Rabu, 21 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Penyerangan Tersembunyi

      Ku tanyakan padanya,apa yang membuat dia nampak marah padaku. Namun sebelum aku bertanya padanya,dia mendahului dan langsung menyerangku dengan kata-kata kasar….
       “Jadi gini kelakuan pacarmu?” Dia menunjukkan hasil tangkapan layar pesan bbm dari Fafa yang ia terima semalam. Aku mengambil handphone dari tangan Arin. Ku cermati kalimat demi kalimat
    “Eh Meiy!denger ya?selama aku hidup 15 tahun,orang tuaku aja nggak pernah membentak aku kaya orang gila macam pacarmu ini. Pacarmu diajarin sopan santun nggak sih sama orang tuanya?”
      “Eh tunggu dulu!maaf ya Rin maaf banget sebelumnya. Jujur,aku nggak tau apa yang kamu maksud dan aku nggak tau apa alasan kamu marah-marah gini sama aku. Sebenernya ada masalah apa sih?”
      “Jadi,kamu nggak tau masalahnya apa?Nih! Baca nih! Kalau dia nggak tau apa-apa ya nggak usah nuduh orang sembaranganlah!”
      “Nuduh?gimana sih maksud kamu?aku aku bener bener nggak ngerti deh”
     “Pacarmu tadi malem BBM aku. Dia nuduh aku nggak suka sama hubungan kamu sama dia. Aku dituduh ikut campur urusan hubungan kamu sama dia. Bahkan dia nuduh aku buat mojokin kamu biar kamu putus sama dia. Ini maksudnya apa coba dia nyerang aku kayak gini?hah?”
    “Masak sih?aku tadi malem bbman sama dia biasa-biasa aja kok kaya nggak ada masalah. Mungkin ini yang bbman sama kamu bukan Fafa pacarku kali?”
     “Udahlah nggak usah nyari pembelaan kamu. Udah jelas di status bbmnya terpampang nama kamu,dan kamu mau bohongin aku kalau dia bukan pacar kamu?Hah kamu pikir aku nggak tau apa?”
    “Maafin aku,Rin!Aku nggak bermaksud mojokin kamu. Pasti ada yang sengaja ngadu domba kita. Aku yakin Fafa nggak kayak gitu kok orangnya. Bisa jadi dia dihasud sama temennya yang yaaa mungkin benci sama kamu atau mungkin ada yang nggak suka sama hubunganku dengan Fafa. Sekali lagi maafin aku ya,Rin…..”
                                      ***
    Dia meninggalkanku tanpa menjawab perkataanku. Aku berusaha menemuinya,meminta maaf padanya,namun dia tetap saja marah padaku seakan tak terima dengan perlakuan dari Fafa. Kalau begini aku jadi geram pada Fafa. Kenapa dia tak memberitahuku apa yang terjadi semalam? Semalam dia sepertinya santai-santai saja saat membalas bbmku. Seperti biasa. Tak ada masalah apa-apa. Tak ada perdebatan yang membahayakan. Namun pada kenyataannya dia menyerang sahabatku sendiri tanpa sepengetahuanku. 
     Malam harinya aku menginterogasi dia. Dia tidak mengaku. Aku jadi semakin marah padanya. Ku ancam dia bila tidak mau menjelaskan apa yang terjadi,aku akan mengakhiri hubungan ini. Terlalu kekanak-kanakan memang. Tapi bagaimana lagi?Dia tetap saja tak mau memberitahuku. Ini secara tidak langsung dia telah berbohong padaku. Ku paksa dan ku ancam dia terus-menerus hingga akhirnya dia mau mengakuinya. Kekesalanku semakin menjadi-jadi. Ku abaikan penjelasannya dan ku pinta dia untuk menemuiku besok.
Aku ingin mendengar penjelasannya tentang apa yang terjadi. Dia hampir menolaknya. Aku pasrahkan saja. Dia ingin lanjut atau berhenti itu tergantung dia menolak atau menerima tawaranku untuk bertemu. Dia bingung,Aku mulai ragu untuk melanjutkan hubungan ini. Apa ini ya susahnya menjaga hubungan jarak jauh?mengingat aku dan Fafa sekolah di tempat yang berbeda,di jurusan yang berbeda,dan tentunya pribadi yang berbeda. Kenapa selalu timbul masalah baru di saat aku baru menyelesaikannya? Seolah lika-liku LDR begitu banyak mendramatisir kehidupanku. 
Tahukah kamu sekarang?Aku jadi baperan gara-gara keseringan kangen dia. Aku jadi sulit mengontrol perasaan ketika melakukan hal yang sebenarnya butuh keseriusan. Aku jadi kecanduan merindu. Kecanduan ingin bertemu. Kecanduan cintanya si coklat kematengan bagai lembu. Yang bisa ku perbuat adalah,tampil semaksimal mungkin di acara peringatan Maulid Nabi di sekolahku besok.
     Sebetulnya aku tidak konsen dengan latihan rebana kali ini. Pikiranku terbelah menjadi entah berapa dengan jadwal yang tabrakan,peran ganda dalam mengisi acara,dan hubunganku dengan sahabatku dan pacarku. Di dalam chatting yang Arin screenshot seingatku,Arin menolak tuduhan Fafa karena dia pernah bilang bahwa memang ada salah seorang dari sahabatku yang tak suka hubunganku dengan Fafa. Namun bukan Arin. Aku jadi curiga,pasti ada yang tak suka bila aku berpacaran dengan Fafa. Aku bisa saja membiarkannya toh yang menjalani hubungan ini kan aku dan Fafa. Tapi masalahnya tuduhan itu seolah menyudutkan Arin,sahabatku sendiri yang menyebabkan hubungan persahabatanku dengan Arin renggang sekarang. Sepertinya ada yang ingin mengadu domba antar aku dan Arin dan ada juga yang ingin aku dan Fafa putus. Entahlah… Aku tak ingin memikirkannya dulu.
    Acara peringatan Maulid Nabi tak terasa telah selesai dilaksanakan. Siang ini seusai jumatan,Fafa menjemputku. Ku nanti kehadirannya di pos satpam meskipun rasa kesal menguasai perasaanku kepadanya. Yang pasti hari ini aku tidak akan meminta putus padanya. Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan kepala dingin. Bukan dengan keegoisan ataupun memihak manapun. Tak berapa lama dia datang. Dia datang dengan raut wajah ketakutan sekarang. Tanpa basa-basi,ku naik di boncengannya dan pergi ke tempat makan seperti biasanya. Sesampainya disana,langsung ku menginterogasinya
       “Kamu kenapa nuduh temenku kayak gitu?”
       “Maafin aku mbu…aku nggak bermaksud nyerang tap…”
     “Aku nggak mau dengerin permintaan maafmu. Aku cuma pengen ngedengerin penjelasan dari kamu siang hari ini.”
        “Aku nggak suka sama sikap temen kamu. Mereka bilang kamu lebih cocok pacaran sama Raka daripada sama aku. Kalau mereka nggak suka aku,ya nggak usah ngedoain biar cepet putus lah. Nggak usah ikut campur hubungan orang. Oke,aku emang nggak seganteng Raka,nggak sekeren dia,nggak seputih dia. Aku emang selalu berbuat kesalahan sama kamu. Aku emang pacar terburuk. Aku.. ”
     “Tunggu tunggu…bukan itu yang aku maksud. Kamu kenapa nyerang Arin?Kenapa kamu nuduh dia?Darimana kamu tau kalau dia mojokin aku buat putus sama kamu?”
       “Aku dibilangin sama temenku SMP yang di jurusan ips di sekolahmu,yang deket sama salah satu sahabatmu. Kalau dia nggak su….”
      “Temenmu?siapa namanya?”
      “Aku nggak pengen ngasih tau. Kasihan dia kalau ku kasih tau…”
      “Kamu nggak usah mikir macem-macem. Aku nggak akan ngapa-ngapain dia kok.”
     “Nggak…pasti kamu akan nyerang dia balik. Aku nggak pengen sahabatku dijadiin kambing hitam…aku..”
     “Aku juga nggak pengen sahabatku dijadiin kambing hitam. Sebenernya yang salah bukan Arin. Ini semua salahku….”
     “Jadi salah siapa?nggak mungkin…. Kamu nggak salah mbu…,pasti ada kan temen kamu yang nggak suka sama hubungan kita?”
     “Iya ada,tapi aku nggak mau ngasih tau. Kamu tadi juga nggak ngasih tau aku siapa anak ips yang bilang ke kamu. Impas kan?”
      “Tapi aku nggak suka mereka ikut campur soal hubungan kita sampe ngedoain kamu biar putus sama aku”
     “Fa,aku nggak akan minta putus sama kamu. Lagian kamu kenapa sih masih mikirin orang lain?Yang ngejalanin hubungan kan aku sama kamu,biarin aja napa?”
      “Kamu kalau disuruh memilih,lebih mertahanin aku atau sahabat kamu?”
      “Aku mau mertahanin keduanya. Aku nggak pengen memihak di salah satu. Karena aku sayang keduanya. Mereka adalah bagian dari hidupku. Tanpa mereka,hidupku nggak berwarna. Sehebat apapun berantem sama mereka,pasti aku akan berusaha memulihkannya. Sekalipun keduanya dipertaruhkan seperti sekarang.”
    Selesai bicara,aku memesan makanan dan menepuk bahu Fafa
    “Jangan pernah bosen buat berantem sama aku ya Fa,kita bisa ngelewatin bareng-bareng kok kalau kita sama-sama meredam ego masing-masing”
                                               ***
    Libur semester gasal telah tiba. Setidaknya aku bisa beristirahat selama dua minggu. Lagi-lagi liburanku terganggu hanya gara-gara jadwal latihan rebana. Tim rebana sekolahku akan mengikuti lomba di salah satu sekolah dalam rangka peringatan Maulid Nabi. Baru pertama kali ini timku mengikuti lomba. Rasa-rasanya aku belum pantas mengikuti lomba. Aku sadar diri akan kemampuan dan kekompakan timku yang bisa dibilang kurang begitu maksimal. Aku ingin membatalkan registrasi namun sudah terlambat. Timku sudah mendapat nomor undian. Siap tidak siap aku harus mengkoordinir anak buahku untuk mempersiapkan lomba.
    Lomba dua minggu lagi terlaksana. Aku sibuk mengatur semuanya sampai-sampai aku pernah lupa tak memberi kabar Fafa seharian. Dia ngambek karena seolah dulu aku pernah ngotot memintanya untuk mengabari. Malah aku sendiri yang lupa memberinya kabar. Untung saja dia mau mengalah dan memakluminya.
   Latihan dua minggu begitu melelahkan tentunya. Kesabaranku nyaris habis dalam mengatur para anggota tim yang terkadang susah diatur. Semangatku untuk mengikuti lomba nyaris pudar karena ada anggota yang sengaja tidak mengikuti latihan padahal hari H sudah dekat. Tubuhku nyaris tumbang dalam membantu mereka menghafalkan variasi ketukan dan nada yang selaras. Suaraku nyaris parau mengingat aku adalah vocal utamanya. Aku berusaha memulihkan tenagaku bukan dengan bertemu pacarku. Justru aku akan menghindarinya untuk sementara waktu agar aku bisa lebih fokus tanpa dipengaruhi perasaanku akan keberadaannya.
     Hari H ku jalani dengan penuh rasa gugup. Banyak grup-grup rebana dari sekolah lain yang mengikuti lomba. Seragam yang mereka kenakan begitu bagus-bagus layaknya grup rebana ternama yang sudah berulang kali mendapat job main. Nyaliku sempat meleot. Sainganku berat-berat. Akankah aku akan mengecewakan pelatihku? Pelatihku hanya berpesan,kita tak harus berharap lebih untuk mendapatkan juara. Dapat piala atau tidak yang penting kita sudah berusaha maksimal mungkin. Peserta demi peserta ku lihat dengan seksama. Tak semua yang ku lihat,yang ku duga,penampilannya akan sebagus dengan yang ku bayangkan. Beberapa ada yang lupa lirik,tidak selaras,dan kesalahan-kesalahan lainnya.
      Semangatku seolah terisi tatkala timku perform,seorang penonton yang aku sempat mau berhenti untuk melantunkan nasyid saat melihatnya mencoba memotretku. Seakan tak percaya,ku pandang terus dia. Dialah Fafa. Dia melihat penampilanku. Tepat di depan panggung,di belakang juri. Dia tersenyum dan menyemangatiku. Aku jadi senang dan semangat dalam menampilkan yang terbaik. Untuk timku dan juga untuk Fafa. Seusai lomba ku hubungi dia. Aku ingin berfoto bersamanya di photoboot dekat pintu masuk. Sebetulnya aku malu dilihat para penonton yang hadir dalam acara tersebut. Tak sedikit yang Fafa kenal karena Fafa juga seorang personel grup rebana yang tersohor di desanya. Ku abaikan saja komentar mereka yang sedari tadi berbisik kecil di dekatku.
    Lomba terlaksana sampai sore. Tibalah saatnya penentuan pemenang. Aku tidak berharap mendapat juara. Yang penting aku sudah menampilkan yang terbaik. Perwakilan dari timku dipanggil ke dalam ruang lomba. Aku berada di luar ruangan karena udara di dalam sangatlah panas. Tiba-tiba perwakilan timku keluar ruangan membawa piagam. Timku mendapat juara Runner up 2. Hampir tak percaya,ku cubit pipiku berkali-kali. Namun jerit senang dari anggota timku yang membuatku sadar ini adalah kenyataan. Tak apa juara runner up yang penting timku sudah berusaha. Setidaknya aku bisa membawa nama baik sekolahan.
   Seusai lomba,gerimis mengguyur halaman sekolahan. Tadi pagi aku berangkat berboncengan dengan pelatihku. Aku merasa canggung bila harus memboncengnya lagi. Ku pinta Fafa untuk mengantarkanku pulang. Dia sangat antusias sekali. Aku meninggalkan sekolahan tanpa berpamitan pada pelatihku karena waktu aku akan berpamitan dia sedang berbicara dengan orang lain. Ku percepat langkahku mengikuti Fafa dan membonceng di belakangnya. Seolah takut ketahuan anggota timku,Fafa langsung tancap gas keluar sekolahan.
Di perjalanan Fafa ingin berhenti di salah satu rumah makan untuk beristirahat sejenak. Kali ini aku menolaknya. Karena gerimis mengguyur tubuhku dan rasa lelah disertai kantuk mulai mengganggu. Dia meminta dengan agak sedikit memaksa seolah ia benar-benar ingin beristirahat bersamaku. Namun aku tetap saja mengelak dan memaksanya untuk mengantarkanku pulang. Sesampainya di gang rumahku,dia langsung memutar balik motornya dan tancap gas meninggalkanku tanpa berpamitan ataupun sekedar melihatku. Aku jadi curiga. Sebenarnya ada masalah apalagi yang melanda hubunganku dengan Fafa? Tiga puluh menit seusai dia mengantarkanku,satu pesan ku terima darinya yang membuatku sadar bahwa hari ini adalah anniversary jadianku yang kedua. Aku sama sekali tidak ingat seharian ini karena mungkin aku terlalu fokus mengikuti lomba. Apa karena aku lupa dia jadi bersikap begitu???

                                   ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar