Sabtu, 24 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Buah dari Rindu

       Pukul 10.00 malam aku meminta ijin pada teman-teman untuk pulang karena ibuku sudah menghubungiku. Aku akan diantar pulang oleh Fafa. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berpamitan kepada mereka. Mereka sempat mengomporiku dan menyangka bahwa kami akan memiliki acara sendiri. Mayoritas anak muda yang memiliki seorang kekasih pasti akan bersenang-senang di malam minggu. Namun ku urungkan niatku karena aku tak terbiasa pergi keluar malam dengan seorang pria. Dan mungkin baru kali ini aku nekat keluar malam diantar pulang oleh seorang pria. Percayalah,dia hanya mengantarkanku pulang karena dia tau diri. Sedari siang dia belum mandi hingga malam ini karena padatnya jadwal kegiatan yang ia ikuti. Bisa kau bayangkan betapa baunya ia? Dia juga malu untuk mengajakku kemana-mana dengan keadaan seperti ini. Bahkan dia sempat menolak ketika aku memintanya untuk mengantarkanku. Seperti biasa dengan ancaman itu, dia jadi takut sendiri. Padahal aku tak mengancamnya…
        “Kita ini mau pulang kan?”
        “Nggak!”
          “Kok nggak sih?”
          “Kamu harus mandi dulu baru nganterin aku pulang”
       “Rumahku jauh,mbuuuu….Kalau kamu mau,aku pulang tapi kamu nunggu disini. Gimana?”
      “Nggak ah aku nggak mau. Entar kalau aku diculik om-om gimana?Besok kamu gowes sama siapa?”
        “Ya nggak jadi gowes lah kan kamunya diculik”
       “Udah ah…buruan anterin aku pulang. Besok jangan lupa ya?Jam 6 kamu harus udah sampe sekolahan. Kita janjian di sekolahan…”
        “Hah?Kan kita jadian di deket gang rumah kamu…???Kamu lupa ya?”
        “Aku bilang JANJIAN,Fa….. bukan JADIAN. Kuping mana kuping?”
       “Heheheh….insyaallah ya?tapi jangan lupa aku dibangunin ya?Aku nggak mau bangun kalau kamu nggak bangunin”
        “Yaelah…..kamu gagah-gagah manja juga ya ternyata???”
        “Manja kalau sama ibuku dan ibu…..calon dari anak-anakku?”
        “Apa?kamu bilang apa tadi?”
        “Nggak ada siaran ulang. Udah yukk gassss….”
    Malam itu rasanya singkat sekali. Fafa mengantarkanku pulang. Ketika di tengah perjalanan,tangannya meraih tanganku. Dia melingkarkannya di perutnya seolah tanganku ini memeluknya. Dia menggenggam tanganku erat dan menyandarkan punggungnya ke belakang dan menoleh ke kiri sambil berkata ‘Makasih ya buat malam ini mbu… Aku sayang sama kamu’. Sesampainya di dekat gang,aku turun dari boncengannya namun dia masih menggenggam tanganku.
        “Fa?sehat?”
        “Iya sehat,kenapa?”
        “Ini aku udah mau sampe rumah lho. Kamu nggak ada niat buat ngelepasss…(sambil melirik tanganku yang masih digenggamnya)”
       “Ohhh….kirain iya lupa lupa. Maaf…aku jadi salah fokus ngelihatin wajah kamu yang bersinar kaya bulan purnama. Tuh!(sambil menunjukkan bulan purnama yang kebetulan bersinar malam ini)”
         “Nggak usah bikin aku insomnia gara-gara kamu gombalin yah?Udah ah aku udah ngantuk. Dadah Fafa sayang….”
        “Dadah pijamku sayang….”
                                          ***
      Alarm pukul 4 pagi sudah mengganggu lelapnya tidurku. Sebenarnya mataku tak bisa diajak toleransi namun aku paksa untuk terjaga dan bersiap-siap mandi dan sholat shubuh. Tak lupa ku bbm,sms,WA,line ,dan miscall Fafa. Biar dia cepet bangunnya,tapi akan percuma saja bila dia menonaktifkan ponselnya. Ku pakai jurus telepati agar ia mau bangun. Mungkin ini ide tak masuk akal tapi aku percaya dia pasti sudah bangun sekarang. Setelah kurang lebih satu jam mempersiapkan,ku keluarkan sepeda federal milik Mas Rizal dari garasi. Lalu ku ambil ponselku yang sedari tadi berdering. Bbm,sms,WA,line dan miscall balik dari Fafa dan semuanya jawabannya ‘iya mbu aku otw’. Oke kalau dia tidak lupa kali ini. 
      Aku berpamitan pada ibuku dan segera mengayuh sepedaku menuju sekolahku. Udara pagi yang dingin dan kabut yang sejuk menyelimuti kulitku. Aku hampir tak pernah punya waktu untuk jalan-jalan pagi atau sekedar berolahraga pagi karena rutinitas kuliah pagi yang mengharuskanku untuk datang ke sekolah. Jadi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatanku untuk gowes bareng Fafa kali ini.
    Tak terasa aku sudah sampai di sekolahan. Namun Fafa belum juga kelihatan batang hidungnya. Ku coba hubungi dia. Lima belas menit ku menunggu akhirnya dia datang juga. Dia datang dengan mengenakan setelan jersey berwarna hijau cerah dan menaiki sepeda lipat seperti milikku namun aku tak menaikinya karena aku pikir jika aku menaiki sepeda lipat untuk gowes pagi rasanya kurang begitu nyaman. Jadi aku pinjam saja sepeda punya mas Rizal.
       “Huh….udah lama ya nunggunya?”
       “Nggak juga,emmmm ini sepeda siapa?”
       “Ohh…ini punya adekku…(sambil ngos-ngosan)”
       “Haha…kamu ngapain sih acting ngos-ngosan gitu?”
        “Capek tau mbu…..,gowes dari rumahku sampe sekolahmu…lama-lama aku kaya bisa tambah kerempeng nih?”
        “Ah elah…kamu lebay banget sih?baru gowes gitu aja udah ngos-ngosan,katanya anak kegiatan?”
       “Kan aku nggak biasa gowes,sayang….”
       “Ya udah biar terbiasa,yuk gowes lagi... kita ke…..”
       “Eeehh entar dulu dong…istirahat dulu lah..…”
        “Gini aja deh,gimana kalau kamu tukeran sepeda sama aku?Kamu pake sepedaku aku pake sepedamu. Buat pemula dianjurkan pake sepeda federal ini.”
       “Nggak. Aku nggak mau lengah. Yaudah yuk berangkat!”
      “Udah deh!Turun kamu. Nih!pake sepedaku. Kamu tau kan aku nggak suka kalau kamu keringetan?Jalan juga belum udah keringetan gini”
       “Yya yaudah deh”
     Akhirnya kami sepakat untuk bertukar sepeda. Kami memulai perjalanan menuju alun-alun. Dia mulai agak sedikit bersemangat karena sepeda yang ia kendarai ia atur menjadi enteng. Dia mendahuluiku. Aku bersepeda dengan santai karena aku ingin menikmati perjalananku pagi ini. Aku sangat senang menikmati gowes pagi dengan Fafa. Sejujurnya aku pernah gowes bareng dengan seorang pria. Andromeda. Dulu kami selalu gowes bareng tiap pulang sekolah karena jalan pulang kami searah dan masih tetangga satu desa. Tapi tetap saja dulu berasa LDR karena kami jarang bertemu ketika di sekolah. Duhh ini kenapa aku jadi memikirkan Andromeda ketika bersama Fafa?ku hapus memori pendek dan fokus mendengarkan curahan hati Fafa. 
      Kemarin waktu ada rapat purna paskibraka,dia sempat digoda oleh kakak seniornya yang tahu kalau dia pernah berboncengan dengan seorang wanita yang masih memakai seragam sekolah ketika pulang sekolah agak larut sore. Itu adalah waktu ketika Fafa  menembakku. Dan seniornya bilang kalau dia sempat membuntutinya ketika Fafa melewati sekolahnya. Berarti seniornya tau kalau Fafa kala itu memboncengkanku. Dan dia pasti mengira kalau yang diboncengkan Fafa adalah pacarnya yaitu Aku. Aku jadi malu. Menurut info yang ku dengar jika Fafa sedang mengikuti rapat dia orangnya cenderung pendiam,cuek namun tetap antusias. Jadi aku pikir ketika seniornya mencoba memergokinya,dia pasang wajah sok stay cool seperti sekarang ini. Ketika dia memandangku sesampainya di rumah Riani…
       “Fa!”
       “Oey! Kamu tuh ngagetin aja?”
       “Kamu tuh yang dari tadi ngelamun. Udah gih panggil si Riani!”
       “Ogah ah,kan kamu yang minta ke rumahnya?lagian ngapain sih pake mampir segala?Kan kita mau gowes berdua sayang?”
       “Kalau tiba-tiba ketemu senior kamu gimana?aku kan jadi ngerasa nggak enak.”
       “Udahlah…biarin aja. Lagian mereka juga nggak tau nama kamu”
       “Kita mampir ke rumah Riani mau nitip sepeda. Kita ke alun-alunnya jalan kaki aja ya?Disana nggak ada lahan parkir buat sepeda…”
       “Kan belum dicari?siapa tau ada…”
       “Eh,kalian?ngapain pagi-pagi ke rumah?Wah…gowes gak ngajak-ngajak nih!”
       “Ehhh gini Rin,kita mau nitip sepeda di rumah kamu soalnya kita mau ke alun-alun jalan kaki….”
      “Oh gitu?ya udah taruh sini gih!Eh aku ikutan kesana ya?gak apa-apa kan?temenin kek biar aku nggak serasa jomblo akut yang bisanya nangisin mantan mulu….”
        “Yaudah yuk buruan kalo mau ikut. Riani ikut nggak apa-apa kan,Fa?”Dia sepertinya agak setengah hati menerima kehadiran Riani. Tapi berusaha ku bujuk dia dan akhirnya dia mau. Kami bertiga berjalan kaki menuju alun-alun. Mentari mulai perlahan menampakkan sinarnya. Setelah kurang lebih 500 meter terlalui,kami akhirnya sampai di alun-alun. Banyak anak kecil,remaja hingga dewasa mengikuti CFD pagi ini. Alun-alun nampak sangat ramai sekali. Aku jadi malas kalau harus berlari mengitari alun-alun dan berdesak-desakan diantara ribuan orang. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan santai biasa dan duduk di teras Mall yang sudah buka. Setelah 30 menit istirahat,kami melanjutkan perjalanan menuju pusat susu sapi perah untuk mengisi energi. 
     Setelah sampai disana,kami memesan meja untuk bertiga. Fafa yang memesankan susunya,Aku dan Riani duduk menunggunya. Aku merasa tidak nyaman karena sedari tadi ada perempuan yang memandangku secara diam-diam seolah sedang memata-mataiku. Aku palingkan wajahku ke arah ponselku seolah aku tak lagi melihatnya. Fafa datang membawa tiga gelas susu. Dan saat kami bertiga sedang menikmatinya,perempuan yang memata-mataiku datang menghampiri Fafa…
      “Kak Fafa!!!!”teriak perempuan itu yang suaranya terdengar sangat cempreng melebihi suaraku hingga membuat orang di sekitar kami melihat ke arahnya.
           “Lhah?Anak kecil ngapain kemari?”
          “Terserah aku dong mau kemana aja?mana kak janjinya?katanya mau nraktir?Mbak ini pasti pacarnya kak Fafa kan?”dia melihatku dan tersenyum padaku…
          “Dia siapa sih Fa?”ku tanyakan pada Fafa
          “Ituuuhh yang aku ceritain kemarin. Yang gendut ini namanya Dania….”
          “Iiiihhhh kak Fafa!!!aku tuh nggak gendut cuma berisi sedikit…yeeee masih mending aku gendut daripada kak Fafa kerempeng kayak nggak punya gizi?Wwkwkwk oh iya sampe lupa… Hai kakak cantik,kenalin aku Dania. Temennya kak Fafa waktu jamnas di Klaten. Kakak pasti kak Meiy kan pacarnya kak Fafa?”
        “Ih kamu apa apaan sih anak kecil?gak usah caper sama pacarku kamu.”
        “Udahlah biarin dia kenal. Eh iya adek manis….makasih iya udah kenal aku.. ”
         “Aaaassyyyyiiikkkk yeay aku dibilang manis….Naura kayaknya kalah cepet deh kak?buktinya aku yang kenalan dulu sama kak Meiy. Kak Meiy cantik kok mau ya sama kak Fafa yang sok ganteng?Wwkwkkw”
         “Eeehehh jangan sembarangan kalau kamu ngomong dek. Kamu belum kenalan kan sama aku?”sapa Riani
      “Kakak siapa?kakak pacarnya kak Fafa juga?Ya ampun kak Fafa serakah ya?nyari pacar sekali dua..”
       “EH…EH…EH… anak kecil sembarang aja kalau ngomong,udah pergi sana!ganggu aja!”
       “Nggak ah,aku nggak mau pergi. Aku kan belum kenalan sama kakak yang satu ini?kakak namanya siapa?”
       “Riani dek….”
       “Eh anak kecil,kamu pergi atau nggak jadi aku traktir nih?”
       “Ah Kak Fafa curang ah!iya iya aku pergi….mana uangnya?”
       “Nih!udah buruan sana cabut!”
         “Makasih loh Kak udah ngusir,oh iya kak Meiy nanti jangan lupa follback instagram aku ya?dadah….”
                                             ***
      Pagi yang cukup melelahkan. Aku dan Fafa selesai dari rumah Riani pukul 10.00 pagi. Lalu kami pulang. Fafa ikut menemaniku pulang. Dia tak ingin aku kenapa-napa di jalan. Sebenarnya aku merasa kasihan bila dia mengantarkanku pulang karena jarak rumahnya menuju ke rumahku sangat jauh. Dan selama ini dia mau-mau saja mengantarkanku pulang. Akhirnya dia mengikutiku hingga gang besar menuju rumahku. Setelah sampai di rumahku,ku masukkan sepeda di garasi dan beristirahat di sofa ruang tengah. Satu notif pesan terpampang di ponselku. Riani berniat mengajakku,Fafa,dan Dhede untuk nonton siang hari ini. Katanya ada film bagus yang tayang premier pada siang hari ini jadi ia antusias untuk nonton. Ku serahkan saja semua pada Fafa. Bila Fafa menjemputku berarti aku jadi nonton,bila tidak ya batal.
       Pukul 2 siang,Fafa sudah sampai rumahku. Aku bahkan baru bangun dari tidur siangku. Dia sudah menunggku di ruang tamu disusul Riani dan juga Dhede. Setelah aku siap,kami berangkat menuju bioskop. Di sana sudah banyak pengunjung yang mengantri tiket untuk nonton. Dan yang ku herankan,Riani sudah memesan tiket untuk kami berempat. Entah kapan dia memesan tiket itu. Film mulai ditayangkan lima belas menit lagi. Kami memasuki ruang bioskop dan mencari posisi tempat duduk. Riani memesan tempat duduk paling atas nomer 13 hingga 16. Ia memilih untuk duduk berjejer dengan Dhede. Aku dan Fafa duduk berjejer di nomer 15-16. 
       Lampu bioskop sudah dimatikan. Ku rebahkan tanganku disisi kanan loker. Namun tiba-tiba tangan Fafa direbahkan di sisi kiri loker. Dia mulai sengaja meletakkan tangannya di atas tanganku dan menggenggam tanganku secara perlahan seiring film mulai ditayangkan. Aku jadi kehilangan fokus untuk melihat film. Padahal film yang kami lihat adalah film komedi namun yang aku nikmati bersama Fafa seolah film romantis. Ku rebahkan kepalaku pada bahunya. Kepalanya serasa mendekati ubun-ubunku. Dan aku merasakan seolah dia menekan tepat di atas hidungku. Satu ciuman mendarat di keningku. Aku jadi deg-degan dibuatnya. 
     Aku pun merubah posisi dudukku dan berusaha fokus menonton film. Namun genggaman tangan Fafa seolah menghilangkan fokusku. Ku lihat matanya fokus menonton film. Namun anggota badan yang lain yang tak fokus. Dengan kejahilannya,dia mencubit pipiku dan hidungku. Aku dan dia seperti tak sedang menonton film. Kami asyik cubit-cubitan sendiri. Hingga akhirnya aku lelah dan mengantuk. Tangan Fafa membawa kepalaku ke bahunya. Dan aku terlelap di bahunya hingga film itu selesai. Setelah selesai menonton kami mencari makan karena film yang ku tonton bersama Fafa seolah singkat padahal menurut Riani dan Dhede begitu lama sekali sehingga membuat mereka lapar. Kami bergegas mencari makan agar kami pulang tidak terlalu sore.
       Setelah kami selesai makan,Riani meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu bersama Dhede karena mamahnya sudah mencarinya.  Mereka berpamitan dan meninggalkanku dan Fafa di rumah makan sendirian. Jam di tangan menunjukkan pukul setengah lima sore. Pelanggan di rumah makan itu hanya tinggal aku dan Fafa. Aku dan Fafa berniat untuk pulang. Namun ketika kami hendak naik di motor,tiba-tiba hujan turun dengan deras. Kami memutuskan untuk menunggu hingga hujan reda..
        “Kamu bosen nggak sih 24 jam ketemu aku terus?”Tanya Fafa padaku
        “Enggak lah,justru kalau bisa aku pengen kita sering-sering kaya gini”
       “Aku juga pengennya gitu sayang…..tapi maaf ya kalau aku sering nggak ada waktu buat kamu. Btw,aku ngerasa hari ini kangenku sebulan sama kamu lunas deh kayaknya…hahaha…”
       “Hahaha…apaan sebulan lama banget?Oh iya… Kamu tau nggak apa yang sedingin hujan dan sehangat selimut?”
        “Apa ya???Emang apa?”
        “Kamu!!!”
        “Hah?kok bisa???”
      “Biarpun sikapmu sedingin hujan,tapi aku nyaman. Genggaman tangan dan pelukanmu yang menghangatkan... “
      “Ihhhhh gombal deh kamu!!!siapa sih yang ngajarin?jadi makin sayang” sambil merangkulku diiringi dengan redanya hujan sore itu.

                                              ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar