cuma berisi sedikit…yeeee masih mending aku gendut
daripada kak Fafa kerempeng kayak nggak punya gizi?Wwkwkwk oh iya sampe lupa…
Hai kakak cantik,kenalin aku Dania. Temennya kak Fafa waktu jamnas di Klaten.
Kakak pasti kak Meiy kan pacarnya kak Fafa?”
“Ih kamu apa apaan
sih anak kecil?gak usah caper sama pacarku kamu.”
“Udahlah biarin dia
kenal. Eh iya adek manis….makasih iya udah kenal aku.. ”
“Aaaassyyyyiiikkkk yeay aku dibilang manis….Naura kayaknya
kalah cepet deh kak?buktinya aku yang kenalan dulu sama kak Meiy. Kak Meiy
cantik kok mau ya sama kak Fafa yang sok ganteng?Wwkwkkw”
“Eeehehh jangan
sembarangan kalau kamu ngomong dek. Kamu belum kenalan kan sama aku?”sapa Riani
“Kakak siapa?kakak
pacarnya kak Fafa juga?Ya ampun kak Fafa serakah ya?nyari pacar sekali dua..”
“EH…EH…EH… anak kecil
sembarang aja kalau ngomong,udah pergi sana!ganggu aja!”
“Nggak ah,aku nggak
mau pergi. Aku kan belum kenalan sama kakak yang satu ini?kakak namanya siapa?”
“Riani dek….”
“Eh anak kecil,kamu
pergi atau nggak jadi aku traktir nih?”
“Ah Kak Fafa curang
ah!iya iya aku pergi….mana uangnya?”
“Nih!udah buruan sana
cabut!”
“Makasih loh Kak udah
ngusir,oh iya kak Meiy nanti jangan lupa follback instagram aku ya?dadah….”
***
Pagi yang cukup
melelahkan. Aku dan Fafa selesai dari rumah Riani pukul 10.00 pagi. Lalu kami
pulang. Fafa ikut menemaniku pulang. Dia tak ingin aku kenapa-napa di jalan.
Sebenarnya aku merasa kasihan bila dia mengantarkanku pulang karena jarak rumahnya
menuju ke rumahku sangat jauh. Dan selama ini dia mau-mau saja mengantarkanku
pulang. Akhirnya dia mengikutiku hingga gang besar menuju rumahku. Setelah
sampai di rumahku,ku masukkan sepeda di garasi dan beristirahat di sofa ruang
tengah. Satu notif pesan terpampang di ponselku. Riani berniat
mengajakku,Fafa,dan Dhede untuk nonton siang hari ini. Katanya ada film bagus yang
tayang premier pada siang hari ini jadi ia antusias untuk nonton. Ku serahkan
saja semua pada Fafa. Bila Fafa menjemputku berarti aku jadi nonton,bila tidak
ya batal.
Pukul 2 siang,Fafa
sudah sampai rumahku. Aku bahkan baru bangun dari tidur siangku. Dia sudah
menunggku di ruang tamu disusul Riani dan juga Dhede. Setelah aku siap,kami
berangkat menuju bioskop. Di sana sudah banyak pengunjung yang mengantri tiket
untuk nonton. Dan yang ku herankan,Riani sudah memesan tiket untuk kami
berempat. Entah kapan dia memesan tiket itu. Film mulai ditayangkan lima belas
menit lagi. Kami memasuki ruang bioskop dan mencari posisi tempat duduk. Riani
memesan tempat duduk paling atas nomer 13 hingga 16. Ia memilih untuk duduk
berjejer dengan Dhede. Aku dan Fafa duduk berjejer di nomer 15-16.
Lampu
bioskop sudah dimatikan. Ku rebahkan tanganku disisi kanan loker. Namun
tiba-tiba tangan Fafa direbahkan di sisi kiri loker. Dia mulai sengaja
meletakkan tangannya di atas tanganku dan menggenggam tanganku secara perlahan
seiring film mulai ditayangkan. Aku jadi kehilangan fokus untuk melihat film.
Padahal film yang kami lihat adalah film komedi namun yang aku nikmati bersama
Fafa seolah film romantis. Ku rebahkan kepalaku pada bahunya. Kepalanya serasa
mendekati ubun-ubunku. Dan aku merasakan seolah dia menekan tepat di atas
hidungku. Satu ciuman mendarat di keningku. Aku jadi deg-degan dibuatnya.
Aku
pun merubah posisi dudukku dan berusaha fokus menonton film. Namun genggaman
tangan Fafa seolah menghilangkan fokusku. Ku lihat matanya fokus menonton film.
Namun anggota badan yang lain yang tak fokus. Dengan kejahilannya,dia mencubit
pipiku dan hidungku. Aku dan dia seperti tak sedang menonton film. Kami asyik
cubit-cubitan sendiri. Hingga akhirnya aku lelah dan mengantuk. Tangan Fafa
membawa kepalaku ke bahunya. Dan aku terlelap di bahunya hingga film itu
selesai. Setelah selesai menonton kami mencari makan karena film yang ku tonton
bersama Fafa seolah singkat padahal menurut Riani dan Dhede begitu lama sekali sehingga
membuat mereka lapar. Kami bergegas mencari makan agar kami pulang tidak
terlalu sore.
Setelah kami selesai
makan,Riani meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu bersama Dhede karena
mamahnya sudah mencarinya. Mereka
berpamitan dan meninggalkanku dan Fafa di rumah makan sendirian. Jam di tangan
menunjukkan pukul setengah lima sore. Pelanggan di rumah makan itu hanya
tinggal aku dan Fafa. Aku dan Fafa berniat untuk pulang. Namun ketika kami
hendak naik di motor,tiba-tiba hujan turun dengan deras. Kami memutuskan untuk
menunggu hingga hujan reda..
“Kamu bosen nggak sih
24 jam ketemu aku terus?”Tanya Fafa padaku
“Enggak lah,justru
kalau bisa aku pengen kita sering-sering kaya gini”
“Aku juga pengennya
gitu sayang…..tapi maaf ya kalau aku sering nggak ada waktu buat kamu. Btw,aku ngerasa
hari ini kangenku sebulan sama kamu lunas deh kayaknya…hahaha…”
“Hahaha…apaan sebulan
lama banget?Oh iya… Kamu tau nggak apa yang sedingin hujan dan sehangat
selimut?”
“Apa ya???Emang apa?”
“Kamu!!!”
“Hah?kok bisa???”
“Biarpun sikapmu
sedingin hujan,tapi aku nyaman. Genggaman tangan dan pelukanmu yang
menghangatkan... “
“Ihhhhh gombal deh
kamu!!!siapa sih yang ngajarin?jadi makin sayang” sambil merangkulku diiringi
dengan redanya hujan sore itu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar