Pagi ini aku begitu cemas sekali. Rencananya siang nanti aku akan
bertemu dengan Fafa. Aku akan meminta maaf padanya soal insiden aku
meninggalkannya kemarin hanya gara-gara takut ancaman sahabatku. Meskipun aku
tau pacarku bisa saja akan marah besar bila aku meninggalkannya,tetapi aku
tetap saja meninggalkannya begitu saja kemarin. Karena aku tak ingin sahabatku
kecewa dan marah padaku. Lebih baik aku dimarahi pacarku daripada berantem sama
sahabatku. Selagi sahabatku merasakan kebahagiaannya dijemput gebetannya,aku juga
akan turut bahagia.
Dan juga tidak hanya pergi kencan berdua dengan Fafa namun
aku berencana mengajak Riani untuk doubledate siang nanti. Ku harap Fafa mau
bertemu dan menerima permintaan maafku. Sebenarnya aku sudah meminta maaf
padanya via bbm semalam namun dia sama sekali tak mau menerima maafku. Ku ajak
dia bertemu nanti siang dan syukurlah kalau dia mau walaupun sepertinya agak
sedikit terpaksa.
Kebetulan sekali
jadwal pulang hari ini agak pagi karena para guru akan menghadiri acara
pernikahan salah satu guru di sekolahku. Jadi ada kesempatan untuk bertemu
walaupun sekolah Fafa pulang seperti biasa. Aku akan menunggunya dengan setia
kali ini. Aku tak ingin mengecewakan Fafa lagi. Ku pinta Riani untuk menunggu
mereka di post satpam seusai ku pergi mengantarkan Aulin membeli alat tulis.
Sebenarnya hari ini aku ada jadwal kursus renang,namun karena Aulin ada latihan
Marching Band untuk persiapan mengiringi upacara dalam rangka HUT PGRI kami meminta
cuti.
Seusai mengantarkannya,aku sampai di pos satpam disambut oleh Riani.
Katanya lima belas menit lagi Fafa dan Coco akan sampai di sekolahan. Seusai
memarkirkan motor,Aulin berpamitan denganku dan Riani untuk mengikuti latihan.
Setelah lima belas menit menunggu,akhirnya yang ditunggu-tunggupun datang. Kami
menghampiri Coco dan Fafa. Riani mengusulkan restoran baru di dekat GOR. Kami
pun setuju dan menuju ke sana.
Setelah kami sampai
disana,kami pun memesan meja dan kursi untuk empat orang dan makanan. Sama
seperti di awal pertemuan,Fafa terlihat gelisah dan cemas sambil mengetik pesan
di ponselnya. Kami pun duduk berhadap-hadapan. Riani berhadapan dengan Coco
sedangkanku berhadapan dengan Fafa. Aku ingin memulai pembicaraan namun Fafa
seakan malas untuk memandang wajahku. Ku beranikan diriku untuk menyapanya…
“Fa…..?”dia melihatku….
“Aaa aku mau minta
maaf soal kemarin,aku nggak ada niat sengaja buat ninggalin kamu. Aku tadinya
mau bilang ke temen aku kalo aku udah dijemput tapi tiba-tiba aja hujan dan aku
nggak tau kalau kamu buru-buru ikut kegiatan jadi ya….. maaf kalau aku
ninggalin kamu. Sekali lagi maafin aku ya?”
***
Ku tunggu jawaban
darinya sembari ku lihat wajahnya yang sedari tadi tersenyum kecut ke arahku.
Nampaknya dia senang melihatku merasa bersalah…
“Iya iya aku maafin…
Udah nggak usah manyun gitu mukanya. Senyum dong sayang!”
Aku pun tersenyum
“Nah gitu kan
cantik!”sanjung Fafa
“Eh,sayang kayaknya
kita dijadiin kambing congek deh sama mereka?”sindir Coco
“Hahaha mereka
kayaknya balas dendam nih?Udah ah,biarin aja….kan mereka baru jadian?gak usah
diganggu sayang..”bela Riani
Makanan yang kami
pesan pun akhirnya datang. Kami kompak memesan makanan yang sama. Kami berempat
menikmati makanan dengan suasana canda yang begitu menyenangkan. Tiba-tiba Fafa
menerima telpon yang membuat suasana agak sedikit terganggu. Setelah menerima
telpon,raut wajahnya berubah seolah ia ingin mengakhiri makan siang hari ini.
“Mbu?”
“Iya Fa,ada apa?”
“Kita pulang yuk?”
“Kok pulang sih?kan
makanannya belum dihabisin?emang ada apa?”
“eehh….aku ada
latihan habis ini buat kirab kebangsaan besok”
“Apa?Kok kamu nggak
bilang sama aku?tadi katanya kamu bisa ketemu hari ini?”
“Iya maaf sayang,ini
latihannya mendadak banget. Aku tadi dapet telpon dari seniorku dan saat ini
juga aku disuruh langsung latihan kesana”
“Terus gimana dong?”
Aku lemas memakan
nasi goreng yang ku pesan. Nafsu makanku seakan menghilang. Padahal aku sangat
ingin sekali melewatkan waktu agak lama dengannya. Pasalnya semenjak jadian aku
jadi jarang bertemu dengan dia karena entah dia ada latihan,kegiatan,atau kemah
dan lainnya. Aku sudah memakluminya,namun terkadang egoku untuk bertemu
mengalahkan rasa sabarku menahan rindu padanya.
“Yah…..elu gimana sih
Fa?kenapa elu nggak bilang ke gue juga tadi waktu kita mau otw sekolahan?”
kesal Coco
“Ini masalahnya
mendadak banget,Co. Padahal kemarin senior gue bilang kalau hari ini nggak ada
latihan”
“Emang kamu nggak
bisa apa ijin sebentar gitu?kasihan lho si Meiy. Dia ngarep banget buat ketemu
sama kamu…”balas Riani
“Atau gini aja,apa
kamu ikut aku aja ke kabupaten ya Meiy?nanti kamu nunggu di sana sampai latihannya
selesai”saran Fafa padaku
“Apa?kok elu tega
gitu sih sama Meiy?terus dia di sana ngapain nungguin elu sampe karatan
gitu?Kayak nggak ada kerjaan lain aja…”bantah Riani
“Yaaa habis gimana
dong?masa iya aku anterin dia pulang?dia kan belum selesai juga makannya..”
“Kalau gue jadi elu,gue
anterin dia pulang. Gue bungkus tuh nasi abis itu nganterin dia pulang cus
latihan deh. Gampang kan?” usul Coco
“Iya masalahnya rute
rumahnya ke kabupa…(kriiiiinggg kriiiinnngg ponsel Fafa berbunyi lagi) tuh kan
gue ditelpon lagi. Aduhh…gimana nih?Kamu gimana Meiy pulangnya?Kamu kalau aku
tinggal,nanti dijemput siapa?”
“Dijemput Raka!!!
Puas????”
Ucapanku membuat Fafa
kaget dan lidahnya kelu untuk menjawabku. Begitu juga Coco dan Riani yang
langsung menoleh ke arahku dengan tatapan tak percaya. Aku sangat kesal sekali
padanya. Aku sudah berusaha meluangkan waktu untuknya namun apa daya. Dia
hampir tak pernah punya waktu untuk ketemuan sama aku meskipun hanya sekedar
menjemput saja. Andaikan dia bilang padaku di awal kalau dia bisa saja beberapa
hari ke depan terpanggil untuk mengikuti latihan kegiatan,aku tidak akan
sekesal ini. Sejujurnya aku menyesal telah mengatakan itu tadi. Aku
mengatakannya pun dengan spontan tanpa memikirkan apa reaksi Fafa terhadap
ucapanku.
Dia akhirnya memakai jaket paskibnya dan
mengeluarkan bill untuk membayar makananku namun aku menunduk sambil memasang
wajah kesal padanya. Dia berpamitan dengan Coco dan Riani tanpa berpamitan
denganku dan pergi berlalu sambil menggendong tasnya. Saat dia mengendarai
motornya dengan gas kecepatan tinggi,aku baru menyesalinya. Kenapa aku
seceroboh ini?Kenapa aku sebodoh ini?Kenapa aku sejahat ini? Kenapa harus kata
itu yang terlontar di mulutku? Kenapa harus Raka? Aku benar-benar kecewa pada
diriku sendiri. Aku merasa bersalah lagi padanya. Baru saja aku meminta maaf
padanya namun kini aku melakukan kesalahan lagi. Aku pasrah dengan kisah
cintaku ini. Tanpa sadar air mataku meleleh di pipiku sembari Riani
mendekatiku…
“Aduuuhhh….Meiy?Kenapa
sih kamu tadi bilang gitu?Lagian juga ngapain kamu bilang Raka segala?Udah tau
dia lagi cemas malah kamu gituin”
“Kamu nggak tau Rin,rasanya
jadi aku yang ditinggal terus,yang jarang banget bbman,smsan,telponan nggak
kayak kamu sama Coco. Gaya pacaranku sama Fafa tuh beda dari kalian.” Bantahku
sambil menangis
“Iya aku tau
Meiy,tapi seharusnya kamu udah memikirkan ini jauh hari sebelum kamu nerima
dia. Kalau kamu nerima dia,ya kamu harus siap sama konsekuensi yang kamu terima
ketika kamu pacaran sama dia nantinya”
“Iya aku udah mikirin
ini jauh hari sebelum ditembak Rin,tapi dia tuh kayak nggak pernah ngehargain
rasa kangen aku. Kamu tau kan?kemarin aja dia nggak jadi jemput aku. Dia lebih
milih latihan daripada jemput aku. Padahal aku juga pengen kayak kamu sama
Arin. Dan sekarang dia malah nelantarin aku kayak gini. Terus nanti aku
pulangnya gimana coba?huhuhuhu….”
“Lah elu gimana sih
Meiy?Tadi kamu bilang sama Fafa kalau kamu dijemput Raka kan?”sambung Coco
“Itu bohong,Co. Aku
cuma manas-manasin dia. Aku cuma bikin dia cemburu. Aku cuma pengen tau
responnya gimana kalau aku bilang gitu tadi. Aku cuma pura-pura biar aku ada
yang jemput. Biar dia nggak khawatirin aku. Kurang apa sih aku ini?huhuhuhuhu…..”
“Udahlah Meiy
udah…..jangan nangis gini dong, mbak-mbak pelayannya ngelihatin kita tuh….
Emmmm gini deh mending kamu bbm siapa gitu temen kamu yang lagi free buat
jemput kamu. Atau kalau nggak ayah kamu atau Mas Rizal gitu suruh jemput kamu?”
usul Riani
Sambil ku usap air
mataku,ku ambil ponselku dan aku teringat pada Aulin yang sore hari ini dia
sedang ada latihan Marching Band
“Ayahku belum pulang
kerja. Mas Rizal masih di kampus. Aku mau bareng sama Aulin aja”
“Serius mau bareng
Aulin?emangnya dia bisa?”
“Iya dia bisa kok.
Dia ada latihan Marching Band sore hari ini”
***
Seusai makan,ku
tunggu kehadiran Aulin menjemputku di restoran bersama Coco dan Riani. Dia
berjanji akan menjemputku pukul 5 sore. 30 menit berlalu begitu lambat dan
nyaris membuatku pasrah. Bahkan Coco sampai menawarkanku boncengan bersama
Riani bertiga dalam satu motor karena dia juga tidak sabar ingin pulang
secepatnya. Hari semakin gelap. Aulin tak kunjung datang. Aku jadi semakin
cemas menantikannya. Saat aku nyaris putus asa,dia datang. Kami pun lega dan
akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumahku,Aulin menumpang
mandi dan makan malam di rumahku. Sembari makan malam,aku bercerita tentang
kejadian sore tadi…
“Duh Meiy ….Meiy….
padahal aku mau cerita kalau aku lagi seneng hari ini eh malah kamunya lagi
sedih. Coba aja kalau hari ini aku nggak ada latihan,kamu gimana?terlantar
kayak gelandangan disana..Lagian juga kenapa sih pake minta dijemput
segala?pacar kamu dimana?”
“Aduh
linnnnnn!!!makasih buanget yah?hampir aja aku jadi gelandangan tadi… makasih
makasih makasih banget deh pokoknya. Jadi tadi ceritanya aku doubledate sama
Riani eh tiba-tiba Fafa ada kegiatan dan harus saat itu juga perginya,kan aku
juga nggak mau sih disuruh nunggu dia latihan disana di kabupaten sendirian lagian
dia juga nggak mau nganterin aku pulang,ya udah deh dia ninggalin aku gitu aja
gara-gara aku bilang ‘dijemput Raka’ terus dia nyelonong pergi…”
“Tunggu-tunggu ….kamu
bilang dijemput Raka?Tumben kamu berani bilang gitu ke pacar kamu?”
“Ya abis aku udah
kesel dan sebel sama dia sih Lin,kenapa sih dia tuh kayak nggak punya waktu
luang buat aku,sekedar jemput doang gitu gak ada waktu,Lin”
“Huh…siapa suruh mau
jadi pacarnya anak sibuk?udah ku bilang kan di awal? Kamu tuh lebih cocok sama
Raka. Kalau kamu sama Raka aku jamin deh kamu nggak akan kayak gini”
“Masalah hati kan
siapa yang tau,Lin. Aku juga heran kenapa mau jadian sama Fafa? Ah biarin aja
ah,aku lagi males bahas dia. Oh iya cerita dong!kenapa kamu lagi seneng?”
“Emmmm….soal
senengnya,btw aku abis ngobrol di parkiran sama doi lho. Aaaaaaaaaa seneng
banget tau Meiy ditemenin doi di parkiran. Tadi aku ngobrol banyak sama doi,ya
basa-basi gitu deh. Udah ah, ceritanya sampe situ dulu soalnya aku nggak tega
kalau aku cerita seneng pas kamu lagi sedih. Yang penting kamu sekarang
tenangin diri kamu dulu. Jangan ditangisin tuh anak. Dia juga kayaknya gak
bakal peduli sama kamu. Dah yah?Anak kecil mau pulang. Udah dicariin Mamah nih!”
“Oh gitu,yaudah deh
Lin. Sekali lagi makasih ya udah mau jemput aku. Aku berhutang budi sama kamu”
“Hahaha,lebay
kamu…Udah ya Meiy?Salam buat Bundamu kalau udah pulang. Assalamu’alaikum… “
“Iya Lin.
Wa’alaikumsalam…..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar