Ku tanyakan padanya,apa yang membuat dia nampak marah padaku. Namun
sebelum aku bertanya padanya,dia mendahului dan langsung menyerangku dengan
kata-kata kasar….
“Jadi gini kelakuan
pacarmu?” Dia menunjukkan hasil tangkapan layar pesan bbm dari Fafa yang ia terima
semalam. Aku mengambil handphone dari tangan Arin. Ku cermati kalimat demi
kalimat
“Eh Meiy!denger
ya?selama aku hidup 15 tahun,orang tuaku aja nggak pernah membentak aku kaya
orang gila macam pacarmu ini. Pacarmu diajarin sopan santun nggak sih sama
orang tuanya?”
“Eh tunggu dulu!maaf
ya Rin maaf banget sebelumnya. Jujur,aku nggak tau apa yang kamu maksud dan aku
nggak tau apa alasan kamu marah-marah gini sama aku. Sebenernya ada masalah apa
sih?”
“Jadi,kamu nggak tau
masalahnya apa?Nih! Baca nih! Kalau dia nggak tau apa-apa ya nggak usah nuduh orang
sembaranganlah!”
“Nuduh?gimana sih maksud
kamu?aku aku bener bener nggak ngerti deh”
“Pacarmu tadi malem BBM
aku. Dia nuduh aku nggak suka sama hubungan kamu sama dia. Aku dituduh ikut
campur urusan hubungan kamu sama dia. Bahkan dia nuduh aku buat mojokin kamu
biar kamu putus sama dia. Ini maksudnya apa coba dia nyerang aku kayak
gini?hah?”
“Masak sih?aku tadi
malem bbman sama dia biasa-biasa aja kok kaya nggak ada masalah. Mungkin ini
yang bbman sama kamu bukan Fafa pacarku kali?”
“Udahlah nggak usah
nyari pembelaan kamu. Udah jelas di status bbmnya terpampang nama kamu,dan kamu
mau bohongin aku kalau dia bukan pacar kamu?Hah kamu pikir aku nggak tau apa?”
“Maafin aku,Rin!Aku
nggak bermaksud mojokin kamu. Pasti ada yang sengaja ngadu domba kita. Aku
yakin Fafa nggak kayak gitu kok orangnya. Bisa jadi dia dihasud sama temennya
yang yaaa mungkin benci sama kamu atau mungkin ada yang nggak suka sama
hubunganku dengan Fafa. Sekali lagi maafin aku ya,Rin…..”
***
Dia meninggalkanku
tanpa menjawab perkataanku. Aku berusaha menemuinya,meminta maaf padanya,namun
dia tetap saja marah padaku seakan tak terima dengan perlakuan dari Fafa. Kalau
begini aku jadi geram pada Fafa. Kenapa dia tak memberitahuku apa yang terjadi
semalam? Semalam dia sepertinya santai-santai saja saat membalas bbmku. Seperti
biasa. Tak ada masalah apa-apa. Tak ada perdebatan yang membahayakan. Namun
pada kenyataannya dia menyerang sahabatku sendiri tanpa sepengetahuanku.
Malam
harinya aku menginterogasi dia. Dia tidak mengaku. Aku jadi semakin marah
padanya. Ku ancam dia bila tidak mau menjelaskan apa yang terjadi,aku akan
mengakhiri hubungan ini. Terlalu kekanak-kanakan memang. Tapi bagaimana
lagi?Dia tetap saja tak mau memberitahuku. Ini secara tidak langsung dia telah
berbohong padaku. Ku paksa dan ku ancam dia terus-menerus hingga akhirnya dia
mau mengakuinya. Kekesalanku semakin menjadi-jadi. Ku abaikan penjelasannya dan
ku pinta dia untuk menemuiku besok.
Aku ingin mendengar penjelasannya tentang apa
yang terjadi. Dia hampir menolaknya. Aku pasrahkan saja. Dia ingin lanjut atau
berhenti itu tergantung dia menolak atau menerima tawaranku untuk bertemu. Dia
bingung,Aku mulai ragu untuk melanjutkan hubungan ini. Apa ini ya susahnya
menjaga hubungan jarak jauh?mengingat aku dan Fafa sekolah di tempat yang
berbeda,di jurusan yang berbeda,dan tentunya pribadi yang berbeda. Kenapa selalu
timbul masalah baru di saat aku baru menyelesaikannya? Seolah lika-liku LDR
begitu banyak mendramatisir kehidupanku.
Tahukah kamu sekarang?Aku jadi baperan
gara-gara keseringan kangen dia. Aku jadi sulit mengontrol perasaan ketika melakukan
hal yang sebenarnya butuh keseriusan. Aku jadi kecanduan merindu. Kecanduan
ingin bertemu. Kecanduan cintanya si coklat kematengan bagai lembu. Yang bisa
ku perbuat adalah,tampil semaksimal mungkin di acara peringatan Maulid Nabi di
sekolahku besok.
Sebetulnya aku tidak
konsen dengan latihan rebana kali ini. Pikiranku terbelah menjadi entah berapa
dengan jadwal yang tabrakan,peran ganda dalam mengisi acara,dan hubunganku
dengan sahabatku dan pacarku. Di dalam chatting yang Arin screenshot
seingatku,Arin menolak tuduhan Fafa karena dia pernah bilang bahwa memang ada
salah seorang dari sahabatku yang tak suka hubunganku dengan Fafa. Namun bukan
Arin. Aku jadi curiga,pasti ada yang tak suka bila aku berpacaran dengan Fafa.
Aku bisa saja membiarkannya toh yang menjalani hubungan ini kan aku dan Fafa.
Tapi masalahnya tuduhan itu seolah menyudutkan Arin,sahabatku sendiri yang
menyebabkan hubungan persahabatanku dengan Arin renggang sekarang. Sepertinya
ada yang ingin mengadu domba antar aku dan Arin dan ada juga yang ingin aku dan
Fafa putus. Entahlah… Aku tak ingin memikirkannya dulu.
Acara peringatan
Maulid Nabi tak terasa telah selesai dilaksanakan. Siang ini seusai
jumatan,Fafa menjemputku. Ku nanti kehadirannya di pos satpam meskipun rasa
kesal menguasai perasaanku kepadanya. Yang pasti hari ini aku tidak akan
meminta putus padanya. Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan kepala dingin.
Bukan dengan keegoisan ataupun memihak manapun. Tak berapa lama dia datang. Dia
datang dengan raut wajah ketakutan sekarang. Tanpa basa-basi,ku naik di
boncengannya dan pergi ke tempat makan seperti biasanya. Sesampainya
disana,langsung ku menginterogasinya
“Kamu kenapa nuduh
temenku kayak gitu?”
“Maafin aku mbu…aku
nggak bermaksud nyerang tap…”
“Aku nggak mau
dengerin permintaan maafmu. Aku cuma pengen ngedengerin penjelasan dari kamu
siang hari ini.”
“Aku nggak suka sama
sikap temen kamu. Mereka bilang kamu lebih cocok pacaran sama Raka daripada
sama aku. Kalau mereka nggak suka aku,ya nggak usah ngedoain biar cepet putus
lah. Nggak usah ikut campur hubungan orang. Oke,aku emang nggak seganteng
Raka,nggak sekeren dia,nggak seputih dia. Aku emang selalu berbuat kesalahan
sama kamu. Aku emang pacar terburuk. Aku.. ”
“Tunggu tunggu…bukan
itu yang aku maksud. Kamu kenapa nyerang Arin?Kenapa kamu nuduh dia?Darimana
kamu tau kalau dia mojokin aku buat putus sama kamu?”
“Aku dibilangin sama
temenku SMP yang di jurusan ips di sekolahmu,yang deket sama salah satu
sahabatmu. Kalau dia nggak su….”
“Temenmu?siapa
namanya?”
“Aku nggak pengen
ngasih tau. Kasihan dia kalau ku kasih tau…”
“Kamu nggak usah
mikir macem-macem. Aku nggak akan ngapa-ngapain dia kok.”
“Nggak…pasti kamu
akan nyerang dia balik. Aku nggak pengen sahabatku dijadiin kambing
hitam…aku..”
“Aku juga nggak
pengen sahabatku dijadiin kambing hitam. Sebenernya yang salah bukan Arin. Ini
semua salahku….”
“Jadi salah
siapa?nggak mungkin…. Kamu nggak salah mbu…,pasti ada kan temen kamu yang nggak
suka sama hubungan kita?”
“Iya ada,tapi aku
nggak mau ngasih tau. Kamu tadi juga nggak ngasih tau aku siapa anak ips yang
bilang ke kamu. Impas kan?”
“Tapi aku nggak suka
mereka ikut campur soal hubungan kita sampe ngedoain kamu biar putus sama aku”
“Fa,aku nggak akan
minta putus sama kamu. Lagian kamu kenapa sih masih mikirin orang lain?Yang
ngejalanin hubungan kan aku sama kamu,biarin aja napa?”
“Kamu kalau disuruh
memilih,lebih mertahanin aku atau sahabat kamu?”
“Aku mau mertahanin
keduanya. Aku nggak pengen memihak di salah satu. Karena aku sayang keduanya.
Mereka adalah bagian dari hidupku. Tanpa mereka,hidupku nggak berwarna. Sehebat
apapun berantem sama mereka,pasti aku akan berusaha memulihkannya. Sekalipun
keduanya dipertaruhkan seperti sekarang.”
Selesai bicara,aku
memesan makanan dan menepuk bahu Fafa
“Jangan pernah bosen
buat berantem sama aku ya Fa,kita bisa ngelewatin bareng-bareng kok kalau kita sama-sama
meredam ego masing-masing”
***
Libur semester gasal
telah tiba. Setidaknya aku bisa beristirahat selama dua minggu. Lagi-lagi
liburanku terganggu hanya gara-gara jadwal latihan rebana. Tim rebana sekolahku
akan mengikuti lomba di salah satu sekolah dalam rangka peringatan Maulid Nabi.
Baru pertama kali ini timku mengikuti lomba. Rasa-rasanya aku belum pantas
mengikuti lomba. Aku sadar diri akan kemampuan dan kekompakan timku yang bisa
dibilang kurang begitu maksimal. Aku ingin membatalkan registrasi namun sudah
terlambat. Timku sudah mendapat nomor undian. Siap tidak siap aku harus
mengkoordinir anak buahku untuk mempersiapkan lomba.
Lomba dua minggu lagi
terlaksana. Aku sibuk mengatur semuanya sampai-sampai aku pernah lupa tak
memberi kabar Fafa seharian. Dia ngambek karena seolah dulu aku pernah ngotot
memintanya untuk mengabari. Malah aku sendiri yang lupa memberinya kabar.
Untung saja dia mau mengalah dan memakluminya.
Latihan dua minggu
begitu melelahkan tentunya. Kesabaranku nyaris habis dalam mengatur para anggota
tim yang terkadang susah diatur. Semangatku untuk mengikuti lomba nyaris pudar
karena ada anggota yang sengaja tidak mengikuti latihan padahal hari H sudah dekat.
Tubuhku nyaris tumbang dalam membantu mereka menghafalkan variasi ketukan dan
nada yang selaras. Suaraku nyaris parau mengingat aku adalah vocal utamanya.
Aku berusaha memulihkan tenagaku bukan dengan bertemu pacarku. Justru aku akan
menghindarinya untuk sementara waktu agar aku bisa lebih fokus tanpa
dipengaruhi perasaanku akan keberadaannya.
Hari H ku jalani
dengan penuh rasa gugup. Banyak grup-grup rebana dari sekolah lain yang
mengikuti lomba. Seragam yang mereka kenakan begitu bagus-bagus layaknya grup
rebana ternama yang sudah berulang kali mendapat job main. Nyaliku sempat
meleot. Sainganku berat-berat. Akankah aku akan mengecewakan pelatihku?
Pelatihku hanya berpesan,kita tak harus berharap lebih untuk mendapatkan juara.
Dapat piala atau tidak yang penting kita sudah berusaha maksimal mungkin.
Peserta demi peserta ku lihat dengan seksama. Tak semua yang ku lihat,yang ku
duga,penampilannya akan sebagus dengan yang ku bayangkan. Beberapa ada yang
lupa lirik,tidak selaras,dan kesalahan-kesalahan lainnya.
Semangatku seolah
terisi tatkala timku perform,seorang penonton yang aku sempat mau berhenti
untuk melantunkan nasyid saat melihatnya mencoba memotretku. Seakan tak
percaya,ku pandang terus dia. Dialah Fafa. Dia melihat penampilanku. Tepat di
depan panggung,di belakang juri. Dia tersenyum dan menyemangatiku. Aku jadi
senang dan semangat dalam menampilkan yang terbaik. Untuk timku dan juga untuk
Fafa. Seusai lomba ku hubungi dia. Aku ingin berfoto bersamanya di photoboot
dekat pintu masuk. Sebetulnya aku malu dilihat para penonton yang hadir dalam
acara tersebut. Tak sedikit yang Fafa kenal karena Fafa juga seorang personel
grup rebana yang tersohor di desanya. Ku abaikan saja komentar mereka yang
sedari tadi berbisik kecil di dekatku.
Lomba terlaksana
sampai sore. Tibalah saatnya penentuan pemenang. Aku tidak berharap mendapat
juara. Yang penting aku sudah menampilkan yang terbaik. Perwakilan dari timku
dipanggil ke dalam ruang lomba. Aku berada di luar ruangan karena udara di
dalam sangatlah panas. Tiba-tiba perwakilan timku keluar ruangan membawa
piagam. Timku mendapat juara Runner up 2. Hampir tak percaya,ku cubit pipiku
berkali-kali. Namun jerit senang dari anggota timku yang membuatku sadar ini
adalah kenyataan. Tak apa juara runner up yang penting timku sudah berusaha.
Setidaknya aku bisa membawa nama baik sekolahan.
Seusai lomba,gerimis
mengguyur halaman sekolahan. Tadi pagi aku berangkat berboncengan dengan pelatihku.
Aku merasa canggung bila harus memboncengnya lagi. Ku pinta Fafa untuk
mengantarkanku pulang. Dia sangat antusias sekali. Aku meninggalkan sekolahan
tanpa berpamitan pada pelatihku karena waktu aku akan berpamitan dia sedang
berbicara dengan orang lain. Ku percepat langkahku mengikuti Fafa dan
membonceng di belakangnya. Seolah takut ketahuan anggota timku,Fafa langsung
tancap gas keluar sekolahan.
Di perjalanan Fafa ingin berhenti di salah satu
rumah makan untuk beristirahat sejenak. Kali ini aku menolaknya. Karena gerimis
mengguyur tubuhku dan rasa lelah disertai kantuk mulai mengganggu. Dia meminta
dengan agak sedikit memaksa seolah ia benar-benar ingin beristirahat bersamaku.
Namun aku tetap saja mengelak dan memaksanya untuk mengantarkanku pulang.
Sesampainya di gang rumahku,dia langsung memutar balik motornya dan tancap gas
meninggalkanku tanpa berpamitan ataupun sekedar melihatku. Aku jadi curiga.
Sebenarnya ada masalah apalagi yang melanda hubunganku dengan Fafa? Tiga puluh
menit seusai dia mengantarkanku,satu pesan ku terima darinya yang membuatku
sadar bahwa hari ini adalah anniversary jadianku yang kedua. Aku sama sekali
tidak ingat seharian ini karena mungkin aku terlalu fokus mengikuti lomba. Apa
karena aku lupa dia jadi bersikap begitu???
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar