Setelah pertemuan yang hampir 24 jam kemarin,hari-hari berikutnya
kami jadi jarang bertemu lagi. Dia sibuk mempersiapkan diri untuk lomba
kepramukaan yang diadakan oleh ambalan sekolahku. Sudah kelima kali ini
sekolahku mengadakan lomba kepramukaan. Tiap tahun ambalan dari sekolah Fafa
selalu mengikuti perlombaan. Tiap tahun juga ambalan Fafa selalu membawa pulang
piala,sekalipun tidak menjadi juara umum terus. Setidaknya pernah satu kali
juara umum ketika dulu aku masih belum mengenalnya.
Tepat hari dimana
lomba itu dilaksanakan,organisasi kerohanian islam yang aku ikuti juga sedang
mengadakan rapat. Ternyata dalam rapat itu membahas tentang surat yang berasal
dari kabupaten yang ditujukan pada tiap sekolah tingkat SMA seluruh kota yang
isinya tiap sekolah wajib mengirimkan siswanya guna akan ada perekrutan menjadi
anggota paskibraka pada upacara HUT RI nanti. Masing-masing organisasi di
sekolahku wajib mengajukan maksimal dua orang perwakilan yang nantinya akan
diseleksi oleh tim PPI (Purna Paskibraka Indonesia) cabang daerah dimana aku
tinggal. Pemimpin rapat mengajukan diriku dan Esta sebagai perwakilan dari
organisasi kerohanian islam.
Awalnya aku menolak usulan itu karena aku merasa aku
tidak pantas untuk menjadi seorang paskibraka. Aku belum tentu bisa
baris-berbaris dengan benar. Ditambah lagi yang melatih nantinya tim dari PPI
dan Fafa salah satu anggota dari PPI. Pasti dia yang nantinya akan melatihku.
Dilatih pacar sendiri gimana rasanya ya? Apa dia akan melatihku dengan
keromantisan atau bagaimana? Sepertinya rasa keingintahuanku membuatku mau
untuk menerima usulan. Aku berjanji akan menerima usulan bilamana orangtuaku sudah
menyetujui.
Setelah selesai
rapat,aku menonton penampilan Fafa saat mengikuti lomba PBB. Dia selalu menepati
posisi paling depan dan di penjuru kanan. Hampir muka polos,datar,sok galak
selalu ia tampilkan ditiap performnya. Padahal jika sedang bersamaku dia pasti
ketawa-ketiwi,senyam-senyum,dan semua sifat aslinya dia keluar begitu
berjam-jam ketemu aku. Semakin dia menampakkan sifat aslinya,aku jadi semakin
menyayanginya. Rasa sayangku untuknya seperti sudah mendarah daging di dalam
jiwaku. Aku takut berlebihan namun dengan cara apa aku bisa menguranginya? Aku
bahkan tak pernah membayangkan jika suatu saat pasti kami akan putus. Aku
selalu berharap Fafa nantinya akan terus bersamaku hingga akhirnya kelak 6
tahun yang akan datang dia akan melamar dan kita akan menikah. Ups!ini sudah
ketinggian. Tapi bagaimana aku tidak bermimpi setinggi ini?
Kemarin setelah
kami bertemu dia sempat bilang bahwa setelah lulus sekolah dia akan melanjutkan
pendidikan kemiliteran selama 4 tahun. Dia ingin menjadi anggota TNI rupanya.
Dan dia juga sempat bilang padaku bahwa apa aku sanggup menunggunya selama 6
tahun itu? Aku mau menunggunya asal dia benar-benar memberiku kepastian seperti
mengajakku tunangan sebagai wujud kesetiaan. Dia bisa saja berjanji akan
mengabulkan keinginanku tapi aku ragu. Siapa tau suatu saat kita bertemu dengan
orang baru yang lebih dari pribadi masing-masing dan akhirnya memutuskan untuk
berpaling ke orang baru. Itu yang aku takutkan. Tidak ada salahnya aku bermimpi
selagi janur kuning belum melengkung.
***
Setelah acara
tersebut selesai,Fafa mengajakku untuk bertemu dengan Naura. Katanya Naura yang
minta. Dia ingin melihat semanis apa sih pipi jambu itu. Kami janjian untuk
bertemu di rumah makan dekat sekolah Naura. Ternyata Naura masih kelas 2
smp,sama seperti Dania. Dan ini merupakan traktiran yang pernah Fafa janjikan
pada mereka. Ku tunggu Naura di rumah makan itu bersama Fafa. Aku dan Fafa
duduk berhadap-hadapan. Biasanya setelah dia kegiatan dia pasti keringetan
tetapi kali ini dia terlihat sama sekali tak berkeringat….
“Kamu kok tumben
nggak keringetan?Biasanya abis kegiatan keringet kamu ngucur kaya air terjun
montel hahaha….”
“Kamu suka ya sama
keringet aku?”
“Idiiiihhhh…..boro-boro
suka,mau aja nggak…?”
“Lah kok nanyain
keringet aku?”
“Ihhh….nyebelin ya
kamu lama-lama…Oh iya btw….,aku mau tanya sesuatu sama kamu. Jadi paskib enak
nggak sih Fa?”
“Enak. Kenapa?”
“Sulit nggak
tantangannya?”
“Sulit kalau kamu
mikir sulit. Mudah kalau kamu mikir mudah. Semuanya terbayar kok kalau bendera
udah selesai dikibarkan. Kenapa emangnya?”
“Berat nggak sih
latihannya?”
“Ada apa
sih,mbuuu?kok kamu tiba-tiba tanya tentang paskib gini?”
“Nggak kok,aku cuma
tanya. Kan kamu anggota PPI,jadi ya wajar dong kalau aku tanya…”
“Ohhhh gitu???”
“Iya…emmm oh iya satu
lagi,PPI itu apa sih?pelatihnya paskib atau …”
“organisasi
mbuu….sekali lagi kamu tanya aku nggak mau jawab. Sekarang gantian aku yang
nanya. Kamu kenapa tiba-tiba tanya-tanya soal paskib???”
“Sebenernya……aku
ditawarin sih…eh..emmm maksudnya aku diusulin gitu buat jadi paskib….”
“Hah?serius kamu?iya
emang udah ada perekrutan sih sebenernya,tapi darimana kamu tau?terus siapa
yang ngusulin kamu?”
“Iya aku serius,aku
tau dari rapat tadi di sekolahan. Katanya tiap organisasi wajib mengajukan
maksimal 2 orang. Aku dan temenku cewek dipilih sama ketua. Aku sih mau-mau aja
tapi aku belum bilang ke ortuku. Aku takut nggak diijinin sama ortuku…. Dulu
aja waktu mas Rizal mau jadi paskib nggak diijinin sama ibuku.”
“Iyaaaa kamu ngasih
penjelasan gitu ke ayahmu,bilang kalau ini yang nugasin resmi dari sekolahan.
Kamu nggak usah khawatir nanti juga ada surat ijinnya kok…”
“Tapi aku takut nggak
bisa ngikutin latihan. Aku kan nggak bisa baris-berbaris”
“Tenang….nanti dilatih
intensif kok. Kamu nggak usah takut,yang nglatih pacar kamu sendiri nantinya…”
“Serius yang nglatih
kamu?”
Tiba-tiba kedua
mataku ditutup oleh tangan seseorang dari belakang…
“Aduuuhhhh siapa
nih?Fa,aku kok jadi takut gini ya?Ini bukan kamu kan?Fa tolongin aku…”
“Eh…eh ….eh anak
kecil ngapain kamu giniin istri eh pacarku?”
“Yaaaaahhhhhhh…….mas
Fafa nggak seru ah. Aku kan mau ngasih surprise mbak Meiy?Lagian mas Fafa juga
belagu sih,masih pacaran aja udah ngaku-ngaku istrinya….”
“Aaaaduuuhhh ini
siapa sih,Fa….?(ku lepaskan dekapan tangan yang menutupi mataku)lah kamu
siapa?”
“Eh mbak Meiy.
Kenalin mbak,aku Naura. Aku adeknya mas Fafa.”
“Ohh Naura toh?”
“Wkwkwkkw….”
“Kenapa kamu
ketawa?”tanya Fafa pada Naura
“Aahahhahahha….aku
nggak nyangka ya,mbak Meiy suaranya kayak anak kecil,gemes unyu gitu….
Wkwkwkkw…”
“Emang pacarku imut
kok….”
“Yeeee mas Fafa mah
gitu,suka nyari pembelaan kalau sama pacar sendiri. Coba aja kalau sama
aku,mana mau???curang ah. Oh iya mas,kok aku nggak dipesenin makanan
sekalian?Katanya mas Fafa mau nraktir aku?”
“Nah kamu kan baru
dateng? kalau aku pesenin dulu,ntar makanannya keburu dingin”
“Ah!mas Fafa ngeles
deh….”
“Yaudah,kamu mau
pesen apa dek?biar mbak pesenin”
“Eh mbak nggak
usah,nggak usah. Duh!kok malah jadi ngrepotin gini sih?aku jadi nggak enak sama
mas Fafa mbak….”
“Udahlah,yang…..
nggak usah pesenin dia. Biar dia pesen sendiri,terus bayar sendiri”
“Udah….nggak
apa-apa,aku aja yang mesenin biar nanti mas Fafa yang bayarin. Kamu pesen
apa,dek?” aku lalu memesankan makanan untuk Naura
“Ehhhhmmmm…..makasih
ya mbak,maaf banget malah ngrepotin gini jadinya…aku pesen pancake aja deh
mbak…”
“Yakin…pesen pancake
aja?nggak minum?”
“Nggak mbak nggak
usah,aku udah bawa minum sendiri…”
“Oh ya udah…”
Setelah memesankan
makan,ku lihat Fafa dan Naura sedang asyik bercanda
“Asyiknyaaaa yang
lagi bercanda…”sindirku
“Ehhh mbak Meiy,maaf
ya?aku nggak bermaksud buat mbak Meiy cemburu kok. Lagian mas Fafa nih sukanya
ngelawak gak jelas…hahaha…”
“Kamu tuh yang
ngeselin…!Sayang,yuk kita tinggalin dia!”
“Lah,kenapa?kasihan,dia
udah capek-capek kesini eh malah kamu tinggalin”
“Yeeee mas Fafa gitu
ah,aku nangis loh ntar….biar mas dimarahin sama pelayannya tuh…”
“Biarin!siapa
peduli?Whleeekkkk!!!”
“Udah-udah,jangan
gitu ah!kakak adek harus akur dong?”
“Nah betul tuh
mbak,lagian juga mas Fafa kenapa sih kaya buru-buru banget?aku kan lagi pengen
ngobrol-ngobrol sama mbak Meiy,iya kan mbak?”
“Hahaha iya iya……”
“Yaudah deh,aku
tungguin sampe pesenanmu dateng. Abis itu aku sama pijam cabut!”
“Mas Fafa
jahaaaaattttt!!!”
“Enggak enggak
dek,mas Fafa cuma bercanda kok”
Setelah kami cukup
puas bercengkrama selama kurang lebih satu jam,kami pulang dan meninggalkan
Naura disana karena Naura bilang sendiri dijemput oleh orang tuanya. Di
perjalanan aku baru menyadari anak itu. Tingginya ternyata melebihi tinggi
badanku. Padahal dia baru kelas 2 smp. Aku pikir dia benar-benar adik kandung
Fafa,ternyata hanya gimik belaka. Sore yang agak mendung terasa begitu
menyenangkan ketika aku memeluknya di motor. Melepas rindu yang telah menjadi
parasit di hatiku. Sesampainya di rumah,aku meminta ijin pada ortuku bahwa aku
akan dicalonkan menjadi anggota paskibraka. Awalnya ibuku tak setuju tapi atas
pembelaan dari ayahku,ibuku akhirnya menyetujuinya.
***
Seminggu lagi aku
akan mengikuti seleksi paskibraka. Aku sibuk mempersiapkan semuanya. Dari mulai
registrasi,check up ke dokter,hingga perawatan tubuh agar nantinya aku tak
mudah menghitam ketika nantinya di karantina. Aku jadi teringat tentang Raka.
Dulu aku sempat menyangka bahwa dia akan pindah atau mengikuti pelatihan
kemiliteran sampai-sampai di karantina segala. Aku jadi heran sama dia. Di
karantina selama satu bulan lebih kulitnya tidak menghitam seperti Fafa. Ah mungkin
keturunannya memang berdarah putih. Oh iya,Raka juga anggota PPI. Jadi kalau
nanti aku ikut paskib,dia pasti ikut menyeleksi. Bagaimana reaksinya nanti jika
tau kalau aku berpacaran dengan Fafa? Semoga dia sudah melupakan kejadian
beberapa bulan yang lalu yang membuat Fafa terbakar api cemburu. Dan semoga
tidak terjadi apa-apa selama aku diseleksi nantinya.
Mentari begitu cerah
bersinar pagi hari ini. Aku memakai sun screen sebelumnya agar tidak menghitam
nantinya. Aku membawa perlengkapan yang kira-kira nantinya akan diperlukan.
Setelah semuanya siap,aku memohon doa restu pada ibuku dan berangkat diantar
Mas Rizal tepat pukul enam pagi karena calon peserta yang akan diseleksi
diwajibkan berangkat jam sekian. Setelah diantar mas Rizal,aku menuju ruang
OSIS untuk berkumpul bersama mereka yang akan ikut diseleksi. Dari perwakilan
sekolahku sendiri ada 5 anak laki-laki dan 3 anak perempuan yang ditunjuk untuk
mengikuti seleksi. Sebagian besar yang mengikuti seleksi adalah anak ekskul PBN
yang kebetulan tergabung juga dalam anggota OSIS. Kebanyakan dari mereka juga
adik kelasku. Aku dan Esta jadi minder sendiri namun Pak Wakil Kepala Sekolah
memberikan semangat agar kami tetap berbesar hati walau hanya aku dan Esta yang
bukan tergabung dari ekskul PBN.
Kami berangkat menuju GOR berboncengan sepeda
motor. Aku dibonceng oleh Brian,yang mana ia adalah adik kelasku waktu SMP. Dia
sempat mengira bahwa aku dulunya pernah tergabung dalam ekskul paskibra di saat
SMP. Entahlah,aku bahkan tak mengingatnya. Sesampainya di GOR kami memasuki
lapangan olahraga. Di sana sudah banyak panitia dari PPI yang mengurus dan
mengatur jalannya seleksi. Disana juga
sudah banyak peserta dari sekolah lain yang nantinya akan diseleksi juga
bersama kami.
Sebelum seleksi dimulai panitia mengumpulkan para peserta yang
akan diseleksi dalam satu barisan. Panitia memberikan pengarahan dan pengumuman
tentang hal apa saja yang nantinya akan diseleksi. Dimulai dari tes pengukuran
tinggi badan,berat badan,postur tubuh,cek kesehatan,tes fisik hingga tes
akademik dan keterampilan. Begitu banyak sekali tes-tes yang nantinya akan ku
lalui. Satu-persatu peserta diseleksi oleh panitia. Sambil menuggu giliran aku
mencari-cari panitia purna paskibraka angkatan tahun lalu. Aku mencari Fafa.
Disaat aku mencarinya peserta yang ada di belakangku menepuk pundakku…
“Hai…lagi nyari
siapa?”
“Oh….Hai juga,aku
lagi nyari temenku….”
“Kenalan yuk?Nama
kamu siapa?”
“Oh boleh boleh…namaku
Arlisa Meiyufita. Panggil aja Meiy,Kamu?”
“Aku Fitriana
Saputri. Biasa dipanggil Tria…”
“Hai…Tria,salam kenal
(sambil berjabat tangan)kamu dari sekolah mana”
“Aku dari SMA Negeri
Dua,kamu?”
“Aku Dari SMA Negeri
Satu” Kini tiba saatnya giliranku yang diukur tinggi badan dan berat badan.
Alhamdulillah semuanya normal dan memenuhi syarat. Aku mengikuti seleksi
selanjutnya yaitu tes kesehatan jasmani dan tes fisik. Disini para peserta akan
diseleksi tekanan darahnya dan denyut jantungnya apakah bermasalah atau tidak
dan tes fisiknya adalah berlari mengitari lapangan khusus lari atletik. Bisa membayangkan
kan gimana jauhnya? Banyak yang nyaris menyerah karena tidak terbiasa lari
dengan jarak yang cukup jauh. Bahkan ada yang nyaris jatuh pingsan. Beruntungnya
aku kuat dan dapat mengikutinya dengan lancar.
Selanjutnya ada tes
baris-berbaris. Disini para peserta diajarkan beberapa gerakan dasar dalam
baris-berbaris. Gerakanku masih agak kaku namun aku tetap berusaha untuk
mencoba agar nantinya bisa terpilih. Latihan dicukupkan pada pukul 11 siang.
Cukup lama memang mengingat banyak peserta yang diseleksi. Rencananya besok
akan ada tes lagi. Huftt…. Baru diseleksi saja sudah capek seperti
ini,bagaimana nanti kalau sudah resmi jadi capaska? Ah sudahlah,aku pasrah saja
dengan hasilnya nanti. Kami pulang bersama menuju sekolah dengan penuh keringat
dan bau badan di hari pertama.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar