Minggu, 25 Desember 2016

Cinta di Musim Pasca Paskibraka 2 : Awal yang Baru

        Setelah pertemuan yang hampir 24 jam kemarin,hari-hari berikutnya kami jadi jarang bertemu lagi. Dia sibuk mempersiapkan diri untuk lomba kepramukaan yang diadakan oleh ambalan sekolahku. Sudah kelima kali ini sekolahku mengadakan lomba kepramukaan. Tiap tahun ambalan dari sekolah Fafa selalu mengikuti perlombaan. Tiap tahun juga ambalan Fafa selalu membawa pulang piala,sekalipun tidak menjadi juara umum terus. Setidaknya pernah satu kali juara umum ketika dulu aku masih belum mengenalnya.
      Tepat hari dimana lomba itu dilaksanakan,organisasi kerohanian islam yang aku ikuti juga sedang mengadakan rapat. Ternyata dalam rapat itu membahas tentang surat yang berasal dari kabupaten yang ditujukan pada tiap sekolah tingkat SMA seluruh kota yang isinya tiap sekolah wajib mengirimkan siswanya guna akan ada perekrutan menjadi anggota paskibraka pada upacara HUT RI nanti. Masing-masing organisasi di sekolahku wajib mengajukan maksimal dua orang perwakilan yang nantinya akan diseleksi oleh tim PPI (Purna Paskibraka Indonesia) cabang daerah dimana aku tinggal. Pemimpin rapat mengajukan diriku dan Esta sebagai perwakilan dari organisasi kerohanian islam. 
       Awalnya aku menolak usulan itu karena aku merasa aku tidak pantas untuk menjadi seorang paskibraka. Aku belum tentu bisa baris-berbaris dengan benar. Ditambah lagi yang melatih nantinya tim dari PPI dan Fafa salah satu anggota dari PPI. Pasti dia yang nantinya akan melatihku. Dilatih pacar sendiri gimana rasanya ya? Apa dia akan melatihku dengan keromantisan atau bagaimana? Sepertinya rasa keingintahuanku membuatku mau untuk menerima usulan. Aku berjanji akan menerima usulan bilamana orangtuaku sudah menyetujui.
      Setelah selesai rapat,aku menonton penampilan Fafa saat mengikuti lomba PBB. Dia selalu menepati posisi paling depan dan di penjuru kanan. Hampir muka polos,datar,sok galak selalu ia tampilkan ditiap performnya. Padahal jika sedang bersamaku dia pasti ketawa-ketiwi,senyam-senyum,dan semua sifat aslinya dia keluar begitu berjam-jam ketemu aku. Semakin dia menampakkan sifat aslinya,aku jadi semakin menyayanginya. Rasa sayangku untuknya seperti sudah mendarah daging di dalam jiwaku. Aku takut berlebihan namun dengan cara apa aku bisa menguranginya? Aku bahkan tak pernah membayangkan jika suatu saat pasti kami akan putus. Aku selalu berharap Fafa nantinya akan terus bersamaku hingga akhirnya kelak 6 tahun yang akan datang dia akan melamar dan kita akan menikah. Ups!ini sudah ketinggian. Tapi bagaimana aku tidak bermimpi setinggi ini? 
       Kemarin setelah kami bertemu dia sempat bilang bahwa setelah lulus sekolah dia akan melanjutkan pendidikan kemiliteran selama 4 tahun. Dia ingin menjadi anggota TNI rupanya. Dan dia juga sempat bilang padaku bahwa apa aku sanggup menunggunya selama 6 tahun itu? Aku mau menunggunya asal dia benar-benar memberiku kepastian seperti mengajakku tunangan sebagai wujud kesetiaan. Dia bisa saja berjanji akan mengabulkan keinginanku tapi aku ragu. Siapa tau suatu saat kita bertemu dengan orang baru yang lebih dari pribadi masing-masing dan akhirnya memutuskan untuk berpaling ke orang baru. Itu yang aku takutkan. Tidak ada salahnya aku bermimpi selagi janur kuning belum melengkung.
                                               ***
      Setelah acara tersebut selesai,Fafa mengajakku untuk bertemu dengan Naura. Katanya Naura yang minta. Dia ingin melihat semanis apa sih pipi jambu itu. Kami janjian untuk bertemu di rumah makan dekat sekolah Naura. Ternyata Naura masih kelas 2 smp,sama seperti Dania. Dan ini merupakan traktiran yang pernah Fafa janjikan pada mereka. Ku tunggu Naura di rumah makan itu bersama Fafa. Aku dan Fafa duduk berhadap-hadapan. Biasanya setelah dia kegiatan dia pasti keringetan tetapi kali ini dia terlihat sama sekali tak berkeringat….
        “Kamu kok tumben nggak keringetan?Biasanya abis kegiatan keringet kamu ngucur kaya air terjun montel hahaha….”
        “Kamu suka ya sama keringet aku?”
        “Idiiiihhhh…..boro-boro suka,mau aja nggak…?”
        “Lah kok nanyain keringet aku?”
        “Ihhh….nyebelin ya kamu lama-lama…Oh iya btw….,aku mau tanya sesuatu sama kamu. Jadi paskib enak nggak sih Fa?”
        “Enak. Kenapa?”
        “Sulit nggak tantangannya?”
          “Sulit kalau kamu mikir sulit. Mudah kalau kamu mikir mudah. Semuanya terbayar kok kalau bendera udah selesai dikibarkan. Kenapa emangnya?”
        “Berat nggak sih latihannya?”
        “Ada apa sih,mbuuu?kok kamu tiba-tiba tanya tentang paskib gini?”
       “Nggak kok,aku cuma tanya. Kan kamu anggota PPI,jadi ya wajar dong kalau aku tanya…”
        “Ohhhh gitu???”
        “Iya…emmm oh iya satu lagi,PPI itu apa sih?pelatihnya paskib atau …”
          “organisasi mbuu….sekali lagi kamu tanya aku nggak mau jawab. Sekarang gantian aku yang nanya. Kamu kenapa tiba-tiba tanya-tanya soal paskib???”
       “Sebenernya……aku ditawarin sih…eh..emmm maksudnya aku diusulin gitu buat jadi paskib….”
      “Hah?serius kamu?iya emang udah ada perekrutan sih sebenernya,tapi darimana kamu tau?terus siapa yang ngusulin kamu?”
       “Iya aku serius,aku tau dari rapat tadi di sekolahan. Katanya tiap organisasi wajib mengajukan maksimal 2 orang. Aku dan temenku cewek dipilih sama ketua. Aku sih mau-mau aja tapi aku belum bilang ke ortuku. Aku takut nggak diijinin sama ortuku…. Dulu aja waktu mas Rizal mau jadi paskib nggak diijinin sama ibuku.”
       “Iyaaaa kamu ngasih penjelasan gitu ke ayahmu,bilang kalau ini yang nugasin resmi dari sekolahan. Kamu nggak usah khawatir nanti juga ada surat ijinnya kok…”
       “Tapi aku takut nggak bisa ngikutin latihan. Aku kan nggak bisa baris-berbaris”
        “Tenang….nanti dilatih intensif kok. Kamu nggak usah takut,yang nglatih pacar kamu sendiri nantinya…”
       “Serius yang nglatih kamu?”
      Tiba-tiba kedua mataku ditutup oleh tangan seseorang dari belakang…
        “Aduuuhhhh siapa nih?Fa,aku kok jadi takut gini ya?Ini bukan kamu kan?Fa tolongin aku…”
       “Eh…eh ….eh anak kecil ngapain kamu giniin istri eh pacarku?”
      “Yaaaaahhhhhhh…….mas Fafa nggak seru ah. Aku kan mau ngasih surprise mbak Meiy?Lagian mas Fafa juga belagu sih,masih pacaran aja udah ngaku-ngaku istrinya….”
     “Aaaaduuuhhh ini siapa sih,Fa….?(ku lepaskan dekapan tangan yang menutupi mataku)lah kamu siapa?”
       “Eh mbak Meiy. Kenalin mbak,aku Naura. Aku adeknya mas Fafa.”
       “Ohh Naura toh?”
       “Wkwkwkkw….”
       “Kenapa kamu ketawa?”tanya Fafa pada Naura
       “Aahahhahahha….aku nggak nyangka ya,mbak Meiy suaranya kayak anak kecil,gemes unyu gitu…. Wkwkwkkw…”
       “Emang pacarku imut kok….”
       “Yeeee mas Fafa mah gitu,suka nyari pembelaan kalau sama pacar sendiri. Coba aja kalau sama aku,mana mau???curang ah. Oh iya mas,kok aku nggak dipesenin makanan sekalian?Katanya mas Fafa mau nraktir aku?”
     “Nah kamu kan baru dateng? kalau aku pesenin dulu,ntar makanannya keburu dingin”
       “Ah!mas Fafa ngeles deh….”
       “Yaudah,kamu mau pesen apa dek?biar mbak pesenin”
      “Eh mbak nggak usah,nggak usah. Duh!kok malah jadi ngrepotin gini sih?aku jadi nggak enak sama mas Fafa mbak….”
        “Udahlah,yang….. nggak usah pesenin dia. Biar dia pesen sendiri,terus bayar sendiri”
       “Udah….nggak apa-apa,aku aja yang mesenin biar nanti mas Fafa yang bayarin. Kamu pesen apa,dek?” aku lalu memesankan makanan untuk Naura
      “Ehhhhmmmm…..makasih ya mbak,maaf banget malah ngrepotin gini jadinya…aku pesen pancake aja deh mbak…”
       “Yakin…pesen pancake aja?nggak minum?”
       “Nggak mbak nggak usah,aku udah bawa minum sendiri…”
       “Oh ya udah…”
     Setelah memesankan makan,ku lihat Fafa dan Naura sedang asyik bercanda
       “Asyiknyaaaa yang lagi bercanda…”sindirku
     “Ehhh mbak Meiy,maaf ya?aku nggak bermaksud buat mbak Meiy cemburu kok. Lagian mas Fafa nih sukanya ngelawak gak jelas…hahaha…”
       “Kamu tuh yang ngeselin…!Sayang,yuk kita tinggalin dia!”
       “Lah,kenapa?kasihan,dia udah capek-capek kesini eh malah kamu tinggalin”
        “Yeeee mas Fafa gitu ah,aku nangis loh ntar….biar mas dimarahin sama pelayannya tuh…”
       “Biarin!siapa peduli?Whleeekkkk!!!”
       “Udah-udah,jangan gitu ah!kakak adek harus akur dong?”
      “Nah betul tuh mbak,lagian juga mas Fafa kenapa sih kaya buru-buru banget?aku kan lagi pengen ngobrol-ngobrol sama mbak Meiy,iya kan mbak?”
       “Hahaha iya iya……”
     “Yaudah deh,aku tungguin sampe pesenanmu dateng. Abis itu aku sama pijam cabut!”
       “Mas Fafa jahaaaaattttt!!!”
       “Enggak enggak dek,mas Fafa cuma bercanda kok”
     Setelah kami cukup puas bercengkrama selama kurang lebih satu jam,kami pulang dan meninggalkan Naura disana karena Naura bilang sendiri dijemput oleh orang tuanya. Di perjalanan aku baru menyadari anak itu. Tingginya ternyata melebihi tinggi badanku. Padahal dia baru kelas 2 smp. Aku pikir dia benar-benar adik kandung Fafa,ternyata hanya gimik belaka. Sore yang agak mendung terasa begitu menyenangkan ketika aku memeluknya di motor. Melepas rindu yang telah menjadi parasit di hatiku. Sesampainya di rumah,aku meminta ijin pada ortuku bahwa aku akan dicalonkan menjadi anggota paskibraka. Awalnya ibuku tak setuju tapi atas pembelaan dari ayahku,ibuku akhirnya menyetujuinya.
                                         ***
     Seminggu lagi aku akan mengikuti seleksi paskibraka. Aku sibuk mempersiapkan semuanya. Dari mulai registrasi,check up ke dokter,hingga perawatan tubuh agar nantinya aku tak mudah menghitam ketika nantinya di karantina. Aku jadi teringat tentang Raka. Dulu aku sempat menyangka bahwa dia akan pindah atau mengikuti pelatihan kemiliteran sampai-sampai di karantina segala. Aku jadi heran sama dia. Di karantina selama satu bulan lebih kulitnya tidak menghitam seperti Fafa. Ah mungkin keturunannya memang berdarah putih. Oh iya,Raka juga anggota PPI. Jadi kalau nanti aku ikut paskib,dia pasti ikut menyeleksi. Bagaimana reaksinya nanti jika tau kalau aku berpacaran dengan Fafa? Semoga dia sudah melupakan kejadian beberapa bulan yang lalu yang membuat Fafa terbakar api cemburu. Dan semoga tidak terjadi apa-apa selama aku diseleksi nantinya.
      Mentari begitu cerah bersinar pagi hari ini. Aku memakai sun screen sebelumnya agar tidak menghitam nantinya. Aku membawa perlengkapan yang kira-kira nantinya akan diperlukan. Setelah semuanya siap,aku memohon doa restu pada ibuku dan berangkat diantar Mas Rizal tepat pukul enam pagi karena calon peserta yang akan diseleksi diwajibkan berangkat jam sekian. Setelah diantar mas Rizal,aku menuju ruang OSIS untuk berkumpul bersama mereka yang akan ikut diseleksi. Dari perwakilan sekolahku sendiri ada 5 anak laki-laki dan 3 anak perempuan yang ditunjuk untuk mengikuti seleksi. Sebagian besar yang mengikuti seleksi adalah anak ekskul PBN yang kebetulan tergabung juga dalam anggota OSIS. Kebanyakan dari mereka juga adik kelasku. Aku dan Esta jadi minder sendiri namun Pak Wakil Kepala Sekolah memberikan semangat agar kami tetap berbesar hati walau hanya aku dan Esta yang bukan tergabung dari ekskul PBN. 
      Kami berangkat menuju GOR berboncengan sepeda motor. Aku dibonceng oleh Brian,yang mana ia adalah adik kelasku waktu SMP. Dia sempat mengira bahwa aku dulunya pernah tergabung dalam ekskul paskibra di saat SMP. Entahlah,aku bahkan tak mengingatnya. Sesampainya di GOR kami memasuki lapangan olahraga. Di sana sudah banyak panitia dari PPI yang mengurus dan mengatur jalannya seleksi.  Disana juga sudah banyak peserta dari sekolah lain yang nantinya akan diseleksi juga bersama kami. 
      Sebelum seleksi dimulai panitia mengumpulkan para peserta yang akan diseleksi dalam satu barisan. Panitia memberikan pengarahan dan pengumuman tentang hal apa saja yang nantinya akan diseleksi. Dimulai dari tes pengukuran tinggi badan,berat badan,postur tubuh,cek kesehatan,tes fisik hingga tes akademik dan keterampilan. Begitu banyak sekali tes-tes yang nantinya akan ku lalui. Satu-persatu peserta diseleksi oleh panitia. Sambil menuggu giliran aku mencari-cari panitia purna paskibraka angkatan tahun lalu. Aku mencari Fafa. Disaat aku mencarinya peserta yang ada di belakangku menepuk pundakku…
          “Hai…lagi nyari siapa?”
          “Oh….Hai juga,aku lagi nyari temenku….”
          “Kenalan yuk?Nama kamu siapa?”
          “Oh boleh boleh…namaku Arlisa Meiyufita. Panggil aja Meiy,Kamu?”
          “Aku Fitriana Saputri. Biasa dipanggil Tria…”
          “Hai…Tria,salam kenal (sambil berjabat tangan)kamu dari sekolah mana”
          “Aku dari SMA Negeri Dua,kamu?”
          “Aku Dari SMA Negeri Satu” Kini tiba saatnya giliranku yang diukur tinggi badan dan berat badan. Alhamdulillah semuanya normal dan memenuhi syarat. Aku mengikuti seleksi selanjutnya yaitu tes kesehatan jasmani dan tes fisik. Disini para peserta akan diseleksi tekanan darahnya dan denyut jantungnya apakah bermasalah atau tidak dan tes fisiknya adalah berlari mengitari lapangan khusus lari atletik. Bisa membayangkan kan gimana jauhnya? Banyak yang nyaris menyerah karena tidak terbiasa lari dengan jarak yang cukup jauh. Bahkan ada yang nyaris jatuh pingsan. Beruntungnya aku kuat dan dapat mengikutinya dengan lancar. 
       Selanjutnya ada tes baris-berbaris. Disini para peserta diajarkan beberapa gerakan dasar dalam baris-berbaris. Gerakanku masih agak kaku namun aku tetap berusaha untuk mencoba agar nantinya bisa terpilih. Latihan dicukupkan pada pukul 11 siang. Cukup lama memang mengingat banyak peserta yang diseleksi. Rencananya besok akan ada tes lagi. Huftt…. Baru diseleksi saja sudah capek seperti ini,bagaimana nanti kalau sudah resmi jadi capaska? Ah sudahlah,aku pasrah saja dengan hasilnya nanti. Kami pulang bersama menuju sekolah dengan penuh keringat dan bau badan di hari pertama.

                                   ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar